Friday, April 11, 2014

Museum di Tengah Kebun, Rumah Apik Penuh Barang Antik

Friday, April 11, 2014 71 Comments

*Check in di Path*

Satya Winnie is at "Museum Di Tengah Kebun (Jl Kemang Timur Raya No 66)

Lalu banyak komentar bermunculan.

"Eh, itu Museum di mana, Sat? Emang ada Museum di Kemang?" 

"Nama Museumnya apa, Sat?" (banyak yang nggak percaya kalau namanya memang Museum di Tengah Kebun)

Wah, ternyata cukup banyak warga Jakarta yang kurang tahu kalau ada museum ini ya. Ya udah, sini-sini baca cerita saya...

Atas ajakan seorang teman yang sangat suka Museum, Like, saya berkesempatan untuk mengunjungi museum ini. Karena untuk datang ke museum ini harus minimal 7 orang dan maksimal 10 orang, Like sampai nyari teman di twitter dengan hastag #LikeMencariTeman #MuseumDiTengahKebun Hahahaha. Terima kasih ya Kak Like.

Tidak ada biaya masuk yang dikenakan ke pengunjung alias gratis tis tis tapi harus melakukan reservasi dari jauh-jauh hari. Museum juga hanya dibuka hari Rabu, Kamis, Sabtu dan Minggu. Ada dua kloter kunjungan yaitu 09.45 - 12.00 dan 12.45 - 14.30. Reservasi Museum di Tengah Kebun : 021-7196907 / 0877-8238-7666

Pintu gerbangnya cukup nyentrik ya. Lengkap dengan pintu kecil nya. Seperti pintu labirin Alice in Wonderland.
Tepat pukul 09.30, seorang Bapak berbaju hitam dan telinga yang ditindik unik (saya suka sekali melihatnya)  membuka gerbang dan memperkenalkan diri. Namanya Pak Mirza Djalil, keponakan Pak Sjahrial Djalil (pemilik rumah / museum) yang berperan sebagai pemandu wisata kami. 

Guide kami, Pak Mirza yang super cool!
Setelah dipersilahkan masuk, kami terperangah dengan lorong sepanjang 60 meter. Seketika suasana menjadi sejuk padahal di luar gerbang tadi saya terus-terusan mengelap keringat yang bercucuran. Adem yeeeuuhhh....


"Lorong ini nih sering disebut lorong waktu sama pengunjung. Enak ya" kata Pak Mirza.

Memasuki bagian depan rumah kita sudah bisa melihat koleksi Museum di Tengah Kebun seperti patung Singa dari Dinasti Qing, Yoni, Pot Bunga Antik dari Jepang, Patung Pahat dari Asmat, Tempayan Air dari Cina, topeng-topeng Jawa sampai fosil batang pohon dan kerang dari zaman Triassic (248 juta tahun sebelum Masehi, lebih tua dari Jurassic). Keren!

Fosil kerang dari zaman Triassic dan Fosil Lebah Raksasa dari Sangiran, Jawa Tengah.
Luas Museum ini adalah 4200 meter persegi dengan luas kebunnya 3500 meter persegi. Jadi kebunnya lebih luas dari rumahnya. Itulah asal-usul mengapa tempat ini dinamakan Museum Di Tengah Kebun. Pak Sjahrial merancang sendiri rumah ini dengan bantuan seorang arsitek muda bernama Pak Temi pada tahun 1976. Pembangunannya selesai pada tahun 1980. Ada 17 ruangan di Museum ini dan dinamai sesuai barang heritage yang ada di dalamnya. Rumah Pak Sjahrial baru didaftarkan ke notaris sebagai Museum pada tahun 2009.

Bagian depan rumah mirip Rumah Kebaya nya Betawi ya.
Ternyata tidak hanya isi di dalam rumah yang menjadi koleksi museum, tetapi bahan bangunannya juga. Dinding, lantai, atap, pintu dan jendela punya cerita masing-masing. Batu bata nya diambil dari bekas gedung VOC yang berusia 400 tahun. Pintunya berjumlah 20 dan merupakan bekas pintu penjara wanita di Bukit Duri. 

Batu bata itu adalah bekas gedung VOC yang umurnya 400 tahun. Untuk batu yang berwarna hitam, itu karena lama terkubur di dalam tanah.

Pintu bekas penjara perempuan di Bukit Duri. Knop pintu nya sampai dua begitu ya.
Setelah mengisi buku tamu (saya adalah pengunjung ke 679), kami dipersilahkan untuk mengganti sepatu kami dengan sandal bersih yang sudah disediakan. 

Pintu depan Museum di Tengah Kebun. Ada Ganesha sebagai penjaga pintu nya. Di sebelah kanan ada meja kecil dan buku tamu yang harus kita isi.
"Di rumah ini ada 19 karpet Pakistan dari abad 19. Jadi kita berusaha menjaga karpet-karpet ini dengan sangat baik", ujar Pak Mirza

Kami lalu dipersilahkan masuk untuk berkeliling rumah. Pak Mirza meminta kami untuk tidak gaduh karena Pak Sjahrial sedang isthirahat. 

Pendopo di tengah kebun. Lampu gantungnya cantik sekali ya.
Setiap sudut rumah penuh dengan barang-barang antik yang punya cerita sendiri-sendiri. Salah satu barang antik yang saya suka adalah sofa di ruang tamu yang disulap dari gamelan. 



"Pak Sjahrial minta dibaringkan di sini ketika nanti beliau tiada. Dulu Ibu dan kakaknya Bapak juga dibaringkan di sini", kata Pak Mirza.

Waw...

Pak Sjahrial sudah tidak dalam kondisi yang fit dan menyadari bahwa sewaktu-waktu beliau bisa "pergi".

"Bapak sudah menyiapkan rencana dan gaji bagi seluruh pekerjanya untuk 15 tahun ke depan. Karena Bapak tidak punya anak, museum ini memang akan diwariskan untuk bangsa Indonesia. Bapak memang sangat memikirkan nasib banyak orang sampai-sampai menyiapkan plan untuk 15 tahun" ujar Pak Mirza.

Pak Mirza lalu  kembali  penuh semangat menceritakan barang-barang antik di museum. Tentu saja beliau tidak bisa menjelaskan satu per satu barang karena ada 2481 yang mewakili 63 negara dan 21 provinsi di Indonesia. 

Etalasenya penuh dengan barang antik dan buku-buku sejarah.
Pak Sjahrial memulai usaha advertising di usia 20an. Usahanya berkembang dengan pesat dan hobi travelling dan passion nya terhadap sejarah membuat beliau 26 kali keliling bumi (kata Pak Mirza, keliling bumi, bukan keliling dunia). Beliau sudah mengumpulkan barang-barang antik selama 42 tahun dan kebanyakan berasal dari Balai Lelang Christie. Harga-harga barang lelang di Christie's tentu saja tidak main-main. Pak Sjahrial membeli semua barang-barang tersebut dengan koceknya sendiri. *Ngebayangin berapa ya nominal di rekening beliau? Hahahaha* 

Salah satu barang kesukaan Pak Sjahrial adalah Kuda Tang dari Dinasti Tang pada abad ke 9.
Pak Mirza menjelaskan bahwa Pak Sjahrial selalu berjuang untuk mendapatkan barang yang menurut dia tidak ternilai harga sejarahnya, seperti kuda Tang. Saingan Pak Sjahrial yang terberat adalah museum luar negeri yang punya sponsor dan kolektor dari Abu Dhabi (duit mereka lebih nggak berdigit soalnya).

"Misi terbesar Pak Sjahrial adalah mengembalikan barang heritage Indonesia yang ada di luar negeri. Tapi pastinya butuh dana besar dan waktu yang lama" ujar Pak Mirza.

Oke kita jalan lagi.

Kami memasuki ruang makan dan 1 set peralatan makan cantik tersedia di atas meja. 

"Jarak antar piring, mangkok dan sendok ada ukurannya sendiri. Pak Sjahrial bisa ngambek kalau susunan piringnya salah. Saya bertanggung jawab penuh untuk memastikan semuanya tersusun sempurna." kata Pak Mirza.

Pak Sjahrial sangat memperhatikan Table Manner sehingga susunannya selalu seperti ini. Jaraknya nggak boleh salah.

Ruang makan pun tidak boleh luput dari barang antik.
Sebagai perempuan, saya ingin banget punya dapur seperti ini. Patung perempuan yang ada di sebelah kanan atas adalah sang penjaga dapur. Kata Pak Mirza, dia suka pindah-pindah kalau malam. :p
Tapi dibandingkan dapur, ruanan yang paling aku suka adalah Kamar Mandi. Loh kok?

Kamar mandi yang diberi nama ruangan Singagaruda ini luasnya 110 meter persegi. Bahkan lebih luas dari kamar utama Sewaktu rumah ini dibangun, kamar mandi inilah yang menjadi perdebatan antara Pak Sjahrial dan Arsiteknya. Tapi pada akhirnya, keinginan Pak Sjahrial dituruti juga dan jadilah kamar mandi mewah ini. Konsep kamar mandinya semi-outdoor. Bath tub nya dihias apik, ada karpet di tengah kamar mandi lengkap dengan bantalnya (untuk bersantai tidur siang di kamar mandi kah?) kursi santai yang antik, meja rias lengkap dengan toileteries Kaisar Wilhelm II dan jejeran closet (lemari baju). Semua perempuan pastinya pengen banget ya punya kamar mandi kayak begini. Hahahaha.

Kamar mandi impian seluruh perempuan nih. Hahaha.

Kursi santai antik dari abad ke 19. Keren ya!
Tak disangka-sangka Pak Mirza mengajak kami untuk bertemu dengan Pak Sjahrial. Suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan si empunya rumah. Walau terbaring di tempat tidur, Pak Sjahrial dengan bersemangat dan sumringah menyambut kedatangan kami di kamarnya. Diiringi alunan musik klasik, Pak Sjahrial bercerita mengapa beliau membangun museum ini dan menitipkan pesan agar seluruh masyarakat Indonesia khususnya kaum muda akan menjaga terus Museum ini walau nanti beliau telah tiada. 

Siap Pak! Kita janji :)


Pancaran sinar matanya yang hangat ketika bertemu kami menghancurkan bayangan awal saya tentang Pak Sjahrial sebagai milyuner yang kaku, perfeksionis dan tidak suka bersosialisasi (karena beliau tidak menikah). Salah, itu semua ternyata salah. Beliau, menurutku adalah salah satu pahlawan Indonesia yang berjuang memajukan bangsanya lewat sejarah. Tidak banyak kolektor mau membiarkan orang umum melihat semua koleksi antiknya yang harganya selangit seperti Pak Sjahrial. Saya angkat topi untuk Anda, Pak. Terima kasih yang tak terhingga dari masyarakat Indonesia.

Sampai dinding pun penuh dengan barang antik.
Sambil tetap mendengarkan cerita Pak Mirza, saya tak pernah melepaskan pandangan dari etalase-etalase kaca yang berisi koleksi antik Museum. Mungkin karena museum ini bukan museum biasa. Semua barang antiknya diacak, tidak runut sesuai abadnya atau tempat asalnya. Saya penasaran, ada apa lagi ya di dalam lemari kaca yang ini, yang itu, yang sini, yang sana. 

Saya suka banget itu cincin pelacur. Kok keren banget. Sayang nggak mampu beli :p
Setelah berkeliling rumah, kami diajak untuk melihat ke kebun. Ada kandang ayam, kolam renang dan patung Ganesha yang berasal dari Jawa Tengah, sekitar tahun 800. Kami semua diajak duduk di pendopo dan menikmati es teh jahe. Rasanya enak dan segar. Asyik betul deh. Sudah biaya masuk museumnya gratis, disuguhi minum pula. Berasa lagi berkunjung ke rumah teman atau saudara sendiri jadinya.

Patung Ganesha di tengah kebun.
Salah satu kamar untuk tamu yang juga tetap dipenuhi barang-barang antik.
Oh ya, tahukah kamu ada berapa orang yang membersihkan rumah seluas ini dan barang-barang antiknya? Ayo tebak! 5, 10, 15, 20?

Salah!

Cuma 1. Iya cuma satu orang yang membersihkan semuanya. Dia adalah Pak Samiun (kita nggak sempat ketemu Bapak ini) yang sudah dipercaya Pak Sjahrial selama 30 tahun untuk mengurus kebersihan Museum. Keren banget yah.

Ternyata setelah dua jam pun, saya masih belum puas mengelilingi Museum di Tengah Kebun ini. Seharian pun nggak cukup kayaknya. Hahaha. Yuk, yang mau ke sana ajak-ajak saya ya ;)

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mengajak saya ke sini, Like, Hanna, Ayu, Ria, Cyntia, Jaka, Sofyan dll.

Tuesday, April 8, 2014

Bersantai Sejenak di Pahawang dan Kelagian, Lampung

Tuesday, April 08, 2014 9 Comments
Pulau Kelagian
Berawal dari menghadiri acara di Pelabuhan Merak, kaki ini menjadi gatal untuk menyeberangi Selat Sunda. Belum tahu mau kemana, sama siapa dan bawa apa. Benar-benar tak terencana.

Saya berhasil menghasut Asti dan Alfy untuk ikut bersama dalam perjalanan dadakan ini. We decide to get lost.

Sebelum kapal kami berangkat dari Merak-Bakauheni, seperti biasa kami melihat beberapa pemuda berkulit hitam legam berenang-renang sambil berteriak minta uang. Saya menjatuhkan  beberapa keping uang logam ke laut dan secepat kilat mereka menyelam untuk mengambil uang koin itu.



Seorang Bapak Tua di sebelah saya menyeletuk, “Ngapain kasih uang, Mbak? Mereka malu-maluin. Masih muda dan kekar kok kerjaannya minta-minta?”

Saya terdiam dan tidak membalas apa-apa. Ya mau bagaimana lagi, uangnya sudah dijatuhkan. Saya sih hanya merasa kasihan dengan mereka yang berenang siang bolong demi uang receh. Pastinya mereka lelah. Tak ada salahnya kan berbagi beberapa keping, pikirku. Kalau mereka cuma duduk diam menadahkan tangan, mungkin tidak akan saya beri tapi kali ini mereka berenang, bergerak, melakukan sesuatu.

Ah, mari kita kembali ke cerita.

Berkenalan dengan teman-teman dari Basarnas, membuat kami mendapatkan tumpangan gratis dari Merak ke Lampung. Seru juga ternyata naik mobil berwarna oranye dengan sirene yang menyala itu. Perjalanan Bakauheni-Lampung kami tempuh hanya dalam 1.5 jam dari perjalanan yang biasanya 3 jam. Di tengah-tengah perjalanan, kami juga ditraktir makan di Warung Makan Profita (Jl Raya Kalianda Karang Maritim) yang enak dan cukup murah. FYI, semua warung makan Padang di jalur lintas Sumatera mahal semua, jadi Warung ini saya rekomendasikan kalau teman-teman jalan dengan low budget ( lebih murah lagi kalau bawa bekal sendiri :p )

Malam itu kami belum memutuskan akan menginap dimana sampai kami teringat dengan teman-teman Mapala di Unila (Universitas Lampung). Walau belum pernah bertemu, kami memberanikan diri untuk mampir. Toh sesama mahasiswa pecinta alam, saudara sendiri.
Memang betul kedatangan kami disambut dengan ramah. Baru tiba kami langsung disuguhkan teh manis dan pisang goreng. Kami larut dalam tawa, bercerita tentang apa saja. Tengah malam kami diajak melihat “gajah” alias monumen adipura yang ada patung gajahnya di Bandar Lampung.

Ceritanya Monumen Gajah ini adalah tempat nongkrong anak gaul Lampung. Ada seorang Bapak penjual Sekoteng yang sudah berjualan sekitar 30 tahun bernama Hadjat Sudrajat. Dari namanya, bias kutebak bahwa Bapak ini berasal dari Jawa Barat dan ternyata beliau orang Cirebon yang transmigrasi ke Lampung. Pak Hadjat dengan bangga bercerita bahwa anaknya semua sudah jadi sarjana berkat sekoteng buatannya. Air jahe yang dicampur dengan kacang hijau, kacang tanah, pacar cina dan potongan roti yang dijual dengan harga 6000 rupiah per gelas selama 30 tahun telah mengantarnya ke titik kepuasan hidup. Tak pernah kekurangan dan tak perlu berlebihan. Semuanya tercukupkan. Satu pesan yang beliau titipkan adalah “Bertekun, bersabar, bersyukur adalah kunci hidup bahagia”. Terima kasih Bapak Sekoteng. Akan kuingat selalu pesanmu.

Pak Hadjat sekoteng dan senyum manisnya :)
Kembali dari keliling-keliling kota, kami masih asyik mengobrol hingga sekitar pukul 2 pagi. Ya sudah bisa ditebak besoknya semua bangun kesiangan. Harusnya kami berangkat ke Dermaga Ketapang pukul 6 pagi. Cara menuju ke Pahawang :

1.     Naik Bus dari Bakauheni – Terminal Rajabasa : Rp 25000,- (Patas AC)
2.     Naik Angkot dari Terminal Rajabasa – Tanjung Karang : Rp 3000,-
3.     Naik Angkot dari Tanjung Karang – Teluk Betung : Rp 3000,-
4.     Naik Angkot Pick-Up dari Tanjung Karang – Dermaga Ketapang : Rp 8000,-

Ternyata kesiangan membawa berkah euy. Bang Yayang dari Basarnas berbaik hati menawarkan untuk mengantarkan kami ke Dermaga Ketapang. Uyeeeeee…

Setelah 1,5 jam berkendara, kami tiba di Dermaga Ketapang. Cuaca cerah walau langit tidak biru dan tidak ada awan putih bergulung-gulung. Walau begitu kami bersyukur karena sehari sebelumnya hujan deras sekali mengakibatkan longsor dan banjir (pengakuan masyarakat lokal). Kami dihampiri oleh Pak Taja yang langsung menawarkan kapal untuk ke Pahawang.

“Kalau naik kapal kayu biasa tiga ratus lima puluh ribu, tapi lambat jalannya. Mending naik speedboat Bapak, cuma empat ratus ribu seharian.” ujar Pak Taja.

Setelah berembuk, kami mengiyakan tawaran Pak Taja. Rombongan kami waktu itu hanya berlima yaitu saya, Asti, Alfy, Bang Yayang dan Lowo / Novia.

Dermaga nya tidak terlalu besar.
Kalau sudah ke laut, pastinya kurang afdhol kalau nggak snorkeling atau diving. Kami memutuskan untuk snorkeling dan menyewa alat ke Pak Taja. Satu set nya Rp 50.000,-. Memang sedikit lebih mahal dibandingkan penyewaan alat di  Kepulauan Seribu ya.

Kami bertolak dari Dermaga Ketapang jam 10.12 dengan dipandu Bang Mail yang juga merupakan nahkoda speedboat. Mobil diparkir di dekat dermaga dengan biaya parkir Rp 10.000,-. Sebagai pembuka kami dibawa ke Pahawang Kecil. Ada satu resort pribadi yang dimiliki oleh Mr. Jo, pria berkebangsaan Prancis. Bangunan resortnya terlihat mewah namun ada larangan untuk memasuki daerah resort kalau kita bukan tamu yang menginap di sana. 

Private resort di Pahawang Kecil
Kami lalu bertolak ke tengah dan menemukan banyak spot snorkeling yang cantik. Sayangnya, banyak juga spot yang sudah rusak akibat coral bleaching dan bom ikan. Menurut pengakuan Bang Mail, dulunya nelayan memang suka ngebom di daerah itu namun sekarang sudah dilarang oleh Pemerintah. Ya tetap saja dibutuhkan puluhan tahun untuk karang-karang itu tumbuh kembali. Semoga kedepannya tidak akan ada lagi pengeboman seiring bertumbuhnya pariwisata di kawasan ini. Amin!

Kami suka spot yang ini. Terumbu karangnya cantik dan terjaga dengan baik. 


Air laut yang super jernih ditambah dengan cuaca yang cerah membuat saya senang sekali melakukan freedive walau sebentar. Ternyata sangat menyenangkan ya merasakan sensasi diam di dalam air. Rasanya pengen diseriusin nih, apalagi sudah ada komunitasnya di Jakarta. Ada yang tertarik juga? ;)

Matahari tegak lurus di atas kepala membuat kami memutuskan untuk sandar dulu di pulau Pahawang Besar. Kami beristhirahat di pendopo kampung di dekat dermaga. Buaian angin laut dan cuaca yang panas membuat kami mengantuk. Sementara teman-teman saya tertidur, saya pergi berjalan-jalan ke kampung.

Selamat datang di Pahawang Besar.
Jalan blok di pulau Pahawang Besar. Kalau mau keliling pulau naik motor bisa memakan waktu 30 menit.
Saya pergi ke satu rumah dimana Ibu-ibu sedang berkumpul dan ngerumpi di teras. Dengan senyum-senyum saya datangi Ibu-ibu itu berbaur ngobrol dengan mereka. Begitu tahu saya datang dari Jakarta mereka langsung heboh membicarakan Monas dan TMII. Ternyata ada caleg yang mengajak mereka jalan-jalan ke Jakarta 1 minggu sebelumnya. Wuidiihhh, sekarang zamannya caleg kampanye dengan sogokan jalan-jalan ya, bukan sogok duit lagi. Ya bagus sih untuk menarik hati masyarakat. Asalkan nanti setelah terpilih nggak lupa ngajak jalan-jalan lagi. :p

Pas ngobrol mah koplak dan ngakaknya gak karu-karuan. Pas difoto jadi kalem. Malu katanya :p
Pulau Pahawang Besar ini katanya bisa dikelilingi dengan motor selama setengah jam. Pak Agus, sebagai salah satu pemilik homestay menawarkan untuk memakai sepeda motornya. Sayangnya kami harus segera bertolak kalau masih mau snorkeling di beberapa spot dan pulang tepat waktu. Lain kali deh ya keliling pulau nya. Untuk menginap di Pahawang besar, biayanya adalah Rp 400.000,- per malam di satu rumah dengan kapasitas 20an orang.

Di Pahawang Besar, kita mungkin akan sering bertemu dengan monyet-monyet kecil di halaman rumah. Kasihan mereka diikat dan ditaruh di kandang yang kecil. Monyet-monyet ini berasal dari hutan dan katanya boleh diambil oleh siapapun yang menemukan. Bingung saya. Toh monyet itu tidak menghasilkan apa-apa, kenapa harus dikungkung seperti itu? Tapi ya saya bisa apa ya? L

Si monyet kecil ini nyengir senyum atau nyengir ngancem supaya kita jangan dekat-dekat ya? 
Kami meninggalkan Pahawang Besar sekitar jam 1 dan langsung menuju Pulau Kelagian Kecil lalu Kelagian Besar. Pulau Kelagian Besar merupakan pulau yang dimiliki oleh Angkatan Laut. Per orang dikenai biaya masuk Rp 3000,-. Ada pondok-pondok yang disewakan dengan harga Rp 25000,- per hari dan Rp 50000,- jika ingin bermalam.
  
Cuacanya cerah tapi berawan.
 




Selagi teman-teman yang lain snorkeling dan bermain pasir, saya pergi berjalan-jalan mengelilingi pulau. Saya bertemu dengan bapak yang sedang bakar ikan di pantai lalu saya ajak ngobrol. Pak Hendri namanya. Dengan muka yang ramah, ia menawarkan saya untuk makan ikan bakar bersama-sama. Katanya saya wajib mencoba "sruit" khas Lampung yang dibuat istrinya.

Ini namanya Ikan Udo.

Kita makan sambil dikerubungi anjing-anjing pulau yang lapar. Anjingnya kurus-kurus semua :(

Ikan Udo dimakan pakai sambal "sruit". Sruit itu dibuat dari cabe, garam, micin, rampai dan terasi bakar.


Rasanya sedap betul menyantap Ikan Udo dengan sambal "sruit" yang super pedas di siang bolong. Keringat mengucur deras tapi lidah tak mau berhenti ngunyah. Aduh, jadi ketagihan.

Salah satu hal unik yang aku temukan di pulau ini adalah lubang kepiting dengan pasir-pasir bulat yang rapi mengelilinginya. Apa ya kegunaan dari pasir bulat-bulat itu? Lalu bagaimana kepiting itu membuatnya dengan capitnya? Ada yang bisa menjawab? Hahahaha :D


Kami tidak berencana menginap di Pahawang karena harus pulang ke Jakarta malam itu juga. Tapi pastinya akan kembali lagi untuk menikmati alam bawah laut nya dan ikan bakar bumbu "sruit". Saranku juga bawalah underwater camera atau waterproof case untuk motret keindahan terumbu karang di Pahawang dan Kelagian. Sekitar 10 meter dari bibir pantai, kita sudah bisa bertemu dengan ikan-ikan lucu dan coral-coral cantik. Bisa selfie juga. Hahaha. 

Karena kunjungan ke Lampung cuma 2 hari, saya memberi judul "Bersantai Sejenak". Buat teman-teman yang kerja kantoran juga bisa bersantai dengan memanfaatkan libur Sabtu dan Minggu. Selamat menikmati :)



Follow Us @satyawinnie