Saturday, September 26, 2015

Sensasi Berkuda Tidak Biasa di Kavaleri Bandung

Saturday, September 26, 2015 22 Comments



Siapa yang suka menunggang kuda? Sayaaaa!

Sedari kecil, saya senang sekali menunggangi kuda. Berawal dari sewaktu kecil di Bengkulu, Mamak selalu mengajak saya naik delman dan dari situ saya senang sekali setiap melihat kuda.

Tuk tik tak tik tuk tik tak, suara sepatu kuda~ (teringat nyanyian masa kecil ciptaan Ibu Sud)

Segitu sukanya, segitu senangnya.

Nah, beberapa waktu lalu, teman saya mengajak ke satu tempat di kawasan Parongpong, Bandung. Saya baca tulisan di gerbangnya.

DENKAVKUD PUSSENKAV TNI AD

Huruf kapital semua yang saya nggak tahu singkatan dari apa. Teman saya lalu memberitahu itu adalah singkatan dari Detasemen Kavaleri Berkuda Pusat Kesenjataan Kavaleri.  Markas Denkavkud Pussenkav berada di Jalan Kolonel Masturi Km. 7 Desa Karyawangi Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat Provinsi Jawa Barat dan berjarak 15 Km dari pusat kota Bandung.

Udara sejuk menyapa kulit begitu kami memasuki kawasan ini. Saya melihat banyak sekali kuda-kuda berkeliaran di beberapa lapangan. Bahkan ada yang bebas melenggang di jalan sendirian atau berpasangan. Bangunan-bangunan yang didominasi dari kayu dengan arsitektur ala zaman kolonial dengan taman kecil di pekarangan masing-masing rumah.

Tempat apakah ini sebenarnya?

Tempat ini adalah tempat pelatihan kuda-kuda militer dan prajurit kavaleri terbaik di Indonesia. Darii sinilah kuda-kuda dengan breed terbaik di Indonesia, dihasilkan. Kuda-kuda tersebut merupakan aset Negara yang disiapkan untuk menjadi garda pembela NKRI jika sewaktu-waktu diserang Negara lain.
Kuda-kudanya bukanlah kuda sembarang. Mereka adalah kuda-kuda pilihan. Tampilan fisik dan endurance-nya harus bagus. Jika tidak, mereka tidak lulus menjadi kuda prajurit.


Di dalam kawasan DENKAVKUD terdapat beberapa lapangan yang terbagi untuk empat kategori yaitu cross country, endurance, show jumping dan dressage atau tunggang serasi. Tidak semua kuda bisa melakukan keempat kategori tersebut. Biasanya mereka sudah spesifik dilatih untuk satu kategori.



Pak Wahyu menyambut kedatangan kami dengan ramah dan mengajak kami duduk di depan lapangan. Lalu barisan prajurit berkuda datang dari arah samping dan melakukan aksi-aksi berkuda yang membuat saya terpana. Iya terpana sama kudanyaaaaa, bukan sama Abang-abang prajuritnya.


Kudanya melintasi palang rintangan
Jadi setiap tamu yang datang ke Parongpong ini akan disambut dengan atraksi kuda dan prajurit. Mereka unjuk kebolehan kudanya untuk berlari melewati palang-palang rintangan, tunggang serasi dan menunggang kuda melewati api. Paling seru adalah ketika kudanya disuruh pura-pura mati. Epic banget!

Kudanya terlatih untuk pura-pura mati...
Sambil melihat kuda-kuda yang dilepas di lapangan rumput, saya berbincang dengan Pak Wahyu tentang kavaleri.

“Kuda di Parongpong ini semuanya hasil cross breeding. Jantan dari luar, betina dari Indonesia” ujar Pak Wahyu.

Beliau lanjut menjelaskan bahwa kuda-kuda ini pun ada kategorinya masing-masing dan asalnya berbeda-beda. Kuda jumping itu biasanya berasal dari Australia. Kuda tunggang serasi atau keindahan biasanya dari Jerman karena kudanya lebih indah dan lebih lembut. Sedangkan kuda endurance itu biasanya didatangkan dari Arab. Sekali berlari, kudanya bisa tahan hingga 120 KM. Whoa…

“Nah, kalau kuda Indonesia apa kelebihannya Pak?” tanyaku.

“Kuda Indonesia itu walaupun kecil posturnya tapi nyalinya besar. Tahan malu juga. Bentuknya jelek tapi dia pede aja” jawab Pak Wahyu

“Silsilah kuda Indonesia itu banyak. Ada kuda priangan, kuda sumba, kuda bali, kuda batak. Biasanya kita bawa yang paling bagus baru kita silangkan” lanjutnya lagi.

Senyumnya Mas :D
Untuk membedakan kuda-kuda di Paronpong, biasanya keturunan pertama diberi kode G1. Ketika anaknya G1 kawin, lahirlah G2 atau generasi kedua. Nah kalau kuda ini menikah lagi, lalu anaknya menikah lagi sampai G5, barulah bisa dinyatakan kuda tersebut asli kuda keturunan Indonesia.

Sama seperti tentara yang ada NRP nya, kuda pun punya kode registrasi masing-masing agar tidak tertukar. Setiap kuda di sini punya huruf “P” di kaki depannya yang artinya Parongpong lalu diikuti tahun lahirnya. Kalau 03 berarti lahirnya 2003, 11 berarti lahirnya 2011.

Kuda mah ya kalau nggak lari ya makan...
Lalu di kaki belakang juga ada cap nomor yang menandakan urutan kelahirannya dalam tahun tersebut. Misalnya ada 50 kuda yang lahir dalam tahun 2005 dan kuda ini urutan lahirnya ke 32, kode di kaki depan P05 dan di kaki belakangnya 32.

Total kuda yang ada di Parongpong ini ada 236, termasuk kuda pejantan, kuda induk dan kuda anak. Kuda-kuda di sini termasuk kuda yang sangat enak hidupnya. Makanan dan tempat tinggal sudah terjamin. Jadilah mereka semua berumur panjang. Umur mereka biasanya belasan hingga 30 tahun karena perawatan yang baik. Bahkan kuda-kuda yang tua masih dirawat dengan sangat baik, diisthirahatkan hingga meninggal.

 “Di sini ada kuda yang kelahirannya tahun 1989, lho” ujar Pak Wahyu.

“Wah, lebih tua dari saya, Pak” celotehku.

Nah, bagaimana dengan jadwal makan kuda-kuda ini?

Kuda diberi makan dua kali sehari, pagi dan sore. Pagi sekitar pukul 7 diberi makan oleh petugas. Kemudian sekitar pukul jam 9 pagi ketika rumput sudah kering dan matahari terbit, kudanya dilepas untuk cari makan tambahan. Sore dikasih makan lagi ketika sudah pulang ke kandang.

Saya lalu bertanya lagi kepada Pak Wahyu bagaimana cara menggiring balik kuda ke kandang dari lapangan.

Ternyata setiap kandang ada penjaga lokalnya. Ketika sudah tiba waktunya kuda untuk pulang ke kandang dan makan, kuda tersebut akan dipanggil dengan kode-kode sendiri. Ada yang kodenya tepuk tangan, bersiul, atau diketok-ketok pintu kandangnya. Kuda-kuda tersebut pasti sudah mengerti dan pulang sendiri.

Ronggur dan prajurit kesayangannya.
“Tapi kuda yang dablek sih ada aja. Harus dijemput baru digiring ke kandang” ujar Pak Wahyu sambil terkekeh.

“Kamu tahu Larasati Gading? Dia itu atlet berkuda kebanggan Indonesia. Sudah cantik, mahir berkuda pula. Senang sekali saya waktu Larasati kesini. Orangnya ramah dan mudah senyum”.
Saya kemudian penasaran dan cari-cari berita tentang atlet berkuda bernama Larasati Gading. Ya ampun cantik sekali.

Walau usianya tidak lagi tergolong muda, Larasati tetap berprestasi di kejuaraan berkuda internasional. Juni 2015 kemarin, Larasati Gading menyumbangkan medali emas pada nomor berkuda individu tunggang serasi SEA Games 2015 di Singapore Turf Club Riding Centre. Lagi-lagi kemenangan diraihnya bersama kuda kesayangan bernama Wallenstein, yang sudah ditungangginya dari tahun 2011.

Kebarat-baratan sekali nama kudanya ya? Jelas. Namanya juga kuda dari Jerman. Wallenstein ini memang lahir dan besar di Jerman. Jadi, setiap ada kejuaraan, misalkan di Singapura kemarin, Wallenstein didatangkan dari Jerman dan begitu selesai kejuaraan langsung dipulangkan. Susah juga tapi kalau kejuaraannya berlangsung di Negara tropis ya. Wallenstein-nya kepanasan dan jadi agak susah dikendalikan.Tapi enak juga ya jadi Wallenstein yaa. Bisa jalan-jalan keliling dunia. Coba bandingkan dengan kuda-kuda yang hanya di kandang atau kuda yang jadi penarik delman. Sungguh berbeda sekali.

Uniknya, kuda-kuda di Parongpong ini dinamai nama yang Indonesia banget. Kuda jantan dinamai dengan nama-nama gunung di Indonesia dan yang betina diberi nama bunga.

Sehabis berbincang dengan Pak Wahyu, saya menunggangi kuda yang gagah sekali bernama Ronggur (bukan nama sebenarnya dan saya lupa nama aslinya) yang tingginya lebih dari dua meter. Saking besarnya, saya kesulitan untuk naik ke sadelnya Ronggur. Kami berjalan-jalan berkeliling dan sesekali berhenti untuk makan rumput. Cuaca cerah dan udara yang sejuk membuat saya betah sekali menunggangi si Ronggur berkali-kali keliling lapangan. Lama-kelamaan saya menikmati ritme menunggangi kuda. Badan kita ikutan ginuk-ginuk gitu. Memang katanya olahraga berkuda baik untuk pembentukan tubuh bagian bawah. Saya diajarkan untuk menggunakan tumit kaki untuk memberi perintah jalan kepada kuda. Semakin keras kita menghentak dengan tumit, semakin kencang pula lari si kuda.




Walaupun Kavaleri ini adalah kawasan militer, kita orang sipil juga bisa ikut mencoba kok. Asyik banget kalau bisa membawa keluarga berlibur naik kuda di kavaleri. Apalagi lokasinya di Lembang. Dekat banget kalau mau kemana-mana. Bisa berwisata di sekitaran Lembang sambil mengenalkan kuda ke anak-anak. Tenang saja. Walau ukuran badan kudanya besar dan tinggi, mereka sangat jinak kok. Senang dipeluk-peluk...

Malu-malu kuda


Jadi, kalian mau mencoba sensasi berkuda tidak biasa ini? Silahkan kontak Pak Edhy 0877-2226-1978 ya. Bisa juga lihat website kavaleri di sini

Friday, September 11, 2015

Camping Ceria di Ranca Upas, Bandung

Friday, September 11, 2015 80 Comments


Akibat cedera kaki, saya harus terima kenyataan selama beberapa bulan tidak boleh naik gunung untuk sementara waktu. Jangankan naik gunung, berlari saja tidak boleh. Hzzzz, tersiksa sekali.

Padahal saya sudah sangat merindu bau rumput dan kayu basah serta dinginnya gunung. Sudah tak tahan. Lalu terpikirlah ide untuk kemping ceria di bumi perkemahan dan memilih Bumper Ranca Upas di selatan Bandung.

Namanya juga perjalanan mendadak, persiapannya pun semuanya dadakan. Selesai menyiapkan bahan logistik jam 11 malam, kami berangkat menuju Ranca Upas dengan naik motor. Tak lupa kami memakai pakaian hangat yang menutupi wajah hingga kaki karena pasti udara akan dingin menusuk selama perjalanan. Namanya juga Bandung ya kan?

Enaknya jalan malam hari itu ya nggak terkena macet. Jalanan menuju Ranca Upas, Ciwidey dan sekitarnya memang kecil, jadi kita harus ekstra hati-hati berkendara. Di akhir pekan dan libur nasional, macet sudah jadi langganan. Jadi kalau kalian nanti mau kesana naik kendaraan roda empat, perhitungkan waktu tempuh yang akan berkali-kali lipat lebih lama. Waktu libur lebaran kemarin, temanku yang naik mobil terjebak macet selama 10 jam dalam perjalanan dari Ranca Upas ke Bandung. Whew….

Untuk menuju Ranca Upas dari Bandung, kami memilih jalan lewat Dayeuhkolot – Margahayu – Katapang – Soreang – Pasir Jambu – Ciwidey – Rancabali. Gampang banget kok jalannya. Tinggal nyalain GPS saja. Kalau nggak punya GPS, tinggal tanya orang saja jalan ke Ciwidey. Semua orang Bandung pasti tahu.

Kami pun sempat bertanya dengan beberapa pedagang jagung bakar di tepi jalan karena gerbang Ranca Upasnya nggak kelihatan padahal menurut GPS kami sudah sampai di lokasi. Ternyata memang karena gelap dan tidak ada lampu jalan, kami sudah kelewatan gerbangnya sekitar 100 meter. Gerbangnya ada di sebelah kanan jalan jika datang dari arah Bandung. Kalau dari arah Garut berarti ada di sebelah kiri. Terdapat satu gerbang besar bertuliskan “Kampung Cai Ranca Upas”.

Gerbang masuk Ranca Upas
Sepeda motor melaju masuk ke dalam kawasan dan tak berapa jauh kami tiba di loket Bumi Perkemahan Ranca Upas. Kami datang ke Ranca Upas saat libur lebaran jadi sudah maklum jika harus berebut lahan perkemahan dengan banyak orang. Di gerbang, kami diminta membayar Rp 48.000 untuk dua orang dan satu kendaraan serta biaya berkemah di Ranca Upas. Padahal setahu saya dari websitenya, setiap orang membayar Rp 10.000,-; kendaraan roda empat Rp 5.000,-; kendaraan roda dua Rp 3.000,- dan kendaraan roda enam Rp 20.000,-. Apakah karena itu libur lebaran sehingga harganya dinaikkan? Entahlah...

Pintu masuk Ranca Upas. Bayar tiket mask dulu ya...
“Kang, rame pisan yah pas libur lebaran begini. Ada tempat yang lebih sepi nggak sih buat kemping?” tanyaku pada Bapak paruh baya yang berjaga di loket masuk.

“Oh ada Teh. Nanti begitu ketemu kandang rusa, belok kiri aja, masuk ke dalam. Di situ ada lahan gede juga untuk bikin tenda” ujar si Bapak.

Masuklah kami ke dalam bumi perkemahan mengikuti arahan si Bapak. Setelah belok kiri dari kandang rusa kami menemukan jembatan kayu yang masih bisa dilewati kendaraan roda dua. Namun begitu maju, kami menemukan rawa yang dihubungkan dengan dua batang kayu kecil yang tidak bisa dilewati. 

Akhirnya motor kami parkirkan di lahan parkir yang sudah tersedia lalu menggendong carrier ke lokasi camp yang sudah kami pilih. Si Bapak tadi benar, lokasi yang ia tunjukkan benar-benar sepi. Hanya ada kami. Berbeda sekali dengan kawasan yang tadi kami lewati. Penuh dan padat dengan tenda serta banyak polusi cahaya sehingga kita tidak bisa melihat bintang-bintang di langit dengan jelas.

Lahan camp yang kami pilih sepi sekali...
Kami tiba sekitar pukul satu malam dan dinginnya benar benar menusuk tulang. Secepat mungkin kami unpacking dan bangun tenda. Kami sengaja membangun tenda menghadap ke timur. Jadi sebelum tenda dibangun, kami mengecek kompas terlebih dahulu. Tujuannya? Supaya begitu buka tenda langsung dapat pemandangan matahari terbit. Satu menyiapkan trangia untuk membuat minuman hangat, satu lagi menyiapkan api. Kayu bakarnya kami beli di warung dengan harga Rp 10.000,- satu ikat.

Apa yang lebih enak daripada menjerang air panas untuk menyeduh kopi dan cokelat di depan api unggun. 

Milky way over Ranca Upas. Sayang nggak bisa dapat full langitnya karena tertutup pepohonan.
Kami sudah membawa tenda sendiri sehingga tidak mengeluarkan biaya tambahan lagi. Jika teman-teman ingin camp tapi tidak punya tenda, tidak usah khawatir karena ada penyewaannya. Untuk tenda ukuran sedang yang kapasitasnya empat orang, biaya sewanya Rp 80.000,- sedangkan untuk tenda besar, biaya sewanya Rp 300.000,-. Nggak tahu caranya masang tenda? Tenang, tendanya dipasang dan dibongkar sama petugas camp Ranca Upas. Tinggal terima beres deh pokoknya.

Soal makanan nih. Jika tidak punya peralatan masak di alam seperti trangia, tidak perlu khawatir. Banyak warung makanan yang berjejer di dekat parkiran. Menunya bervariasi mulai dari nasi uduk, nasi rames, sate dll. Namun yang paling laku ya mie instan untuk disantap di malam hari ya. Kami sih lebih memilih untuk memasak sendiri dan sudah mempersiapkan seluruh bahan makanan sewaktu akan berangkat.

Hasil masakanku dan Janatan untuk camping ceria di Ranca Upas...

Warung makan di Ranca Upas

Toilet bersih dan tempat kami mengambil air untuk memasak

Apa yang lebih enak dari memasak dan menyantap masakan sendiri di alam terbuka? Apalagi kalau langitnya dihiasi berjuta bintang. Memang paling enak menginap di hotel bintang lima juta. Hotel bintang lima mah kalah.

Pilihan untuk ngecamp menghadap timur memang tepat! Pukul 05.30 WIB, alarm kami berbunyi dan aku langsung bergegas membuka risleting tenda walaupun masih menggelung dalam sleeping bag.
Begitu dibuka, pemandangannya yang kami dapatkan benar-benar memanjakan mata. Warna ungu, merah muda, jingga menghiasi seluruh penjuru langit. Tidak ingin ketinggalan moment, saya mengajak travelmate saya, Janatan, untuk keluar tenda dan berjalan-jalan ke padang rumput untuk mengabadikan momen sang surya bangkit dari peraduan.

Pas buka tenda, langsung dapat pemandangan beginiiiii *jatuh hati*



Brrrrrr..........

Bekuuuuuu…. Kuku kakiku kaku….

Pagi-pagi di Ranca Upas sama dinginnya dengan lembah Mandalawangi di Gunung Pangrango. Saya yang sudah memakai baju tiga lapis ditambah jaket windbreaker saja masih menggigil. Jadi jangan lupa untuk membuat diri kalian nyaman di Ranca Upas dengan membawa pakaian hangat, sarung tangan, kaos kaki, kupluk, syal.

Kabut menyelimuti Ranca Upas. Beneran bekuuuuu tangan dan kaki pagi-pagi.





Selain kemping ceria, kita bisa melakukan banyak aktivitas lainnya di Ranca Upas. Favorit saya adalah penangkaran rusa. Rusa yang ada dalam penangkaran adalah Rusa Jawa (Cervus timorensis) yang dilindungi (sekaligus menggemaskan).

Halo Rusa yang lucuuu...


Kita bisa ikut memberi makan rusa dengan wortel yang dihargai Rp 5000,- per kantongnya. Sebenarnya saya ingin sekali untuk turun dari pos pengamatan rusa dan bermain bersama rusanya. Sayangnya waktu itu pawangnya tidak ada, sedangkan tertulis peraturan jika ingin turun harus bersama pawangnya. Akhirnya saya harus berpuas hati hanya memberi makan rusa dari atas pondok kayu.

Memberi makan rusa dengan wortel. Beli pakannya lima ribu rupiah sekantong


Ranca Upas ini pas sekali untuk liburan keluarga dimana orang tua bisa memperkenalkan si anak untuk menikmati dan beraktifitas di alam bebas. Mengajak mereka belajar,  bermain dan mengenal flora dan fauna yang ada di area perkemahan. Terdapat pula arena outbound (Tegal Kawani), pemancingan, restoran dan kolam renang di dalam kawasan bumi perkemahan Ranca Upas.
 


Waterpark di Ranca Upas. Cocok untuk anak-anak. Tapi airnya dingin kalau pagi-pagi...
Ada beberapa cara untuk menuju Ranca Upas, bisa dengan kendaraan pribadi atau kendaraan umum.
Untuk kendaraan pribadi (mobil) dari Jakarta keluarnya di Gerbang Tol Kopo, lalu mengarah ke Soreang lalu ke Ciwidey. Pasang GPS pasti gampang kok petunjuk jalannya.

Kalau mau naik kendaraan umum, bisa naik bus dari Kampung Rambutan ke Terminal Leuwipanjang. Dari Depok (domisili saya) biasanya saya naik bus MGI ke Terminal Leuwipanjang. Lebih enak dibandingkan naik Travel yang biasanya berhenti di Pasteur , Dipatiukur atau Surapati. Dari Terminal, cari ELF yang tujuannya ke Ciwidey dengan membayar ongkos sebesar Rp 6.000,-. Setibanya di Ciwidey, kita harus naik angkutan lagi yaitu angkot dengan jurusan Ciwidey – Situ Patengan dan bayar ongkos sebesar Rp 6.000,-. Bilang sama Abang angkotnya untuk menurunkan kamu di Kampung Cai Ranca Upas. Jalan kaki deh ke dalam area Bumpernya.

 Jadi, kapan kita ke Ranca Upas? Saya mau banget kembali kesana lagi...




Follow Us @satyawinnie