Friday, March 6, 2015

Cabuk Rambak, Jajanan Langka di Solo

Friday, March 06, 2015 9 Comments
Cabuk Rambak yang disajikan di Pincuk.
Bincang-bincang pagi dengan Mbah Ayu bermula dengan rasa penasaranku dengan makanan yang dijajakannya di bakul beralaskan daun pisang berwarna kekuningan. Aku hampiri beliau dan menanyakan apa yang ada di dalam bakul tersebut. Mbah yang berperawakan manis dan ramah itu bilang nama makanannya adalah ''Cabuk Rambak''.

Saya belum pernah mendengar nama makanan itu sebelumnya. Bahkan kata temanku yang asli orang Solo, sudah susah menemukan jajanan ini.

Pagi itu saya beruntung bertemu dengan Mbah Ayu, penjual Cabuk Rambak. Sambil membuatkan pesanan saya, beliau bercerita tentang sejarah Cabuk Rambak.



"Cabuk" adalah sebutan untuk saus wijen yang digongseng atau disangrai. Sedangkan "Rambak" adalah sebutan untuk kerupuk kulit. Anehnya, walaupun sekarang sudah tidak disajikan dengan kerupuk kulit, melainkan kerupuk nasi (karak), namanya tetap "Cabuk Rambak". Katanya sih karena harga kerupuk kulit sudah semakin mahal sedangkan si penjual tidak mau menaikkan harga dagangannya, dipilihlah kerupuk nasi sebagai penggantinya. Ooohhh begitu toh...

Mbah sedang menjajakan Cabuk Rambak di depan Gereja Antonius.
Uniknya, cabuk rambak ini disajikan di atas alas daun pisang yang dibentuk menjadi mangkok. Mbah Ayu bilang namanya "Pincuk". 

Mbah Ayu yang sudah selesai mengiris-ngiris ketupat nasi dan menyiramnya dengan saus yang terlihat seperti saus kacang, menyerahkan sepincuk Cabuk Rambak untuk saya santap. 

*ngunyah...ngunyah*

"Kok sausnya rasanya beda sih Mbah? Kuat banget rasanya" tanyaku pada si Mbah.

"Iya, itu sausnya bukan saus kacang tanah tapi wijen yang disangrai dengan kelapa. Tapi disangrainya terpisah loh ya. Wijen disangrai sendiri, kelapa disangrai sendiri. Nanti dicampur baru ditumbuk sama bawang dan cabe sampai halus" ujar Mbah Ayu dengan logat Jawa yang kental.

Beliau menjelaskan panjang lebar tentang cara membuat Cabuk Rambak dan itu sudah dilakukannya selama 18 tahun. Ketupat nasi dan sausnya dibuat sendiri oleh Mbah. Cuma kerupuk nasi nya yang tidak dibuat oleh Mbah.

"Kalau yang hijau-hijau ini apa Mbah?" tanyaku lagi.

"Oh kalau itu irisan daun jeruk purut. Bumbu ini juga ada campuran lainnya juga. Ada bawang putih, kemiri, lada, gula dan garam" lanjut Mbah Ayu.

Pantas saja rasanya campur-campur di mulutku. Tapi enak! Saking enaknya saya makan tiga pincuk dan pesan lima untuk dibawa pulang. Hehehehe... Yah kan jajanan langka, jadi harus makan banyak. Takut kalau kepengen lagi, balik ke Solo kan jauh. 

Untuk memakan cabuk rambak ini, diberikan satu tusuk lidi kecil, seperti makan cilok (aci dicolok) kalau di Bandung. 

Jika mau mencicipi Cabuk Rambak, bisa datang ke Pasar Gedhe pagi hari sekitar jam 7. Pergilah ke bagian timur Pasar Gedhe atau daerah Ketandan dan jumpailah Mbah Ayu. Jika sudah agak siang, sekitar jam 10, Mbah Ayu pindah berjualan di SD Marsudirini Purbayan atau di halaman Gereja Antonius.

Coba tebak berapa harga Cabuk Rambak ini?

Tiga ribu perak saja saudara-saudaraaaaaa....

Murah amat!

Wajar kan kalau saya beli banyak? Kan murah (padahal aslinya sih emang makannya banyak). Hehehehe....

Secepatnya balik ke Solo ah. Habisnya gara-gara nulis blog ini, jadi pengen makan Cabuk Rambak lagi. Kalau ke Solo dan bertemu Mbah Ayu, sampaikan salamku padanya yaaaaaa. 

Senang sekali bisa ketemu Mbah Ayu dan makan Cabuk Rambak nya yang enak.

Wednesday, March 4, 2015

Makan Apa di Bandung? Lontong Kari Kebon Karet!

Wednesday, March 04, 2015 5 Comments


Atas rekomendasi seorang teman, sore itu kami meluncur ke daerah Kebon Karet, Bandung, untuk menyantap Lontong Kari yang katanya enak banget.

"Gue biasanya kalau makan Lontong Kari nggak habis, Cuma Lontong Kari di Kebon Karet doang yang selalu habis gue makan" ujar temanku. Makin menjadi-jadi lah rasa penasaranku. Seenak apa sih?

Warung Lontong Kari ini tidak terlihat dari jalan besar. Syukurlah temanku tadi sudah sering makan di sana sehingga tidak ada agenda tersesat. Kami berhenti dan memarkirkan motor di dekat gapura sebuah gang bertuliskan "Kebon Karet".

Waktu itu kami datang menjelang maghrib di hari Minggu. Kami adalah satu-satunya tamu di sore itu, namun setelah kami makan, semakin banyak tamu berdatangan. Katanya, kalau pagi sampai siang hari, pengunjungnya sampai mengular dan antri sampai ujung gang. Syukurlah kami datang di waktu tepat dan tidak perlu mengantri lama.

Ternyata Lontong Kari Kebon Karet ini sudah ada sejak tahun 1966 oleh pasangan suami istri, H Engkos Kosasih dan Hj Eti Suryati. Awalnya mereka berjualan di tepi jalan Otista dan sejak tahun 1999 mereka membeli sebuah rumah di dalam Gang Kebon Karet dan memindahkan usaha mereka kesana.

Gapura Gang Kebon Karet dilihat dari Jalan Otista
Saya senang sekali dengan suasana di Lontong Kari ini. Walaupun terletak di dalam gang sempit, gangnya bersih, tidak berbau. Begitu pula dengan bagian dalam Lontong Kari. Ada dua bagian ruangan, sebelah kiri dan sebelah kanan. 

Saya memilih masuk ke bagian sebelah kanan yang terlihat seperti ruang tamu yang diubah menjadi rumah makan. Seperti layaknya rumah makan terkenal lainnya, di dinding terpasang banyak pigura foto sang pemilik dengan beberapa artis dan pejabat. Ternyata Lontong Kari Kebon Karet ini tempat makan favorit banyak kalangan yah.

Begitu mendekati warung Lontong Kari, seorang laki-laki muda dengan senyum ramah mengajak kami masuk ke dalam dan langsung menyodorkan menu. Saya memesan Lontong Kari Spesial dan temen saya Lontong Kari biasa. Bedanya hanya pakai telor dan nggak pakai telor. 


Warung sebelah kiri dan kanan sama-sama Warung Lontong Kari Kebon Karet. Bersih ya gang nya.
Sembari menunggu, kami disuguhkan segelas teh tawar hangat. Tak lama kemudian, pesanan kami pun datang. Saya sangat menyukai rasa karinya yang tidak terlalu kental namun pas di lidah. Tekstur lontongnya yang bergerigi membuat lontong ini spesial dan berbeda dengan lontong-lontong pada umumnya. Jangan lupa untuk mencampur perasan jeruk ke dalam lontong untuk menambah cita rasanya. 

Rekomendasi teman saya memang tepat.

Warung Lontong Kari sebelah kanan. Rapi, bersih.
Seporsi Lontong Kari Spesial dihargai Rp 18.000,- dan untuk Lontong Kari biasa dihargai Rp 16.000,-. Selain memesan Lontong Kari, saya juga mencoba Es Campur nya yang segar dan enak. Puas deh! Murah, meriah, kenyang.

Katanya, nggak lengkap kalau makan Lontong Kari di sini tanpa mencoba es campurnya ;)
Alamat Lontong Kari Kebon Karet : Jl Otista, Gang Kebon Karet No 28/C, Karang Anyar, Astana Anyar, Kota Bandung. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Jalan Asia Afrika. Bisa dicari di googlemaps, namanya Lontong Kari Gang Kebon Karet. 

Selamat menikmati ;)


Tuesday, March 3, 2015

Makan Apa di Bandung? Roti Gempol!

Tuesday, March 03, 2015 8 Comments


Setelah trekking yang menyenangkan ke Tebing Keraton, perut pun meronta minta jatah. Saya dan teman meluncur ke jalan Gempol untuk menyantap roti gandum lezat dengan telur, keju dan daging. Padahal malam sebelumnya kami sudah makan roti tersebut. Kami datang lagi karena satu alasan. Ketagihan.

Roti ini diberi nama Roti Gempol karena berlokasi di jalan Gempol Wetan. Jalanannya kecil dan padat dengan rumah penduduk. Bentuk toko Roti Gempol pun sama kecilnya dengan rumah-rumah di sebelahnya. Dari toko kecil ini tercium wangi lezat roti bakar yang menggugah selera.

Toko Roti Gempol yang kecil

Saya suka dengan susunan sofa coklat dan meja bundar di sebelah kiri.
Dominasi warna cokelat terlihat di bagian luar dan dalam Toko Roti Gempol. Beberapa menu yang ditawarkan adalah Roti Bakar Manis, Roti Bakar Asin Keju + Telor, Roti Bakar Spesial (daging + telur / daging + keju), Roti Bakar Komplit (daging + telur + keju), Roti Isi dengan berbagai pilihan rasa, Roti Tawar, Pancake. Dari seluruh varian roti tadi, ada dua pilihan roti yaitu roti putih atau roti gandum. Selain itu kita bisa memilih porsi perseorangan atau ririungan (porsi rame-rame).

Roti Isi Keju + Daging + Telur dengan sambal 153

Pada malam sebelumnya, kami hanya bisa dilayani untuk take-away karena kami tiba jam 9 malam. Jam buka toko roti ini adalah jam 7 pagi hingga jam 9 malam jadi kami tidak diperbolehkan lagi untuk makan di dalam toko. Hiks.

Tapi  pada keesokan paginya kami kembali lagi toh.

Sebagai penyuka roti gandum, roti gandum Gempol ini memang benar-benar nampol alias enak banget. Biasanya roti gandum bertekstur kasar dan agak hambar. Kalau di Roti Gempol, roti gandumnya lebih lembut dan tetap lumer dengan waktu cepat di dalam mulut. Lelehan mayonnaise menetes dari sela-sela tumpukan telur, keju dan daging asapnya. Yummmmm….

Meleleh di mulut.....
Enaknya, Roti Isi komplit disantap dengan sambal berlabel Sambal 135. Saya sendiri kurang tahu apakah sambal ini diperjualbelikan umum di pasaran atau memang spesial produksi untuk Roti Gempol. Yang jelas, sambalnya juga enak.

Selain Roti Gandum Komplit, saya juga memesan Roti Bakar Manis Cokelat. Rasanya? Nggak kalah enak sama Roti Bakar Komplit. Sama-sama enaaaaak...

Yang paling menyenangkan datang pagi hari ke toko ini adalah kita bisa makan donat hangat fresh from the oven yang dikasih bubuk gula halus. Siapa sih yang nggak suka dengan donat gula? Saya sih suka banget.

Fresh doughnut....
Saya memilih kursi di pojokan toko, menikmati roti isi saya dan memperhatikan orang-orang yang begitu ramai lalu lalang membeli roti. Pegawai Roti Gempol yang tidak lebih dari 5 orang terlihat sedikit kewalahan melayani semua pembeli. Saking ramenya, pembeli yang tidak kebagian tempat duduk di bagian dalam, rela duduk dengan bangku plastik di luar toko. 

Roti-roti ini tidak memakai pengawet lho...
Roti Gempol yang sudah ada sejak tahun 1958 ini adalah resep keluarga turun temurun. Saat ini toko Roti Gempol ini dikelola oleh anak-anaknya.

Untuk minumannya, yang paling terkenal adalah the ‘Addictea’ yang sedang booming. Teh Addictea ini terdiri dari berbagai rasa seperti coffee, taro, thai-tea, green-tea dll. Pas sekali dijadikan teman menyantap Roti Gempol.

Menu lain yang bisa kita jumpai di toko Roti Gempol ini adalah Mie Yamin Asin atau Yamin Manis dengan Bakso. Agak aneh sih di toko roti ada yang jual Mie. Saya juga belum sempat mencobanya. Mungkin di kunjungan berikutnya ya. 

Mie Yamin Bakso di Roti Gempol
Banyak yang bilang kalau Roti Gempol ini mahal. Menurut saya sih dengan rasanya yang enak, sangat wajar Roti Gempol memasang harga segitu. Masih tergolong normal dengan range harga 5.000 – 48.000 rupiah.

Daftar menu dan harga Roti Gempol

Peta menuju Roti Gempol.

Selamat menikmati Roti Gempol! ;)


Alamat : Jalan Gempol Wetan no 14, Bandung, Jawa Barat 40115

Monday, March 2, 2015

Tebing Keraton - Tebing Karaton, Tebing Galau di Bandung

Monday, March 02, 2015 16 Comments

"Bangun...Ayo bangun.....Katanya mau berangkat subuh ke Tebing Keraton" ujar temanku sambil mengguncang-guncang badanku yang masih meringkuk di dalam selimut. Bandung dinginnnn....

Kulirik jam yang masih menunjukkan pukul 06.30. Yah, telat deh untuk dapat pemandangan berkabut di Tebing Keraton yang sedang hits itu. Tapi, sudah jauh-jauh datang ke Bandung, sayang banget kalau rencananya batal. Kami pun bergegas mandi, berpakaian, menyalakan motor dan berkendara ke arah Dago Pakar.

Awalnya saya tahu tentang Tebing Keraton ini dari Susan dan Adam "PergiDulu" yang berbagi cerita perjalanan mereka di sini

Saya langsung terperangah dengan keindahan foto-foto yang dibagi oleh Adam dan Susan. Walau mereka sudah berbagi tentang Tebing Keraton bulang Agustus 2014 kemarin, saya baru sempat mengunjungi tempat ini di awal Maret 2015.

Tempat ini populer dengan sangat cepat. Jika mengetik hashtag #tebingkeraton di Instagram pasti akan muncul belasan ribu foto entah itu foto pemandangannya atau selfie dan groufie (sebutan baru untuk foto selfie bareng teman-teman. Karena ramean namanya groufie, group selfie)

Oke, kita lanjut ke perjalanan menuju Tebing Keraton...

Kami berkendara kurang lebih 30 menit ke arah Taman Hutan Raya (Tahura) Juanda. Dari pintu gerbang Tahura, kita masih terus lurus sampai bertemu pertigaan kemudian ambil jalan ke kanan. Mulai dari pertigaan, jalanannya berlubang dan berbatu jadi harus lebih berhati-hati. Sekitar 2 KM dari pertigaan, kami bertemu Warung Bandrek dan memarkirkan motor. 

Warung Bandrek favorit para pesepeda. Dingin-dingin gowes, isthirahat sambil minum bandrek pasti mantep...

"Wihhh rame banget ya" ujarku sambil melihat sekeliling.

Tempat itu dipenuhi dengan mobil, motor dan sepeda yang parkir. Menurut temanku, jalur ini dulunya menjadi favorit para pesepeda dan off-road junkie. Namun setelah Tebing Keraton ini terkenal, pengunjungnya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari orang tua hingga keluarga yang membawa balita. Segitu terkenalnya ya...

Kami memutuskan untuk berjalan kaki mendaki sekitar 3 KM untuk sampai di Tebing Keraton. Entah beberapa kali tukang ojek datang menghampiri dan kami tolak dengan halus. Tujuan kami kan mau sekalian olahraga, masak naik ojek.

"Ojek Neng, lima belas ribu ajah ke atas. Masih jauh Neng" rayu si Abang Ojek.

Saya dan teman saya hanya tersenyum dan melanjutkan langkah. Berasa sih capeknya karena jalurnya "ngaceng" alias menanjak banget. Saya lihat beberapa pengunjung yang naik motor harus beberapa kali turun karena motornya (kebanyakan motor bebek atau matic) tidak kuat menanjak dengan kondisi jalan licin dan berbatu. Lebih enak jalan kaki loh sebenarnya daripada naik motor dengan resiko tergelincir. Apalagi udara di pagi hari kan segar, nikmatilah...

Banyak pesepeda yang melintasi jalur ini setiap akhir pekan
Jalanan licin dan berbatu. Biasanya yang dibonceng disuruh turun dan jalan kaki dulu
Tapi saya nggak habis pikir dengan yang jalan ke tebing keraton pakai wedges. Iya, pakai wedges. Hebat banget Mbak-nya yaaa.... Hebat bisa menahan rasa sakit jalan memakai sepatu berhak di jalanan berbatu. Saya sih nggak menyarankan berjalan ke Tebing Keraton memakai wedges. Lebih baik pakai sepatu kets atau running shoes yang nyaman

Sepanjang berjalan menuju Tebing Keraton, kami bertemu beberapa Ibu-ibu yang membawa keranjang besar berisi rumput yang mereka panggul hingga setengah membungkuk. Rumput tersebut sepertinya makanan untuk ternak mereka. Selain itu, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan pemukiman penduduk dan ladang yang rapi. Cantik!





Kami berjalan sekitar 30 menit dan tiba di pintu gerbang Tebing Keraton yang terbuat dari batu. Di bagian gerbang terdapat beberapa spanduk bertuliskan peraturan-peraturan yang harus dipatuhi selama berada di kawasan tersebut. Di salah satu spanduk juga tertulis biaya tiket masuk untuk wisatawan lokal sebesar Rp 11.000,- dan wisatawan mancanegara Rp 76.000,-. Wow...

Menurut kalian harga tiketnya wajar nggak sih?
Untuk wisatawan lokal sih sebelas ribu masih terjangkau, tapi tujuh puluh enam ribu untuk wisatawan mancanegara menurut saya terlalu berlebihan. Siapa yang menetapkan angka tersebut ya? 

Tebing Keraton kan hanya sightseeing spot, dimana kita hanya bisa menikmati pemandangan tanpa mendapatkan apa-apa. Iya sih kita bisa mendapatkan banyak foto-foto ciamik namun tak perlu semahal itu. Saya jamin, turis asing pasti akan berpikir panjang untuk datang ke tempat ini karena harga tiketnya terlalu mahal. Menurut saya paling mentok ya Rp 50.000,- deh. Jangan lebih dari angka itu. Saya juga bingung siapa ya yang memutuskan angka 11 dan 76? 

Dari gerbang masuk, terlihat paving block yang mengarahkan kita ke ujung bukit alias tebing keraton. Pertanyaan saya kenapa tempat ini dinamakan tebing keraton terjawab sudah dengan adanya papan penjelasan kecil yang ada di bagian kiri tebing. 

Sedikit penjelasan tentang Tebing Keraton dari Pak Asep
Muncullah nama Pak Asep di papan itu, selaku orang pertama yang menemukan tebing keraton yang dulunya bernama Cadas Jontor. Beliau sendiri yang berinisiatif mengubah nama tempat tersebut menjadi Tebing Karaton (cara menyebut Keraton dalam bahasa Sunda, katanya) pada awal Mei 2014 pukul 24.00 (ada jam nya tapi kok nggak ada tanggalnya ya?).

Teman saya berkata bahwa Tebing Keraton ini memang sudah banyak berubah. Dulu tidak ada gerbang, tidak ada paving block, tidak ada pagar pembatas dan tidak ada papan-papan keterangan. Tempat itu dulunya benar-benar bukit kosong yang tidak ada apa-apanya.

Kalau akhir pekan, rame banget...
Bagusnya sih pengelola sadar tentang kebutuhan pagar pembatas dan papan-papan himbauan tersebut. Khususnya untuk keluarga yang membawa balita, pagar pembatas sangat dibutuhkan untuk menjaga balita dan anak-anak aman dan tidak terjatuh.

Walaupun sudah ada pagar, spot paling favorit di Tebing Keraton ini adalah batu-batu di pinggir tebing. Kita harus memanjat pagar pembatas yang tidak terlalu tinggi dan melangkah hati-hati di bebatuan itu. Di depan sudah diperingatkan bahwa batu-batu tersebut labil sehingga jika tidak awas, batu-batu nya bisa jatuh, beserta orangnya.

Ecieeee berduaan di tepi tebing
Kami menghabiskan waktu sekitar 1 jam untuk bersantai, melihat-lihat orang-orang di sekeliling kami asyik berfoto sambil menunggu giliran untuk foto di batu favorit. Harus sabar mengantri apalagi di akhir pekan atau hari libur dimana wisatawan pasti memadati tempat ini.

Pose favorit adalah pose duduk sambil memandang ke kejauhan atau seperti merenung gitu. Maka dari itu saya sebut tebing ini sebagai tebing galau. Kalau duduk lama-lama di sana terus inget mantan pacar, bisa galau maksimaaaaallll. Hahahaha...

"Now don't hang on. Nothin' lasts forever but the earth and sky. It slips away. And your money won't another minute buy"- the lyric of  Dust in The Wind by The Kansas
Yang takut dengan ketinggian tidak disarankan untuk duduk di batu pinggir tebing itu karena cukup beresiko. Walaupun di antara batu-batu tersebut terdapat tali tambang besar yang berguna untuk membantu memanjat, saya tetap tidak menyarankan untuk yang tidak terbiasa memanjat, ikut turun ke bawah tebing.

Disarankan datang di bawah jam 8 pagi karena mataharinya masih hangat. Lebih disarankan lagi datang sebelum jam 6 pagi untuk bisa melihat kabut yang menyelimuti hutan pinus. Magical view...



Puas menikmati Tebing Keraton, kami bergegas turun. Apalagi tempat tersebut semakin sempit karena banyaknya pengunjung. Untuk melanjutkan olahraga, saya dan teman berlomba lari dari atas hingga parkiran. Karena jalannya kebanyakan turunan ya tidak terlalu melelahkan dan seru banget.

Selamat menikmati Tebing Keraton ;)

Follow Us @satyawinnie