Tuesday, May 19, 2015

Harris Hotel Ciumbuleuit - Discglow Party

Tuesday, May 19, 2015 17 Comments

Segelas orange juice segar menyambut kami saat memasuki lobby hotel Harris Hotel Ciumbuleuit. Sambutan yang menyenangkan sekaligus hangat apalagi ditambah dengan senyuman seluruh pegawai hotel yang berbalut seragam warna orange nan ceria.

Suka sama Lobby Hotelnya.
Bersama dengan teman-teman dari media dan blogger, saya berkeliling kota Bandung menaiki Bandros, Bandung Tour On Bus. Senangnya nggak terkira karena akhirnya setelah lama ngidam naik Bandros, kesampaian juga.

Rombongan konvoi hore yang paling berisik naik Bandros, Bandung Tour On Bus
Harris Hotel memang baru saja meresmikan pembukaan hotel ke 18 mereka yang berlokasi di Ciumbuleuit, Bandung. Lokasinya strategis, hanya 20 menit dari Bandara Husein Sastranegara dan 15 menit dari Stasiun Kereta Bandung. Buat yang suka belanja pasti senang banget karena dekat ke Dago, Jalan Riau, Setiabudi, lokasi factory outlets berada.

Selain itu, lokasi Harris Hotel yang dekat dengan Kampus Universitas Parahyangan membuat kita mudah untuk cari makan di luar. Apalagi kalau pas kena serangan lapar tengah malam. Selain itu, lokasinya dekat sama Bukit Punclut, tempat kita bisa makan lesehan sambil menikmati pemandangan kota Bandung dari ketinggian.

Untuk merayakan pembukaan Hotel Harris inilah, kami diundang untuk konvoi berkeliling beberapa jalan protokol di Kota Bandung. Tidak hanya Bandros yang meramaikan konvoi tetapi iring-iringan komunitas mobil antik dan komunitas Vespa juga turut serta. Paling kocak sih si Dino, icon Harris, yang diarak keliling dengan kostum bonekanya.

Konvoi Vespa berkostum Oranye. Lihat gedung tinggi di sebelah kanan? Itu dia Harris Ciumbuleuit ;)
Rombongan konvoi yang mayoritas menggunakan pakaian warna Orange sempat membuat saya was-was. Takut dicegat sama The Viking alias pendukung Persib gara-gara dikira Jakmania. Hahahaha….
Konvoi berlangsung selama sekitar 1 jam. Cuaca yang cerah dengan udara sejuk melintasi jalan-jalan dengan pohon besar nan rindang benar-benar membuat hati senang.

Kami kembali ke hotel dan memasuki kamar masing-masing. Konsep kamar modern-minimalis dengan sentuhan warna orange membuat kamar hotel terkesan hangat dan ceria. Ukuran kamarnya luas jadi cocok untuk keluarga yang ingin membawa anak-anaknya berlibur. Saya pun sangat menyukai kamar mandinya yang cerah dan ada hair dryer-nya. Penyelamat banget ketika traveling keluar kota tapi lupa bawa hair dryer.

Kamarnya luas 
Selain itu, ada dua barang yang sangat saya suka di hotel ini, yaitu sandal hotelnya dan bantal guling. Sandal hotelnya unik dengan warna orange berbentuk kaki. Itu menjadi pembeda utama Hotel Harris dengan hotel-hotel lain yang biasanya menyediakan slipper tipis berwarna putih yang standar. Guling pun jadi sesuatu banget buat saya yang terbiasa tidur pakai guling. Kan jarang-jarang ya ada hotel yang menyediakan guling di kamar. Tulisannya BIG HUG pula. Tahu aja kalau saya senengnya dipeluk-peluk #eh hehehehe…

The litte things I need ;) 
Saya juga senang sekali ketika menemukan banyak lubang colokan. Pas banget kemarin lupa bawa colokan sambung. Lokasi colokannya yang dekat dengan tempat tidur juga memudahkan saya untuk men-charge laptop sambil bekerja di atas tempat tidur.

Ada 210 kamar yang terdapat di Hotel Harris, dilengkapi dengan beberapa fasilitas seperti 10 ruang meeting (masing-masing bisa menampung 50-100 orang), Sky Pool, Kid’s Pool, Harris Café, Juice Bar, H’Sweet Corner, Sky Lounge, Dino Kids Club, H-Spa, Happy Feet Reflexology, Harris Boutique dan Harris Ballroom seluas 1000 meter persegi yang bisa menampung hingga 1500 orang. Lengkap banget yaaaa…

Bisa lihat pemandangan kota Bandung sambul berenang.
Salah satu keunggulan Hotel Harris Ciumbuleuit adalah Sky Pool-nya  yang ada di lantai 22. Coba deh berenang di kolamnya pagi-pagi. Kita bisa ngerasain dinginnya kota Bandung sambil melihat pemandangan Tangkuban Perahu. Aih… Dijamin jadi segar deh badan dan pikiran *sambil kedinginan juga sih* Saya sih berharap Sky Pool nya mirip Hanging Pool di Ubud tetapi segini saja sudah menyenangkan kok.

Ciumbuleuit dan sekitarnya. Lihat Tangkuban Perahu di kejauhan ;)
Sebagai tukang makan, saya khilaf di Hotel Harris. Semua menu saya cobain dan semuanya enak-enak. Aduh ya ampun nggak tahan godaan banget. Tampilannya aja sudah menggoda. Benar saja pas dimakan rasanya enak. Penampilan makanannya tidak menipu. Nyam nyam nyam…

Meja dan kursi di restorannya lucu...
Apalagi pas tahu seluruh menu di Harris itu nggak mengandung MSG, less sugar and salt. Harris sungguh-sungguh mengusung “Healthy Lifestyle” seperti yang tertera di taplak piring. Ternyata mitos kalau makanan sehat itu nggak enak, salah ya.

Healthy Food served by Harris Hotel Ciumbuleuit
Menu favorit saya adalah Dori Soup. Rasanya asam segar gitu. Apalagi ditambah dengan gerusan rawit (cengek kalau dalam bahasa Sunda-nya) rasanya makin nampol.


Dori Soup yang dijamin bikin kamu ketagihan
Acara pembukaan Harris Hotel Ciumbuleuit juga diwarnai dengan pemotongan tumpeng oleh direksi Tauzia Hotel Management dan dilanjutkan Let’s Go Discglow Party di Convention Hall Hotel. Banyak tamu undangan berdandan ala-ala 70-80an dengan pakaian dominan oranye. Dihibur oleh Two Triple O, Diva Percussions dan pegawai Harris Hotel, pesta malam itu berlangsung semarak.

Yeeeii!! Selamat Harris Hotel Ciumbuleuit! :D


Makin malam, makin meriah. Let's go discglow!
Tetapi yang membuat aku senang sih makanan yang disajikan di pesta malam itu (tetep ya kalau Satya mah yang dipikirin makanan melulu). Mulai dari Bakso, Kue Cubit, Seblak, Tahu Gejrot, Soto Mie, Martabak, Siomay, Lamien, Sushi dan masih banyak lagi. Malam itu saya pasrah saja jadinya. Pasrah kalau timbangan harus naik karena semua makanan tadi masuk ke perut. Tapi ini juga jadi memori yang menyenangkan. Saya jadi ingin balik menginap lagi di Harris Ciumbuleuit karena makanan lezat nan sehat yang disajikan.

Teman-teman blogger hore ; Cumilebay, Velyz LittleNomadid, Wira Nurmansyah, Putri, Mei GeretKoper, Halim Bocah Hilang :) (silahkan klik nama mereka untuk baca cerita seru perjalanan mereka)

Weekend yang super menyenangkan dengan teman-teman seru, makanan enak dan hotel yang nyaman. Untuk reservasi-nya, tinggal buka http://ciumbuleuit-bandung.harrishotels.com/

HARRIS HOTEL Ciumbuleuit
Jl. Ciumbuleuit No. 50-58, Bandung 40141, Indonesia 
Phone: +62 22 82068222 I Fax: +62 22 820 68333
E-mail: sales-harris-ciumbuleuit@tauzia.com



Thursday, May 7, 2015

Pantai Lariti, Merasakan Sensasi Berjalan di Atas Laut

Thursday, May 07, 2015 29 Comments

Untuk mengobati hati yang lara karena tidak bisa mendaki Gunung Tambora kemarin, salah satu teman perjalanan saya, Om Kiat mengajak kami untuk mengunjungi satu tempat yang unik di Sumbawa.

“Pernah jalan di tengah laut nggak?” tanya Om Kiat

“Belum Om. Tapi kalau berdiri di tengah laut pernah. Kan suka ada gosong-gosong (pasir timbul) gitu” jawabku

“Nah, kalau gitu, kita harus kesini (sambil menunjukkan foto di handphone-nya)” kata Om Kiat

“Wah bagus banget !” pekik kami bersamaan. Makin-makin bertambahlah rasa penasaran kami.

(Iya, kami. Di perjalanan ini Pesona Tambora ini saya pergi bersama orang-orang keren, sebut saja Barry KusumaDayu HatmantiJovita AyuFarchan Noor RachmanRahne PutriSetiadi ‘Kiat’ Darmawan *silahkan cek personal account mereka dan siap-siap terpana*)

Diputuskanlah esok pagi-pagi kami akan berangkat menuju tempat yang cantik itu karena kita hanya bisa berjalan di atas laut sebelum jam 12 siang katanya.

Keesokan paginya, kami bertolak dari Hotel sekitar pukul 8 pagi. Karena beberapa hari sebelumnya tidurnya cuma sebentar, begitu masuk mobil teman-temanku langsung kembali ke alam mimpi meninggalkan aku dan Pak Ilham, driver kami, berdua saja.

Sepanjang jalan yang berkelok-kelok melintasi perbukitan hijau saya dan Pak Ilham berbagi cerita-cerita lucu tentang bagaimana dia dulu adalah satu-satunya pemuda dari Mataram yang dikirim untuk studi banding ke Jepang. Pak Ilham tak henti-hentinya berkelakar sehingga tak terasa kami sudah menempuh perjalanan selama 1.5 jam.

Jalan batu kerikil menuju Pantai Lariti
Jalan aspal mulus  berganti menjadi jalan berbatu. Mobil kami melambat dan berhenti di pinggir jalan. Bukan karena ban bocor atau kenapa melainkan karena pemandangannya cantik banget dan bikin kami nggak tahan untuk keluar dan mengambil gambar.



My beautiful exotic lady, Dayu Hatmanti, a Fun Fearless Female ;)

My always-smile lady, Rahne Putri
Tetapi begitu keluar mobil, kulit kami langsung tersengat panasnya matahari yang jumlahnya sepuluh. Hiperbola sih tapi memang panasnya itu panas banget.  Jangan lupa pakai sunblock yah.

Kami kembali masuk ke mobil dan menyusuri jalan berbatu hingga ke ujung jalan. Dari tepi pantai terlihat pulau kecil di seberang.


“Nah, kita nanti jalan kesitu (sambil menunjuk pulau kecil itu)” kata Om Kiat

Ah iya benar ada jalannya!

Air yang sedang surut menjadikan pasir timbul yang memanjang dari pantai hingga pulau kecil terlihat dengan jelas. Tapi ingat kita hanya bisa menyeberang maksimal jam 12 siang. Lewat dari jam segitu, air laut akan kembali pasang dan menutupi jalur pasir timbulnya.

Dengan gembira kami melepas sandal yang kami kenakan dan berjalan menyusuri pasir menyeberang ke pulau kecil. Eh, begitu tiba di pulau kecil itu, ternyata pintu kecil yang terbuat dari bambu ditutup dengan kuncian sepeda.



Ternyata ada tulisannya “Buang Air Kecil Rp 2000”. Lah, ini pulau apa toilet? 

Hahahaha…

Kami berkeliling dan melihat apakah ada jalur lain untuk naik ke atas bukit kecil itu. Dengan susah payah kami memanjat batu karang dan menerabas ranting-ranting. Karena jalurnya cukup esktrim, hanya empat orang yang mau naik ke atas. Yang lainnya memilih untuk bersantai di pantai saja.

Tak berapa lama seorang bapak tua datang menyusul kami. Ternyata beliau adalah penjaga pulau kecil di Pantai Lariti itu. Beliau bercerita bukit itu dipagari dan dikunci agar anak-anak muda yang suka mabuk-mabukkan di situ tidak sembarangan masuk. 

Tapi kok tulisannya buang air kecil sih Pak? Ah mbuhlah...

Jadi nama tempatnya adalah Pantai Lariti di Desa Soro, Kecamatan Lambu Sape, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Pantai ini sudah mulai dikenal oleh banyak wisatawan dalam dan luar negeri. Terbukti dari beberapa data tentang pantai ini bisa kita temukan di internet.


Untuk menuju tempat ini, saya hanya bisa menyarankan untuk membawa kendaraan pribadi. Tidak ada kendaraan umum untuk mencapai tempat ini.

Melihat pantai Lariti ini, saya jadi teringat dengan Nabi Musa yang bisa membelah laut dan mengajak rombongannya menyeberangi laut dan menyelamatkan diri dari serangan Firaun.


Menurut keterangan warga lokal, kalau kami datang lebih pagi lagi (waktu itu kami tiba pukul setengah sebelas), air lautnya lebih surut dan pasirnya lebih terlihat tinggi. Ah, tak apa. Segitu saja kami sudah senang kok.

Satu yang kami sayangkan adalah tambak udang yang berjejer di tepi Pantai Lariti. Pikiran kami, Pantai Lariti ini layak dikembangkan menjadi obyek wisata yang menarik dan sebenarnya lebih baik membangun guesthouse atau hotel dibandingkan tambak udang. Sayang. Sayang sekali Dinas Pariwisata-nya kurang sadar dengan hal itu.

Ah daripada mikirin itu, mending kita tidur-tiduran dulu di rumput, menikmati indahnya Pantai Lariti. Mari...


*tulisan ini adalah salah satu cerita dari rangkaian perjalanan "Pesona Tambora" yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata Indonesia


Tuesday, May 5, 2015

Pacoa Jara, Pacuan Kuda Anak Cilik di Bima

Tuesday, May 05, 2015 10 Comments
Photo by : Barry Kusuma
“Awas Kak, jangan dekat-dekat kuda itu. Baru minum itu” teriak seorang pemuda kepada saya.

Saat itu kami baru saja tiba di stadion Bima untuk melihat pacuan kuda khas Bima / Dompu yang lebih sering disebut Pacoa Jara oleh Dou Mbojo (orang Bima). Begitu turun dari mobil, saya mendekati salah satu kuda karena penasaran. Biasanya kuda kan cuma dililitkan tali di leher dan diikat ke pohon, tetapi kuda yang saya lihat ini mulutnya diikat dan talinya disangkutkan tinggi di atas ranting pohon.

Kuda yang diikat ke pohon sambil menunggu giliran berpacu
“Kudanya diikat begitu biar urat, otot perut dan lehernya kencang, Kak. Kudanya liar sekali kalau baru minum. Jangan dekat-dekat nanti kakak ditendang ” kata si pemuda lokal dari Bima itu yang saya tahu namanya Ilham setelah berkenalan.

Saya penasaran, kudanya habis minum apa sih?

Berdasarkan hasil ngobrol-ngobrol saya dengan Ilham, kuda-kuda yang akan bertanding di Pacoa Jara biasanya diberikan ramuan khusus agar mereka “panas”. Katanya itu semacam doping untuk kuda agar larinya kencang sekali. Namun kita harus hati-hati karena jika baru minum, kuda akan menjadi hiperaktif dan bisa menyerang orang kalau tidak diikat dan dipegang dengan kuat.

Kuda-kuda yang diikat di pohon itu sedang menunggu giliran untuk masuk ke stadion. Terdengar dialog dua komentator yang lucu lewat pengeras suara. Sambil menunggu ronde berikutnya mulai, mereka menghibur pengunjung stadion dengan bernyanyi dangdut. Saya terkikik geli mendengar suara mereka yang cempreng menyanyikan lagu dangdut diiringi musik yang berasal dari lagu mp3 di handphone ditempelkan di mic. They are the real entertainer yes…

Tempat komentator pacuan. Itu Bapak berdua kocak banget!
Saya masuk ke dalam stadion dan melihat banyak sekali orang memadati stadion yang tidak seberapa besar itu. Untuk arena pacuannya kira-kira seluas lapangan bola. Yang tidak kebagian bangku stadion memilih untuk menonton pacuan dari tembok. Mereka sudah menyiapkan tangga sendiri untuk memanjat dan anteng banget nongkrong di tembok.


Tempat persiapan pacuan. Banyak yang asyik menonton dari balik tembok tuh
“Permisi Kak, itu kuda mau lewat dulu ya. Jangan dekat-dekat kuda”, kata Bapak penjaga gerbang.
Saya meminggirkan badan dan membiarkan kuda-kuda itu lewat. Masing-masing kuda digiring oleh satu orang pawang yang terlihat kesusahan untuk meredam kuda agar tetap diam. Setelah seluruh kuda lewat, barulah kami dipersilahkan masuk.

Kuda yangs sedang digiring menuju area pacuan oleh pawang

Kuda yang masih "panas" harus diajak jalan-jalan dulu

Senangnya, rombongan kami diberi akses khusus untuk masuk ke arena persiapan pacuan dan boleh melihat pacuan dari jarak dekat.

Satu yang membuat pacuan ini unik dan tidak ditemukan di daerah lain adalah jokinya atau juki dalam bahasa lokalnya. Juki Pacoa Jara adalah anak-anak berumur 4-10 tahun. Ya ampun mereka masih kecil-kecil banget. Umur segitu saya sih senangnya main karet, layangan atau manjat pohon, bukan menunggang kuda. Ikut pacuan pula. Ngeri…

Juki-juki cilik ini digendong oleh Bapaknya memasuki lapangan. Kostum juki biasanya celana panjang, kaos, kaos kaki bola yang dipotong dan dipakai di bagian tulang kering kaki, kupluk yang dibolongi sendiri untuk penutup wajah dan helm plastik tanpa label SNI.

Juki-juki cilik

Kostum pacuan mereka. Nggak ada pengaman yang benar-benar aman
Nggak ada pengaman tubuh yang benar-benar aman, dikenakan di tubuh mereka. Jatuh, patah tulang, robek, benturan keras di kepala sudah jadi lumrah, hal yang biasa. Mereka bahkan tidak menggunakan pelana ketika mengendarai kuda. Sebagai pengganti pelana, agar tidak licin, ditaburkan pasir di atas kuda baru si juki didudukkan.

Sebelum pacuan dimulai, juki cilik ini menunggu sambil bergantungan di bilik besi sementara kuda-kuda pacuan itu ditenangkan oleh pawangnya.

Menunggu pacuan dimulai di dalam bilik besi
Ketika sudah mendekati waktu pacuan dimulai, kuda akan dimasukkan ke dalam bilik besi itu, ditaburi pasir, mendudukkan juki ke atas kuda sambil ditunggangi bapaknya.

Eh kok ditunggangi sama Bapaknya juga?

Ketika ditunggangi juga sama bapaknya, kudanya jadi lebih liar.
Iya, untuk menjaga agar kudanya tetap tenang dalam bilik besi itu, harus ada orang dewasa yang memegang kudanya. Saya sempat berdiri di dekat mereka dan mendengar si Bapak berbicara entah kepada si anak atau si kuda dalam bahasa lokal. Semacam wejangan sebelum perlombaan gitu kali ya.

Op op op op op….
Op op op op op….
Op op op op op…

Bunyi itu terdengar dari bilik besi. Biasanya kan kalau dibilang op op op op artinya stop. Di Pacoa Jara, op op op op itu artinya pacuan akan segera dimulai. Unik banget. Hahahaha…

Kami menunggu di pinggir pagar pembatas dengan kamera yang sudah siap menangkap momen pacoa jara.

*bruaaaaak*

Pintu bilik besi dibuka dan semua kuda lari sekencang-kencangnya. Saya terpana melihat juki bisa mengikuti ritme lari kuda dan tidak terjatuh. Ada bermacam-macam gaya selama mereka berpacu. Ada juki yang memeluk erat leher kudanya, ada yang memakai satu cambuk dan ada yang memakai dua cambuk sekaligus.


Yang memakai dua cambuk sekaligus berarti tidak memegang kudanya sama sekali. Gila keren banget! Jangan ditanya lagi, juki dengan dua cambuk itu pasti keluar menjadi juara. Begitu mereka memasuki garis finish, mereka akan digendong lagi oleh Bapaknya dan kudanya langsung digiring oleh pawangnya.

Saya dan teman-teman kemudian terkikik lagi begitu mendengar komentatornya mengumumkan siapa yang menjadi juara pacuan. Rata-rata namanya adalah nama perempuan. Saya merasa sudah pernah mendengar nama itu di awal, tetapi saya mengira komentatornya sedang memanggil orang. Ternyata itu adalah nama kudanya. Hahaha…

Yang memenangkan kejuaraan penyisihan hari itu adalah kuda betina bernama Putri Ayu. Duh, cantik sekali namanya. Katanya si Putri Ayu ini sudah sering memenangkan pacuan.

“Taruhan untuk si Putri Ayu ini selalu tinggi setiap pacuan. Sampai berjuta-juta itu mereka kasih untuk taruhan” kata Ilham

Sepertinya di belahan dunia manapun, pacuan kuda selalu ada taruhannya ya.

Sempat sih saya membahas dengan seorang teman apakah Pacoa Jara ini adalah salah satu  bentuk eksploitasi anak? Tidak jarang lho anak-anak ini cedera patah tulang atau robek bagian tubuhnya karena terjatuh dari kuda. Namun cukup dibawa ke mantri atau rumah sakit, diobati dan besoknya sudah berpacu lagi.

“Nggak bisa dibilang eskploitasi anak juga sih Sat, karena ini adalah tradisi mereka yang sudah mereka lakukan dari zaman dulu. Turun temurun dari nenek moyang.  Kita tidak bisa mengkritisi budaya. Susah.” ujar salah seorang temanku.

Ya memang sih anak-anak itu juga tidak protes. Malahan senang. Buat mereka, menjadi juki adalah sesuatu yang membanggakan. Apalagi kalau mereka jadi pemenang, mereka bisa membantu keuangan keluarga. Para juki ini dilatih menjadi lelaki tangguh dari kecil. Ya, mereka adalah kebanggaan orang tua, terutama Bapaknya. Memiliki anak laki-laki di Bima berarti memiliki aset berharga.

Seusai pertandingan saya mengajak salah satu juki yang bernama Sona. Umurnya 10 tahun walaupun tidak tergambar dari ukuran tubuhnya yang mungil seperti anak kelas 2 atau 3 SD. Agar bisa berkomunikasi baik dan jelas dengan Sona, saya dibantu oleh Ilham yang menjadi penerjemah bahasa.

Saya dan Sona yang ganteeengggg <3
“Sona sudah berapa lama jadi Juki, dari umur berapa naik kuda?” tanyaku

“Sudah dari umur 3 tahun naik kuda, diajar sama Bapak. Ikut pacuan sejak umur 5 tahun” jawab Sona

“Wah, kamu masih kecil sekali waktu belajar naik kuda. Tidak takutkah kamu?” tanyaku lagi

“Pertamanya takut tapi karena diajarin dan ditemani Bapak, lama-lama sudah tidak takut lagi” jawabnya polos

“Sona pernah jatuh tidak dari kuda? Pernah luka? Kalau luka diobatinnya gimana?” tanyaku

“Pernah. Sakit sekali. Tapi nanti diobati sama temannya Bapak dan sembuh. Pernah juga dibawa ke dokter untuk dijahit tapi saya tidak suka rumah sakit” ujarnya sambil menunjukkan bekas-bekas jahitan di kepalanya yang banyak sekali.

Saya juga pernah dijahit di tangan dan tahu rasa sakitnya seperti apa namun tidak tega  membayangkan  punya bekas jahitan hingga puluhan di tubuh seperti Sona.

“Sona sudah pernah jadi juara? Dapat hadiah apa?” tanyaku lagi

“Dulu jadi juara dan dapat sepeda motor, dikasih ke Bapak. Pernah dapat sapi dan uang. Semuanya dikasih juga ke Bapak” ujar Sona

Karena rupanya yang tampan, saya senang sekali dengan Sona. Saya sudah tertarik dan memperhatikan dia saat pacuan kuda akan dimulai hingga pacuan selesai. Saat itu dia kurang beruntung dan tidak keluar jadi juara. Walau tak jadi juara, saya beri dia hadiah kecil yaitu sebatang coklat. Senang sekali melihat raut mukanya yang sumringah dan saya lebih senang lagi ketika dia memanggil teman-temannya untuk membagikan coklat yang saya kasih. Aduh Sonaaaa….

Juki-Juki cilik, Yan, Sona, Idam, Iman
Biasanya setelah pertandingan selesai, kuda-kuda ini akan dimandikan di laut. Sayangnya saya baru tahu kalau kuda-kuda tersebut baru selesai mandi ketika melihat serombongan orang menggiring kuda yang basah dan licin bulunya. Yah, padahal saya ingin lihat kayak apa kuda dimandiin di laut.

Ini berarti saya harus datang lagi untuk melihat Pacoa Jara dan kuda-kuda itu dimandikan di laut. Jika kalian ingin melihat acara ini, silahkan datang bulan April saat Ulang Tahun Kota Bima (kemarin bertepatan juga dengan Festival Tambora Menyapa Dunia) atau bulan Juli (kadang Agustus) saat peringatan Hari Bhayangkara. Silahkan catat di kalender ya.

Yang jelas, kalau datang kesana cukup nonton pacuannya aja ya. Jangan coba-coba nunggangin kudanya. Beda! Kudanya bukan kuda wisata di Bromo atau Taman Bunga Cipanas :p

*tulisan ini adalah salah satu cerita dari rangkaian perjalanan "Pesona Tambora" yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata Indonesia

Monday, May 4, 2015

Meriahnya Festival Tambora Menyapa Dunia

Monday, May 04, 2015 12 Comments
Kawah Gunung Tambora dari udara (Foto : Ida Lasida Adji)

1815, tahun yang tercatat sebagai tahun kelam, “A Year without Summer”.

Pada masa itu, dunia diguncangkan oleh letusan maha dahsyat, dengan erupsi setinggi dan mengakibatkan hampir separuh bumi terkena dampaknya. Diketahuilah bahwa letusan itu berasal dari gunung bernama Tambora.

05.20 WITA - Savana Doro Ncanga
Dari letusan tersebut, terbentuklah kaldera raksasa dengan diameter 8 KM di bagian atas dan 6 KM di bagian bawahnya dan kedalaman sekitar 1.551 meter. Hingga kini, gunung api kecil yang ada di Tambora masih aktif mengepulkan asap belerang dan dikenal dengan nama Doro Afi Toi oleh masyarakat lokal.

Dari catatan sejarah, erupsi tahun 1815 menghancurkan setengah tubuh Gunung Tambora yang memiliki ketinggian sekitar 4882 meter di atas permukaan laut. Andai saja erupsi tersebut tidak pernah ada, Gunung Tambora menjadi gunung tertinggi ke dua di Indonesia setelah Puncak Carstenz  (4884 mdpl) yang ada di Papua.

Tidak terbayangkan bagaimana letusan maha dahsyat itu membungihanguskan desa-desa di sekitarnya dan menewaskan hingga kurang lebih 92.000 jiwa secara langsung dan tidak langsung. Maksudnya tidak langsung adalah bencana yang melanda dunia, diakibatkan letusan Gunung Tambora. Letusan vulkanik berupa abu dari Gunung Tambora membumbung tinggi hingga ke lapisan atmosfir (setinggi 44 KM), menghalangi sinar matahari di dataran Eropa dan Amerika Utara. Mereka sama sekali tidak merasakan musim panas selama satu tahun. Terjadi gagal panen, banyak hewan ternak yang mati, wabah merajalela. 

***

Matahari bangkit dari peraduannya. Hangat...
Saya beruntung bisa bertemu dan mengobrol dengan Don Hasman (penjelajah dan fotografer professional) di Festival Tambora Menyapa Dunia pada pertengahan April kemarin. Beliau sudah turun naik Gunung Tambora lebih dari delapan kali dan bahkan sudah meluncurkan buku fotografi tentang Gunung Tambora.

Jika kamu melihat pria berambut putih yang selalu membawa lebih dari satu kamera DSLR di tubuhnya, dialah Don Hasman.

Dari beliau saya diberitahu tentang asal usul nama Gunung Tambora.

“Nama Tambora ini berasal dari kata “Ta” dan “Mbora” yang berarti ajakan menghilang. Ya, menghilang karena terjangan awan panas dan tertimbun material vulkanik.” ujar Om Don.

Obrolan kami berlanjut berteman sinar matahari pagi yang hangat menyelimuti savana Doro Ncanga. Savana yang terletak di kaki Gunung Tambora dan merupakan titik pendakian selain Desa Pancasila.
Saya memandang Gunung Tambora dari kejauhan. Dia begitu cantik  mengeluarkan semburat jingga dan merah muda. Anganku melambung tinggi. Ingin sekarang juga kudaki gunung itu, pikirku dalam hati.

Memang, rasa kecewa jelas tergambar di wajah saya ketika diberitahu kami tidak bisa mendaki ke Gunung Tambora karena jeep tidak tersedia dan waktu yang kami punya sedikit sekali. Dari tempat kami berdiri, Doro Ncanga, dibutuhkan waktu berkendara dengan jeep kurang lebih 5 jam. Dari Pos itu kita akan mendaki sekitar 3 jam untuk mencapai Puncak Gunung Tambora. Saya diberitahu jalur itu oleh teman saya yang baru saja turun dari mendaki Gunung Tambora. Sempat juga saya membaca tulisan seseorang tentang jalur pendakian Tambora di sini

Pada puncak perayaan Festival Tambora Menyapa Dunia, Savana Doro Ncanga benar-benar ramai. Semua orang tumpah ruah. Tidak hanya masyarakat lokal, wisatawan dari luar Nusa Tenggara dan Indonesia pun terlihat namun kebanyakan mereka adalah pendaki yang baru saja turun dari puncak Tambora. Saya bisa tahu mereka habis turun dari warna kulit wajah mereka yang merah kecoklatan karena terbakar matahari. Duh, melihat mereka saya jadi semakin iri.



Tapi mendaki Gunung Tambora kan bisa lain kali ya, hiburku dalam hati. Sekarang, kita nikmati saja rangkaian puncak Festival Tambora Menyapa Dunia.

Di Festival Tambora Menyapa Dunia, Bapak Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo beserta Ibu Negara, Menteri Pariwisata, Bapak Arief Yahya, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya, Gubernur NTB, Muhammad Zainul Majdi dan Bupati Dompu, Bambang M Yasin, hadir untuk memberikan sambutan sekaligus meresmikan Gunung Tambora sebagai Taman Nasional.

Bapak Bupati NTB, Menteri Pariwisata, Menteri Lingkungan Hidup dan Bapak Presiden meresmikan Tambora sebagai Taman Nasional (Source : cnn indonesia)

Kedatangan mereka disambut oleh sekitar 100 Ibu-Ibu yang mengenakan Rimpu, tradisi melilit kain tenun di Dompu. Saya sempat tercengang ketika Ibu-ibu ini memprotes Bapak Paspampres yang awalnya ingin membubarkan mereka. 

"Ini Bapak tidak tahu apa kami sudah siap dari pagi sekali tadi. Kita ini cuma mau lihat Bapak Presiden saja dari dekat", protes seorang Ibu

Bapak Paspampres yang tadinya galak jadi melembut dan cuma ngomong gini "Ya sudah tapi nanti ketika Bapak Presiden lewat jangan dipegang atau dicubit ya" 

Hahahaha...

Ibu-Ibu yang memakai Rimpu Colo, berbaris rapi dari pagi untuk menyambut kedatangan tamu penting di Festival Tambora Menyapa Dunia

Foto bersama dengan Ibu-Ibu Dompu. Eh, kami juga pakai sarung Nggoli nya lho..

Festival Tambora Menyapa Dunia berlangsung dengan sangat meriah. Saya terpana menyaksikan tarian Rai Saida yang dibawakan oleh para remaja NTB. Sekitar seratusan penari memenuhi lapangan, membawakan tarian yang mirip drama kolosal, menceritakan peristiwa meletusnya Gunung Tambora secara runut dengan gerakan tari-tarian, diiringi musik tradisional.


Tarian Rai Saida


Pakaian adat di Dompu mirip dengan Baju Bodo karena pengaruh orang Bugis yang berlayar ke NTB dulu kala.
Saya begitu senang melihat sambutan masyarakat yang begitu antusias dan hangat. Di sela-sela festival, saya ngobrol dengan salah seorang dari rombongan Ibu-Ibu itu. Namanya Ibu Nugi,

Ketika saya bercerita saya sedih belum sempat menapaki puncak Tambora, salah satu Ibu Nugi menghibur saya dengan memberikan kain Nggoli berwarna biru yang ia kenakan. Katanya itu hadiah untuk saya dan semoga dengan adanya kain itu, saya bisa balik lagi ke Dompu dan mendaki Tambora. Saya terharu sekali :’)

Ya Tambora, sampai jumpa lagi…


Aku janji tak akan lama…

Terima kasih Bapak Menteri Pariwisata, Ir Arief Yahya, yang mengundang kami untuk hadir di Festival Tambora Menyapa Dunia. 
*tulisan ini adalah salah satu cerita dari rangkaian perjalanan "Pesona Tambora" yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata Indonesia

Follow Us @satyawinnie