Monday, April 20, 2015

Pesona Tambora - Mengenal Rimpu Dou Mbojo

Monday, April 20, 2015 13 Comments

Kain sarung, seperti yang kita ketahui lebih banyak digunakan oleh laki-laki. Namun, tak disangkal di beberapa daerah, kain sarung juga sering dipakai perempuan dalam kehidupan sehari-sehari. Sebut saja daerah asal saya, Sumatera Utara. Kebanyakan Mamak-mamak di sana memakai sarung sebagai penutup kepala yang dibentuk seperti bantal. Mungkin juga di daerah lain ada hal yang serupa.

Di masyarakat Bima (Dou Mbojo), sarung sama-sama dipakai oleh lelaki dan perempuan. Uniknya, sarung yang dipakai oleh wanita dijadikan jilbab. Sarung kan cukup tebal dan berat. Apa nggak panas jika dipakai menjadi jilbab ya?

Sewaktu berkunjung ke Dompu, kami diajak mampir ke Desa Saka, Manggeasi, Dompu yang dikenal sebagai salah satu penghasil kain tenun di Nusa Tenggara Barat. Di sana kami bertemu dengan Ibu Sri dan teman-temannya yang sedang menenun kain. Ada satu Ibu yang sedang memintal benang (Kafa Nggoli) dan dua Ibu lainnya sedang menenun kain.

Proses memintal benang Kafa Nggoli
Ibu Sri menyambut kami dengan sangat hangat di teras rumahnya, mempersilahkan kami masuk dan menyuguhkan minuman dingin dan penganan kecil khas lokal yang mirip dengan kue pukis.

Dengan penuh antusias, kami mengikuti Ibu Sri yang menunjukkan proses pembuatan Tembe Nggoli (sarung) mulai dari pemintalan benang hingga memperhatikan cara mereka menggerakkan alat tenun. Benang-benang yang dipakai ternyata dipintal manual dengan peralatan kayu yang sederhana dan disebut Muna oleh orang Mbojo.

Warna Kafa Nggoli yang biasa dipakai untuk menenun adalah warna-warna cerah seperti hijau, oranye, merah muda, biru dll. Walau dominan warna cerah, kombinasi warna Tembe Nggoli tetap adem di mata.


Kain tenun yang terkenal di Bima adalah Tembe Nggoli / Tembe Bali yang memiliki motif kotak-kotak seperti motif sarung pada umumnya. Lalu ada lagi Tembe Sui, kain tenun dengan motif seperti kain songket yang biasanya dipakai di acara-acara formal.

Lalu, motif apa sih yang biasa dipakai di Tembe Nggoli atau Tembe Sui?

“Yang paling sering itu motif Sasambo, itu yang paling khas karena asli dari sini. Sasambo itu gabungan dari Sasak (Lombok), Samawa (Sumbawa) dan Mbojo (Bima)” ujar Bu Sri sambil menunjuk satu kain yang digantung di tali.

Di bagian kanan dan kiri adalah Tembe Sui dan di tengah adalah Tembe Nggoli
Selain itu ada juga beberapa motif yang biasa dibuat seperti Liro / Bunga Matahari. Ada juga motif Nggusu Waru, motif bunga bersudut delapan dan motif-motif lainnya. Biasanya Tembe Sui yang memakai motif bunga-bunga paling banyak. Berbeda dengan Tembe Nggoli yang sederhana dan biasa berpola kotak-kotak..

Sudah sangat lazim bagi perempuan dan laki-laki Dou Mbojo untuk mengenakan sarung. Untuk lelaki, kain sarung hanya dipakai dan digulung di pinggang seperti biasa. Mereka menyebutnya Katente.

Nah, yang unik ini adalah seni melilit Tembe Nggoli pada perempuan yang disebut Rimpu. Ada dua jenis Rimpu yaitu Rimpu Colo dan Rimpu Mpida.

Rimpu Colo dikenakan oleh wanita yang sudah menikah, dimana wajahnya boleh kelihatan seluruhnya. Sedangkan Rimpu Mpida dipakai oleh gadis alias belum menikah, dimana Tembe Nggoli menutupi sebagian wajah dan hanya menyisakan bagian mata.

Rimpu Colo yang dipakai oleh wanita yang sudah menikah
“Kalau janda gimana Bu?” tanyaku.

“Sama saja namanya Rimpu Colo karena dia sudah menikah. Tapi kita bisa bedakan dari cara melilitnya. Kalau sudah janda, di bagian depannya dibuat sedikit miring. Dari situ kita tahu kalau dia sudah janda” jawab Bu Sri.

Karena melihat muka kami yang penasaran, Ibu Sri menyuruh salah satu Ibu untuk mencontohkan Rimpu.

Dengan cekatan, si Ibu mengambil satu sarung untuk dililit di bagian bawah badan dan lalu mengambil satu sarung lagi dan melilitkannya ke kepala. Kerennya, mereka bisa melilit Tembe Nggoli-nya dengan rapi tanpa bantuan peniti atau jarum pentul.

Saya jadi ingin mencobanya dan meminta Ibu Sri mengajari saya bagaimana membuat Rimpu.

Dililit sekali, gagal. Dililit kedua kali, gagal. Dililit ketiga kali, gagal lagi.

Kok susah banget. Hahahaha...

“Begini lho, masukin tangan kamu di dalam sini, tahan supaya kainnya gak bergeser lalu tangan satu lagi ambil ujung sarungnya dan lilitkan ke belakang kepala dua kali” ujar Bu Sri sambil memberikan contoh memakai Rimpu.

“Kan saya belum nikah Bu. Mukanya harus ditutupin dong? Gimana cara lilitnya Bu? Lebih rumit ya kayaknya” kataku. Maaf ya Ibu, saya bawel banget anaknya.

“Agak susah memang ya memakaikan ke orang lain soalnya kita biasanya pakai sendiri” ujar Bu Sri sambil melilitkan sarung di kepala saya berkali-kali dan tertawa.

*saya jadi teringat waktu zaman kecil dulu suka main ninja-ninjaan pakai sarung. Hayoo, kalian anak Generasi 90an (dan yang lebih tua) pasti pernah main juga kan?*

Setelah proses lalat-lilit Tembe Nggoli yang ternyata susah, jadilah saya memakai Rimpu Mpida. Walau tidak terlalu rapi, tapi saya puas. Akhirnyaaaa…

Rimpu Mpida untuk perempuan yang belum menikah. Coba tebak siapa perempuan ini :p
Sewaktu kami berkunjung ke Manggeasi itu sudah tengah hari dan matahari sedang terik-teriknya. Herannya, saya tidak merasa kepanasan sama sekali mengenakan Tembe Nggoli. Malah terasa adem dan sejuk di kulit.

“Iya, itulah kekhasan Tembe Nggoli, berbeda dengan sarung-sarung biasa. Kalau panas, itu kainnya bikin adem dan kalau dingin, kainnya bisa untuk menghangatkan badan” jelas Bu Sri.

Wah, canggih juga Tembe Nggoli ini. Tanpa babibu, saya langsung beli satu. Enak banget bisa dibawa ke gunung atau ke pantai ya.

Saya juga diberitahu bahwa ada satu lagi Tembe khas yang diberi nama Tembe Donggo. Tembe Donggo ini berwarna hitam dan biasanya dipakai untuk menyembuhkan demam. Jika sedang sakit demam, bungkuslah tubuh dengan Tembe Donggo dan dijamin demamnya langsung turun dalam waktu singkat. Sayangnya Ibu Sri tidak membuat Tembe Donggo yang memang katanya sudah susah menemukan orang yang bisa menenun kain itu.

Untuk Tembe Nggoli, harganya berkisar 200 hingga 500 ribu rupiah. Sedangkan untuk Tembe Sui berkisar 800 ribu hingga jutaan rupiah. Harga yang cukup layak untuk sebuah karya tangan dengan proses pembuatan yang lama dan cukup rumit. Bayangkan proses mulai dari benang, dipintal, membuat pola yang rumit, duduk berhari-hari hanya untuk menyelesaikan satu kain. Apakah kamu masih tega menawar harga?

Kini Rimpu hanya digunakan saat ada upacara saja, sedangkan untuk sehari-harinya, Dou Mbojo menggunakan hijab yang lebih modern. Semoga Rimpu ini terus dilestarikan oleh generasi muda dan menjadi ciri khas yang hanya dimiliki oleh Dou Mbojo.

Bersama Ibu-ibu dari Dompu yang memakai Rimpu dalam Festival Tambora Menyapa Dunia, 11 April 2015

Bagus ya balihonya. Ibu-ibunya kompak pakai Rimpu ;)

Sunday, April 19, 2015

Pesona Tambora - Jalan Berliku Menuju Dompu

Sunday, April 19, 2015 17 Comments
“Mbak…Mbak…Sudah sampai di Bandara nih” diucapkan berkali-kali oleh supir taksi sambil menepuk saya. Ternyata saya tertidur di taksi dengan pulasnya.

Itu terjadi karena saking gembiranya akan bepergian jauh, saya tidak tidur semalaman. Selain karena belum packing, saya juga tidak mau kebablasan tidur dan ketinggalan pesawat. Bayangkan saja kalau jam 4 subuh kalian sudah harus tiba di Bandara Soekarno Hatta sedangkan jarak tempat tinggal cukup jauh (Depok men!)

Beruntungnya saya mendapatkan tempat window seat di pesawat dan tepat di bagian kiri pesawat dimana saya bisa melihat matahari terbit dengan sangat jelas. Sempat sih tertidur satu jam dan saya terbangun tepat ketika matahari mulai bangun dari peraduannya. Ada rasa bahagia yang tak terkatakan begitu sinar matahari hangat menghampiri dan membelai wajah saya.


Senangnya bisa melihat Puncak Rinjani dari jendela pesawat yang kami tumpangi.
Tujuan perjalanan kali ini adalah menyusuri Nusa Tenggara Barat bagian Timur alias Pulau Sumbawa. Rencananya kami akan mengunjungi beberapa tempat di Sumbawa seperti Dompu, Bima dan tempat-tempat lainnya dengan tujuan utamanya adalah Gunung Tambora. Saya berangkat bersama 12 orang teman-teman blogger dan TV crew.

Festival Tambora ini diadakan untuk memperingati 200 tahun meletusnya Gunung Tambora (1815-2015) dengan beberapa rangkaian acara yang puncaknya tanggal 11 April 2015. Pemerintah Pusat  dan Pemerintah Daerah berkolaborasi dengan media Kompas untuk mengadakan Festival 200 Tahun Tambora Menyapa Dunia. Selain pendakian bersama ke Gunung Tambora, ada banyak kegiatan yang dilakukan seperti Ultra Marathon, Trail Run, Tambora Bike dan masih banyak yang lainnya. Berikutnya setelah tulisan ini, akan ada post tentang Gunung Tambora yang dijuluki "Pompeii dari Timur"

Setibanya di Bandara Praya (Lombok), kami disambut Pak Ilham, supir yang akan mengantarkan kami ke kota tujuan pertama hari itu, Dompu. Jarak dari Praya ke Dompu kurang lebih 370 kilometer dan bisa ditempuh dalam 12 jam perjalanan termasuk penyeberangan dengan kapal feri. Siap-siap deh pantat jadi rata.

Sempat singgah sebentar di rumah makan, kami akhirnya tiba di Pelabuhan Kayangan sekitar pukul 1 siang. Di sana kami berpapasan dengan rombongan pesepeda yang juga meramaikan Festival Tambora Menyapa Dunia yang berlangsung bulan April ini.

“Gile ye, itu yang naik sepeda kuat amat gowes di siang bolong gini. Kita aja di dalam mobil pasang AC Full masih aja panas”, ujar temanku.

Tak berapa lama kemudian, tiba giliran mobil kami untuk memasuki kapal feri. Ternyata banyak rombongan yang akan menyeberang hari itu. Turun dari mobil, kami menuju deck atas dan berkeliling kapal feri untuk membunuh kebosanan.


Pelabuhan Kayangan
Biasanya kalau naik kapal feri musik yang diputar kan musik dangdut ya, tapi di kapal ini berbeda. Di layar TV diputar iklan promosi pariwisata Nusa Tenggara Barat dengan beberapa versi. Senang rasanya bahwa Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk mengenal potensi wisata daerah mereka. Kenali Negerimu, Cintai Negerimu. Masih ingat dengan slogan itu kan?

Ada yang pernah naik kapal feri dari Merak – Bakauheni atau sebaliknya? Pastinya banyak dari kalian yang sudah pernah naik dan tahu pemandangan yang biasa ada di sana. Apa coba?

Ya betul! Bocah-bocah yang berenang di bawah kapal meminta penumpang melempar uang koin untuk mereka ambil di dasar air.

Jangan harap menemukan pemandangan yang sama di Pelabuhan Kayangan ini. Pelabuhan begitu tenang, tanpa ada teriakan bocah-bocah koin. Tetapi ada pemandangan lain yang tak kalah menarik untuk saya (mungkin untuk kalian juga)




Tak berapa jauh dari tempat kapal feri bersandar, terlihat beberapa orang yang sedang memancing namun yang terlihat hanya kepalanya saja. Mereka berendam di air laut yang setinggi leher mereka. Kepalanya pun dilindungi dengan helm motor atau topi. Berdasarkan info yang diberikan oleh orang lokal yang ada di dekat saya, mereka memakai helm agar tidak kepanasan. Mereka juga memancing di tengah karena ikannya lebih banyak di bagian situ.


Apakah kamu melihat titik-titik di kejauhan sana. Ya, itu kepala orang, hahaha

Asyik ya kayaknya siang-siang berjemur adem di dalam air sambil mancing
Sempat saya tanyakan mengapa tidak memancing dengan naik sampan kecil saja? Si Bapak kemudian lanjut menjelaskan bahwa mereka dari dulu memang senang memakai helm motor dan berendam langsung di air laut agar tidak kepanasan.

“Kan kalau di atas sampan, mereka bosan dan kepanasan, Mbak”, ujar si Bapak.

Saya terkikik geli melihat pemandangan tersebut dan memperhatikan gerak-gerik mereka. Hebat lho mereka bisa bertahan memancing dengan helm motor full face dengan posisi diam yang cukup lama. Ya iya dong mereka tidak boleh banyak bergerak karena nanti ikannya kabur.

Kapal Feri mulai bertolak dari Pelabuhan Kayangan. Angin sepoi-sepoi semilir membuat saya terkantuk dan akhirnya saya menyerah karena belum tidur semalaman.

Rasanya baru tidur sebentar, tahu-tahu kami sudah tiba di Pelabuhan Pototano. Ternyata penyeberangan dari Kayangan ke Pototano hanya sekitar 1.5 jam. 

Halo Sumbawa!


Selamat datang di Pototano. Lucu ya kapal-kapal feri nya



Ah, perjalanan masih jauh Kak. Masih 295 kilometer lagi.  Kata Pak Ilham sih masih sekitar 6 jam lagi. Sabaaarrrr, sebentar lagi juga sampai ;)

Menyusuri jalanan dari Pototano menuju Dompu sama sekali tidak membosankan. Jalanan aspal mulus membentang dengan pemandangan bukit hijau dan coklat membunuh rasa bosan dengan cepat. Beberapa kali kami juga menyusuri pantai. Uuuhhh, senang sekali.

Selain menikmati pemandangan sepanjang jalan, kami juga senang sekali berteriak “Yang semangat ya Pak!” kepada setiap rombongan pesepeda yang kami temui sambil dadah-dadah ala Putri gitu. Yes we were that silly!


Rombongan Tambora Bike yang mengayuh sepeda dari Lombok hingga Sumbawa
Begitu matahari sudah terlihat rendah di Barat, kami melipir ke salah satu pondokan di Pantai Baru, Sumbawa. Akhirnya setelah perjalanan yang panjang dari subuh, kami bisa selonjoran di pantai, menyeruput segarnya es kelapa muda sambil menikmati matahari terbenam. Nikmat tiada dua…


Senja cantik di Pantai Baru, Sumbawa


Ada yang lebih romantis dari ini? Jalan berdua menikmati senja...

Sudah lewat dari pukul tujuh malam ketika kami berangkat untuk melanjutkan perjalanan. Karena jalanan gelap tanpa ada penerangan lampu, saya kira tidur adalah pilihan yang terbaik.

Namun, siapa yang tidak bahagia begitu membuka kaca mobil dan mendongak ke langit, terlihat jutaan bintang kerlap-kerlip dengan siluet bukit-bukit di sebelah kanan dan cahaya bulan yang begitu terang memantul ke laut.

Alhasil sepanjang jalan kami membuka kaca mobil, memasang lagu kesukaan dan bernyanyi bersama. Pak Ilham yang gaul itu pun turut bergabung. Momen itu adalah momen yang sangat menyenangkan. Hingga akhirnya kami tiba di Dompu sekitar pukul 11 malam. Lupa deh sama semua lelah di perjalanan udara, laut dan darat dalam satu hari.

Mari kita memejamkan mata dan menanti perjalanan panjang esok pagi. See you soon, Tambora.

Thursday, April 16, 2015

Gunung Panten, Tempat Menikmati Majalengka dari Udara

Thursday, April 16, 2015 22 Comments
Pelangi di Take Off Area Gunung Panten ( Foto : Disha Fajar)

Selain Puncak Bogor dan Sumedang, Jawa  Barat punya spot paralayang lain yang tidak kalah menawan, salah satunya adalah Majalengka.

Bermula dari ajakan teman yang sama-sama menggeluti olahraga Paralayang, saya menyambangi Majalengka. Saya ditunjukkan beberapa foto-foto cantik mereka ketika melayang di udara. Nama tempatnya adalah Gunung Panten atau dikenal juga dengan nama Bukit Munjul di Desa Sidamukti.

Area Parkiran Gunung Panten di pagi hari
Perjalanan menuju tempat ini dari Jakarta memang cukup melelahkan. Tidak ada pilihan jalur lain selain jalur darat yang memakan waktu 6 jam. Jika menggunakan transportasi umum, kita bisa naik travel atau bus dengan tujuan Garut, Tasikmalaya atau Sumedang. Jika naik bus yang mengarah ke Garut dan Tasikmalaya, mintalah diturunkan di Cileunyi. Dari Cileunyi kita bisa melanjutkan perjalanan naik elf ke Sumedang atau Majalengka langsung. Dari Sumedang dibutuhkan waktu sekitar 1.5 - 2 jam untuk tiba di Majalengka. Bisa juga sih naik bus langsung dari Kampung Rambutan ke Majalengka. Bus nya adalah mini bus Non AC. Silahkan dipilih mau naik apa...



Jika membawa transportasi sendiri akan mempersingkat waktu perjalanan karena tidak harus menunggu bus yang kadang lama datangnya.

Dari pusat kota Majalengka, kita harus berkendara sekitar empat kilometer lagi untuk menuju Gunung Panten. Tidak ada transportasi umum sehingga kita harus menyewa ojek untuk mengantar kita ke atas. Tenang saja, semua tukang ojek di Majalengka pasti tahu dimana Gunung Panten.


Pemandangan yang bisa kita lihat ketika terbang


Lapangan tempat Paralayang dan Gantolle mendarat / Landing Area
Tempat ini dulunya dikenal sebagai tempat mandang-mandang selow. Kebanyakan yang datang sih anak muda. Terdapat beberapa warung yang menjual berbagai macam penganan mulai dari gorengan sampai Nasi Timbel (kalau menu yang satu ini biasanya pesan dulu). Enaknya, di warung-warung ini tersedia buah-buahan yang sedang musim.

Sewaktu saya berkunjung kesana, bertepatan dengan musim panen rambutan. Jadilah saya puas menikmati rambutan manis. Oh iya, ada Es Kelapa Muda juga. Kalau yang itu sih favorit saya. Pas sedang cerah, Gunung Panten akan sangat panas dan cepat membuat kita dehidrasi. Air kelapa adalah salah satu yang manjur untuk mencegah kita lemas karena kepanasan dan kekurangan cairan.

Jika kondisi cuaca dan angin sedang baik, Gunung Panten menjadi tempat yang asyik untuk melakukan olahraga udara seperti Paralayang dan Gantolle. Berbeda dengan Puncak Bogor yang sangat ramai lalu lintas di udaranya, Majalengka lebih traffic-less alias nggak macet jadinya kita bisa terbang cukup lama. 



Yang paling menyenangkan terbang di Gunung Panten adalah pemandangannya. Jika kita datang pagi-pagi sekali, sekitar jam 6 atau 7 pagi (ini artinya kamu harus berangkat tengah malam dari Jakarta atau menginap di Majalengka satu malam sebelumnya), kita dapat melihat Gunung Ciremai menjulang tinggi, gagah serta kota Majalengka yang tertutup awan kabut.

Gunung Ciremai yang berdiri gagah
Kalau mau ngecamp juga bisa asalkan bawa perlengkapan berkemah dan logistik sendiri. Sebenarnya lebih asyik ngecamp loh. Kenapa? Karena setelah puas terbang melayang, kita bisa kemping ceria beratap bintang dengan suguhan pemandangan kerlap-kerlip lampu Kota Majalengka. Paginya, begitu keluar tenda, langsung dapat pemandangan yang tadi aku sebutkan di atas. Kurang sedap apa coba? 

Dua olahraga udara yang bisa kamu coba di Gunung Panten adalah Paralayang dan Gantolle. Untuk terbang tandem Paralayang dikenakan biaya Rp 350.000,- per pax. Sedangkan terbang tandem Gantolle dikenakan biaya Rp 450.000,- per pax. 


Apa ya bedanya? 

Kalau terbang tandem paralayang, kamu akan duduk manis di depan pilot yang membawa kamu terbang. Tenang, kamu akan aman dan baik-baik saja jika mengikuti seluruh instruksi dari pilotnya. 

Untuk Gantolle, kamu akan merasakan sensasi terbang dengan posisi bergantung seperti Superman tetapi memakai body harness. Pernah lihat Superman terbang? Kurang lebih seperti itu tapi posisi kamu ada di atas pilot Gantolle.



Intinya kedua olahraga tersebut seru banget! Durasi terbang tergantung kepada cuaca pada hari itu. Jika sedang beruntung, dapat cuaca bagus, kita bisa terbang tinggi dengan durasi cukup lama. Woohooo....


Pastinya dijamin seru melayang-layang di atas karpet hijau alias hamparan sawah hijau yang luas sekali dan jajaran bukit-bukit kecil serta Gunung Ciremai. Sejauh kamu memandang tidak ada bangunan tinggi menjulang seperti yang sering kita temui di kota. 

Tertarik untuk mencoba? 

Boleh hubungi Kang Aries Pribaya di nomor 0818-0936-0505 / 0812-2403-7531 ;)


Happy flying...

Follow Us @satyawinnie