Monday, December 16, 2013

Es Krim Oen, Old Fashioned Ice Cream di Malang

Monday, December 16, 2013 11 Comments

Kami memasuki restoran tua sambil mengibaskan air hujan yang membasahi baju. Bau ubin tua dan kursi rotan menyeruak. Kami menggesek-gesekkan kaki di keset besar coklat bertuliskan "Welcome".

Mata saya langsung tertuju pada tulisan “Welkomm in Malang. Toko “Oen” Die Sinds 1930 Aan De Gasten Gezelligheid Geeft”. Tulisan dalam bahasa Belanda tersebut berarti “Selamat Datang Di Malang. Toko Oen adalah tempat untuk berkumpul & bersosialisasi sejak 1930”. Dulunya, tempat ini merupakan favorit para meneer dan mevrouw Belanda rumpi-rumpi sambil makan es krim. Tempat gaulnya para sosialita.

Di depan Resto Oen pasti selalu ramai dengan mobil yang parkir


Bangunannya klasik dan hangat


Toko yang sudah berdiri selama 83 tahun ini tidak pernah luput dari must-visit-list wisatawan dalam negeri dan luar negeri. Banyak orang Belanda yang membawa anak dan cucunya makan di restoran ini untuk bernostalgia lewat semangkuk es krim favorit kakek-neneknya.

Ngomong-ngomong tentang sejarah, Es Krim “Oen” ini pertama kali diciptakan oleh perempuan keturunan Tionghoa, Oma Oen yang awalnya membuka toko kue di Yogyakarta tahun 1910. Baru pada 1922, Oma Oen mengembangkan es krim buatannya dan membuka kedai es krim di Semarang, Jakarta, Malang. Sayangnya, cabang Yogya dan Jakarta sudah ditutup. Sisanya, kedai “Oen” di Malang dijual ke pemilik baru nya dan cabang Semarang dipertahankan oleh keturunan Oma Oen.

Interior restoran Oen ini memang bergaya klasik. Dengan kursi rotan, meja dan taplak klasik, piano tua di sudut ruangan membuat kita dibawa ke masa lalu. Apalagi ditambah foto-foto yang dipajang di seluruh ruangan, mulai dari foto kota Malang pada masa lampau hingga foto Presiden Soekarno.

Restoran ini seperti tidak berubah dan bertambah tua. Begitu saja, sederhana sejak dulunya.

Kursi nyaman dan taplak meja klasik. Seperti miniatur rumah Barbie. Imut.

Di sudut ruangan ada Piano dan radio tua. Di dinding tergantung banyak foto-foto Malang zaman dulu.


Kami memilih satu meja dan memanggil pelayan restoran. Mereka mengenakan pakaian putih dengan celemek tua. Tampangnya ramah dan menawarkan kami beberapa menu favorit di restoran ini. Buku menunya sudah tua tetapi masih terawat dan bersih.

Daftar harga menu-menu di Resto "Oen". Masih ramah di kantong lah ya :)

Setelah melihat daftar menu, kami memesan Chocolate Parfait, Corn Ice Cream, Oen’s Special. Selain es krim ada menu main course seperti Steak, Nasi Goreng dll.

Tak lama, pesanan kami tiba. Walaupun menyantap es krim yang dingin saat cuaca dingin, suasana tetap hangat dengan obrolan-obrolan yang kocak.

Corn Ice Cream ini wajib dicoba. Rasa jagung dan krimnya yang yummy meleleh bersama es krim itu enaknya POL!


Es Krim Vanilla satu scoop. Sederhana tapi enaaaak.

This is my favorite!!! "Oen's Special"! Tiga rasa es krim dinikmati dengan roll wafer. Yummy!!

Chocolate Parfait ini juga wajib dicoba. Yummy!
Lezat banget kan kelihatannya? Enggak cuma kelihatan, tapi rasanya memang lezat. Saya saja menulis ini sambil menelan liur. Jadi pengen balik ke Malang. Huhu.

Sayangnya karena sebelum berkunjung ke “Oen” kami baru selesai makan berat, kami tidak sempat mencicipi menu main course nya. Di etalase juga terlihat kue-kue jajanan yang menggugah selera.Sayang perutnya enggak muat.

Etalase dengan berbagai jenis snack. Ada rambut nenek loh. Nyam!
 Harga Es Krim "Oen" menurut saya tidak terlalu mahal dan sebanding dengan rasanya. Rasanya mirip dengan es krim tua di Ragusa, Jakarta atau Rasa Bakery, Bandung.  Oen menyajikan es krim yang lebih lembut dan tidak kemanisan. HEERLIJK!

Toko "Es Krim Oen" yang enggak pernah sepi

Enaknya sih mengunjungi tempat ini dengan pacar ya. Soalnya ketika sore menjelang malam, suasana restorannya semakin romantis karena adanya lampu kecil warna-warni yang menghias bingkai jendela.

Sambil menyendok es krim, bercerita, berdua saja.

Alamat Toko Es Krim "Oen" : Jl Jend Basuki Rachmad No 5 Malang, Jawa Timur. Telp : (0341) 64052

Happy Traveling!
Enjoy Indonesia!

Menikmati Lautan dan Mendaki Gunung Anak Krakatau

Monday, December 16, 2013 19 Comments
Puncak Gunung Anak Krakatau
Di terminal Kampung Rambutan, terlihat beberapa pemuda-pemudi dengan tas punggung warna-warni asyik bercengkerama. Salah satunya adalah saya. Kami menunggu bus malam yang akan membawa kami ke pelabuhan Merak. Tujuan liburan kami kali ini adalah Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda.

Masih banyak yang menyebutnya sebagai Gunung Krakatau, padahal Krakatau sudah meletus dengan hebatnya pada tahun 1883 hingga menewaskan kurang lebih 36.000 jiwa. Saat itu, seluruh dunia diselimuti suasana yang gelap dan mencekam. Suara letusannya terdengar hingga 4600 kilometer jauhnya, semburan debu vulkaniknya mencapai 80 meter dan muntahan batu vulkaniknya berhamburan ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia dan Selandia Baru.

Menurut sejarawan, Gunung Krakatau pun masih punya "ibu" yaitu Gunung Krakatau Purba (Gunung Batuwara) yang ketika meletus memisahkan pulau Jawa dan Sumatera. Tepi-tepi kawah Krakatau Purba dikenal dengan Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung.

Dari cerita yang saya baca di sini dikatakan bahwa Gunung Anak Krakatau muncul 40 tahun setelah meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883, yakni tahun 1927. Di kawasan kaldera purba ini, Gunung Anak Krakatau terus bertambah tingginya, sekitar 20 inci per bulan (kok bisa ya?) dan tercatat sebagai gunung vulkanik aktif. Para ahli memprediksi bahwa Anak Krakatau akan meletus antara 2015-2083. Aduh, mari kita doakan agar Anak Krakatau tiduuuuuuur untuk waktu yang lebih lama ya.

Oke.
Kembali ke cerita perjalanan.

Kami berangkat menuju pelabuhan Merak dari terminal Kampung Rambutan dengan naik bus yang ongkosnya 17.000 rupiah (sebelum bbm naik) pukul 23.50 dan tiba pukul 4.10 subuh. Tungpeng selaku ketua rombongan langsung menggiring kami semua ke loket kapal ASDP dan menyeberang ke Bakauheuni, Lampung.

Muka-muka sumringah mau liburan

Selama 2,5 jam perjalanan laut, kami hanya duduk bercengkerama di dek kapal sambil makan cemilan dan menikmati hembusan angin laut. Saking asyiknya, tidak terasa langit sudah terang dan tahu-tahu kapal sudah tiba di Lampung.

Turun dari kapal, kami langsung mencari angkot untuk disewa ke dermaga Canti, tempat dimana kami akan dijemput oleh kapal kayu mengeksplor kawasan Anak Krakatau. Karena lapar, kami sempat berhenti di tengah-tengah perjalanan untuk makan pagi di sebuah warung nasi dan lanjut jalan lagi.

Dermaga Canti, Lampung. Sederhana sekali ya.

Matahari belum tinggi ketika kami tiba di dermaga Canti. Jam menunjukkan pukul 7.40. Terlihat kapal kayu yang kami sewa sudah menunggu.

Harga sewa kapal kayu ini sekitar 2-2.5 juta per kapal dengan maksimal penumpang 20 orang. Ketika diberitahu bahwa nanti di perjalanan menuju Pulau Sebesi (tempat kami menginap) kami akan snorkeling di kawasan Pulau Sebuku, semua langsung bergegas ke kamar mandi dan berganti baju renang. Sehingga ketika kami sampai di Sebuku, semuanya siap nyebuuuuuurrrr....

Berpapasan dengan masyarakat lokal yang sedang menyeberang dari Sebesi menuju Dermaga Canti. Motor juga diangkutnya pakai kapal ini. Saking ramahnya mereka melambaikan tangan dengan muka sumringah.

Birunya laut Pulau Sebuku.
 

Nothings better than playing on the beach, under the sun. Everyone happy :)


Puas bermain air di Sebuku yang biru, kapal bertolak menuju pulau Sebesi. Kami langsung diantarkan ke guest house milik Pemerintah daerah dan dibagi dua kamar, perempuan dan laki-laki. Satu kamar bisa menampung 10-20 orang dengan tarif 200 ribu per malam. Kalau musim liburan, rumah-rumah penduduk juga disewakan untuk wisatawan. Oh ya, listrik hanya hidup dari jam 06.00 sore hingga 00.00 WIB.

Satu-satunya penginapan resmi yang ada di Pulau Sebesi.
 Di Guest House sudah disediakan makan siang untuk rombongan kami. Seusai makan siang, rombongan berpencar, ada yang isthirahat di kamar, ada yang naik sepeda keliling pulau Sebesi dan ada yang duduk-duduk di Pantai saja. Semua sibuk sendiri hingga pukul empat sore berkumpul untuk naik kapal ke Pulau Umang-Umang.

Walaupun namanya mirip, Pulau Umang-Umang bukanlah Pulau Umang yang ada di kawasan Banten tetapi pulau sendiri di dekat pulau Sebesi dan masuk daerah Lampung. Pulau Umang-Umang ini bisa ditempuh selama kurang lebih 20 menit dari Pulau Sebesi.

Pose sambil menunggu senja di Pulau Umang-Umang.
 

Air laut yang biru jernih benar-benar menggoda kami untuk cepat-cepat nyebur. Untuk peralatan snorkeling, disewakan dengan harga 30-35 ribu. Saya sudah membawa peralatan sendiri sehingga tidak perlu sewa lagi.

Kami asyik bermain hingga tidak sadar matahari sudah pulang ke rumahnya. Artinya kami juga harus segera pulang ke Sebesi. Rasanya kok singkat sekali. Belum puas euy.

Sesampainya di penginapan, semuanya antri bebersih diri, berkumpul di ruang makan untuk makan malam lalu memulai acara seru. Membuat api unggun di tepi pantai, bernyanyi dan menari. Maunya sih sampai pagi, tetapi karena semua kelelahan dan harus bangun subuh-subuh untuk mendaki anak Krakatau, kami memilih mencium kasur saja.

Kira-kira jam 4 pagi, kami dibangunkan untuk segera bersiap berangkat ke Anak Krakatau. Dengan mata setengah mengantuk, semuanya naik ke atas kapal dan menahan dinginnya angin laut subuh-subuh.

Muka-muka ngantuk tapi gak sabar mau naik Anak Krakatau.
Butuh waktu sekitar 2 jam untuk mencapai Anak Krakatau. Karena langit masih gelap, semuanya selonjoran melanjutkan tidurnya.

Ketika langit sudah sedikit terang, di kejauhan tampak Gunung Anak Krakatau yang sedang "tidur" dengan pulas. Itu berarti aman untuk didaki.



Begitu kapal sandar, kami langsung turun dan menginjakkan kaki di pasir hitam. Baru kali itu saya melihat pasir hitam karena pasir biasanya warnanya putih atau krem.

Para awak kapal dengan sigap menurunkan dus Aqua dan sarapan untuk kami. Tentunya sebelum menanjaki Anak Krakatau, perut harus diisi agar ada energi. Kami buru-buru menyelesaikan makan pagi dan berangkat menapaki jalan setapak pasir.

Selamat datang di Cagar Alam Krakatau.

Sebenarnya Anak Krakatau ini tidak terlalu tinggi tetapi butuh waktu yang cukup lama untuk mendakinya. Ini karena medannya yang berpasir dan berkerikil kecil sehingga kita sering tergelincir. Jalan di pasir juga lebih berat, jadi lebih baik pakai sandal gunung atau sepatu, jangan sandal jepit.


Tante ini mau mendaki atau ke mall ya? *peace*

Saran saya adalah membuat jarak dengan orang di depan kita ketika mendaki agar tidak terkena pasir bekas pijakannya. Mendaki zig-zag juga mungkin bisa jadi cara yang aman agar mata tidak kemasukan pasir.

Ketika akan mulai mendaki Anak Krakatau, kami bertemu dengan tante-tante dari Lions Club, semacam perkumpulan sosial gitu. Walau sudah cukup berumur, tante-tante ini sangat aktif dan bersemangat. Ketika berbincang dengan mereka, saya terkagum-kagum karena mereka tante-tante yang haus akan petualangan, sudah menjelajah banyak tempat di dunia dan akan tetap melakukannya sampai akhir hayat. Keren banget sih Tante.

Sekitar 20 menit, kami akhirnya tiba di titik terakhir untuk wisatawan yang ingin mengunjungi Gunung Anak Krakatau. Jangan coba-coba melewati batas kalau mau selamat.

Kepulan asap belerang dari bebatuan.
 
Perjalanan turun kembali ke bawah.
Bau belerang yang menyengat membuat saya jadi sedikit pusing sehingga tidak berlama-lama di "puncak" Anak Krakatau. Setelah berfoto bersama, kami berlomba untuk turun dengan berlari di pasir. Pas berangkat naik, nggak mau kena pasir tetapi begitu turun malah bikin "badai" pasir. Yang penting seruuuuuu dan tidak mengganggu wisatawan lain.

Di tengah perjalanan turun, kami mengadakan lomba lari. Hahaha.
 Jam 10, kami bertolak ke Legon Cabe untuk menikmati terumbu karang cantik dan menyapa ikan-ikan lucu. Airnya jernih dengan terumbu karang yang masih terawat. Semoga tidak rusak karena ulah wisatawan yang kurang bertanggung jawab.

Legon Cabe

Jump and byuuuuurrr....
Ketika matahari semakin tinggi, kami pulang ke Sebesi untuk bebersih, makan siang, packing dan pulang ke Jakarta.

Di perjalanan menyeberang pulang dari Bakauheni ke Merak, kami naik kapal Ferry paling bagus yang pernah saya lihat. Namanya Dharma Ferry IX. Sofanya empuk, ada ruang tidur nya dan tidak perlu bayar lagi. Ada kantin dan bar dengan pelayanan ramah serta memuaskan. Enak dan nyaman.

Kapal Dharma Ferry XI. Bagus dan bersih.
Kami tiba Minggu tengah malam di Terminal Kampung Rambutan. Selesai sudah liburan singkat di Krakatau. Puas rasanya bisa menikmati lautan dan mendaki gunung (kecil) sekaligus. Apalagi perjalanan ini dilakukan bersama teman-teman (beberapa teman baru) yang seruuuuu.Buat teman-teman yang sudah kerja juga bisa kok liburan ke Anak Krakatau pas akhir pekan seperti kami. Semoga cerita perjalanannya bermanfaat ya :)


Happy Traveling!
Enjoy Indonesia!

Wednesday, December 11, 2013

Kereta Wisata Jawa, Pengalaman Naik Kereta Mewah

Wednesday, December 11, 2013 28 Comments

Naik Argo Bromo Anggrek atau Sembrani ke luar kota? Sudah biasa. Kalau naik kereta wisata? Seperti apa ya rasanya?

Saya biasa naik Argo untuk pergi ke Bandung, Yogya, Solo atau Surabaya tetapi belum pernah naik kereta wisata. Beruntungnya, bulan Oktober lalu, saya berkesempatan naik Kereta Wisata “Jawa” dengan rute Gambir (Jakarta) – Bandung dengan membawa satu rombongan kantor yang akan outing. Enaknya jadi Tour Leader ya itu. Jalan-jalan sambil dibayar. Hehehehe.

Kereta wisata ini hanya terdiri dari satu kereta yang digabung dengan rangkaian kereta reguler. Awalnya saya menulis artikel ini, saya menggunakan istilah gerbong namun diralat oleh teman-teman pecinta kereta api. Gerbong itu tidak diperuntukkan untuk manusia tetapi untuk barang dan hewan. Kereta Wisata adalah kereta spesial yang bisa disewa ke semua rute yang dilayani oleh PT Kereta Api Indonesia. Mau ke Cirebon, Yogya, Solo, Malang, Surabaya, Bandung, Purwokerto, Semarang, Nusa Kambangan bisa kok.

Sewaktu saya naik kereta ini, saya diberitahu bahwa ada empat kereta wisata yaitu “Jawa”, “Nusantara”, “Bali” dan “Toraja”. Katanya sih jumlah kereta wisata akan terus bertambah seiring meningkatnya minat masyarakat untuk jalan-jalan dengan kereta mewah ini. Dari info seorang teman yang memberikan komentar di bawah, saya baru tahu sekarang ada satu kereta wisata lagi yang diberi nama "Sumatera". Berarti ada lima kereta wisata ya.

Begitu memasuki Kereta Wisata, langsung terasa bedanya kereta ini dibandingkan kereta lainnya. Ruangan kereta wangi, karpetnya tebal dan bersih. Ada sofa empuk berjejer lengkap dengan bantalnya serta LCD TV di tengah-tengah kereta. Di belakang ruang TV ada meja makan besar dengan kursi-kursi mewah. Ada bar kecil dimana pramugara dan pramugari kereta wisata sudah siap dengan senyum ramahnya melayani permintaan makanan dan minuman dari penumpang.

Karpet lembut, sofa empuk dan LCD TV untuk karaokean. Nyaman dan tak akan bosan sepanjang jalan
Di Kereta “Jawa” ini terdapat pula satu kamar tidur dengan satu king size bed (sayangnya tidak sempat difoto karena sudah ditempati keluarga Pak Bos). Di sebelah kamar tidur ada ruang penyimpanan bagasi, ruang operator dan kamar mandi. 

Ruang Makan Kereta Jawa
Di perjalanan, penumpang boleh menikmati film atau karaokean. Paling seru sih karaoke ya. Siapa yang tidak suka bernyanyi di perjalanan? Lumayan untuk buang suntuk.

Alhasil selama 2,5 jam perjalanan Jakarta – Bandung, sebagian penumpang kereta wisata menyanyikan tembang-tembang lawas sambil nostalgia dan sebagian lagi duduk ngobrol di meja makan sambil menyeruput kopi. Sedap betul.

Biasanya toilet kereta itu toilet jongkok. Tetapi di sini, toiletnya toilet duduk yang bersih sekali dan wangi lengkap dengan flush nya. Kalau toilet umumnya kereta lain mah langsung “plung” ke bawah. Lagi-lagi ada teman yang menambahkan kalau beberapa kereta sudah ada yang punya penampung sementara, jadi nggak langsung dibuang ke rel.

Saya sendiri sih belum puas naik kereta wisata 2,5 jam. Maunya lebih lama lagi. Saking betahnya, waktu tempuh Jakarta - Bandung terasa sangat singkat. 

Sewaktu saya posting di twitter dan facebook tentang kereta wisata, banyak yang bertanya-tanya tentang info harga dan cara memesannya.
Teman-teman yang berminat bisa lihat info lebih lengkap di website nya : http://indorailtour.com/ +6221 – 3452-310 / info@indorailtour.com

Jadwal kereta wisata ini selalu di-update di website. Jadi silahkan cek tanggal yang kamu mau berdekatan dengan jadwal kereta yang mana. 


Tarif Kereta Wisata (indorailtour.com)

Cara reservasi kereta wisata nih. (Sumber : indorailtour.com)

Happy Traveling!
Enjoy Indonesia!

Friday, November 29, 2013

Menuruni Luweng Grubug & Jomblang, Perjalanan Vertikal ke Perut Bumi.

Friday, November 29, 2013 8 Comments

Perjalanan ini membuat saya sedikit berbangga karena berhasil mengalahkan rasa takut saya akan gelap dan ketinggian.

Pernah mendengar Goa atau Luweng Grubug? Atau pernah lihat iklan sebuah produk rokok dimana talentnya bersorak di dalam gua sambil disinari cahaya matahari?

Itulah dia, Luweng Grubug.

'Luweng' berarti lobang atau sumur sedangkan 'Grubug' adalah gemuruh yang terdengar dari dalam goa.

Ini merupakan kali pertama saya menuruni Gua Vertikal. Langsung turun ke gua sedalam 96 meter, pakai tali, sendiri. (terbayang tidak betapa gugupnya saya waktu itu?)

Buat teman-teman yang belum tahu, nama kegiatan ini adalah Telusur Gua atau Caving. Ilmu tentang Telusur Gua disebut Speleologi. HIKESPI (Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia) adalah nama organisasi penelusur gua yang diketuai oleh Mas Cahyo Alkantana, petualang senior yang juga terkenal sebagai presenter acara petualangan dan fotografer underwater profesional.

Goa Jomblang dan Luweng Grubug ini terletak di kawasan Karst Semanu, Gunung Kidul, sekitar 60 kilometer dari pusat Yogyakarta.

Sebanarnya di kawasan ini terdapat banyak sekali luweng / goa tetapi Luweng Grubug dan Jomblang menjadi yang terpopuler karena acara Amazing Race Amerika yang dilaksanakan tahun 2011.

Saya dan teman-teman pecinta alam Universitas Indonesia (Mapala UI) datang ke Luweng ini pada Juni 2012 kemarin tapi ceritanya baru di-post sekarang. Hehehe.

Kalau dari atas, Luweng Grubug ini terlihat seperti sumur biasa dan tertutup oleh pohon yang rimbun.
Sebelum turun di gua vertikal, dibutuhkan latihan fisik dan penguasaan teknik SRT (Single Rope Technique), teknik untuk naik dan turun di gua vertikal memakai tali. Kami berlatih di pohon-pohon Jati yang ada di sekitar resort "Jomblang" yang dikelola pribadi oleh Bang Cahyo Alkantana. 

Sebelum turun ke Luweng Grubug, kita harus latihan SRT dulu

Peralatan pribadi yang diperlukan untuk telusur gua adalah :
  • Baju dan celana berbahan ringan seperti polyester, coverall (baju one piece yang menutupi seluruh badan)
  • Sepatu boots (yang biasa dipakai pas banjir)
  • Sarung tangan
  • Ikat rambut (untuk yang berambut panjang sebaiknya diikat)
  • Helm + headlamp atau helm halogen (helm yang bisa mengeluarkan api dengan bahan bakar karbit.
 
Perlengkapan dari kepala sampai kaki untuk telusur goa.


 Single Rope Technique set sendiri terdiri dari :
  •  Seat harness (tali untuk dudukan), chest harness (tali untuk sekitar dada) atau yang paling baik adalah body harness (menutupi seluruh badan sekaligus)  
  • Ascenders
  • Descenders
  • Foot-loop
  • Jammer
  • Carabiner
  • Cow's tail.

Penelusuran Luweng Grubug dimulai pukul 10.00 WIB oleh Tim Mapala UI dan HIKESPI. Tim Mapala UI mempersiapkan lintasan (rigging) untuk masuk gua yang diarahkan oleh Mas Patrick, salah satu master instruktur HIKESPI. Selain Mas Patrick, ada Mas Adam Budiman dan Mas Balung dari HIKESPI yang mendampingi anggota mapala UI masuk ke luweng Grubug.  

Rigging atau persiapan lintasan untuk turun ke Luweng Grubug.

Sewaktu berlatih di Pohon Jati, saya merasa bisa dan mantap untuk melakukan ini. Tetapi begitu sudah ada di mulut luweng Grubug yang berdiameter 50 meter, lutut saya tidak berhenti gemetar. Takuttttt.

Dari mulut Goa terdengar bunyi gemuruh yang sangat kuat. Saya mencoba mendongak ke dalam luweng dan tak ada apapun yang terlihat. Semuanya hitam. Syukurlah saya tidak mendapat giliran pertama untuk turun melainkan teman-teman saya yang jam turun goa nya sudah cukup banyak.

Debby, teman saya yang jam turun goa nya sudah banyak. Mukanya lempeng saja ketika disuruh turun pertama kali ke Luweng Grubug. Jempol deh buat Uni yang satu ini ;)

Sama seperti Kiki, saya dibimbing untuk turun sebelum bergantung sendiri di tali. (tapi pose ini kayak modus ya? #eh?)

Giliran saya pun tiba. Saya yang sudah mengenakan peralatan lengkap bergerak pelan ke mulut gua. Mau tidak mau, saya harus masuk ke dalam luweng. Yang lain saja bisa dan selamat, kok saya enggak?

Di mulut Luweng sudah dipasang matras sebagai landasan agar tali dan badan kita tidak tergesek ke batu. Sebelum turun, kita akan dicek oleh teman kita apakah posisi harness dan seluruh perlengkapan SRT kita sudah dalam kondisi yang baik dan benar. Jika sudah yakin lengkap dan aman, barulah kita boleh turun.

Saya mungkin termasuk yang paling lama bergantung di mulut gua. Entah berapa kali saya dibujuk Mas Patrick untuk melepaskan pijakan kaki pada batu dan bergerak turun ke bawah. Saya masih takut-takut karena takut kalau saya jatuh dan lepas dari tali (padahal kalau sistemnya sudah lengkap enggak bakal jatuh kok). Suara gemuruh air dari bawah sana dan lembabnya bibir gua karena uap-uap air sungai bawah tanah juga membuat nyali saya ciut sekaligus penasaran.

Setelah komat kamit baca mantra, akhirnya saya melepaskan pijakan dan sedikit berteriak kaget sambil menutup mata. Sekarang saya sudah bergantung di tali dan HARUS bergerak turun ke bawah. Ah, Lord, bless me!

Saya menekan jumar dan mulai turun perlahan-lahan. Pernah melihat adegan orang terjun pakai tali dari helikopter? Nah, kurang lebih begitulah kejadiannya. Tetapi turunnya tidak secepat di film ya. Saya harus turun perlahan-lahan agar tangan tidak panas memegang jumar yang bergesekan dengan tali . Itu juga yang menjadi alasan mengapa kita membutuhkan sarung tangan.


Seorang teman yang sedang menyusuri tali, turun ke bawah. (Foto : Ramadan | Tempo)

Tidak butuh waktu yang lama untuk turun dan menjejakkan kaki di tanah yang becek dan licin di dasar luweng Grubug. Gemuruh air semakin kuat dan terasa dekat. Aliran air bawah tanah ini ternyata masih satu aliran dengan Kalisuci.

Sesampainya di bawah, kami menikmati siraman cahaya dari atas yang masuk dari mulut goa. Seperti dapat siraman cahaya dari surga. Saya cukup lama ternganga, mendongak ke atas dan melihat titik hitam kecil di tengah-tengah cahaya itu. Ternyata itu teman saya yang sedang turun ke bawah.



Terlihat tali yang kami pakai untuk turun dan naik Luweng Grubug.

Kami berkeliling di sekitaran Luweng Grubug dengan sangat berhati-hati agar tidak terpeleset. Kami menelusuri hingga ke pinggiran sungai. Setelah puas mengeksplor Grubug (dan tentunya foto-foto) kami bersiap untuk naik ke atas lagi. Caranya? Manjat pakai tali lagi. Eaaaaa.

Sambil menunggu giliran, tebak saya ngapain?

Main Twitter.

Hahaha. Beneran kok saya main twitter dari dalam luweng. Pasti bertanya-tanya kok bisa dapat sinyal. Saya harus berterima kasih kepada Telkomsel yang jaringannya kuat di dalam gua tapi lemah kalau di Jakarta. Sekali lagi terima kasih ya Telkomsel. :p

Sambil menunggu giliran untuk naik ke atas, kita makan cemilan dan main twitter :p

Batuan kapur di dalam Luweng Grubug

Kita harus berhati-hati saat berjalan di dalam luweng karena berbatu dan licin.

Teman-teman dari Mapala UI dan HIKESPI di dalam Luweng Grubug


WE did it! Yeay!
Tantangan terberat di Telusur Gua ini menurut saya ya pas naik ke atas. Pernah melihat ulat / ulat bulu yang bergerak-gerak menuju pucuk daun? Seperti itu gerakan yang harus dilakukan. Di badan kita diikatkan satu tali simpul kambing yang menjadi alat bantu kita untuk bergerak ke atas. Sambil menginjak tali simpul, kita mengangkat badan kita ke atas. Seperti lagi pull up tapi di satu tali. Bisa dibayangkan betapa beratnya kalau kita tidak/belum pernah latihan sebelumnya.

Ketika akan naik ke atas, ada teman yang akan membantu mengecek peralatan kita dan menegangkan tali agar bisa memanjat naik

Saya sendiri waktu itu membawa tas kecil yang berisi kamera pocket, cemilan coki-coki dan air mineral. Jadi ketika energi kita mulai melemah, kita bisa berhenti sebentar di tengah-tengah, mengisi tenaga dengan minum dan makan coklat. Saya sempat mual karena efek tegangan tali yang mengayun-ayun badan saya naik turun.

Antara seru dan tegang juga sih sendirian tergantung di tali. Kalau saya kenapa-kenapa yang nolong siapa ya? Tapi saat itu saya yakin bahwa yang terpenting sebenarnya adalah pikiran kita. Kalau kita bisa tenang dan tidak panik selama di tali, pastinya kita bisa sampai di atas dengan aman dan selamat. And I did it!

Kegiatan latihan dan penelusuran Luweng Grubug selesai pada pukul 16.50 WIB. Kami semua langsung pulang ke resort dan membersihkan peralatan dari lumpur.

Untuk pemula, mungkin bisa mencoba masuk ke Luweng Grubug lewat Goa Jomblang. Wisatawan bisa menikmati siraman cahaya surga Luweng Grubug dengan menelusuri lorong sepanjang 300 meter. Di post berikutnya, saya akan bercerita tentang Goa Jomblang ya ;)

Ketika cahaya matahari berada tepat di atas luweng, kita akan mendapatkan cahaya matahari tegak lurus menerangi luweng. Ngomong-ngomong yang di dalam foto itu saya yang diambil oleh wartawan Tempo, mas Ramadhan :)

Di Goa Jomblang sudah tersedia beberapa variasi lintasan untuk wisatawan turun dengan tali. Jadi tidak perlu turun naik pakai badan sendiri seperti kami. Ada katrol yang disediakan untuk menurunkan dan menaikkan wisatawan. Bisa kontak Bang Cahyo Alkantana di sini ya kalau berminat (+62 811 117 010).


Tips :
  • Waktu terbaik untuk mengunjungi Goa Jomblang & Grubug adalah sebelum jam 1 siang dimana sinar matahari yang masuk akan sangat cantik ketika matahari berada tepat di atas Luweng.
  • Kalau bisa bawa dry bag kecil untuk menyimpan kamera, makanan dan minuman. Jaga-jaga agar barang-barang tadi tidak terkena air.
  • Jaga sikap dan perilaku selama berjalan-jalan di dasar gua. Jangan pecicilan ya. :)



Follow Us @satyawinnie