Salah satu kegiatan yang tidak boleh dilewatkan saat mengunjungi satu tempat tentu saja mencicipi makanan lokalnya. Saya bersyukur terlahir bisa makan makanan apa saja dan tidak punya alergi terhadap suatu jenis makanan.

Di Tomohon, kota kecil di Sulawesi Utara, saya mencoba untuk mengeksplor sedikit di tengah-tengah padatnya jadwal kegiatan disana. Dengan meminjam motor, saya dan teman berjalan-jalan mengelilingi kota. Ternyata nggak sampai 15 menit, kami sudah selesai mengelilingi kota. Ya ampun, benar-benar kecil sekali Tomohon ini.

"Hmmm, cari makanan lokal sini yuk" ajakku yang direspon dengan anggukan kecil.

"Iya, ikut kamu aja mau kemana", jawabnya.

Berhentilah kami di sebuah warung kaki lima yang bertuliskan "Ragey Pala". Saya penasaran apa sih Ragey ini. Ternyata, itu adalah kedai sate yang berbahan dasar daging babi.


Sebagai pecinta segala masakan berbahan dasar daging babi ini, mataku langsung berbinar, air liur tertahan di mulut. Aduh, pengen nyomot semuanya....

Berhubung saya sudah makan malam sebelumnya, kapasitas perutnya berkurang dong. Saya jadi agak sedih karena mulutnya masih pengen ngunyah tapi saya sudah nggak sanggup lagi menampung makanan enak ini. Huhuhuhu.

Ini dia yang namanya Ragey. Satu tusuknya Rp 6000 saja ;)

Kalau ini Sate B2 bumbu pedas. Enak! Harganya Rp 2500 per tusuk.

Yang ini sate B2 bumbu manis. Pastinya gak kalah enak dari dua sate di atas ;)
Pas nyobain satu tusuk pertama itu, rasanya lansgung meleleh di mulut. Nggak tahu, bisa enak banget rasanya. Memang orang Sulawesi Utara ini sangat jago mengolah makanan dari B2 ini. Beda sama orang Batak. Sebagai orang Batak, saya tentunya sudah sering mencicipi B2 yang diracik dengan bumbu khas Batak Toba atau Batak Karo. Tetapi saya belum pernah menemukan orang Batak yang bisa meracik sate B2 seenak yang saya cicipi di Tomohon.

Waktu itu, ada 2 orang Ibu-ibu dan satu Bapak yang sedang membakar satenya, namanya Papa Fritz. Menyadari bahwa muka kami berdua asing, salah satu Mama bernama Mama Charlotte menanyai apa yang membawa kami jauh-jauh dari Jawa ke Sulawesi Utara. Berawal dari pertanyaan sederhana, perbincangan kami menjadi hangat dan dibalut tawa.

Terima kasih Papa Fritz, Mama Charlotte, Mama Pinz dan Ando :)
Mama yang satu lagi, Mama Pinz terkekeh-kekeh melihat mukaku yang sangat menikmati mengunyah Ragey lezat yang masih hangat. Mama Pinz kemudian menuangkan minuman berwarna putih ke dalam gelas kecil.

"Ini, coba dulu minum", kata Mama Pinz sambil menyodorkan gelas kecil.

Kuambil gelas kecil itu dan kuteguk...

"Ini enak banget, Mama....Enaaaaaakkk....Namanya apa?" ujarku

"Namanya Saguer ini, minuman lokal sini. Lebih enak ini daripada Cap Tikus", jawab Mama Pinz.

Cap Tikus sendiri adalah nama minuman yang memiliki kadar alkohol 40%. terkenal di Sulawesi Utara. Cap Tikus ini dihasilkan dari Saguer yang sudah melewati proses penyulingan. Sedangkan Saguer yang rasanya manis-manis asam mengandung alkohol dengan kadar 5%.

Aku langsung menanyakan Mama Pinz, dimana aku bisa membeli Saguer ini untuk dibawa pulang. Namun sayangnya, Saguer ini adalah minuman fermentasi lokal dari pohon enau (disebut pohon Seho dalam bahasa lokal Minahasa) yang susah untuk dibawa keluar kota. Lewat dari sehari saja, Saguer ini akan mengeluarkan zat asam yang membuat minuman ini tidak enak lagi untuk diminum. Sedih sekali aku... Hiks... Cap Tikus pun tidak boleh dibawa keluar dari Sulawesi Utara karena dianggap ilegal dan jika ketahuan di Bandara pasti akan disita.

Pastinya bakal kangen sama Ragey dan Saguer. Semoga ada rejeki supaya bisa balik lagi kesana. Tomohon, tunggu akuuu ;)
Masa kalau kangen minum Saguer, saya harus terbang ke Tomohon dulu dari Jakarta? Berat di ongkos cyin... Hahahaha....

Jadi, jangan lupa nyicip Ragey ini ya kalau ke Tomohon. Ini anjurannya tentu saja berlaku untuk teman-teman yang bisa makan B2 ya ;)

Selamat icip-icip... Nyaaam....


Siapa yang sudah pernah mengunjungi Museum ini? Museum yang bikin pengunjungnya tertawa-tawa karena bentuk manusia zaman dahulu yang terlihat lucu, padahal nenek moyangnya sendiri tuh.

Museum ini terletak di Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah dan memiliki luas sekitar 56km2. Di dalamnya dapat kita jumpai fosil-fosil yang ditemukan di daerah Sangiran ini sekitar tahun 1930an. Dimana fosil-fosil tersebut menjadi kunci tentang kehidupan prasejarah manusia purba, khususnya Manusia Jawa seperti Pithecanthropus erectus, Meganthropus palaeojavanicus, Homo erectus dll.

Revolution :)

Penelitian situs Sangiran ini diprakarsai oleh seorang Antropolog bernama Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald. Berkat penelitiannya tersebut pula, situs Sangiran ini ditetapkan sebagai World Heritage oleh UNESCO pada tahun 1996. Oh iya, Situs Sangiran ini merupakan situs purbakala yang paling lengkap di Asia karena banyak sekali fosil dan temuan lainnya yang digali dari situs ini.

Gustav H R von Koenigswald

Selain Gustav HR von Koenigswald, beberapa arkeolog dari Indonesia turut serta dalam penelitian situs Sangiran ini. Mereka adalah Prof. DR. R.P. Soejono, Prof. Dr. S. Sartono, Prof. Dr. Teuku Jacob.

Selain fosil manusia purba, pengunjung juga bisa melihat banyak fosil hewan-hewan seperti gajah, badak, sapi, kerbau, rusa, banteng dll.

Gading gajah purba. Besar ya...

Benda-benda seru lain yang bisa kita temui adalah alat-alat yang dipakai manusia purba saat masa prasejarah seperti pemantik api dari batu, kapak batu, senjata perburuan mereka dll.

Museum Sangiran ini terdiri dari beberapa ruangan antara lain :

-Ruangan 1 : Kekayaan Sangiran (Wealth of Sangiran)
-Ruangan 2 : Langkah-Langkah Kemanusiaan (Steps of Humanity)
-Ruangan 3 : Masa Keemasan Homo Erectus - 500.000 tahun yang lalu (Golden Era of Homo Erectus - 500.000 years ago)
-Ruangan Sinema untuk pemutaran short-movie berdurasi 20 menit tentang Situs Sangiran dan sejarah manusia purbakala.
-Ruang Laboratorium (tidak untuk umum)
-Ruang Pertemuan
-Ruang Perpustakaan


Sewaktu mengunjungi museum ini, saya sedang membawa rombongan anak-anak. Senang sekali melihat mereka antusias berkeliling museum, bertanya ini dan itu. Tapi yang jelas sih mereka tak henti tertawa-tawa melihat bentuk manusia purba yang kata mereka mirip kera. Ada juga beberapa yang ketakutan karena melihat banyak fosil tengkorak. Bagian favorit mereka adalah ruangan dimana banyak diorama hewan purba.

Home Theatre untuk menonton sejarah manusia purba dan situs Sangiran


Di keterangan museum tertera informasi jumlah benda di Museum Sangiran ini ada 13.806 buah. 2931 dipamerkan dan 10.875 buah lagi disimpan di gudang penyimpanan. Loh, lebih banyak yang disimpan ya. Hehehe.



Biaya untuk masuk ke museum ini tergolong murah. Lihat saja ini...

Informasi biaya tiket masuk Museum Sangiran




Betapa beruntungnya saya tahun ini bisa menjejak provinsi Sulawesi Utara dengan biaya yang tidak mahal. Hal tersebut tak lain karena saya menjadi kontingen untuk mengikuti Kejuaraan Paralayang di Bukit Kaweng, Kakas, Minahasa, Sulawesi Utara.

Kami harus menempuh perjalanan kurang lebih dua jam dari Bandara Sam Ratulangi menuju kota Tomohon dengan naik Hercules (ceritanya bisa dibaca di sini )dan dilanjutkan ke arah Tondano. Disanalah sebuah desa bernama Kakas, Kaweng, berada. Desa kecil yang terletak persis di tepian Danau Tondano.

Desa Kaweng, Kakas di tepian Danau Tondano yang cantik <3

Para pilot bersantai di Bukit Kaweng sambil menunggu air yang baik untuk terbang.

Penduduk lokal yang melihat banyak bus kuning dan elf memasuki desa mereka langsung berhamburan ke tepi jalan, melambaikan tangan mereka sambil tersenyum. Beberapa dari rombongan Paralayang ini sudah pernah mengikuti kejuaraan yang sama di lokasi yang sama pada tahun sebelumnya. Sehingga beberapa penduduk lokal yang mengenali para atlit yang hadir tahun lalu mengajak bersamlaman, bersenda gurau dan mengajak foto bersama. Mereka seperti menyambut sanak saudara yang sudah lama tidak pulang kampung. Hangat sekali :)

Begitu tiba di desa, rombongan kami disambut dengan satu tarian tradisional yaitu 'Tari Kabasaran' atau Tari Kebesaran. Semua penarinya adalah lelaki, mengenakan kostum ksatria Minahasa. Di dada dan kepala mereka terdapat banyak tengkorak anjing, babi, anoa, monyet dan burung-burung yang sudah diawetkan. Bahkan ada tengkorak manusia. Iya tengkorak beneran itu semuanya. Di mata saya mereka tidak terlihat seram melainkan gagah sekali. Layaknya panglima-panglima perang. Apalagi mereka mengenakan kain 'patola' berwarna merah yang membuat aura perangnya semakin terasa.

Para 'Kawasalan' atau prajurit perang sedang menari menyambut tamu.
Asal usul tarian ini katanya dari gabungan dua kata yaitu "Kawasal ni Sarian". "Kawasal" artinya menemani dan mengikuti gerak tari, sedangkan "Sarian" berarti pemimpin perang yang memimpin tari keprajuritan  tradisional Minahasa. 

Selama menari, mereka akan berteriak-teriak, diiringi tabuhan tambur, gong, kolintang. Selain itu mereka juga akan membawakan gerakan layaknya sedang berperang, saling mengayunkan pedang, menantang satu sama lain. Berdasarkan sumber di sini saya mendapatkan info kalau tarian ini memiliki 3 gerakan dasar yaitu :

1. Cakalele, yang berasal dari kata “saka” yang artinya berlaga, dan “lele” artinya berkejaran melompat – lompat. Babak ini dulunya ditarikan ketika para prajurit akan pergi berperang atau sekembalinya dari perang. Atau, babak ini menunjukkan keganasan berperang pada tamu agung, untuk memberikan rasa aman pada tamu agung yang datang berkunjung bahwa setan-pun takut mengganggu tamu agung dari pengawalan penari Kabasaran.
2. Babak kedua ini disebut Kumoyak, yang berasal dari kata “koyak” artinya, mengayunkan senjata tajam pedang atau tombak turun naik, maju mundur untuk menenteramkan diri dari rasa amarah ketika berperang. Kata “koyak” sendiri, bisa berarti membujuk roh dari pihak musuh atau lawan yang telah dibunuh dalam peperangan.
3. Lalaya’an. Pada bagian ini para penari menari bebas riang gembira melepaskan diri dari rasa berang seperti menari “Lionda” dengan tangan dipinggang dan tarian riang gembira lainnya. Keseluruhan tarian ini berdasarkan aba-aba atau komando pemimpin tari yang disebut “Tumu-tuzuk” (Tombulu) atau “Sarian” (Tonsea). Aba-aba diberikan dalam bahasa sub–etnik tombulu, Tonsea, Tondano, Totemboan, Ratahan, Tombatu dan Bantik. Pada tarian ini, seluruh penari harus berekspresi Garang tanpa boleh tersenyum, kecuali pada babak lalayaan, dimana para penari diperbolehkan mengumbar senyum riang.

Mereka mengenakan kain tenun merah yang disebut kain "Patola"

Berbagai macam tengkorak yang dipasang di badan para penari 'Kambasaran'

Foto bareng para Prajurit ;)

Sang Jenderal, paling ganteng dan paling gagah <3

Kami menghabiskan 4 hari di desa Kakas untuk mengikuti kompetisi di Bukit Kaweng. Dari atas bukit ini, pemandangan Danau Tondano sungguh sangat memanjakan mata. Betapa senangnya saya mendapatkan kesempatan untuk ikut dalam kompetisi ini dan berkunjung ke desa cantik ini. Yang bikin saya lebih senang lagi adalah penduduk lokal di sini mengolah 'pork' dengan sangat enak. Saangaaaattt... Saya sampai tambah lagi dan lagi. 

Waktu yang singkat dan bukan  dalam tujuan liburan membuat saya tidak bisa mengeksplor desa ini lebih jauh. Hiks. Semoga nanti bisa kesana lagi, bawa cerita seru lebih banyak ya.

Photo by : Juan Alfha Daniel

Saya dan teman-teman kontingen yang lain mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang mendukung terjalan dengan baiknya kompetisi ini. Terima kasih membuat kami serasa di rumah, dianggap sebagai saudara sendiri. Terutama kepada adik-adik ganteng dan cantik di Kaweng. Semoga, kedepannya, banyak tunas-tunas pilot paralayang di Kaweng karena mereka punya tempat dengan potensi yang baik. Semangat berlatih ya adik-adik ;)

Beberapa foto Paralayang ini adalah hasil kompetisi foto di Paragliding Trip of Indonesia 'TRoI' kemarin. Fotonya bagus-bagus sekali ya. Lebih bagus lagi kalau terbang langsung disana sih ;)

Photo by : Christian Garisa
Photo by : Ikhwan Wildani

Jalan-jalan di tepian Danau Tondano yang cantik <3

Terima kasih untuk semua saudara-saudara kami di Kaweng. Much much love <3

#WonderfulIndonesia #EnjoyIndonesia #IndonesiaOnly


Untuk menghemat biaya, seluruh atlit diangkut naik pesawat Hercules milik TNI Angkatan Udara. Hanya dengan membayar Rp 100.000,- per orang, seluruh peserta akan tiba di Manado dengan rute Jakarta - Yogya - Malang - Makassar - Manado.

Ini pengalaman pertama saya naik pesawat Hercules. Nggak ada rasa takut atau cemas walaupun banyak yang bilang pasti mabuk kalau pertama kali naik. Karena saya bukan tipe pemabuk, tidak pernah minum obat anti mabuk jika perjalanan jauh, jadinya santai ajaaaa...

Biasanya Hercules diberangkatkan jam 6 atau 7 pagi sehingga kami sudah harus ada di Landasan Udara Halim Perdanakusuma pukul 5 pagi. Ternyata, Hercules nya baru take-off dari Padang jam  06.00 dan diperkirakan tiba di Halim pukul 08.00 WIB. Sambil menunggu, markitur, mari kita tiduuurr....

Eh, niat mau tidur lama lenyaplah sudah. Baru saja tidur sebentar, petugas Lanud, bapak gendut yang hanya pakai celana santai dan polo shirt, membangunkan kami untuk timbang berat badan dan barang bawaan. Calon penumpang harus menggendong semua tas bawaan dan naik ke atas timbangan besar. Berat saya waktu itu 80 kilo sudah digabung dengan payung parasut besar dan daypack. Berat amat.

Timbangan di Lanud Halim Perdanakusuma
Benar saja, ketika jam sudah menunjukkan jam 8 lewat, Hercules yang kami tunggu-tunggu tiba dan kami dipersilahkan naik ke pesawat. Naik pesawatnya rebutan karena siapa cepat masuk dia yang dapat kursi. Hahahaha. Kalau nggak dapat kursi gimana? Ya suka-suka aja mau duduk dimana. Duduk di lantai atau di atas tumpukan barang. Mau gelantungan juga boleh :p

Rebutan masuk Hercules
Daripada ribet ngantri, selfie dulu boleh kali :p

Satu tim, ki-ka ; Dewe - Satya - Ina - Afdhol
Saya agak terkejut ketika melihat kursi di dalam pesawatnya tipis sekali dan menempel ke badan pesawat. Nggak ada seatbelt / sabuk pengamannya pula. Seatbelt aja nggak ada apalagi pelampung untuk emergency ya kan? Eh tapi nggak tahu sih apakah pelampungnya disimpan di satu tempat rahasia sama awak Hercules nya (salah satu sumber terbaru menyebutkan kalau Hercules itu punya seatbelt. Hmmmm, kemarin sih aku nggak melihat adanya seatbelt)  Beda jauhlah pastinya sama pesawat-pesawat komersil yang biasa kita naikin. Kalau naik Hercules dan terjadi sesuatu, satu-satunya yang bisa menyelamatkanmu adalah doa. Iya, cuma doa. Karena kondisi-kondisi di atas, kujuluki dia sebagai 'Angkot Udara' :p

Begini nih kalau di dalam pesawat Hercules. Semuanya memilih untuk tiduuuurrrr....
Ada pelajaran yang saya petik juga dari perjalanan naik Hercules kemarin. Jangan pakai baju tebal! Panas di dalam Hercules itu kayak lagi di dalam ruang sauna. Waktu kemarin saya memakai kemeja flanel dan alhasil keringatnya banjir. Air Conditioner nya ada tapi hanya nyala kalau pesawatnya sudah terbang. Jadi mulai pintu pesawat ditutup, menyusuri runway sampai take-off, AC nya mati, di dalam pesawat kayak nggak ada oksigen. Bisa sesak kalau kelamaan bro!

Yang nggak kebagian kursi, santai aja duduk di atas barang, tumpuk-tumpukan satu sama lain. Mukanya tetap ceria tuh di belakang :p
Pengalaman naik Hercules pertama kali ini juga menjadi momen terapes. Ketika naik ke pesawat, saya dapat bangku persis segaris vertikal dengan klep rem. Alhasil, ketika pesawatnya mau mendarat, kepala saya kena tetesan minyak rem (syukurnya pakai topi) dan dada saya juga. Waktu itu saya mengenakan tank-top sebagai dalaman dan tetesan minyak rem itu kena dada saya. Perihnya sampai 2 hari. Hiks. 

Namun, dari semua keapesan tadi, ada satu hal yang membuat saya kagum. Sewaktu mau melakukan pendaratan, pesawat berbadan besar itu mendarat dengan mulus. Nggak ada benturan keras dan sampai nggak berasa kalau pesawatnya sudah mendarat. Empat jempol deh buat pilotnya. Tapi ternyata itu tidak berlaku ketika perjalanan pulang. Kekaguman saya lenyap. Pilot sewaktu perjalanan pulang berbeda dengan pilot saat berangkat. Kalau yang perjalanan pulang ini, ketika pesawatnya mendarat, dentumannya keras banget dan bikin penumpangnya tergoncang-goncang di dalam. Weleh-weleh. 

Bawaan payung nya gede bener...
Para pramugari Hercules, Irene & Mila :p

Walau sempat menginap satu malam di Malang karena pesawatnya rusak, kami tiba di Manado dengan sehat dan selamat. Disambut cuaca cerah pula. Hehehehe. 

Jadi ada yang mau coba naik Hercules, si angkot udara? Ini dia syarat dan ketentuannya...



Ada satu museum yang sedang ramai diperbincangkan di social media, namanya Ullen Sentalu. Karena seluruh pengunjung dilarang mengambil gambar ruangan dalam museum, untuk memuaskan rasa penasaran, tentu saja kita harus datang langsung kesana.

Museum ini terletak di daerah Pakem, Kaliurang, Daerah Istimewa Yogyakarta. Waktu tempuhnya sekitar 45 menit dari pusat kota Yogya. Rasa sejuk menyapa kulit ketika kita memasuki komplek museum Ullen Sentalu. Kami datang di hari biasa sehingga tidak terlalu banyak pengunjung yang datang. Setelah membayar tiket seharga Rp 30.000,- per orang, kami diminta menunggu sebentar dan digabung dengan pengunjung lain. Tak lama kemudian, seorang Mbak cantik bertubuh mungil menghampiri kami dengan senyum sumringah, namanya Mbak Dian (sayang tidak sempat minta foto dengannya) 


Sebelum memasuki museum, Mbak Dian memberikan beberapa pengarahan kepada kami, salah satunya adalah dilarang mengambil foto selama berada di dalam museum. Mbak Dian membukakan pintu dan mulai bercerita tentang musuem Ullen Sentalu. Dengan sendirinya, kita akan mengerti mengapa kita dilarang mengambil foto di dalam museum. Alasannya tidak lain adalah agar kita menyimak penjelasan dari Mbak Dian dengan seksama dan tidak asyik sendiri foto sana sini. Saya kagum dengan Mbak Dian karena cara penuturannya yang khas, membuat pengunjung lekat padanya, dan mendengarkan setiap kata-katanya. 




Nama Ullen Sentalu adalah singkatan dari ulating blencong sejatine tataraning lumaku yang artinya nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan. Lampu blencong sendiri adalah lampu minyak yang biasa digunakan dalam pertunjukan wayang kulit. 

Bangunan Museum Ullen Sentalu didominasi oleh batu dan kayu dengan daun dan akar rambat menghiasi sudut-sudutnya. Pencahayaan ruangannya nyaman di mata dan membuat kita merasakan sensasi yang menakjubkan. Tempat pertama yang akan dikunjungi adalah Guo Selo Giri. Untuk memasuki ruang pameran pertama ini, kita akan melewati terowongan bawah tanah lalu menjumpai beberapa gamelan dan lukisan tokoh-tokoh keraton. Mbak Dian dengan apik membuat suatu narasi yang mengajak kita berimajinasi ke masa lampau. Saya benar-benar terperangah dibuatnya. 

Setelah Guo Selo Giri, Mbak Dian mengajak kami memasuki area Kampung Kambang yang terdiri dari 5 ruang pameran yang dikelilingi air yaitu Ruang Tineke, Ruang Paes Ageng Gaya Yogyakarta, Ruang Batik Vorstendlanden, Ruang Batik Pesisiran dan Ruang Putri Dambaan. 

Ruang pameran favorit saya adalah Ruang Putri Dambaan. Di ruang tersebut, kita diajak untuk mengenal satu putri kraton yang cantik dan serba bisa, jago berkuda, pandai menari pula, namanya Gusti Nurul Kamaril Ngasarati Koesoemawardhani. Saya terpana melihat foto-fotonya. Sebagai perempuan, saya kagum dengan pilihannya untuk tidak berpoligami, Dahulu, beliau menjadi rebutan banyak pria, termasuk Presiden pertama RI, Ir Soekarno. Pada akhirnya, sang putri dambaan ini menjatuhkan pilihannya kepada sepupunya, Kolonel Raden Mas Surjosularso. 

Gusti Nurul sedang berkuda, ooh ooh ohh keren sekali <3

Gusti Nurul yang cantik menawan
Sehabis mengunjungi ruang pameran tadi, kami disuguhi satu ramuan jamu khas keraton (Jamu Ratu Mas) yang rasanya enak (karena saya penyuka jamu kali ya) dan dipercaya dapat memulihkan stamina. Sehabis meminum jamu, kami diajak melintasi Taman Arca Durga dimana pengunjung boleh berfoto sejenak. Waktu itu pas dengan jam latihan adik-adik dari sanggar tari sehingga kami sempat menyaksikan sesi latihan mereka. Tak lama kemudian kami diajak memasuki Ruang Budaya untuk melihat beberapa patung penari tradisional Jawa. 

Taman Arca Durga
Adik-adik sanggar yang sedang berlatih menari tarian tradisional

Bagian belakang Museum Ullen Sentalu
Bareng teman-teman Partai Pejalan Nasional (jangan tertawakan namanya ya). Ki-ka : Like, Satya, Eka, Sita, Finna 


Dengan segala pesonanya, wajar saja Museum Ullen Sentalu ini terpilih menjadi "Traveller's Choice Attraction", menduduki posisi pertama di antara ratusan museum lainnya di Indonesia. Saya pribadi jatuh cinta sekali dengan museum ini. Museum ini pun menjadi favorit saya selain Museum Di Tengah Kebun ;) Saya tak bisa memilih antara keduanya karena sama-sama cantik dan memikat. 

Untuk info terkini tentang Museum Ullen Sentalu dan melihat beberapa foto-foto museum ini, teman-teman bisa mengunjungi website nya di sini ya.

Selamat terkesima...