Dibandingkan minum kopi di café-café ternama atau coffee shop yang sedang hits, saya lebih suka datang ke warung kopi yang otentik. Warung kopi yang tua, tempat orang benar-benar menikmati kopi, bukan sekedar mencari wi-fi.

Seorang teman merekomendasikan satu warung kopi di jalan Alkateri, Bandung. Warung Kopi Purnama namanya. Warung Kopi ini ternyata sudah ada sejak tahun 1930 dengan nama “Chang Chong Se” (Silahkan Mencoba!). Tahun 1966 sang pemilik mengubah nama warung kopinya menjadi “Purnama”, mengikuti mandat dari Pemerintah Indonesia.

Lokasi Warung Kopi ini ada di jalan kecil yang terkenal dengan toko karpet dan gordyn. Awal-awal mencari Kopi Purnama ini pun, saya tersesat.

Tampak depan Warung Kopi Purnama di Jalan Alkateri
Meskipun lokasinya di tempat sempit dan area dalamnya juga tidak seberapa besar, Kopi Purnama selalu didatangi pelanggan setianya (sekarang saya juga menjadi salah satunya). Alasannya tidak lain karena kopi dan menu-menu uniknya memang enak.

Begitu memasuki warung kopi, saya terpesona dengan kursi kayu jati dan meja marmer yang katanya belum pernah diganti dari awal warung kopi ini dibuka. Di dinding tergantung foto-foto kota Bandung di masa lampau yang dipigura apik.



Makin-makinlah aku yang menyukai segala benda-benda tua ini, jatuh hati.

Saya memilih untuk mengambil tempat di pojokan agar bisa melihat keseluruhan ruang warung kopi, menikmati dan memperhatikan setiap pelanggan yang datang. Benar saja dugaanku bahwa pelanggannya kebanyakan paruh baya. Merekalah pelanggan setia dari Warung Kopi Purnama selama beberapa dasawarsa.




Walau kedai ini otentik asal kota Bandung, ternyata Yong A Thong, sang pemilik, mendirikan warung “Chang Chong Se” pertama kali di Medan. Setiap pagi warung mereka selalu ramai dengan orang-orang yang ingin makan pagi setangkup roti selai srikaya dan kopi yang digiling sendiri oleh Yong A Thong.

Roti Srikaya legendaris dari Warung Kopi Purnama. Enak!
Hingga saat ini, resep itu masih terjaga baik turun temurun. Penggilingan kopi dan pembuatan selai srikayanya dilakukan di rumah keluarga pemilik Warung Kopi Purnama sendiri. Selainya diproduksi dalam jumlah terbatas karena sama sekali tidak menggunakan pengawet. Sudah beberapa kali ke sini, saya selalu kehabisan selai srikaya yang sudah dikemas dalam toples kaca kecil. Yang tersisa hanya selai untuk roti yang dipesan pelanggan, bukan untuk yang dibawa pulang. Ah tenang saja, nanti pasti ke sana lagi.

Selain roti selai srikaya, yang terkenal di Warung Kopi Purnama ini adalah Roti Worst dan Roti Dadar Worst. Ada lagi menu-menu berat seperti Nasi Gulai Sapi, Nasi Begana, Nasi Lengko, Lontong Cap Go Meh dan lainnya. Saya juga sempat mencicipi menu-menu untuk kalangan khusus seperti Nasi Dadar Sekba, Nasi Bakut dan Bacang Sekba. Duh, semuanya enak-enak.

Roti Dadar Worst


Dadar Sekba (kalangan tersendiri)

Bakut (kalangan tersendiri)
Tapi jangan lupa ini adalah warung kopi, jadi highlightnya adalah kopi. Cobalah Kopi Tubruk, Kopi Telur dan Kopi Susu yang disajikan di sana. Saya sendiri sangat sangat sangat menyukai kopi susunya. Paduan pahit dan manis yang khas di lidah saya.



Ruang belakang dari Warung Kopi Purnama alias area Non-Smoking
Jika diajak untuk bertemu dan mengobrol sore dengan teman-teman, saya pasti mengusulkan untuk pergi ke Kopi Purnama, warung kopi kesukaan saya. Kalian harus ikutan coba ya. Yuk ngopi bareng di sana. Sama-sama menghirup semerbak kopi nostalgia.

Gampang sekali kok petunjuk jalannya. Setelah melewati Gedung Merdeka akan menjumpai Gedung Pos Indonesia di Jalan Asia Afrika, lurus sedikit sampai sebelum terowongan, belok ke kanan ke jalan. Itu dia Jalan Alkateri.

Ingin tahu review lain tentang Warung Kopi Purnama ini? Silahkan baca ulasan Bang Efenerr di "Senandung Masa Warung Kopi Purnama Alkateri".

Warung Kopi Purnama
Jalan Alkateri No.22, Braga, Sumur Bandung, Jawa Barat 40111
Telepon:(022) 4201841
Jam Buka : 06.00 – 22.00 WIB
Wi-Fi : Good
Pempek Kapal Selam dengan telur di tengahnya.
Dibesarkan cukup lama di Bengkulu, lidah saya seperti sudah melekat dengan Pempek dan Cuko (kuah cuka). Walau makanan ini dikenal berasal dari Palembang, Pempek juga popular sebagai kudapan sehari-hari di Bengkulu, Lampung, Jambi, area selatan Sumatera.

Bermula dari melihat saya yang sangat menggemari pempek di warung depan SD saya terdahulu, Mama berinisiatif untuk membuat Pempek sendiri untuk saya bawa ke sekolah. Walau tidak setiap hari, saat saya melihat kotak bekal saya berisi pempek, hati saya senang sekali.

Pempek adalah penganan yang terbuat dari daging ikan dan terigu. Awalnya ikan belida adalah bahan utama untuk membuat Pempek. Namun seiring kelangkaan ikan ini di pasar, ikannya diganti menjadi ikan laut lain seperti ikan tenggiri. Ada juga yang menggantinya dengan ikan air tawar seperti ikan gabus dan ikan toman. Buat saya, semua ikan sama saja. Sama-sama enak.

Kudapan pempek ini selalu disajikan berbarengan dengan cuko yang terbuat dari air, gula merah, udang ebi, cabe rawit tumbuk, bawang putih dan garam. Selain cuko, ada irisan dadu mentimun dan mie kuning yang biasa menemani kita menyantap pempek.

Pempek Lenggang yang dibakar lalu ditabur ebi dan timun dadu.
“Wong Palembang dak pacak idup kalo dak ngirup cuko sehari be” adalah kalimat yang sering diungkapkan oleh orang Palembang. Kalimat tersebut berarti orang Palembang nggak bisa hidup (nggak bisa tahan) kalau nggak minum cuka dalam satu hari. Ya tentu saja minum cukanya ditemani Pempek ya.

Pempek sendiri terdiri dari berbagai macam bentuk dan nama. Ada Pempek Kapal Selam, Pempek Lenjer, Pempek Adaan, Pempek Pistel, Pempek Keriting, Pempek Kulit, Pempek Panggang, dan Pempek Lenggang. Semuanya enak dan menggungah selera.

Coba tebak ada berapa jenis pempek yang ada di dalam mangkuk ini? Semuanya enak banget!
Favorit saya tentu saja Pempek Kapal Selam. Kenapa?

Karena Pempek Kapal Selam adalah gabungan kedua makanan favorit saya, ikan dan telur. Sebagai anak kecil yang masih duduk di Taman Kanak-Kanak, saya begitu riang jika Mama saya membelah Pempek Kapal Selam dan terlihatlah kuning telur yang merekah di tengah. Rasanya seperti dapat kejutan. Menyenangkan.

Nama Pempek juga punya sejarah tersendiri. Konon katanya, Pempek ini sudah ada sejak abad ke 16. Bermula dari seorang lelaki tua keturunan Tionghoa yang merasa sayang jika ikan yang jumlahnya berlimpah di sekitaran sungai Musi hanya diolah menjadi ikan goreng atau pindang. Terbersitlah ide dari sang Kakek untuk mencampur daging ikan dengan tepung sagu atau tepung tapioka. Beliau berkeliling menjajakan makanan temuannya itu dengan sepeda. Orang-orang yang ingin membeli memanggilnya “Pek, Pek, Apek”, panggilan untuk lelaki keturunan Cina. Jadilah makanan ini dikenal dengan nama Pempek.


Walau Pempek ini dianggap hanya sebagai kudapan, kandungan gizinya besar lho. Tentu saja gizinya datang dari bahan utama pembuatnya, ikan. Dari beberapa artikel yang saya baca, ikan itu mengandung berbagai vitamin, mineral dan nutrisi yang baik. Beberapa khasiat dari makan ikan antara lain menjaga kesehatan jantung, menurunkan tekanan darah, menurunkan berat badan, menekan risiko kanker, meningkatkan fungsi otak dengan asam omega 3-nya, melawan radang, menyehatkan mata, merawat kulit dan mengatasi depresi.

Tuh, banyak kan khasiatnya…

Apalagi untuk yang memiliki anak yang emoh / susah makan ikan. Kenapa gak diolah, dibuat menjadi pempek dengan bentuk yang menarik untuk anak? Bisa banget lho pempek dikreasikan bentuknya kalau kita sendiri yang mengolah adonannya.

Pempek Kapal Selam yang belum diguyur cuka.
Ada lagi info yang saya dapat tentang kandungan gizi Pempek Tenggiri. Dalam  satu Pempek Tenggiri (100 gram) terdapat energi sebesar 173 kilokalori, protein 7.2 gram, karbohidrat 33.4 gram, lemak 1,2 gram, kalsium 164 miligram, fosfor 80 miligram, dan zat besi 3,1 miligram. Di dalamnya juga terdapat Vitamin A, B dan C lho. (Sumber)

Makin jelas deh kenapa kita butuh makan Ikan dan makan Pempek.

Jika kalian berkunjung ke Palembang, restoran yang menyajikan sajian pempek berjamur, ada dimana-mana. Sebut saja beberapa merek yang terkenal, Pempek Candy, Pempek Vico dan Pempek Nony. Tak ayal lagi, Pempek sudah menjadi oleh-oleh wajib ketika berkunjung ke Bumi Sriwijaya ini. Pempek bisa tahan lama karena sudah terlebih dahulu dibungkus dengan tepung tapioka. Dengan begitu, pempek bisa dibawa untuk perjalanan panjang, ke luar kota bahkan ke luar negeri. Namun harus dikemas dalam wadah yang rapi dan tidak tembus baunya agar lolos masuk bagasi.

Jika sudah tiba di tempat tujuan Pempek baiknya disimpan di refrigerator atau freezer agar awet. Biasanya pempek yang disimpan di dalam freezer bisa bertahan hingga empat minggu.

Pernah beberapa kali saya mengajak teman-teman saya dari Australia, Rusia, Jepang dan Thailand untuk mencicipi Pempek. Ada yang suka namun ada juga yang mengernyit dengan bau cukanya. Namun semuanya suka sekali dengan olahan pempek ikan yang dicampur dengan telur, si pempek kapal selam. “Delicous”, “Khorosho”, “Xr̀xy māk”, dan “Sore wa sore wa oishīdesu” adalah komentar yang keluar dari mulut mereka setelah menyantap Pempek. Sebagian menyantapnya dengan cuka dan sebagian lagi menyantap bulat-bulat tanpa cuka.

Tuh kan, Pempek Palembang memang sudah siap go international, sudah siap untuk menyapa dunia, disejajarkan dengan kuliner-kuliner Indonesia yang sudah terlebih dahulu dikenal seperti Rendang, Sate Ayam, Nasi Goreng, Gado-Gado.

Saya pun pernah membaca bahwa Pempek ini termasuk dalam 30 makanan yang diajarkan cara membuatnya oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di beberapa Negara.


Proses untuk membuat Pempek ini mudah dan bisa kita buat sendiri di rumah. Biar jadi Pempek beneran, bukan Pempek “Dos”, sebutan untuk pempek yang lebih  banyak tepungnya dibandingkan daging ikannya. Untuk membuat Pempek yang enak, pastikan porsi daging ikannya lebih banyak daripada tepungnya. Itu baru namanya Pempek yang kaya gizi dan nutrisi.

Yuk makan Pempek dan kenalkan ke dunia...


*tulisan ini diikutkan dalam kompetisi menulis "Jelajah Gizi" oleh Sari Husada. Kalian juga bisa ikutan. Silahkan buka link ini. Yuk jelajah gizi makanan-makanan otentik Indonesia ;)

Kemarin saat saya posting foto di path, banyak yang bertanya-tanya, ada di sebelah mananya Taman Nasional sih Canopy Trail itu? Memangnya ada yang gituan di TNGP (Taman Nasional Gede Pangrango)? Itu tempat apa sih sebenarnya? Bagaimana cara kesana? Harus bayar berapa?

Nah…

Akan saya bahas sedikit ya perjalanan saya kemarin.

Awalnya saya melihat foto tentang canopy trail ini dari status facebook senior saya yang membawa anak-anaknya kesana.

Respons saya pertama kali waktu itu juga sama. Bertanya-tanya tempat ini dimana di postingan facebook kakak senior saya sambil berdecak kagum. Kepengen banget kesana.




Awalnya saya mengira tempat ini dicapai dengan trekking yang cukup jauh. Ternyata hanya 15 menit saja dari gerbang masuk pendakian Gunung Gede Pangrango via Cibodas. Dari pos perizinan kita berjalan ke arah kiri untuk menuju Canopy Trail. Kita bisa memarkirkan kendaraan roda dua dan roda empat di tempat yang sudah disediakan dan berjalan santai ke kawasan TNGP.

Setiap langkah terasa ringan, terasa menyenangkan. Segala penat ibukota seakan sirna. Udara segar yang memenuhi paru-paru membuat semangat semakin menggebu.

Sebelum kami masuk ke kawasan Canopy Trail, kami mampir ke pondokan teman-teman Montana, komunitas sukarelawan Taman Nasional Gede Pangrango. Pondokan yang biasanya ramai, terlihat sepi.

“Iya hampir semua anak-anak Montana sedang siaga api di Suryakencana, takutnya api masih nyala” ujar Kang Benny, salah satu anak Montana yang kami temui.

Kalian baca tidak berita beberapa waktu yang lalu bahwa Alun-Alun Suryakencana terbakar? Hati teriris miris melihat alun-alun yang seharusnya berwarna hijau berubah menjadi hitam. Edelweiss yang seharusnya berwarna keemasan tertimpa sinar matahari, kini layu. Dampak dari musim kering berkepanjangan dan bara api pendaki. Tidak hanya Gunung Gede, beberapa gunung di pulau Jawa juga mengalami hal yang sama.

Oleh karena itu hingga saat ini, pendakian resmi di Taman Nasional Gede Pangrango dan gunung-gunung lainnya belum dibuka. Banyaknya pendaki dengan petugas TNGP tidak sebanding jumlahnya. Pengawasan tidak akan bisa dilakukan 100%. Penutupan jalur untuk pendaki adalah satu-satunya solusi terbaik. Agar gunung bisa mendapatkan “me time”-nya. Tidak terusik dengan manusia yang berisik.

Cepat pulih ya Gunungku sayang…

Oke, kembali lagi ke cerita Canopy Trail.

Dulunya, Canopy Trail ini hanya diperbolehkan untuk keperluan pengawasan satwa oleh petugas TNGP. Dari canopy ini kita bisa melihat beberapa spesies seperti burung, kera dan macan tutul (Jika sabar menunggu dari jauh ya).



“Canopy ini memang dibuat untuk mengawasi si dia” ujar Kang Benny yang menemani kami berjalan.

“Si dia? Siapa itu Kang?” tanyaku.

“Ya si dia, macan tutul. Ini biasanya jalur perlintasan dia. Jadi canopy itu tempat petugas TNGP untuk mengawasi pergerakan dan perilaku Macan Tutul yang ada di kawasan ini” jelas Kang Benny.

Ah, pantas saja di papan yang kita jumpai sebelum masuk tertulis fungsi dari canopy ini sebagai sarana penelitian satwa arboreal dan stratifikasi tajuk vegetasi.

Satwa Arboreal adalah satwa yang hidupnya di atas pohon. Tajuk vegetasi sendiri adalah keanekaragaman tumbuhan dan pepohonan.


Di TNGP masih ada Macan Tutul Jawa lho...
Dulunya memang tidak boleh ada orang selain petugas TNGP yang memasuki kawasan ini. Namun beberapa oknum melakukan tindakan yang mengesalkan. Jaring-jaring di samping pintu dipotong agar bisa masuk ke dalamnya.




Jaring yang digunting oknum tidak bertanggung jawab :(
Setelah diperbaiki, TNGP pun memutuskan Canopy Trail ini dibuka untuk umum. Secara resmi, TNGP mengeluarkan surat edaran dan bisa kalian baca di sini ya.

Untuk menikmati pemandangan hijau menyegarkan mata, kita harus bergantian karena beban maksimal canopy ini adalah 300 kilogram atau setara dengan lima orang dewasa (ya itung-itung sendirilah ya berat badannya). Syukurlah sewaktu kami datang ke sana, tidak ada pengunjung lain sehingga kami tidak harus mengantri dan bisa sepuas-puasnya mengambil gambar cantik di canopy.






Deg-deg ser sih pastinya sewaktu berjalan di atas canopy karena goyang-goyang. Apalagi ada tiga orang yang berjalan, aku, Janatan dan Kang Benny. Makin ke tengah goyangnya makin heboh, jadi kami melangkah lebih pelan. Walau deg-degan, kita sih tetap senang ya foto-foto selfie di sini. Instagramable banget.


Selfie is a mandatory here :p
Dari tengah canopy kita bisa melihat banyak burung (sayang nggak bawa binocular biar bisa lihat lebih jelas) dan aliran sungai dari air terjun Ciwalen yang ada di bawah. Katanya ada sekitar 251 species burung lho di TNGP. Hampir 50% burung di Jawa. Wajar saja jika pecinta burung atau yang senang birdwatching rutin mengunjungi TNGP.



Canopy Trail ini memiliki panjang 130 meter dengan ketinggian 45 meter di atas permukaan tanah. Ada empat pohon Rasamala (Altingia excelsa) yang menjadi penyangganya. Untuk melintasi canopy trail ini, setiap pengunjung harus ditemani oleh pemandu atau interpreter dari pihak TNGP.


Pohon Rasamala yang jadi penyangga.
Di ujung Canopy Trail, ada jalan setapak ke curug Ciwalen. Dikarenakan musim kemarau yang berkepanjangan, debit airnya kecil namun airnya tetap menyegarkan. Apalagi kena gemericik-gemericik airnya habis trekking santai. Sejuk euy. Nama curug (air terjun) ini diambil dari pohon yang ada di sekitaran air terjun, yaitu pohon Walen. Jadilah namanya Curug Ciwalen.



Jalan setapak menuju Ciwalen


Bisa bersantai sambil minum kopi dan teh di Ciwalen.



Biaya yang harus dikeluarkan untuk mengunjungi canopy trail ini adalah sebesar Rp 31.000,- dengan perincian Rp 25.000,- untuk masuk canopy trail, tiket masuk ke TNGP Rp 5.000,- dan asuransi Rp 1.000,-. Biaya tersebut sudah termasuk untuk biaya pemandu atau interpreter dari Taman Nasional. Iya, kita harus dipandu untuk menuju hingga kembali dari canopy trail ini karena alasan yang sudah saya sebutkan di atas tadi. Area canopy adalah area pengawasan satwa sehingga kita harus didampingi agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Oh iya, selalu ingat ya untuk tidak meninggalkan apapun selain jejak, tidak mengambil apapun selain gambar dan tidak membunuh apapun selain waktu. Kalau mau bawa makanan dan minuman boleh asal ingat sampahnya dibawa pulang. Diingat juga agar tidak menimbulkan kegaduhan dan mengganggu satwa-satwa yang ada di sana.

Jadi, mau kesana? Ajak-ajak kami lagi ya…


Canopy Trail ini tempat yang asyik buat ngedate juga ;)


Saya ingat beberapa tahun yang lalu, saya begitu senang naik kereta dari Jakarta ke Bandung. Namun sejak tol cipularang diresmikan, Argo Parahyangan sempat berhenti beroperasi untuk waktu yang cukup lama. Mungkin karena tidak kuat bersaing dengan travel-travel yang waktu tempuhnya jauh lebih cepat dan harganya lebih murah (waktu itu).

Nah, sejak beberapa waktu lalu KA Argo Parahyangan dioperasikan lagi.

Hore!

Saya cukup rutin pergi ke Bandung. Minimal satu bulan sekali saya pasti pulang kesana. Biasanya saya memilih moda travel seperti Baraya, Sararea, CitiTrans atau Bus MGI. Namun, saya tiba-tiba kangen naik kereta api. Langsung deh saya buka aplikasi KAI untuk memesan kursi. Sudah pada coba aplikasinya belum? Enak lho. Cepat dan mudah. Waktu itu aku memesan kereta jam sebelas malam untuk keberangkatan jam enam keesokan paginya. Less than 24 hours. Tinggal isi data, pilih kursi, bayar via e-banking. Beres…

Kalian sudah pernah naik Argo Parahyangan belum? Buat yang sudah pernah pasti tahu dong kalau pemandangan sepanjang Jakarta – Bandung itu uhwow banget. Cantiknya itu lho

Saya memilih untuk naik kelas eksekutif untuk melihat seperti apa Argo Parahyangan sekarang. Kalau yang kelas bisnis kan kursi penumpangnya 90 derajat yang bikin punggung sedikit pegal kalau perjalanan jauh. Berbeda dengan kelas eksekutif yang kursinya lebih ergonomis dan ada pijakan kakinya. Pokoknya jauh lebih nyaman dari kelas bisnis. Selisih harga antara kelas bisnis dan eksekutif hanya 35 ribu rupiah saja. Kelas bisnis itu tarifnya Rp 75.000 – Rp 85.000. Kelas Eksekutif tarifnya Rp 100.000 – 105.000.

Kelas Eksekutif Argo Parahyangan


Kelas Eksekutif Argo Parahyangan yang saya naiki. Beda sama gerbong yang di atas ya...
Gerbong kelas bisnis. Kalau dulu mah gerbong ini kotor banget dan jendelanya terbuka. Sekarang bersih, jendela tertutup dan pakai AC. Enak!
Kereta Api sekarang sudah sangat berubah. Ada pramugari kereta api berseragam biru nan ayu yang menyambut kita saat memasuki gerbong, menunjukkan arah ke kursi kita. Kursinya bersih dan wangi, tidak apek dan ada bantalnya. Ada TV di dalam gerbong tapi yang bisa nonton hanya bagian depan saja. Saya yang duduk di barisan tengah agak ke belakang sudah susah melihatnya. Di dekat jendela juga ada colokan listrik jadi bisa ngecharge handphone dan alat elektronik lainnya, gratis.

Mbak Pramgurari KAI nya lagi isthirahat kali ya?
Hanya satu yang saya sayangkan. Kaca gerbong yang waktu itu saya naiki agak sedikit buram. Entahlah itu karena jendela kacanya sudah tua atau memang kotor belum disikat. Saya jadi agak kesusahan untuk mendapatkan gambar yang benar-benar jernih.

Kacanya agak buram...
Satu lagi yang sedikit saya sesali adalah ketika saya memilih kursi dari Bandung ke Jakarta, saya memilih sisi kanan. Padahal pemandangan yang bagus ada di sebelah kiri. Ingatan saya memang sudah agak sedikit kabur saat mencoba mengingat pemandangan yang bagus itu adanya di sebelah kiri atau sebelah kanan. Jadi tips kecilnya adalah kalau dari arah Jakarta ke Bandung pilihlah kursi di sebelah kanan. Jika berangkat dari Bandung menuju Jakarta, pilihlah kursi sebelah kiri. Enak deh bisa duduk santai menikmati pemandangan sepanjang jalan.

Pemandangan di sebelah kiri jika mengarah dari Bandung ke Jakarta
Pilihan saya untuk berangkat pagi dari Bandung ke Jakarta pada pagi hari memang tidak salah. Menyenangkan sekali bisa menikmati pemandangan hijau yang belum terlalu silau karena sinar mataharinya belum terik.

Bisa lihat Tol Cipularang



Setiap melintas stasiun kecil seperti stasiun Cikadondong ini, pasti ada petugas stasiun yang keluar dan memberikan hormat.
Saya berjalan dari gerbong eksekutif hingga ke gerbong bisnis. Menyusuri dari ujung ke ujung. Saya sempat berhenti di gerbong resto dan duduk serta bercerita dengan bapak Train Security-nya bernama Pak Harmin.

Funniest Train Security and also my train guide, Pak Harmin
Sembari memotret pemandangan di kanan kiri, saya berbincang ringan dengan Pak Harmin. Saya berasa punya guide pribadi selama naik kereta. Beliau menunjukkan kepada saya Jembatan Cikubang, jembatan kereta api terpanjang di Indonesia (300 meter) dengan tinggi 90 meter. Agak deg-deg ser waktu kereta melintas pelan di atas jembatan. Saya lantas melongok ke kaca jendela dan melihat ke arah bawah. Ngeri-ngeri sedap rasanya.

Tinggi sekaliiii...
Jalur kereta api yang dibuat sekitar tahun 1800an ini memang menyimpan banyak cerita. Oleh para Londo (Belanda), rakyat kita dipekerjakan untuk membangun jembatan dan terowongan. Iya, coba nanti kalian rasakan sendiri naik kereta api dan masuk terowongan. Saya membayangkan bagaimana orang-orang zaman dulu bekerja keras melubangi bukit-bukit untuk dijadikan terowongan. Sepatutnya kita berterima kasih kepada mereka. Kalau mereka tidak ada, mana mungkin kita bisa merasakan kereta api seperti sekarang.

Selain Jembatan Cikubang, objek menarik lainnya adalah terowongan Sasaksaat yang membelah perbukitan Cipedong di jalur Padalarang-Purwakarta. Terowongan ini memiliki panjang 949 meter dan hanya bisa dilewati oleh satu kereta saja. Jadi harus dipastikan tidak ada kereta yang datang dari arah berlawanan. Terowongan Sasaksaat ini juga menjadi terowongan kereta api terpanjang kedua di Indonesia lho.

Cuma bisa foto begini kalau melintas terowongan Sasaksaat nya...
“Nanti pas lewat Purwakarta, Neng Satya bisa lihat kuburan kereta. Nanti lihat aja sebelah kanan” ujar Pak Harmin.

“Berapa menit lagi kira-kira Pak?” tanyaku.

“Hmmm, sekitaran sepuluh menit Neng” jawab Pak Harmin sambil melirik arlojinya.

“Hebat euy Bapak bisa hapal jam-jamnya” ujarku sambil tertawa.

“Ya kan sudah terbiasa Neng lewat sini terus bertahun-tahun. Jadi hapal” jawab Pak Harmin.

Memang benar sepuluh menit kemudian kami melintasi stasiun Purwakarta dan saya melihat tumpukan gerbong-gerbong kereta yang sudah tidak berfungsi lagi. Sayangnya kereta yang melaju cepat membuat saya hanya bisa mengambil dua gambar saja. Lalu saya bertekad suatu waktu akan jalan-jalan di Purwakarta untuk mengulik “kuburan gerbong” ini.

"Kuburan Gerbong" di stasiun Purwakarta


Selepas Purwakarta, kita akan memasuki daerah Cikarang. Berakhir sudah pemandangan indah karena sepanjang sisa perjalanan menuju Jakarta, hanya pemandangan rumah-rumah saja. Saya pun pamit kepada Pak Harmin dan kembali ke kursi untuk bersantai membaca buku.

Tepat tiga jam sepuluh menit dari waktu keberangkatan, saya pun tiba di stasiun Gambir. Berakhir sudah perjalananku yang menyenangkan di Argo Parahyangan. Nggak sabar untuk naik lagi. Mungkin bareng kamu? ;)