Sunday, August 31, 2014

Jalan Panjang Menuju Ora Beach Maluku

Sunday, August 31, 2014 7 Comments

Setelah hari pertama dari perjalanan ini dihabiskan untuk city tour, tibalah hari dimana kami akan berangkat menuju Pulau Seram kemudian Saleman dan menyeberang ke Ora Beach. 

Jam 8 pagi, kami sudah tiba di pelabuhan Tulehu, Ambon untuk naik kapal cepat ke Masohi. Banyak orang lalu-lalang memasukkan barang ke Cantika Express 88. Kapal ini hanya ada dua kali sehari yaitu jam 9 pagi dan 1 siang. Dari Bandara, butuh berkendara 1 jam menuju Pelabuhan Tulehu.

Ada Chalid (kiri) dan Nowen (kanan) dari Unpatti lagi yang anter kami ke Pelabuhan Tulehu :)
Karena kursi ekonomi masih tersedia, kami memilih untuk naik ekonomi dengan harga tiket Rp 110.000,- per orang. Cukup jauh bedanya dengan kelas VIP yang harganya Rp 250.000,- per orang, dua kali lipatnya.
Hujan yang masih mengguyur kota Ambon dan ternyata mengguyur hampir sebagian besar wilayah Maluku, membuat perjalanan dua jam dari Ambon – Masohi diguncang-guncang. Banyak penumpang berteriak-teriak heboh takut kapal miring terlalu ekstrim. Saya yang sudah minum obat anti mabuk, tertidur sejak kapal berangkat dan hanya membuka mata sedikit ketika penumpang lain berteriak dan tertidur lagi dan tahu-tahu sudah sampai.

Kapal ekonominya cukup nyaman dan nggak ada kutunya. Hahaha :D
Begitu sampai di pelabuhan Amahai di kota Masohi, hujan masih mengguyur sehingga membuat kami harus lari-lari keluar pelabuhan dan mencari angkot ke Terminal Binaya Masohi. Angkot berwarna merah ini menarik ongkos Rp 15.000,- per orang. Di Angkot inilah, saya dan Mama Ami dipertemukan. Mama Ami adalah penduduk asli Saleman yang baru datang dari Makassar dan mau pulang ke rumahnya. Berawal dari menyapa, saya lalu diajak Mama Ami untuk menginap saja di rumahnya sebelum berangkat ke Ora. Tawaran tersebut tentu saya terima dengan senang hati. Beruntung sekali kami.

Angkot dari Pelabuhan Masohi ke Terminal Binaiya Masohi
Mobil dari Masohi – Saleman hanya ada satu kali sehari kecuali hari-hari menjelang lebaran. Tarif per orang adalah Rp 75.000,-. Jika ingin carter, kita bisa membayar seharga Rp 600.000,- sekali jalan. Mobil ke Saleman biasanya berangkat selepas makan siang, sekitar jam 1. Tetapi waktu itu kami baru berangkat pukul setengah empat sore dikarenakan Abang Supir nya harus belanja logistik pesanan penduduk Saleman.

Awalnya saya mengira jalan menuju Saleman akan rusak. Tetapi nyatanya tidak. Walau berkelok-kelok, jalannya beraspal mulus. Kami menikmati pemandangan hutan yang berkabut tebal. Tak perlu menghidupkan Air Conditioner karena cukup membuka kaca mobil, kita sudah dibelai dengan udara dingin sejuk.

Dalam perjalanan Masohi - Saleman, jalannya sebenarnya mulus, hanya ada sedikit perbaikan jalan.
Perjalanan Masohi – Saleman memakan waktu kurang lebih 2 jam. Sudah hampir maghrib ketika kami tiba di Saleman. Uniknya, setiap sore, ada ribuan burung Lusiala yang terbang ke Utara. Burung ini dikenal sebagai burung sakral / magis yang sangat dihormati oleh penduduk Saleman. Akan kuceritakan 

Kami melepas lelah di rumah Mama Ami dan bertemu dengan Nenek Haji yang ternyata salah satu tetua adat di negeri (desa) Saleman. Desa ini dialiri listrik via genset. Hanya beberapa rumah yang memiliki genset dan biasanya menyala dari jam 6 sore hingga 10 malam. Selepas makan malam, kami pamit untuk isthirahat agar besok berangkat ke Ora dengan badan fit.

Bersantai di Ora Beach

Pagi yang malas untuk bangun dari tempat tidur. Awan mendung menggelayut di langit. Jam 8 kami menandaskan sepiring mie instan dan menuju pantai. Tete (kakek) Ali sudah menunggu kami di depan rumah, membantu membawakan tas kami ke atas katingting, kapal kecil yang punya kayu penyeimbang di sisi kiri dan kanan.

Pagi yang berkabut ketika kami berangkat naik katingting dari Saleman menuju Ora Beach
Suara mesin kapal menderu di telinga. Pagi yang sunyi itu dipecah dengan suara katingting kami. Sepertinya penduduk yang lain pun memilih berdiam di rumah karena hujan masih mengguyur.

Di kejauhan, bilik-bilik Ora Beach Resort sudah terlihat namun tidak hanya itu yang menjadi highlight perjalanan ini. Begitu kami melihat ke bagian kanan Resort, hamparan bukit-bukit kapur yang dipeluk kabut. Hatu Saka adalah nama gunung tinggi yang masih dianggap mistis oleh penduduk Saleman dan Sawai, negeri yang ada di kaki Hatu Saka.

Menyesap kopi di pagi dingin yang berkabut sambil memandang Hatu Saka di kejauhan.
Hujan gerimis berlangsung tak berapa lama dan langit kelabu menggeliat menjadi biru. Kami disinari cahaya matahari yang berlimpah. Suasana liburan di pantai sudah terasa. Air muka saya yang tadinya semendung langit berubah cerah begitu langit merekah. Wah, perjalanan saya ini diberkati Tuhan. Dia mendengarkan permintaan saya yang meminta cuaca baik selama ada di Ora.

Mama Eni, pengurus Ora Beach Resort menyambut saya dengan ramah dan mengatakan kamar saya sudah siap. Satu hari sebelumnya, kami bertemu di negeri Saleman ketika saya diberi tumpangan oleh Mama Ami yang merupakan kakak kandung Mama Ami.

Terumbu karangnya dari dermaga aja sudah secantik ini. Eyegasm!
Kami langsung diantarkan ke kamar 506, tempat kami akan menginap. Dari dermaga, kami berjalan menyusuri jembatan papan kayu yang dibangun di atas laut. Saya tak berhenti berdecak kagum karena terumbu karang yang ada di sekitar dermaga dan kamar saja sudah bagus dan menawan hati, apalagi di spot snorkeling yang lain. Mimpi apa ya saya dapat perjalanan gratis ke tempat secantik ini?

Ora Beach Resort ini terdiri dari 3 jenis kamar yaitu kamar di atas laut, kamar di rumah panggung tepi pantai dan kamar biasa seperti rumah petak. Untuk kamar di atas laut harganya Rp 700.000 per malam, kamar panggung Rp 600.000 per malam dan kamar darat Rp 400.000 per malam. Untuk mendapatkan sensasi maksimal menginap di Ora Beach Resort, kami tentunya memilih kamar di atas laut.


Breathtaking Scenery with cozy cottages. A perfect place for body and mind relaxing.
Begitu Mama Eni membukakan pintu kamar, saya langsung senang karena kamarnya luas, tempat tidurnya King Size dengan sprei yang bersih dan wangi. Balkonnya dilengkapi kursi santai dan pintu antara kamar dan balkon bisa dibuka lebar sehingga tidak berasa ada pembatasnya. Kamar mandinya dilengkapi toilet duduk, wastafel dan shower. Interior kamarnya memang sederhana, hanya berwarna putih tanpa ada lukisan atau apapun tergantung di dinding. Hanya ada beberapa cangkang kerang besar yang ditaruh di sisi-sisi jendela yang menjadi dekor pemanis kamar.

Saya lalu asyik berjalan-jalan mengelilingi resort, melihat terumbu karang cantik yang ada di bawah kamar kami. Kerennya, Ora Beach Resort membuat sistem pembuangan kotoran yang baik. Seluruh limbah kamar mandi tamu tidak akan dibuang langsung ke laut. Dibandingkan dengan beberapa penginapan yang dibangun di atas laut yang pernah saya datangi, penginapan Ora Beach Resort ini adalah yang terbaik untuk fasilitas, maintenance dan tentunya sebanding dengan harga.


Pemandangan dari depan kamarku. Speechless. Nggak sabar loncat dari depan kamar!!! 
Ketika jam sudah menunjukkan hampir jam 12, kami pergi ke restoran dan sudah tersedia cah kangkung, ikan sambal pedas manis dan sepiring kecil papaya. Untuk seorang pejalan yang hemat dan hitung-hitungan seperti saya, hidangan seperti itu 3 kali sehari dihargai Rp 250.000 membuat jidat saya mengernyit. Dengan uang sebanyak itu saya sudah bisa makan All You Can Eat di restoran kece di Jakarta. Tapi hey jangan samakan Ora dengan Jakarta lah ya. Dari harga bahan pokok makanan kan juga lebih mahal di Indonesia bagian Timur. Syukurlah perjalanan ini dibayarin sama Telkomsel Flash jadi saya tandaskan saja makanan di atas meja tadi tanpa ngedumel. Hihihihi.

Makanan yang sangat sederhana tapi yah disyukuri saja ;)
Perut kenyang, hati senang dan saya tidak sabar mau berenang. Tete Ali sudah menunggu dan siap mengantarkan kami ke spot-spot snorkeling di sekitar Ora Beach Resort. Salah seorang pegawai di Ora Beach Resort merangkap sebagai local guide juga turut serta. Namanya Willy, usianya belum genap 20 tahun dan hanya lulusan SMP. Mimpinya ingin merantau ke Sumatera Barat karena almarhum ayahnya adalah orang Minang asli.

Kami berangkat dengan katingting, menyusuri tebing-tebing batu tinggi menjulang. Coba saja kalau saya ini pemanjat tebing yah, pasti nafsu banget melihat jalur-jalur panjat yang “panas” menggoda.

Ada tiga tebing yang juga menjadi spot snorkeling favorit wisatawan yaitu Hatu Gurita, Hatu Supun dan Hatu Pia. Tiap-tiap tebing ini punya cerita sendiri. Hatu Gurita dipercayai masyarakat lokal sebagai tempat gurita raksasa berdiam dan hanya bisa dilihat oleh orang yang punya kemampuan lebih. Hatu Supun sendiri tidak diketahui asal penamaanya namun masyarakat lokal juga mempercayai bahwa tebing Hatu Supun memiliki pengaruh magis. Dulunya di dekat Hatu Supun pernah berdiri satu masjid yang masih suka terdengar suara adzannya. Kalau ada yang mendengar suara adzan tersebut, menjadi pertanda bahwa akan mendapat rejeki baik. Tapi saya nggak dengar suara adzan sih kemarin. Jadi rejekiku gimana nasibnya?


Hatu Gurita
Berbeda dengan Hatu Pia. Hatu sendiri berarti Batu dan Pia berarti sagu. Dari cerita lokal yang saya dapatkan dari masyarakat, dulu di tebing itu hidup burung Simang-Simang yang makan pelepah sagu dan mengeluarkan sagu yang lalu ditampung masyarakat di Tumang, penampung sagu yang terbuat dari daun sagu. Namun, suatu hari burung Simang-Simang itu dipanah mati oleh salah satu penduduk yang tidak sabar karena Tumang nya tidak kunjung penuh. Setelah burung Simang-Simang itu tidak ada lagi di sana tetapi masyarakat tetap menamainya Hatu Pia.

Cerita-cerita tentang tiga hatu itu membuat saya sangat tertarik dan membayangkan bahwa dulu burung Simang-Simang itu menghasilkan sagu. Saya percaya dengan cerita rakyat itu karena terbukti memang ada hewan yang bisa melakukannya. Contohnya saja Luwak yang memakan biji kopi dan mengeluarkan kopi berkualitas tinggi setelah melewati proses fermentasi alami di dalam perutnya. Jadi, burung Simang-Simang itu dulu pasti ada.

Saya yang memang sudah tidak sabar ingin menceburkan diri karena panas berlama-lama di atas katingting, langsung meloncat dan meluapkan rasa gembira saya dengan berenang kesana kemari. Saking tidak sabarnya, saya sampai lupa memasang snorkel di masker saya dan baru tersadar setelah saya gak bisa bernafas di dalam air. Oh iya, snorkelnya belum dipasang. Hahaha.

Airnya yang jernih membuat kita bisa melihat dengan jelas terumbu karang dan ikan-ikan dari atas katingting. Visibility nya jika cuaca sedang cerah bisa mencapai 30 meter loh. Benar-benar bening. Lokasi Ora Beach yang ada di Teluk juga membuat perairannya tenang, tidak ada ombak dan arus bawah laut nya tidak terlalu kuat.


Relax... 
Disarankan sih membawa peralatan snorkeling sendiri dari kota asal karena penyewaan snorkeling set di Ora cukup mahal yaitu Rp 100.000,- per hari. Itu pun stock nya sedikit dan susah mendapatkan ukuran yang betul-betul pas dengan kaki kita.

Lanjut lagi cerita tentang snorkelingnya. Saya tidak cukup puas dengan hasil snorkeling hari itu apalagi kamera underwater saya habis baterainya karena kebanyakan dipakai di darat. Sedih betul rasanya. Tapi travelmate saya, Juferdy menghibur dengan mengatakan besok kami bisa kembali lagi ke spot ini dan mengambil gambar dari pagi. Ya sudah, saya snorkeling saja sampai tangan keriput kedinginan.

Pemandangan bawah laut Ora Beach memang membuat kami berdecak kagum. Beragam jenis terumbu karang berbagai warna yang dilewati ikan-ikan karang cantik benar-benar memanjakan saya. Ukuran terumbu karangnya juga fantastis. Lebih besar dari badan saya bahkan. Ikan hiasnya pun beragam, pipe fish, angel fish, dll. Yang membuat saya semakin menganga di kedalaman 3 meter saja saya sudah bisa melihat sea-fan, kipas laut berwarna merah yang cantik.

Jam 4 sore kami sudah di resort dan menikmati coffee break kami. Walau hanya pisang goreng, karena disantapnya sehabis lelah berenang, nikmatnya berkali-kali lipat. Ditambah dengan teh manis yang menghangatkan tubuh kami yang kedinginan. Kami lalu kembali ke kamar, bebersih diri dan bersantai di balkon kamar menunggu senja.

Syukurlah di Ora Beach Resort saya masih mendapatkan sinyal Telkomsel, yang merupakan satu-satunya provider yang ada di sana, jadi saya tetap bisa update dan berbagi kesenangan di Ora Beach dengan teman-teman di social media. Cuma ada satu jenis komentar yang saya terima ketika update perjalanan saya di Ora Beach yaitu pada mupeng ke Ora Beach dan sebal karena saya bisa jalan-jalan gratis ke Ora dibayarin pula. Once again, thank you Telkomsel!

Langit sore itu agak mendung namun tetap tidak bisa membendung indahnya semburat senja merah dari balik awan kelabu. Benar-benar indah sampai saya tak ingin kehilangan sedikit pun momen yang berlangsung cepat itu. Apa lagi yang bisa saya katakan selain mengucap syukur.

Apa lagi ya keseruan di Ora Beach? Baca kelanjutannya di sini :)

Baronda Ambon, NIkmati Nasi Colo dan Kopi Sibu-Sibu

Sunday, August 31, 2014 4 Comments
Welcome to Ambon!
Gerimis tipis menyambut kedatangan kami di Bandara Pattimura Ambon. Selama penerbangan Jakarta – Surabaya – Ambon pun, pesawat kami tak henti diguncang dan seluruh pemandangan di jendela hanyalah awan putih. Syukurlah akhirnya kami tiba juga di negeri rempah ini. Lelah juga harus berangkat jam 5 pagi Waktu Indonesia Barat dan tiba di Ambon jam 12 siang Waktu Indonesia Timur.

Tiba di Ambon bukan berarti kami sudah tiba di tujuan kami, Ora Beach di Seram Utara. Kami masih harus melanjutkan perjalanan darat dan laut. Bandara Pattimura yang letaknya cukup jauh dari pusat kota membuat kita harus memilih moda transportasi angkot atau taksi. Taksi disini adalah mobil sejenis Avanza, Xenia, Innova. 

Beruntungnya kami dikenalkan dengan beberapa teman pecinta alam dari Universitas Pattimura. Mereka dengan ramah menyambut kami, membantu mengantarkan kami berkeliling kota Ambon sebelum keesokan harinya melanjutkan perjalanan ke Ora Beach.

Jumlah transportasi yang sedikit memang menjadi kendala untuk tiba di Ora Beach dalam waktu singkat. Kapal cepat dari Ambon ke Masohi hanya ada dua kali sehari dan mobil ke Saleman (negeri / desa terakhir sebelum menyeberang ke Ora) hanya satu kali sehari. Dikarenakan jam tiba kami di Ambon sudah lewat tengah hari, kami tidak bisa langsung melanjutkan perjalanan ke Ora dan memutuskan untuk city tour di Ambon saja di hari pertama perjalanan #GetStranded dari Telkomsel Flash.

Hujan yang tak henti-hentinya mengguyur kota Ambon membuat kami kesulitan untuk pergi ke kota. Lokasi Unpatti yang dekat dengan Bandara Pattimura ternyata cukup jauh dengan pusat kota Ambon. Kita harus berkendara naik motor selama kurang lebih 40 menit. Namun ada alternatif lain untuk pergi ke pusat kota, yaitu naik kapal Ferry. Wih. Canggih betul hanya ke pusat kota naik kapal Ferry dengan tujuan Poka – Galala. Biaya per orangnya hanya Rp 2500, bahkan mahasiswa hanya dikenakan Rp 1000 saja.

Kapal Ferry yang kita pakai menyeberang Poka - Galala. 5 menit saja!
Tentu saja banyak yang memilih moda transportasi Ferry untuk menyeberang karena mempersingkat waktu perjalanan darat dari 40 menit menjadi 5 menit saja. Perasaan kita baru saja naik Ferry, eh sudah dikabari kalau kita sudah sampai. Itu adalah pengalaman naik Ferry tersingkat saya. Hahaha.

Malam itu kami mengunjungi Café Sibu-Sibu yang dalam bahasa Ambon diartikan sebagai angin sepoi-sepoi. Café ini ternyata cukup terkenal di kota Ambon. Selain karena menunya, café ini terkenal karena interiornya yang unik. Dari luar café kita bisa melihat ada banyak sekali foto-foto terpajang di seluruh dinding. Begitu masuk, terlihat jelas bahwa yang dipajang itu adalah foto actor, aktris, model, musisi, atlit berdarah Maluku yang ada di seluruh dunia. Siapa sangka personil Vengaboys (grup musik 90an) ternyata berdarah Maluku? Ada pula Chelina Manuhutu, model cantik berdarah Maluku yang berdomisili di Belanda dan masih banyak yang lainnya.



Sebelah kiri itu Chalid dan sebelah kanan itu Mato. Mereka berdua teman-teman baruku dari Universitas Pattimura. Terima kasih kepada mereka yang sudah antar kami jalan-jalan keliling kota :D
Jika mampir ke café ini, ada beberapa menu yang tidak boleh dilewatkan seperti Kopi Sibu / Kopi Raroba, Teh Susu Jahe Halua, Pulut Unti, Pulut Siram dan Sukun Goreng Sambal. Menu-menu tadi merupakan highlight di Café Sibu-Sibu yang rasanya enak sekali. Kopi Raroba menebar wangi yang khas karena kopi ini dicampur dengan rempah (raroba = rempah) dan ditaburi kenari di atasnya. Begitu juga dengan Teh Susu Jahe Halua, sari jahe yang dicampur susu dan ditaburi kenari, yang sejak pertama diseruput, menjadi favorit saya. Rasanya hangat dan manisnya pas. Cocok sekali diminum saat kota Ambon sedang dingin-dinginnya. Pulut Unti, Pulut Siramnya lembut dan meleleh di lidah dengan rasa manis yang pas sedangkan Sukun Goreng Sambal adalah menu yang paling mencuri hati saya. Ternyata sukun goreng dicocol sambal membawa sensasi goyang lidah yang benar-benar menyenangkan. Saya sampai ketagihan dan terus tambah lagi.

Kopi Raroba, Teh Jahe Halua, Pulut siram dan Pulut Unti. Nyam :)
Kami sempat bertemu dan berbincang sebentar dengan pemilik Café, Tante June. Saya menanyakan arti jargon Café Sibu-Sibu yaitu “Hail Buang Lansyik” dan ternyata artinya rumah kecil tempat melepas lelah (hail = rumah dan buang lansyik = lepas lelah). Semua menu diakui Tante June dibuat sendiri di dapur Sibu-Sibu. Begitu pula dengan sukun goreng sambal yang memikat lidah saya tadi. “Sambalnya memang khas dapur Sibu-Sibu”, ujar Tante June.

Yang tak kalah menarik juga, waitress di Sibu-Sibu mengenakan Kabaya merah yang merupakan pakaian tradisional Maluku. Usi (kakak) Ani dan Usi Ona tampak sangat cantik melayani tamu Sibu-Sibu dengan Kabaya.

Usi Ani & Usi Ona :)
Belum kenyang menyantap Pulut dan Sukun, kami pergi ke salah satu tempat terkenal di Ambon yaitu Nasi Kelapa Tugu Batu Merah untuk makan Nasi Kelapa Ikan Bakar Colo-Colo. Warungnya sederhana dan terletak di tikungan jalan. Mama Nur, sang empunya sudah berjualan Nasi Kelapa dari tahun 2002. Beliau mengakui kalau warungnya sering sekali diliput oleh wartawan atau stasiun TV. Wih, berarti rasa masakan Mama Nur tidak main-main ya.

Nasi Kelapa & Ikan Bakar Colo-Colo
Tak sampai beberapa menit setelah kami duduk di kursi, dua piring Nasi Kelapa dan Ikan Bakar Colo-Colo sudah terhidang di depan kami. Nasinya mengepul panas namun tak menyurutkan niat kami untuk segera menyantapnya. Dari suapan pertama, saya tak berhenti menyuapkan nasi kelapa dan ikan ke dalam mulut. Tak heran warung Mama Nur ini banyak diliput karena rasanya memang mantap. Sepiring nasi kelapa dan ikan bakar colo-colo dihargai Rp 25.000 saja.


Selain Ikan Bakar Colo-colo, ada menu lain untuk disantap bersama Nasi Kelapa. Ada telur asin, telur sambal balado, udang goreng, teri medan pepes goreng, cakalang bada teri, cakalang bumbu bali dan ikan bakar kawalinya. Tinggal pilih mana suka, sesuai selera.

Bersama Mama Nur yang senyumnya malu-malu. Hahaha :D

Perut kenyang, kami pulang dengan hati senang. Harus bersiap-siap karena besok kami harus menempuh perjalanan jauh ke Ora Beach.

Ceritanya berlanjut di sini ya :)

Tuesday, August 5, 2014

Timlo Sastro, Timlo Lezat Khas Solo

Tuesday, August 05, 2014 9 Comments

Jalanan pagi itu lengang ketika kami keluar dari hotel menuju Timlo Sastro di dekat Pasar Gedhe, Solo. Saya baru dua kali mengunjungi tempat ini dan selalu ingin datang lagi mencicip timlo yang enak dan legendaris itu.

Tidak sulit menemukan warung timlo yang berlokasi di perempatan jalan Pasar Gedhe ini. Kalau tersesat bisa tanya Waze, Google Maps atau lambe mu alias mulut alias nanya orang sekitar :p Katanya orang lokal lebih mengenal Timlo ini sebagai Timlo Mbalong karena lokasi Pasar Gedhe itu adanya di Kampung Balong.

Wajar kalau timlo ini tidak pernah sepi pengunjung. Dari zaman almarhum Pak Sastro berjualan timlo di tenda kaki lima tahun 1952, pelanggannya sudah banyak. Nah mungkin saja kan orang-orang yang datang ini adalah keturunan pelanggannya dulu? Hehehe.

Tempatnya mudah dicari kok.
Hampir semua pegawai di warung timlo Sastro ini sudah berumur paruh baya bahkan lebih. Mereka sudah mengabdi cukup lama di sana. Hal ini semakin menambah kesan tua pada warung makan itu.

Yang membuat saya sedikit heran adalah warung timlo ini dipenuhi kalendar di dinding. Saya yang penasaran sampai bertanya pada sang koki dan dijawab dengan sederhana.

 "Ya itu pemberian banyak orang dan kita gantung saja" ujar Pak Koki (maaf saya lupa menanyakan namanya)

Kalendarnya semacam jadi wallpaper begitu ya. Tertata rapi :)

Ada kalender, daftar harga timlo, jam dan sebingkai foto Almarhum Pak Sastro dan Istri
Banyak yang bertanya timlo itu apa sih? Bingung juga saya menjelaskannya. Rasanya seperti soto tapi bukan soto. Timlo ini terdiri dari sosis solo yang nggak ada isinya alias cuma kulitnya aja seperti martabak, dipotong-potong lalu dicampur dengan telor pindang, rampela ati, brutu. Dengan taburan bawang goreng di atasnya, timlo ini rasanya segar dan gurih. Katanya racikan timlo ini hanya bawang putih, pala, lada, bawang goreng dicampur di kaldu ayam.



Sosis solo (lebih pas disebut martabak), telor pindang dan bawang goreng.
Kalau makan pasti butuh minum kan? Nah, enaknya di timlo Sastro ini pilihan minumannya beragam mulai dari teh, kopi, es jeruk, es karamel, es coklat, es kuas dan es beras kencur. Pilihan lidah saya adalah es kuas. Penasaran juga es kuas ini apaan dan ternyata itu adalah es jeruk nipis. Jadi es kuas ini dari "Ice Squash / Lemon Squash" saudara-saudara. Hahahaha. Tapi enak kok, seger. Pas menjadi pendamping timlo yang saya racik pedaaaasss....

Pojok minuman :)
Iyoiii. Kalau penggemar pedas pasti senang deh makan timlo dengan sambel petis nya. Saya juga agak heran karena masakan berbumbu petis itu biasanya kita temukan di Jawa Timur, tetapi ada juga di Solo.

Yang saya kangen juga saat makan timlo di Timlo Sastro adalah orkes keroncong. Sayangnya terakhir saya datang untuk sarapan pagi, orkesnya belum ada. Katanya orkesnya akan tampil saat jam makan siang. Pembeli shift pagi pun kecewa. Hiks.

Perut kenyang hati senang. Eits, jangan lupa bayar. Lucunya kalau kita membayar makanan kita, semuanya dihitung di atas papan hitam kecil dan ditulis dengan kapur. Unik betul ya.

Ini dia "papan kalkulator" khas Timlo Sastro
Timlo Sastro ini setiap harinya buka dari jam 06.30 sampai 15.30 WIB. Jam operasional itu ditentukan oleh Almarhum Pak Sastro sendiri tanpa keluarganya tahu alasannya. Sekarang timlo Sastro diurus oleh keempat anak Pak Sastro. Mereka juga sudah membuka cabang di daerah Penumping, Jalan Wahidin, Solo.

Selamat menikmati ya :)

Geng icip-icip Solo. Ki - ka : Mbak Vita, Endah, Pak Johan, Tober dan Opik. Minus saya karena saya yang motret :D

Follow Us @satyawinnie