Menikmati Serunya Naik Argo Parahyangan Lagi

Thursday, October 01, 2015


Saya ingat beberapa tahun yang lalu, saya begitu senang naik kereta dari Jakarta ke Bandung. Namun sejak tol cipularang diresmikan, Argo Parahyangan sempat berhenti beroperasi untuk waktu yang cukup lama. Mungkin karena tidak kuat bersaing dengan travel-travel yang waktu tempuhnya jauh lebih cepat dan harganya lebih murah (waktu itu).

Nah, sejak beberapa waktu lalu KA Argo Parahyangan dioperasikan lagi.

Hore!

Saya cukup rutin pergi ke Bandung. Minimal satu bulan sekali saya pasti pulang kesana. Biasanya saya memilih moda travel seperti Baraya, Sararea, CitiTrans atau Bus MGI. Namun, saya tiba-tiba kangen naik kereta api. Langsung deh saya buka aplikasi KAI untuk memesan kursi. Sudah pada coba aplikasinya belum? Enak lho. Cepat dan mudah. Waktu itu aku memesan kereta jam sebelas malam untuk keberangkatan jam enam keesokan paginya. Less than 24 hours. Tinggal isi data, pilih kursi, bayar via e-banking. Beres…

Kalian sudah pernah naik Argo Parahyangan belum? Buat yang sudah pernah pasti tahu dong kalau pemandangan sepanjang Jakarta – Bandung itu uhwow banget. Cantiknya itu lho

Saya memilih untuk naik kelas eksekutif untuk melihat seperti apa Argo Parahyangan sekarang. Kalau yang kelas bisnis kan kursi penumpangnya 90 derajat yang bikin punggung sedikit pegal kalau perjalanan jauh. Berbeda dengan kelas eksekutif yang kursinya lebih ergonomis dan ada pijakan kakinya. Pokoknya jauh lebih nyaman dari kelas bisnis. Selisih harga antara kelas bisnis dan eksekutif hanya 35 ribu rupiah saja. Kelas bisnis itu tarifnya Rp 75.000 – Rp 85.000. Kelas Eksekutif tarifnya Rp 100.000 – 105.000.

Kelas Eksekutif Argo Parahyangan


Kelas Eksekutif Argo Parahyangan yang saya naiki. Beda sama gerbong yang di atas ya...
Gerbong kelas bisnis. Kalau dulu mah gerbong ini kotor banget dan jendelanya terbuka. Sekarang bersih, jendela tertutup dan pakai AC. Enak!
Kereta Api sekarang sudah sangat berubah. Ada pramugari kereta api berseragam biru nan ayu yang menyambut kita saat memasuki gerbong, menunjukkan arah ke kursi kita. Kursinya bersih dan wangi, tidak apek dan ada bantalnya. Ada TV di dalam gerbong tapi yang bisa nonton hanya bagian depan saja. Saya yang duduk di barisan tengah agak ke belakang sudah susah melihatnya. Di dekat jendela juga ada colokan listrik jadi bisa ngecharge handphone dan alat elektronik lainnya, gratis.

Mbak Pramgurari KAI nya lagi isthirahat kali ya?
Hanya satu yang saya sayangkan. Kaca gerbong yang waktu itu saya naiki agak sedikit buram. Entahlah itu karena jendela kacanya sudah tua atau memang kotor belum disikat. Saya jadi agak kesusahan untuk mendapatkan gambar yang benar-benar jernih.

Kacanya agak buram...
Satu lagi yang sedikit saya sesali adalah ketika saya memilih kursi dari Bandung ke Jakarta, saya memilih sisi kanan. Padahal pemandangan yang bagus ada di sebelah kiri. Ingatan saya memang sudah agak sedikit kabur saat mencoba mengingat pemandangan yang bagus itu adanya di sebelah kiri atau sebelah kanan. Jadi tips kecilnya adalah kalau dari arah Jakarta ke Bandung pilihlah kursi di sebelah kanan. Jika berangkat dari Bandung menuju Jakarta, pilihlah kursi sebelah kiri. Enak deh bisa duduk santai menikmati pemandangan sepanjang jalan.

Pemandangan di sebelah kiri jika mengarah dari Bandung ke Jakarta
Pilihan saya untuk berangkat pagi dari Bandung ke Jakarta pada pagi hari memang tidak salah. Menyenangkan sekali bisa menikmati pemandangan hijau yang belum terlalu silau karena sinar mataharinya belum terik.

Bisa lihat Tol Cipularang



Setiap melintas stasiun kecil seperti stasiun Cikadondong ini, pasti ada petugas stasiun yang keluar dan memberikan hormat.
Saya berjalan dari gerbong eksekutif hingga ke gerbong bisnis. Menyusuri dari ujung ke ujung. Saya sempat berhenti di gerbong resto dan duduk serta bercerita dengan bapak Train Security-nya bernama Pak Harmin.

Funniest Train Security and also my train guide, Pak Harmin
Sembari memotret pemandangan di kanan kiri, saya berbincang ringan dengan Pak Harmin. Saya berasa punya guide pribadi selama naik kereta. Beliau menunjukkan kepada saya Jembatan Cikubang, jembatan kereta api terpanjang di Indonesia (300 meter) dengan tinggi 90 meter. Agak deg-deg ser waktu kereta melintas pelan di atas jembatan. Saya lantas melongok ke kaca jendela dan melihat ke arah bawah. Ngeri-ngeri sedap rasanya.

Tinggi sekaliiii...
Jalur kereta api yang dibuat sekitar tahun 1800an ini memang menyimpan banyak cerita. Oleh para Londo (Belanda), rakyat kita dipekerjakan untuk membangun jembatan dan terowongan. Iya, coba nanti kalian rasakan sendiri naik kereta api dan masuk terowongan. Saya membayangkan bagaimana orang-orang zaman dulu bekerja keras melubangi bukit-bukit untuk dijadikan terowongan. Sepatutnya kita berterima kasih kepada mereka. Kalau mereka tidak ada, mana mungkin kita bisa merasakan kereta api seperti sekarang.

Selain Jembatan Cikubang, objek menarik lainnya adalah terowongan Sasaksaat yang membelah perbukitan Cipedong di jalur Padalarang-Purwakarta. Terowongan ini memiliki panjang 949 meter dan hanya bisa dilewati oleh satu kereta saja. Jadi harus dipastikan tidak ada kereta yang datang dari arah berlawanan. Terowongan Sasaksaat ini juga menjadi terowongan kereta api terpanjang kedua di Indonesia lho.

Cuma bisa foto begini kalau melintas terowongan Sasaksaat nya...
“Nanti pas lewat Purwakarta, Neng Satya bisa lihat kuburan kereta. Nanti lihat aja sebelah kanan” ujar Pak Harmin.

“Berapa menit lagi kira-kira Pak?” tanyaku.

“Hmmm, sekitaran sepuluh menit Neng” jawab Pak Harmin sambil melirik arlojinya.

“Hebat euy Bapak bisa hapal jam-jamnya” ujarku sambil tertawa.

“Ya kan sudah terbiasa Neng lewat sini terus bertahun-tahun. Jadi hapal” jawab Pak Harmin.

Memang benar sepuluh menit kemudian kami melintasi stasiun Purwakarta dan saya melihat tumpukan gerbong-gerbong kereta yang sudah tidak berfungsi lagi. Sayangnya kereta yang melaju cepat membuat saya hanya bisa mengambil dua gambar saja. Lalu saya bertekad suatu waktu akan jalan-jalan di Purwakarta untuk mengulik “kuburan gerbong” ini.

"Kuburan Gerbong" di stasiun Purwakarta


Selepas Purwakarta, kita akan memasuki daerah Cikarang. Berakhir sudah pemandangan indah karena sepanjang sisa perjalanan menuju Jakarta, hanya pemandangan rumah-rumah saja. Saya pun pamit kepada Pak Harmin dan kembali ke kursi untuk bersantai membaca buku.

Tepat tiga jam sepuluh menit dari waktu keberangkatan, saya pun tiba di stasiun Gambir. Berakhir sudah perjalananku yang menyenangkan di Argo Parahyangan. Nggak sabar untuk naik lagi. Mungkin bareng kamu? ;) 

You Might Also Like

17 comments

  1. aku malah belum pernah ke bandung naik travel :D tiap kali kesana selalu naik kereta! alasannya ya ini, pemandangannya cakep, terus bisa sekalian nostalgia :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mi. Jadi ketagihan sama Argo Parahyangan ini :D

      Delete
  2. bukannya dari dulu kereta api ada pramugari nya Win ? keknya terakhir aku ke Jogja udah ada deh :)
    btw ada wifi gak di kereta?
    itu kuburan kereta nya asli keren bgt euy...love this post win !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku keseringan naik yang gerbong ekonomi sih dulu Kak jadi gak tahu ada pramugarinya. Cuma tahu ada Mas-mas yang lalu-lalang. Wi-fi nya ada di beberapa kereta tapi nggak ada kemarin di Argo Parahyangannya Kak. Iya pengen ke stasiun Purwakarta buat menilik lebih lanjut tentang kuburan gerbong itu. Hehehehe...

      Delete
  3. Pernah naik kereta eksklusif dari Gambir ke Surabaya, enak banget bisa tidur pulas diatas kereta. Tempat duduknya empuk terus ada juga selimutnya.
    Harga?? kurang tau berapa, karena dibayarin kantor.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pastinya sama harganya kayak beli tiket pesawat, Bar. Hehehehe. Asyik emang kalau yang kelas eksekutif ya :D

      Delete
  4. Heeiii ini keren kak!! Meski tiketnya lumayan ehem tapi pemandangannya memang kece banget. Info dari kak Winnie udah kucatat, duduk di sisi kiri, trus kalau mau ngelewatin terowongan Sasaksaat mesti cari pak security kereta biar dapet timing yang pas buat foto! ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha ada tips-tipsnya ya komplit, Lim. Yap, security pasti tahu timing-timing lewat dari objek apa dan bisa dapat cerita seru. Semacam punya private guide ;)

      Delete
  5. Aku udah pernah naik... aku jadi suka.. nanti punya masa kalau ke jakarta lagi aku pigin naik lagi... dulunya aku naik dari gambir langsung ke bandung

    ReplyDelete
  6. Terimakasih atas tulisan pengalaman anda.

    ReplyDelete
  7. seru ya kalau naik kereta, bisa melihat pemandangan yang indah seperti itu.. hehe

    ReplyDelete
  8. saya sering,naik k a.karna selain..nyaman juga bisa melihat pemandangan..

    ReplyDelete
  9. saya sering,naik k a.karna selain..nyaman juga bisa melihat pemandangan..

    ReplyDelete

Subscribe