Minum bandrek dari gelas mah sudah biasa ya? Gimana kalau misalnya kita nyobain minum bandrek dari batok kelapa dan dengan daging kelapa juga di dalamnya. Apa ya rasanya?

Nah, kalau temen-temen mau nyobain, datang aja ke Bandrek Batok Abah Ili di Sumedang. Kalau aku sih nyebutnya ini Bandrek remang-remang. Soalnya gelap bener warungnya. Di warung sederhana yang didirikan dengan potongan kayu kasar dan berlantai tanah, hanya ada dua lampu sempor yang menjadi sumber penerangan. Melihat muka orang dengan jelas aja susah. Hahaha. Sampai saya waktu mau foto-foto merasa agak canggung dan nggak enak, takut pengunjung yang lain terganggu dengan lampu blitz kamera saya. Hehehe.

Warung bandrek remang-remang Abah Ili.
Cuma, disitulah sensasi unik dan ciri khas dari Bandrek Abah Ili ini. Begitu duduk, saya dan teman saya, Boa, memesan dua batok bandrek yang hanya dihargai Rp 3000. Walau murah harganya, rasanya juara. Enak banget diminum di malam hari yang dingin semriwing.



Awalnya saya heran ketika melihat di dalam bandrek saya ada potongan daging kelapa. Agak aneh aja gitu biasanya minum bandrek susu, sekarang minum bandrek dengan daging kelapa. Ternyata pas dicoba rasanya enak ya...

Untuk menemani kita minum bandrek, tersedia beberapa gorengan dan kue-kue pasar untuk kita santap. Di atas meja ada kue klepon & kue bubur lolos. Baru pernah denger pula itu kue bubur lolos. Tetapi begitu masuk ke mulut dan meleleh, aku langsung menaruh kue ini di daftar makanan favoritku. Kuenya dibuat dari tepung beras dan gula merah, dibungkus daun pisang. Enak banget! 

Klepon, gorengan dan bubur lolos :)
Abah Ili memulai usaha bandreknya dari tahun 1997. Sewaktu kami datang, yang sedang meracik bandrek adalah Kang Hendar, anaknya Abah Ili. Saya mengobrol sebentar dengan Kang Hendar tentang bandreka enak buatannya.



Kang Hendar mengatakan bahwa resep itu adalah resep asli Bapaknya, Abah Ili. Ketika aku bertanya tentang mengapa warungnya tidak dialiri listrik saja, beliau menjawab banyak pelanggan yang protes.

"Iya dulu itu sudah pernah dialirin listrik 5 watt, eh pelanggan nya protes. Lebih senang sama penerangan kayak begini (lampu sempor) katanya" jawab Kang Hendar.

Ahahaha, lucu juga ya warung Abah Ili ini. Walau tempatnya kecil dan hanya bisa menampung 20 orang, tempatnya selalu ramai oleh pengunjung. Warung ini buka dari jam tiga sore sampai tengah malam.

Warung Bandrek Abah Ili ini berlokasi di Jalan Prabu Tadjimalela, ada di sebelah rumah makan Kampung Tahu. Tanya saja kepada masyarakat sekitar jika tidak menemukannya di GPS. Cari warung yang paling remang-remang di jalan itu ya ;)

Di Curug Cinulang
Bulan bentang narembongan

Hawar-hawar aya tembang
Tembang asih tembang kadeudeuh duaan

Di Curug Cinulang
Batin ceurik balilihan
Numpang kana panghareupan
Cinta urang mugi asih papanjangan

Kabaseuhan cai kaheman
Kaceretan ibun kamelang
Mengket pageuh geter rasa kahariwang
Hariwang cinta urang panungtungan


Sekiranya itulah sepucuk lagu dari (Alm) Darso tentang Curug Cinulang, curug (air terjun ) yang letaknya tidak jauh dari kota Sumedang / Bandung. Paragraf pertama lagu itu kurang lebih artinya begini (minta diterjemahkan sama teman yang jago basa Sunda) ; Di Curug Cinulang, bulan bintang menampakkan diri, terdengar ada nyanyian, nyanyian lagu favorit berdua.

Tjieeeh, mesra banget ini lagunya ya. Hahaha. Curug ini memang terkenal sebagai tempat untuk memadu kasih nih sejak dulu. Biasanya pasangan-pasangan di desa sekitar berjalan kaki hingga ke curug lalu mandi menyegarkan diri di curug. Dulu sih jalannya masih jalan setapak tanah berbatu. Kalau sekarang jalannya sudah beraspal mulus, jadi bisa naik motor atau mobil. Walau begitu kita mesti ekstra hati-hati berkendara karena jalanannya sempit.

Selama perjalanan menuju Curug Cinulang dari Sumedang, kami disuguhkan pemandangan pematangan sawah yang masih hijau. Udaranya yang sejuk membelai-belai wajahku. Begitu tiba di gerbang curugnya, ternyata kita harus menuruni tangga-tangga batu dan tanah untuk sampai ke curug, Turunnya hati-hati ya karena kalau terpeleset pastinya sakit banget. 

Pemandangan di tepi jalan menuju curug Cinulang...
Jalannya kecil sekali...


Sawah hijau membentang memanjakan mata...
Curug Cinulang ini terletak di tengah Sumedang dan Bandung, di kawasan hutan lindung Masigit Kareumbi. Kalau dari kabupaten Sumedang sekitar 1 jam dan 1,5 jam dari kota Bandung. Senangnya sewaktu saya datang kesana bersama teman saya Boa, tempatnya sedang sepi. Cuma ada kami berdua dan tiga akang-akang yang sedang bermain di sekitar curug. Mungkin karena hari biasa ya, bukan akhir pekan jadinya agak sepi. Dari belasan warung yang ada disana, cuma dua warung yang buka. 

Pintu masuk ke Curug Cinulang. Kita mesti menuruni puluhan tangga untuk sampai di curug :)
Sayangnya air nya sedang berwarna cokelat karena di hulu ada yang sedang membuka kolamnya, kata Akang Endang, penjaga di pintu masuk.
Warung-warung kopi menjamur di sekitaran curug. Karena hari biasa, warungnya kebanyakan tutup.


Kenapa curug ini dinamakan Cinulang? Katanya sih karena diambil dari kata "dulang" yang artinya tempayan. Jadi, cinulang ini ibarat air yang ditumpahkan dari Dulang. Tinggi curugnya sekitar 50 meter. Tempias air nya cukup kuat sehingga saya tidak berani berdiri di bawah air terjun nya. Pasti rasanya kayak kejatuhan batu berton-ton.

Oh ya, curug ini juga punya mitos loh. Konon katanya kalau datang berdua ke curug ini nanti dijamin putus sama pacarnya, tetapi kalau datangnya sendirian, bisa dapat jodoh di curug Cinulang. Ya kali! Aku sih cuma ketawa aja waktu dikasitahu mitos ini. Hahaha.

Sewaktu saya mengunjungi Curug ini kemarin, saya merasa beruntung karena datang pada saat yang tepat. Kami tiba sekitar jam 3 sore, tepat ketika matahari sedang menyinari air terjun ini. Dan apa yang aku dapat? PELANGI! Yes! A Rainbow... Senang sekali aku...

Beautiful rainbow. Isn't it? ;)

Duo bolang yang lagi maen ke Curug, aku dan Boa :)
Untuk biaya masuk dikenai Rp 5000 per orang dan Rp 10000 untuk parkir mobil. 

Selamat bersantai di Curug Cinulang... Yang jomblo boleh loh kesini, siapa tahu ketemu jodohnya. Hahaha *peace* Jadi marilah kita namakan Curug ini Curug Cari Jodoh ya ;)



Semua orang pernah jatuh cinta, semua orang pernah patah hati. Tapi pernahkah kau temukan kedua hal itu disulap menjadi seni? Pastinya pernah. Entah itu berwujud syair lagu, puisi atau lukisan. Karena baik hati yang berbunga-bunga ataupun berduka, keduanya punya kekuatan mencipta yang sama besarnya.

Kalau di India ada Taj Mahal yang menjadi perlambang cinta Shah Jahan kepada istrinya, Arjumand Banu Begum (Mumtaz Mahal), di Indonesia ada Museum Affandi yang aku sebut museum cinta sejati. Walau ada cerita patah hati juga sih di dalamnya.

Kenapa? Begini ceritanya...

Museum Affandi didirikan oleh seorang maestro seni lukis Indonesia yaitu Affandi (1907 - 1990) pada tahun 1974. Sebenarnya galeri I sudah dibuka untuk umum sejak tahun 1962, namun baru diresmikan tahun 1974 oleh Prof Ida Bagus Mantra, Direktur Kebudayaan Umum saat itu.

Di kompleks museum seluas 3.500 meter persegi ini terdapat tiga buah galeri, satu tempat pembelian tiket, dua studio dan bangunan rumah tinggal Affandi dan keluarganya yang kini berubah fungsi menjadi Kafe.

Setiap pengunjung mendapatkan booklet seperti itu. Oh ya, saya suka sekali pohon itu :)
Seluruh pengunjung museum ini akan diajak berkeliling museum sesuai urutan. Pertama-tama kita akan dipandu ke Galeri I baru ke Galeri II dan Galeri III. Saya senang sekali dengan keramahan seluruh pegawai di Museum ini. Mereka juga pintar menjelaskan makna dan latar belakang setiap lukisan Pak Affandi.


Di Galeri I kita akan disuguhkan lukisan-lukisan yang bercerita tentang kehidupan pribadi Pak Affandi. Lukisan pertama yang saya lihat adalah self-portrait Affandi ketika masih muda.

"Mbak Satya coba geser kesini sedikit deh, lihat dari sudut ini. Kasitahu saya apa yang Mbak lihat" kata Mas-mas Guide nya (maaf Mas aku lupa nama kamu)

Saya kemudian bergeser dari yang tadi melihat dari sisi kanan lukisan menjadi dari sisi kiri. Saya perhatikan seksama lukisan itu dan memang ada yang berbeda. Di belakang Affandi terlihat sesosok bayangan pria yang memang hanya terlihat dari sisi itu, Kalau saya bergeser lagi, bayangan nya tidak terlihat. Pastinya susah untuk membuat lukisan seperti itu ya. Keren bangetlah pokoknya.

Mas Guide nya bilang bahwa itu adalah sosok Bapak-nya Affandi (sopan nggak sih manggil Affandi aja? Nggak apa-apa ya?) yang tidak pernah beliau lihat sejak kecil walau disebutkan Bapaknya dulu adalah seorang mantri ukur di pabrik gula di Ciledug, Cirebon.

Selain Bapaknya, Affandi juga melukiskan Ibu-nya. Ada satu lukisan yang membuat saya terenyuh yaitu lukisan seorang Ibu yang sudah tua lesu lunglai memasuki kamar. Walau wajahnya tidak terlihat seluruhnya, saya entah mengapa merasa sedih. Lukisan itu dibuat Affandi ketika akan berangkat melanjutkan sekolah ke India dimana ujung-ujungnya beliau kembali ke Indonesia setelah ditolak di India. Katanya Affandi sudah terlalu hebat dan tidak perlu lagi bersekolah disana.

Lukisan yang menggambarkan kesedihan Ibu Affandi ketika akan ditinggal pergi anaknya.
Beranjak dewasa, Affandi bertemu dengan perempuan asal Bogor bernama Maryati. Maryati adalah cinta pertama, cinta terakhir, cinta sejati Affandi. Buah hati pernikahan mereka adalah seorang perempuan yang diberi nama Kartika yang kelak menjadi pelukis hebat seperti Bapaknya.

Maryati dan Kartika. Mas-mas guide nya bilang ini adalah salah satu mahakarya Affandi karena berhasil membuat lukisan dalam lukisan, painting on painting.
Ada banyak lukisan dimana Maryati dan Kartika yang menjadi modelnya. Ada pula lukisan Maryati sedang telanjang bulat tetapi dari belakang. Lukisan itu dibuat ketika Affandi ingin belajar melukis anatomi tubuh tapi belum sanggup membayar model. Maryati kemudian menyanggupi namun karena merasa malu, hanya mau dilukis bagian belakangnya saja.

Seluruh lukisan di Galeri I adalah lukisan yang menceritakan sejarah hidup Affandi dan keluarganya. Oleh karena itu tak ada satupun lukisan di Galeri I yang dijual. 

Selain lukisan, di Galeri I juga terdapat mobil Colt Gallan tahun 1976 kesayangan Affandi, sepeda onthel, lemari kaca berisikan peralatan melukis Affandi mulai dari celana (Affandi memiliki kebiasaan mengelap tangannya sehabis melukis ke celana sehingga celananya warna-warni), kuas, cat, ember, kain sarung beserta piagam / penghargaan yang pernah beliau terima semasa hidup. Tak lupa ada 2 patung potret diri yang terbuat dari tanah liat dan semen menampilkan wajah Affandi, juga satu patung Affandi dan Kartika.

Colt Gallan 1976 dan sepeda onthel kesayangan Affandi yang dipamerkan di Galeri I.
Kursi yang dibuat dari gelondongan kayu ini ketebak banget datang dari mana. Yap, Bali :)
Puas berkeliling di galeri I, kita diajak ke galeri II yang berisi lukisan Affandi dan pelukis lain seperti Basuki Abdullah, Popo Iskandar, Hendra, Rusli, Fajar Sidik dll. Sempat saya bertanya iseng-iseng harga lukisan di galeri II kepada Mas Guide nya. Kisaran harganya 3 miliar hingga puluhan miliar. Iya, miliar bro! Satu lukisan udah bisa beli berapa rumah ya kira-kira? Hahaha.

Galeri II yang berisi lukisan Affandi bersama sahabat-sahabatnya. Lukisan di galeri ini dijual untuk umum.
Di galeri III dikhususkan sebagai tempat memajang lukisan Maryati, Kartika dan anak dari istri kedua Affandi, Rubiyem yang diberi nama Juki Affandi. Tak kalah keren hasil lukisan mereka dibanding lukisan-lukisan Affandi. Ya, namanya juga sedarah, keluarga nyeni. 

Galeri III yang berisi hasil karya istri dan anak-anak Affandi.
Maryati karena senang menyulam, membuat beberapa lukisan dengan teknik sulam. Sedangkan Kartika, putri semata wayang Affandi memiliki selera yang mirip dengan Bapaknya. Ada beberapa lukisan yang menurutku seperti coretan ngasal tetapi setelah diperhatikan seksama, ternyata bermakna dalam.

Ada beberapa lukisan yang menggambarkan luapan kesedihan, kekecewaan Kartika terhadap suaminya yang berselingkuh disaat rumah tangga mereka sudah dikaruniai delapan orang anak. Wajar ia marah, kecewa. Mungkin aku pun merasakan hal yang sama jika berada di posisinya. Semua wanita kurasa.

Salah satu lukisan kesedihan Kartika, "Tidak Adil" (Juni 1999)
Judul-judul lukisan itu adalah "Apa yang Harus Kuperbuat" (Januari 1999), "Apa Salahku, Mengapa Ini Harus Terjadi" (Februari 1999), "Tidak Adil" (Juni 1999) dan "Kembali Kepada Realita Kehidupan, Semuanya Kuserahkan Kepada-Nya" (Juli 1999)

Di Galeri III juga terdapat satu LCD TV yang memutar video dengan durasi 45 menit. Video itu dibuat dalam bahasa Inggris dengan subtitle bahasa Belanda. Aku rasa video itu dibuat tahun 80-an sebelum Affandi wafat pada tahun 1990.

Karena durasinya cukup panjang, saya hanya menonton setengahnya saja. Ada beberapa kursi di depan TV yang membuat kita bisa duduk nyaman menonton video tadi. Di video itu, diperlihatkan Affandi sedang melukis barong di Bali dan melukis di Parangtritis. Dibantu oleh beberapa asisten, Affandi terlihat sangat luwes memainkan tangannya di atas kanvas. Ya, Affandi memang lebih suka menumpahkan cat ke atas kanvas lalu tangannya sendiri menari-nari membentuk gambar yang beliau inginkan.

Namun, ada satu yang membuat saya terharu ketika menonton video itu. Dalam satu sesi, Affandi berkata seperti ini...

"Maryati is my one and only, I love her from the deepest of my heart. She's my wife and my forever love"

Kemudian terlihatlah video Affandi dan Maryati yang sudah lanjut usia saling bersentuhan hidung ke hidung kemudian tertawa bersama sambil berangkulan mesra. Saya sebagai perempuan langsung meleleh... Siapa sih perempuan yang tidak bahagia jika dicintai sebegitu dalamnya oleh seorang lelaki, bahkan hingga Ia sudah kehilangan daya tarik fisik, ketika keriput sudah tak bisa dihindari. Maryati benar-benar beruntung memiliki seorang suami seperti Affandi.

Foto yang memperlihatkan Affandi sedang melukis dan kemesraannya dengan istri tercinta, Maryati.

Makam Affandi dan Maryati berdampingan di antara Galeri I dan Galeri II
Lalu mengapa Affandi punya dua istri kalau memang dia sangat mencintai Maryati? Itu adalah pertanyaan yang mengusik saya ketika tahu bahwa istri Affandi ada dua. 

Saya lantas bertanya kepada si mas guide dan dia menjelaskan ada alasannya mengapa Affandi menikahi Rubiyem, istri keduanya. 

Jadi, Affandi sangat menginginkan anak laki-laki. Namun karena Maryati tidak bisa mempunyai anak lagi, ia menyarankan Affandi untuk memperistri orang lain. Affandi yang sangat mencintai Maryati menolak mentah-mentah ide tersebut. Namun, Maryati terus memaksa Affandi sehingga Affandi tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan istrinya. Affandi menyetujuinya dengan beberapa syarat.

Pertama, perempuan itu tidak boleh lebih cantik dari Maryati. Kedua, tidak boleh lebih pintar dari Maryati dan ketiga tidak boleh mengatur keuangan rumah tangga mereka. 

Lalu, dikenalkanlah Affandi kepada Rubiyem, gadis belia yang umurnya belum 18 tahun dan terpaut 40-an tahun dengan Affandi. Buset, muda banget si Rubiyem nya ya. Tanpa rasa cinta sebesar cintanya ke Maryati, Affandi pun mempersunting Rubiyem dan lahirlah Juki Affandi.

Jika ditilik, cukup rumit juga kisah cinta keluarga Affandi ya. Itu mengapa saya beri judul tulisan ini museum cinta sejati dan patah hati karena memang semuanya tergambarkan di museum ini.


Selain ketiga galeri tersebut, yang menarik hati saya adalah gerobak besar yang kini difungsikan sebagai mushola. Sebelumnya, gerobak itu adalah sebuah kamar, lengkap dengan dapur yang dibangun Affandi untuk Maryati. Maryati awalnya menginginkan caravan agar bisa berpindah-pindah tempat namun Affandi berpikiran lain. Gerobak tersebut disulap menjadi sangat unik dan dipakai Maryati sebagai tempat isthirahat siang dan menyulam. 

Semula minta caravan, jadinya gerobak. Tapi gerobak ini keren menurutku :)

Salah satu lukisan sulam yang dibuat oleh Maryati.
Selain keempat tempat tadi, ada dua studio yang terletak di dekat taman yang diberi nama Studio Gajah Wong (karena lokasi museum ini persis di tepian Sungai Gajah Wong), Studio Gajah Wong I dipakai untuk ruang pamer dan Studio Gajah Wong II dipakai sebagai tempat belajar melukis untuk anak-anak dan dewasa.

Studio Gajah Wong, tempat berlatih melukis untuk anak-anak.
Jika sudah puas berkeliling, kita bisa bersantai di Kafe Loteng. Setiap pengunjung bisa menukarkan tiket masuk dengan sebotol minuman dingin atau es krim. Saya memilih es krim coklat yang rasanya enak. 

Saya senang sekali dengan lantai di cafe Loteng. Cantik.
Boneka Affandi yang dulunya dipakai untuk arak-arakan acara kesenian di Jogja dan sekarang diletakkan di depan Kafe Loteng.
Coba tebak ini apa? Tangga :D

Terima kasih Finna dari Aceh (kiri) dan  Kak Like (kanan) serta Hafiz (yang motoin) yang jalan-jalan bareng ke museum Affandi. That was fun :)
Ki-ka : Like, Hafiz, Finna, Satya :)
Museum Affandi ini berlokasi di Jalan Laksda Adisucipto 167. Jogjakarta. Kalau kamu mau tanya-tanya dulu boleh hubungi mereka di (+62) 274-562593 atau via email di affandimuseum@yahoo.com atau buka langsung website nya di sini.

Museum Affandi buka setiap hari dari pukul 09.00 - 16.00 WIB kecuali hari libur nasional. Tiket masuk untuk wisatawan domestik Rp 20.000,- (free softdrink / icecream) dan wisatawan mancanegara Rp 50.000,- (free softdrink & souvenir)

Oh iya, jika kamu ingin mengambil foto ada tambahan biaya lagi. Rp 10.000,- untuk kamera handphone dan Rp 20.000,- untuk kamera digital :)

Selamat menikmati museum Affandi :)
Pic : wiranurmansyah.com
Jika saya diminta untuk memilih jalur mana yang akan saya pilih untuk mengelilingi Indonesia, saya akan memilih jalur darat. Walau akan memakan waktu yang lama, saya tetap memilih jalur darat karena saya bisa berhenti kapan saja semau saya, memanjakan mata, menyesap sedapnya perjalanan saya seutuhnya.
“A good traveler has no fixed plans and is not intent on arriving.” 

― Lao Tzu
Pepatah di atas benar-benar menggambarkan pandangan saya terhadap satu perjalanan. Bahwasanya, kita tidak melulu memikirkan harus mengunjungi tempat-tempat yang sudah sangat familiar, tetapi juga berani untuk berbelok dari rencana awal dan menikmati setiap kejutannya.

Salah satu pengalaman tak terlupakan adalah perjalanan road trip selama 10 hari mengelilingi Jawa dan Bali bersama teman-teman kampus. Uang kami kala itu pas-pasan untuk biaya bahan bakar saja, tapi kami tetap berangkat dan percaya bahwa perjalanan kami akan menjadi perjalanan yang luar biasa. 

Perjalanan road trip Jawa - Bali waktu itu benar-benar meninggalkan kesan yang menyenangkan bagi saya. Kemudian saya bertemu dengan teman lain yang juga baru pulang dari road trip selama 2 minggu menjelajah pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Wah, itu perjalanan impian saya! Dengan antusias saya mendengarkan cerita dari teman saya tadi. Supaya tidak lupa, saya ingin menuliskan ceritanya di blog ini.

Temanku ini bercerita kalau dia road trip selama 2 minggu naik Daihatsu Terios. Wah, itu salah satu mobil kesukaan saya karena dari penampilannya terlihat tangguh untuk dibawa jalan darat dalam waktu lama. Dia juga bilang kalau mobilnya nyaman banget dan tidak membuatnya capek walau harus duduk berjam-jam. Selama perjalanan, mobilnya tidak pernah "ngambek" alias mogok. Saya langsung mupeng (muka pengen) gitu karena dulu waktu road trip Jawa - Bali, kami harus berhenti beberapa kali di bengkel karena mogok. Hiks.

 Keberangkatan dari Jakarta (pic : wiranurmansyah.com )
Tak hanya itu, teman saya juga bercerita bahwa Daihatsu Terios sangat cocok untuk jiwa-jiwa petualang seperti kami. Dengan mesin Eliable Engine 1.5 DOHC VVTi, sistem audio yang terintegrasi langsung dengan kemudi, Electric Power Steering dan sistem suspensi Optimal Comfort dan High Ground Clearance, Daihatsu Terios cocok menyandang gelar 'Sahabat Petualang'. Siapa juga yang tidak mau jalan-jalan dengannya?

Perjalanan mereka berawal dari Jakarta. Ada 7 mobil Daihatsu Terios yang akan membawa temanku dan rombongannya. Enak betul ya kalau road trip jalannya beriring-iringan begitu. Ini dia cerita serunya.


Say Hi to Sawarna....

Setelah menempuh 185 KM dari Jakarta, tibalah tim 7 Wonders di Desa Sawarna, Bayah, Banten. Sawarna memang pas dijadikan salah satu destinasi road trip karena sepanjang jalan akan disuguhkan pemandangan yang menakjubkan. Walau jalannya berliku-liku, tim tetap berasa nyaman karena ada hiburan di kabin yaitu Monitor Double DIN. Mereka asyik berdendang, menikmati alunan musik hingga tak ada satupun yang merasa mual. 

Tanjung Layar, Sawarna (pic : wiranurmansyah.com )
Saya yang sudah mengunjungi desa Sawarna beberapa kali tentu saja angguk-angguk setuju ketika teman saya menceritakan betapa indah dan menyenangkan desa kecil itu. Pesonanya nggak habis-habis dari matahari terbit hingga matahari terbenam. Pantai Tanjug Layar saat matahari terbit dan Pantai Ciatir saat matahari terbenam adalah spot favorit yang wajib dikunjungi jika berkunjung ke Sawarna.

Magnificent Merapi...

Sudah puas jadi anak pantai, tim ingin merasakan menjadi anak gunung. Tim melanjutkan perjananan 7 Wonders mereka ke Gunung Merapi. Hampir 20 jam di perjalanan tidak membuat semangat mereka surut. Kondisi badan dan kendaraan yang fit memang menjadi faktor utama dalam kenyamanan perjalanan khususnya jarak jauh. 

Tangguh di medan berpasir dan berbatu (pic : wiranurmansyah.com )
Biasanya hanya Jeep yang melintas.Ternyata Daihatsu Terios juga bisa. Bravo! ( pic : wiranurmansyah.com )
Merapi memang punya daya tarik magis yang kuat. Tim melintasi medan berpasir, bukti nyata erupsi Merapi tahun 2010. Dengan medan yang tergolong cukup sulit dan biasanya dilintasi mobil jeep, Daihatsu Terios membuktikan bahwa dia juga bisa. Wah, makin jatuh hati saya pada mobil ini.

Tak selamanya gelap menjadi gelap, ada saatnya kembali terang. Sama seperti bencana alam tak selamanya menjadi petaka dengan melihat sisi lainnya. Walau pedih, masyarakat di desa Kinahrejo, desa yang mendapat dampak paling parah saat erupsi 2010, mencoba untuk bangkit. Bukti nyata bahwa rumah mereka diluluhlantakkan, kini disusun apik di museum Swadaya, Museum Sisa Hartaku. Selain mengunjungi museum, kita juga bisa mengikuti Merapi Lava Tour dengan mobil jeep atau motor trail. Dari cerita tersebut, saya belajar setiap hal buruk yang terjadi dalam kehidupan kita pun bisa menjadi berkah, tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Bekasi erupsi merapi yang kini dimuseumkan (pic : wiranurmansyah.com )

(pic : wiranurmansyah,com )
Saya terharu pula ketika teman saya bercerita mereka tidak hanya melakukan perjalanan ke Merapi, foto sana foto sini, tetapi juga membawa misi sosial. Untuk mengubah pemandangan abu-abu menjadi hijau, tim  7 Wonders bersama Daihatsu menyumbangkan dan menanam 10 ribu pohon. Kita semua tentu saja ingin Merapi cepat pulih ya. Terima kasih Daihatsu...

Simbolis penanaman 10 ribu pohon di Merapi (Pic : wiranurmansyah.com )

A Sky Full of Stars in Ranupani...

Setelah menempuh belasan jam, tak terasa, tim sudah tiba di Jawa Timur dan langsung menuju Ranupani. Rute awal yang seharusnya Tumpang - Ngadas - Njemplang - Bantengan - Ranupani diubah menjadi Tumpang - Dampit - Candipuro - Senduro - Ranupani. Jalur yang kedua membuat perjalanan molor, lebih lama 5 jam dari waktu tempuh jalur pertama. Tapi tim tak ambil pusing, karena Daihatsu Terios membuat mereka nyaman selama perjalanan. 

Mejeng di bawah langit berjuta bintang :) (pic : wiranurmansyah,com )
Jalur kedua yang mereka lewati lebih parah daripada Sawarna. Tak hanya berkelok-kelok, jalannya juga naik turun dengan kondisi jalan berlubang dan berbatu besar. Syukurlah karena mesin 1495 cc 4 silinder DOHC VVTi, tenaga 109 dk/6000 rpm dan torsi 145 Nm/4400 rpm yang dimiliki Daihatsu Terios, tim tiba dengan aman, nyaman, selamat di Ranupani, desa kecil di Lumajang, Jawa Timur yang menjadi titik pos terakhir sebelum mendaki Gunung Semeru, tempat bersemayamnya Dewa-Dewi.

Dinginnya udara di Ranupani membuat tim ingin mencari yang hangat-hangat. Mereka berkumpul di 'pawonan' atau dapur. Bagi orang Tengger, dapur tidak hanya menjadi tempat memasak, tetapi sebuah ruang keluarga yang hangat. Mereka bisa berbagi cerita, bersenda gurau sambil menyesap teh / kopi hangat. Tim juga disuguhi dengan makanan lokal seperti ganyong, semen, nasi jagung dan lainnya.

Menghangatkan diri di 'pawonan' (pic : e-Magz 7 Wonders Hidden Paradise)
Setelah sebelumnya tidur di kasur empuk, tim kali ini memutuskan untuk tidur di dalam tenda. Ah, memang tidur di dalam tenda itu paling asyik. Apalagi kalau semua penerangan dimatikan. Kita bisa menikmati langit berjuta bintang sepuasnya. Apa yang lebih asyik dibandingkan tidur diselimuti bintang? :)

Apa yang lebih menyenangkan dari ini? (pic : wiranurmansyah.com )
Lagi-lagi tim Daihatsu 7 Wonders memberikan kejutan yang menyenangkan di tempat yang mereka kunjungi. Kali ini di Ranupani, tim memberikan 14 buah sapu dan tempat sampah. Bantuan itu terasa pas mengingat isu kebersihan terkait maraknya wisatawan / pendaki yang naik ke Gunung Semeru. Sekali lagi, terima kasih Daihatsu...

Mystical morning in Ranupani (pic : wiranurmansyah.com )
Simbolis pemberian bantuan tempat sampah dan sapu di desa Ranupani (pic : wiranurmansyah.com )

Enjoy Africa Van Java, Baluran...

Salah satu destinasi yang memang tidak boleh dilewatkan jika kita mengunjungi Jawa Timur adalah Taman Nasional Baluran. Bagi yang sudah pernah berkunjung kesana pastinya berdecak kagum dan bertanya-tanya apa benar tempat ini memang ada di Indonesia. Hamparan savana seluas 25 hektar yang didiami banteng Jawa, rusa, kera, merak membuat kita merasa seperti di Afrika. Itu mengapa Baluran diberi julukan 'Africa Van Java'.

Baluran National Park (pic : wiranurmansyah.com )
Lagi-lagi ketangguhan Daihatsu Terios dibuktikan disini. Jalan berliku dan rusak tak jadi soal. Semua anggota dipastikan tetap nyaman selama perjalanan.

Ada banyak yang bisa kita lakukan jika mengunjungi Taman Nasional Baluran. Kita bisa menaiki menara pandang setinggi 5 meter untuk melihat TN Baluran 360 derajat atau mengikut Safari Night yang pastinya seru dan bikin deg-degan.

Senja di Baluran (pic : wiranurmansyah.com )
Sampai jumpa lagi Baluran, sampai jumpa lagi Jawa!


Lovely Lombok...

Begitu mendengar kata Lombok, apa sih yang ada di pikiran kalian? Kalau saya langsung kepikiran Ayam Taliwang yang pedas dan super lezat dan juga pantai-pantainya yang menawan hati.

Tarian Perang di desa Sade (pic : wiranurmansyah.com)
Tim 7 Wonders sudah menghabiskan berhari-hari di jalan dan setelah rehat sejenak di Bali, tibalah mereka di Lombok. Setelah sebelumnya perjalanan mereka didominasi perjalanan darat, kini mereka menyusuri tepi garis pantai di Lombok. Ah, saya sudah terbayang pemandangan pantai-pantai di Lombok yang menyuguhkan panorama yang mengagumkan.

 Beautiful road (pic : wiranurmansyah.com )
Menyusuri Bali - Lombok sejauh 158 kilometer tak membuat tim lelah, malah makin bersemangat. Karena belum banyak penunjuk jalan yang jelas, built-in GPS di Daihatsu Terios membuat tim tiba di destinasi yang belum familiar tanpa harus tersesat. 

Namun sebelum bersantai-santai di pantai, tim terlebih dahulu menyambangi Desa Sade Rambitan, Lombok Tengah, tempat pemukiman suku Sasak. Di desa ini, tim melihat keseharian suku Sasak, disambut tarian 'Gendang Gelik'. Ada pula tarian 'Paresean' yaitu tari perang, tari 'Amak Temengus' dan 'Petuk' menghibur para wisatawan yang datang ke desa Sade.


Kain Tenun Desa Sade (pic : harrismaul.com )
Lombok yang juga terkenal dengan tenun ikat nya membuat wisatawan manapun merasa wajib membawa buah tangan walau hanya selembar kain. Tak hanya membeli kain, kita juga bisa melihat proses pembuatannya mulai dari pemintalan benang, pewarnaan hingga ditenun. 

Lagi-lagi, tim memberikan senyuman di tempat yang mereka kunjungi. Kali ini di Lombok, mereka memberikan bantuan perangkat pendidikan kepada Pondok Pesantren Rambitan, Lombok. Terima kasih lagi Daihatsu...

Bantuan perangkat pendidikan (pic : harrismaul.com )

Puas mengelilingi desa Sade, tim kembali melanjutkan perjalanan ke Pink Beach, di Lombok Timur. Di Indonesia, Pink Beach ini hanya ada dua yaitu di Lombok dan di Taman Nasional Komodo. Sekitar 2 jam perjalanan dari desa Sade, tibalah tim di Pink Beach dan Tanjung Ringgit. Kondisi jalan yang memprihatinkan pastinya membuat badan kita pegal diguncang-guncang dalam mobil. Ah, syukurlah ini Daihatsu Terios yang tangguh di segala medan membuat semua penumpangnya tetap nyaman.

Begitu tiba di Pink Beach dan Tanjung Ringgit, satu kata yang keluar dari teman saya adalah... Amazing...


Getting Closer, Sumbawa...

Setiap saya mendengar Sumbawa, yang terbersit di kepala saya adalah kuda dan susu kuda liar nya yang terkenal itu. Di hari ke 10, tim menempuh jarak 585 kilometer dari Lombok - Dompu. Waw, jauh banget...

Sumbawa in the morning ( pic : wiranurmansyah.com )
Awalnya tim skeptis dengan infrastruktur di Pulau Sumbawa ini. Karena agak terpencil, mereka berpikir bahwa jalanannya pasti rusak parah. Tenyata eh ternyata, jalannya beraspal mulusssss. Rasa lelah yang menghampiri seketika sirna ketika mereka melihat di sisi kiri jalan yang tak lain pantai yang luas membentang.

Syukurlah selain karena jalannya beraspal mulus, suspensi Daihatsu Terios, 5-link rigid axle dengan per keong serta shock absorber yang empuk membuat tim masih tetap nyaman walau sudah 10 hari.

Karena Dompu memang terkenal dengan susu Kuda Liar nya, tim berkunjung ke desa Palama, Donggo, Bima, Nusa Tenggara Barat. Kata teman saya yang sudah mencobanya, rasa susunya lembut dibandingkan susu sapi. Wah, saya jadi pengen coba juga tapi katanya ini khusus untuk lelaki ya? Hehehehe...


Memerah susu kuda ( pic : wiranurmansyah.com )

Di desa Palama, umumnya satu rumah memiliki satu kuda peliharaan. Walau diberi julukan kuda liar, kuda-kuda itu sebetulnya ada yang punya. Namun karena sering dilepas ke alam liar, khususnya ketika menjelang pasca-panen, kuda-kuda tersebut akhirnya lebih dikenal sebagai kuda liar.

Kuda yang diiperah susunya ternyata kuda yang sudah cukup umur dan ada ritual adat yang harus dilakukan sebelum susu kuda itu diperah.

Setelah bermalam di pesisir Lakey Beach, tim mempersiapkan fisik untuk perjalanan keesokan harinya. Tak terasa, perjalanan tim sudah mendekati tujuan.


Here We Are, KOMODO....


Setelah menempuh perjalanan hampir 2 minggu, akhirnya tim 7 Wonders tiba di destinasi terakhir yaitu Taman Nasional Komodo. Setibanya di Labuan Bajo, tim menaiki kapal phinisi Lafina yang akan mengantarkan mereka ke Pulau Komodo. Mereka melintas Pulau Kenawa, Rinca, Pink Beach dan akhirnya tiba di Pulau Komodo.

(pic : wiranurmansyah.com )

Di Pulau Komodo mereka menjumpai spesies yang kini masuk dalam 7 keajaiban dunia. Siapa lagi kalau bukan the dragon, KomodoMereka dipandu oleh ranger untuk bertemu dengan Sang Naga, menjelajah Loh Liang.

Pink Beach ( pic : harrismaul.com )

The dragon, Komodo (pic : harrismaul.com )
Dan di ujung perjalanan mereka, tim tidak lupa memberikan bantuan 7 hewan kurban kepada pengurus mesjid di Labuhan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Keren banget ya perjalanan 7 Wonders - Hidden Paradise temanku itu. Jadi selama 2 minggu, mereka tidak hanya menikmati tempat-tempat yang indah saja tetapi berbagi kebahagiaan dengan sesama.

Bantuan 7 kambing untuk mesjid di Labuhan Bajo (pic : wiranurmansyah.com)

Tim 7 Wonders telah menyelesaikan ekspedisi 7 Wonders mereka sejauh 3012 kilometer dari Jakarta hingga Pulau Komodo. Perjalanan ini juga menjadi bukti ketangguhan Daihatsu Terios dan menjadi sejarah baru. Daihatsu Terios pun membuktikan bahwa road trip bisa menjadi sangat menyenangkan jika dipersiapkan dengan matang. Karena bersama dengan Daihatsu Terios, kita bisa melakukan perjalanan menikmati Indonesia seutuhnya. :)

Seluruh tim Daihatsu 7 Wonders - Hidden Paradise (pic : wiranurmansyah.com )

Mendengar cerita teman saya tersebut, saya juga ingin sekali mencoba road trip bersama Daihatsu Terios. Doakan ya supaya saya terpilih menjadi peserta "Terios 7 Wonders Amazing Celebes Heritage".


Tulisan ini terinsipirasi dari perjalanan Tim Daihatsu Terios 7 Wonders - Hidden Paradise dan diikutsertakan dalam blog contest Terios 7 Wonders - Amazing Celebes Heritage

Bukti Follow @VIVA_log
Bukti like Daihatsu Indonesia
Bukti follow +DaihatsuIndonesia