Kang Narja & Anaknya yang merupakan penduduk asli Baduy Dalam.
Dari ratusan suku yang terdapat di Indonesia, Baduy adalah salah satu suku yang membuat saya banyak belajar tentang hidup sederhana, hidup selaras berdampingan dengan alam. Ketika generasi sekarang malu jika tidak memiliki smartphone dan tablet teranyar, suku Baduy Dalam bersikukuh untuk hidup tanpa aliran listrik. Mempertahankan apa yang diajarkan oleh nenek moyang mereka sejak ratusan tahun yang lalu.

Suku Baduy atau sering juga disebut orang Kanekes, terbagi menjadi dua yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Mereka bisa dibedakan dari warna pakaian yang dikenakan. Baduy Luar berpakaian hitam dan Baduy Dalam berpakaian putih. Baduy Luar sudah memakai alas kaki, Baduy Dalam tidak. Baduy Luar boleh menggunakan transportasi sedangkan Baduy Dalam tidak boleh, harus berjalan kaki kemana-mana. Iya kemana-mana, contohnya ke Jakarta, mereka butuh 6 hari untuk pergi dan pulang. Baduy Luar sudah sedikit melek teknologi, punya televisi, telepon genggam dan lain-lain. Orang Baduy khususnya Baduy Dalam semuanya buta huruf, tidak bisa baca tulis karena tidak pernah bersekolah. Tetapi beberapa dari mereka bisa berbicara dengan bahasa Indonesia walaupun tidak pernah belajar di sekolah.

Kalau berdasarkan info yang saya baca di sini, beberapa peraturan yang dianut Baduy Dalam antara lain :
  • Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi
  • Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki
  • Pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah sang Pu'un atau ketua adat)
  • Larangan menggunakan alat elektronik (teknologi)
  • Menggunakan kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern. Kelompok masyarakat kedua yang disebut panamping adalah mereka yang dikenal sebagai Baduy Luar, yang tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Baduy Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Masyarakat Baduy Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam.

Baduy Dalam hanya tinggal di tiga desa yaitu Cibeo, Cikeusik dan Cikertawana. Desa-desa ini hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki atau trekking.

Di sini saya ingin bercerita tentang Suku Baduy Dalam di Desa Cibeo yang saya kunjungi pada tahun 2011 silam dan apa saja yang saya lihat serta pelajari di sana.

---

Awalnya saya diajak oleh dosen sekaligus Opa angkat saya, Prof. Boedhihartono untuk menemaninya membawa rombongan ke Baduy Dalam. Rombongan yang dimaksud di sini adalah teman-teman Opa Boedhi yang tergabung dalam komunitas meditasi. Semuanya sudah berumur separuh baya lebih, kecuali Mas Eko Sanjoto. 

Kami menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam naik mobil dari Pondok Labu, Jakarta Selatan untuk mencapai Nanggerang, Banten, entry point terdekat menuju Cibeo. Untuk mengunjungi Baduy ada beberapa pilihan pintu masuk yaitu Ciboleger (yang paling umum), Cijahe, Nanggerang.

Kondisi jalan yang rusak, penuh turunan dan tanjakan bikin pantat pegal.
Tiba di Nanggerang, bekal makanan dikeluarkan dari mobil dan dibongkar di satu pondokan kecil. Perut-perut yang keroncongan langsung berkeliling rapi, antri mengambil nasi. Semua makan dengan lahap, sambil menunggu kedatangan guide dan penduduk lokal yang akan membantu kami mencapai Cibeo.

Tak lama kemudian, Kang Saldi datang dan menyapa kami dengan senyum sumringah. Beliau adalah penduduk Baduy Luar yang akan mengantarkan kami menuju desa Cibeo. Dibantu dengan beberapa penduduk lokal yang membawakan barang-barang bawaan dan logistik, kami siap berangkat.

Desa Nanggerang. Masyarakatnya adalah orang Sunda tetapi bukan Baduy.
 Beberapa tongkat kayu kecil sudah disiapkan untuk menjadi tongkat jalan bagi Om dan Tante. Katanya dibutuhkan waktu 2-3 jam berjalan ke Cibeo tergantung kecepatan jalan. Tentu saja bagi orang tua yang sudah berumur, jalannya tergolong lambat.


Tugu selamat datang di Nanggerang.
Tak jauh dari tempat itu kami berpapasan dengan penduduk yang sedang membangun rumah mereka. Rumah yang dibangun sudah modern karena memakai batu dan semen. Sedangkan rumah tradisional Baduy terbuat dari kayu dan bambu yang dibangun tanpa paku, melainkan diikat.

Di kejauhan terlihat perbukitan yang akan kami lewati menuju Cibeo
Walaupun rombongan berjalan dengan ritme sangat pelan, saya kagum melihat Om dan Tante ini yang tetap aktif dan bersemangat untuk berjalan di usia yang tak lagi tergolong muda. Sesekali kami berhenti untuk minum seteguk air, melap peluh yang bercucuran lalu kembali berjalan.

Jalur menuju Cibeo itu naik turun bukit berkali-kali. Jadi pakailah sepatu yang nyaman agar kaki tidak lecet dan mencegah cedera.

 Berpapasan dengan anak Baduy Luar.
Sebelum tiba di Cibeo, kami melintasi beberapa desa kecil yang tidak sempat kucatat namanya. Kami melintasi rumah-rumah penduduk dan lumbung padi. Namun kami tidak berjumpa dengan siapapun di sana. Kata Kang Saldi, semua penduduk sedang berada di ladang.

Melewati rumah Baduy Luar dan lumbung-lumbung padi.
Medan terberat untuk rombongan ini bukanlah tanjakan, tetapi titian. Beberapa kali kami berjumpa dengan titian / jembatan kecil yang dibuat dari bambu atau kayu yang diletakkan begitu saja sehingga letaknya tidak rata. Hal ini cukup menyulitkan bagi Om dan Tante yang keseimbangannya sudah tidak terlalu baik dan memakan waktu yang lama hingga semua bisa melewati titian dengan ekstra hati-hati. Apa kataku tadi? Om dan Tante ini punya semangat juang yang tinggi.

Salah satu titian bambu yang harus dilewati.
Setelah berjalan 1,5 jam dari Nanggerang, kami tiba di jembatan bambu yang besar di atas sungai Ciujung. Saya tidak tahu mengapa sungai ini dinamakan dengan nama Ciujung. 

Jembatan ini murni terbuat dari bambu dan ijuk saja. Tidak memakai paku satu buah pun. Hebat sekali ya.




Karena musim kemarau, air sungai surut. Opa-opa ini beristhirahat sebentar dan merendam kaki mereka yang lelah di air
Kang Saldi mengingatkan bahwa setelah melewati jembatan ini seluruh rombongan harus mematikan seluruh alat komunikasi, memasukkan kamera dan berjanji tidak akan menghidupkan seluruh gadget itu sampai keluar dari Cibeo. Itu memang sudah menjadi peraturan adat yang tidak bisa dilanggar di Cibeo. Kalau kata Kang Saldi, dahulu ada wisatawan yang nakal dan tidak mengindahkan peraturan tersebut lalu meninggal. Saya sih percaya enggak percaya dengan cerita Kang Saldi, tetapi menurut saja. Namanya kita tamu ya harus menghormati yang empunya rumah.

Selain tidak boleh menghidupkan gadget, peraturan lainnya yang agak aneh menurut saya adalah wisatawan asing berkulit putih dan keturunan Tionghoa tidak diperbolehkan masuk ke Baduy Dalam. Memang agak rasis terdengarnya, tetapi mereka pasti punya alasan tersendiri untuk itu.

Sekitar 30 menit setelah melewati jembatan bambu, kami tiba di Cibeo. Opa Boedhi sudah sangat mengenal beberapa penduduk tua di Baduy. Yang paling akrab adalah keluarga Pak Narja, yang masih sering mengunjungi Opa ke rumahnya di Jakarta.

Kami masuk ke dalam rumah salah satu anak Pak Narja yang sudah menikah. Di dalam ada istri dan anak bayi berumur enam bulan. Anak Pak Narja masih berumur 18 tahun dan istrinya 16 tahun. Di Baduy Dalam, nikah mudah sudah biasa. Mereka tidak bisa memilih menikah dengan siapa karena sejak lahir jodohnya sudah ditentukan oleh orang tua. Mungkin perjodohan itu dilakukan untuk menghindari pernikahan dengan keluarga dekat mengingat jumlah penduduk Baduy Dalam tidaklah banyak. Kau hanya butuh percaya bahwa pasangan yang dipilihkan oleh orang tuamu adalah yang terbaik. Kan katanya cinta bisa datang karena terbiasa. (Bener nggak?)

Ketika kami duduk di teras rumah Pak Narja, Opa mengeluarkan beberapa bungkus besar permen lalu memberikannya pada saya.
“Sat, kamu bagikan dengan anak-anak sekitar sini ya” ujar Opa.

Awalnya saya bingung tetapi saya ambil lalu membaginya dengan siapapun yang kutemui di sana. Anak kecil kakek, nenek, semuanya menerima permen dengan tersenyum ramah.

Opa bilang bahwa sejak dulu, suku Baduy Dalam tidak terlalu banyak berinteraksi dengan orang luar atau wisatawan.Tetapi mereka sangat suka permen, jadi itu adalah cara kita mendekati mereka agar menerima kedatangan kita dengan ramah.

Ada sedikit rasa hangat di hati saya ketika bisa berbagi hal kecil dengan mereka. Ah, andai Opa bilang sebelum kami berangkat ke Cibeo, saya mau membawa lebih banyak perbekalan permen untuk dibagikan.
Om dan Tante terlihat sangat kelelahan sejak tiba di rumah Kang Narja sehingga memutuskan untuk beristhirahat saja di dalam rumah, ngeteh dan mengobrol santai. Sedangkan Opa mengajak saya dan Mas Eko untuk berkeliling Cibeo. Opa bercerita bahwa lokasi desa Cibeo ini sudah pindah karena desa yang dulu kebakaran. 

Kami mengarah ke satu sungai, yang mungkin masih bagian dari sungai Ciujung tadi. Terlihat beberapa wanita Baduy Dalam yang sedang mencuci dan mandi. Beberapa diantaranya mandi tanpa ada sehelai kain pun melapisi tubuh. Tapi tidak boleh mikir jorok, bersikaplah biasa-biasa saja dan juga jangan terus-terusan dilihatin.

Untuk tamu yang mau bebersih diri, ada pancuran dengan bilik bambu setinggi kepala orang dewasa jadi tidak akan terlihat dari luar. Tidak ada bahan kimia yang boleh kita pergunakan di sini seperti sabun, shampoo, pasta gigi dll. Mandi dengan air gunung saja sudah bersih dan segar kok. 

Sore pergi, malam datang. Cahaya dari lampu semprong adalah satu-satunya penerangan di Cibeo. Semua masuk ke rumah, makan bersama-sama dan pergi tidur.

Malam itu kami disuguhkan nasi dengan lauk sarden, indomie, telur. Seluruh bahan makanan tadi sudah dibawa dari Jakarta. Sang empunya rumah yang akan memasak untuk kita dan sebagai gantinya kita memberikan uang secara sukarela dan bahan makanan.

Setelah makan malam, rombongan Om dan Tante yang tergabung dalam satu komunitas meditasi, melakukan meditasi. Saya diajak turut serta dan dengan senang hati ikut meditasi. Agak susah ya untuk betul-betul berkosentrasi, menyeleraskan badan dan pikiran. Tapi hasil dari meditasi malam itu adalah saya tertidur dengan pulas. Entahlah itu efek meditasi atau memang badannya sudah lelah menempuh perjalanan seharian. Hehehehe.

Keesokan paginya, kami dibangunkan oleh udara dingin yang cukup menusuk tulang. Semalaman, kami hanya tidur beralaskan tikar dan bergelung dengan sarung. Setelah nyawa terkumpul, saya langsung menuju dapur untuk membantu Neng (istri anak Pak Narja) memasak sarapan pagi.

Rombongan Om dan Tante ini punya tujuan tersendiri mengunjungi Cibeo. Selain ingin berjalan-jalan menghirup udara segar, mereka ingin bertemu dengan ‘Puun’, tetua adat Baduy Dalam. Mereka sudah menyiapkan kain putih, gunting, kemenyan dan minyak wangi yang saya kurang tahu untuk apa.

Tak lama setelah kami selesai santap pagi, ‘Puun’ dan rombongannya masuk ke dalam rumah tempat kami tinggal. Mereka berbicara dalam bahasa Sunda yang agak berbeda dengan bahasa Sunda yang saya dengar di Bogor atau Bandung. Kata Opa mereka berbicara memakai bahasa Sunda juga tetapi dialeknya Banten. Opa lalu bercakap-cakap dengan ‘Puun’ dan menyatakan maksud dan tujuan kedatangan rombongan kami ke Cibeo.

Opa menjadi penerjemah bagi rombongan Om dan Tante yang ingin menyatakan permohonan mereka kepada ‘Puun’. Hampir semuanya hanya minta diberikan kesehatan dan kebahagiaan.
Ketika tiba giliranku, Opa bertanya apa yang ingin kuminta kepada ‘Puun’. Aku sempat bingung, kenapa harus mengajukan permohonan. Tapi untuk menghormati, aku mengajukan permohonan agar diberi kesehatan, kelancaran studi dan jodoh yang baik. Hahaha. Ya, sewaktu itu saya sedang sendiri alias jomblo, sehingga meminta dipertemukan dengan lelaki yang baik. ‘Puun’ tersenyum mendengarkan permohonan saya. Om dan Tante juga ikut senyum-senyum. Doh, jadi malu.

Setelah diberikan wejangan dalam bahasa Sunda, masing-masing dari anggota rombongan kecuali Opa diberikan minyak wangi dan kemenyan. Katanya minyak wangi itu harus dioleskan ke alis setiap hari dan kemenyannya harus dibakar satu kali setiap minggu. Sampai sekarang minyak wangi dan kemenyannya tersimpan rapi di kamar saya dan tidak pernah dipakai. Walaupun begitu, tidak sampai sebulan setelah kunjungan ke Cibeo, saya punya pacar. Hahahaha. Apakah itu kebetulan?

Perjalanan ke Baduy Dalam selesai sudah. Kami harus pulang saat itu juga karena di Baduy Dalam, kita dibatasi hanya boleh menginap satu malam saja.

Kami berjalan menyusuri jalur yang kami lewati ketika berangkat. Agar bisa merasakan menjadi seperti orang Baduy, saya melepas sepatu dan berjalan tanpa alas kaki. Ternyata enak juga jalan nyeker di tanah basah walau sesekali meringis karena menginjak kerikil. Ada sensasi dingin menggelitik di kaki yang terasa menyenangkan. Agak aneh ya karena saya menyarankan agar teman-teman memakai sepatu yang nyaman dan baik kalau trekking ke Baduy tapi saya sendirinya nyeker.


Ki - Ka : Akang Kasep (ganteng), Kang Saldi (pemandu kami) dan saya.
Ikut Bapaknya mengantarkan kami keluar desa. Malu maluuuu dia.
Kalau berjalan ke luar kampung, orang Baduy Dalam biasanya memakai luaran hitam, mungkin sama seperti jaket, tetapi tetap pakai slayer dan ikat kepala warna putih. Di luar Baduy Dalam, mereka boleh difoto.
Di tengah perjalanan pulang, kami melihat beberapa Ibu-ibu Baduy Luar yang sedang menumbuk beras. Kami sempat berhenti dan bercengkerama dengan mereka. Salah satu Om ikut mencoba menumbuk beras dan mukanya senang sekali.

Si Om asyik mencoba menumbuk beras bersama Ibu-ibu Baduy Luar.
Kalau tidak ke ladang, para Bapak melakukan pekerjaan rumahan seperti menganyam atap.
Rombongan pun sudah tiba dengan selamat di entry point, desa Nanggerang. Kang Narja yang ikut mengantarkan kami pulang, memetik beberapa kelapa muda dan diberikan kepada kami. Waduh nikmatnya, setelah lelah berjalan kaki selama 3 jam minum air kelapa muda. Nyessss.

Opa Boedhi menenggak kelapa muda yang nyes banget.
Sebelum pulang, foto bersama dulu :)
Perjalanan ke Baduy Dalam meninggalkan kesan yang mendalam untuk saya. Walau tidak bisa sepenuhnya menerapkan kebiasaan hidup mereka, saya belajar untuk lebih menjaga kebersihan dan kelestarian alam. Saya belajar juga untuk tidak terlalu bernafsu dengan kesenangan duniawi karena katanya "Bahagia itu Sederhana". Memang benar bahwa kita bisa hidup tanpa teknologi, tapi itu adalah pilihan. Tetapi melestarikan lingkungan dan menjaga keasrian alam adalah wajib.

Setelah bersalam-salaman dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, kami pamit kepada Kang Narja dan teman-teman dari Baduy Dalam. Suatu saat nanti saya pasti akan kembali lagi ke Cibeo dengan membawa lebih banyak permen. :)

---


Jalur lain menuju Baduy :

  • Naik Kereta Api dari stasiun Tanah Abang ke Rangkasbitung dengan naik kereta Rangkas Jaya, ongkos Rp 4000,-
  • Dari Rangkasbitung bisa naik elf atau angkutan umum ke Ciboleger atau Cijahe, jalur yang paling umum dilewati wisatawan yang ingin melihat Baduy Luar dan Baduy Dalam.

Tips ke Baduy :

  • Bawa perlengkapan pribadi yang cukup. Pakaian ganti, jaket, sarung, sleeping bag (agar hangat), obat-obatan pribadi, sandal / sepatu gunung yang anti slip.
  •  Selain perlengkapan pribadi, jangan lupa untuk membawa perbekalan seperti beras dan lauk-pauk. Bawa air dan snack yang cukup untuk di perjalanan. Daripada bawa cemilan seperti kripik, mending bawa roti.
  • Untuk memasuki Baduy, kita harus dibimbing oleh pemandu wisata yang banyak terdapat di Ciboleger. Hanya mereka yang tahu jalurnya karena tidak ada petunjuk jalan.
  • Taatilah seluruh peraturan yang ada. Kalau diminta untuk mematikan handphone dan tidak memotret di Baduy Dalam, ya dituruti.
  • Berilah senyum kepada setiap penduduk yang berpapasan dengan kita. Walau mereka tidak terlalu suka berinteraksi dengan wisatawan, kita sebagai tamu harus sopan dengan memberikan senyuman. 
Horas!



Bulan Desember kemarin, kita digegerkan dengan kabar meninggalnya seorang siswi SMA 6 Bekasi, Shizuko, di Gunung Gede karena Hipotermia. Hari ini, 22 Januari, saya mendapatkan kabar lagi tentang seorang pendaki bernama Helmy meninggal karena Hipotermia (Hipo) di Gunung Salak. Beritanya bisa dibaca di sini.

Helmy yang tergabung dalam organisasi pecinta alam IISIP, Caterva, pastinya sudah mendapatkan pendidikan tentang management perjalanan / pendakian yang cukup baik. Kenapa hal seperti ini masih bisa terjadi? Walau begitu, saya turut berbelasungkawa atas kepergian Helmy. Semoga Helmy dan Shizuko diterima di sisi kanan-Nya dan hidup damai di surga.

Apa sih itu Hipotermia?
Hipotermia adalah ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan panas tubuh atau menyesuaikan suhu dengan  cuaca dingin. Suhu tubuh normal manusia berkisar 36.5 – 37.5 derajat celcius. Jika suhu tubuh berada di bawah 35 derajat, berarti betul terkena hipotermia. Ketika dipegang, tubuhnya tetap hangat tetapi suhu tubuhnya menurun. Oleh karena itu banyak yang menganggap sepele dengan gejala hipotermia dan mengira bahwa korban sedang meracau karena kesurupan. Padahal itu salah besar.

Gejala Hipotermia itu seperti apa?

RINGAN
- Terjadi penyempitan pembuluh darah di permukaan.
- Merinding hebat, pelan-pelan semakin sering. 

SEDANG
- Terjadi penyempitan pembuluh darah di permukaan
- Merinding hebat, pelan-pelan semakin sering.
- Mulai sulit melakukan gerakan tubuh yang rumit, seperti mencengkeram, atau memanjat, meskipun si pendaki masih bisa berjalan dan berbicara normal. 

BERAT
- Merinding makin hebat dan datang bergelombang, dan tiba-tiba berhenti. Makin lama fase berhenti merinding semakin panjang, hingga akhirnya benar-benar berhenti. Hal ini disebabkan glikogen yang dibakar di dalam otot sudah tidak mencukupi untuk melawan suhu tubuh yang terus menurun. Akibatnya, tubuh berhenti merinding untuk menjaga glukosa.
- Korban jatuh dan tak bisa berjalan/melangkah, kemudian meringkuk untuk menjaga panas tubuhnya.
- Otot mulai kaku. Ini terjadi akibat aliran darah ke permukaan berkurang dan disebabkan oleh pembentukan asam laktat dan karbondioksida di dalam otot.
- Kulit terlihat mulai pucat.
- Bola mata tampak membesar.
- Denyut nadi terasa menurun.
- Pada suhu 30 derajat Celcius, kondisi tubuh masuk ke dalam fase penghentian metabolisme. Korban tampak seperti mati, padahal sebetulnya masih hidup.
- Pada suhu internal 32 derajat Celcius, tubuh berusaha memasuki fase hibernasi, menghentikan seluruh aliran darah permukaan dan mengurangi aktivitas jantung.

(Sumber : Buku Panduan BKP Mapala UI 2012) dan tulisan senior saya "Waduh Itu Gejala Hipotermia Bukan Kesurupan"

Bagaimana cara menangani Hipotermia?

2012 kemarin ketika saya dan teman-teman melakukan pendakian ke Gunung Masurai di Jambi, salah satu teman, R, terkena Hipotermia. Penyebabnya waktu itu R lupa mengganti baju jalan dengan baju kering. Ketika melakukan pendakian, tubuh kita pastinya berkeringat dan basah. Sebaiknya langsung mengganti baju jalan dengan baju kering ketika tiba di camp.

Hari itu adalah hari ketiga pendakian. Kami tiba di camp sekitar pukul 4 sore, angin bertiup kencang dan udara cukup dingin, namun R tidak memakai jaket serta masih memakai baju jalannya. Ketika kita mengingatkan agar dia pakai jaket, R berdalih dengan mengatakan dia tidak kedinginan karena sedang memasak air, dan malah merasa kepanasan. Aneh kan.

R mulai terlihat pucat dan kami curiga dia sakit. PJ Medis perjalanan kami langsung mengambil thermometer dan mengecek R. Ternyata suhu tubuhnya 32 derajat celcius padahal tubuhnya tidak dingin. R positif terkena Hipotermia dan kami langsung melakukan langkah-langkah ini :

  • Mengganti baju R dengan yang kering
  • Membawa R ke dalam tenda dan memasukkannya ke dalam sleeping bag. (Sebenarnya lebih bagus lagi kalau dibungkus aluminium foil)
  • Kami sudah mengantisipasi akan munculnya hipotermia sehingga membawa hot pack dan plastik. Kami memasak air hangat dan memasukkannya ke dalam hot pack, botol minum dan plastik kemudian meletakkannya di leher, ketiak, bawah lutut dan ujung kaki R.
  • Selama suhu tubuhnya belum stabil, R harus diajak ngobrol terus-terusan, berinteraksi, memaksa dia untuk tetap sadar dan tidak tidur. Waktu itu R sudah kehilangan kesadaran. Apapun pertanyaan atau kata-kata yang kami lontarkan hanya dijawab dengan erangan “eeuhh…euuuhh”
  • Sebenarnya langkah yang lebih baik adalah melakukan metode skin-to-skin atau transfer panas tubuh dengan menempelkan tubuh dalam kondisi telanjang. Tetapi, waktu itu, kami masuk ke sleeping bag bersama R tanpa membuka baju karena sudah ada bungkusan air panas di seluruh tubuhnya. Sebaiknya metode skin-to-skin ini dilakukan sesama jenis ya. *ya iyalah*
  • Ketika R sudah sedikit sadar,  kami menyendokkan teh dan coklat hangat. Disendokkan sedikit-sedikit ke dalam mulutnya. Waktu itu kami para perempuan berbagi tugas, ada yang masak air, menyiapkan minuman hangat, memeluk dan mengajak R berinteraksi agar tetap sadar.
  • Setelah beberapa jam, suhu R naik menjadi 36 derajat celcius. Kesadaran R juga sudah pulih, dia bisa berbicara dengan lancar walau sedikit terbata-bata. Lalu kami memberikan makan R, coklat dan madu rasa. Kami cek nadi dan nafasnya sudah stabil. Karena sudah malam, kami tertidur bersama R di dalam tenda.
Keesokan paginya, R sudah kembali normal. Namun karena khawatir akan terulang lagi, R diputuskan untuk diantarkan turun ke desa terdekat untuk proses pemulihan. Waktu itu adalah hari ke 3 dari rencana 12 hari perjalanan. Besar kemungkinan R terkena Hipotermia lagi di cuaca yang mungkin lebih ekstrim di 9 hari kedepannya.

Kami waktu itu tahu bahwa R sedih harus turun dan tidak bisa melanjutkan perjalanan. Tapi syukurlah dia akhirnya mengerti bahwa kami mengambil keputusan tersebut untuk keselamatan dan kebaikan dirinya. 

Bagaimana cara mencegah Hipotermia?
  • Membawa perlengkapan pendakian yang cukup seperti yang saya tulis di sini. Jangan lupa juga untuk membungkus seluruh perlengkapan dengan trash bag agar tidak basah ketika hujan.
  • Jangan lupa untuk selalu mengganti pakaian jalan dengan pakaian kering begitu tiba di camp.
  • Dirikanlah tenda di tempat yang terlindung dari angin. Sebaiknya pakailah tenda yang terdiri dua lapis, tenda dan flysheet.
  • Jaga tubuh untuk tetap hangat dengan jaket, sarung tangan, kaus kaki, kupluk, syal dan tidur di dalam tenda memakai sleeping bag, bukan cuma sarung.
  • Makan karbohidrat yang cukup seperti nasi, roti, sereal, lalu makan daging agar dibakar menjadi energi. Kebanyakan pendaki hanya membawa Indomie untuk logistik pendakian. Dari mana energinya coba? Kalau bisa bawa stok minuman hangat yang banyak seperti teh, kopi, coklat, wedang dll.
  • Jangan pakai JEANS ke gunung. Bahan jeans itu tidak baik dan menyerap dingin. Kalau basah, juga susah dikeringkan. Nggak ada untungnya deh pakai jeans ke gunung. Lebih baik pakai celana cargo atau celana panjang berbahan selain jeans.
  • Sedia selalu rain coat ketika mendaki gunung. Jadi ketika di perjalanan terkena hujan, langsung pakai rain coat nya.
  • Dalam pendakian pasti ada ritme waktu. 30 menit -1 jam menit jalan, 10 menit isthirahat. Manfaatkan waktu isthirahat itu untuk makan snack, minum minuman hangat dan pakai jaket untuk menjaga panas tubuh.
Kita harus sadar bahwa di alam bebas, apa pun bisa terjadi. Jangan sampai karena lelah mendaki, kita jadi tidak peduli dengan diri sendiri. Selain itu kita juga harus peduli dengan teman seperjalanan kita. Ketika dia sudah terlihat tidak biasa, pucat atau mengeluh, segera cek kondisinya agar tidak terlambat ditangani.


Sekian yang bisa saya bagikan kepada teman-teman sekalian. Semoga para penggiat alam semakin sadar akan pentingnya mengutamakan keselamatan diri dan tim dibandingkan ego berdiri di puncak gunung.