Foto : 'Get' Gendon Subandono

"Panas banget di dalam sini. Sesak dan bau pula. Beneran nih kita naik kapal ini 10 jam ke Sangihe?", ujar seorang teman saat kami sedang berbaris di lorong kapal mencari nomor tempat tidur kami. 

Selain karena lorong kapal yang sempit, temanku terlihat bete dan bercucuran keringat karena menggendong parasut yang beratnya sekitar 15 - 18 kilogram. Buntelan parasutnya juga besar sekali sehingga penumpang kapal yang berpapasan dengan kami harus mengalah dulu dan membiarkan kami lewat. 

Ya gimana nggak makin sesak kalau di lorong itu ada 100 orang (rombongan kami) yang sedang bawa buntelan segede gaban dan menunggu antrian. Hahaha...

''Ah, ini dia nomor tempat tidurku, tempat tidurmu di sebelahku nih", ujarku pada temanku tadi. Kami menumpuk tas parasut di sudut lorong antara dua tempat tidur bertingkat tersebut dan menghela nafas panjang.

Akhirnya....

Tempat tidur bertingkat di kapal kelas ekonomi.
Sore itu kami akan menuju Tahuna, ibu kota Kepulauan Sangihe dari pelabuhan Manado. Perjalanan ini dalam rangka memenuhi undangan Pemerintah Daerah Kabupaten Sangihe yang ingin menjamu para atlit Paralayang sehabis bertanding di TRoI (Trip of Indonesia) Paragliding Championship di Tomohon.

Selain dijamu, kami juga diminta untuk mencoba Flying Site yang baru dibuka di Sangihe yang diberi nama Bukit Pusunge.

Free trip ditambah bisa terbang di tempat baru. Siapa yang nolak iya kan? *wink*

Kalau kau pergi ke timur Indonesia, jangan terlalu berharap banyak dengan kenyamanan transportasi. Butuh maklum dan sabar karena kondisi kapalnya tidak sebagus di Barat Indonesia. Kapal benar-benar penuh dengan manusia beserta barang-barang bawaannya. Tak ada sudut kosong, semua berjejalan. 

Pukul 19.00 WITA, kapal berbunyi tiga kali dan kami siap berangkat. Ada satu hal unik yang saya temui di kapal ini dan belum pernah saya alami sebelumnya. Tepat ketika kapal kami bertolak dari pelabuhan, seseorang di ruang kemudi mengajak seluruh penumpang berdoa bersama. Iya, beneran berdoa. 

Karena mayoritas adalah pemeluk agama Kristen, doa pun dilangsungkan dengan cara Kristen. Doa-nya cukup lama dan saya menunduk. Sewaktu saya mengedarkan pandangan, terlihat beberapa penumpang (yang pastinya penduduk lokal, bukan turis seperti kami) melipat tangannya di dada dan khusyuk berdoa.

Semalaman kami tertidur pulas. Lautan sedang sangat bersahabat, tenang sekali. Sekitar jam 5 pagi kami terbangun karena bunyi dari pengeras suara mengajak bangun dan berdoa bersama (lagi), bersyukur bahwa kapal dan seluruh penumpangnya diberkati dan tiba di Tahuna dengan selamat.

Dengan muka bantal setengah mengantuk, kami kembali berjejalan keluar dari kapal yang pintunya kecil itu. Penduduk lokal yang sedang menunggu kerabat atau barangnya yang ada di kapal heran melihat banyak sekali orang keluar dari kapal menggendong tas gendut.

Baru tiba di pelabuhan Tahuna dan mukanya beler semua.
Kami diantarkan ke penginapan untuk bebersih dan sarapan. Ada 3 penginapan yang waktu itu kami tempati, Hotel Tahuna, Hotel Bintang Utara dan maaf saya lupa yang satu lagi (padahal itu penginapan yang saya tinggali). 

"Jam 7 sudah berangkat lagi ya, kita harus datang acara pembukaan dan penyambutan dari Bupati Sangihe" kata salah satu senior.

Eh cepat amat. Kita saja sampai penginapan jam 6 pagi. Hahaha...

Upacara pembukaan dan penyambutan Bupati Sangihe dilaksanakan di Bukit Pusunge, tempat flying site yang baru. Sebetulnya tempat tersebut sudah lama dijadikan tempat wisata oleh penduduk lokal untuk sekedar duduk, minum kopi, memandang-mandang. Baru beberapa waktu terakhir dikembangkan menjadi spot olahraga Paralayang. 

Butuh sekitar 15 menit untuk mencapai Bukit Pusunge dari pusat kota. Beberapa naik bus dan sebagian lagi naik truk. Kami yang naik truk berasa jadi artis didadah-dadahin sama anak-anak sekolah dan penduduk lokal. Iya, saking jarangnya wisatawan yang datang ke pulau ini.

Begitu tiba di Bukit Pusunge, kami semua terpana. 

"Woooowww sumpah cantik banget tempatnya" kata temanku sambil setengah berteriak.

Bukit Pusunge. Cantik sekali....
Saya setuju sekali! Bukit Pusunge ini cantiknya luar biasa. Kayak Ölüdeniz di Turki (saya belum pernah kesana sih, cuma lihat fotonya). Lokasi kota Tahuna yang berada di Teluk menjadi daya tarik paling kuat. Perpaduan warna biru lautnya, hijau hutannya dan kotanya yang rapi, sempurna.

Terbang di atas kota Tahuna
Foto : 'Get' Gendon Subandono

Terbang tandem di atas Teluk Tahuna. Saya juga ingin sekali terbang di sini.
Foto : 'Get' Gendon Subandono
Sehabis acara pembukaan, beberapa pilot bersiap-siap dengan peralatan masing-masing untuk segera terbang. Kebanyakan sudah tidak sabar untuk segera mencoba flying site yang baru.

Namun keberuntungan tidak berpihak pada kami hari itu. Sesaat setelah pilot pertama take-off, angin bertambah kencang dan langit berubah menjadi gelap. Penerbangan ditunda dan semua orang berkumpul di warung. Ngopi dan nyemil dulu. Dingin soalnya...

Cuaca tidak kunjung membaik sehingga membuat ketua rombongan kami mengeluarkan keputusan agar semua peserta kembali ke penginapan, isthirahat sambil bersiap menunggu jamuan makan malam dari Bupati. Wihhhh asyik.... Makan enak lagi....

Malamnya kami bersuka ria, makan enak, nyanyi dangdut. Bagian yang paling menyenangkan dari acara jamuan itu adalah kami semua diajak menari berpasang-pasangan dan mengikuti gerakan-gerakan pasangan paling depan (pastinya orang Sangihe). Saya lupa nama tariannya apa. Yang pasti malam itu kami semua berdansa dengan gembira.

Terima kasih atas jamuannya, Bapak Bupati Sangihe
Keesokan harinya, kami sudah beranjak dari hotel pukul 6 pagi. Tujuannya agar begitu cuaca cerah dan angin bagus, kami bisa terbang dari Bukit Pusunge.

Sambil menahan kantuk, kami menunggu di balai-balai yang ada di atas bukit. Cuaca belum membaik sejak kemarin. Kabut putih menyelimuti bukit sehingga kota Tahuna tidak terlihat sama sekali. Dingin betul pokoknya waktu itu...

Untuk menghangatkan diri, kami berkumpul membentuk lingkaran dan bernyanyi sambil makan pisang minum kopi. Tapi seseru-serunya bernyanyi bersama, kami tetap berharap cuaca segera berubah cerah dan kami bisa terbang. Pastinya lebih seru tohhh....

Saya sendiri sudah sangat memimpikan untuk terbang di Bukit Pusunge ini. Saya melihat beberapa pilot senior, Om Get,  yang sudah mencoba terbang membawa penumpang dan fotonya super keren... *mupeng (muka pengen)*


Tapi ternyata, setelah tiba di tempat ini, di tempat yang jauh sekali dari Jakarta ini, setelah menempuh perjalanan sejauh ini.... nggak bisa terbang juga... Sedih nggak sih?


Kami hanya punya waktu dua hari di Sangihe karena keesokannya kami harus pulang ke Jakarta. Hiks. Belum sempat terbang, belum sempat keliling-keliling kota, sudah harus pulang.

Lalu datanglah kabar gembira. Kami akan dibawa ke pusat kota untuk berjalan-jalan dan cari oleh-oleh. Asyikkk!!!

Pusat kota Tahuna

Satu-satunya supermarket di Tahuna. Cukup lengkap lho ;)

Aku senang pasar di Tahuna ini bersih dan rapi sekali ;)
Begitu tiba di pusat kota Tahuna, kami berencana mencari oleh-oleh khas. Ternyata nggak ada. Sudah mencoba bertanya ke orang lokal, dimana toko pusat yang menjual oleh-oleh dan ada nama toko yang disebut. Saya dan teman saya mencari tempat tersebut dan coba tebak itu toko apa?

Toko kelontong...

Hahahahahaha. Kebetulan karena sudah mendekati Desember (hari Natal), toko tersebut penuh dengan dagangan hiasan nuansa Natal. Mana oleh-olehnya?

Lalu salah satu orang memberitahu kami bahwa di hotel tempat rombongan kami menginap, ada beberapa t-shirt yang bisa dijadikan oleh-oleh. Begitu tiba di tempat itu, saya terkejut...

Kalau biasanya kita pergi ke satu daerah, biasanya t-shirt yang dijual bertuliskan nama daerah tersebut kan yah? Harusnya kan Sangihe ataua Tahuna atau nama objek wisata di sana. Tapi di tempat yang saya temui tulisannya beda...

MANILA...

Begitu lihat, saya nggak tahu mau bereaksi apa. Iya sih Sangihe ini memang dekat dengan Filipina, tapi masak jual t-shirt bertuliskan Manila? Kalau kalian jadi saya, apa reaksi kalian? Hehehehe...

Akhirnya kami mengurungkan niat untuk membeli t-shirt itu (pastinya) dan ada teman yang mengajak kami ke satu toko kecil di dekat situ juga yang menjual t-shirt bertuliskan Sangihe (oh ternyata ada) namun sudah habis terjual.

Untuk makanan khas, pastinya banyak olahan hasil laut. Saya mencoba mencari makanan yang lebih unik yang mungkin tidak ditemukan di Sulawesi Utara yang lain, cuma ada di Sangihe. Tapi sepertinya sama saja di semua daerah.

Kaki saya melangkah masuk ke satu rumah makan Chinese Food, "Bakmie Che" namanya. Begitu melihat ada label asli khas Tahuna, itu artinya wajib dicoba.

Bak Mie Che ;)
Waktu di awal ditanya mau porsi kecil atau porsi besar? Ya porsi besar dooong. Hehehe. Tak lama kemudian bakmi porsi besar yang saya tunggu, tiba.

Hmmmm... Bakmi nya wangi sekali. Dihidangkan di atas piring dengan 3 biji cabe dan setengah potong jeruk kunci. Cabenya saya iris dengan sendok, jeruknya saya peras dan saya campur ke dalam bakmi. Rasanya? Enak banget....

Bakmi yang ternyata ada daging babinya. Enak ;)

Dan memang bakmi ini enak karena mengandung daging babi dan memakai minyak babi. Jadi 100% tidak halal. Hahahaha. Yang penting enak.

Sayang sekali kami hanya punya waktu 2 hari di Tahuna. Kami harus segera kembali ke Manado dan kembali ke Jakarta. Sampai jumpa lagi, Sangihe. Semoga saya bisa terbang paralayang di Bukit Pusunge suatu saat nanti ya :)


Because traveling opens eyes, warm hearts,
 frees minds, makes us alive… 
Semua orang pastinya suka jalan-jalan, suka berlibur ke tempat yang jauh untuk melepas beban, memanjakan diri masing-masing. Setiap perjalanan adalah pencarian, mencari kepuasan.

Lalu hasilnya apa?

Batin kita terpuaskan. Mood menjadi lebih baik karena segala beban di sekolah, kampus, kantor lepas sudah. Setiap pulang bepergian, selalu membawa oleh-oleh untuk yang tersayang dan pastinya foto-foto yang menggambarkan betapa indah dan menyenangkannya liburan kita.

Tapi, pernahkah terpikir untuk melakukan sesuatu yang lebih ketika melakukan perjalanan liburan?

Sudah pernah dengar voluntourism?

Kata voluntourism ini pastinya masih asing di telinga kita. Secara pribadi saya mengartikannya sebagai kegiatan sosial yang bisa kita lakukan di perjalanan. Ternyata sudah banyak lho yang melakukannya. 

Ada teman-teman dari Komunitas Bookpacker yang selalu menyumbangkan buku ke tempat tujuan liburan mereka. Walau tidak terlalu banyak jumlahnya, nilainya sangat berharga.

Tahun 2012 silam, saya melakukan perjalanan ke Pematang Siantar,  Samosir dan Pulau Nias di Sumatera Utara. Saya mengunjungi satu yayasan di ketiga tempat tersebut, namanya Harapan Jaya, sebuah panti rehabilitasi orang yang berkebutuhan khusus.

Saya dikenalkan dengan tempat tersebut oleh teman saya yang mengabdikan diri selama satu tahun untuk menjadi relawan di Yayasan Harapan Jaya. Selama 1 tahun, dia membantu seluruh penghuni yayasan, mendokumentasikan kegiatan sehari-hari mereka dan perayaan dalam yayasan. Selama menjadi volunteer, dia menetap gratis dan mendapatkan makanan dari yayasan. Dia sangat menyenangi kegiatannya tersebut karena selain bisa bermain dengan anak-anak. dia juga bisa menyalurkan hobi fotografinya dengan mengeksplor objek-objek wisata cantik di Sumatera Utara.

Temanku bercerita bahwa tugasnya di yayasan adalah membantu mencarikan donatur untuk yayasan. Dengan skill fotografinya yang sangat mumpuni, foto-foto yang dihasilkan benar-benar bisa membuatmu terenyuh. Potret kegigihan anak-anak yang berjuang dengan segala keterbatasan fisik yang mereka miliki dan terlihat begitu bahagia.

Saling menopang
Foto : Juferdy
Foto-foto tersebut diunggah ke social media dan dikemas dalam bentuk kalendar yang bisa dijual, dan menghasilkan uang untuk yayasan. Karena foto tersebut pula, saya jadi tergerak untuk berkunjung ke Harapan Jaya dan ingin mencoba membantu sebisanya, walau sebentar saja.

Anak-anak di Panti Rehabilitasi Harapan Jaya Pematang Siantar
Saya sudah mempersiapkan banyak camilan dan permen untuk dibagikan kepada anak-anak ketika berkunjung ke yayasan tersebut. Selama beberapa hari, saya ikut mengurus anak-anak, belajar, bermain dengan mereka, ikut menyuapi makanan ke anak-anak yang tidak bisa makan sendiri. Dengan anak-anak yang lebih besar, khususnya perempuan, saya mengajak mereka belajar dandan, make-up class sederhana. Mereka begitu senang, matanya berbinar. Begitupun saya.

Sentuhan hangat yang kita berikan kepada mereka adalah yang benar-benar mereka butuhkan. Sentuhan di kepala, tangan, pelukan dan ciuman, Kebanyakan anak-anak di panti rehabilitasi ini tidak punya orang tua dan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya.

Salah satu anak yang merebut hatiku di Panti Caritas Dorkas, Nias. Namanya Pitta.
Foto : Juferdy
Share The Happiness
Foto : Juferdy
Benarlah saya takjub dibuat oleh mereka selama berada di Harapan Jaya. Dari seluruh penghuni yayasan, ada satu orang yang benar-benar membuat saya terperangah dan terharu, namanya Rokaya Siregar. Aku ingin menulis profil khususnya suatu hari nanti. Sejak lahir, ia terlahir tanpa tangan dan kaki. Tetapi dia bisa memasak, mencuci, melukis lilin bahkan membuat ronce manik-manik sendiri, tanpa bantuan orang lain. Sekarang, Kak Rokaya sudah menikah dan punya bayi perempuan yang sangat lucu. Betapa bahagianya dia sekarang.

Begitu pula ketika saya berkunjung ke Samosir dan Nias. Saya berkunjung dan melakukan hal yang sama seperti di Harapan Jaya Pematang Siantar. Di Samosir namanya Harapan Jaya sedangkan di Nias, namanya Panti Rehabilitasi Caritas Dorkas. Ketiganya ada dalam satu yayasan yang sama.

The Superwoman, Rokaya Siregar
Foto : Juferdy
Jangan sesekali menunjukkan rasa iba kepada mereka, karena mereka pun tidak mengharapkan itu. Mereka ingin dianggap sama, normal seperti kita. Mereka bahkan bisa melakukan lebih daripada yang kita bisa.

Saya sendiri belum terlalu yakin apakah yang saya lakukan itu bisa digolongkan ke voluntourism yang sebenarnya. Saya melakukannya atas dasar keinginan saya ingin melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar menikmati pemandangan alam dan beramah-tamah dengan penduduk lokal. Saya ingin memberikan sesuatu untuk mereka dan untuk diri saya sendiri. 

Kakak di Panti Rehabilitasi Harapan Jaya Samosir
Foto : Juferdy
Mereka memberikan saya suntikan semangat yang begitu besar. Sekaligus tamparan. Sebagai manusia yang terlahir dengan fisik baik, saya malu masih sering mengeluh ini dan itu. Saya malu ketika melihat semangat mereka, keteguhan hati mereka dan kasih yang mereka berikan satu sama lain. Kunci mereka untuk hidup bahagia hanyalah satu. Kasih.

Voluntourism juga menjadi satu perwujudan kasih kita kepada sesama. Tak ada pakem atau aturan yang mengikat. Semuanya dilakukan secara sukarela.

Little kiss :*
Foto : Juferdy
Mari melakukan perjalanan sambil menyebar kasih. Membuat perjalanan lebih bermakna…