Friday, November 29, 2013

Menuruni Luweng Grubug & Jomblang, Perjalanan Vertikal ke Perut Bumi.

Friday, November 29, 2013 8 Comments

Perjalanan ini membuat saya sedikit berbangga karena berhasil mengalahkan rasa takut saya akan gelap dan ketinggian.

Pernah mendengar Goa atau Luweng Grubug? Atau pernah lihat iklan sebuah produk rokok dimana talentnya bersorak di dalam gua sambil disinari cahaya matahari?

Itulah dia, Luweng Grubug.

'Luweng' berarti lobang atau sumur sedangkan 'Grubug' adalah gemuruh yang terdengar dari dalam goa.

Ini merupakan kali pertama saya menuruni Gua Vertikal. Langsung turun ke gua sedalam 96 meter, pakai tali, sendiri. (terbayang tidak betapa gugupnya saya waktu itu?)

Buat teman-teman yang belum tahu, nama kegiatan ini adalah Telusur Gua atau Caving. Ilmu tentang Telusur Gua disebut Speleologi. HIKESPI (Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia) adalah nama organisasi penelusur gua yang diketuai oleh Mas Cahyo Alkantana, petualang senior yang juga terkenal sebagai presenter acara petualangan dan fotografer underwater profesional.

Goa Jomblang dan Luweng Grubug ini terletak di kawasan Karst Semanu, Gunung Kidul, sekitar 60 kilometer dari pusat Yogyakarta.

Sebanarnya di kawasan ini terdapat banyak sekali luweng / goa tetapi Luweng Grubug dan Jomblang menjadi yang terpopuler karena acara Amazing Race Amerika yang dilaksanakan tahun 2011.

Saya dan teman-teman pecinta alam Universitas Indonesia (Mapala UI) datang ke Luweng ini pada Juni 2012 kemarin tapi ceritanya baru di-post sekarang. Hehehe.

Kalau dari atas, Luweng Grubug ini terlihat seperti sumur biasa dan tertutup oleh pohon yang rimbun.
Sebelum turun di gua vertikal, dibutuhkan latihan fisik dan penguasaan teknik SRT (Single Rope Technique), teknik untuk naik dan turun di gua vertikal memakai tali. Kami berlatih di pohon-pohon Jati yang ada di sekitar resort "Jomblang" yang dikelola pribadi oleh Bang Cahyo Alkantana. 

Sebelum turun ke Luweng Grubug, kita harus latihan SRT dulu

Peralatan pribadi yang diperlukan untuk telusur gua adalah :
  • Baju dan celana berbahan ringan seperti polyester, coverall (baju one piece yang menutupi seluruh badan)
  • Sepatu boots (yang biasa dipakai pas banjir)
  • Sarung tangan
  • Ikat rambut (untuk yang berambut panjang sebaiknya diikat)
  • Helm + headlamp atau helm halogen (helm yang bisa mengeluarkan api dengan bahan bakar karbit.
 
Perlengkapan dari kepala sampai kaki untuk telusur goa.


 Single Rope Technique set sendiri terdiri dari :
  •  Seat harness (tali untuk dudukan), chest harness (tali untuk sekitar dada) atau yang paling baik adalah body harness (menutupi seluruh badan sekaligus)  
  • Ascenders
  • Descenders
  • Foot-loop
  • Jammer
  • Carabiner
  • Cow's tail.

Penelusuran Luweng Grubug dimulai pukul 10.00 WIB oleh Tim Mapala UI dan HIKESPI. Tim Mapala UI mempersiapkan lintasan (rigging) untuk masuk gua yang diarahkan oleh Mas Patrick, salah satu master instruktur HIKESPI. Selain Mas Patrick, ada Mas Adam Budiman dan Mas Balung dari HIKESPI yang mendampingi anggota mapala UI masuk ke luweng Grubug.  

Rigging atau persiapan lintasan untuk turun ke Luweng Grubug.

Sewaktu berlatih di Pohon Jati, saya merasa bisa dan mantap untuk melakukan ini. Tetapi begitu sudah ada di mulut luweng Grubug yang berdiameter 50 meter, lutut saya tidak berhenti gemetar. Takuttttt.

Dari mulut Goa terdengar bunyi gemuruh yang sangat kuat. Saya mencoba mendongak ke dalam luweng dan tak ada apapun yang terlihat. Semuanya hitam. Syukurlah saya tidak mendapat giliran pertama untuk turun melainkan teman-teman saya yang jam turun goa nya sudah cukup banyak.

Debby, teman saya yang jam turun goa nya sudah banyak. Mukanya lempeng saja ketika disuruh turun pertama kali ke Luweng Grubug. Jempol deh buat Uni yang satu ini ;)

Sama seperti Kiki, saya dibimbing untuk turun sebelum bergantung sendiri di tali. (tapi pose ini kayak modus ya? #eh?)

Giliran saya pun tiba. Saya yang sudah mengenakan peralatan lengkap bergerak pelan ke mulut gua. Mau tidak mau, saya harus masuk ke dalam luweng. Yang lain saja bisa dan selamat, kok saya enggak?

Di mulut Luweng sudah dipasang matras sebagai landasan agar tali dan badan kita tidak tergesek ke batu. Sebelum turun, kita akan dicek oleh teman kita apakah posisi harness dan seluruh perlengkapan SRT kita sudah dalam kondisi yang baik dan benar. Jika sudah yakin lengkap dan aman, barulah kita boleh turun.

Saya mungkin termasuk yang paling lama bergantung di mulut gua. Entah berapa kali saya dibujuk Mas Patrick untuk melepaskan pijakan kaki pada batu dan bergerak turun ke bawah. Saya masih takut-takut karena takut kalau saya jatuh dan lepas dari tali (padahal kalau sistemnya sudah lengkap enggak bakal jatuh kok). Suara gemuruh air dari bawah sana dan lembabnya bibir gua karena uap-uap air sungai bawah tanah juga membuat nyali saya ciut sekaligus penasaran.

Setelah komat kamit baca mantra, akhirnya saya melepaskan pijakan dan sedikit berteriak kaget sambil menutup mata. Sekarang saya sudah bergantung di tali dan HARUS bergerak turun ke bawah. Ah, Lord, bless me!

Saya menekan jumar dan mulai turun perlahan-lahan. Pernah melihat adegan orang terjun pakai tali dari helikopter? Nah, kurang lebih begitulah kejadiannya. Tetapi turunnya tidak secepat di film ya. Saya harus turun perlahan-lahan agar tangan tidak panas memegang jumar yang bergesekan dengan tali . Itu juga yang menjadi alasan mengapa kita membutuhkan sarung tangan.


Seorang teman yang sedang menyusuri tali, turun ke bawah. (Foto : Ramadan | Tempo)

Tidak butuh waktu yang lama untuk turun dan menjejakkan kaki di tanah yang becek dan licin di dasar luweng Grubug. Gemuruh air semakin kuat dan terasa dekat. Aliran air bawah tanah ini ternyata masih satu aliran dengan Kalisuci.

Sesampainya di bawah, kami menikmati siraman cahaya dari atas yang masuk dari mulut goa. Seperti dapat siraman cahaya dari surga. Saya cukup lama ternganga, mendongak ke atas dan melihat titik hitam kecil di tengah-tengah cahaya itu. Ternyata itu teman saya yang sedang turun ke bawah.



Terlihat tali yang kami pakai untuk turun dan naik Luweng Grubug.

Kami berkeliling di sekitaran Luweng Grubug dengan sangat berhati-hati agar tidak terpeleset. Kami menelusuri hingga ke pinggiran sungai. Setelah puas mengeksplor Grubug (dan tentunya foto-foto) kami bersiap untuk naik ke atas lagi. Caranya? Manjat pakai tali lagi. Eaaaaa.

Sambil menunggu giliran, tebak saya ngapain?

Main Twitter.

Hahaha. Beneran kok saya main twitter dari dalam luweng. Pasti bertanya-tanya kok bisa dapat sinyal. Saya harus berterima kasih kepada Telkomsel yang jaringannya kuat di dalam gua tapi lemah kalau di Jakarta. Sekali lagi terima kasih ya Telkomsel. :p

Sambil menunggu giliran untuk naik ke atas, kita makan cemilan dan main twitter :p

Batuan kapur di dalam Luweng Grubug

Kita harus berhati-hati saat berjalan di dalam luweng karena berbatu dan licin.

Teman-teman dari Mapala UI dan HIKESPI di dalam Luweng Grubug


WE did it! Yeay!
Tantangan terberat di Telusur Gua ini menurut saya ya pas naik ke atas. Pernah melihat ulat / ulat bulu yang bergerak-gerak menuju pucuk daun? Seperti itu gerakan yang harus dilakukan. Di badan kita diikatkan satu tali simpul kambing yang menjadi alat bantu kita untuk bergerak ke atas. Sambil menginjak tali simpul, kita mengangkat badan kita ke atas. Seperti lagi pull up tapi di satu tali. Bisa dibayangkan betapa beratnya kalau kita tidak/belum pernah latihan sebelumnya.

Ketika akan naik ke atas, ada teman yang akan membantu mengecek peralatan kita dan menegangkan tali agar bisa memanjat naik

Saya sendiri waktu itu membawa tas kecil yang berisi kamera pocket, cemilan coki-coki dan air mineral. Jadi ketika energi kita mulai melemah, kita bisa berhenti sebentar di tengah-tengah, mengisi tenaga dengan minum dan makan coklat. Saya sempat mual karena efek tegangan tali yang mengayun-ayun badan saya naik turun.

Antara seru dan tegang juga sih sendirian tergantung di tali. Kalau saya kenapa-kenapa yang nolong siapa ya? Tapi saat itu saya yakin bahwa yang terpenting sebenarnya adalah pikiran kita. Kalau kita bisa tenang dan tidak panik selama di tali, pastinya kita bisa sampai di atas dengan aman dan selamat. And I did it!

Kegiatan latihan dan penelusuran Luweng Grubug selesai pada pukul 16.50 WIB. Kami semua langsung pulang ke resort dan membersihkan peralatan dari lumpur.

Untuk pemula, mungkin bisa mencoba masuk ke Luweng Grubug lewat Goa Jomblang. Wisatawan bisa menikmati siraman cahaya surga Luweng Grubug dengan menelusuri lorong sepanjang 300 meter. Di post berikutnya, saya akan bercerita tentang Goa Jomblang ya ;)

Ketika cahaya matahari berada tepat di atas luweng, kita akan mendapatkan cahaya matahari tegak lurus menerangi luweng. Ngomong-ngomong yang di dalam foto itu saya yang diambil oleh wartawan Tempo, mas Ramadhan :)

Di Goa Jomblang sudah tersedia beberapa variasi lintasan untuk wisatawan turun dengan tali. Jadi tidak perlu turun naik pakai badan sendiri seperti kami. Ada katrol yang disediakan untuk menurunkan dan menaikkan wisatawan. Bisa kontak Bang Cahyo Alkantana di sini ya kalau berminat (+62 811 117 010).


Tips :
  • Waktu terbaik untuk mengunjungi Goa Jomblang & Grubug adalah sebelum jam 1 siang dimana sinar matahari yang masuk akan sangat cantik ketika matahari berada tepat di atas Luweng.
  • Kalau bisa bawa dry bag kecil untuk menyimpan kamera, makanan dan minuman. Jaga-jaga agar barang-barang tadi tidak terkena air.
  • Jaga sikap dan perilaku selama berjalan-jalan di dasar gua. Jangan pecicilan ya. :)



Wednesday, November 27, 2013

Air Panas Gunung Pancar, Sentul. Pemandian Asyik Dekat Jakarta.

Wednesday, November 27, 2013 70 Comments

Mobil Badak yang memuat enam orang penumpang melaju kencang di Tol Jagorawi (tidak sekencang mobilnya Dul kok). Tujuannya adalah Pemandian Air Panas Gunung Pancar (Pantjar) di daerah Sentul. Saya dan teman-teman bertolak dari kampus UI Depok sekitar jam 1 siang. Ada lima orang yang ikut yakni saya, Oci, Hadiyan, Heksa, Kurniadi, Bazooka.


Yang tergambar di benak saya ketika mendengar daerah Sentul adalah perumahan elit dengan bangunan megah dan luas, sekolah elit dengan biaya dollar. Saya tidak menyangka di dekat daerah elit itu ada sebuah pemandian air panas di tengah-tengah hutan pinus.

Dari pintu tol Sentul (dekat Sirkuit Sentul) kami terus melaju mengikuti jalan yang ada hingga tiba di satu pertigaan dan mendapati satu papan yang bertuliskan "Pemandian Air Panas Gunung Pancar, 15 KM".


Tetapi yang lebih menarik perhatian kami adalah papan yang terletak di atasnya bertuliskan "Paket Istimewa Ayam Bakar Komplit, Rp 15.000". Karena bertepatan dengan jam makan siang, kami memutuskan untuk membeli makanan di RM Sate Kiloan H.Abdullah, warung yang memasang papan Ayam Bakar Komplit tadi.

Warung ini menyediakan beberapa menu seperti sate ayam & kambing, nasi + ayam bakar. Rasanya enak dan harganya ramah di kantong mahasiswa. ;)


Selesai mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan ke lokas pemandia. Tak lama berselang, kami memasuki kawasan hutan pinus. Kami takjub ada tempat seperti ini ternyata di dekat Jakarta. Sejuknya udara yang masuk lewat jendela mobil membelai-belai kulit kami. Tercium bau tanah dan pohon pinus yang pekat. Segar sekali.

Di gerbang pertama, kami diberhentikan oleh petugas Perhutani dan mengatakan bahwa ada biaya masuk sebesar Rp 2000/orang untuk wisatawan domestik, Rp 5000/orang untuk wisatawan asing ditambah motor / mobil sebesar Rp 1000.

Lewat dari gerbang pertama, kami berjalan dan tak lama di kejauhan terlihat beberapa mobil yang sedang parkir. Oh, kita sudah sampai.

Seorang Bapak tua yang ompong dan berjalan dengan satu tongkat menyambut kami dengan senyum ramah lalu membantu si Badak yang kesusahan parkir gara-gara badannya besar. Walau makan waktu yang cukup lama, si Badak akhirnya bisa parkir dengan posisi yang benar. Lahan parkir di Gunung Pancar memang kecil sehingga supir harus pintar.

Bapak Tua yang ketika ditanya namanya malah senyum aja tapi enggak jawab. :D
Ongkos masuk ke Pemandian Air Panas Gunung Pancar ini adalah Rp 10.000/orang. Mobil Rp 4.000 dan sepeda motor Rp 2.000.

Lahan parkir Gunung Pancar cuma segini nih.
Begitu tiba, saya melihat sekeliling dan mendapati banyak warung yang menjual celana pendek, buah-buahan, talas khas Bogor dan banyak lagi yang bisa dijadikan oleh-oleh. Ada juga warung kopi yang bermodalkan satu terpal tipis, satu kayu panjang untuk menggantung minuman sachet dan meja tempat meletakkan termos air panas.

Walaupun tidak ada kursi untuk pengunjung, rame juga tempatnya. Ternyata pengunjungnya cuma beli kopi / teh terus cari pohon deh buat mojok dengan pacar :p

Kios Kopi Pojok. Tuh, motornya banyak tapi orangnya enggak ada. Kemana? :p


Karena sudah tidak sabar, saya dan teman-teman langsung menuju tempat pemandian dan berganti baju. Kami menuruni tangga-tangga yang retak dan berjumpa dengan beberapa orang yang sudah selesai berendam. Cukup ramai ternyata.




Yang membuat saya prihatin, tempat ini kurang dikelola dengan baik. Saya mendapati bilik-bilik pemandian yang miring. Saya bingung apakah itu efek gempa bumi (kapan gempanya?) atau memang style-nya begitu. Entah. Tapi saya jadi enggan untuk masuk. Takut rubuh tiba-tiba euy.
 
Apakah ini efek gempa?

Di komplek pemandian ini tersedia kolam umum atau kamar pemandian. Terserah bebas. Kalau tidak risih berendam dengan banyak orang ya masuk ke kolam umum. Kalau mau lebih privat boleh bayar lagi Rp 25.000/jam atau Rp 100.000/keluarga/jam.

Setelah berganti baju, perempuan dan laki-laki berpisah. Yang perempuan ke kolam perempuan, yang laki-laki ke kolam laki (ya iyalah). Di satu papan yang juga hampir jatuh, saya melihat keterangan kadar mineral di Gn Pancar ini 100.8 dan kalsium 70.3. Oh ternyata ini bukan kolam air panas belerang. Pantas ketika saya cium airnya kok enggak bau.

Kebanyakan orang datang ke pemandian ini untuk berobat. Mulai dari rematik, encok, penyakit kulit dan lain-lain. Jadi cocok sekali kalau berlibur ke sini dengan keluarga, bawa nenek atau kakek.


Ternyata dipisah itu enggak asyik yah. Malah garing. Kami lalu diberitahu seorang pengurus kolam kalau ada kolam pemandian kecil yang boleh campur lelaki dan perempuan (tetap pakai baju) di bagian atas kolam biasa. Tidak ada biaya tambahan pula. Kami pun ambil langkah seribu menuju kolam yang dimaksud dan langsung mencelupkan kaki.

"AAAAAAAHHHHH panas banget!!" teriakku spontan.

Ternyata kolam ini memang kolam yang paling panas dibandingkan dua kolam umum di bawah. Syukur enggak langsung terjun satu badan.

Kami akhirnya duduk di tepi kolam dan menyiram-nyiramkan air mineral ke badan sambil luluran (yang cowok juga ikut luluran).

Selain panas sekali, kolam ini juga dalamnya sebatas dada orang dewasa. Hanya Hadiyan dan Pak Tarno (Kurniadi) yang akhirnya berani mencelupkan diri (hingga kepala) ke dalam kolam ini. Yang lainnya enggak berani, termasuk saya.

Kolam mineral paling panas.
Di papan tadi, dianjurkan pula untuk berendam minimal 20 menit dan maksimal 30 menit. Ketika tadi kami berada di kolam umum, ada seorang nenek yang keluar dari kolam, terhuyung-huyung dan ujung-ujungnya muntah. Mukanya merah padam seperti lagi marah padahal sebenarnya beliau kepanasan akibat terlalu lama berendam. Waduh.

Selain berendam, kami juga mencoba hal seru lainnya yaitu masker lumpur mineral. Katanya sih bagus untuk membersihkan kulit mati dan berjerawat. Satu bungkus bubuk lumpur mineral ini dihargai Rp 10.000,-. Saya, Oci dan Bazooka pun langsung mencobanya di muka masing-masing. Enak juga ternyata. Adem.

Oci, Bazooka dan saya yang mencoba masker lumpur mineral.


Setelah dirasa cukup berendamnya, kami memutuskan untuk beberes dan pulang ke Depok. Seperti tidak rela untuk meninggalkan, kami bermain dulu di hutan pinus yang cantik baru pulang. Lari-lari di hutan pinus, ketawa ketiwi. Puas, rasa stress lepas!!
 

Dalam perjalanan pulang ke Depok, kami melihat Gunung Salak yang menjulang dengan gagah di kejauhan. Hari yang asyik ditutup dengan senja yang cantik.


Berendam di air hangat memang menjadi salah satu kegiatan untuk mengisthirahatkan badan dan pikiran. Apalagi lokasi Air Panas Gunung Pancar ini tidak jauh dari Jakarta. Enggak perlu jauh-jauh ke Ciater, Bandung. Ke Gunung Pancar saja ;)

Tips :
  • Untuk menuju Gunung Pancar memang lebih mudah dengan kendaraan pribadi. Saya tidak melihat ada angkutan umum / angkot. Mungkin bisa ambil ojek dari Sentul tapi saya tidak tahu harga pastinya.
  • Di lokasi pemandian tersedia warung makan dan minuman. Jadi kalau lapar bisa langsung makan di sana. 
  • Jangan berendam terlalu lama. Nanti pingsan. Habis berendam, disarankan untuk minum banyak air putih untuk menghindari dehidrasi.


Happy Traveling!
Enjoy Indonesia!

Tuesday, November 19, 2013

Tanjung A’an, Semenanjung Indah di Lombok Tengah #TripLombok 8

Tuesday, November 19, 2013 6 Comments


Hari ketiga di Lombok. Berarti hari terakhir juga berlibur di sini. Ah, nasib jadi pekerja kantoran ya begini. Liburannya singkat, padat dan (kadang-kadang harus) nekat.


Sewaktu berkunjung ke Selong Belanak dan Mawun, saya belum sempat menikmati sinar matahari membelai-belai kulit atau singkatnya berjemur di pantai. Gaya selangit banget ye? Yah enggak apa-apa dong? Sudah jauh-jauh ke Pantai masa enggak berjemur? 

Kami berangkat ke Tanjung A’an jam setengah 7 pagi dan belum sarapan. Dengan muka bantal, kami berkendara selama 15 menit menuju Pantai yang berjarak kurang lebih lima kilometer dari Kuta.

Sesampainya di Tanjung A’an kami tidak melihat satu orang pun. Ya maklum sih. Mana ada orang yang ke Pantai jam 7 pagi ya kan? Saya sih senang-senang saja. Pantainya jadi serasa milik sendiri. Woohoooo…

Pantainya berpasir putih, laut biru dan dihiasi bukit-bukit coklat *love*
Saya langsung berlari ke Pantai, menggelar kain, mengoleskan minyak kelapa ke seluruh badan dan mulai tidur telungkup. Ju bilang dia mau pergi dulu untuk motret selagi aku berjemur. Ya, monggo, silahkan.

Pantai Tanjung A’an ini pasirnya putih bersih, halus seperti tepung. Gradasi warna biru lautnya juga mempercantik Semenanjung ini. Apalagi kalau sepi. Makin memperindah suasana. Saya memang tidak terlalu suka dengan tempat ramai. Hehehe.

Gradasi warna biru dan turqoise yang cantik sekali *love love*
Di sepanjang Pantai ada pondok-pondok Bambu dan beberapa warung yang buka pada siang-sore hari.

Pondok Bambu di tepi pantai Tanjung A'an :)
Setelah leyeh-leyeh selama 1 jam, beberapa wisatawan asing terlihat berjalan-jalan di Pantai namun tak bertahan lama. Mereka langsung pergi lagi.

Yang ngeselin adalah ketika ada pedagang kaos yang mendatangi dan menawari saya untuk membeli dagangannya.

“Ayo Kak, masih harga pagi nih. Dua puluh ribu saja. Gambarnya bagus-bagus. Kakak boleh pilih” celoteh si Abang Pedagang.

Saya yang lagi asyik tidur-tiduran hanya menggeleng dan mengucapkan terima kasih. Si Abang pedagang kembali membujuk saya beberapa kali sesudahnya tetapi saya tetap diam tak bergeming. Akhirnya, si Abang pun pergi dengan damai (dikira meninggal kali, pergi dengan damai)

Bukannya apa-apa. Sejak traveling dengan duit hasil keringat sendiri, semua diperhitungkan. Oleh-oleh juga sudah mulai dikurangin. Oleh-olehnya foto dan cerita saja ya (edisi pelitnya). Tapi beberapa kali bawa oleh-oleh sih untuk teman-teman di kantor dan itu biasanya makanan. Kalau sejenis barang-barang gitu saya sudah tidak terlalu tertarik. Saya tertarik dengan sesuatu yang unik, barang etnik seperti kain tenun/ikat, topi khas. Kalau cuma kaos mah sekarang bisa bikin sendiri.

Oke, kembali ke Pantai Tanjung A’an. 

Waktu terbaik untuk mengunjungi pantai ini tentu saja pagi dan sore hari, dibawah jam 10 pagi dan setelah jam 3 sore. Kalau berkunjung pagi hari, kita bisa tidur, menikmati suara deburan ombak sambil merasakan hangatnya mentari pagi membelai-belai kulit.

Berjemur sampai coklat :D
Pantai Tanjung A’an ini memiliki dua jenis pasir yaitu pasir putih halus lembut dan pasir butiran merica seperti yang ada di PantaiSerinting. Pastinya nyaman sekali melepas alas kaki dan berjalan-jalan di pasir lembut ini.
Saking penasarannya, kemarin saya coba makan pasir merica di Pantai Serinting. Rasanya ya kayak batu. Hahaha. Dicicip boleh, ditelan jangan.

Pasir Merica yang ada di Tanjung A'an
 Di Pantai Tanjung A’an terdapat Batu Karang yang cukup besar yang bisa kita panjat. Dari atas batu karang, kita bisa melihat keseluruhan Pantai Tanjung A’an.

Itu dia batu karang besar untuk dipanjat. Saya enggak manjat karena lebih milih berjemur. :p
 Hanya satu yang saya sayangkan di sini. Wisatawannya belum sadar akan kebersihan. Di bagian luar Pantai saya melihat banyak sekali sampah plastik berserakan. Padahal enggak susah kan untuk mengumpulkan sampah makanan / minuman yang kita bawa dan buang di tempat sampah. Kalau memang tidak ada tempat sampah ya dibawa pulang. Semudah itu kok.

Sedih banget yah lihat sampah bertebaran begini. Merusak mata. :(
Jam sudah menunjukkan pukul 09.15 WITA. Saatnya untuk pulang. Lagipula matahari di atas jam 9 pagi tidak terlalu baik untuk kulit. Hehehe. Kami kembali ke penginapan, sarapan, bersih-bersih, packing dan bersiap untuk check-out.

Saya akan pulang duluan ke Jakarta dengan naik pesawat baling-baling dari Praya, Lombok ke Denpasar lalu lanjut ke Jakarta. Sampai jumpa lagi, Lombok. Sangat senang bisa menginjakkan kaki di tanahmu yang indah sekali. Suatu saat kami pasti kembali.

Tips :

  • Tidak ada kendaraan umum menuju Tanjung A’an. Wisatawan bisa menyewa mobil atau motor untuk bepergian ke seluruh objek-objek wisata di sekitaran Kuta, Lombok. 
  • Seperti yang saya tulis di atas, waktu terbaik berkunjung adalah di bawah jam 10 pagi atau di atas jam 3 sore. Cuaca tidak terlalu panas dan kita bisa berjemur di Pantai dengan nyaman. :)
  • Sampah yang kamu bawa ke sana, buang pada tempatnya atau bawa lagi pulang ke Kuta.


Happy Traveling!
Enjoy Indonesia!

Mencari Senja Yang Sembunyi di Grupuk, Lombok Tengah #TripLombok 7

Tuesday, November 19, 2013 2 Comments


Semua orang cinta dengan langit senja. Betul?

Saya juga. Walaupun besar di pesisir yang bisa melihat matahari terbenam setiap hari di pantai dekat sekolah ataurumah, saya tak pernah bosan untuk duduk memandang laut, menikmati detik-detik beristhirahatnya Sang Surya.

Karena itulah, saya merasa bahwa setiap senja wajib diabadikan. Sebab tak ada pemandangan senja yang serupa di tiap-tiap langit.

Sewaktu berlibur ke Lombok kemarin, saya membuka peta besar lombok dan melihat posisi Kuta bukanlah titik yang bisa melihat matahari senja bulat dengan mudah. Kami bertanya pada teman kami, Bang Bobo, dimana kami bisa mendapatkan senja yang cantik, tetapi dia tidak tahu jawabannya.

Hari pertama, saya dan travelmate saya, Ju sampai naik bukit untuk mendapatkan senja tetapi hasilnya nihil. Titik kami salah. Cuaca saat itu juga mendung sehingga blue hour pun tidak ada. Kami saling menghibur diri dan berdoa agar esok hari kami bisa lebih beruntung untuk melihat senja di Lombok.

Sore hari kedua, kami pergi ke arah Timur Kuta, Lombok. Di sini, kita akan menemukan Pantai Serinting, Pantai Tanjung Aan, Pantai Batu Payung, Pantai Seger dan Pantai Grupuk. Semakin ke Timur, pantai-pantainya banyak yang jadi spot favorit surfer / peselancar.

Awalnya kami ingin menunggu senja di Pantai Tanjung Aan. Tetapi setelah dipikir ulang, sepertinya tidak bisa dapat senja cantik karena sudut mataharinya tidak jatuh di Tanjung A'an.

Kami lalu melanjutkan perjalanan ke Timur. Lucu ya, mengejar matahari senja kok ke arah matahari terbit, bukan tenggelam?

Selama di atas motor, saya menikmati jalanan yang kami lewati. Ada pesona tersendiri yang keluar dari pohon-pohon kering yang berjajar di tepi jalan. Kalau di cerita #TripLombok sebelumnya, saya bercerita tentang cantiknya pemandangan bukit-bukit coklat di tepi jalan. Kali ini saya jatuh cinta lagi dengan jalan ala musim gugur di garis tepi pantai Lombok.

Musim Gugur ala Lombok


Di plang yang kami lewati sih tulisannya menuju Pantai Grupuk (awalnya aku dengar itu Pantai Krupuk). Tak lama sejak kami melewati plang itu, kami mendapati satu gapura besar yang bertuliskan "Selamat Datang di (Zone 1) Kawasan Minapolitan, Kabupaten Lombok Tengah.

Selamat datang di Kampung Grupuk
Apa itu Minapolitan?

Setelah kucari di Kamus Besar Bahasa Indonesia, tidak ada kata "Minapolitan". Setelah bertanya dengan Mbah Google, saya menemukan artikel Kompasiana yang menuliskan arti Minapolitan sebagai daerah bisnis berbasis perikanan. Katanya "Mina" diambil dari Bahasa Jawa "Mino" yang berarti ikan. Ohhhh. Kampung Nelayan Modern Terpadu begitu ya?

Kami berhenti sebentar di depan halaman satu bangunan kecil yang penuh dengan jala-jala ikan yang teronggok di sudut. Ada papan bertuliskan "Tempat Pelelangan Ikan" tetapi tidak ada satu orang pun terlihat di sekitar tempat itu.

Setelah berjalan ke pantai, kami melihat banyak kapal nelayan yang sedang parkir. Kapalnya lucu, berwarna-warni. Ciamik!

Pantai di belakang Tempat Pelelangan Ikan Grupuk

Sayangnya, langit sore itu mendung kelabu sehingga foto yang dihasilkan tidak maksimal. Tapi tetap sedap dipandang mata kan? Uhuy!

Kampung ini namanya Kampung Grupuk. Banyak homestay bertebaran di kiri dan kanan jalan. Sepertinya Pantai ini populer di kalangan surfer mancanegara ya. Mereka tak henti-hentinya berseliweran dengan sepeda motor dan papan selancar yang menggantung di samping motornya. Kulit mereka merah, raut muka mereka bahagia. Ya iyalah ya, setiap hari bisa main di laut, cem mana enggak bahagia?

Lagi asyik memotret, ada seorang Bapak Nelayan yang hendak berangkat melaut. Kami hampiri beliau dan berbincang sedikit. Namanya Pak Syamsul. Beliau adalah Petani Lobster.

"Di Grupuk ini terkenal sebagai penghasil Lobster, Mbak. Kalau musim panen melimpah, lobsternya dijual Rp 300.000 per kilonya. Kalau musim panen biasa, lobsternya dijual RP 350.000 per kilo" ujar Pak Syamsul.

Pak Syamsul dengan bangga bercerita bahwa Lobster dari Grupuk adalah lobster segar yang terbaik. Lobster dari Grupuk juga sering diekspor ke luar negeri.

Bincang-bincang sore itu tidak berlangsung lama. Pak Syamsul harus segera berangkat melaut. Tadinya saya mau minta ikut ke Tambak Lobster, tapi waktunya tidak memungkinkan. Tujuan awalnya kan mencari senja, bukan melihat lobster. Lagipula kalau hari sudah sore begini, lobsternya enggak kelihatan. Ah ya sudahlah, lain kali waktu saja.

Pak Syamsul sudah bersiap untuk melaut.

Setelah Pak Syamsul pergi melaut, dua bocah kecil datang menghampiri. Mereka menendang bola plastik biru ke arah saya dan meminta saya menendangnya balik. Permainan semakin seru. Saya melepas sendal jepit dan ikut bermain bola bersama mereka. Berat juga ya main bola di pasir. Capek larinya. Hahaha.

Habis main bola, mereka ajak saya salto-salto di pasir. Berhubung saya tidak bisa salto ya saya nontoni saja sambil tertawa-tawa. Senang bisa bermain bola bersama kalian, adik-adik :D

Bocah kecil yang mengajak saya bermain bola. Namanya Deni.

"Kakak, ayo salto begini" teriak dua bocah, Deni & Rodi

Kembali pada tujuan semula, berburu senja.

Saya bertanya kepada seorang gadis muda yang memakai sarung, kemana kami harus pergi untuk melihat matahari senja yang cantik.

"Mbak naik saja ke atas bukit itu kalau mau lihat matahari" ucapnya sambil menunjuk ke satu bukit.

"Naik ke atas bukit itu bisa pakai motor enggak?" tanyaku.

"Oh bisa, Mbak. Tapi harus hati-hati karena jalanannya berpasir" lanjutnya.

"Oke, Terima kasih banyak Mbak" ucapku lalu berpamitan.

Benar saja. Kira-kira 500 meter, kami melihat ada tanjakan curam yang berpasir. Saya bertanya pada Ju apakah masih tetap mau melintasi tanjakan itu.

"Bisa kok. Asalkan kamu turun dan jalan kaki ke atas ya" kata Ju.

Saya pun turun dari motor dan mempersilahkan Ju duluan jalan sambil saya perhatikan was-was. Jalur pasir memang tantangan berat untuk pengendara motor. Licin dan rawan jatuh.

Syukurlah Ju bisa melewati tanjakan dengan hati-hati dan selamat. Tetapi di tanjakan kedua, kami tertawa pasrah karena harus berhenti dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Tanjakan pasir kedua sudah pasti tidak bisa dilewati pakai motor matic yang kami sewa. Kalau sejenis motor trail bisa kali ya.

Saya jalan duluan meninggalkan Ju yang lagi jeprat-jepret dengan kameranya. Dengan hati-hati saya mendaki di pasir. Sandal jepit yang saya pakai dilepas dan ditenteng karena lebih aman mendaki pasir dengan bertelanjang kaki.

Tiba di atas bukit, saya melihat laut lepas di kejauhan. Saya merasa tinggi sekali ketika melihat ke bawah. Tetapi saya tidak bisa menyembunyikan rasa gembira karena berhasil melihat matahari senja.

 


Walau cuaca sedikit mendung, tapi senja sore itu tetap indah. Semburat warna jeruk (orange) menghiasi langit dengan gulungan awan kelabu. Senja itu juga terpancar lewat kilauan di atas air laut. Damai sekali. Saya cukup lama duduk, memandangi matahari senja dan hampir lupa untuk memotret pemandangan yang cantik ini. Susah kali buat melihat senja di sini. Tapi akhirnya kutemukan juga. :D


Terima kasih langit sudah bersolek sebentar dan bersedia jadi modelku. Hehehehe. Sampai jumpa lagi.


Follow Us @satyawinnie