Kami melanjutkan perjalanan menuju desa Lahusa Tua dipandu oleh Ama Ota Turu.
Jalanannya masih sama, berbatu dan berlubang. Beberapa waktu kemudian, kami pun tiba di jalan kecil yang sedang diperbaiki. Ada beberapa pekerja yang sedang menabur batu, memanaskan aspal dan menyirami aspal. Jalan nya menanjak dan tentu saja dipenuhi batu kerikil. Melihat tanjakannya, aku memutuskan untuk turun dan membiarkan Juju mengendarai motor sendirian keatas.

Ama Ota Turu berhasil melewati jalan tersebut dengan mulus dan Juju dengan mantap ikut di belakangnya. Tiba-tiba motor Juju oleng tetapi tertahan oleh kakinya Ju. Juju turun dari motor dan menggas motornya, tetapi kerikil yang licin itu malah beterbangan kesana-kemari dan aku pun  menjauh. Akhirnya dengan bantuan beberapa pekerja jalan dan Ama Ota, motornya berhasil melewati tanjakan itu. Aku jadi was-was nanti pas pulangnya gimana ya?

Mukanya sampai pada berkerut semua. Tanjakannya ekstrim kan?

Kemudian, kami pun melewati jalanan kecil yang hanya bisa dilewati oleh satu motor. Desa Lahusa Tua ini terletak cukup tinggi dan dari atas kita bisa melihat pemandangan hijau membentang lengkap dengan sungai nya.



Tak lama kemudian, kami tiba di suatu gerbang. Ada satu kumpulan kecil rumah-rumah dari kayu dan ada Omo Sebua (Rumah Raja) nya. Yap, kita sudah sampai di situs megalith desa Lahusa Tua.
Aku takjub melihat batu-batu yang begitu besar ada di pekarangan rumah. Batu-batu ini besar, berwarna kehitaman dan berlumut.






Melihat ada sosok asing, seorang bapak pun menghampiri kami, namanya Ama Turu Nduru. Beliau adalah keturunan Raja Fardu Ana'a yang dulu berkuasa di Gomo. Kedua saudaranya yang lain, Ama Febri Nduru dan Ama Yuli Nduru pun tinggal bersama anak istrinya di kompleks ini. Singkat kata, di kompleks ini semuanya memiliki hubungan darah.

Kami disambut dengan sirih dan pinang yang cukup besar. Ohya, karena pinangnya besar, aku sempat sesak napas memakannya. Setelah minum banyak air putih baru deh sesaknya hilang.

Sirih Selamat Datang

Nyirih bareng :D

Geng Sirih :p

 Sambil nyirih, aku pun mengisi buku tamu dan ternyata sudah ada yang pernah mengunjungi situs ini juga, tetapi semuanya orang asing. Jadi kita wisatawan pertama dari Indonesia yang mengunjungi kampung ini. Wihiiiwww.

Persis seperti info yang kami dapat dari Mbah Google, batu-batu megalith ini tersebar di pekarangan rumah. Ada beberapa jenis batu yang bisa kita lihat. Ada batu yang berfungsi jadi alat musik, kursi, meja, tempat menari dan tandu. Hah? Tandu? Aku juga bingung, tandu dibuat dari batu? Yang ngangkat Hercules banget dong ya sanggup ngangkat orang yang duduk diatas tandu batu.

Tandu Batu untuk Putri-Putri/ Istri Raja saat Obasa/Owasa (Pesta adat)

Tandu Batu untuk Raja / Owasa Nene

 

Batu besar yang paling kanan adalah singgasana Raja/Ni Omanu-manu

Tiga Leher/ Osa-Osa

Tiga Leher adalah simbol yang khas dari Nias. Biasa disebut Osa-osa, aku sendiri tidak tahu ini sebenarnya perwujudan apa. Ada yang bilang perwujudan tiga harimau, tiga ular, tiga naga, tiga anjing. Tapi aku menganggapnya tiga naga. Hehehehe.

Batu-batu bulat lebar itu ada yang berfungsi sebagai alas menari para putri dan ratu untuk menghormati orang tua, mertua dan para pamannya. Orang Nias menyebutnya Ni Ogadi.

Batu yang berfungsi sebagai singgasana raja disebut Ni Omanu-manu. Batu itu akan dipanjat oleh sang Raja dan berbicara kepada rakyat yang berkumpul melingkar dibawahnya.

Batu bulat lebar yang paling besar berfungsi sebagai alat musik. Mereka menyebutnya Batu Gong. Awalnya aku gak percaya batu sebesar dan seberat itu bisa mengeluarkan suara. Setelah dicoba, bunyinya merdu sekali. Makin terkagum-kagum deh.

 Batu Gong yang bisa mengeluarkan bunyi merdu

Setelah mengobrol tentang batu-batu megalith tadi, aku menuju Omo Sebua yang ada di tengah. Aku menemukan Omo Sebua yang berbeda dari Bawomataluo dan Hilinawalo Fau. Omo Sebua yang biasanya dihiasi oleh ukiran-ukiran merah dan hitam, kali ini didominasi oleh pahatan kayu coklat muda.


Ukiran-ukiran di tiang Omo Sebua

Ama Turu pun bercerita bahwa semua batu besar di komplek itu memiliki 1 buah kepala sebagai tumbalnya. Tidak ada yang tahu batu ini berasal dari mana. Ama hanya berkata bahwa Raja Gomo mengumpulkan batu besar sebagai pertanda dia lebih unggul dibandingkan raja-raja yang lainnya. Beliau juga mengakui dulu Gomo memang terkenal kanibal untuk membuktikan kejantanan lelaki desa itu dan tentunya untuk dijadikan tumbal batu-batu koleksi Raja Gomo. Kepala-kepala tersebut juga ada yang disimpan di dalam kotak batu. Sayangnya, tengkorak-tengkorak nya sudah dicuri orang.

Batu untuk menyimpan tengkorak


Hari sudah sore, saatnya kami pulang. Terima kasih untuk Ama Ota Turu dan penduduk Gomo yang super ramah. Aku dan Juju sudah membuktikan bahwa kami sehat selamat dan tidak dimakan oleh orang Gomo. Hehehehe :) Jadi, julukan Gomo sebagai desa paling menakutkan di Nias hanyalah isu belaka. Silahkan mengunjungi Gomo, teman-teman.

Ki-Ka : Ama Ota Turu, saya, Ama Turu Nduru, Ama Febri Nduru


The Gomo Kids

Cheers! Juju & Me.






Gomo, nama yang cukup unik di telinga tapi bukan saudaranya Komo ya. Gomo adalah nama desa di Nias Selatan yang jadi tujuanku berikutnya setelah desa Hilinawalo Fau.

Banyak orang-orang yang memperingatkan aku dan Juju untuk tidak pergi ke desa ini. Diyakini oleh beberapa orang, penduduk Desa Gomo masih menganut budaya kanibalisme yang sebenarnya sudah dihapuskan dari lama. Jangankan wisatawan, penduduk Nias saja jarang sekali mengunjungi desa ini karena takut. Wah, aku dan Juju jadi semakin penasaran. Dari hasil surfing di internet, kami mendapatkan info bahwa di Gomo masih tersimpan beberapa batu megalith besar yang bertebaran di halaman rumah. Keren banget kan? Jadi, tanpa menghiraukan himbauan orang-orang tadi, kami pun berangkat ke Gomo.


Untuk mencapai desa ini, lagi-lagi kami hanya bermodalkan tanya-tanya sama penduduk sekitar. Dari peta yang aku dapat, desa ini terletak cukup jauh ke dalam. Perkiraan kami, untuk mencapai desa ini paling lama dibutuhkan 1-1,5 jam. Ternyata dua kali lipatnya, kami menempuh perjalanan 6 jam untuk pergi dan pulang dari Teluk Dalam-Gomo-Teluk Dalam. Dengan masih mengendarai sepeda motor sewaan, kami bertualang ke desa misterius ini.

Dari Teluk Dalam, kita mengambil arah ke utara sampai bertemu pasar pertigaan Lahusa yang biasa disebut Simpang Auge. Papan informasi penunjuk arah menunjukkan kecamatan Gomo. Dari orang sekitar, kami diberitahu untuk mencapai Gomo kurang lebih 9km. Ah, paling sebentar doang (gumam dalam hati), ternyata.......


Simpang Auge



Ternyata jalannya rusak parah :(
9 km pun kami tempuh dalam 1 jam. Lama banget. Lihat gambar dibawah. Yah kurang lebih kondisi jalannya seperti itu. Berbatu, berlubang dan licin. Tapi enggak semuanya, ada juga jalan berbatu yang cukup mulus :)


 Transportasi umum dari Simpang Auge ke Lahusa hanya ada satu jenis yaitu mobil pick up. Mobil ini lah yang mengangkut anak sekolah dan ibu-ibu yang ingin pergi ke pasar.




Walaupun jalannya rusak, kami masih sedikit terhibur dengan cantiknya pemandangan sepanjang perjalanan. Pantat yang udah pegal gak lagi jadi soal habisnya matanya puaaasss banget.



Cantik-cantik kan pemandangannya? :)
Jalannya menembus bukit-bukit, naik turun naik turun. Selama 6 jam perjalanan, aku tetap mengucapkan salam Ya'ahowu kepada penduduk yang berpapasan dengan kita. Mulutku sampai berbuih rasanya, tapi hatinya gembira. Langsung deh kepikiran dalam hati, masa sih penduduk yang ramah-ramah ini suka makan orang? Jangan-jangan kami disenyum-senyumin karena mereka pikir dapat santapan baru. Hahaha.

Mbah Google bilang di Gomo ada 3 situs Megalith yaitu Idanotai, Lahusa Satua dan TunduBaho. Setelah bertanya-tanya kepada penduduk sekitar, kami dianjurkan untuk ke Tundu Baho saja karena tempatnya lebih mudah dicapai dibandingkan dua situs lainnya.

Akhirnya kami pun tiba di salah satu tugu batu yang bertuliskan Kecamatan Gomo. Yeahhhh!!! Senang sekali bisa sampai di Gomo. Kita pun turun sebentar untuk menghilangkan pegal. Lumayan pegal juga ternyata melewati jalan-jalan tadi.



Setelah bertanya-tanya dengan penduduk sekitar arah mana yang akan membawa kami ke Tundu Baho, kami melanjutkan perjalanan mengikuti arahan Bapak tadi. Ternyata jalannya mengarah ke sungai. Aku dan Juju pun mengambil jalan yang lain dan ternyata membawa kami kembali ke tugu batu tadi lagi. Bapak yang tadi membantu pun heran kenapa kami begitu cepat kembali. Ternyata kami salah jalan dan si bapak pun menertawai kami sambil memberikan petunjuk arah yang benar.

Aku dan Juju tidak tahu bahwa untuk menuju desa Tundu Baho itu harus menyeberangi sungai. Kita pikir ada jembatan, ternyata tidak ada. Lah, terus kita bingung bagaimana melintasi sungainya. Gak mungkin motornya ditinggalkan soalnya nanti mau melanjutkan perjalanannya gimana? Pas kita lagi bingung, eh kita lihat ada sepeda motor dengan santainya membelah air sungai, menyeberang dari sisi satu ke sisi yang lainnya. Oooohh, ternyata kita bisa menyeberangi desa ini pakai motor. Sungainya cukup lebar tetapi ada bagian yang airnya dangkal dan bisa dilewati sepeda motor.


Pemandangan menarik lainnya adalah selang warna-warni yang melintang diatas kepala kami. Ternyata itu adalah sumber air bersih masyarakat sekitar. Airnya berasal dari mata air di gunung dan dialirkan ke rumah penduduk lewat selang-selang panjang. Beda banget dengan Jakarta yang berstatus ibukota, penduduk Gomo yang terpencil sangat peduli dengan kebersihan sungai. Mereka sama sekali tidak membuang sampah dan BAB di sungai. Keren  :)

Setelah menyeberang sungai, tantangan berikutnya kami harus melewati tanjakan yang cukup tinggi dan jauh. Karena motornya enggak kuat menanjak dengan dua penumpang, aku pun harus turun dan jalan kaki. Hiks. Nasib.

Sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh, si perut pun berdendang. Saatnya makan siang padahal jam menunjukkan pukul setengah tiga sore. Aku dan Juju mencari tempat dan menemukan pondok petani di tepi jalan. Untuk berjaga-jaga kami tidak menemukan warung makan, kami sudah menyiapkan bekal nasi dan babi kecap. Hehehe. Selamat makan.


Sewaktu makan siang di pondok kecil, ada seorang bapak yang sedang naik motor berhenti di depan kami dan menanyakan asal kami. Bapak itu tahu kami ini orang asing di desa itu. Setelah ngobrol basa-basi, kami baru tahu bahwa Bapak itu adalah kepala desa Lahusa Tua, namanya Ama Ota Turu. Ama Ota pun menanyakan maksud kedatangan kami dan ketika kami menyebutkan kami ingin ke desa Tundu Baho, beliau malah menyarankan untuk ke Lahusa Tua saja. Dari info Ama Ota, desa Tundu Baho sudah kehilangan banyak batu megalith nya dari beberapa tahun yang lalu karena dicuri dan dijual oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sedangkan di Lahusa tua, situsnya masih dijaga dengan baik karena terdapat di pekarangan rumah sang keluarga raja. Tanpa pikir panjang, aku dan Juju pun memutuskan untuk pergi ke Lahusa Tua saja, apalagi guide lokal nya sudah tersedia. :)

Si Ama Ota menanyakan apakah Juju mahir membawa kereta (sepeda motor) nya. Beliau menjelaskan jalanan yang akan kami tempuh sangat berat dan sedang ada perbaikan. Jalanannya akan lebih rusak dari yang kalian lewati kesini. Waduh, langsung ciut mental kita berdua. Tapi Ama Toro menyakinkan kami orang-orang desa pasti bisa membantu kami kalau nanti memang kami tidak bisa melewati medannya. Yuk ke Lahusa Tua. Tunggu cerita selanjutnya di postingan berikutnya ya ;)






Sehabis menikmati keindahan Sorake dan lihat souvenir khas Nias, aku dan Juju melanjutkan perjalanan ke desa asal Ama Bu'ulolo (seniman di cerita sebelumnya) yaitu desa Hilinawalo Fau.

Hilinawalo Fau (dibacanya hilinawale fao) adalah desa kecil di ujung selatan Nias Selatan. Pada masa lampau desa ini merupakan salah satu kampung adat terbesar di Nias Selatan dan tentunya dipimpin oleh Raja. Sayangnya, kekuasaan Raja tidaklah lagi diakui di negara kita yang sudah menjadi Republik ini sehingga rumah raja di Hilinawalo Fau kosong melompong. Oleh karena itu, para keturunan Raja di Hilinawalo Fau memutuskan untuk tinggal di Omo Hada (rumah adat) yang lain.

Baiklah, perjalanan ke Hilinawalo Fau dimulai :)

Dari Teluk Dalam kita bisa naik motor selama kurang lebih 1 jam. Tapi 1 jam bukan sampai ke Hilinawalo Fau ya. Itu hanya sampai jalan aspal terkhir. Hehe. Dari Teluk Dalam kita ikuti terus jalan ke selatan dan nanti ada dua  persimpangan. Persimpangan pertama adalah kiri ke Sorake dan kanan ke Hilinawalo Fau, jadi ambil arah kanan. Lalu nanti ketika ketemu persimpangan kedua ambil arah kiri ya.



Pemandangan sepanjang perjalanan ke Hilinawalo Fau super amaaaaaazziinngggg. Perbukitan hijau menghampar luas di kiri dan kanan jalan. Sensasi jalan yang naik turun membuat kita kayak naik roller coaster. Asiklah pokoknya. Apalagi jalan aspal nya mulus banget.Asooyyy~



Aku dan Juju sama sekali ga punya peta, jadi kita hanya mengandalkan komunikasi dengan penduduk
 lokal. Penduduk lokal nya baik-baik banget, mereka memberikan petunjuk arah yang benar dan mukanya ramah. Berdasarkan arahan mereka, kami pun menemukan batu besar di sebelah kanan jalan yang bertuliskan Ono Hondro dan Hilinawalo Fau. Yaaaap, kita telah sampai di ujung jalan aspal. Jalan berikutnya adalah jalan berbatu. Siap??? Siiaaappppp!!!






Lagi-lagi disaranin untuk naik motor menuju tempat ini. Jarak yang kita tempuh cukup jauh  dan medannya...... seru banget. Masih banyak batu-batu besar yang licin dan treknya naik turun bukit. Masih beruntung bisa dicapai dengan motor, bayangin kalau harus jalan kaki sejauh itu. Butuh seharian kali kalau jalan kaki. Hahaha



Untuk tiba di desa ini, kita akan melewati beberapa desa. Beberapa kali aku dan Juju salah menerka. Kalau lihat sekumpulan rumah dikirain udah sampai di Hilinawalo Fau, eh ternyata bukan. Tanjakan dan turunan jalan berbatu nya membuat kita harus ekstra hati-hati mengendarai motornya. Beberapa kali aku harus turun dari motor dan berjalan kaki beberapa meter jika kami merasa terlalu beresiko untuk melintasi jalan itu sambil berboncengan. Udah tanjakannya cukup terjal, batu-batunya besar dan licin, kalau jatuh ya ga lucu banget. Juju sih udah cukup berpengalaman naik motor dengan jalur-jalur beginian, tapi katanya sih tetap deg-degan. Hahahaha.

Di tengah jalan, seorang turis paruh baya yang kebetulan menuju Hilinawalo Fau sendirian naik motor bebek menyapa kami. Karena tujuan kami sama, kami pun jalan beriringan tanpa berkenalan terlebih dahulu.Aku sempat menertawai om-om bule ini karena bawa motornya canggung banget dan  memang gak terlalu pas badannya tegap besar bawa motor bebek kecil. Apalagi dengan jalur yang berbatu licin. Puji Tuhan dia bisa sampai dengan selamat. Fyuh~

Penduduk lokal di Hilinawalo Fau banyak beternak babi. Hmm, mayoritas penduduk Nias memang memelihara babi karena itulah makanan khas sekaligus hartanya. Selama perjalanan, aku mengucapkan salam Ya'ahowu kepada penduduk yang sedang merumput untuk babinya. Jadi bukan seperti di daerah lain yang ternak babinya suka dikasih makan kotoran, disini babi nya jadi vegetarian karena makanannya adalah sayur-sayur yang dimasak. Hihihi. Tapi tidak semuanya terbuat dari sayuran, bekas makan si tuannya pun dicampur ke dalam makanan si ternak.

Bapaknya centil ya? Hehehe.

 
Berhasil melewati jalanan terjal sampai pantat nyeri, akhirnya kita tiba juga di Hilinawalo Fau. Setelah memarkirkan motor kita menitipkan carrier di warung dekat pintu masuk desa. Yang kami bawa ke atas cukup kamera dan air mineral saja biar ringan. Lalu aku pun mengajak kenalan si turis dengan bahasa Inggris, eh dia membalasnya dengan bahasa Indonesia. Ooops, jadi malu. Ternyata dia sudah tinggal di Indonesia selama 20 tahun dan bekerja di Jakarta. Pantes bahasa Indonesianya udah lancar banget. Namanya Chris Paul, seorang pengusaha dan fotografer.  Kami jadi seperti trio fotografer yang masuk desa nenteng-nenteng kamera :p. Paul juga dengan ramahnya menawarkan aku untuk memakai lensanya karena kamera kami merknya sama, tapi aku tolak dengan halus. Lensaku masih cukup bagus kok. Hehehe.





Karena kami tiba di Hilinawalo Fau sudah sore, pemandangan yang kami dapatkan adalah anak-anak yang sudah mandi dan wangi, bermain berkelompok. Para ibu-ibu berkumpul sambil bergosip haha hihi. Para bapak-bapak bersantai depan rumah sambil mengunyah sirih. Hebatnya di kampung ini aku menemukan warung billiard. Jadi ada satu rumah yang lantai bawahnya dipakai untuk jadi warung billiard gitu yang dipadati  bujangan-bujangan. Anak gadisnya justru malu-malu. Begitu melihat orang asing, mereka menyumput di dalam rumah dan mengintip dari teras atas. Beda dengan anak-anak kecilnya yang begitu melihat kami bertiga langsung datang memberondong kami dengan permintaan untuk difoto, gak laki, gak perempuan. Hihihihi, adek-adeknya centil-centil banget yah. Tapi aku justru senang karena mereka menyambut kami dengan riang gembira. \m/









Kami bertiga pun berpencar mencari objek foto masing-masing. Cukup lama aku berkeliling dan mengambil potret anak-anak Nias yang super lucu ini. Tapi mereka ngikutin aku terus kemana-mana. Jadi agak repot juga sih mau motret rumah-rumahnya karena anak-anaknya rebutan ber"peace" ria di depan lensa. Hahaha. :D Akhirnya Juju yang turun tangan buat ajak anak-anak tadi pindah ke tempat lain, jadi aku bisa bebas motret. Yeah!

Salah satu yang membuat aku tertarik adalah wajah anak perempuan yang cantik di desa ini. Salah satunya bernama Winnie. Aku terkejut sekaligus senang karena nama kami sama, apalagi anaknya cantik banget. Hehehe. Mamanya juga gak kalah cantik dan super ramah padaku. Bahasa Indonesia si Tante pun sudah lancar dan membuat komunikasi diantara kami berlangsung seru. Ohya, teman-teman harus tahu bahwa beberapa penduduk desa terpencil di Nias masih susah berbahasa Indonesia karena kebanyakan tidak mengenyam bangku sekolah.


Gadis kecil berbaju cina ini namanya Winnie. Hello lil sister :D


Seperti biasanya, rumah adat selalu menjadi daya tarik suatu daerah. Teman-teman harus tahu bahwa Omo Sebua (Rumah Raja) di Nias selalu terletak di bagian tengah kampung. Tetapi dari semua desa yang memiliki Omo Sebua, hanya Hilinawalo Fau yang memiliki batu megalith hitam setinggi kurang lebih 6 meter di halamannya. Kata penduduk lokal, batu itu datang dari tempat yang jauh dan dibawa dari laut. Selain itu ada batu karang besar yang dulunya dijadikan tempat duduk raja saat menentukan hukuman mati kepada penduduk yang bersalah. Seram juga hukuman zaman dulu ya, hukumannya masih hukum pancung mati. Beda banget ama Indonesia zaman sekarang, hukuman bisa dibeli kayak lirik lagu Gayus Tambunan :p. Omo Sebua di Hilinawalo Fau sudah dipugar oleh pemerintah daerah karena sudah lapuk dan tidak dirawat oleh pemilik aslinya.







Ini batu karang pengadilannya.


Walaupun rumah adat selalu menarik, bagian terbaik dari mengunjungi Nias adalah lompat batu nya. Yang akan melompat kali ini adalah seorang remaja laki-laki berusia 18 tahun dan ternyata pakaian adat Nias Selatan tidak sama semua. Corak nya berbeda dengan pakaian adat yang dipakai pelompat batu di Bawomataluo. Hanya warna nya yang masih sama, tetap kuning, merah dan hitam. Beruntungnya kali ini aku dan Juju ditraktir Paul untuk melihat pertunjukan Lompat Batu Gratis lagi~ Jadi tinggal menikmati memotretnya saja. Terima kasih Paul, anda baik sekali. May God bless you always :)



Langkah-langkah pemuda melakukan Lompat Batu.

 
Selain sisi tradisionalnya, hal yang menarik dari desa ini adalah modernisasi mereka. Aku pikir karena desa ini cukup susah untuk diakses dari pusat kota, para penduduknya masih hidup sederhana tanpa listrik dan gadget. Ternyata yang aku dapatkan  adalah desa yang sudah cukup modern dimana rata-rata penduduknya memakai handphone yang up to date walaupun bukan blackberry/iphone. Selain itu, desa ini juga sudah menggunakan pembangkit listrik tenaga surya, punya TV dan beberapa barang elektronik rumah tangga lainnya. Ditambah lagi dengan meja billiard yang aku ceritakan tadi. Desa yang cukup menarik tapi sekaligus kehilangan sedikit daya tariknya karena mereka ternyata sudah hidup layaknya orang kota.



Rumah ini nih yang ada meja Billiard nya. Tempat para bujang-bujang ngumpul :)

 
Kami meninggalkan desa ini sekitar pukul lima sore. Di parkiran kami bertemu dengan kakek dan nenek yang sedang nyirih sambil duduk-duduk santai. Mereka baru saja pulang dari ladang karena menjinjing tumpukan sayur diatas kepala. Kami berhenti sebentar dan ngobrol sekitar 10 menit baru berpamitan. Kami diantar dengan lambaian dan senyuman merekah. Senangnyaaahhh.


Winnie 1 dan Winnie 2



Bapaknya baru pulang dari hutan.



Dua perempuan cantik Nias :)



Senja yang indaaaaahhh sekali <3


Tips :

1. Cek kondisi kendaraan sebelum berangkat ke desa ini. Jalanan nya cukup ekstrem sehingga membuat kita harus ekstra hati-hati membawa motor. Bisa juga sebenarnya menyewa mobil untuk menuju desa ini, tapi cukup mahal dan kemungkinan susah untuk mendapatkan mobil yang mau masuk kesini.
2. Semua anak-anak pasti suka permen. Bisalah kita mengunjungi desa ini dengan membawa permen untuk dibagikan ke anak-anak. Masyarakatnya pun pasti akan lebih senang menyambut kita. 
3.  Biaya yang akan kita keluarkan disini adalah jika kita ingin melihat pertunjukan lompat batu (Rp.50000,-) dan biaya parkir motor (Rp.5000,-)
4. Jangan lupa untuk selalu senyum dan mengucapkan salam Ya’ahowu kepada penduduk sekitar.