Friday, August 14, 2015

Dimanja di Taman Laut 17 Pulau Riung, Flores

Friday, August 14, 2015 19 Comments


*tok tok tok*

“Satya, wake up. It’s 7 am already. The boat driver’s already here” panggil Carol sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarku.

Aku bangun setengah melompat dari tempat tidur. Kaget. Kulirik jam. Sudah jam tujuh pagi. Duh! Kok bisa-bisanya bangun kesiangan.

Kubuka pintu, berterima kasih kepada Carol telah membangunkanku dan meminta maaf bangun terlambat. Kukatakan pula aku akan siap dalam 15 menit.

*gosok gigi, pakai baju renang, pakai sunblock, siapin kamera, ambil fin & goggle*

Dengan tergopoh-gopoh aku lari ke depan menghampiri anggota rombongan yang lain. Tepat ketika kami mau berangkat, Om Oetam keluar dari rumahnya.

“Loh, Satya kesiangan ya? Sudah sarapan belum?” tanya Om Oetam.

“Iya Om. Hehehe. Nggak apa-apa Om. Masih bisa tahan sampai makan siang” jawabku.

“Duh, jangan sampai nggak sarapan dong. Sudah, biarkan saja mereka duluan. Nanti Om antarkan ke pelabuhan naik motor” ujar Om Oetam.

Dengan bahasa Inggrisnya yang fasih, Om Oetam meminta empat turis itu berjalan kaki duluan ke pelabuhan. Dari penginapan Nirvana, dibutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk menuju kesana.

Segera kuhabiskan sarapan yang terhidang di meja. Om Oetam menyalakan sepeda motornya dan memboncengku ke pelabuhan.

Baru saja motor melaju sebentar, saya sudah minta turun. Pengen jalan kaki di antara pohon-pohon kelapa yang berjejer rapi saja. Tetapi karena harus mengejar kapal ya tancap lagi naik motor.


Jalan menuju pelabuhan dari desa Riung
Sebelum naik kapal jangan lupa untuk membayar biaya masuk ke Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung sebesar Rp 5.000,- untuk wisatawan domestik dan Rp 100.000,- untuk wisatawan mancanegara. Jauh banget ya bedanya. Hmmm…

Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung ini sebenarnya terdiri dari lebih dari 20 pulau. Lalu mengapa angka 17 yang dipakai? Ternyata alasannya karena patriotisme. Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Jadilah diambil angka 17 sebagai nama Taman Wisata Alam ini.


Jembatan pelabuhan Riung
Gugusan pulau-pulau di Taman Laut 17 Riung terdiri dari pulau besar dan pulau kecil. Diantaranya adalah Pulau Ontoloe, Pulau Rutong, Pulau Tiga, Pulau Wire, Pulau Sui, Pulau Taor, Pulau Meja, Pulau Tembaga, Pulau Bampa, Pulau Patta, Pulau Halima, Pulau Besar, Pulau Lainjawa, Pulau Kolong, Pulau Dua, Pulau Borong dan Pulau Pau.

Dari keseluruhan pulau tersebut, ada tiga pulau yang akan kami kunjungi yaitu Pulau Ontoloe, Pulau Rutong dan Pulau Tiga. Tiga pulau primadona yang memang paling sering menjadi destinasi utama wisatawan yang datang ke Riung.


Pulau Ontoloe yang dikelilingi bakau menjadi habitat kalong dan binatang lainnya
“Di Pulau Ontoloe nanti, banyak sekali kalong. Orang kita jadi suka bilang itu pulau kalong” ujar Bang Aco, sang empunya kapal.


Sssttt... Kalongnya mau bobok...
Bang Aco kembali berpesan untuk tidak menimbulkan suara gaduh ketika melintasi Pulau Ontoloe. Mesin kapal juga akan dimatikan ketika melintasi pulau.

“Banyak sekali orang kita yang menjual atraksi Pulau Ontoloe ini dengan memukul-mukul air atau batang pohon dengan kayu agar gaduh dan melihat kelelawar (kalong) beterbangan. Kasihan kan kalongnya sedang tidur dibangunkan suara manusia. Ada baiknya kita melihat mereka di habitat aslinya tanpa mengganggu mereka sama sekali” ujar Bang Aco panjang lebar.

Aku terpana.

Bang Aco ini keren sekali. Tidak banyak tour operator yang seperti dia. Biasanya kan apapun dilakukan asal wisatawan senang. Kalau Bang Aco tidak. Sebisa mungkin kita, wisatawan diajarkan untuk tidak mengusik binatang dan alam. Kita yang datang bertamu dan sepatutnya menghormati mereka di habitat mereka.

Carol menawarkan aku untuk melihat kalong-kalong yang sedang tertidur menggantung di ranting pohon lewat binocular / teropong yang dia bawa. Asyik, bisa melihat mereka dari dekat tanpa harus menganggu. Walau hampir kebanyakan sedang tidur, ada beberapa kalong yang berterbangan dari pohon ke pohon. Mungkin mencari tempat untuk tidur yang uenak…


Kamu mau kemana, Long (kalong)?
Kuakui baru kali ini kulihat kelelawar tidur di ranting pohon yang disinari matahari. Jelas-jelas mereka makhluk yang tidak suka terkena cahaya dan biasa tidur di goa. Ternyata ada juga yang senang sunbathing. Hehehehe…

Di Pulau Ontoloe ini juga terdapat komodo namun dengan ukuran yang lebih kecil, tidak sebesar komodo di Taman Nasional Komodo. Cuma mereka susah ditemui karena lebih lincah. Suka hinggap di atas pohon juga. Jadi mata kita harus ekstra jeli untuk mencari keberadaan komodo kecil ini. Orang lokal di Riung sering menyebutnya “Mbou”.

Jika ingin trekking keliling Pulau Ontoloe ini bisa asalkan membawa pemandu yang sudah berpengalaman. Sayangnya karena keterbatasan waktu, kami harus segera bertolak ke pulau berikutnya dan tidak bisa masuk ke dalam pulau.

Setelah kapal kami didorong menjauh dari pulau, barulah Bang Aco menghidupkan mesin kapal. Tujuan kami berikutnya adalah Pulau Rutong, pulau yang jadi primadona di Taman 17 Pulau Riung ini. Saya pun tertarik untuk datang ke Riung karena melihat foto-foto pulau Rutong yang dipost teman saya, Wira Nurmansyah di blognya.

Sedari pagi, angin bertiup sangat kencang bahkan air laut Riung yang biasanya tenang jadi riak gelombang. Mau snorkelling rasanya agak kurang enak. Jadi ketika yang lain sedang snorkelling, aku memilih untuk memanjat bukit di Pulau Rutong. Supaya bisa foto-foto dulu sebelum rambutnya basah kena air laut kan.


Pulau Rutong
Bukitnya kecil banget dan mudah untuk didaki. Tak sampai 10 menit, aku sudah berada di puncak bukit.

Cantik banget! Pekikku.

Ilalang terusik oleh angin, diajak bermain. Bunyi-bunyinya menyenangkan, menenangkan.
Kupanjat satu-satunya pohon yang ada di situ. Duduk santai sekalian ngadem. Cukup lama aku ngadem-ngadem di atas pohon sampai rombonganku datang menyusul. 


Satu-satunya pohon di puncak bukit pulau Rutong yang kupanjat dan bersantai-santai di dahannya





Bang Aco mengajak kami berangkat pindah pulau ke sebelah alias Pulau Tiga.

“Nanti kita makan siang di sana ya. Sudah dapat ikan tongkol tadi mancing” ujarnya.

Sedaaaaaappppp! Mari kita makan siang!


Menyiapkan makan siang dengan ikan yang baru dipancing. Nyam!
Cuma 10 menit waktu yang dibutuhkan untuk menuju Pulau Tiga dengan Kapal. Disanalah aku bertemu dengan si Nyong Ambon yang sedang Island Hopping dengan rombongan lain. Kami hanya berbeda rute saja. Aku ke Rutong, di ke Tiga. Aku ke Tiga, dia mau ke Rutong. Nggak jodoh.


Pulau Flores dilihat dari Pulau Tiga


Pulau Tiga

Happy couple on my journey to Riung, Carol & Gerant. See you in London!
Kuakui kondisiku saat itu lagi nggak fit. Efek kelelahan jalan berhari-hari mungkin. Hidung nggak terlalu enak, seperti mau flu.

Benar saja, ketika snorkelling dan mencoba main-main ke kedalaman 5 meter, kepala rasanya mendengung mau meledak. Cepat-cepat aku naik ke permukaan. Rasanya sakit sekali. Duh, diurungkan deh niat untuk berenang terlalu dalam. Sekitar 3 meter sajalah berenangnya. Itu pun cuma sebentar-sebentar.


Nggak bisa berenang terlalu dalam dulu tapi tetap selfie ya...
Lagi asyik berenang, Bang Aco memanggil karena makanan sudah dihidangkan, siap untuk disikat! Langsung kami mendekat ke meja dan mulai mengisi piring-piring kami dengan nasi, lauk yang sudah disiapkan sewaktu berangkat dan tentu saja nggak lupa dengan ikan tongkol yang baru saja selesai dibakar dengan bumbu spesial Bang Aco.


Tongkol bakar bumbu spesial Bang Aco
ENAK BANGET!

Cuma itu komentarku. Kami duduk di pasir dan menikmati hidangan kami. Nggak ada yang nggak nambah. Semuanya ketagihan atau kelaparan ya? Hahaha…

Setelah menandaskan piring, kami langsung berenang-berenang hore lagi. Jam menunjukkan pukul dua siang. Masih lama menuju waktu matahari terbenam. Bang Aco bilang kalau spot terbaik untuk melihat sunset adalah di puncak bukit di Pulau Rutong. Saya pun mengusulkan untuk kembali ke Rutong dan menunggu matahari terbenam di sana. Semuanya setuju dan kami langsung bertolak. Sebelum ke Rutong, Bang Aco menunjuk satu snorkelling spot dan saya ikut turun walau kepala masih sakit.

Riak gelombang sudah tidak setinggi tadi pagi, sudah lebih enak untuk diselami. Setelah berenang kesana-sini, saya tidak beruntung bertemu dengan ikan hias yang lucu. Ikannya banyak tapi bukan ikan hias yang aku cari. Sebalnya si Nyong bilang dia ketemu banyak clown fish yang lucu waktu snorkelling di Riung dan aku nggak nemu.

Walau begitu, aku tetap terhibur dengan hamparan terumbu karang berwarna biru yang menawan. Swim, swim, swim, happily swim~

Di Pulau Rutong, saya bertemu lagi dengan si Nyong Ambon yang ditinggal pulang rombongannya. Asyikkkk ada teman buat foto-foto seru. Kami keliling pulau bareng dan ngobrol. Baru sekali ketemu tapi asyik sekali.


Kenalkan ini si Nyong Ambon yang backpackeran berbulan-bulan keliling Indonesia. Kalian bisa cek instagramnya untuk mengikuti perjalanannya.

Senja dari pulau Rutong
Matahari sudah menunjukkan tanda-tanda akan kembali ke peraduan. Sambil disinari hangatnya sinar matahari berwarna jingga, kami mengabadikan cantiknya pemandangan.


Senja yang memesona ya...

Senang bertemu denganmu, Riung. Sampai jumpa lagi. Terima kasih untuk keindahanmu yang memanjakanku.

Notes : 

1. Untuk info transportasi menuju Riung, bisa dibaca di sini ya
2. Biaya untuk sewa perahu di Riung sekitar Rp 500.000 - Rp 700.000 per hari dengan kapasitas sekitar 10 orang.
3. Terdapat penyewaan alat snorkeling di NIRVANA Riung. Tetapi untuk yang ingin menyelam, diving, bisa membawa alat sendiri.
4. Biaya sewa perahu itu sudah termasuk satu kali makan siang yang disiapkan oleh pemandu kita.
5. Biaya masuk Taman Wisata Laut 17 Pulau Riung sebesar Rp 5000,- untuk wisatawan domestik dan Rp 100.000,- untuk wisatawan asing.
6. Jadilah pejalan yang bertanggung jawab, Tidak mengambil apapun selain foto, tidak meninggalkan apapun selain jejak dan tidak membunuh apapun selain waktu. Selamat menikmati Riung ;)

Wednesday, August 12, 2015

Nirvana, Penginapan Terbaik di Riung

Wednesday, August 12, 2015 13 Comments

“Nanti begitu sampai di Riung, hubungi Om Oetam ya Sat”, pesan Om Bolang Lostpacker sebelum kami berpisah di Ende.

Sudah kucatat nomor Om Oetam di ponsel. Saya penasaran ingin bertemu beliau, orang pertama yang mengembangkan pariwisata di Riung. Dari cerita yang saya dapat dari Om Bolang, orangnya super menyenangkan. Apakah itu benar adanya?

Dalam perjalanan dari Ende ke Mbay, saya megirimkan pesan singkat ke ponsel Om Oetam dan tak sampai lima menit saya ditelepon oleh Bang Oetam yang menanyakan posisi dimana dan bepergian bersama siapa. Kukatakan bahwa aku bepergian sendiri ke Riung. Kujelaskan pula bahwa aku tidak mendapatkan transportasi langsung ke Riung, jadinya aku naik mini bus ke Mbay dan melanjutkan perjalanan dari sana.

Layaknya Bapak yang khawatir dengan anak perempuannya yang bepergian sendiri, Om Oetam sampai menelepon beberapa kali. Memastikan aku baik-baik saja. Ramah dan hangat sekali, Om ini, pikirku. Pasti dia sangat menyenangkan dan dikenal hampir semua orang di Riung.

Benar saja begitu aku katakan aku minta diantar ke tempat Om Oetam, supir angkot langsung mengangguk.

“Oh ya ya ya. Nirvana ya” kata Abang Supir.

Dari seluruh penumpang, saya diturunkan paling terakhir karena memang lokasi penginapan Nirvana kepunyaan Om Oetam terletak di pinggir desa.

Begitu turun dari mobil, saya disambut seorang remaja perempuan cantik yang menawarkan untuk membawakan tas saya. Saya tolak dengan halus dan memastikan apakah ini penginapan Nirvana dan apakah saya bisa bertemu dengan Om Oetam. Gadis tadi mengangguk dan segera pergi memanggil Om Oetam.

Jalan setapak menuju Nirvana Riung
Keluar lagi satu gadis dari dalam rumah dan membawakanku segelas teh manis hangat. Kusesap teh itu dan menarik nafas panjang. Ah, akhirnya sampai juga di Riung.

Gadis pertama datang bersama seorang lelaki di belakangnya. Perawakannya seperti penyanyi reggae, berambut keriting gondrong, sedikit tambun dengan kulit coklat matang.

Senyum lebar menghiasi wajahnya ketika mengulurkan tangan untuk berjabat. Tepat seperti dugaanku. Om Oetam ini adalah pribadi yang menyenangkan.

Suasana penginapannya sangat menyenangkan. Terdiri dari beberapa cottage yang berbahan kayu. Ada tujuh cottage yang sudah dibangun. Om Oetam memberikan satu kunci dan mengantarkanku ke cottage yang akan menjadi tempat tinggalku selama dua malam kedepan.




Begitu pintu kamar dibuka, aku langsung jatuh hati. Kamarnya apik, bersih, ada kelambunya pula. Kamarnya juga dilengkapi dengan Air Conditioner, toilet duduk dan shower. Enak sekali.
Di sekeliling cottage juga banyak pohon  dan bunga yang membuat lokasi penginapan Nirvana rindang, sejuk dan cantik.

Kamar yang aku tinggali ini kamar double

Ada shower dan toilet duduknya. Dapat nilai plus karena kamar mandinya bersih.
Untuk menginap satu malam di Nirvana Riung dikenakan biaya Rp 350.000,- per malamnya (double room), Rp 475.000,- (triple room) dan Rp 600.000,- (family room). Harga yang bersahabat untuk fasilitas yang disediakan Nirvana. Apalagi penginapan ini adanya di Riung, jauh dari pusat Flores.
Selain aku, hari itu ada empat turis asing yang baru datang. Mereka akan menjadi teman segrup untuk besok Island Hopping di Riung. Asyik~

Suka sekali dengan tulisan di dinding ini. No WI-FI! Let's talk ;)

Semua cottage ini dikerjakan sendiri oleh Om Oetam dibantu beberapa rekan-rekannya.
Senja di Riung
Malamnya saya dikenalkan kepada satu teman yang sedang backpackeran keliling Indonesia yang sudah tiba lebih dulu di Riung dibandingkan saya. Asalnya dari Ambon, Ahmad Hasanela namanya, biasa dipanggil Nyong.

Si Nyong sudah empat bulan melanglang buana, resign, meninggalkan rumah dan berkeliling Indonesia bagian timur. Impian kami sama, keliling Indonesia.

Om Oetam mengundang kami untuk makan malam di rumahnya. Begitu kami tiba, gadis-gadis tadi yang ternyata keponakan Om Oetam menghidangkan nasi, ikan kuah kuning dan sepiring sambal.
Terlihat sederhana namun begitu masuk mulut langsung ternganga saking enaknya. Apalagi sambalnya! Juara! (nulis post ini sambil ngiler).

Ikan kuah kuning yang sedaaaapppp
Tidak butuh waktu lama untuk kami menandaskan seluruh hidangan tadi dan mengelus-elus perut. Kami larut dalam obrolan seru setelahnya. Aku ingat sekali malam itu bulan purnama bersinar terang. Sebuah pertanda bahwa esok cuaca akan cerah. Pertanda yang menyenangkan.


Kami sudah tidak sabar untuk menunggu esok hari. Berkeliling naik kapal, berenang dan snorkelling sepuasnya. Kami pamit kepada Om Oetam dan kembali ke kamar masing-masing, masuk kelambu, memimpikan laut dan langit biru.

Yang di kiriku itu Ahmad Hasanela dan di sebelah kanan Om Oetam Nirvana


Notes : 

1. Untuk menginap di Nirvana Riung, bisa reservasi langsung ke Om Oetam di nomor 0813-3710-6007 / 0813-5317-8090. Sampaikan salam sayangku untuk Om Oetam ya.
2. Kalian juga bisa melihat update dari penginapan Nirvana Riung di Instagram @nirvanariung

Tuesday, August 11, 2015

Jalanan Memesona dari Ende Menuju Riung, Flores

Tuesday, August 11, 2015 15 Comments


Kuhempaskan pantat di depan terminal Ende. Sedikit kesal karena tidak mendapatkan kepastian jadwal bus menuju Riung, satu daerah kecil di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Konon katanya, Taman Laut 17 Pulau Riung mempesona sekali. Jadi penasaran kan.

Suasana Terminal Ende kelabu sekali. Tidak riuh seperti terminal yang biasa kita lihat di Pulau Jawa. Satu memori sempat terputar, ketika aku yang bepergian sendiri, ditarik-tarik paksa oleh calo-calo di terminal bus Terboyo di Semarang.

Bapak DAMRI yang tadi aku tanyai tentang jadwal keberangkatan bus masih asyik main catur. Lalu seorang Bapak menghampiri dan bilang kepadaku bahwa kalau DAMRInya tidak berangkat ke Riung, aku bisa naik mini bus ke Mbay lalu mlanjut ke Riung naik angkot. Ketika saya tanya jam keberangkatannya, Bapak itu bilang mungkin sekitar jam 1 siang.

“Nanti datang saja dan tunggu di warung depan sampai bus nya datang. Dia (bus) keliling dulu antar dan jemput penumpang” kata Bapak itu

Kuucapkan terima kasih banyak kepada si Bapak dan berlalu masuk ke mobil. Abang Irwan yang tadi mengantarkanku ke terminal menanyakan mau pergi kemana sambil menunggu jam 1 siang. Kulirik jam tangan, masih jam 9 pagi. Masih ada empat jam untuk berkeliling kota Ende.

“Hmmmm, kita ke Museum Ikat, Pantai Ria, Taman Rendo terus ke Pasar ya Bang” ujarku.

Bang Irwan mengangguk dan langsung menginjak pedal gas mobil. Jarangnya kendaraan di Ende memang membuat pengendara di sana cenderung ngebut. Jadi tidak heran dalam hitungan menit kami sudah ada lagi di pusat kota.

“Yah Museum Ikatnya tutup, Mbak. Lanjut langsung ke Pantai Ria saja ya” kata Bang Irwan.

Ya mau bagaimana lagi, saya manut saja. Kami ke Pantai Ria yang sepi karena masih pagi dan melihat-lihat sebentar. Di depan pantai Ria ada Taman Rendo yang sebenarnya taman untuk anak-anak. Pagarnya dikunci sehingga saya tidak bisa masuk. Huft…




Pantai Ria yang jadi tempat nongkrong pemuda-pemudi di Ende
Lagi asyik melongok ke dalam Taman Rendo dari depan pagar, Bang Irwan memanggil saya dan menunjuk satu mini bus yang sedang berhenti tak jauh dari tempat kami berdiri.


Taman Rendo, taman bermain anak-anak di Ende
“Mbak Satya, itu bus yang ke Mbay. Mau saya tanyakan masih ada kursi atau tidak?” ujar Bang Irwan.

Si Bang Irwan terlihat ngobrol sebentar dengan supir dan tak berapa lama, dia menghampiriku lagi dan mengatakan masih ada kursi. Langsung dibantunya aku memindahkan tas ke bus. Sebelum berpisah, aku tak lupa mengucapkan terima kasih sudah menemani selama mengeksplor Ende beberapa hari sebelumnya.

Aku menanyakan dapat kursi di sebelah mana kepada kernet bus. Dia minta aku menunggu sebentar karena dia harus mengurusi beberapa kambing untuk dinaikkan ke atas mini bus.

Iya, kambing. Ditemani ayam.

Kambing-kambing tersebut diikat dan didudukkan di atas mini bus. Lumayan juga ya mereka harus menahan posisi seperti itu selama kurang lebih empat jam (estimasi waktu perjalanan Ende – Mbay). 

Kuat-kuat ya, Mbing.



Setelah cukup lama menunggu, aku diberikan kursi di samping Pak Supir, Bang Antonius namanya. Dia bilang sebelum berangkat ke Mbay, dia harus mengantarkan beberapa paket kiriman dari Mbay dan menjemput beberapa penumpang. Jadi selama menyetir dia sibuk bertelepon dengan orang yang akan dikirimi paket dan calon penumpang.

Buaian angin sejuk dan tidak ada orang di sebelah saya yang bisa diajak ngobrol membuatku mengantuk. Tertidurlah aku dengan kepala nyender ke jendela.

Tahu-tahu aku terbangun dan sadar sudah dua jam tertidur. Kulihat plang warung. Lhaaa, masih di kota Ende. Ternyata banyak sekali paket yang harus dijemput dan diantar, ditambah penumpang. Jadi selama dua jam tadi aku diajak keliling kota Ende. Setengah perjalanan dari Ende ke Mbay. Yah anggap saja tadi itu city tour (tapi aku tidur).


Kota Ende yang apik

Bagian atap rumah Ende ini menarik!

Mobil melaju menuju utara. Gunung Meja tertinggal di kejauhan. Jalanan begitu lengang, angin laut membelai-belai.

Maumere da gale kota Ende, Pepin gisong gasong, Le'le luk ele rebin haPutar ke kiri e... Nona manis putarlah ke kiri ke kiri ke kiri ke kiri dan ke kiri ke kiri ke kiri ke kiri manis e.. Sekarang kanan e.. Nona manis putarlah ke kanan  ke kanan ke kanan ke kanan dan ke kanan ke kanan ke kanan ke kanan manis e..

Lagu itu mengalun dari radio bus. Liriknya yang lucu membuat aku dan Bang Supir joget-joget seru sendiri sementara penumpang lain di belakang tertidur. Bang Antonius ini asyik sekali orangnya. Dia asli orang Ende, sudah menikah, punya anak satu. Dia ceritakan tempat-tempat bagus di Ende dan berhasil membuat saya mupeng (muka pengen). Senang ya kalau dapat teman ngobrol asyik di perjalanan. Apalagi ditemani pemandangan cantik sebagai bonusnya.


Gunung Meja dan Gunung Iya di Ende
Setelah satu jam perjalanan, ada penumpang yang akan naik lagi. Karena kursi sebelah masih kosong, duduklah Bapak itu di sebelahku. Kenalan, ngobrol-ngobrol tentang tempat menarik di Ende dan Mbay. Pak Petrus Aha (aha!) namanya. Dilihatnya aku sering sekali membidikkan kamera ke luar jendela bus dan mulailah beliau bercerita anaknya yang juga hobi fotografi dan bla bla bla. Banyak sekali topik obrolan kami nggak habis-habis. Politik pun dibahas. Sikat!


Penting untuk bawa minum selama perjalanan. Air minum lokal yang kubeli di warung di Ende
Kami larut dalam obrolan tentang Flores. Pak Petrus yang memang berprofesi sebagai guru ini bisa bercerita dengan sangat menarik hingga aku mendengarkannya berjam-jam. Dia juga minta foto bareng supaya bisa disimpan di ponselnya dan nanti ditunjukkan ke anaknya. Hahaha...


Pak Petrus Aha yang super menyenangkan
Yang sangat aku suka dari perjalanan dari Ende menuju Mbay ini adalah pemandangannya. Jalan berliku namun dihiasi dengan bukit-bukit kecokelatan. Andai saja saya roadtrip naik motor dan tidak naik transportasi umum begini, pasti sudah berhenti untuk mengambil gambar. Kan nggak enak kalau saya sebentar-sebentar minta berhenti sama Abang pengemudi ketika penumpang yang lain ingin segera sampai.










“Mbay sudah tidak jauh lagi. Paling 30 menit sudah sampai. Nanti Satya saya bantu carikan mobil ke Riung. Pasti masih ada” ujar Bang Antonius.

Setelah berkeliling mengantar beberapa penumpang ke rumah masing-masing, kami mengarah menuju terminal Mbay. Namun sebelum kami sampai di terminal, kernet bus berteriak dari belakang.

“Bang, itu mobil ke Riung” teriaknya sambil menunjuk mobil angkot berwarna putih.

Bang Antonius langsung mengklakson dan abang kernet memanggil-manggil. Angkot berwarna putih itu melaju sangat kencang dan tidak berhenti walau sudah dipanggil dan diklakson beberapa kali. Ternyata, supir angkotnya sedang memutar musik dangdut yang kencang sekali. Pantas saja dia tidak sadar ada yang memanggil. Hahahaha.


Transportasi ke Riung
Akhirnya angkot tersebut berhasil dikejar dan diberhentikan. Bang Antonius sampai turun untuk berbicara dan memastikan Abang supir angkot putih ke Riung mengantarkanku dengan selamat. Dibantunya aku memindahkan tas ke dalam angkot dan mengucapkan selamat jalan.

Terima kasih Bang Antonius! Sampai jumpa lagi di Ende atau Mbay.

Berbeda dengan suasana yang agak sedikit mengesalkan saat berangkat dari Ende, perjalanan menuju Riung ini menjadi menyenangkan dengan banyaknya orang-orang baik yang kutemui di jalan. Suasana hatiku menjadi baik sekali.

Alunan musik dangdut dengan pemandangan perbukitan cokelat serta rumput merah mewarnai perjalanan saya dari Mbay ke Riung. Bersama penumpang lain kami bergoyang-goyang, tertawa-tawa. Senang betul.

Bukit Robert. Coba perhatikan bukit yang di sebelah kanan. Bentukan batunya mirip banget sama monyet. Masyarakat menganggap keramat bukit ini.

Rumput memerah menyambut musim kemarau.

Sedikit lagi kita akan berjumpa, Riung…

Tips menuju Riung dari Ende :
1. Ada dua moda transportasi dari Ende ke Riung. Bisa naik bis DAMRI dari Ende dengan biaya Rp 40.000,- dengan jadwal yang tidak tentu. Kalau ada penumpang banyak baru berangkat. Yang pasti berangkat minibus yang aku naikin. Tujuan Ende - Mbay biasanya berangkat jam 1 siang. Tidak ada loket khusus. Mini busnya biasa mangkal di seberang terminal Ende. Biaya mini bus Rp 45.000,- per orang. Katanya ada minibus ke Riung langsung dari Ende, ongkosnya Rp 50.000,-. Jam berangkatnya juga tidak tentu. Biasanya jam 2 siang (berdasarkan info penduduk setempat)

2. Usahakan tidak tidur selama perjalanan. Pemandangannnya cantikkkkk banget. Jadi sayang kalau dihabiskan tidur di jalan.

3. Paling enak memang duduk di bagian depan, di samping Pak Supir. Bisa foto-foto lebih bebas
.
4. Jika kalian berangkat dari Ende ke Mbay berarti harus melanjutkan perjalanan ke Riung dengan naik transportasi angkot selama kurang lebih 1,5 atau 2 jam ke Riung. Ongkosnya Rp 35.000,- per orang. Total waktu tempuh dari Ende ke Riung sekitar 6 jam.

Follow Us @satyawinnie