Curug Cinulang, Curug Cari Jodoh di Sumedang

Sunday, September 14, 2014


Di Curug Cinulang
Bulan bentang narembongan

Hawar-hawar aya tembang
Tembang asih tembang kadeudeuh duaan

Di Curug Cinulang
Batin ceurik balilihan
Numpang kana panghareupan
Cinta urang mugi asih papanjangan

Kabaseuhan cai kaheman
Kaceretan ibun kamelang
Mengket pageuh geter rasa kahariwang
Hariwang cinta urang panungtungan


Sekiranya itulah sepucuk lagu dari (Alm) Darso tentang Curug Cinulang, curug (air terjun ) yang letaknya tidak jauh dari kota Sumedang / Bandung. Paragraf pertama lagu itu kurang lebih artinya begini (minta diterjemahkan sama teman yang jago basa Sunda) ; Di Curug Cinulang, bulan bintang menampakkan diri, terdengar ada nyanyian, nyanyian lagu favorit berdua.

Tjieeeh, mesra banget ini lagunya ya. Hahaha. Curug ini memang terkenal sebagai tempat untuk memadu kasih nih sejak dulu. Biasanya pasangan-pasangan di desa sekitar berjalan kaki hingga ke curug lalu mandi menyegarkan diri di curug. Dulu sih jalannya masih jalan setapak tanah berbatu. Kalau sekarang jalannya sudah beraspal mulus, jadi bisa naik motor atau mobil. Walau begitu kita mesti ekstra hati-hati berkendara karena jalanannya sempit.

Selama perjalanan menuju Curug Cinulang dari Sumedang, kami disuguhkan pemandangan pematangan sawah yang masih hijau. Udaranya yang sejuk membelai-belai wajahku. Begitu tiba di gerbang curugnya, ternyata kita harus menuruni tangga-tangga batu dan tanah untuk sampai ke curug, Turunnya hati-hati ya karena kalau terpeleset pastinya sakit banget. 

Pemandangan di tepi jalan menuju curug Cinulang...
Jalannya kecil sekali...


Sawah hijau membentang memanjakan mata...
Curug Cinulang ini terletak di tengah Sumedang dan Bandung, di kawasan hutan lindung Masigit Kareumbi. Kalau dari kabupaten Sumedang sekitar 1 jam dan 1,5 jam dari kota Bandung. Senangnya sewaktu saya datang kesana bersama teman saya Boa, tempatnya sedang sepi. Cuma ada kami berdua dan tiga akang-akang yang sedang bermain di sekitar curug. Mungkin karena hari biasa ya, bukan akhir pekan jadinya agak sepi. Dari belasan warung yang ada disana, cuma dua warung yang buka. 

Pintu masuk ke Curug Cinulang. Kita mesti menuruni puluhan tangga untuk sampai di curug :)
Sayangnya air nya sedang berwarna cokelat karena di hulu ada yang sedang membuka kolamnya, kata Akang Endang, penjaga di pintu masuk.
Warung-warung kopi menjamur di sekitaran curug. Karena hari biasa, warungnya kebanyakan tutup.


Kenapa curug ini dinamakan Cinulang? Katanya sih karena diambil dari kata "dulang" yang artinya tempayan. Jadi, cinulang ini ibarat air yang ditumpahkan dari Dulang. Tinggi curugnya sekitar 50 meter. Tempias air nya cukup kuat sehingga saya tidak berani berdiri di bawah air terjun nya. Pasti rasanya kayak kejatuhan batu berton-ton.

Oh ya, curug ini juga punya mitos loh. Konon katanya kalau datang berdua ke curug ini nanti dijamin putus sama pacarnya, tetapi kalau datangnya sendirian, bisa dapat jodoh di curug Cinulang. Ya kali! Aku sih cuma ketawa aja waktu dikasitahu mitos ini. Hahaha.

Sewaktu saya mengunjungi Curug ini kemarin, saya merasa beruntung karena datang pada saat yang tepat. Kami tiba sekitar jam 3 sore, tepat ketika matahari sedang menyinari air terjun ini. Dan apa yang aku dapat? PELANGI! Yes! A Rainbow... Senang sekali aku...

Beautiful rainbow. Isn't it? ;)

Duo bolang yang lagi maen ke Curug, aku dan Boa :)
Untuk biaya masuk dikenai Rp 5000 per orang dan Rp 10000 untuk parkir mobil. 

Selamat bersantai di Curug Cinulang... Yang jomblo boleh loh kesini, siapa tahu ketemu jodohnya. Hahaha *peace* Jadi marilah kita namakan Curug ini Curug Cari Jodoh ya ;)


You Might Also Like

3 comments

Subscribe