Jalanan Memesona dari Ende Menuju Riung, Flores

Tuesday, August 11, 2015



Kuhempaskan pantat di depan terminal Ende. Sedikit kesal karena tidak mendapatkan kepastian jadwal bus menuju Riung, satu daerah kecil di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Konon katanya, Taman Laut 17 Pulau Riung mempesona sekali. Jadi penasaran kan.

Suasana Terminal Ende kelabu sekali. Tidak riuh seperti terminal yang biasa kita lihat di Pulau Jawa. Satu memori sempat terputar, ketika aku yang bepergian sendiri, ditarik-tarik paksa oleh calo-calo di terminal bus Terboyo di Semarang.

Bapak DAMRI yang tadi aku tanyai tentang jadwal keberangkatan bus masih asyik main catur. Lalu seorang Bapak menghampiri dan bilang kepadaku bahwa kalau DAMRInya tidak berangkat ke Riung, aku bisa naik mini bus ke Mbay lalu mlanjut ke Riung naik angkot. Ketika saya tanya jam keberangkatannya, Bapak itu bilang mungkin sekitar jam 1 siang.

“Nanti datang saja dan tunggu di warung depan sampai bus nya datang. Dia (bus) keliling dulu antar dan jemput penumpang” kata Bapak itu

Kuucapkan terima kasih banyak kepada si Bapak dan berlalu masuk ke mobil. Abang Irwan yang tadi mengantarkanku ke terminal menanyakan mau pergi kemana sambil menunggu jam 1 siang. Kulirik jam tangan, masih jam 9 pagi. Masih ada empat jam untuk berkeliling kota Ende.

“Hmmmm, kita ke Museum Ikat, Pantai Ria, Taman Rendo terus ke Pasar ya Bang” ujarku.

Bang Irwan mengangguk dan langsung menginjak pedal gas mobil. Jarangnya kendaraan di Ende memang membuat pengendara di sana cenderung ngebut. Jadi tidak heran dalam hitungan menit kami sudah ada lagi di pusat kota.

“Yah Museum Ikatnya tutup, Mbak. Lanjut langsung ke Pantai Ria saja ya” kata Bang Irwan.

Ya mau bagaimana lagi, saya manut saja. Kami ke Pantai Ria yang sepi karena masih pagi dan melihat-lihat sebentar. Di depan pantai Ria ada Taman Rendo yang sebenarnya taman untuk anak-anak. Pagarnya dikunci sehingga saya tidak bisa masuk. Huft…




Pantai Ria yang jadi tempat nongkrong pemuda-pemudi di Ende
Lagi asyik melongok ke dalam Taman Rendo dari depan pagar, Bang Irwan memanggil saya dan menunjuk satu mini bus yang sedang berhenti tak jauh dari tempat kami berdiri.


Taman Rendo, taman bermain anak-anak di Ende
“Mbak Satya, itu bus yang ke Mbay. Mau saya tanyakan masih ada kursi atau tidak?” ujar Bang Irwan.

Si Bang Irwan terlihat ngobrol sebentar dengan supir dan tak berapa lama, dia menghampiriku lagi dan mengatakan masih ada kursi. Langsung dibantunya aku memindahkan tas ke bus. Sebelum berpisah, aku tak lupa mengucapkan terima kasih sudah menemani selama mengeksplor Ende beberapa hari sebelumnya.

Aku menanyakan dapat kursi di sebelah mana kepada kernet bus. Dia minta aku menunggu sebentar karena dia harus mengurusi beberapa kambing untuk dinaikkan ke atas mini bus.

Iya, kambing. Ditemani ayam.

Kambing-kambing tersebut diikat dan didudukkan di atas mini bus. Lumayan juga ya mereka harus menahan posisi seperti itu selama kurang lebih empat jam (estimasi waktu perjalanan Ende – Mbay). 

Kuat-kuat ya, Mbing.



Setelah cukup lama menunggu, aku diberikan kursi di samping Pak Supir, Bang Antonius namanya. Dia bilang sebelum berangkat ke Mbay, dia harus mengantarkan beberapa paket kiriman dari Mbay dan menjemput beberapa penumpang. Jadi selama menyetir dia sibuk bertelepon dengan orang yang akan dikirimi paket dan calon penumpang.

Buaian angin sejuk dan tidak ada orang di sebelah saya yang bisa diajak ngobrol membuatku mengantuk. Tertidurlah aku dengan kepala nyender ke jendela.

Tahu-tahu aku terbangun dan sadar sudah dua jam tertidur. Kulihat plang warung. Lhaaa, masih di kota Ende. Ternyata banyak sekali paket yang harus dijemput dan diantar, ditambah penumpang. Jadi selama dua jam tadi aku diajak keliling kota Ende. Setengah perjalanan dari Ende ke Mbay. Yah anggap saja tadi itu city tour (tapi aku tidur).


Kota Ende yang apik

Bagian atap rumah Ende ini menarik!

Mobil melaju menuju utara. Gunung Meja tertinggal di kejauhan. Jalanan begitu lengang, angin laut membelai-belai.

Maumere da gale kota Ende, Pepin gisong gasong, Le'le luk ele rebin haPutar ke kiri e... Nona manis putarlah ke kiri ke kiri ke kiri ke kiri dan ke kiri ke kiri ke kiri ke kiri manis e.. Sekarang kanan e.. Nona manis putarlah ke kanan  ke kanan ke kanan ke kanan dan ke kanan ke kanan ke kanan ke kanan manis e..

Lagu itu mengalun dari radio bus. Liriknya yang lucu membuat aku dan Bang Supir joget-joget seru sendiri sementara penumpang lain di belakang tertidur. Bang Antonius ini asyik sekali orangnya. Dia asli orang Ende, sudah menikah, punya anak satu. Dia ceritakan tempat-tempat bagus di Ende dan berhasil membuat saya mupeng (muka pengen). Senang ya kalau dapat teman ngobrol asyik di perjalanan. Apalagi ditemani pemandangan cantik sebagai bonusnya.


Gunung Meja dan Gunung Iya di Ende
Setelah satu jam perjalanan, ada penumpang yang akan naik lagi. Karena kursi sebelah masih kosong, duduklah Bapak itu di sebelahku. Kenalan, ngobrol-ngobrol tentang tempat menarik di Ende dan Mbay. Pak Petrus Aha (aha!) namanya. Dilihatnya aku sering sekali membidikkan kamera ke luar jendela bus dan mulailah beliau bercerita anaknya yang juga hobi fotografi dan bla bla bla. Banyak sekali topik obrolan kami nggak habis-habis. Politik pun dibahas. Sikat!


Penting untuk bawa minum selama perjalanan. Air minum lokal yang kubeli di warung di Ende
Kami larut dalam obrolan tentang Flores. Pak Petrus yang memang berprofesi sebagai guru ini bisa bercerita dengan sangat menarik hingga aku mendengarkannya berjam-jam. Dia juga minta foto bareng supaya bisa disimpan di ponselnya dan nanti ditunjukkan ke anaknya. Hahaha...


Pak Petrus Aha yang super menyenangkan
Yang sangat aku suka dari perjalanan dari Ende menuju Mbay ini adalah pemandangannya. Jalan berliku namun dihiasi dengan bukit-bukit kecokelatan. Andai saja saya roadtrip naik motor dan tidak naik transportasi umum begini, pasti sudah berhenti untuk mengambil gambar. Kan nggak enak kalau saya sebentar-sebentar minta berhenti sama Abang pengemudi ketika penumpang yang lain ingin segera sampai.










“Mbay sudah tidak jauh lagi. Paling 30 menit sudah sampai. Nanti Satya saya bantu carikan mobil ke Riung. Pasti masih ada” ujar Bang Antonius.

Setelah berkeliling mengantar beberapa penumpang ke rumah masing-masing, kami mengarah menuju terminal Mbay. Namun sebelum kami sampai di terminal, kernet bus berteriak dari belakang.

“Bang, itu mobil ke Riung” teriaknya sambil menunjuk mobil angkot berwarna putih.

Bang Antonius langsung mengklakson dan abang kernet memanggil-manggil. Angkot berwarna putih itu melaju sangat kencang dan tidak berhenti walau sudah dipanggil dan diklakson beberapa kali. Ternyata, supir angkotnya sedang memutar musik dangdut yang kencang sekali. Pantas saja dia tidak sadar ada yang memanggil. Hahahaha.


Transportasi ke Riung
Akhirnya angkot tersebut berhasil dikejar dan diberhentikan. Bang Antonius sampai turun untuk berbicara dan memastikan Abang supir angkot putih ke Riung mengantarkanku dengan selamat. Dibantunya aku memindahkan tas ke dalam angkot dan mengucapkan selamat jalan.

Terima kasih Bang Antonius! Sampai jumpa lagi di Ende atau Mbay.

Berbeda dengan suasana yang agak sedikit mengesalkan saat berangkat dari Ende, perjalanan menuju Riung ini menjadi menyenangkan dengan banyaknya orang-orang baik yang kutemui di jalan. Suasana hatiku menjadi baik sekali.

Alunan musik dangdut dengan pemandangan perbukitan cokelat serta rumput merah mewarnai perjalanan saya dari Mbay ke Riung. Bersama penumpang lain kami bergoyang-goyang, tertawa-tawa. Senang betul.

Bukit Robert. Coba perhatikan bukit yang di sebelah kanan. Bentukan batunya mirip banget sama monyet. Masyarakat menganggap keramat bukit ini.

Rumput memerah menyambut musim kemarau.

Sedikit lagi kita akan berjumpa, Riung…

Tips menuju Riung dari Ende :
1. Ada dua moda transportasi dari Ende ke Riung. Bisa naik bis DAMRI dari Ende dengan biaya Rp 40.000,- dengan jadwal yang tidak tentu. Kalau ada penumpang banyak baru berangkat. Yang pasti berangkat minibus yang aku naikin. Tujuan Ende - Mbay biasanya berangkat jam 1 siang. Tidak ada loket khusus. Mini busnya biasa mangkal di seberang terminal Ende. Biaya mini bus Rp 45.000,- per orang. Katanya ada minibus ke Riung langsung dari Ende, ongkosnya Rp 50.000,-. Jam berangkatnya juga tidak tentu. Biasanya jam 2 siang (berdasarkan info penduduk setempat)

2. Usahakan tidak tidur selama perjalanan. Pemandangannnya cantikkkkk banget. Jadi sayang kalau dihabiskan tidur di jalan.

3. Paling enak memang duduk di bagian depan, di samping Pak Supir. Bisa foto-foto lebih bebas
.
4. Jika kalian berangkat dari Ende ke Mbay berarti harus melanjutkan perjalanan ke Riung dengan naik transportasi angkot selama kurang lebih 1,5 atau 2 jam ke Riung. Ongkosnya Rp 35.000,- per orang. Total waktu tempuh dari Ende ke Riung sekitar 6 jam.

You Might Also Like

18 comments

  1. Replies
    1. Cepatlah pulang ke Indonesia, Kak dan nanti kita jalan-jalan bersama yaaaaa :D

      Delete
  2. sayang banget pemandangan cantik itu dilewatkan kalau sampai tertidur... kudu bawa selotip buat mata nih secara aku tukang tidur kalau di jalan. hahahaahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha. Makanya harus ngobrol sama siapa aja selama di jalan biar nggak ngantuk, Rie. Syukur aku tidurnya cuma pas keliling kota Ende :p

      Delete
  3. Postinganmu tentang keindahan NTT selalu membuatku tidak sabar pengen cepat-cepat eksplore NTT

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo Bar kita cari uang yang banyaaaaaaakkkk dan overland NTT. Pesonanya nggak habis-habis <3

      Delete
  4. Duduk sama kambing di atas mini bus lebih asik kayaknya ya 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha iya ya. Kapan-kapan ke sana lagi nyobain ah. Kau juga cobain yak! ;)

      Delete
  5. Cakep semua gambarnya! Sayang yah nggak sempat ke Museum Ikat, padahal pingin nanya-nanya hehehe. Baru tahu loh kalau transportasi dari Ende ke Riung sesusah itu. Ahh pokoknya ntar kalo ke Flores lagi mo nyontek itinerarymu biar city tur dua jam ama ngerasain se-bus bareng kambing ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halim! Aku baru baca lho komentarmu. Maafkan akuuu.... Iyaaa aku kepengen banget ke Museum Ikat tapi karena sepi pengunjung, jam bukanya tidak tentu... Ahahaahhaa, aku juga pengen kembali lagi dan naik sama kambing ;)

      Delete
  6. cakepp viewnya
    aku suka sama bukit yg di daerah mbay itu. Waktu ke sana, serombongan pada minta diturunin buat foto2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaaaahhh karena serombongan enak ya bisa minta berhenti dan foto-foto dulu. Aku karena sendirian saja ya nggak enak mintanya. Hihihihi...

      Delete
  7. Jadi kangen sama kampung saya itu... Hhhh... Tapi makasi mbak ya buat ceritanya... Bisa ngobatin kangen lama gak pulang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Armynd. Kampungmu dimanakah? Hehehehe. Waaaaah beruntung sekali kamu jadi orang NTT. Kampungmu itu cantik sekali :)

      Delete
  8. Jadi kangen sama kampung saya itu... Hhhh... Tapi makasi mbak ya buat ceritanya... Bisa ngobatin kangen lama gak pulang

    ReplyDelete

Subscribe