Wednesday, February 19, 2014

Meriahnya Festival Cap Go Meh di Bogor

Wednesday, February 19, 2014 1 Comments

Jalan Suryakencana dan Siliwangi setiap satu kali dalam satu tahun selalu ditutup untuk perayaan Cap Go Meh di Bogor. Jalan yang sehari-harinya memang satu arah ini adalah kawasan pecinan di Bogor sehinga pas dijadikan sebagai jalur festival Cap Go Meh. 

Cap Go Meh sendiri berarti hari kelima belas dari tahun pertama (hari Imlek / tahun baru). "Cap" artinya Sepuluh, "Go" artinya lima dan "Meh" artinya malam. Artinya malam perayaan tahun baru Cina berlangsung selama 15 hari dimana kita masih boleh mengucapkan "Gong Xi Fat Chai" yang berarti selamat tahun baru. 

Sore itu, saya tiba di stasiun Bogor pukul 5 sore dan memutuskan jalan kaki ke pasar Bogor, titik keberangkatan pawai CGM (Cap Go Meh). Benar saja, karena jalan Suryakencana-Siliwangi ditutup, jalanan macet parah bahkan tidak bergerak. Apalagi Cap Go Meh tahun ini jatuh pada hari Jumat, 14 Februari. Sudah tahu kan kalau Jumat sore jalanan semacam neraka, ditambah lagi ada penutupan jalan. Kacau sudaaaaah…

Semua penumpang di angkot memutuskan untuk turun dari angkot dan berjalan kaki juga seperti saya. Asyik jadi banyak temannya. Tak sampai 20 menit, saya tiba di Pasar Bogor dan melihat mobil-mobil pawai sudah  bersiap. Bunyi-bunyian riuh terdengar menandakan pawai sudah dimulai. Pantas jalanan penuh sesak dengan manusia. Titik berangkat pawai adalah Vihara Dhanagun di Pasar Bogor. Tahun 2014, peserta pawai semakin banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Semua perwakilan grup kesenian barongsai di pulau Jawa ikut berpartisipasi.


“Permisi…permisi Teteh, Kakang, Mas, Mbak” ucap saya berulang-ulang kali sambil merampingkan badan agar bisa lewat dari lautan manusia itu.  Benar-benar padat. Sambil jinjit saya melongokkan kepala untuk melihat celah jalan, tetapi tak ada. Semua orang tidak ada yang mau mengalah. Kesal tapi apa daya.

Kasihan anggota pawainya kejepit, cuma dapat satu jalur. Lihat saja itu banyak pedagang kaki lima nya tidak dirapihkan.
Peluh mengucur deras membuat kaos saya basah. Sesaknya jalanan tidak membuat saya saja yang merasa gerah. Anak-anak kecil banyak yang terimpit dan menangis di gendongan Bapak Ibunya. Saya kasihan tapi ya mau bagaimana berjalan di situasi seperti itu.

Saya jadi sedikit kecewa dengan panitia Cap Go Meh Bogor. Dari tahun ke tahun tidak ada perubahan yang signifikan untuk menertibkan acara pawai. Pedagang kaki lima tidak dirapikan, tidak ada pembatas antara peserta pawai dan penonton. Saya sampai kasihan melihat peserta pawai yang hanya diberikan satu jalur dan jadi susah bergerak. Padahal kan barongsai dan liong (naga) harusnya bergerak lincah kesana-kemari.

Ketika terjepit di tengah kerumunan yang sesak, seseorang mencolek saya dan mengajak saya mengikuti dia. Berdua kami meliuk-liuk dan ujung-ujungnya nekat masuk ke rombongan pawai hingga menemukan jalanan yang sedikit longgar. Nama orang baik itu Bang Taufik. Terima kasih ya Bang!

Ah, akhirnya kami bisa berjalan bebas, sangat bebas karena jalan terbuka lebar. Kenapa ya orang-orang senang berkerumun di titik awal pawai tadi sehingga penuh sesak? Padahal mau lihat dari titik mana pun, sepanjang masih di jalan suryakencana-siliwangi, pasti kelihatan kok. 




Pukul 6 kurang, bunyi tabuhan gendang dihentikan. Semua peserta pawai beristhirahat karena menghormati saudara muslim yang akan beribadah sholat magrib. Toleran sekali J

Pantat barong yang paling kuat pun harus isthirahat. Pasti capai harus lari terus angkat orang melulu :p
Setelah setengah jam rehat, pawai dimulai lagi.  Makin malam makin meriah. Cap Go Meh adalah hari panen bagi rombongan barongsai dan liong. Banyak penonton pawai yang memberikan angpao. Ada yang dimasukkan ke mulut barongsai, ada juga yang digantung pada pancingan sehingga barongsai harus melompat untuk mengambilnya.


Menjemput angpao di pancingan.
Salah satu atraksi yang menarik adalah arak-arakan tandu dewa-dewi. Katanya, tandu itu sudah diisi roh nenek moyang sehingga tandunya bergoyang-goyang sendiri. Bagi yang memanggul tandu harus kuat fisik menahan goyangannya. Wah, jadi seperti atraksi bambu gila di Ambon ya.

Tandu Dewa-Dewi.

Tandu yang satu ini diangkut perempuan semuanya. Hebat yah!

Goyangan tandu bambunya kencang sekali sehingga yang memegang kewalahan.


Selain barongsai dan liong, ada juga rombongan pawai daerah, lengkap dengan delman dan iring-iringan musik khas Sunda. Ada setannya juga. Tiga tahun belakangan, Cap Go Meh dijadikan pesta rakyat Bogor dan menjadi agenda wajib daerah.

Setaaaaan.....
Di setiap vihara, rombongan pawai harus mampir untuk sungkem atau memberi salam. Tak hanya iringan barongsai dan liong, iringan sunda pun harus ikut sungkem. Tujuannya meminta restu dari nenek moyang agar acara pawai berlangsung lancar dan berkah mengalir sepanjang tahun.

Rombongan pawai berhenti di Vihara Dharmakaya untuk sungkem
Jam menunjukkan pukul 8 malam dan rombongan pawai sudah mulai terlihat lelah. Barongsai dan liong yang tadinya lincah melompat dan berputar kini hanya berjalan luntai. Tapi mereka tetap semangat menjemput angpao kok. Hehehe.

Dari kejauhan terlihat kereta besar dengan lampu warna-warni berarakan. Ah, kereta 12 shio. Kereta paling depan adalah shio kuda karena menurut tanggalan Cina tahun ini adalah tahun kuda kayu. Disusul oleh 11 shio di belakangnya, menjadi penutup pawai Cap Go Meh tahun 2014.

Rombongan kereta 12 Shio.
Kereta terdepan adalah kereta dengan kuda.


Sebelum pulang ke rumah masing-masing, banyak orang tua yang membelikan anak-anaknya mainan boneka Naga yang berlampu-lampu. Mainan itu dibanderol dengan harga Rp 15.000. Kreatif juga ya yang membuat mainan ini. Saya senang melihat bapak-bapak pedagang mainan itu mendapatkan banyak untung dari festival Cap Go Meh. Peserta pawai senang dapat angpao, pedagang senang jualannya banyak laku, masyarakat senang dapat tontonan bagus dan gratis. Semua senang!


Sampai jumpa di festival Cap Go Meh tahun depan ya. Maunya sih nonton festival Cap Go Meh di Singkawang yang katanya punya atraksi debus dan Tatung yang hebat. Amin aja deh. Hahaha. 

Ciao!  

Kuliner Ekstrim di Bandung, Ular Kobra!

Wednesday, February 19, 2014 12 Comments

Saya takut dan geli sama binatang melata yang bernama ular. Tapi itu dulu. Sejak rajin naik gunung, ular jadi  terlihat biasa-biasa saja dan tidak menakutkan. Intinya jangan pernah mengganggu habitat mereka dan mereka (ular) tidak akan menganggu kita.

Tetapi tak terbayang oleh saya rasa daging ular hingga tak sengaja bertemu teman di Bandung yang mengajak saya mencicipi snake dishes. Dengan suara yang mantap, dia meyakinkan saya dan tiga orang teman lainnya untuk makan daging ular.

“Enak kok. Nggak amis. Dijamin deh” ujar Wena, sang provokator.

Tak terasa kami sudah sampai di restoran Naya di Jalan Dr Djundjunan No 14, Bandung. Lokasi restoran Naya tidak terlalu jauh dari pintu tol Pasteur.

Dari beberapa meja bundar di dalam restoran, hanya ada tiga orang bapak-bapak yang sedang bersantai setelah makan. Seorang Mbak dengan wajah ramah menyambut dan menyodorkan menu kepada kami. Macam-macam menu nya (lupa difoto) mulai dari Sup Ular, Ular Saus Tiram, Ular bumbu rica dan lain-lain. Harga menunya sekitar 30 - 60 ribu rupiah. Menu yang paling mahal adalah empedu dan darah ular segar yang katanya bisa menyembuhkan berbagai penyakit seperti stroke ringan, diabetes, asma, gatal-gatal di kulit atau alergi. Untuk menu yang satu itu, kami tidak siap mental dan tidak berani memesan.

Setelah si Mbak masuk ke dapur, kami harap-harap cemas dan bergidik geli menunggu pesanan datang. Lucunya ketika Mbak nya datang membawa makanannya, kami spontan berteriak kaget kok datang cepat sekali. Kami kan belum siap mental untuk makan. Hahaha.

Hingga akhirnya dua menu tadi, sup ular dan ular saus tiram, terhidang di atas meja, tidak ada yang berani mengambil duluan. Wena, yang sudah (sering) menyantap menu ular mempersilahkan kami untuk mencicipi terlebih dahulu. Tak ada satu pun dari kami yang berani dan ujung-ujungnya Wena yang menjadi orang pertama mengisi mangkoknya dengan sup ular.

“Ayo dong dicobain. Masa udah sampai di sini nggak dimakan. Enak kok, nggak pedes” ujar Wena sambil menyantap nikmat sup ularnya.

Melihat Wena makan dengan lahap, kami pun memberanikan diri untuk memakan hidangan itu. Saya mencoba menu Ular saus tiram terlebih dahulu. Ular nya dipotong dengan ukuran kecil, dilumuri tepung, digoreng dan diberi bumbu saus tiram. Rasanya enak, gurih dan benar nggak amis. Tapi kata Wena, ular saus tiram sudah terlalu banyak campuran rasa dan menyuruh saya mencoba sup ularnya untuk mengetahui rasa daging ular yang sesungguhnya.

Ular Saus Tiram. Sudah diolesin tepung jadi teksturnya tidak kelihatan jelas. Kayak ayam goreng.

Yang berwarna hitam itu jamur. Enak!
Sup ularnya terdiri dari daging putih ular yang direbus pakai kaldu dengan campuran bawang putih dan jahe. Saya jadi sedikit geli untuk memakannya karena berasa mau makan daging mentah. Dengan pelan-pelan saya masukkan sup ke dalam mulut dan mencecapnya. Dagingnya lembut, tetapi masih ada rasa amis (menurut saya pribadi) namun tidak terlalu terasa karena sup jahe nya. Setelah makan dua mangkuk kecil sup ularnya, saya berhenti dan  lebih memilih makan ular saus tiram saja. Hehehehe.



Wena kembali menantang kami untuk melihat ular yang masih hidup di dapur Rumah Makan Naya. Penasaran sih, cuma agak nggak tega karena baru aja memakan ular. Siapa tahu yang kami makan barusan adalah saudaranya terus ular itu marah terus matok *halah, imajinasi berlebihan*. Hahahaha. 

Ternyata rasa penasaran kami lebih besar dari rasa takut dan ikut masuk ke dapur dituntun oleh si Mbak. Ada satu lemari besi besar dan satu kotak besi yang katanya berisi 300an ular. Wow. Banyak sekali. Salah satu koki mengambil tongkat besi bercabang yang biasa dia pakai untuk mengambil ular. Dengan cekatan, dia memegang buntut ular lalu menekan kepalanya. Ular yang dia keluarkan adalah ular kobra berukuran sedang. Kami tak mau terlalu dekat, takut dipatok. Tak sampai satu menit di dalam ruangan itu, kami mengucapkan terima kasih dan pulang. Wisata kuliner ekstrim ternyata seru juga. Berikutnya cobain makan laba-laba atau tarantula ah. Hahaha. *kayak berani aja*

Tertarik mencoba daging ular, teman? ;)

Tim pencicip ular \o/

Monday, February 17, 2014

Melongok Kamarnya Ratu Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul

Monday, February 17, 2014 53 Comments


"Kalau ke pantai selatan Jawa, jangan pakai baju hijau ya. Nanti diambil sama Nyi Roro Kidul".

Pastinya sudah tidak asing lagi ya dengan larangan memakai baju hijau di pantai selatan Jawa. Tahukah kalian apa alasannya? Mari kita cari tahu dan berkenalan dengan ratu cantik penguasa samudera selatan, Nyi Roro Kidul.

Pada tahun 2011 kemarin, saya dan teman-teman mengunjungi Kamar Nyi Roro Kidul di Hotel Inna Samudera Beach di Jalan Cisolok Raya KM 7, Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Untuk tiket masuknya, tiap orang dikenakan biaya Rp 15.000,-.

Kamar dengan nomor 308 adalah kamar yang (katanya) sering didatangi oleh Nyai. Sehingga kamar-kamar yang bersebelahan dengan kamar 308 selalu laris disewa oleh pencari "ilmu" / petapa. Mereka datang untuk bersemedi / bertapa berhari-hari, berharap Nyai mau bertemu mereka dan mengabulkan permintaannya. Entah itu meminta ilmu kekebalan, kekayaan, kekuasaan, semua hal-hal yang bersifat duniawi. Bisa juga bersemedi di dalam kamar 308 dengan tarif harga Rp 125.000 per jam dan hanya diperbolehkan bertapa selama satu jam. Petapa tidak boleh berlama-lama di kamar ini karena takut mengganggu Nyi Roro Kidul.

Kami dipandu oleh salah seorang petugas hotel yang juga merangkap sebagai local guide  kamar 308. Beliau mengingatkan kami agar berlaku sopan,tidak mengucapkan kata-kata kasar selama di dalam kamar Nyi Roro Kidul. Wanita yang sedang datang bulan juga tidak boleh memasuki kamar ini.


Nyi Roro Kidul ini adalah legenda bagi masyarakat Sunda, Jawa dan Bali. Dalam versi Sunda, Nyi Roro Kidul dipercaya sebagai jelmaan Dewi Kadita, putri kerajaan Pajajaran, yang mendapat kutukan dari Ibu tirinya sehingga tubuhnya penuh kudis dan kusta. Akhirnya Dewi Kadita diusir dari Istana dan berjalan ke arah Selatan Jawa. Setelah berjalan berhari-hari, Dewi Kadita melihat laut yang jernih dan langsung menceburkan diri ke dalamnya. Seketika penyakit di tubuhnya hilang, parasnya kembali menjadi cantik jelita. Dewi Kadita pun menjadi penguasa Samudera Selatan untuk selama-lamanya dan dikenal dengan nama Nyi Roro Kidul.

Legenda tadi berbeda dengan versi Jawa yang percaya bahwa Nyi Roro Kidul bukanlah penguasa samudera selatan, melainkan abdi setia Kanjeng Ratu Kidul, yang sudah ada lebih lama sebelum kerajaan Pajajaran. Walau ceritanya berbeda, masyarakat Jawa dan Sunda meyakini bahwa Roro Kidul adalah penguasa samudera selatan.

Begitu pintu kamar 308 dibuka, hawa dingin, bau bunga dan dupa membuat bulu kuduk saya merinding. Walaupun saya tidak terlalu percaya yang kayak beginian, tetap saja saya agak takut. Scary and spooky. Siapa tahu kan begitu masuk ke kamar, Nyi Roro Kidul ada di sudut kamar menyambut kami. *ya kali*

Nyi Roro Kidul memang ternyata fanatik warna hejo atau hijau. Sprei, bantal, dinding, kursi semuanya warna hijau. Pak pemandu kami menjelaskan bahwa Ratu memang sangat sangat sangat menyukai warna hijau. Para dayang-dayang dan pelayannya juga memakai warna hijau. Itulah mengapa wisatawan dilarang memakai baju hijau ketika berwisata ke pantai selatan agar tidak diambil (digulung ombak) dan dijadikan pelayan Ratu.

Di dalam kamar yang tidak terlalu besar itu terdapat single bed dengan sprei dan bantal berwarna hijau. Tepat di sebelah tempat tidur ada kotak kaca berisi perhiasan yang katanya persembahan dari petapa yang dikabulkan permohonannya oleh Nyi Roro Kidul. Selain perhiasan ada juga kebaya hijau cantik, persembahan dari petapa.

Tempat tidurnya hijau, spreinya juga hijau.

Perhiasan-perhiasan Nyi Roro Kidul yang merupakan persembahan dari para petapa.

Kursinya merah, tetapi tetap dilapisi kain hijau. Kebaya hijau itu juga persembahan dari petapa Nyi Roro Kidul.
 
Yang paling menarik perhatian saya adaalah lukisan besar di tengah-tengah kamar. Ada seorang perempuan dengan tubuh molek memegang rambutnya yang panjang berdiri di tengah ombak. Lukisan itu dibuat oleh Basoeki Abdullah, pelukis tersohor Indonesia. Di depan lukisan itu terdapat sesajen yang rutin dipersembahkan setiap hari untuk Nyi Roro Kidul.

Lukisan Nyi Roro Kidul oleh Basoeki Abdullah yang terletak di tengah-tengah kamar lengkap dengan sesajen di depannya.

Di dinding tergantung lukisan Nyi Roro Kidul yang juga dilukis oleh Basoeki Abdullah pada tahun 1981.
Setelah menjelaskan isi kamar, Pak Pemandu mengajak kami ke balkon kamar. Dia menunjuk satu pohon besar dan mengatakan bahwa itu adalah pohon kesayangan Ratu. Presiden Soekarno pun kerap kali datang dan duduk di bawah pohon itu. Hmmm, ternyata Bung Karno dan Nyi Roro Kidul sohiban (sahabatan) ya.

Jelas saja Bung Karno suka mengunjungi Hotel Inna Samudera karena hotel ini dibangun oleh beliau pada tahun 1962 bersamaan dengan dibangunnya Hotel Indonesia.

Karena tidak boleh berlama-lama di dalam kamar, kami keluar dan menuju lobi hotel yang memamerkan banyak lukisan Nyi Roro Kidul. Lukisan-lukisan tersebut diperjualbelikan kok.

Dari semua lukisan Nyi Roro Kidul, yang terbaik menurut saya tetap lukisan Basoeki Abdullah. Walau tidak ahli dalam menilai lukisan, saya tetap merasa ada aura yang kuat dari tiap guratan lukisan beliau. Rasanya, beliau sangat mengenal sosok Nyi Roro Kidul.

Jadi, mau berkunjung ke sana? ;)




Follow Us @satyawinnie