Pacoa Jara, Pacuan Kuda Anak Cilik di Bima

Tuesday, May 05, 2015

Photo by : Barry Kusuma
“Awas Kak, jangan dekat-dekat kuda itu. Baru minum itu” teriak seorang pemuda kepada saya.

Saat itu kami baru saja tiba di stadion Bima untuk melihat pacuan kuda khas Bima / Dompu yang lebih sering disebut Pacoa Jara oleh Dou Mbojo (orang Bima). Begitu turun dari mobil, saya mendekati salah satu kuda karena penasaran. Biasanya kuda kan cuma dililitkan tali di leher dan diikat ke pohon, tetapi kuda yang saya lihat ini mulutnya diikat dan talinya disangkutkan tinggi di atas ranting pohon.

Kuda yang diikat ke pohon sambil menunggu giliran berpacu
“Kudanya diikat begitu biar urat, otot perut dan lehernya kencang, Kak. Kudanya liar sekali kalau baru minum. Jangan dekat-dekat nanti kakak ditendang ” kata si pemuda lokal dari Bima itu yang saya tahu namanya Ilham setelah berkenalan.

Saya penasaran, kudanya habis minum apa sih?

Berdasarkan hasil ngobrol-ngobrol saya dengan Ilham, kuda-kuda yang akan bertanding di Pacoa Jara biasanya diberikan ramuan khusus agar mereka “panas”. Katanya itu semacam doping untuk kuda agar larinya kencang sekali. Namun kita harus hati-hati karena jika baru minum, kuda akan menjadi hiperaktif dan bisa menyerang orang kalau tidak diikat dan dipegang dengan kuat.

Kuda-kuda yang diikat di pohon itu sedang menunggu giliran untuk masuk ke stadion. Terdengar dialog dua komentator yang lucu lewat pengeras suara. Sambil menunggu ronde berikutnya mulai, mereka menghibur pengunjung stadion dengan bernyanyi dangdut. Saya terkikik geli mendengar suara mereka yang cempreng menyanyikan lagu dangdut diiringi musik yang berasal dari lagu mp3 di handphone ditempelkan di mic. They are the real entertainer yes…

Tempat komentator pacuan. Itu Bapak berdua kocak banget!
Saya masuk ke dalam stadion dan melihat banyak sekali orang memadati stadion yang tidak seberapa besar itu. Untuk arena pacuannya kira-kira seluas lapangan bola. Yang tidak kebagian bangku stadion memilih untuk menonton pacuan dari tembok. Mereka sudah menyiapkan tangga sendiri untuk memanjat dan anteng banget nongkrong di tembok.


Tempat persiapan pacuan. Banyak yang asyik menonton dari balik tembok tuh
“Permisi Kak, itu kuda mau lewat dulu ya. Jangan dekat-dekat kuda”, kata Bapak penjaga gerbang.
Saya meminggirkan badan dan membiarkan kuda-kuda itu lewat. Masing-masing kuda digiring oleh satu orang pawang yang terlihat kesusahan untuk meredam kuda agar tetap diam. Setelah seluruh kuda lewat, barulah kami dipersilahkan masuk.

Kuda yangs sedang digiring menuju area pacuan oleh pawang

Kuda yang masih "panas" harus diajak jalan-jalan dulu

Senangnya, rombongan kami diberi akses khusus untuk masuk ke arena persiapan pacuan dan boleh melihat pacuan dari jarak dekat.

Satu yang membuat pacuan ini unik dan tidak ditemukan di daerah lain adalah jokinya atau juki dalam bahasa lokalnya. Juki Pacoa Jara adalah anak-anak berumur 4-10 tahun. Ya ampun mereka masih kecil-kecil banget. Umur segitu saya sih senangnya main karet, layangan atau manjat pohon, bukan menunggang kuda. Ikut pacuan pula. Ngeri…

Juki-juki cilik ini digendong oleh Bapaknya memasuki lapangan. Kostum juki biasanya celana panjang, kaos, kaos kaki bola yang dipotong dan dipakai di bagian tulang kering kaki, kupluk yang dibolongi sendiri untuk penutup wajah dan helm plastik tanpa label SNI.

Juki-juki cilik

Kostum pacuan mereka. Nggak ada pengaman yang benar-benar aman
Nggak ada pengaman tubuh yang benar-benar aman, dikenakan di tubuh mereka. Jatuh, patah tulang, robek, benturan keras di kepala sudah jadi lumrah, hal yang biasa. Mereka bahkan tidak menggunakan pelana ketika mengendarai kuda. Sebagai pengganti pelana, agar tidak licin, ditaburkan pasir di atas kuda baru si juki didudukkan.

Sebelum pacuan dimulai, juki cilik ini menunggu sambil bergantungan di bilik besi sementara kuda-kuda pacuan itu ditenangkan oleh pawangnya.

Menunggu pacuan dimulai di dalam bilik besi
Ketika sudah mendekati waktu pacuan dimulai, kuda akan dimasukkan ke dalam bilik besi itu, ditaburi pasir, mendudukkan juki ke atas kuda sambil ditunggangi bapaknya.

Eh kok ditunggangi sama Bapaknya juga?

Ketika ditunggangi juga sama bapaknya, kudanya jadi lebih liar.
Iya, untuk menjaga agar kudanya tetap tenang dalam bilik besi itu, harus ada orang dewasa yang memegang kudanya. Saya sempat berdiri di dekat mereka dan mendengar si Bapak berbicara entah kepada si anak atau si kuda dalam bahasa lokal. Semacam wejangan sebelum perlombaan gitu kali ya.

Op op op op op….
Op op op op op….
Op op op op op…

Bunyi itu terdengar dari bilik besi. Biasanya kan kalau dibilang op op op op artinya stop. Di Pacoa Jara, op op op op itu artinya pacuan akan segera dimulai. Unik banget. Hahahaha…

Kami menunggu di pinggir pagar pembatas dengan kamera yang sudah siap menangkap momen pacoa jara.

*bruaaaaak*

Pintu bilik besi dibuka dan semua kuda lari sekencang-kencangnya. Saya terpana melihat juki bisa mengikuti ritme lari kuda dan tidak terjatuh. Ada bermacam-macam gaya selama mereka berpacu. Ada juki yang memeluk erat leher kudanya, ada yang memakai satu cambuk dan ada yang memakai dua cambuk sekaligus.


Yang memakai dua cambuk sekaligus berarti tidak memegang kudanya sama sekali. Gila keren banget! Jangan ditanya lagi, juki dengan dua cambuk itu pasti keluar menjadi juara. Begitu mereka memasuki garis finish, mereka akan digendong lagi oleh Bapaknya dan kudanya langsung digiring oleh pawangnya.

Saya dan teman-teman kemudian terkikik lagi begitu mendengar komentatornya mengumumkan siapa yang menjadi juara pacuan. Rata-rata namanya adalah nama perempuan. Saya merasa sudah pernah mendengar nama itu di awal, tetapi saya mengira komentatornya sedang memanggil orang. Ternyata itu adalah nama kudanya. Hahaha…

Yang memenangkan kejuaraan penyisihan hari itu adalah kuda betina bernama Putri Ayu. Duh, cantik sekali namanya. Katanya si Putri Ayu ini sudah sering memenangkan pacuan.

“Taruhan untuk si Putri Ayu ini selalu tinggi setiap pacuan. Sampai berjuta-juta itu mereka kasih untuk taruhan” kata Ilham

Sepertinya di belahan dunia manapun, pacuan kuda selalu ada taruhannya ya.

Sempat sih saya membahas dengan seorang teman apakah Pacoa Jara ini adalah salah satu  bentuk eksploitasi anak? Tidak jarang lho anak-anak ini cedera patah tulang atau robek bagian tubuhnya karena terjatuh dari kuda. Namun cukup dibawa ke mantri atau rumah sakit, diobati dan besoknya sudah berpacu lagi.

“Nggak bisa dibilang eskploitasi anak juga sih Sat, karena ini adalah tradisi mereka yang sudah mereka lakukan dari zaman dulu. Turun temurun dari nenek moyang.  Kita tidak bisa mengkritisi budaya. Susah.” ujar salah seorang temanku.

Ya memang sih anak-anak itu juga tidak protes. Malahan senang. Buat mereka, menjadi juki adalah sesuatu yang membanggakan. Apalagi kalau mereka jadi pemenang, mereka bisa membantu keuangan keluarga. Para juki ini dilatih menjadi lelaki tangguh dari kecil. Ya, mereka adalah kebanggaan orang tua, terutama Bapaknya. Memiliki anak laki-laki di Bima berarti memiliki aset berharga.

Seusai pertandingan saya mengajak salah satu juki yang bernama Sona. Umurnya 10 tahun walaupun tidak tergambar dari ukuran tubuhnya yang mungil seperti anak kelas 2 atau 3 SD. Agar bisa berkomunikasi baik dan jelas dengan Sona, saya dibantu oleh Ilham yang menjadi penerjemah bahasa.

Saya dan Sona yang ganteeengggg <3
“Sona sudah berapa lama jadi Juki, dari umur berapa naik kuda?” tanyaku

“Sudah dari umur 3 tahun naik kuda, diajar sama Bapak. Ikut pacuan sejak umur 5 tahun” jawab Sona

“Wah, kamu masih kecil sekali waktu belajar naik kuda. Tidak takutkah kamu?” tanyaku lagi

“Pertamanya takut tapi karena diajarin dan ditemani Bapak, lama-lama sudah tidak takut lagi” jawabnya polos

“Sona pernah jatuh tidak dari kuda? Pernah luka? Kalau luka diobatinnya gimana?” tanyaku

“Pernah. Sakit sekali. Tapi nanti diobati sama temannya Bapak dan sembuh. Pernah juga dibawa ke dokter untuk dijahit tapi saya tidak suka rumah sakit” ujarnya sambil menunjukkan bekas-bekas jahitan di kepalanya yang banyak sekali.

Saya juga pernah dijahit di tangan dan tahu rasa sakitnya seperti apa namun tidak tega  membayangkan  punya bekas jahitan hingga puluhan di tubuh seperti Sona.

“Sona sudah pernah jadi juara? Dapat hadiah apa?” tanyaku lagi

“Dulu jadi juara dan dapat sepeda motor, dikasih ke Bapak. Pernah dapat sapi dan uang. Semuanya dikasih juga ke Bapak” ujar Sona

Karena rupanya yang tampan, saya senang sekali dengan Sona. Saya sudah tertarik dan memperhatikan dia saat pacuan kuda akan dimulai hingga pacuan selesai. Saat itu dia kurang beruntung dan tidak keluar jadi juara. Walau tak jadi juara, saya beri dia hadiah kecil yaitu sebatang coklat. Senang sekali melihat raut mukanya yang sumringah dan saya lebih senang lagi ketika dia memanggil teman-temannya untuk membagikan coklat yang saya kasih. Aduh Sonaaaa….

Juki-Juki cilik, Yan, Sona, Idam, Iman
Biasanya setelah pertandingan selesai, kuda-kuda ini akan dimandikan di laut. Sayangnya saya baru tahu kalau kuda-kuda tersebut baru selesai mandi ketika melihat serombongan orang menggiring kuda yang basah dan licin bulunya. Yah, padahal saya ingin lihat kayak apa kuda dimandiin di laut.

Ini berarti saya harus datang lagi untuk melihat Pacoa Jara dan kuda-kuda itu dimandikan di laut. Jika kalian ingin melihat acara ini, silahkan datang bulan April saat Ulang Tahun Kota Bima (kemarin bertepatan juga dengan Festival Tambora Menyapa Dunia) atau bulan Juli (kadang Agustus) saat peringatan Hari Bhayangkara. Silahkan catat di kalender ya.

Yang jelas, kalau datang kesana cukup nonton pacuannya aja ya. Jangan coba-coba nunggangin kudanya. Beda! Kudanya bukan kuda wisata di Bromo atau Taman Bunga Cipanas :p

*tulisan ini adalah salah satu cerita dari rangkaian perjalanan "Pesona Tambora" yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata Indonesia

You Might Also Like

13 comments

  1. Kecil kecil cabe rawit! Masih kecil tapi pada jago naik kuda~ aku pun nggak berani kalau disuruh naik kuda yang udah di dopping gitu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangankan naik kudanya Mi. Deket-deket kudanya aja nggak berani, takut ditendang xD

      Delete
  2. widihh kaceh sekali mbak :) mantep dahhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Lia, makasih sudah mampir yaaa. Iya mantep banget. Apalagi kalau lihat langsung. Riuhh...

      Delete
  3. Tebakan gw sech kudanya di kasih bir item macam angker bir trus di oplos sama kratingdaeng hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu kayaknya resep kamu ya Kak biar jadi liar :p

      Delete
  4. Saya menonton Pacoa Jara ini tanggal 5 April kemarin, kak Satya. Bulu kuduk saya bergidik ketika melihat dari dekat persaingan sengit sebelum garis finish, dimana para joki tidak berpegangan sama sekali karena kedua tangannya bergantian mencambuk kudanya.
    Saya cemburu dengan kamu, karena dapat akses masuk ke daerah persiapan dan melihat boxstart dari dekat, saya tidak bisa masuk walaupun sudah melakukan negosiasi dengan aparat penjangannya dengan ngaku-ngaku travel blogger yang mau ambil foto. huhuhuhu.
    Tapi sayang saya belum sempat menuliskan catatan perjalanan menonton Pacoa Jara kemarin, tapi beberapa cerita perjalanan saya selama di NTB bisa dinikmati di langkahjauh.blogspot.com juga loh kak :)

    ReplyDelete
  5. Wih.. keren banget :D kayak pertandingan gladiator, penutup mukanya bermacam-macam :D haha... keliatan seru banget ya

    ReplyDelete
  6. Baru baca ini. Makin-makin pengen ke sana dan lihat mereka.

    ReplyDelete
  7. wahh hebat, anak kecil pun pada bisa pacuan kuda..

    ReplyDelete

Subscribe