Wednesday, September 18, 2013

Tips Mendaki Gunung Agar Tetap Cantik Untuk Perempuan

Wednesday, September 18, 2013 118 Comments



Halo para cewek yang ingin mendaki gunung. Kali ini saya ingin membagi tips mendaki gunung untuk kaum kita, seiring meningkatnya minat perempuan untuk mendaki gunung. Yang buat postingan ini  masih tahap pendaki pemula, saya. :)

Kita mulai dari tips persiapan fisik ya :

1. Sebulan sebelum melakukan pendakian gunung, hal yang terpenting dilakukan adalah OLAHRAGA!! Ingat, mendaki gunung bukan cuma jalan kaki, tapi mendaki dengan barang bawaan carrier yang cukup berat. Olahraga yang cocok adalah jogging, push-up, sit-up, back-up, pull-up dan renang untuk latihan pernapasan.

2. Coba lihat tanggal pendakian kamu, apakah bertepatan ketika kamu sedang kedatangan "tamu". Kalau bertepatan, saya anjurkan tidak usah mendaki dulu. Tapi kalau merasa kuat, ya silahkan. Asal tahu cara membersihkannya dan menyimpan dengan baik di dalam carrier. Akan saya ceritakan di bawah nanti ya.

Tips berikutnya adalah Barang Bawaan WAJIB :

1. Carrier
Carrier adalah tas punggung besar yang memiliki kapasitas yang berbeda-beda mulai dari 30 - 90 liter. Carrier ini berbeda dengan tas punggung / ransel karena dibuat dengan sistem khusus. Sistem khusus yang dimaksud adalah, tas ini sudah disesuaikan ukuran punggungnya, memiliki straps / tali dan buckle di pinggang dan dada. Tujuannya agar beban tidak 100% ditanggung oleh bahu, tetapi dibagi di perut. Kalau mau beli carrier jangan tergoda oleh warna atau designnya, tapi dilihat dulu apakah itu woman series (khusus untuk perempuan) atau bukan. Untuk perjalanan 2 hari 1 malam, sebaiknya bawa carrier 40-55 liter.

2. Pakaian Atas / Baju Jalan
Pengen modis pas mendaki gunung? Bisa banget kok. Sekarang sudah banyak baju quick dry yang memiliki banyak pilihan warna. Warna kesukaan saya untuk naik gunung itu hitam, biru, pink. Kaos quick dry ini tipis, ringan dan sesuai namanya, cepat kering. Bayangin aja kalau kita bawa baju katun terus basah karena keringat dan ketika mau dijemur, tidak ada matahari. Pusing kan? Kalau kaos quick dry, cukup kita angin-anginkan sebentar sudah kering dan siap dipakai jalan lagi keesokan hari. Oh iya, kalau tidak punya baju quick dry lengan panjang, boleh pakai manset untuk menutupi tangan. Selain melindungi dari sinar matahari, manset juga melindungi kita dari alergi gatal beberapa tanaman di hutan.

3. Celana Jalan
Saya ini terbiasa jalan kemana-mana pakai celana pendek dan risih kalau pakai celana panjang. Namun, celana yang baik dipakai ketika naik gunung sebenarnya celana panjang atau celana cargo. Saya dan teman-teman saya di organisasi pecinta alam memilih tetap memakai celana pendek karena bisa bergerak lebih leluasa. Eits, tapi kita pakai celana legging lagi kok sebagai tambahan. Legging yang dipakai bukan legging untuk jalan-jalan ke mall yang berbahan katun dan rame motifnya melainkan legging yang berbahan latex yang warnanya hitam. Enaknya legging latex ini adalah tidak mudah robek, cepat kering dan tidak bisa disusupi lintah. (Yap, salah satu resiko naik gunung adalah dihinggapi lintah. Ketika kita terkena, cukup teteskan cairan gel pencuci tangan seperti Dettol / Antis. Lintah akan copot dengan sendirinya. Jangan coba-coba cabut lintah yang masih lengket di kulit kita, nanti jadi koreng loh)

4. Sleeping Bag
Kantung tidur / sleeping bag adalah bawaan wajib ketika naik gunung. Namun ada beberapa pendaki yang cukup membawa sarung. Buset. Di gunung itu dinginnya bisa ekstrim banget dan sarung doang tidak bisa menghangatkan tubuh kita. Sleeping bag juga membantu kita untuk tidur lebih nyaman, apalagi yang bagian dalamnya ada lapisan polar. Tidur jadi enak banget, hangat dan nyaman. Keesokan hari, badan kita sudah segar dan siap lagi untuk mendaki kalau malamnya cukup tidur dan nyaman.

5. Pakaian Tidur
Jangan pernah tidur dengan pakaian yang dikenakan saat jalan. It's a big no no. Kebayang gak baju itu sudah dipakai keringatan satu hari dan dipakai lagi untuk tidur. Uuhhhhh. Joroknya. Kalau mendaki gunung, saya selalu membawa celana panjang / long john, baju katun lengan pendek / lengan panjang, kaos kaki tidur, sarung tangan tidur, topi dari wol untuk menghangatkan kepala dan telinga. Semua sudah dipakai, tinggal masuk ke dalam sleeping bag deh.

6. Sepatu Trekking
Sewaktu masih menjadi calon anggota organisasi pecinta alam, senior saya berkata kalau yang paling penting dilindungi ketika mendaki adalah kaki. Kenapa kaki? Karena kaki adalah bagian tubuh yang berusaha paling keras menahan beban selama pendakian atau ketika turun gunung. Oleh karena itu, lindungilah kakimu dengan sepatu yang baik yaitu sepatu trekking. Sepatu trekking bisa dibeli di toko-toko outdoor gear. Kekhasan dari sepatu ini adalah sepatunya tinggi menutupi (melindungi) mata kaki, lebih tahan air dan sol nya bergerigi / anti slip.

7. Gaiter
Gaiter adalah pelindung kaki dari lintah dan ular. Gaiter ini memiliki pengait untuk sepatu sehingga tidak mudah terlepas. Walaupun saya tadi bilang memakai legging latex untuk melindungi kaki dari lintah, saya juga masih memakai gaiter. Supaya lebih aman :)

8. Tenda / Flysheet
Kalau yang ini kayaknya enggak perlu dibilangin lagi ya. Soalnya kalau enggak ada tenda / flysheet, mau tidur dimana? Di bawah pohon? Hehehe. Bisa sih bikin bivak dari ranting pohon dan dedaunan, tapi tidak senyaman tenda. Pilih mana?

9. Kompor & Trangia
Kita biasa membawa kompor gas kecil ketika mendaki gunung dan tidak mengandalkan api unggun. Trangia adalah kompor berbahan bakar spiritus lengkap dengan tempat memasak nasi dan lauk-pauk plus teko kecil untuk memasak air hangat. Biasanya kita membawa dua kompor dan satu trangia. Jadi memasak bisa lebih cepat.

10. Sandal Gunung
Siapa bilang ke gunung enggak boleh pakai sandal? Boleh kok, asalkan dipakainya bukan pas mendaki, tetapi saat sedang isthirahat di camp. Kan enggak asik mau keluar masuk tenda untuk ambil barang dan masak tapi pakai sepatu. Bukannya apa-apa. Sandal gunung memang kurang aman dipakai untuk mendaki dan resiko cedera nya lebih besar. Kalau tidak punya sandal gunung, di camp bisa pakai sandal jepit kok.

11. Jaket Windbreaker
Kalau ke gunung jangan pakai sweater yang terbuat dari wol. Iya sih hangat, tapi ketika hujan dan terkena air, jaketnya jadi berat dan susah kering. Pilihlah jaket windbreaker yang juga dijual di toko-toko outdoor gear. Jaket windbreaker ini memang didesign tahan air / waterproof tetapi tetap hangat di dalamnya. Saya senang mengoleksi jaket windbreaker warna-warni. Ada ungu, biru, pink dll ;)

12. Sarung Tangan
Beli aja sarung tangan murah di tepi-tepi jalan. Soalnya sarung tangan yang ini untuk dipakai jalan mendaki. Ketika mendaki banyak gerakan memanjat dan kita harus memegang kayu atau tumbuhan yang ada di dekat kita sebagai pegangan. Kalau tidak jeli, kita bisa terkenal tumbuhan yang membuat tangan kita jadi gatal dan panas. Amannya ya pakai sarung tangan kan?

13. Headlamp
Ketika melakukan pendakian di malam hari atau summit attack dari subuh, pastinya butuh lampu untuk menerangi jalan. Headlamp juga memudahkan pergerakan kita karena dilingkarkan ke kepala. Jadi yang dibawa naik gunung adalah headlamp bukan senter ya.

14. Peta, Kompas & Peluit
Tiga barang di atas wajib dibawa untuk navigasi dan alat komunikasi selama kita melakukan pendakian. Dibawa saja untuk jaga-jaga ya.

15. Kantong Sampah / Trash Bag
Jangan lupa apa yang  dibawa naik, harus dibawa turun lagi. Siapkan trash bag untuk menyimpan sampah-sampah selama pendakian, dibawa turun dan nanti dibuang setelah tiba di desa lagi.

16. Matras
Matras itu berguna untuk alas kita duduk/masak di camp dan sebagai alas tidur di dalam tenda. Pastikan matras tidak ketinggalan ya. :)

17. Obat-obatan Pribadi
Walaupun kita sehat bugar ketika berangkat mendaki, bisa saja di tengah pendakian kita jatuh sakit. Oleh karena itu jangan sampai lupa membawa obat-obatan pribadi. Obat-obat yang saya sarankan adalah :
  • Obat sakit kepala & pilek
  • Neurobion Tablet Putih
  • Vitamin C dan B12
  • Betadine, Kapas, Kain Kasa
  • Koyo
  • Geliga / Counterpain
  • Minyak Kayu Putih
  • Perban
  • Feminax (untuk perempuan yg lagi "dapet")
18. Jas Hujan
Ketika hujan melanda, kita tidak bisa terus-terusan berdiam diri. Kalau hujannya seharian gimana? Mau mati kedinginan? Pendakian harus tetap dilanjutkan dengan memakai jas hujan. Jas hujan yang baik adalah yang two pieces, ada baju dan celananya.Bisa dibeli di outdoor gear ya.


Tips Bawaan Khusus Perempuan :

Nah, untuk barang-barang di bawah ini, khusus untuk perempuan saja karena dijamin para lelaki tidak mau membawa ini. Barang apa saja ya?

1. Tissue Basah
Di gunung, kita tidak bisa mandi tetapi wajib bebersih diri, khususnya ketika mau tidur. Saya pribadi sudah terbiasa untuk mandi sebelum tidur. Kalau mendaki gunung, saya cukup membawa tissue basah yang isi 50 sheets untuk perjalanan 2-3 hari. Waktu perjalanan ke Gunung Masurai, Jambi tahun lalu, saya bawa 10 pack tissue basah karena enggak mandi sampai 12 hari. Hahaha. Jadi, sebelum tidur, saya melap seluruh badan dengan tissue basah baru berganti pakaian tidur. Kalau badan wangi dan bersih jadi lebih enak deh tidurnya.

2. Deodorant
Saya paling engak tahan sama bau badan. Padahal ketika mendaki gunung, badan kita penuh keringat dan bisa menimbulkan bau yang tidak sedap. Jadi, solusinya adalah deodorant! Bawa deodoran ukuran kecil saja dan dipakai di pagi hari sebelum memulai kegiatan. Jadi walau berkeringat, kita enggak ba. Oh ya, kalau tidak cocok dengan deodorant, boleh pakai Bedak MBK di ketiak. :)

3. Pembalut
Nah, ini nih amunisi wajib perempuan ketika sedang kedatangan "tamu". Ketika kita harus mendaki tetapi lagi "dapet" jangan lupa untuk membawa banyak kantong plastik kecil dan pembalut. Saya biasanya mengganti pembalut 4 jam sekali. Pembalut bekasnya saya masukkan ke kantong plastik kecil, lalu saya masukkan ke kantong plastik besar. Kantong itu juga tidak saya campur dengan barang bawaan di dalam carrier tetapi saya masukkan ke kantong kiri dan kanan carrier. Jadi, jangan coba-coba meninggalkan pembalut bekas di hutan ya. Nanti.......... (bergidik sendiri)

4. Sunblock
Walaupun gunung itu suhunya rendah, tapi sinar UV nya lebih kuat dibandingkan di kota. Jadi, semakin tinggi suatu tempat, resiko kulit terbakar juga semakin besar.  Saya sendiri memakai sunblock "Skin Aqua SPF 50". Kulit memang menghitam, tapi tidak perih terbakar. Itu yang penting. Skin Aqua ini juga aman dipakai di muka dan tidak lengket seperti sunblock merk lain. Jadi promosi ya. Hehehehe.

5. Buff / slayer
Buff atau slayer ini selain untuk menghangatkan leher, bisa jadi bandana gaya. Siapa bilang naik gunung gak boleh bergaya cantik? x)

6. Topi
 Kalau mukanya mau lebih terlindungi lagi ya pakai topi biar enak.

7. Baju Gaya
Hahaha, apaan nih baju gaya? Baju gaya adalah baju bersih yang memang kita siapkan untuk foto-foto di puncak. Kan gak asik kalau fotonya pakai baju kumal. Hehehehehe. Tapi bukan dress ya x)

8. Handuk Kecil, Shampoo, Sabun, Pencuci Muka, Sikat dan Pasta Gigi
Bawalah tas kecil yang berisi barang-barang toilettries diatas. Tapi bukan untuk dipakai ketika bertemu sungai atau danau di gunung. Karena itu adalah bahan-bahan kimia. Bayangin kalau kita mandi di mata air dengan sabun dan shampoo dan airnya jadi terkontaminasi padahal di bawah ada masyarakat yang akan menggunakan air bersih itu. Jadi, lebih baik mandi ketika sudah tiba di desa setelah selsai pendakian. Sehabis mandi pakailah baju bersih yang sudah disiapkan dari rumah. Untuk tips yang ini sih kalau pendakian berhari-hari ya. Kalau cuma 1 atau 2 hari sih enggak usah dibawa ;)

Dari pengalaman pribadi saya, itu yang bisa saya share ke teman-teman cewek yang mau mendaki gunung. Kalau ada yang mau nambahin, silahkan. Selamat mendaki ya :)

Wednesday, September 11, 2013

Klok Klok Klok! Lezatnya Mie Ongklok Wonosobo

Wednesday, September 11, 2013 18 Comments

Katanya, kalau ke Dieng wajib nyobain Mie Ongklok. Tapi lokasi Mie Ongklok ini bukan di Dieng tetapi di kota Wonosobo. Kalau ke Dieng dari kota Wonosobo, kita akan menemui beberapa kedai / restoran yang menjual Mie Ongklok berjejer di tepi jalan.

Sebelum berangkat, saya cari tahu dulu tentang Mie Ongklok ini. Ternyata, yang paling terkenal di Wonosobo adalah Mie Ongklok "Longkrang". Karena namanya unik, saya jadi penasaran ingin mencicipi makanan ini. Makanan jenis apa itu? Rasanya gimana ya?

Jadi, dalam perjalanan pulang dari Dieng menuju stasiun Purwokerto, saya, Ju mampir ke Mie Ongklok Longkrang di Wonosobo yang katanya sudah berdiri dari tahun 1975. Lokasinya dekat dengan pasar dan terminal. Tanya saja masyarakat sekitar, pasti langsung ditunjukin arahnya. Alamat lengkapnya : Jalan Pasukan Ronggolawe No 14, Wonosobo. Warung Mie Ongklok Longkrang ini buka dari jam 10.00 - 19.00 setiap harinya.



Setibanya disana, saya manggut-manggut sambil bilang "Oohh, ini tempatnya. Kecil ya." Pada kenyataannya , tempatn Mie Longkrang ini memang kecil. Tapi yang penting kan rasa makanannya, bukan tempatnya. Setuju?

Sewaktu memesan, Pak Waluyo yang tidak lain adalah pemilik dan koki di Mie Ongklok bercerita tentang banyaknya orang yang suka dan ketagihan Mie Ongklok. Salah satunya Bapak SBY, Presiden RI kita. SPak Waluyo juga dengan bangga bercerita banyaknya orang yang minta dikirimkan paket Mie Ongklok sampai ke luar negeri. "Wah, ternyata bisa dipaketin ya Pak?" tanya saya. "Bisa kok Mbak. Kuahnya dibekukan dulu dan dipisah sama mienya. Sesudah sampai di tempat tujuan, kuahnya dihangatkan". Canggih bener ya? x)


Awalnya saya mengira "Ongklok" itu adalah nama orang keturunan Chinese yang pertama kali membuat resep Mie Ongklok soalnya ada kata Ong. Eh, ternyata bukan. "Ongklok" adalah nama keranjang kecil yang terbuat dari bambu dan dipakai untuk merebus kol. Loh, Mie kok pakai kol? Iya ya, pasti terdengarnya aneh. Sewaktu direbus di air mendidih, mie dan kol nya 'diongklok-ongklok' (dicelup-celup) pakai ongklok. Jadilah namanya Mie Ongklok. Hehehe.

Pak Waluyo sedang mengongklok-ongklok mie dan kol.
 Selain pakai kol, Mie Ongklok ini juga diracik dengan potongan daun kucai. Daun ini sangat mudah ditemukan di daerah sekitaran Wonosobo. Katanya daun Kucai ini menyehatkan karena bisa menurunkan tekanan darah tinggi. Mie Ongklok warnanya kuning dengan tekstur tebal dan kenyal. Kuah Mie Ongklok juga berwarna kuning dan cukup kental. Kuah kental nya ini berasal dari kanji yang biasa disebut "loh". Pada campuran kuahnya ditambahkan gula merah dan ebi (udang kering) ke dalam Mie Ongklok sehingga kuahnya gurih nyesss. Oh iya, ada taburan bawang gorengnya juga. Aihhh sedaaaaap....


Tak perlu lama menunggu, pesanan kami datang. Taraaaaa, semangkok Mie Ongklok panas disajikan dengan sate sapi yang wanginya super menggiurkan (glek, nelen air liur).  Ternyata Mie Ongklok tidak disantap gitu-gitu aja. Di setiap meja sudah tersedia nampan plastik yang berisi tempe kemul dan aci yang siap mendampingi. Jangan lupa sate sapi nya juga disantap bersamaan. Beuh, enaknyaaaaa....

Sate sapi nya maknyusssss banget

Sama seperti menyantap Indomie dikala hujan, itulah yang saya rasakan ketika menikmati "Mie Ongklok". Lezatnya berlipat-lipat. Soalnya Wonosobo juga cukup dingin udaranya, walau tidak sedingin Dieng. Eitss, tapi tetap lebih enak Mie Ongklok lah ya daripada Indomie. Saking enaknya, saya nambah lagi Mie Ongklok nya loh (laper apa rakus, Sat?) dan enggak tahu sudah berapa Tempe Kemul yang saya habiskan. Habisnya enak sih. Hehehe. Tempe Kemulnya juga kita bungkus untuk jadi bekal di perjalanan. Hahaha. Nagih euy.

Selain enak, Mie Ongklok Longkrang juga murah. Satu porsinya cuma Rp 5000 dan sate sapinya Rp 15.000 (gak tahu sekarang berapa setelah harga daging naik ya). Ya gimana enggak nambah terus kalau harganya semurah itu kan? Sama kayak makan 1 porsi Indomie, tapi lebih lezat dan sehat (kan pakai sayur). Nyam nyam nyam~

Kata penduduk lokal ada dua pioneer "Mie Ongklok" di Wonosobo yaitu Pak Muhadi dan Pak Samsudin "Longkrang". Tapi saya belum nyobain yang Pak Muhadi sih jadi enggak bisa kasih testimoni. Tapi, "Mie Ongklok Longkrang" saya jamin top banget rasanya!!! Jadi jangan ngaku udah pernah ke Wonosobo tapi enggak nyobain Mie Ongklok ya.... Selamat menikmati.

Saya dan Pak Waluyo. Terlihat masih muda ya Bapaknya :)

Follow Us @satyawinnie