Monday, December 16, 2013

Es Krim Oen, Old Fashioned Ice Cream di Malang

Monday, December 16, 2013 11 Comments

Kami memasuki restoran tua sambil mengibaskan air hujan yang membasahi baju. Bau ubin tua dan kursi rotan menyeruak. Kami menggesek-gesekkan kaki di keset besar coklat bertuliskan "Welcome".

Mata saya langsung tertuju pada tulisan “Welkomm in Malang. Toko “Oen” Die Sinds 1930 Aan De Gasten Gezelligheid Geeft”. Tulisan dalam bahasa Belanda tersebut berarti “Selamat Datang Di Malang. Toko Oen adalah tempat untuk berkumpul & bersosialisasi sejak 1930”. Dulunya, tempat ini merupakan favorit para meneer dan mevrouw Belanda rumpi-rumpi sambil makan es krim. Tempat gaulnya para sosialita.

Di depan Resto Oen pasti selalu ramai dengan mobil yang parkir


Bangunannya klasik dan hangat


Toko yang sudah berdiri selama 83 tahun ini tidak pernah luput dari must-visit-list wisatawan dalam negeri dan luar negeri. Banyak orang Belanda yang membawa anak dan cucunya makan di restoran ini untuk bernostalgia lewat semangkuk es krim favorit kakek-neneknya.

Ngomong-ngomong tentang sejarah, Es Krim “Oen” ini pertama kali diciptakan oleh perempuan keturunan Tionghoa, Oma Oen yang awalnya membuka toko kue di Yogyakarta tahun 1910. Baru pada 1922, Oma Oen mengembangkan es krim buatannya dan membuka kedai es krim di Semarang, Jakarta, Malang. Sayangnya, cabang Yogya dan Jakarta sudah ditutup. Sisanya, kedai “Oen” di Malang dijual ke pemilik baru nya dan cabang Semarang dipertahankan oleh keturunan Oma Oen.

Interior restoran Oen ini memang bergaya klasik. Dengan kursi rotan, meja dan taplak klasik, piano tua di sudut ruangan membuat kita dibawa ke masa lalu. Apalagi ditambah foto-foto yang dipajang di seluruh ruangan, mulai dari foto kota Malang pada masa lampau hingga foto Presiden Soekarno.

Restoran ini seperti tidak berubah dan bertambah tua. Begitu saja, sederhana sejak dulunya.

Kursi nyaman dan taplak meja klasik. Seperti miniatur rumah Barbie. Imut.

Di sudut ruangan ada Piano dan radio tua. Di dinding tergantung banyak foto-foto Malang zaman dulu.


Kami memilih satu meja dan memanggil pelayan restoran. Mereka mengenakan pakaian putih dengan celemek tua. Tampangnya ramah dan menawarkan kami beberapa menu favorit di restoran ini. Buku menunya sudah tua tetapi masih terawat dan bersih.

Daftar harga menu-menu di Resto "Oen". Masih ramah di kantong lah ya :)

Setelah melihat daftar menu, kami memesan Chocolate Parfait, Corn Ice Cream, Oen’s Special. Selain es krim ada menu main course seperti Steak, Nasi Goreng dll.

Tak lama, pesanan kami tiba. Walaupun menyantap es krim yang dingin saat cuaca dingin, suasana tetap hangat dengan obrolan-obrolan yang kocak.

Corn Ice Cream ini wajib dicoba. Rasa jagung dan krimnya yang yummy meleleh bersama es krim itu enaknya POL!


Es Krim Vanilla satu scoop. Sederhana tapi enaaaak.

This is my favorite!!! "Oen's Special"! Tiga rasa es krim dinikmati dengan roll wafer. Yummy!!

Chocolate Parfait ini juga wajib dicoba. Yummy!
Lezat banget kan kelihatannya? Enggak cuma kelihatan, tapi rasanya memang lezat. Saya saja menulis ini sambil menelan liur. Jadi pengen balik ke Malang. Huhu.

Sayangnya karena sebelum berkunjung ke “Oen” kami baru selesai makan berat, kami tidak sempat mencicipi menu main course nya. Di etalase juga terlihat kue-kue jajanan yang menggugah selera.Sayang perutnya enggak muat.

Etalase dengan berbagai jenis snack. Ada rambut nenek loh. Nyam!
 Harga Es Krim "Oen" menurut saya tidak terlalu mahal dan sebanding dengan rasanya. Rasanya mirip dengan es krim tua di Ragusa, Jakarta atau Rasa Bakery, Bandung.  Oen menyajikan es krim yang lebih lembut dan tidak kemanisan. HEERLIJK!

Toko "Es Krim Oen" yang enggak pernah sepi

Enaknya sih mengunjungi tempat ini dengan pacar ya. Soalnya ketika sore menjelang malam, suasana restorannya semakin romantis karena adanya lampu kecil warna-warni yang menghias bingkai jendela.

Sambil menyendok es krim, bercerita, berdua saja.

Alamat Toko Es Krim "Oen" : Jl Jend Basuki Rachmad No 5 Malang, Jawa Timur. Telp : (0341) 64052

Happy Traveling!
Enjoy Indonesia!

Menikmati Lautan dan Mendaki Gunung Anak Krakatau

Monday, December 16, 2013 19 Comments
Puncak Gunung Anak Krakatau
Di terminal Kampung Rambutan, terlihat beberapa pemuda-pemudi dengan tas punggung warna-warni asyik bercengkerama. Salah satunya adalah saya. Kami menunggu bus malam yang akan membawa kami ke pelabuhan Merak. Tujuan liburan kami kali ini adalah Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda.

Masih banyak yang menyebutnya sebagai Gunung Krakatau, padahal Krakatau sudah meletus dengan hebatnya pada tahun 1883 hingga menewaskan kurang lebih 36.000 jiwa. Saat itu, seluruh dunia diselimuti suasana yang gelap dan mencekam. Suara letusannya terdengar hingga 4600 kilometer jauhnya, semburan debu vulkaniknya mencapai 80 meter dan muntahan batu vulkaniknya berhamburan ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia dan Selandia Baru.

Menurut sejarawan, Gunung Krakatau pun masih punya "ibu" yaitu Gunung Krakatau Purba (Gunung Batuwara) yang ketika meletus memisahkan pulau Jawa dan Sumatera. Tepi-tepi kawah Krakatau Purba dikenal dengan Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung.

Dari cerita yang saya baca di sini dikatakan bahwa Gunung Anak Krakatau muncul 40 tahun setelah meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883, yakni tahun 1927. Di kawasan kaldera purba ini, Gunung Anak Krakatau terus bertambah tingginya, sekitar 20 inci per bulan (kok bisa ya?) dan tercatat sebagai gunung vulkanik aktif. Para ahli memprediksi bahwa Anak Krakatau akan meletus antara 2015-2083. Aduh, mari kita doakan agar Anak Krakatau tiduuuuuuur untuk waktu yang lebih lama ya.

Oke.
Kembali ke cerita perjalanan.

Kami berangkat menuju pelabuhan Merak dari terminal Kampung Rambutan dengan naik bus yang ongkosnya 17.000 rupiah (sebelum bbm naik) pukul 23.50 dan tiba pukul 4.10 subuh. Tungpeng selaku ketua rombongan langsung menggiring kami semua ke loket kapal ASDP dan menyeberang ke Bakauheuni, Lampung.

Muka-muka sumringah mau liburan

Selama 2,5 jam perjalanan laut, kami hanya duduk bercengkerama di dek kapal sambil makan cemilan dan menikmati hembusan angin laut. Saking asyiknya, tidak terasa langit sudah terang dan tahu-tahu kapal sudah tiba di Lampung.

Turun dari kapal, kami langsung mencari angkot untuk disewa ke dermaga Canti, tempat dimana kami akan dijemput oleh kapal kayu mengeksplor kawasan Anak Krakatau. Karena lapar, kami sempat berhenti di tengah-tengah perjalanan untuk makan pagi di sebuah warung nasi dan lanjut jalan lagi.

Dermaga Canti, Lampung. Sederhana sekali ya.

Matahari belum tinggi ketika kami tiba di dermaga Canti. Jam menunjukkan pukul 7.40. Terlihat kapal kayu yang kami sewa sudah menunggu.

Harga sewa kapal kayu ini sekitar 2-2.5 juta per kapal dengan maksimal penumpang 20 orang. Ketika diberitahu bahwa nanti di perjalanan menuju Pulau Sebesi (tempat kami menginap) kami akan snorkeling di kawasan Pulau Sebuku, semua langsung bergegas ke kamar mandi dan berganti baju renang. Sehingga ketika kami sampai di Sebuku, semuanya siap nyebuuuuuurrrr....

Berpapasan dengan masyarakat lokal yang sedang menyeberang dari Sebesi menuju Dermaga Canti. Motor juga diangkutnya pakai kapal ini. Saking ramahnya mereka melambaikan tangan dengan muka sumringah.

Birunya laut Pulau Sebuku.
 

Nothings better than playing on the beach, under the sun. Everyone happy :)


Puas bermain air di Sebuku yang biru, kapal bertolak menuju pulau Sebesi. Kami langsung diantarkan ke guest house milik Pemerintah daerah dan dibagi dua kamar, perempuan dan laki-laki. Satu kamar bisa menampung 10-20 orang dengan tarif 200 ribu per malam. Kalau musim liburan, rumah-rumah penduduk juga disewakan untuk wisatawan. Oh ya, listrik hanya hidup dari jam 06.00 sore hingga 00.00 WIB.

Satu-satunya penginapan resmi yang ada di Pulau Sebesi.
 Di Guest House sudah disediakan makan siang untuk rombongan kami. Seusai makan siang, rombongan berpencar, ada yang isthirahat di kamar, ada yang naik sepeda keliling pulau Sebesi dan ada yang duduk-duduk di Pantai saja. Semua sibuk sendiri hingga pukul empat sore berkumpul untuk naik kapal ke Pulau Umang-Umang.

Walaupun namanya mirip, Pulau Umang-Umang bukanlah Pulau Umang yang ada di kawasan Banten tetapi pulau sendiri di dekat pulau Sebesi dan masuk daerah Lampung. Pulau Umang-Umang ini bisa ditempuh selama kurang lebih 20 menit dari Pulau Sebesi.

Pose sambil menunggu senja di Pulau Umang-Umang.
 

Air laut yang biru jernih benar-benar menggoda kami untuk cepat-cepat nyebur. Untuk peralatan snorkeling, disewakan dengan harga 30-35 ribu. Saya sudah membawa peralatan sendiri sehingga tidak perlu sewa lagi.

Kami asyik bermain hingga tidak sadar matahari sudah pulang ke rumahnya. Artinya kami juga harus segera pulang ke Sebesi. Rasanya kok singkat sekali. Belum puas euy.

Sesampainya di penginapan, semuanya antri bebersih diri, berkumpul di ruang makan untuk makan malam lalu memulai acara seru. Membuat api unggun di tepi pantai, bernyanyi dan menari. Maunya sih sampai pagi, tetapi karena semua kelelahan dan harus bangun subuh-subuh untuk mendaki anak Krakatau, kami memilih mencium kasur saja.

Kira-kira jam 4 pagi, kami dibangunkan untuk segera bersiap berangkat ke Anak Krakatau. Dengan mata setengah mengantuk, semuanya naik ke atas kapal dan menahan dinginnya angin laut subuh-subuh.

Muka-muka ngantuk tapi gak sabar mau naik Anak Krakatau.
Butuh waktu sekitar 2 jam untuk mencapai Anak Krakatau. Karena langit masih gelap, semuanya selonjoran melanjutkan tidurnya.

Ketika langit sudah sedikit terang, di kejauhan tampak Gunung Anak Krakatau yang sedang "tidur" dengan pulas. Itu berarti aman untuk didaki.



Begitu kapal sandar, kami langsung turun dan menginjakkan kaki di pasir hitam. Baru kali itu saya melihat pasir hitam karena pasir biasanya warnanya putih atau krem.

Para awak kapal dengan sigap menurunkan dus Aqua dan sarapan untuk kami. Tentunya sebelum menanjaki Anak Krakatau, perut harus diisi agar ada energi. Kami buru-buru menyelesaikan makan pagi dan berangkat menapaki jalan setapak pasir.

Selamat datang di Cagar Alam Krakatau.

Sebenarnya Anak Krakatau ini tidak terlalu tinggi tetapi butuh waktu yang cukup lama untuk mendakinya. Ini karena medannya yang berpasir dan berkerikil kecil sehingga kita sering tergelincir. Jalan di pasir juga lebih berat, jadi lebih baik pakai sandal gunung atau sepatu, jangan sandal jepit.


Tante ini mau mendaki atau ke mall ya? *peace*

Saran saya adalah membuat jarak dengan orang di depan kita ketika mendaki agar tidak terkena pasir bekas pijakannya. Mendaki zig-zag juga mungkin bisa jadi cara yang aman agar mata tidak kemasukan pasir.

Ketika akan mulai mendaki Anak Krakatau, kami bertemu dengan tante-tante dari Lions Club, semacam perkumpulan sosial gitu. Walau sudah cukup berumur, tante-tante ini sangat aktif dan bersemangat. Ketika berbincang dengan mereka, saya terkagum-kagum karena mereka tante-tante yang haus akan petualangan, sudah menjelajah banyak tempat di dunia dan akan tetap melakukannya sampai akhir hayat. Keren banget sih Tante.

Sekitar 20 menit, kami akhirnya tiba di titik terakhir untuk wisatawan yang ingin mengunjungi Gunung Anak Krakatau. Jangan coba-coba melewati batas kalau mau selamat.

Kepulan asap belerang dari bebatuan.
 
Perjalanan turun kembali ke bawah.
Bau belerang yang menyengat membuat saya jadi sedikit pusing sehingga tidak berlama-lama di "puncak" Anak Krakatau. Setelah berfoto bersama, kami berlomba untuk turun dengan berlari di pasir. Pas berangkat naik, nggak mau kena pasir tetapi begitu turun malah bikin "badai" pasir. Yang penting seruuuuuu dan tidak mengganggu wisatawan lain.

Di tengah perjalanan turun, kami mengadakan lomba lari. Hahaha.
 Jam 10, kami bertolak ke Legon Cabe untuk menikmati terumbu karang cantik dan menyapa ikan-ikan lucu. Airnya jernih dengan terumbu karang yang masih terawat. Semoga tidak rusak karena ulah wisatawan yang kurang bertanggung jawab.

Legon Cabe

Jump and byuuuuurrr....
Ketika matahari semakin tinggi, kami pulang ke Sebesi untuk bebersih, makan siang, packing dan pulang ke Jakarta.

Di perjalanan menyeberang pulang dari Bakauheni ke Merak, kami naik kapal Ferry paling bagus yang pernah saya lihat. Namanya Dharma Ferry IX. Sofanya empuk, ada ruang tidur nya dan tidak perlu bayar lagi. Ada kantin dan bar dengan pelayanan ramah serta memuaskan. Enak dan nyaman.

Kapal Dharma Ferry XI. Bagus dan bersih.
Kami tiba Minggu tengah malam di Terminal Kampung Rambutan. Selesai sudah liburan singkat di Krakatau. Puas rasanya bisa menikmati lautan dan mendaki gunung (kecil) sekaligus. Apalagi perjalanan ini dilakukan bersama teman-teman (beberapa teman baru) yang seruuuuu.Buat teman-teman yang sudah kerja juga bisa kok liburan ke Anak Krakatau pas akhir pekan seperti kami. Semoga cerita perjalanannya bermanfaat ya :)


Happy Traveling!
Enjoy Indonesia!

Wednesday, December 11, 2013

Kereta Wisata Jawa, Pengalaman Naik Kereta Mewah

Wednesday, December 11, 2013 28 Comments

Naik Argo Bromo Anggrek atau Sembrani ke luar kota? Sudah biasa. Kalau naik kereta wisata? Seperti apa ya rasanya?

Saya biasa naik Argo untuk pergi ke Bandung, Yogya, Solo atau Surabaya tetapi belum pernah naik kereta wisata. Beruntungnya, bulan Oktober lalu, saya berkesempatan naik Kereta Wisata “Jawa” dengan rute Gambir (Jakarta) – Bandung dengan membawa satu rombongan kantor yang akan outing. Enaknya jadi Tour Leader ya itu. Jalan-jalan sambil dibayar. Hehehehe.

Kereta wisata ini hanya terdiri dari satu kereta yang digabung dengan rangkaian kereta reguler. Awalnya saya menulis artikel ini, saya menggunakan istilah gerbong namun diralat oleh teman-teman pecinta kereta api. Gerbong itu tidak diperuntukkan untuk manusia tetapi untuk barang dan hewan. Kereta Wisata adalah kereta spesial yang bisa disewa ke semua rute yang dilayani oleh PT Kereta Api Indonesia. Mau ke Cirebon, Yogya, Solo, Malang, Surabaya, Bandung, Purwokerto, Semarang, Nusa Kambangan bisa kok.

Sewaktu saya naik kereta ini, saya diberitahu bahwa ada empat kereta wisata yaitu “Jawa”, “Nusantara”, “Bali” dan “Toraja”. Katanya sih jumlah kereta wisata akan terus bertambah seiring meningkatnya minat masyarakat untuk jalan-jalan dengan kereta mewah ini. Dari info seorang teman yang memberikan komentar di bawah, saya baru tahu sekarang ada satu kereta wisata lagi yang diberi nama "Sumatera". Berarti ada lima kereta wisata ya.

Begitu memasuki Kereta Wisata, langsung terasa bedanya kereta ini dibandingkan kereta lainnya. Ruangan kereta wangi, karpetnya tebal dan bersih. Ada sofa empuk berjejer lengkap dengan bantalnya serta LCD TV di tengah-tengah kereta. Di belakang ruang TV ada meja makan besar dengan kursi-kursi mewah. Ada bar kecil dimana pramugara dan pramugari kereta wisata sudah siap dengan senyum ramahnya melayani permintaan makanan dan minuman dari penumpang.

Karpet lembut, sofa empuk dan LCD TV untuk karaokean. Nyaman dan tak akan bosan sepanjang jalan
Di Kereta “Jawa” ini terdapat pula satu kamar tidur dengan satu king size bed (sayangnya tidak sempat difoto karena sudah ditempati keluarga Pak Bos). Di sebelah kamar tidur ada ruang penyimpanan bagasi, ruang operator dan kamar mandi. 

Ruang Makan Kereta Jawa
Di perjalanan, penumpang boleh menikmati film atau karaokean. Paling seru sih karaoke ya. Siapa yang tidak suka bernyanyi di perjalanan? Lumayan untuk buang suntuk.

Alhasil selama 2,5 jam perjalanan Jakarta – Bandung, sebagian penumpang kereta wisata menyanyikan tembang-tembang lawas sambil nostalgia dan sebagian lagi duduk ngobrol di meja makan sambil menyeruput kopi. Sedap betul.

Biasanya toilet kereta itu toilet jongkok. Tetapi di sini, toiletnya toilet duduk yang bersih sekali dan wangi lengkap dengan flush nya. Kalau toilet umumnya kereta lain mah langsung “plung” ke bawah. Lagi-lagi ada teman yang menambahkan kalau beberapa kereta sudah ada yang punya penampung sementara, jadi nggak langsung dibuang ke rel.

Saya sendiri sih belum puas naik kereta wisata 2,5 jam. Maunya lebih lama lagi. Saking betahnya, waktu tempuh Jakarta - Bandung terasa sangat singkat. 

Sewaktu saya posting di twitter dan facebook tentang kereta wisata, banyak yang bertanya-tanya tentang info harga dan cara memesannya.
Teman-teman yang berminat bisa lihat info lebih lengkap di website nya : http://indorailtour.com/ +6221 – 3452-310 / info@indorailtour.com

Jadwal kereta wisata ini selalu di-update di website. Jadi silahkan cek tanggal yang kamu mau berdekatan dengan jadwal kereta yang mana. 


Tarif Kereta Wisata (indorailtour.com)

Cara reservasi kereta wisata nih. (Sumber : indorailtour.com)

Happy Traveling!
Enjoy Indonesia!

Follow Us @satyawinnie