Wednesday, June 12, 2013

Sejauh Mata Memandang Dieng.

Wednesday, June 12, 2013 6 Comments
Hari kedua mengunjungi Dieng, saya dan Ju pergi menyewa motor untuk pergi photo-hunting. Karena Mbak Resi (pemilik homestay Dieng Pass) kami mendapatkan penyewaan motor yang murah, hanya Rp 100.000 selama dua hari.

Setelah sarapan, kami bertolak menuju gardu pandang Dieng di ketinggian 1789 mdpl (dari tulisan yang tertera di gardu pandang). Kalau dari arah Wonosobo, gardu nya ada disebelah kanan jalan, sedangkan kalau dari Dieng ada di sebelah kiri.

Jalanan masih sepi dari kendaraan, hanya beberapa penduduk terlihat berjalan kaki menuju ladang mereka di lereng-lereng perbukitan sambil tersenyum ramah ketika berpapasan di tepi jalan.

Jalan raya menuju gardu pandang.

Sepanjang jalan langsung bersenandung kiri kanan kulihat saja banyak pohon dan sawaaaahh.... 
Sejuk sekali udara pagi itu. Mata segar, badan segar, hati segar. STRESSFREE!!

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit dari homestay, tibalah kami di Gardu Pandang Dieng. Entah kenapa yang tertulis "Gardu Pandang Tieng" (seharusnya Dieng, bukan Tieng) seperti dibawah ini.

Maksudnya Gardu Pandang Dieng kali ya??
Setiba di gardu, tidak ada wisatawan lain selain saya dan Ju. Yang ada hanya dua orang tukang parkir, dua kios indomie, 1 orang bapak pedagang kue pukis kelapa dan satu lagi pedagang edelweis. Iya edelweiss, yang katanya bunga abadi itu.

Entah kenapa saya dilema melihat bunga edelweiss diperdagangkan bebas seperti itu. Di satu sisi, memetik bunga edelweiss (bunga abadi) dilarang. Di sisi lain, bunga itu menjadi mata pencaharian bapak tua yang saya jumpai. Bahkan beliau cukup kreatif dengan membuat vas bunga dari batang pohon yang diberi lubang di tengahnya. Yah pada akhirnya saya tidak membeli bunga itu. Saya lebih senang melihat bunga edelweiss yang bermekaran di habitat aslinya ketika mendaki gunung :)



The Craftman




Ini dia, vas minimalis dengan bunga edelweiss.

Yasudah, daripada beli bunga edelweiss, mending uangnya dipakai untuk beli pukis kelapa yang enak sekali. Harganya 2000 perak satu renteng kuenya. Rasanya bikin ketagihan banget. Kue nya juga fresh from the oven, jadi makin mantap disantap di cuaca yang anginnya semriwing.

Kue Pukis Kelapa. Sering makan ini kan?

Mari duduk manis sambil makan kue pukis dan memandang Dieng....sejauh mata memandang ;)










Museum Kaliasa Dieng, Mengenal Dieng Seutuhnya

Wednesday, June 12, 2013 0 Comments
Dewa Siwa, Agastya, Ganesha, Durga

Berkeliling keliling di objek wisata tanpa ada sesuatu yang bisa menjelaskan ini candi apa, sejarahnya, kapan dibuatnya, fungsinya bla bla bla membuat liburan saya terasa hampa. Jalan-jalan itu bukan cuma lihat objek, jeprat-jepret narsis terus pulang. Kalau bisa ada "sesuatu" yang bisa dibawa yaitu ilmu :)

Berhubung di kawasan Candi Arjuna Dieng tidak ada penjelasan tentang objek wisata terkait, maka saya dan Ju pergi ke Museum Kaliasa yang tidak jauh dari kawasan candi. Untuk memasuki museum ini kita dikenakan biaya Rp 5000 / orang.



Selain melihat replika candi & patung para dewa, kita juga bisa belajar sejarah Dieng, flora & fauna, kesenian bahkan keseharian masyarakatnya. Supaya lebih jelas lagi, kita bisa nonton sejarah Dieng di teater mini museum Kaliasa. Pengunjung disuguhkan film pendek berdurasi 15-20 menit. Filmnya? Ya biasalah panjang di narasi yang menjelaskan potongan-potongan gambar Dieng dulu dan kini.


Replika bagian-bagian candi dan deskrpsi nya.



Peralatan dapur dan kehidupan sehari-hari masyarakat Dieng.




Oh iya museum Kaliasa ini terdiri dari 2 gedung yang berhadapan. Gedung yang kedua ini memajang replika lingga, yoni, arca, benda-benda peninggalan sejarah. Hebat ya para seniman zaman dulu bisa mengukir batu-batu besar seperti itu. :)


Lingga & Yoni
Setelah puas belajar sejarah di museum Kaliasa, kita bisa menikmati teh / kopi di kios kaki lima di depan museum. Kalau tidak, kita bisa naik anak tangga dibelakang Museum, duduk-duduk santai memandang Dieng dan kawasan Candi Arjuna dari kejauhan sambil memuji keindahan bunga-bunga di taman. 

Saya dan Ju sudah  menyiapkan air mineral dan snack sendiri, sehingga kita bisa duduk berlama-lama sambil bercerita. Sempat foto-foto narsis juga. Tapi akibat nongkrong kelamaan, hujan pun turun dan kita terjebak di pendopo selama hampir 1,5 jam. Akhirnya hari sudah semakin gelap, hujan tak kunjung reda. Payung cuma ada 1, badan sudah mulai kedinginan dan tidak ada jalan lain selain pulang sepayung berdua. Setelah membungkus kamera dengan jaket, kami pun pulang sambil berebut payung. Berhubung badan Ju besar sekali, susah dapat bagian dalam payung dan setengah badan saya pun basah. Hahahaha. Sesampai di homestay, bebersih diri dengan air hangat, minum kopi / coklat hangat dan langsung tidur. Haaah.... nikmatnya. Ini baru namanya liburan.


Taman di belakang Museum Kaliasa. Di kejauhan tampak kawasan Candi Arjuna.

Tuesday, June 11, 2013

Candi Arjuna Dieng. Candi Tertua di Pulau Jawa.

Tuesday, June 11, 2013 0 Comments

Candi Arjuna Dieng

Kalau baca post pertama saya di Kabur ke Di Hyang (Dieng), ini adalah bagian lanjutannya.
Objek wisata pertama yang saya datangi adalah kawasan candi Arjuna, salah satu situs bersejarah di Jawa Tengah. Selain candi Arjuna, ada empat candi lainnya yaitu candi Semar, candi Srikandi, candi Puntadewa dan candi Sembadra. Candi adalah replika tempat tinggal Dewa dengan bentuk meruncing ke atas seperti gunung.

Kawasan candi & pengunjung yang berfoto di candi.

Dibandingkan dengan candi Prambanan atau Borobudur, ukuran candi-candi di kawasan Candi Arjuna ini tergolong kecil. Candi Arjuna sendiri luasnya 6x6 m dan posisinya menghadap ke Barat. Di bagian atas candi ada replika "Kala" mirip seperti barong.  Diduga candi-candi ini adalah candi yang tertua di pulau Jawa karena berusia kurang lebih seribu tahun.


Sewaktu saya berkunjung ke kawasan candi Arjuna ini, langitnya mendung berkabut diiringi hujan rintik-rintik. Udaranya dingin sekali, padahal jam menunjukkan angka 11. Jadi saya bergegas mengenakan jaket dan syal. Maklum, Dieng berada di ketinggian >2000 mdpl, jadi mau pagi atau malam udaranya dingin.

Tiket masuk ke kawasan Candi Arjuna ini Rp 10.000,- per orang. Gak terlalu mahal kan? Hitung-hitung sebagai kontribusi pelestarian benda peninggalan sejarah.

Begitu memasuki kawasan candi arjuna, ada pohon-pohon teduh memayungi jalan setapak. Di bagian kiri dan kanan kita bisa melihat puing-puing candi yang disusun rapi, tetapi hanya berbentuk tumpukan batu, bukan berbentuk candi. Bagian pertama yang kita jumpai adalah rekonstruksi Dharmasala yaitu tempat peristhirahatan para peziarah ketika ada perayaan keagamaan Hindu.



Menurut buku sejarah, komponen utama candi khas Dieng adalah Kudu. Bangunan candi terdiri atas kaki yang melambangkan bhurloka (dunia manusia), tubuh yang melambangkan bhuwarloka (dunia mereka yang disucikan) dan atap yang melambangkan swarloka (dunia para dewa). Masing-masing bagian mempunyai komponen yang umum, seperti pipi tangga, relung, kala-makara, jaladwara, antefik, menara sudut dan kemuncak.




Atraksi apa saja sih yang bisa kita lihat di kawasan Candi Arjuna ini?
Jangan membayangkan sendratari Ramayana di Prambanan ya tetapi atraksi tradisional yang dinamakan Tarian Rampak Yarso Pringgondani. tarian tersebut mengisahkan seorang satria pringgondani menumpas kejahatan yang disimbolkan sebagai raksasa / buta ( dibaca : buto ). Tarian ini memiliki makna khusus bagi masyarakat Dieng. Katanya sih sebagai perlambang rasa kebersamaan, kesetia-kawanan yang didasari rasa peduli, saling tolong menolong demi tercapainya kehidupan yang damai, selamat dan penuh berkah.


Kita bisa berfoto bersama para penari dengan membayar 5000 rupiah tetapi fotonya pakai kamera sendiri. Sepertinya jasa foto cetak langsung jadi sudah gulung tikar, sampai label harganya aja ditutup pakai lakban hitam. Hehehe.




Selain itu ada "atraksi" lainnya. Sepertinya serial TV Telettubies sudah tidak tayang di TV karena mereka punya pekerjaan lain, yaitu jadi penghibur di Candi Arjuna. Enggak percaya? Lihat aja foto dibawah ini. Mau foto dengan pose apapun mereka bisa kok. Hahaha.





Jadi, kalau ke Dieng, jangan lupa mengunjungi kawasan bersejarah ini ya. Setelah mengunjungi candi ini, tujuan selanjutnya adalah Museum Kaliasa Dieng. Biar bisa belajar lebih tentang sejarah Dieng dan candi-candi nya. Tunggu cerita berikutnya ya :)

Selamat menikmati Indonesia :)
























Follow Us @satyawinnie