Thursday, October 24, 2013

Wonderful Indonesia : Merasakan Kedamaian Jiwa di Danau Toba

Thursday, October 24, 2013 13 Comments


Pulo Samosir do haroroanku Samosir do

Ido asalhu sai tong ingotonhu

Saleleng ngolungku hupuji ho

Sepenggal lirik di atas adalah lagu kesukaan saya. Judulnya "Pulo Samosir" yang diciptakan oleh Nahum Situmorang. Lagu ini menyiratkan rasa rindu pada kampung halaman yang akan selalu membekas di ingatan. Saya membayangkan Nahum menulis lirik lagu ini di tepian danau Toba, mencurahkan rasa rindu dan berjanji akan kembali lagi.

Danau Toba adalah salah satu danau yang tercantik di dunia. Danau terluas (1.145 kilometer persegi) di Asia Tenggara ini dikelilingi oleh perbukitan hijau yang cantik. Membuat kita betah duduk berlama-lama merasakan desiran angin membelai-belai sambil menyecap secangkir kopi. Danau Toba adalah salah satu danau terdalam di dunia yaitu 450 meter dan merupakan danau vulkanik terbesar kedua di dunia setelah Danau Victoria di Afrika.

Seperti yang tertulis dalam portal resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia --> indonesia.travel Danau Toba terbentuk akibat letusan Gunung Toba sekitar 73.000 - 75.000 tahun yang lalu. Letusan maha dahsyat itu bahkan mempengaruhi perubahan iklim dan menjadi permulaan zaman es. Letusannya terjadi selama 1 minggu dan memusnahkan beberapa spesies makhluk hidup. Wow, saya enggak bisa bayangin bagaimana situasi saat itu, pastinya mencekam ya.

Sejarah terbentuknya Danau Toba di atas berbeda sekali dengan cerita yang aku dapat dari buku cerita rakyat tentang terbentuknya Danau Toba waktu masih duduk di sekolah dasar. Yang saya baca saat itu, Danau Toba tercipta karena murkanya sang Putri Ikan yang dikecewakan oleh suaminya, seorang pemuda lokal. Pemuda itu ingkar akan sumpahnya tidak akan membongkar asal-usul istrinya (ikan yang menjelma manusia) kepada anaknya. Istri yang kecewa itu pergi bersama anaknya meninggalkan desa, kemudian datanglah hujan badai yang menenggelamkan suaminya serta seluruh desa dan terbentuklah kubangan air yang dinamai Danau Toba.

Begitulah legendanya.

Naik apa ya ke Pulau Samosir / Danau Toba?
Cara menjangkau Pulau Samosir / Danau Toba sangatlah mudah. Cukup berkendara selama kurang lebih 4 jam dari kota Medan ke Parapat (bisa naik travel) lalu naik ferry / kapal kayu dari Ajibata dan Tigaraja menuju Tomok / Tuk-Tuk. Tomok adalah pusat wisata di Pulau Samosir. Disini wisatawan sangat mudah menemukan penginapan bagus, rumah makan yang enak dan pusat oleh-oleh yang berjejer rapi di tepi jalan. 

Kapal Kayu ini bisa mengangkut hingga 75-100 orang plus sepeda motor (foto : Juferdy)

 Enaknya kemana ya?
Objek wisata yang paling sering didatangi oleh wisatawan lokal dan mancanegara adalah kawasan Rumah Bolon, Sigale-gale, Batu Pengadilan dan Makam Raja Sidabutar. Karena empat objek wisata tadi lokasinya berdekatan dalam satu kawasan, wisatawan tidak akan lelah dan bisa diantar keliling oleh pemandu wisata lokal sambil mendengarkan cerita sejarah menarik tentang kebudayaan Batak.

Rumah Bolon dan Sigale-gale di Tomok (foto : Juferdy)
Tetapi, jangan mengaku sudah mengenal Pulau Samosir kalau baru mengunjungi Tomok dan Tuk-Tuk saja. Coba kelilingi Pulau Samosir secara keseluruhan dan berinteraksilah dengan masyarakat lokal. Percaya deh, kalian akan menemukan bertemu dengan masyarakat Batak yang beda seperti di kota-kota besar.

Perjalanan saya mengelilingi Pulau Samosir tahun lalu tergolong singkat, hanya tiga hari. Tetapi saya mendapatkan banyak cerita baru, menemukan objek wisata yang tidak ada di buku panduan (atau kurang peminat wisatawan?) serta menikmati makanan lokal yang dimasak segar. Saya dan teman jalan saya mencoba melihat sisi lain Pulau Samosir dengan cara naik sepeda motor mengelilingi Danau Toba.

Kami berangkat dari pagi-pagi sekali, menyusuri Pulau Samosir ke arah selatan dan berencana akan kembali lagi ke Tuk-Tuk (starting point) pada malam harinya. Suguhan pemandangan selama perjalanan benar-benar membuat saya terpana dan tak lupa mengabadikan frame-frame indah itu dengan kamera. Kami berhenti sejenak di Huta Ginjang untuk minum teh atau kopi sambil menikmati pemandangan. Semakin ke Selatan kita akan memasuki perkampungan Batak yang masih alami seperti Gultom, Onan Runggu, Nainggolan. Kita bisa mengunjungi pohon raksasa "Hariara Na Bolon", berenang di Pantai Maria Raja dan melihat Batu Guru.

Pohon Beringin Raksasa yang diberi nama "Hariara Na Bolon" (foto : Juferdy)
Perjalanan menyusuri Samosir berlanjut ke daerah Urat. Di Urat, wisatawan akan disuguhkan pemandangan Danau Toba dari sisi yang berbeda. Jalannya berkelok-kelok tetapi mulus beraspal membuat perjalanan semakin menyenangkan. Tapi walaupun jalanan mulus jangan ngebut-ngebut yah. ;)

Semakin ke utara, jalanan akan semakin berkelok-kelok menuju Pangururan, pusat pemerintahan Samosir. Di sini, kita bisa berendam di pemandian air panas. Saya tiba di Pangururan kurang lebih jam 8 malam. Waktu yang tepat untuk berendam air panas karena suhu udara saat malam benar-benar dingin. Jika mengunjungi daerah Pangururan jangan lupa mengunjungi Danau Sidihoni yang indah dan dikenal sebagai 'danau di atas danau' serta Aek Natonang.

Ingin melihat pemandangan danau Toba dari ketinggian? Silahkan mengunjungi Pusuk Buhit di Kecamatan Sianjur Mula-mula, tempat dimana masyarakat lokal yakin nenek moyang Batak diturunkan dari langit. Kita juga boleh mencoba minum 'Aek Sipitu Dai' yang konon katanya bisa menyembuhkan penyakit dan mengabulkan permintaan. *minum sambil minta jodoh?* *hehehe*

Menikmati pemandangan Danau Toba dan jajaran bukit hijau yang membentang.
Destinasi keliling Samosir berikutnya adalah Lumban Suhi-suhi. Kalau menurut saya pribadi, traveler perempuan wajib mengunjungi desa ini. Kita bisa berkenalan dengan 'Inang' (ibu) dan belajar menenun Ulos. Lumban Suhi-suhi merupakan salah satu Desa yang masih melestarikan budaya menenun ulos. Ketika saya berkunjung kesana, saya bertemu Inang boru Silalahi yang mengajari saya menenun. Walaupun saya perempuan Batak, saya tidak bisa menenun seperti Inang itu. Beliau bilang semua perempuan di Lumban Suhi-suhi wajib menenun dari kecil agar terbiasa dan semakin ahli. Sepertinya saya harus merencanakan tinggal lebih lama di Desa Lumban Suhi-suhi agar bisa menenun ya.

Inang Silalahi, sudah menenun sejak masih remaja. (foto : Juferdy)
Proses belajar menenun bersama Inang Silalahi (foto : Juferdy)
Dari Lumban Suhi-suhi, kita beranjak menuju Ambarita. Di sini wisatawan bisa mengunjungi dan belajar sejarah batak di Museum Huta Bolon. Seru loh memperhatikan satu per satu barang-barang di museum dan mempelajari sejarahnya. Bisa juga mengunjungi 'Batu Persidangan' di daerah Siallagan, tempat dahulu para tahanan atau kriminal dieksekusi mati.

Perjalanan dilanjutkan ke Ambarita dan kembali ke Tuk-Tuk, titik awal keberangkatan. Woohoo. Satu Samosir sudah berhasil dikelilingi. Walau badan pegal, saya merasa puas bisa mengunjungi banyak objek wisata meskipun belum semuanya dikunjungi.

Selain kegiatan di atas, wisatawan juga bisa melakukan kegiatan seru lainnya di Danau Toba seperti berenang, bermain jet ski air, bermain canoe atau kayak, naik speed boat melihat Batu Gantung, memancing dll.

Makanan apa yang wajib dicoba di Samosir?
Di Samosir, wisatawan bisa mencoba makanan khas Batak seperti Ikan Arsik, ikan Mas yang digulai kering, sedikit pedas dan kaya rempah. Kalau tidak suka Ikan Mas, bisa mencoba ikan air tawar lainnya seperti Nila, Mujair dan Gurami.

Namun ada makanan khas yang WAJIB dicoba yaitu 'Naniura', ikan Mas yang tidak dimasak namun difermentasikan selama 12 jam dan langsung disantap. Wah, apa rasanya ikan mentah yang hanya dilumuri bumbu dan didiamkan satu malam? Bukannya jadi basi? Eits, langan langsung skeptis. Coba dulu menu yang satu ini. Pasti nanti ketagihan. Daging ikan dengan bumbuu yang sudah meresap terasa sangat segar di lidah. Enak sekali. Sudah ada beberapa restoran di Samosir yang bisa menyajikan menu ini, namun harus dipesan satu hari sebelumnya. Untuk wisatawan yang non-muslim wajib mencoba menu 'saksang' dan 'panggang' babi yang bisa ditemukan dengan mudah di rumah makan seluruh daerah Samosir. Buat yang tidak suka daging bisa mencoba 'Bubur Sitohap', bubur yang diolah dengan bumbu andaliman dan daun sitohap.

"Naniura", ikan Mas  yang difermentasikan dengan Jeruk Toba. Rasanya segar di lidah. (foto : Juferdy)

"Panggang Babi" yang disajikan dengan sambal andaliman dan jeruk nipis. (foto : Juferdy)

Lelah menjelajah Samosir, mari kita beristhirahat. Di Pulau Samosir, kita bisa menemukan banyak hotel, hostel, guesthouse. Terserah mau pilih yang mana. Tergantung isi kantong juga sih. Kalau untuk pejalan pas-pasan seperti saya ya pilihnya guesthouse. Kalau punya banyak duit ya saya pilih di hotel. Hehehe. Tuk-tuk adalah kawasan dengan banyak pilihan hotel. Lokasinya strategis, aman dan nyaman.

Penginapan di pinggiran Tuk-Tuk. (foto : Juferdy)

Hal unik apa lagi yang bisa kita jumpai di Samosir?
Hal yang menarik adalah ketika kita menjumpai banyaknya rumah sederhana yang masih terbuat dari kayu tetapi banyak makam yang menjulang tinggi, terbuat dari keramik mahal bahkan terlihat seperti monumen. Ya, itu adalah kebanggaan masyarakat Batak. Tugu makam itu biasanya untuk satu keluarga atau satu marga. Biasanya, ketika meninggal, tubuh akan dimasukkan dalam peti dan dikubur di tanah. Beberapa belas tahun berikutnya, keturunannya akan mengadakan acara 'mangokkal holi' yaitu upacara pengangkatan tulang belulang untuk dipindahkan ke makam tugu keluarga.

Salah satu Tugu makam yang megah di Samosir.
Kalau mau beli oleh-oleh kemana ya?
Oleh-oleh bisa dibeli di sekitaran Tuk-tuk dan Tomok. Mulai dari t-shirt, aksesoris, patung pajangan, gantungan kunci hingga ulos bisa kita beli disini.
Jejeran toko oleh-oleh di Tomok


 Ada Festivalnya juga loh setiap tahun.
Apakah kamu tahu ada Festival Danau Toba? Festival tahunan ini baru saja selesai diadakan 8 - 14 September 2013 kemarin. Festival ini mencoba mengangkat kembali potensi wisata Danau Toba yang sedang 'tertidur'. Acara yang diadakan pun beragam, ada Lomba Renang Danau Toba, Karnaval Sigale-gale, Lomba Kapal Solu Bolon, Lomba Paralayang hingga World Drum Festival. Tentu saja acara ini menjadi magnet kuat bagi wisatawan domestik dan mancanegara untuk mengunjungi danau Toba dan menyaksikan festival yang akan terus diadakan satu tahun sekali ini. 

Masih kurang puas dengan ceritaku? Coba tonton video ini deh. Dijamin kalian pasti ingin langsung berkunjung ke Danau Toba.


Begitu indahnya Danau Toba dan Pulau Samosir. Saya menikmati udara segar yang terhirup. Saya merasa damai di tempat yang jauh dari kemacetan dan kepalsuan diri ini. Sebagai pejuang ibu kota, bepergian ke suatu tempat yang jauh benar-benar menjadi "obat" yang ampuh.  Segala beban rasanya terlepas. Bebas. Danau Toba memberikan saya kedamaian jiwa.

Saya pun bermimpi untuk suatu hari membangun rumah kecil yang menghadap Danau Toba agar setiap pagi saya bisa bangun lalu mengucap jutaan syukur atas indahnya alam ciptaan Tuhan. Samosir, kelak akan menjadi tempatku untuk pulang.

--------

TIPS : 
1. Mengelilingi Samosir enaknya pakai motor atau sepeda. Di Tuk-tuk terdapat banyak penyewaan motor dan sepeda dengan harga yang pas di kantong.
2. Jangan lupa membawa jaket, topi, syal dan sarung tangan karena ketika malam udaranya sangat dingin.
3. Kalau ingin berenang di Danau Toba, jangan berenang sendiri. Kalau bisa bersama 2 / 3 orang teman ya.
4.Jangan kaget kalau misalkan mereka berbicara dengan suara keras. Mereka tidak sedang marah tetapi memang begitu nadanya. Kecuali kalian memancing amarah mereka. Hehehehe.
5. Cobalah berbaur dengan masyarakat lokal dengan menyapa atau mengajak ngobrol sebentar. Jaga perilaku dan perkataan selama berada di kampung. :)
6. Buat teman-teman yang muslim tenang saja, ada beberapa rumah makan yang menyediakan menu halal :)

Sumber Data : http://indonesia.travel/id/destination/48/danau-toba

Monday, October 14, 2013

Memanjakan Diri di Gunung Papandayan

Monday, October 14, 2013 48 Comments

Penaaat. Saya penat dengan Jakarta. Rutinitas kantor ditambah kemacetan yang tak mengenal waktu membuat saya jengah. Saya mau pergi ke suatu tempat yang sepi dan dingin. Saya mau memanjakan diri.

Tiba-tiba terbersit ide untuk berakhir pekan ke Papandayan. Aksesnya mudah, (bisa dibuat) murah dan tidak terlalu jauh dari Jakarta. So, here we go Papandayan!

Jumat malam saya langsung mengemas seluruh keperluan mendaki ke dalam carrier 50 + 5 liter. Karena pendakian ke Papandayan ini hanya beranggotakan dua orang, bawaan menjadi cukup berat karena bebannya banyak. Ada tenda dan tulangnya, trangia (kompor portable dengan bahan bakar spiritus), perlengkapan pribadi dan yang tak boleh dilupa, kamera.

Saya dan travelmate saya, Juferdy, berencana untuk berangkat tengah malam dari terminal Kampung Rambutan ke Garut, gerbang masuk untuk mendaki gunung Papandayan. Jarak tempuh Jakarta - Garut kurang lebih 3 - 4 jam sehingga kami memperkirakan akan tiba subuh di Garut dan bisa langsung mendaki.

Ketika kami tiba di terminal Kp Rambutan, hanya tinggal 1 bus yang tersisa untuk jurusan Jakarta - Garut, yaitu bus Wanaraja. Setelah menaruh carrier di bagasi, kami naik ke bus dan mendapati bus Patas AC ini kosong melompong. Sepi. Kondisi seperti ini ada baik dan buruknya. Baiknya, saya bisa tidur selonjoran di kursi jejer tiga. Enak banget kan? Buruknya, kalau sepi begini, busnya bisa berangkat lama sekali karena menunggu penumpang lain dan jika jadwalnya ngaret, rencana kami untuk mendaki subuh sirnalah sudah. Yaaaahh... ternyata benar, bus kami baru berangkat jam dua jam kemudian alias jam 02.00 WIB. Yowis, yang penting dapat bus ke Garut. Daripada dongkol, mari kita molor (di tiga bangku :p ) menabung energi untuk pendakian besok.

Rasanya baru tidur sebentar, tetapi di luar terdengar bisingnya klakson mobil dan suara orang berteriak. Ooohh, ternyata kami sudah sampai di Garut. Kulirik handphone, jam sudah menunjukkan pukul 5.25, tetapi matahari sudah bersinar terang. Gagal deh rencana berangkat pendakian subuh-subuh.

Setiba di terminal Guntur, Garut, kami mencari angkot yang bisa membawa kami ke Cisurupan. Memang sudah ada beberapa angkot yang berjejer tetapi semuanya adalah angkot carteran satu fans klub bola yang mengadakan jambore ke Gn Papandayan dengan jumlah sekitar 130 orang. Walah, banyak amat. Salah seorang supir berbaik hati menyuruh kami naik dan bergabung dengan teman-teman pensklup tadi. Aduh baek pisan euy si Bapaknya. Ongkos naik Angkot Biru ini adalah Rp 15.000,-.

Terminal Guntur. Angkot-angkot biru itu yang akan membawa kami ke Cisurupan.
Pagi itu jalanan Garut tidak terlalu ramai. Di sebelah kiri jalan Gunung Cikuray menjulang dengan gagahnya. Gunung Papandayan tidak terlihat dari jalan karena terhalang bukit-bukit di kejauhan. Rasanya excited, enggak sabar buat merasakan dinginnya Papandayan dan bertemu Edelweiss yang cantik. O yeah!

Perjalanan Terminal Guntur - Cisurupan memakan waktu kurang lebih 45 menit. Angkot dari Terminal Guntur akan berhenti di gerbang kecamatan Cisurupan dan dilanjutkan dengan pick-up. 1 pick-up harganya 200 ribu rupiah, terserah berapapun penumpangnya. Buat pejalan hemat kayak kami ya ogah bayar segitu buat berdua. Mending nungguin tim pendaki kecil yang lain untuk patungan bayar pick-up.

Lama ditunggu, tak ada tim kecil yang bisa diajak patungan bayar pick-up. Matahari yang semakin tinggi membuat saya cemas kalau harus mendaki setelah makan siang. Huhuhuhu. Kemudian seorang bapak datang menghampiri dan bilang "Neng, ojek aja neng. Nunggu pick-up mah lama". Saya jawab dengan gelengan kepala. Ogah ah, pasti si bapak ojek ini matok harga mahal, pikirku dalam hati.

10 menit menunggu, saya mulai kehilangan kesabaran. Si Bapak Ojek ini kembali menawarkan diri dan akhirnya saya bertanya berapa tarif naik ojek ke pintu gerbang Papandayan. Ternyata cuma Rp 30.000 rupiah. Loh, kok murah ya? Naik pick-up tarifnya 20.000 kalau orangnya ada 10 tapi nunggunya masih lama. Naik ojek lebih cepat dan cuma nambah 10.000 ajah. Wes lah, sikat!! Berangkat!

"Tenang aja Neng, bapak udah sepuluh tahun jadi ojek di sini. Jalanannya nanti banyak lobang, tapi Eneng percaya aja sama Bapak. Pegangan ya nanti." ujar si Pak Babay (kenalan di motor) sambil mengangkat carrier saya ke bagian depan motor dengan santainya.

Baru sekitar 10 menit berkendara, jalanan yang tadinya mulus beraspal, berubah menjadi jalanan berlubang. Mending lubang kecil yeee, ini lubang-lubang jalannya kayak habis kejatuhan meteor. Gede beut. Namun, berkat kelihaian si Pak Babay meliuk-liuk diantara lubang, kami tiba di pintu masuk pendakian Gn Papandayan dengan selamat. Hore!

Jalanan berlobang menuju entry Papandayan
Ketika tiba di pintu masuk, kita harus melapor dan mendaftarkan diri terlebih dulu. Ada Pak Rokim dan Pak Komik yang sedang berjaga di pos berukuran 2x3 meter itu. Setelah menuliskan nama, tanggal masuk dan rencana tanggal kembali, Pak Rokim menanyakan apakah kami membawa golok dan saya jawab tidak. Di pojok ruangan saya melihat beberapa golok yang dibungkus kresek hitam. Kata Pak Komik, pendaki tidak boleh membawa golok  karena takut dipakai untuk menebang pohon. Kami diminta membayar tiket masuk 2000 rupiah per orang dan memberikan sumbangan sukarela. Ya terserah jumlahnya berapa. Namanya juga sukarel.

Setelah selesai pendaftaran saya dan Ju mengecek perlengkapan dilanjutkan dengan pemanasan dan yang tak kalah pentingnya yaitu berdoa.

Pendakian Papandayan dimulai. Berangkat!


Kami mulai menapaki jalur pendakian yang berbatu-batu besar. Ritme langkah dijaga agar tidak cepat lelah. Jam menunjukkan pukul 08.40 WIB. Cuaca sudah mulai panas dan terlihat di kejauhan asap belerang membumbung tinggi. Waktu yang paling baik untuk mendaki Papandayan sebenarnya pagi-pagi sekali agar tidak kepanasan. Kalau sudah siang, panasnya benar-benar menyengat dan takutnya bisa terkena heat stroke dan dehidrasi.

Di perjalanan, kami berjumpa dengan beberapa pendaki yang memakai celana jeans, sendal jepit dan tas ransel kecil. Dalam hati saya merasa heran, apa mereka enggak sayang sama kaki ya? Sendal itu tidak melindungi kaki loh. Jadi, resiko cedera nya lebih besar. Aduh, cuma bisa geleng-geleng kepala deh melihat mereka. Jalur Papandayan kan berbatu-batu besar dan berkerikil. Kalau tidak pakai sepatu yang punya grip yang baik ya siap-siap tergelincir terus gedubrak di batu-batu itu. Aduh gak kebayang deh. Sayangilah kakimu dengan pakai sepatu.

Tirulah pendaki yang baik ini. Pakai Sepatu.

 Setelah 1 jam berjalan, kami tiba di Hutan Mati. Kami menurunkan carrier dan beristhirahat sejenak. "Ahhhh, tempatnya cantik banget" teriakku. Iya tempat ini memang cantik sekali. Eksotis. Saya dan Ju mengeluarkan kamera masing-masing dan mulai membidik pemandangan indah dari sudut mata.

Hutan mati ini membawa kesan dingin. Pohon-pohon ini telah terkubur abu hasil erupsi tahun 2002. Walaupun sudah tidak memiliki daun, batang pohonnya tetap berdiri tegak, gagah dan menjadi primadona Papandayan. Mereka adalah saksi peristiwa 11 tahun yang lalu.

Hutan Mati Papandayan



Jeprat-jepret selesai, kami melanjutkan perjalanan ke Pondok Seladah, tempat dimana semua pendaki mendirikan camp. Di pos pendaftaran tadi, kami sudah diwanti-wanti tidak boleh mendirikan camp di hutan mati dan tegal alun.

 "Di hutan mati tanahnya berbatu sedangkan Tegal Alun itu cagar alam, jadi jangan mendirikan tenda di dua tempat itu ya" anjuran Pak Rokim yang terngiang di kepala.

Di kejauhan terlihat satu lapangan luas dengan beberapa tenda warna-warni. Itu dia Pondok Seladah. Tapi tendanya sudah ramai begitu. Saya jadi cemas tidak dapat lahan yang enak dan sepi. Tadinya kami mau nakal dengn mendirikan camp di Tegal Alun tapi niat itu diurungkan karena enggak mau nge-camp dengan merasa bersalah. Lagian nanti ceritanya enggak bisa di-post di blog. Jadi pendaki nakal kok bangga.

Setibanya di Pondok Seladah, saya melihat rombongan Jambore sudah ramai mendirikan tenda di lapangan. Beberapa orang sedang mengambil air di pipa air warga yang bocor (atau sengaja dibocorin?)  dengan botol mineral dan sebagian lagi sedang mencuci peralatan makan.

Seperti yang saya bilang di awal, tujuan naik gunung Papandayan adalah mencari kesunyian dan ketenangan. Untuk menghilangkan kepenatan. Tapi kalau ngecamp bareng rombongan jambore ya mana bisa sunyi ya kan? Pastinya mereka bakal kumpul rame-rame, main games, nyanyi di api unggun dll. Kami memutuskan untuk mencari tempat lain saja. Setelah berkeliling di sekitar Pondok Seladah, kami mendapatkan satu petak tanah landai di bawah pepohonan rimbun dan cukup jauh dari camp rombongan jambore. What a perfect place!

Lokasi camp kami. Enak banget. Rindang dan tenang.
Saya dan Ju membongkar carrier masing-masing, membangun tenda, mengeluarkan trangia, memasak air hangat dan menyiapkan makan siang bersama. Setelah mendaki selama 2 jam kami sudah menikmati makan siang di lokasi camp yang sempurna. Cepat sekali ya. Biasanya mendaki Gunung Gede, paling cepat 8 jam dan paling lama 5 hari. Kali ini cukup 2 jam saja. Menu kami siang itu telor dadar, orek, rendang dan semur jengkol. Wuih muantep!

Setelah kenyang, semua orang jadi bodoh. Ye kan? Ya gitu deh kita jadinya. Habis makan siang dengan menu ajib, dibelai-belai angin jadi ngantuk. Saya dan Ju masuk ke dalam tenda dan berencana untuk boboci (bobok-bobok ciang) selama 1 jam. Eh, kebablasan jadi 3 jam. Hahaha.

Sore harinya kami berjalan-jalan di Pondok Seladah, menyapa beberapa pendaki yang camp di lapangan sambil bertanya jalur menuju Tegal Alun. Ada yang menunjukkan jalur ekspress yang katanya tidak sampai 1 jam perjalanan tapi jalurnya batu-batu curam dan tanjakan dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Busyet! Tanjakannya tegak lurus begitu. Ah, gak jadi ah. Kami lewat jalur biasa saja, jalur yang sudah dikasi marka. Jarak tempuhnya mungkin lebih lama, tapi yang penting aman. Yes! That is the most important. Our safety.

Kami berjalan berkeliling Pondok Saladah. Warna jingga dengan semburat merah muda mewarnai langit senja. Saya menikmati kedamaian itu sembari menunggu langit berubah menjadi gelap, membawa semua resah tenggelam dalam kelam. Selamat datang, malam.

Edelweiss di senja hari.
Kami kembali ke tenda dan menyiapkan makan malam. Menu makan malam kami adalah nasi, rendang, tumis labu teri dan indomie soto pedas. Nyahahaha. Cemilan wajib banget emang Indomie kalau naik gunung. Cemilan ya, bukan makanan utama.

Kayak lagi main masak-masakan di TK ya.

Angin sedang berhembus kencang dan kami ada di ketinggian 2288 mdpl. Menggigil bro. Sudah pakai jaket polar, windbreaker, syal, kupluk, sarung tangan masih berasa dinginnya. Tapi justru itu kan yang dicari kalau naik gunung. Sensasi dingin-dingin di bawah langit bertaburan bintang. Malam itu kami mengabadikan langit sambil ngobrol ngalor ngidul sampai ngantuk. Karena udara semakin dingin, kami beranjak masuk ke dalam tenda, berdoa bersama lalu tidur.

Taburan bintang di langit. Di kejauhan adalah camp Pondok Seladah.

Dan......

Kebablasan. Kami bangun jam 6 pagi. Huhuhuhu. Saya sedih karena rencana untuk dapat sunrise di Papandayan gagal karena lupa bikin alarm. Sama-sama bodoh. Ah yasudah tak apa. Kami menghibur diri dengan menyeduh coklat hangat dan leyeh-leyeh di dalam tenda yang disiram sinar mentari pagi. Nikmatnya....

Edelweiss bermandikan matahari pagi.

Setelah menghabiskan makan pagi, kami merapikan barang di sekitar tenda agar tidak berantakan dan berjalan menuju Tegal Alun. Ketika berpapasan dengan orang yang baru turun dari Tegal Alun, kami bertanya berapa lama untuk sampai di atas dan mereka menjawab tidak sampai satu jam. Lah, sama aja dong berarti lewat jalur biasa dengan jalur (yang katanya) ekspress tapi ekstrim. Ya mending jalan biasa deh.

Untuk perjalanan ke Tegal Alun, kami hanya membawa air 750 ml dan satu snack. Cukuplah itu. Kan baru selesai makan pagi. Cadangan energinya masih banyak. Dengan hati gembira dan cuaca cerah, kami menapaki tanah putih menuju Tegal Alun.

Jalur dari Pondok Seladah ke Tegal Alun bisa dikatakan tidak berat. Hanya ada satu titik yang cukup susah, yaitu Tanjakan Mamang yang kemiringannya lebih dari 45 derajat. Heran juga sih kenapa diberi nama Mamang. Mungkin dulu, setiap berjumpa di tanjakan sempit itu, orang selalu menyapa dan berkata "Rek kamana, Mang?" (mau kemana Mang / Bang?) dan jadilah tanjakan itu dinamai Tanjakan Mamang. Hahaha. Itu tebakan kami saja sih. Hahaha.

Jalur menuju Tegal Alun.
  
Jalur Tanjakan Mamang ini sempit euy. Jadi kalau berpapasan dengan pendaki lain harus saling menyapa ya.
Aaaah, akhirnya tiba juga di Tegal Alun. Mataku langsung terpaku melihat padang Edelweiss yang sebegitu luasnya. Katanya sih luas padang Edelweiss ini 32 hektar. Wow! Rasanya mau loncat-loncat dan guling-guling disitu. Hahaha. Kami berjalan mengikuti jalan setapak, menyapa Edelweiss yang cantik tapi tidak boleh dipetik.

Halo Edelweiss dan Tegal Alun yang cantik.

Yang membuat saya terheran adalah, ada beberapa tenda yang berdiri di Tegal Alun. Loh. memangnya mereka enggak tahu ya kalau di Tegal Alun dilarang mendirikan camp? :/ Atau mereka sudah tahu tapi masa bodoh? Huh. Dasar pendaki-pendaki liar. Cuma ya saya bisa apa? Mau negur? Siapa saya ya kan? Jadi, enggak ada pilihan lain selain didiemin aja. Tapi kesalnya, saya menemukan seonggok kayu bakar bekas camp tapi masih ada baranya dan langsung saya injak-injak sampai benar-benar mati. Tahu enggak sih kalau bara itu ketiup angin bisa menimbulkan kebakaran. Sadar enggak sih pendaki-pendaki itu? Ckckckck. Bertobatlah Mas.

Lepas dari rasa kesal karena ulah pendaki-pendaki nakal, saya gembira sekali bisa bermandikan matahari di Padang Edelweiss (terus nyanyi "Edelweiss, edelweiss, why are you so happy to meet me?" OST The Sound of Music itu looh) sambil loncat-loncatan dan tidur-tiduran di Tegal Alun.

Enjoying the sun at Tegal Alun

Let's jump hiiiii~

Setelah puas bermain, saya dan Ju berjalan pulang ke camp Pondok Seladah. Kami berencana untuk turun ke Garut setelah makan siang. Sedang asyik menuruni jalan setapak di hutan mati, tiba-tiba mata saya langsung ter-auto locked ke seorang perempuan yang sedang asyik berfoto dengan syal Manchester United.

"Mbak ini salah panggung kali ya Ju?" ujarku setengah terkikik. Gimana enggak ngakak, si Mbak dengan rambut merah menyala ini kostumnya kayak mau dangdutan di kampung. Bajunya ketat mentereng, pakai legging / stocking yang ada renda-rendanya dan pakai sepatu boots musim dingin. Hellooo, sepatu boots yang ada bulu-bulunya dipakai di gunung? Oh yes, thank you. Hahahahaha. (ngakak guling-guling)

"Kamu gak boleh gitu ah. Setidaknya kita harus menghargai niat dan usaha dia untuk sampai kesini" kata Ju.

"Hahahaha. Oke oke. Daripada aku ketawa sakit perut, mending kita cepat-cepat balik ke camp deh" jawabku.

Tapi maap nih ye encang-encing, fotonye kagak ade. Soalnya takut si Mbak-mbak itu tersinggung kalau difoto tanpa izin. Atau bisa jadi kesenangan dikira lagi jadi artis. Huahahaha. Intinya, saya lupa foto itu Mbak-mbak sih. Terserahlah kalau nanti kalian komentar "Ah, no pict hoax". Hahahaha.

Oke, balik lagi ke cerita Papandayan. Setelah makan siang, kami membereskan peralatan, melipat tenda dan packing semua sampah yang kami bawa. Masih ingat kan dengan tiga prinsip pendaki?

1. Take nothing but photos. (Tidak mengambil apapun selain foto / gambar)
2. Leave nothing but footprints. (Tidak meninggalkan apapun selain jejak kaki)
3. Kill nothing but times. (Tidak membunuh apapun selain waktu)

Setelah memastikan camp bersih dari sampah dan tidak ada yang tertinggal, kami bersiap untuk perjalanan turun.

Ternyata banyak juga pendaki yang akan turun siang itu sehingga jalur agak macet. Beberapa kali saya jantungan hampir tergelincir karena licinnya kerikil. Ju menyarankan untuk turun dengan setengah berlari. Hah? Lari? Gila kali. Jalan aja harus pelan-pelan banget supaya enggak terpeleset, ini malah disuruh lari. Tapi setelah Ju memberi contoh turun dengan setengah berlari, kerikil itu tidak membuat dia jatuh terpeleset. Oke, mari berlari. *gruduk gruduk gruduk*

Perjalanan turun menuju Cisurupan. Yuk, berlari-lari di kerikil :)

Salam lestari dari saya dan Ju.
Perjalanan turun hanya memakan waktu 1 jam. Setibanya di pos bawah, kami bertemu dengan rombongan kecil lain untuk patungan membayar pick-up. Pick-up yang seharusnya diisi 10 orang malah diisi 18 orang. Buset dah, kalian pastinya bisa ngebayangin betapa sempitnya duduk melipat kaki selama setengah jam. Pegel bro!

Akhirnya, tiba juga di Cisurupan. Kami mencari angkot ke Terminal Guntur namun tak kunjung ada. Angkot-angkot itu lebih memilih mengangkut rombongan besar. Akhirnya setelah hampir sejam menunggu, si supir menawarkan untuk bayar 15 ribu (tarif biasa : 10 ribu) supaya kami bertujuh (saya, Ju dan 5 orang teman) bisa langsung berangkat. Ya sudah, kami mengangguk saja.

Jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam ketika kami tiba di Terminal Guntur, Garut. Karena saya pergi sebentar keliling kota Garut bersama teman lama, kami baru pulang ke Jakarta jam 12 malam dan tiba di Terminal Kampung Rambutan jam 4 pagi. Hore! Perjalanan kami berakhir dengan menyenangkan, selamat dan tiada kekurangan suatu apapun. Selesai sudah memanjakan diri di Papandayan. Sudah cukup memanjakan dirinya. Sekarang waktunya kembali ke rutinitas Ibu Kota tapi dengan baterai yang penuh! Woohooo~ Have a good day, friends! Happy travelling!

Friday, October 4, 2013

Senang Riang Mendayung di Cicatih

Friday, October 04, 2013 1 Comments


Weekend tiba, saatnya bertualang ria. Kali ini saya akan menceritakan perjalanan kami mengarungi Sungai Cicatih di Sukabumi, 21-22 Sept kemarin. Jumat malam, beberapa anggota Mapala terlihat sibuk bersiap-siap untuk berangkat ke Cibadak. Kami berencana untuk menginap di PLTA Ubrug agar mudah untuk turun ke sungai Cicatih keesokan paginya. Pengarungan kali ini diikuti oleh 15 orang yang terdiri dari 12 anggota BKP 11 ; Agung Rudiarto, Kurniadi Wijaya, Komarun, Rinanda Bagus, Gus Firman, Hexa Prayoga, A Azis Kurniawan, Aulia Rachmawati, Qatrunnada Fadhila, Satya Winnie Sidabutar, Winda Widyasari, Fransiska Wuri ditambah dengan teman dari Aranyacala Trisakti, Hanny Yubetri dan dua anak Komunikasi FISIP UI, Gita dan Yoland.

Untuk menghemat biaya, kami hanya menyewa 1 buah mobil Elf untuk mengangkut 3 perahu dan perlengkapan arung jeram ditambah penumpang 5 orang. Sisanya ngeteng menuju Cibadak. Dimulai dari naik KRL dari stasiun Pondok Cina menuju stasiun Bogor dilanjutkan naik angkot 03 ke Pajajaran lalu naik ELF ke pertigaan Cibadak. Setibanya di pertigaan Cibadak, kami dijemput oleh rombongan  yang sudah tiba terlebih dahulu di Ubrug. Ketika rombongan ngeteng tiba di Ubrug, jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Kami bergegas tidur agar keesokannya tidak terlambat berangkat ngarung.

Niatnya sih bangun cepet namun nyatanya jam 7 pagi semua masih menggeliat malas di dalam sleeping bag. Ya wajar baru tidur 4 jam sudah bangun lagi. Pagi itu air sungai Cicatih tidak terlalu tinggi tetapi masih bisa diarungi. Setelah menghabiskan sarapan nasi dengan lauk sayur labu dan ayam, semua bergegas mengganti pakaian ngarung dan mempersiapkan perahu. Ada 3 perahu yang dibawa yaitu AVON si perahu Abu-abu, Bravo si perahu biru dan RNI si perahu kuning. Tak lupa kami melakukan pemanasan dan berdoa sebelum berangkat agar pengarungannya lancar, menyenangkan dan semuanya selamat sampai tujuan.

Ayo semangat berangkat ngarung!! Angkat perahunya!!
 Setelah semua perahu diturunkan ke sungai, masing-masing menempati perahu yang sudah ditentukan oleh Pak Tarno (panggilan sayang untuk Kurniadi). Ada Komarun, Pak Tarno dan Gus Firman dan Agung Rudiarto yang menjadi skipper selama pengarungan. Sebelum memulai pengarungan, semua melakukan pemanasan mendayung maju, mundur, pancung kiri kanan, tarik kiri kanan dan blok bersama-sama.

Ketika dayung sudah seirama,  pengarungan sungai Cicatih pun dimulai. Berangkat!
Air sungai yang tidak terlalu tinggi membuat pengarungan kali ini terasa kurang menantang. Beberapa kali kami harus turun dan mengangkat perahu yang tersangkut di batu. Tantangan pertama adalah turunan pintu air. Walaupun air kecil, tapi kami tidak mau meremehkan. Sebelum melintasi jeram, dilakukan scouting terlebih dahulu kemudian perahu berangkat satu persatu.


Jeram-jeram di Sungai Cicatih cocok bagi pendayung pemula. Kami melewati jeram kopi, jeram naga, jeram jontor, jeram rodeo, jeram setan, jeram warok, jeram gigi, jeram S, jeram blender, jeram panjang, jeram maskot dan yang terakhir jeram harga diri.

Kami sempat beristhirahat untuk memulihkan tenaga selama pengarungan. Di hari pertama kami berhenti makan siang di Bojongkerta dan di hari kedua, kami berhenti di titik camp peristhirahatan Riam Jeram, salah satu operator Arung Jeram di Cicatih.

Makan dan ngopi dulu.

Makanan yang paling praktis dan disukai semua umat ya Indomie :)

Pengarungan hari pertama berlangsung seru, tidak ada yang cedera dan perahu terbalik. Setibanya di finish point, jam sudah menunjukkan pukul setengah 6 sore. Agar tidak kemalaman pulang ke basecamp, semuanya langsung bergegas melipat perahu dan merapikan peralatan. Saya dan Hanny bertugas untuk mencari mobil pick-up yang bisa disewa tetapi tak kunjung dapat. Maklum, mendekati magrib, kebanyakan supir operator sudah off dan pulang ke rumah. 

Akhirnya kami mendapatkan nomor kontak salah satu supir pick-up. Pak Supir sudah oke dan meminta kami menunggu. Sambil menunggu jemputan, kami semua diundang oleh Bang Dul dari Riam Jeram untuk makan malam. Horeeee!! Kami semua bersorak riang karena dapat makanan gratis. Ya iyalah senang. Namanya juga mahasiswa. Paling demen sama yang namanya gratisan. Hehehe.

Dengan masih mengenakan baju ngarung yang basah, kami menikmati makanan yang disediakan di Riam Jeram. Menu malam itu ikan teri, kacang panjang, sup dan sayur asam. Lumayan untuk mengisi kembali energi yang terkuras setelah lelah mengarungi sungai Cicatih seharian.

Setelah selesai makan malam, kami menunggu supir pick-up yang sudah berjanji akan menjemput. Tapi kok enggak kunjung datang. Ternyata, Bapaknya PHP (Pemberi Harapan Palsu). Ketika kami hubungi, beliau mengatakan kalau badannya capek dan dia sudah beristhirahat di rumah. Lah, nasib kami piye? Kami pun kebingungan dan bolak-balik bertanya kepada penduduk lokal, apakah ada orang yang pick-up nya bisa disewa. Hasilnya nihil. Gondok bener deh waktu itu.

Dengan putus asa, saya dan Hanny memberhentikan setiap pengendara motor yang lewat untuk menitipkan pesan, jikalau mereka bertemu pick-up, tolong beritahu kalau ada segerombol mahasiswa yang butuh kendaraan pulang. Walaupun kami tak berharap banyak, tiba-tiba ada sebuah motor menghampiri. Ternyata dia adalah salah satu Akang yang tadi kami hentikan motornya. Kami bertambah senang ketika ada mobil pick-up yang datang bersama si Akang. Akhirnya, kami bisa pulang ketika jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. 

Setelah mengucapkan terima kasih kepada si Akang yang baik hati, kami segera menaikkan seluruh peralatan ngarung ke atas pick-up dan pulang ke Ubrug. Baju kami kering di badan dan dinginnya angin malam menusuk tulang. Tetapi hati kami terasa hangat karena puas mengarung dan bersenda gurau sepanjang jalan. Setibanya di Ubrug kami bergantian mandi, makan malam dan tidur dengan pulasnya.

Minggu pagi, semuanya bangun dengan badan linu tetapi tidak menyurutkan niat kami untuk turun lagi ke sungai. Tetapi ketika mengecek ketinggian air kami kecewa karena lebih surut dari kemarin dan tidak memungkinkan perahu turun dari Ubrug. Akhirnya diputuskan kami akan memulai pengarungan dari Bojong Kerta, titik turun para operator arung jeram di Cicatih.

Pengarungan hari kedua juga berlangsung seru walaupun air surut. Kami belajar cara manuver perahu yang lebih baik. Beberapa anggota M juga sempat berlatih flip-flop di jeram S. Sewaktu pengarungan sudah hampir selesai, kami semua berenang di jeram panjang. Walaupun ngeri, ternyata setelah dicoba asyik juga ya timbul tenggelam di jeram. Akibat berenang di jeram, kami mendapat “kado” berupa memar di sana-sini. Ah, tak apa-apa. Yang penting sudah nyoba dan tahu rasanya berenang di jeram.

Sambil menunggu perahu belakang datang, pose sebentar ah. Ki-Ka : Winda, Satya, Nada
Winda mukanya santai banget berenang di Jeram. Hahaha.
Pengarungan hari kedua pun selesai. Beberapa anggota yang bernyali tinggi mencoba melompat dari jembatan (fotonya enggak ada karena sudah gelap). Kata yang sudah mencoba, nyawamu serasa tertinggal di atas ketika melompat. Hiiiiiii, apa rasanya ya? Sebagian ragu-ragu dan belum berani mencoba, termasuk saya. Tapi bolehlah dicoba kapan-kapan kalau air tidak sesurut kemarin. Hehehe. Selesai membereskan perahu dan perlengkapannya, kami pulang ke Ubrug dan bersiap untuk pulang ke Depok.

Sama seperti waktu berangkat, ada sebagian tim yang harus pulang ngeteng. Dari Terminal Cibadak kami naik Elf ke perempatan Ciawi kemudian melanjutkan perjalanan ke Kp Rambutan dengan Bus jurusan Garut-Kp Rambutan yang melintas. Sampai di Kp Rambutan, kami melanjutkan perjalanan dengan naik angkot merah 19 jurusan Depok. Seluruh rombongan tiba sekitar pukul 1 pagi di Sekertariat Mapala UI. Syukurlah, semuanya kembali sehat dan selamat. Next trip, kemana ya?

Tiba di Finish Point dan beres-beres perlengkapan.

Tim Pengarungan Hore kali ini. Karena saya yang motret jadi enggak ada di foto. Haha. Sampai jumpa di pengarungan berikutnya ya.

Follow Us @satyawinnie