Sunday, December 14, 2014

Mengajak Anak Belajar Tentang Alam di Kampung 99 Pepohonan

Sunday, December 14, 2014 1 Comments

Membesarkan anak di kota besar dengan kawasan hijau yang sudah semakin sempit menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua masa kini. Walaupun  sudah banyak gadget teranyar yang menyediakan banyak aplikasi untuk melatih perkembangan dan pendidikan anak, tetap terasa kurang mendidik.

Tidak banyak yang tahu bahwa di kawasan Sawangan, Depok terdapat satu tempat yang cocok sekali untuk liburan bersama anak-anak, yaitu Kampung 99 Pepohonan. Tidak hanya berlibur, anak-anak bisa belajar banyak tentang menjaga lingkungan dan melestarikannya. Badan mereka juga jadi bisa lebih sehat karena banyak beraktivitas di alam terbuka, berjalan, berlari, menghirup udara bersih nan segar.

Awalnya saya mengira bahwa tempat ini memang hanya memiliki 99 pohon, tetapi ternyata hanya namanya saja. Tidak mungkin kan kawasan seluas 5 hektar ini hanya memiliki 99 pohon? Jadi ada berapa pohonnya? Ratusaaaannnn….

Pintu masuk Kampung 99 Pepohonan
Lokasinya yang memang di tengah kampung mengharuskan kita melewati jalan kecil yang sempit. Namun di dekat Kampung 99 Pepohonan terdapat satu lapangan bola yang bisa dipakai untuk parkiran. Sebenarnya Kampung 99 Pepohonan juga memiliki lahan parkir yang bisa menampung sekitar 15 mobil.

Serunya, tidak ada biaya masuk yang dikenakan kepada pengunjung. Ketika berkunjung, kita akan dipandu oleh pengurus Kampung 99 Pepohonan untuk berbagi cerita dan mengajak kita berkeliling. Selain untuk menunjukkan jalan, tujuan kita dipandu agar rumah-rumah di kawasan Kampung 99 Pepohonan tetap terjaga keamanannya. Kawasan Kampung 99 Pepohonan ini luasnya 5 hektar sehingga kalau mau mengelilingi seluruh wilayahnya bisa pegal. Kayaknya lebih enak kalau berkelilingnya naik sepeda. Boleh tuh nanti bawa sepeda dan dayuh keliling kampung.

Kampung 99 Pepohonan sangat terbuka untuk siapapun yang ingin mengadakan kegiatan disana. Untuk biaya, biasanya dihargai dengan harga pohon. Jadi dengan mengadakan kegiatan disana, kita juga ikut melestarikan lingkungan karena ikut menyumbangkan pohon. Satu pohon dihargai Rp 25.000,-.  

Kegiatan yang bisa dilakukan disana antara lain Trekking berkeliling Kampung 99 Pepohonan, menanam pohon, belajar membajak sawah, menanam padi di sawah dan memanennya jika memang sudah memasuki musim panen. Bisa juga mencoba memanen sayur dan belajar memasak sayuran yang baru dipetik dari kebun. Hmmmmm, pasti lezat sekali bisa makan makanan yang dengan bahan segar. Nyaaaam….

Namun yang paling seru untuk anak-anak adalah kegiatan dengan hewan. Anak-anak bisa diajak untuk memberi makan rusa, babi hutan, sapi dan kambing. Bisa ikut memandikan mereka juga lhoooo…

Sapi Pedaging nya besar-besar sekali...

Sapi Perah nya sedang makan sebanyak-banyaknya karena diperah dua kali sehari...

Sapi dan kandang nya selalu bersih karena dimandiin dan disemprot terus...

Halo Rusa, kok sendirian aja...
Selain binatang-binatang di atas, anak-anak juga bisa diajak melihat buaya, owa dan babi hutan yang ada dikandangkan. 


Secara pribadi, saya sangat kagum dengan peternakan yang dikelola Kampung 99 Pepohonan ini. Kandangnya besar, bagus, bersih dan terawat. Alhasil saya senang dan betah berlama-lama di kandang  hewan ini karena tidak bau.

Yang disayangkan adalah kami tidak sempat mencoba ikut memerah susu sapi dan susu kambing yang dilakukan setiap subuh dan sore. Kami hanya ikut memberi makan sapi dan kambing-kambing itu. Kita juga bisa ikut menyusui bayi kambing yang lucu-lucu menggemaskan. Ada kuda poni yang bisa ditunggangi juga lho, sayangnya yang boleh menungganginya anak kecil. Hehehehe.

Aduh lucunyaaaa anak kambing ini.... Nggak bau juga loh dia...

Ekspresi kambing ini...... *aduh pengen ketawa*


Kuda Poni yang hanya bisa ditunggangi anak kecil...
Di bagian kolam pemancingan, pengunjung bisa memancing ikan atau ikut memberi makan ikan. Ikannya bisa langsung dimasak dan dikonsumsi loh. Hmmm…. Lezat!

Pemancingan di Kampung 99 Pepohonan. Biasanya sih Bapak-Bapak yang senang kesini ya...
Masakan-masakan lain yang bisa kita coba masak di dapurnya Kampung 99 Pepohonan adalah kue serabi, cincau, yogurt dan keju yang seluruh bahan dasarnya ada di dalam kawasan kampung. Seru banget!

Kalau suka basah-basahan, kita bisa mengajak anak-anak untuk bermain di kali, bermain perahu sampan, atau bermain bola di lumpur. Hal seru lainnya adalah bisa membuat rakit dari batang pisang dan mencobanya langsung.

Selain kegiatan-kegiatan tadi, tersedia paket Outbond juga lho. Harga paketnya dimulai dari Rp 125.000,- per orang dan bisa disesuaikan dengan jenis kegiatan outbond yang diinginkan. Tinggal konsultasi langsung saja dengan pihak Kampung 99 Pepohonan.

Jika sudah asyik beraktivitas seharian dari pagi sampai malam, cobalah untuk menginap di rumah kayu yang ada di Kampung 99 Pepohonan. Harganya bervariasi, mulai dari harga 80 pohon – 100 pohon (dengan harga per pohonnya Rp 25.000,-). Pastinya jadi pengalaman yang menyenangkan tidur di dalam rumah pohon tanpa bunyi bising kendaraan. Hanya bertemankan suara jangkrik dan kalau beruntung, masih bisa melihat kunang-kunang.

Rumah Pohon di Kampung 99 Pepohonan. Asyik nih nginap di sini...
Menurut pendiri Kampung 99 Pepohonan, Bapak Eddy Djamaluddin Suaidy atau yang akrab dipanggil Abi, lokasi ini dulunya merupakan tempat pembuangan sampah masyarakat sekitar. Tanahnya pun sudah terkontaminasi pestisida sehingga Pak Abi dan beberapa rekannya bergotong royong untuk mengembalikan kesuburan tanah di wilayah tersebut. Pada tahun 1999, Pak Abi memutuskan untuk tinggal bersama beberapa rekannya di Kampung 99 Pepohonan dan jadilah pemukiman sederhana hingga kini ditinggali oleh puluhan KK.

Rumah keluarga yang mengurus Kampung 99 Pepohonan...

Sejak tinggal di Kampung 99 Pepohonan, Abi dan rekannya menanam banyak pohon untuk menambah kerindangan kampung. Pohon yang ditanam antara lain pohon jati putih, jati, beringin, rengas, bintaro,  damar, mahoni, kayu manis, kayu putih, kopo, trembesi, sonokeling, ketapang, kirai, karet, maja, eboni, rotan, nyamplung, puspa, putat, rembang.

Wajar saja ketika kita datang dari arah Jakarta dan Sawangan Depok yang panas, begitu masuk pintu gerbang Kampung 99 Pepohonan, sejuknya udara langsung berasa. Kontras sekali memang keadaannya. Hal ini juga mengingatkan kita bahwa kota Jakarta dan Depok memang butuh banyak pohon ya biar sejuk lagi.

Sehabis beraktivitas di Kampung 99 Pepohonan, kita bisa memesan menu makan siang andalan disana yaitu Nasi Hangat dengan Ayam Kampung Goreng dan Sayur Asam. Menunya disajikan di atas daun pisang pula. Hmmm, suasana pulang ke kampung nya semakin berasa.

Yuk berkunjung ke Kampung 99 Pepohonan. Ajak anak-anak belajar tentang alam dan lingkungan mereka. Dijamin seruuuu....

(postingan sotoy yang ditulis sama anak-anak yang belum berkeluarga, tapi bahasannya tentang pendidikan anak :p )

Untuk video nya bisa ditonton di Kampung 99 Pepohonan Depok ya ;)

The Team dengan pemandu kami, Mas Agus


Alamat :
Kampung 99 Pepohonan 

Jl. KH. Muhasan II - Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Depok, Jawa Barat 16515 
Telepon: 021-99955610, 021-77883623, 021-99453886, 081288899926
http://www.kampung99pepohonan.com/

Monday, November 24, 2014

Icip-Icip Ragey dan Saguer di Tomohon

Monday, November 24, 2014 4 Comments


Salah satu kegiatan yang tidak boleh dilewatkan saat mengunjungi satu tempat tentu saja mencicipi makanan lokalnya. Saya bersyukur terlahir bisa makan makanan apa saja dan tidak punya alergi terhadap suatu jenis makanan.

Di Tomohon, kota kecil di Sulawesi Utara, saya mencoba untuk mengeksplor sedikit di tengah-tengah padatnya jadwal kegiatan disana. Dengan meminjam motor, saya dan teman berjalan-jalan mengelilingi kota. Ternyata nggak sampai 15 menit, kami sudah selesai mengelilingi kota. Ya ampun, benar-benar kecil sekali Tomohon ini.

"Hmmm, cari makanan lokal sini yuk" ajakku yang direspon dengan anggukan kecil.

"Iya, ikut kamu aja mau kemana", jawabnya.

Berhentilah kami di sebuah warung kaki lima yang bertuliskan "Ragey Pala". Saya penasaran apa sih Ragey ini. Ternyata, itu adalah kedai sate yang berbahan dasar daging babi.


Sebagai pecinta segala masakan berbahan dasar daging babi ini, mataku langsung berbinar, air liur tertahan di mulut. Aduh, pengen nyomot semuanya....

Berhubung saya sudah makan malam sebelumnya, kapasitas perutnya berkurang dong. Saya jadi agak sedih karena mulutnya masih pengen ngunyah tapi saya sudah nggak sanggup lagi menampung makanan enak ini. Huhuhuhu.

Ini dia yang namanya Ragey. Satu tusuknya Rp 6000 saja ;)

Kalau ini Sate B2 bumbu pedas. Enak! Harganya Rp 2500 per tusuk.

Yang ini sate B2 bumbu manis. Pastinya gak kalah enak dari dua sate di atas ;)
Pas nyobain satu tusuk pertama itu, rasanya lansgung meleleh di mulut. Nggak tahu, bisa enak banget rasanya. Memang orang Sulawesi Utara ini sangat jago mengolah makanan dari B2 ini. Beda sama orang Batak. Sebagai orang Batak, saya tentunya sudah sering mencicipi B2 yang diracik dengan bumbu khas Batak Toba atau Batak Karo. Tetapi saya belum pernah menemukan orang Batak yang bisa meracik sate B2 seenak yang saya cicipi di Tomohon.

Waktu itu, ada 2 orang Ibu-ibu dan satu Bapak yang sedang membakar satenya, namanya Papa Fritz. Menyadari bahwa muka kami berdua asing, salah satu Mama bernama Mama Charlotte menanyai apa yang membawa kami jauh-jauh dari Jawa ke Sulawesi Utara. Berawal dari pertanyaan sederhana, perbincangan kami menjadi hangat dan dibalut tawa.

Terima kasih Papa Fritz, Mama Charlotte, Mama Pinz dan Ando :)
Mama yang satu lagi, Mama Pinz terkekeh-kekeh melihat mukaku yang sangat menikmati mengunyah Ragey lezat yang masih hangat. Mama Pinz kemudian menuangkan minuman berwarna putih ke dalam gelas kecil.

"Ini, coba dulu minum", kata Mama Pinz sambil menyodorkan gelas kecil.

Kuambil gelas kecil itu dan kuteguk...

"Ini enak banget, Mama....Enaaaaaakkk....Namanya apa?" ujarku

"Namanya Saguer ini, minuman lokal sini. Lebih enak ini daripada Cap Tikus", jawab Mama Pinz.

Cap Tikus sendiri adalah nama minuman yang memiliki kadar alkohol 40%. terkenal di Sulawesi Utara. Cap Tikus ini dihasilkan dari Saguer yang sudah melewati proses penyulingan. Sedangkan Saguer yang rasanya manis-manis asam mengandung alkohol dengan kadar 5%.

Aku langsung menanyakan Mama Pinz, dimana aku bisa membeli Saguer ini untuk dibawa pulang. Namun sayangnya, Saguer ini adalah minuman fermentasi lokal dari pohon enau (disebut pohon Seho dalam bahasa lokal Minahasa) yang susah untuk dibawa keluar kota. Lewat dari sehari saja, Saguer ini akan mengeluarkan zat asam yang membuat minuman ini tidak enak lagi untuk diminum. Sedih sekali aku... Hiks... Cap Tikus pun tidak boleh dibawa keluar dari Sulawesi Utara karena dianggap ilegal dan jika ketahuan di Bandara pasti akan disita.

Pastinya bakal kangen sama Ragey dan Saguer. Semoga ada rejeki supaya bisa balik lagi kesana. Tomohon, tunggu akuuu ;)
Masa kalau kangen minum Saguer, saya harus terbang ke Tomohon dulu dari Jakarta? Berat di ongkos cyin... Hahahaha....

Jadi, jangan lupa nyicip Ragey ini ya kalau ke Tomohon. Ini anjurannya tentu saja berlaku untuk teman-teman yang bisa makan B2 ya ;)

Selamat icip-icip... Nyaaam....


Monday, November 17, 2014

Mengenal Jejak Manusia Purba di Museum Sangiran

Monday, November 17, 2014 3 Comments
Siapa yang sudah pernah mengunjungi Museum ini? Museum yang bikin pengunjungnya tertawa-tawa karena bentuk manusia zaman dahulu yang terlihat lucu, padahal nenek moyangnya sendiri tuh.

Museum ini terletak di Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah dan memiliki luas sekitar 56km2. Di dalamnya dapat kita jumpai fosil-fosil yang ditemukan di daerah Sangiran ini sekitar tahun 1930an. Dimana fosil-fosil tersebut menjadi kunci tentang kehidupan prasejarah manusia purba, khususnya Manusia Jawa seperti Pithecanthropus erectus, Meganthropus palaeojavanicus, Homo erectus dll.

Revolution :)

Penelitian situs Sangiran ini diprakarsai oleh seorang Antropolog bernama Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald. Berkat penelitiannya tersebut pula, situs Sangiran ini ditetapkan sebagai World Heritage oleh UNESCO pada tahun 1996. Oh iya, Situs Sangiran ini merupakan situs purbakala yang paling lengkap di Asia karena banyak sekali fosil dan temuan lainnya yang digali dari situs ini.

Gustav H R von Koenigswald

Selain Gustav HR von Koenigswald, beberapa arkeolog dari Indonesia turut serta dalam penelitian situs Sangiran ini. Mereka adalah Prof. DR. R.P. Soejono, Prof. Dr. S. Sartono, Prof. Dr. Teuku Jacob.

Selain fosil manusia purba, pengunjung juga bisa melihat banyak fosil hewan-hewan seperti gajah, badak, sapi, kerbau, rusa, banteng dll.

Gading gajah purba. Besar ya...

Benda-benda seru lain yang bisa kita temui adalah alat-alat yang dipakai manusia purba saat masa prasejarah seperti pemantik api dari batu, kapak batu, senjata perburuan mereka dll.

Museum Sangiran ini terdiri dari beberapa ruangan antara lain :

-Ruangan 1 : Kekayaan Sangiran (Wealth of Sangiran)
-Ruangan 2 : Langkah-Langkah Kemanusiaan (Steps of Humanity)
-Ruangan 3 : Masa Keemasan Homo Erectus - 500.000 tahun yang lalu (Golden Era of Homo Erectus - 500.000 years ago)
-Ruangan Sinema untuk pemutaran short-movie berdurasi 20 menit tentang Situs Sangiran dan sejarah manusia purbakala.
-Ruang Laboratorium (tidak untuk umum)
-Ruang Pertemuan
-Ruang Perpustakaan


Sewaktu mengunjungi museum ini, saya sedang membawa rombongan anak-anak. Senang sekali melihat mereka antusias berkeliling museum, bertanya ini dan itu. Tapi yang jelas sih mereka tak henti tertawa-tawa melihat bentuk manusia purba yang kata mereka mirip kera. Ada juga beberapa yang ketakutan karena melihat banyak fosil tengkorak. Bagian favorit mereka adalah ruangan dimana banyak diorama hewan purba.

Home Theatre untuk menonton sejarah manusia purba dan situs Sangiran


Di keterangan museum tertera informasi jumlah benda di Museum Sangiran ini ada 13.806 buah. 2931 dipamerkan dan 10.875 buah lagi disimpan di gudang penyimpanan. Loh, lebih banyak yang disimpan ya. Hehehe.



Biaya untuk masuk ke museum ini tergolong murah. Lihat saja ini...

Informasi biaya tiket masuk Museum Sangiran



Thursday, November 13, 2014

Kaweng, Desa Cantik di Tepian Danau Tondano

Thursday, November 13, 2014 9 Comments

Betapa beruntungnya saya tahun ini bisa menjejak provinsi Sulawesi Utara dengan biaya yang tidak mahal. Hal tersebut tak lain karena saya menjadi kontingen untuk mengikuti Kejuaraan Paralayang di Bukit Kaweng, Kakas, Minahasa, Sulawesi Utara.

Kami harus menempuh perjalanan kurang lebih dua jam dari Bandara Sam Ratulangi menuju kota Tomohon dengan naik Hercules (ceritanya bisa dibaca di sini )dan dilanjutkan ke arah Tondano. Disanalah sebuah desa bernama Kakas, Kaweng, berada. Desa kecil yang terletak persis di tepian Danau Tondano.

Desa Kaweng, Kakas di tepian Danau Tondano yang cantik <3

Para pilot bersantai di Bukit Kaweng sambil menunggu air yang baik untuk terbang.

Penduduk lokal yang melihat banyak bus kuning dan elf memasuki desa mereka langsung berhamburan ke tepi jalan, melambaikan tangan mereka sambil tersenyum. Beberapa dari rombongan Paralayang ini sudah pernah mengikuti kejuaraan yang sama di lokasi yang sama pada tahun sebelumnya. Sehingga beberapa penduduk lokal yang mengenali para atlit yang hadir tahun lalu mengajak bersamlaman, bersenda gurau dan mengajak foto bersama. Mereka seperti menyambut sanak saudara yang sudah lama tidak pulang kampung. Hangat sekali :)

Begitu tiba di desa, rombongan kami disambut dengan satu tarian tradisional yaitu 'Tari Kabasaran' atau Tari Kebesaran. Semua penarinya adalah lelaki, mengenakan kostum ksatria Minahasa. Di dada dan kepala mereka terdapat banyak tengkorak anjing, babi, anoa, monyet dan burung-burung yang sudah diawetkan. Bahkan ada tengkorak manusia. Iya tengkorak beneran itu semuanya. Di mata saya mereka tidak terlihat seram melainkan gagah sekali. Layaknya panglima-panglima perang. Apalagi mereka mengenakan kain 'patola' berwarna merah yang membuat aura perangnya semakin terasa.

Para 'Kawasalan' atau prajurit perang sedang menari menyambut tamu.
Asal usul tarian ini katanya dari gabungan dua kata yaitu "Kawasal ni Sarian". "Kawasal" artinya menemani dan mengikuti gerak tari, sedangkan "Sarian" berarti pemimpin perang yang memimpin tari keprajuritan  tradisional Minahasa. 

Selama menari, mereka akan berteriak-teriak, diiringi tabuhan tambur, gong, kolintang. Selain itu mereka juga akan membawakan gerakan layaknya sedang berperang, saling mengayunkan pedang, menantang satu sama lain. Berdasarkan sumber di sini saya mendapatkan info kalau tarian ini memiliki 3 gerakan dasar yaitu :

1. Cakalele, yang berasal dari kata “saka” yang artinya berlaga, dan “lele” artinya berkejaran melompat – lompat. Babak ini dulunya ditarikan ketika para prajurit akan pergi berperang atau sekembalinya dari perang. Atau, babak ini menunjukkan keganasan berperang pada tamu agung, untuk memberikan rasa aman pada tamu agung yang datang berkunjung bahwa setan-pun takut mengganggu tamu agung dari pengawalan penari Kabasaran.
2. Babak kedua ini disebut Kumoyak, yang berasal dari kata “koyak” artinya, mengayunkan senjata tajam pedang atau tombak turun naik, maju mundur untuk menenteramkan diri dari rasa amarah ketika berperang. Kata “koyak” sendiri, bisa berarti membujuk roh dari pihak musuh atau lawan yang telah dibunuh dalam peperangan.
3. Lalaya’an. Pada bagian ini para penari menari bebas riang gembira melepaskan diri dari rasa berang seperti menari “Lionda” dengan tangan dipinggang dan tarian riang gembira lainnya. Keseluruhan tarian ini berdasarkan aba-aba atau komando pemimpin tari yang disebut “Tumu-tuzuk” (Tombulu) atau “Sarian” (Tonsea). Aba-aba diberikan dalam bahasa sub–etnik tombulu, Tonsea, Tondano, Totemboan, Ratahan, Tombatu dan Bantik. Pada tarian ini, seluruh penari harus berekspresi Garang tanpa boleh tersenyum, kecuali pada babak lalayaan, dimana para penari diperbolehkan mengumbar senyum riang.

Mereka mengenakan kain tenun merah yang disebut kain "Patola"

Berbagai macam tengkorak yang dipasang di badan para penari 'Kambasaran'

Foto bareng para Prajurit ;)

Sang Jenderal, paling ganteng dan paling gagah <3

Kami menghabiskan 4 hari di desa Kakas untuk mengikuti kompetisi di Bukit Kaweng. Dari atas bukit ini, pemandangan Danau Tondano sungguh sangat memanjakan mata. Betapa senangnya saya mendapatkan kesempatan untuk ikut dalam kompetisi ini dan berkunjung ke desa cantik ini. Yang bikin saya lebih senang lagi adalah penduduk lokal di sini mengolah 'pork' dengan sangat enak. Saangaaaattt... Saya sampai tambah lagi dan lagi. 

Waktu yang singkat dan bukan  dalam tujuan liburan membuat saya tidak bisa mengeksplor desa ini lebih jauh. Hiks. Semoga nanti bisa kesana lagi, bawa cerita seru lebih banyak ya.

Photo by : Juan Alfha Daniel

Saya dan teman-teman kontingen yang lain mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang mendukung terjalan dengan baiknya kompetisi ini. Terima kasih membuat kami serasa di rumah, dianggap sebagai saudara sendiri. Terutama kepada adik-adik ganteng dan cantik di Kaweng. Semoga, kedepannya, banyak tunas-tunas pilot paralayang di Kaweng karena mereka punya tempat dengan potensi yang baik. Semangat berlatih ya adik-adik ;)

Beberapa foto Paralayang ini adalah hasil kompetisi foto di Paragliding Trip of Indonesia 'TRoI' kemarin. Fotonya bagus-bagus sekali ya. Lebih bagus lagi kalau terbang langsung disana sih ;)

Photo by : Christian Garisa
Photo by : Ikhwan Wildani

Jalan-jalan di tepian Danau Tondano yang cantik <3

Terima kasih untuk semua saudara-saudara kami di Kaweng. Much much love <3

#WonderfulIndonesia #EnjoyIndonesia #IndonesiaOnly

Wednesday, November 5, 2014

Sensasi Naik Hercules si "Angkot Udara"

Wednesday, November 05, 2014 14 Comments


Untuk menghemat biaya, seluruh atlit diangkut naik pesawat Hercules milik TNI Angkatan Udara. Hanya dengan membayar Rp 100.000,- per orang, seluruh peserta akan tiba di Manado dengan rute Jakarta - Yogya - Malang - Makassar - Manado.

Ini pengalaman pertama saya naik pesawat Hercules. Nggak ada rasa takut atau cemas walaupun banyak yang bilang pasti mabuk kalau pertama kali naik. Karena saya bukan tipe pemabuk, tidak pernah minum obat anti mabuk jika perjalanan jauh, jadinya santai ajaaaa...

Biasanya Hercules diberangkatkan jam 6 atau 7 pagi sehingga kami sudah harus ada di Landasan Udara Halim Perdanakusuma pukul 5 pagi. Ternyata, Hercules nya baru take-off dari Padang jam  06.00 dan diperkirakan tiba di Halim pukul 08.00 WIB. Sambil menunggu, markitur, mari kita tiduuurr....

Eh, niat mau tidur lama lenyaplah sudah. Baru saja tidur sebentar, petugas Lanud, bapak gendut yang hanya pakai celana santai dan polo shirt, membangunkan kami untuk timbang berat badan dan barang bawaan. Calon penumpang harus menggendong semua tas bawaan dan naik ke atas timbangan besar. Berat saya waktu itu 80 kilo sudah digabung dengan payung parasut besar dan daypack. Berat amat.

Timbangan di Lanud Halim Perdanakusuma
Benar saja, ketika jam sudah menunjukkan jam 8 lewat, Hercules yang kami tunggu-tunggu tiba dan kami dipersilahkan naik ke pesawat. Naik pesawatnya rebutan karena siapa cepat masuk dia yang dapat kursi. Hahahaha. Kalau nggak dapat kursi gimana? Ya suka-suka aja mau duduk dimana. Duduk di lantai atau di atas tumpukan barang. Mau gelantungan juga boleh :p

Rebutan masuk Hercules
Daripada ribet ngantri, selfie dulu boleh kali :p

Satu tim, ki-ka ; Dewe - Satya - Ina - Afdhol
Saya agak terkejut ketika melihat kursi di dalam pesawatnya tipis sekali dan menempel ke badan pesawat. Nggak ada seatbelt / sabuk pengamannya pula. Seatbelt aja nggak ada apalagi pelampung untuk emergency ya kan? Eh tapi nggak tahu sih apakah pelampungnya disimpan di satu tempat rahasia sama awak Hercules nya (salah satu sumber terbaru menyebutkan kalau Hercules itu punya seatbelt. Hmmmm, kemarin sih aku nggak melihat adanya seatbelt)  Beda jauhlah pastinya sama pesawat-pesawat komersil yang biasa kita naikin. Kalau naik Hercules dan terjadi sesuatu, satu-satunya yang bisa menyelamatkanmu adalah doa. Iya, cuma doa. Karena kondisi-kondisi di atas, kujuluki dia sebagai 'Angkot Udara' :p

Begini nih kalau di dalam pesawat Hercules. Semuanya memilih untuk tiduuuurrrr....
Ada pelajaran yang saya petik juga dari perjalanan naik Hercules kemarin. Jangan pakai baju tebal! Panas di dalam Hercules itu kayak lagi di dalam ruang sauna. Waktu kemarin saya memakai kemeja flanel dan alhasil keringatnya banjir. Air Conditioner nya ada tapi hanya nyala kalau pesawatnya sudah terbang. Jadi mulai pintu pesawat ditutup, menyusuri runway sampai take-off, AC nya mati, di dalam pesawat kayak nggak ada oksigen. Bisa sesak kalau kelamaan bro!

Yang nggak kebagian kursi, santai aja duduk di atas barang, tumpuk-tumpukan satu sama lain. Mukanya tetap ceria tuh di belakang :p
Pengalaman naik Hercules pertama kali ini juga menjadi momen terapes. Ketika naik ke pesawat, saya dapat bangku persis segaris vertikal dengan klep rem. Alhasil, ketika pesawatnya mau mendarat, kepala saya kena tetesan minyak rem (syukurnya pakai topi) dan dada saya juga. Waktu itu saya mengenakan tank-top sebagai dalaman dan tetesan minyak rem itu kena dada saya. Perihnya sampai 2 hari. Hiks. 

Namun, dari semua keapesan tadi, ada satu hal yang membuat saya kagum. Sewaktu mau melakukan pendaratan, pesawat berbadan besar itu mendarat dengan mulus. Nggak ada benturan keras dan sampai nggak berasa kalau pesawatnya sudah mendarat. Empat jempol deh buat pilotnya. Tapi ternyata itu tidak berlaku ketika perjalanan pulang. Kekaguman saya lenyap. Pilot sewaktu perjalanan pulang berbeda dengan pilot saat berangkat. Kalau yang perjalanan pulang ini, ketika pesawatnya mendarat, dentumannya keras banget dan bikin penumpangnya tergoncang-goncang di dalam. Weleh-weleh. 

Bawaan payung nya gede bener...
Para pramugari Hercules, Irene & Mila :p

Walau sempat menginap satu malam di Malang karena pesawatnya rusak, kami tiba di Manado dengan sehat dan selamat. Disambut cuaca cerah pula. Hehehehe. 

Jadi ada yang mau coba naik Hercules, si angkot udara? Ini dia syarat dan ketentuannya...


Follow Us @satyawinnie