Tuesday, December 29, 2015

Senja Menggila di Pulau Banyak Aceh

Tuesday, December 29, 2015 2 Comments

Kami merasa sangat beruntung ketika berkunjung ke Pulau Banyak kemarin. Meski kami datang di penghujung tahun, Pulau Banyak masih berbaik hati untuk menampilkan segala pesona indahnya layaknya seorang gadis muda yang sedang bersolek, cantik merona.

Senja memang menjadi favorit saya sepanjang masa.

Saya bisa duduk berlama-lama menantinya, menikmati sang surya pulang ke peraduannya. Kunikmati ombak yang menggelitik kaki dan angin pantai yang membelai pipi.

Tiap-tiap orang pastinya punya cara tersendiri untuk menikmati senja. Di perjalanan seru ke Pulau Banyak bersama 7 orang rekan saya kemarin, kami menikmati senja bersama dengan berbagai cara.

Ada Mamak Swastika Nohara yang senang menikmati senja dengan olahraga favoritnya, yoga. Yoga and sunset? Such a perfect combination! 

IMG_1067
Mamak Swastika in frame (Photo by : Om Bolang )

Ada Fahmi yang sering kami panggil si kucing, menikmati pantai dan senja dengan bermain bersama lomang. Itu lho, binatang yang keluar dari keongya kalau dihembus "huh-hah". Mainan kesukaan si Fahmi sewaktu SD katanya. Senanglah dia membuat video lomang-lomang lucu ini sambil menikmati senja di tepi pantai. 

Si Fahmi Kucing...
Ada Mas Sendy, fotografer andalan yang sudah melalangbuana ke seluruh pelosok Indonesia dan mengabadikannya lewat mata lensa. Hasil karyanya tak perlu diragukan lagi. Kalian bisa lihat karya-karyanya di National Geographic dan berbagai majalah nasional dan internasional. Begitu senja tiba, tentu saja dia melakukan hobinya, membidik senja lewat kamera yang selalu ia sebut sebagai "istri". Senangnya, Mas Sendy menawarkan kami menjadi modelnya. Duh, siapa yang nggak mau difoto oleh fotografer handal kan? 

Enaaaaa banget tiduran di pantai.... ( Photo by : Sendy A )

( Photo by : Sendy A )

Ada lagi kakak Indo eksotis, Kak Fiona Callaghan, The Adventuress. Dia selalu membawa GoPro dan tongkat narsisnya kemana-mana. Sewaktu senja itu, dia sibuk merekam dirinya dengan sang surya. Pasti cantik dua-duanya.

Ada lagi Om gembul kesayanganku, Om Bolang yang selalu bawa tentengan kamera dan DJI Osmo kesayangannya. Saat senja, dia sudah menyiapkan peralatan tempurnya untuk membuat timelapse, tak mau ketinggalan sedikit pun momen matahari terbenam. Tengok saja hasil-hasil videonya di akun social media atau youtube, mempesonaaaaa~ 

Photo by Fahmi Catperku
Ada lagi Sefin, gadis kicik imut yang sering dibilang mirip pemain utama AADC, Dian Sastro. She's even beautiful than DS, imho. Sefin yang selalu ceria dan menebar tawa ini senangnya main air. Begitu senja tiba, dia senang berendam di laut sambil menatap sendu ke arah matahari terbenam. Sempat bertanya apa yang dia lakukan berlama-lama jongkok di air. Beneran memandang senja atau buang air kecil? Hahahahaha....

( Photo by : Sendy A )
Yang terakhir ada Mas Him, orang ter-COOL sepanjang masa. Ketika kami heboh berfoto sambil loncat, berguling, bikin foto ala-ala, Mas Him pasti sibuk dengan "capung"nya aka Drone kesayangannya. Tak ayal jika akun social media-nya penuh dengan aerial photo.

Beragam cara yang dilakukan oleh saya dan teman-teman, semuanya menyenangkan. Meski awalnya sibuk dengan aktivitas favorit, di saat senja masih sedikit bersisa, kami sempatkan untuk foto bersama. Tentu saja sambil berdecak kagum dengan langit senja yang kami dapatkan sore itu.

(Photo by : Him )



Pulau Banyak, oh Pulau Banyak. Pesonamu memang luar biasa. Surely we will be back soon, next year ;)

Baca artikel lainnya tentang perjalanan ke Pulau Banyak ya ;)



Perjalanan ini adalah undangan dari Dinas Budaya Pariwisata Aceh . Saya dan teman-teman media serta blogger mengeksplor beberapa tempat wisata di Aceh Singkil. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaPulauBanyak #PesonaAcehSingkil #PesonaAceh #PesonaIndonesia

Berkeliling Pulau-Pulau Cantik di Pulau Banyak

Tuesday, December 29, 2015 2 Comments

3 hari rasanya nggak cukup untuk mengelilingi semua pulau yang ada di Pulau Banyak. Ya jelaslah ya karena total pulaunya ada 86. Mungkin butuh waktu berbulan-bulan untuk menginjakkan kaki di setiap pulaunya.

Jadi tahu kan alasan kenapa daerah ini disebut Pulau Banyak?

Saat berkunjung ke Pulau Banyak kemarin, kami diajak berkeliling pulau memakai kapal kayu berkapasitas 20 orang. Kapalnya asyik lho, ada TV, live music, dapur dan toilet. Ya beda-beda sedikit sama kapal pesiar.

Bertolak dari Pulau Balai, kami akan berkeliling pulau atau Island Hopping ke beberapa pulau di Pulau Banyak seperti Pulau Panjang, Pulau Ashok, Pulau Biawak, Pulau Lambudung, Pulau Tailana, Pulau Palambak Besar.  Andai saja kami punya waktu lebih banyak, pastinya semua pulau ingin kami jelajahi.


Pulau Tailana dari udara (Photo by : Himawan )
“Kalau ke Pulau Banyak, jangan lupa ke Bangkaru, Sat. Bagus banget!” mention seorang teman ketika melihat livetweet-ku di twitter.

Ternyata di Pulau Bangkaru kita bisa melihat Penyu Belimbing, Penyu Hijau dan Penyu Sisik. Jika beruntung, kita bisa melihat penyu-penyu ini bertelur. Tentu saja semua itu dilakukan diam-diam agar tidak mengganggu kenyamanan si penyu.

Selain itu, pantai-pantai di Pulau Bangkaru ; Pantai Amandangan dan Pantai Pelanggaran, merupakan spot surfing favorit dengan ketinggian ombak setinggi 5 meter di saat cuaca baik. Buat pecinta olahraga selancar, pastinya kepengen banget nyobain spot ini. Sayang sekali kami tidak sempat menyambangi dua pulau itu karena keterbatasan waktu.


Pulau Panjang (Photo by : Sendy A )
Datanglah pada pada bulan April – Agustus, saat musim angin timur menyapa Pulau Banyak. Perairan sangat tenang dengan cuaca cerah menemani sepanjang jalan.

Jika datang di akhir tahun seperti kami kemarin, bersiaplah untuk cuaca mendung. Kami sedikit beruntung karena cuaca mendung dan cerah bergantian. Pagi mendung, siang cerah terus sore mendung lagi. Tapi selama dua hari di sana, kami mendapatkan senja yang aduhai cantiknya.


Bersantai di Pulau Ashok (Photo by : Sendy A )



Selain Pulau Bangkaru, pulau yang tak kalah menariknya adalah Pulau Haloban atau Pulau Tuangku. Di pulau ini terdapat goa yang dapat kita susuri dan bukit setinggi 319 mdpl yang bisa didaki kurang lebih 2 jam dan melihat panorama pulau-pulau di sekitaran. 

Sebagai penyuka kegiatan outdoor seperti mendaki gunung, saya kepingin sekali ke Pulau Haloban. Sayangnya, lagi-lagi karena keterbatasan waktu, niat menjelajah Pulau Haloban diurungkan. Padahal Bupati Aceh Singkil, Safriadi Manik, sudah mendaki ke bukit di Pulau Haloban dan beliau langsung yang mengusulkan kita untuk cobain trekking di pulau itu. Maaf ya Pak, kunjungan berikutnya kita ke sana ya.

Kalau nggak bisa surfing, ngapain ya di Pulau Banyak?

Ya sudah jelas bersantai di pantai pakai hammock, snorkelling, mancing ikan yang langsung dibakar dan disantap. Duh sedap!


Leyeh-leyeh santai di Pulau Ashok (Photo by : Sendy A )

Salto-salto dari kapal asyik juga kan? ;)


Ohooo. Selfie is a mandatory here ;)
Kapal belum sandar sempurna di pantai, saya sudah tidak sabar untuk menceburkan diri ke laut jernih yang seakan memanggil. Duh, lihat air biru kehijauan yang berkilau ditimpa matahari, ya mana tahan. 
Semoga pesona Pulau Banyak di Aceh Singkil ini selalu terjaga ya. Butuh kesadaran dari semua pihak baik itu Pemerintah, masyarakat dan wisatawan untuk sama-sama menjaga kelestariannya.




Yaaaaa jadi siapa yang mau ke Pulau Banyak? Mau lihat video seru perjalanan kita? Coba klik video di bawah ini. (Video by : Bolang Lostpacker




Cara Menuju Pulau Banyak :

  • Bandara terdekat ke Pulau Banyak adalah Bandara Kuala Namu di Sumatera Utara. Begitu mendarat, kita akan melanjutkan 9 jam perjalanan ke Aceh Singkil.
  • Dari Pelabuhan Singkil, ada beberapa cara untuk menyeberang. Pertama, naik kapal Ferry ke Pulau Balai dengan harga tiket Rp 30.000,- dengan jadwal kapal 3 kali seminggu. Kedua, naik kapal nelayan seharga Rp 30.000,-. Ketiga, menyewa kapal nelayan atau speed boat dengan harga berkisar 1,5 – 2,5 juta.

Tips Mengeksplor Pulau Banyak :

  • Aceh adalah daerah yang menjunjung tinggi syariat Islam, ada baiknya kita mengenakan pakaian sopan dan tertutup saat ada di tempat umum.
  • Kita diperbolehkan untuk memakai baju renang asalkan di pulau kosong yang tidak berpenghuni. Begitu naik kapal dan kembali ke penginapan, sudah harus berpakaian lengkap lagi.
  • Bawa logistik sendiri baik itu air mineral, snack, makan siang karena tidak ada warung penjaja makanan dan minuman di pulau yang kita eksplor. 
  • Pastikan memakai sunblock untuk menghindari kulit terbakar.
  • Bawa properti lucu seperti hammock, pelampung untuk dibawa foto-foto di pantai kosong yang serasa milik sendiri.
  •  Meski yang kita datangi adalah pulau kosong, tetaplah sopan dan menjaga perilaku ya.


     Perjalanan ini adalah undangan dari Dinas Budaya Pariwisata Aceh . Saya dan teman-teman media serta blogger mengeksplor beberapa tempat wisata di Aceh Singkil. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaPulauBanyak #PesonaAcehSingkil #PesonaAceh #PesonaIndonesia

Thursday, December 24, 2015

Pulau Balai, Pintu Masuk Untuk Menjelajah Pulau Banyak

Thursday, December 24, 2015 4 Comments

Setelah 9 jam road trip seru menuju Aceh Singkil dari Medan, kami siap untuk mengeksplor pulau-pulau yang ada di Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil.

Aceh Singkil termasuk salah satu daerah yang mengalami kerusakan parah sewaktu bencana Tsunami Aceh 2004. Dari dermaga Singkil, terlihat satu bekas rumah yang pondasinya masih berdiri kokoh di atas laut. Meski tinggal rangka, rumah itu menjadi pengingat betapa dahsyatnya bencana 11 tahun silam.




Pulau Banyak juga tekena dampak nyata Tsunami. Gugusan pulau yang tadinya berjumlah 99, kini hanya tinggal 86 pulau saja. Wow! Butuh berapa lama ya untuk menjejak di setiap pulaunya? Bisa berbulan-bulan kali ya.

Sekitar 3 jam kami menaiki kapal perahu nelayan dari Pelabuhan Pulo Sarok di Aceh Singkil menuju Pulau Balai di Pulau Banyak. Ada juga kapal ferry yang melayani penyeberangan Aceh Singkil – Pulau Banyak namun hanya jadwalnya hanya tiga kali dalam satu minggu yaitu Senin, Kamis dan Jumat.



“Siap-siap ya. Sebentar lagi kita akan melihat fenomena alam di laut” ujar Bang Hasbie, pemandu kami.

DIbilang begitu, kami penasaran dengan fenomena yang dimaksud Bang Hasbie. Ada apakah?

“Nah, nah coba lihat itu air laut sebelah sana, warnanya biru dan coklat namun tidak bercampur” ujar Bang Hasbie sambil menujuk ke arah pertemuan air.



Seketika kami takjub dan mengabadikan fenomena itu dengan beberapa kali jepretan kamera. Memang benar adanya warna laut itu biru dan coklat namun tidak bersatu. Air coklatnya sendiri berasal dari sungai, mengalir ke muara dan akhirnya ke laut. Namun kenapa tidak bercampur? Itu yang menjadi pertanyaannya.

Buatlah diri masing-masing nyaman selama penyeberangan 3 jam ke Pulau Banyak. Bisa dengan membaca buku, mendengarkan musik, memotret, memancing, ikut mengemudi kapal (ini seru banget) atau pilihan terakhirnya tidur. Kalian mau pilih yang mana?



Begitu kapal menjadi lebih pelan, tahulah kami bahwa Pulau Balai sudah dekat. Dari kejauhan terlihat tambak, rumah, BTS dan perahu nelayan yang lalu lalang. Langit biru cerah, secerah hati kami, menyambut  kedatangan kami di Pulau Balai.



Selama di Pulau Balai, kami menginap di Homestay Nanda, yang ada di tepi dermaga. Turun dari dermaga, jalan sepuluh langkah sudah sampai.

Ibu pemilik homestay mempersilahkan kami masuk dan meminta menunggu sebentar karena makan siang sudah disiapkan. Hmmmm, pantas saja sudah ada bau-bau enak dari dapur. Nggak sabar untuk segera menyantap hidangan khas di Pulau Banyak. Tebakanku menu utamanya pasti seafood. Jelas dong ya, kan di Pulau Banyak, ikannya banyak dan segar-segar.

Untuk ukuran homestay di pulau, Homestay Nanda ini tergolong yang paling bagus di Pulau Balai. Kamarnya cukup luas dengan pendingin udara, televisi dan kamar mandi di dalam. Nyaman banget! Letaknya di pinggir laut pula.



Kami langsung menuju ruang makan begitu diajak menyantap makan siang. Benar saja menu utama makan siang kali itu adalah Ikan Panggang Pacak, ikan panggang berlumur bumbu kelapa parut yang dicampur kunyit. Setahu saya sih ini makanan khas Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, kampung saya sendiri. Tak disangka saya menemukan menu Ikan Panggang Pacak ini di Pulau Banyak. Duh kangennya…




Enaknya juga sama! Kami lahap dalam diam saking enaknya.

Sudah makan enak, rasanya kurang jika tidak membasahi kerongkongan. Panas-panas pasti enaknya minum jus dingin. Segeralah kami pesan beberapa gelas jus tomat, jus jeruk, jus timun. Hmmmm, setiap tegukan terasa segarnya. Apalagi kalau jusnya diseruput sambil melihat indahnya laut. Sedap betul!



Pulau Balai ini merupakan salah satu pulau di Pulau Banyak dengan jumlah penduduk terbanyak. Pulau ini juga menjadi pusat kecamatan Pulau Balai. Infrastruktur sudah tergolong baik, listrik  menyala 24 jam, air tawar tersedia cukup, sinyal juga oke (khusus Telkomsel saja).





Sebenarnya musim terbaik untuk mengunjungi Pulau Banyak adalah bulan Maret hingga September. Di bulan-bulan tersebut, pemandangan yang ditawarkan sungguh menawan dan membikin ketagihan.
Yuk kita keliling-keliling pulau di Pulau Banyak. Island Hopping!




Perjalanan ini adalah undangan dari Dinas Budaya Pariwisata Aceh . Saya dan teman-teman media serta blogger mengeksplor beberapa tempat wisata di Aceh Singkil. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaAcehSingkil #PesonaAceh #PesonaIndonesia




Tuesday, December 22, 2015

9 Jam Road Trip Seru Menuju Pulau Banyak

Tuesday, December 22, 2015 3 Comments

Selama ini saya hanya mengetahui bahwa Pulau Weh adalah satu-satunya spot di Aceh untuk wisata bahari.

Ternyata Aceh memiliki potensi bahari yang luar biasa di sisi selatan Aceh, tepatnya di Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil.

Jika dilihat di peta, Kepulauan Banyak ini dekat dengan perbatasan Aceh dan Sumatera Utara. Dipilihlah Medan sebagai tujuan penerbangan kami dari Jakarta sebelum melanjutkan perjalanan ke Aceh Singkil via darat selama kurang lebih 9 jam. Masih lebih dekat dibandingkan harus terbang ke Banda Aceh lalu menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 14 jam.



Setibanya kami di Bandara Kuala Namu (bandara yang paling keren di Indonesia menurutku), kami dijemput oleh Bang Hasbie, pemandu kami dari @keliling_aceh yang akan menemani perjalanan ke Pulau Banyak.

Dengan raut wajah ramah, Bang Hasbie menjelaskan bahwa perjalanan menuju Singkil akan ditempuh selama 9 jam.

“Tenang saja, tak bakal terasa lama karena jalanan mulus dan lancar”, ujar Bang Hasbie.

Sudah tahu bahwa akan menempuh perjalanan panjang, kami sudah menyiapkan amunisi.

Amunisi apa?

Snack yang banyak. Hahahaha…

Snack itu penting sekali. Perjalanan sejauh dan selama apapun akan nyaman jika stok makanan aman.
Melintas dari Bandara Kuala Namu ke pusat kota Medan lalu menuju ke arah Kabanjahe dan Sidikalang. Sepanjang jalan yang berliku-liku, kami tak henti-hentinya bergurau, agar terhindar dari rasa mual. Syukurlah jalannya mulus dan tidak berlubang jadi meski berliku tetap nyaman di jalan.

Menjelang tengah hari, kami berhenti di satu rumah makan di daerah Brastagi. Bang Hasbie merekomendasikan rumah makan ini karena makanan di sana lezat katanya. Agak sedikit terkikik ketika melihat papan nama rumah makan yang kami masuki.

“Warung Wajik & Pecel Bahagia Peceren”.

Jadi ini rumah makan atau warung yang menjual wajik dan pecel? Lalu nama daerahnya lucu pula. Peceren. Dalam bahasa Jawa, Peceren itu artinya selokan. Itulah alasannya mengapa kami tertawa.

Begitu duduk di dalam rumah makan, kami langsung disuguhi makanan pembuka yaitu wajik. Meski tampilannya mirip dengan wajik lainnya namun rasanya berbeda dengan wajik yang biasa saya makan. Teksturnya lembut dan tidak terlalu manis. Ya pantas saja namanya Warung Wajik karena mereka membuat dan menjual wajik yang otentik.




Karena makan wajik saja tidak membuat kenyang, kami memesan menu lain. Ada yang pesan Pecel (menu ini juga spesialisasi warung makan ini), Nila Cabe Ijo, Soto Ayam, Gado-gado, Cap cay. Semuanya makan dengan lahap sekali.



Memang benar kata Bang Hasbie bahwa rumah makan yang kami datangi ini menunya enak-enak. Semua piring cepat sekali ditandaskan. Kami semuanya keenakan, kekenyangan.

Kalian pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian setelah kekenyangan?

Yak! Mengantuk!

Tertidurlah kami sepanjang jalan berkelok-kelok sampai mobil terasa berhenti. Sambil setengah mengantuk kami bertanya kita sedang berhenti di mana. Bang Mirza, driver kami bilang berhenti sejenak untuk lihat air terjun di tepi jalan. Air Terjun Lae Pandaroh namanya.

Musim penghujan membuat debit air Air Terjun Lae Pandaroh lebih besar dan airnya berwarna cokelat (mungkin di hulu sedang hujan). Meski tidak tinggi, setidaknya air terjun ini bisa menjadi selingan yang menyenangkan di perjalanan darat kami.




Perjalanan menuju Aceh Singkil masih jauh dan memang ada baiknya jika berhenti sesekali untuk menikmati. Dengan begitu, lamanya perjalanan darat tidak akan terasa.

Melintas Kabanjahe, kami mengarah ke daerah Pak-Pak (bukan Fak-Fak yang ada di Papua ya) dan tibalah kami di Sarolangun, perbatasan Sumatera Utara dan Aceh.

Jalanan masih berliku dan seperti tidak ada habisnya. Kulirik jam dan kulihat pemandangan di luar kaca mobil. Di ufuk barat, awan-awan bergumpal berubah warna menjadi keemasan. Lalu kutolehkan kepala ke sisi timur, ada pelangi. Whoaaaaa….

Bisa dapat matahari terbenam dan pelangi dalam satu langit dan satu waktu benar-benar menjadi kejutan yang menyenangkan di awal perjalanan saya di Aceh.


Double Rainbow & Sunset di Subulusalam


“Sudah nggak lama lagi kita sampai di Singkil kok. Masih kuat kan?” tanya Bang Hasbie.

“Kalau duduk sih masih kuat Bang. Tapi perutnya udah nggak kuat alias lapar” jawabku.

“Hahaha. Iya nanti sesampainya di Singkil, kita langsung makan kok”, ujar Bang Hasbie.

Mobil kami melaju dan lagi-lagi kami tertidur sepanjang jalan. Tak terasa, kami sudah tiba di penginapan. Akhirnyaaaaaa….

Pergilah kami ke satu rumah makan untuk mengisi perut kami yang keroncongan. Meski rumah makannya sederhana, menu yang disajikan enak-enak semua.

Highlight makan malam kami adalah Lele Asap, ikan lele yang diasap hingga berwarna hitam pekat. Tersedia juga menu lainnya seperti udang, gulai ikan tongkol dan sayur pakis. Aduh enaknya! Semuanya kalap dan diam dalam lahap.


Lele Asap yang tidak menarik tampilannya tapi juara rasanya!




Ah, perut terisi kenyang. Hati senang.

Selesai makan malam, kami menghadiri acara penyambutan dulu oleh Bapak Bupati Singkil yang mengundang kami dalam perjalanan ini. Kami disambut tarian “Dampeng” yang merupakan tarian khas dari Aceh Singkil. 

Awalnya tarian ini dibawakan oleh muda-mudi Aceh Singkil yang lagak (cantik) dan tampan. Namun kemudian kami diberitahu bahwa yang biasanya menarikan tarian "Dampeng" adalah Bapak-Bapak. Jadilah kami dipertontonkan tarian "Dampeng" yang kedua kali, dibawakan oleh Bapak yang mengenakan songkok, pakaian tradisional Aceh.


Bersama Bapak Bupati Aceh Singkil, H. Syafriadi Manik & Ibu beserta penari "Dampeng".
Sepulangnya dari rumah Bapak Bupati, kami bebersih di penginapan dan bersiap untuk isthirahat.

Eh ternyata, keriaan belum terhenti.

Bang Hasbie tiba-tiba membawa pedagang durian lengkap dengan durian dagangannya di ke tempat kami menginap.

Duh, durian Aceh. Siapa yang bisa menolak kan? Meski sebenarnya kami semua sadar itu sudah larut malam dan sudah mengantuk berat. Godaan durian itu lebih berat dari rasa kantuk ternyata.

Jadilah kami mantengin Abang pedagang durian yang tak henti membelah durian dagangannya. Beruntung sekali Abang itu karena dalam satu malam dagangannya habis oleh kami. Hehehehe....




Sesampai di Singkil, kita tidak bisa langsung berangkat menuju Pulau Banyak karena kapal hanya tersedia di pagi – siang hari dan jarak tempuh ke Pulau Banyak itu cukup jauh. Jadilah kami harus menginap dulu di Singkil sebelum berangkat ke Pulay Banyak keesokan harinya.

Ah, kami sudah tidak sabar untuk mengeksplor Pulau Banyak…

Let’s go!

Perjalanan ini adalah undangan dari Dinas Budaya Pariwisata Aceh . Saya dan teman-teman media serta blogger mengeksplor beberapa tempat wisata di Aceh Singkil. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaAcehSingkil #PesonaAceh #PesonaIndonesia

Monday, December 14, 2015

Deg-degan Bertemu Si Komo, Komodo

Monday, December 14, 2015 8 Comments

Panas terik matahari yang membakar kulit tidak menyurutkan semangat kami untuk trekking di Taman Nasional Komodo. 

Peluh mengucur sebesar bulir-bulir jagung. Bukan karena kepanasan saja, tetapi deg-degan akan bertemu Komodo untuk yang pertama kalinya.

Kalian tahu apa itu Komodo?


Komodo adalah salah satu binatang purba yang masih bertahan hidup hingga saat ini selain hiu dan penyu. Mereka adalah hewan-hewan yang punya kemampuan survival yang hebat. 

Sebelum saya berangkat ke Taman Nasional Komodo, saya mencari tahu info-info dari google. Dari hasil pencarian itu, saya melihat bahwa siapapun yang pernah berkunjung ke Taman Nasional Komodo pasti akan berdecak kagum dengan binatang besar nan lincah itu. Ah, semakin tak sabar aku ingin bertemu.



Butuh waktu sekitar 1 jam naik speed boat dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pulau Komodo. Syukurlah cuaca laut cerah dan tenang sepanjang jalan sehingga selama 1 jam kami tertidur di boat.

Begitu kapal mendarat di dermaga Pulau Komodo, jantung saya berdegup. Sebentar lagi saya akan bertemu dengan Komodo, binatang yang resmi menjadi New Nature Seven Wonders pada tahun 2012 lalu. Saat itu saya berharap rombongan kami beruntung untuk bertemu komodo, karena katnaya tak selalu pengunjung bisa bertemu dengan komodo. Untung-untungan memang.


Komodo tidak tinggal di dalam kandang, tetapi dibiarkan bebas di alamnya. Jadi pengunjung yang datang ke Taman Nasional Komodo tidak semuanya beruntung bertemu komodo. Disarankan tidak datang pada bulan Juli-September karena itu adalah musim kawin Komodo. Jika sedang musim kawin, komodo sangat sulit untuk dijumpai.

Ada tiga rute trekking yang ditawarkan ranger Taman Nasional di pintu masuk. Karena keterbatasan waktu, kami memilih rute medium track saja. Kunjungan berikutnya saya ingin sekali mencoba long track-nya.



Untuk short track, jarak yang ditempuh sejauh 1 km selama setengah jam melalui Palm Grove dan Frigata Hill. Jika memilih medium track sejauh 3 km kita akan melintasi Palm Grove, Water Hole, Sulphurea Hill, dan Frigata Hill selama kurang lebih 1.5 jam. Untuk Long track sejauh 4,5 km, kita akan diajak melalui Palm Grove, Water Hole, Megapode Nest, dan Dragon Nest.

Loh Liang adalah pintu utama di Taman Nasional Komodo, tempat kami akan memulai trekking bersama ranger. Ou iya, Loh Liang itu berasal dari kata "Loh" yang berarti lubang dan "Liang" yang berarti sarang. Jadi "Loh Liang" diartikan sebagai lubang sarang si Komodo.

Kamu tahu nama lain dari Komodo?

Ora!

Iya, itu nama lainnya. Sebelum nama komodo itu disematkan, orang Manggarai zaman dulu menyebut biantang komodo dengan nama Ora.

"Eh itu ada komodo jalan ke sini" ujar temanku.

Benar saja ada satu komodo bertubuh besar yang berjalan ke bawah pohon yang rindang lalu merebahkan dirinya di atas daun-daun gugur. Ternyata komodonya mau ngadem. 

"Komodo itu berdarah dingin. Jadi jika siang terik begini mereka akan berteduh di bawah pohon atau dekat semak-semak rimbun untuk mendinginkan tubuhnya" ujar Abang Ranger kami.

Bak artis Hollywood, si Komodo yang sedang bermalas-malasan di bawah pohon itu langsung menjadi sorotan utama kamera seluruh pengunjung TN Komodo yang ada di sekitar situ. Banyak sekali wisatawan asing yang membawa lensa untuk mendapatkan gambar terbaik dari Komodo yang selalu enggan didekati. 

Saya juga tak mau ketinggalan untuk mengambil fotonya meski saya deg-degan. Agak takut juga dia bangun dan lari mengejar kita.

Meski badan Komodo besar begitu, dia lincah lho. Saat berlari, kecepatannya mencapai 18 KM per jam. Wow! Dia juga bisa berenang lho! Mau lari kemana coba kalau dia mengejar kita? Makanya jangan macam-macam deh.

"Semoga nanti di jalur kita bisa bertemu lebih banyak lagi komodo. Ayo kita berangkat sekarang", ajak si Abang ranger.

Sebelum memulai trekking, Bang Ranger memberikan briefing singkat tentang apa saja yang harus diperhatikan saat trekking. Yang paling utama adalah jangan sampai memisahkan diri dari rombongan dan dilarang gaduh agar tidak menganggu komodo.

"Komodo itu paling berbahaya air liurnya yang mengandung bakteri mematikan. Penawarnya susah, hanya ada di Bali. Untuk ke sana saja sudah makan waktu lama. Jadi jangan coba-coba mendekat. Meski tak banyak bergerak, kalau sudah dikejar Komodo susah nanti", ujar Bang Ranger.

Kami mengangguk untuk setiap arahan yang diberikan dan berdoa bersama agar perjalanan kami dilancarkan, semua selamat dari air liurnya Komodo. Duh jangan sampai terkena ya.

Abang Ranger mengambil kayu bercabang dua yang ada di sebelah kiri pintu masuk. Kayu itu memang wajib dibawa ranger sebagai alat pelindung jika sewaktu-waktu komodo menyerang. 

Mulai menapaki jalur yang sudah diberikan petunjuk jelas, kami melihat banyak rusa-rusa berkeliaran. Sama seperti komodo, mereka hidup bebas di Loh Liang. Terlahir, hidup untuk menjadi santapan komodo. Kasihan juga ya.


Tapi yang lebih sedih sih begitu tahu ternyata Komodo juga memakan anaknya. Hiks. Kanibal ternyata dia.



Abang Ranger lalu menunjuk pohon-pohon Lontar yang banyak terdapat di sepanjang jalur dan menjelaskan bahwa pohon-pohon itulah tempat anak komodo menyelamatkan diri. 

"Anak Komodo biasanya berlindung di atas pohon hingga berumur empat tahun" kata Abang Ranger.

Meski begitu, bukan berarti selama-lamanya anak Komodo akan bertengger di atas pohon dan tidak turun mencari makan. Biasanya mereka turun pada pagi hingga siang hari untuk berjemur, minum dan mencari makan. Ketika hari sudah sore, mereka pulang ke kandang, ke atas pohon.

Ternyata kami hari itu beruntung. Hingga sore, total Komodo yang saya jumpai sekitar 20 ekor baik yang di Pulau Komodo atau Pulau Rinca. Ukurannya pun berbeda-beda. Mulai dari yang masih kecil hingga yang sudah berusia 45 tahun, saya jumpai semua.

Hari yang begitu menyenangkan dan mendebarkan ketika akhirnya bisa bertemu dengan Varanus komodoensis alias si Komodo. Semoga mereka tidak punah dan terus mampu beradaptasi agar tetap bisa dilihat langsung oleh anak cucu kita nantinya.

Keragaman alam dan budaya adalah pesona Indonesia. Tentu saja Komodo, si Nature 7 Wonders termasuk di dalamnya. Yuk berkunjung ke Taman Nasional Komodo.

Tips Trekking di Pulau Komodo :


  • Pakai sepatu! Ini penting! Bukan karena kita sedang berlibur di pulau dan pantai jadinya tidak membawa sepatu. Tidak harus sepatu gunung asalkan nyaman dan bukan sepatu ke mall.
  • Pakailah baju berbahan katun atau quick dry agar lebih nyaman. 
  • Pakailah sunblock dan jangan lupa untuk mengoleskannya lagi ke wajah dan tubuh setiap 2 jam sekali.
  • Topi juga jangan lupa agar kepala tidak langsung tersengat panas.
  • Bawalah tas kecil yang berisi air mineral dan cemilan saat trekking. Jika kelelahan bisa isthirahat sejenak.


     Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Saya dan teman-teman media serta blogger mengeksplor beberapa tempat wisata di Flores. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaFlores #PesonaIndonesia #SaptaNusantara.



Follow Us @satyawinnie