Mie Gomak

Dari dulu hingga sekarang, aku suka sekali makan Mi Gomak, mie kuning gendut yang disiram kuah kacang dan ditaburin kerupuk, bawang goreng dan irisan kol. Mungkin ada beberapa makanan yang sejenis di daerah lain tapi namanya bukan Mi Gomak. Karena aku berasal dari Sumatera Utara, aku mengenal makanan ini dengan nama Mi Gomak. Harganya waktu SD dulu masih seribu / seceng satu bungkusnya. Sekarang sih sekitar 5000/6000 rupiah per porsinya.

Mi Gomak sendiri itu diambil dari nama apa sih?
Nama orang yang jual pertama kali? 
Nama jalan tempat pertama kali Mi Gomak dijual?
Nama kampung asal pembuatan Mi Gomak?

Heeee, salah semua. :p
Yang benar, makanan ini disebut Mi Gomak karena dimakan pakai tangan. Istilahnya di kampungku ya di"gomak". Ambil mienya setangkup tangan terus masukin semuanya ke mulut. Itulah asal mula nama makanan ini.

Cara makan yang baik benar, di"gomak" :p

Mie Gomak memang enak dimakan dengan cara di"gomak". Kuah kacang yang dituangkan diatas mie membuat mie nya seperti berkuah kental dan ketika setangkup mie dimasukkan ke dalam mulut, rasanya meleleh di mulut. Memang lebih enak dimakan sekaligus banyak pakai tangan dibandingkan pakai sendok garpu.

Terakhir makan Mie Gomak di Jembatan Kolang sewaktu mau perjalanan dari Sibolga ke Barus, Sumatera Utara. Bou (panggilan untuk tante di Batak) yang menjual Mi Gomaknya ramah sekali dan telaten melayani seluruh pembelinya. Rasa Mi Gomak yang beliau jual juga maknyos apalagi ditambah telur rebus dan minumnya teh manis hangat. Yum Yum Yum...

Bou penjual Mie Gomak. Mienya juga di"gomak" ke piring. (tenang, tangannya dicuci dulu kok)


Kedai Kecil Mie Gomak di Kolang

Kalau berkunjung ke Sumatera Utara, teman-teman wajib nyicipin Mie Gomak ini. Tapi, jangan lupa cuci tangan sebelum makan yaaa :)

Catet resepnya. Hehehe. Setiap travelling wajib bawa buku kecil untuk nyatet. :)



PULAU ONRUST


Berlayar.
Apa yang terbersit di pikiran teman-teman?
Pasti  teman-teman langsung kepikiran naik perahu kayu seperti yang dipakai nenek moyang kita dahulu kan?

Zaman udah berkembang sob. Sekarang kapal layar sudah lebih modern. Kami berlayar menggunakan kapal kecil yang terbuat dari fiber dan dinamakan Yacht. Kapal layar (ada mesin motornya juga kok) yang mampu menampung 8-10 penumpang (termasuk Nahkoda & ABK) ini dinamakan CANDOLA. Kata nahkodanya sih, Candola diartikan sebagai “Can Do Anything Laaa” , jadi semacam Singlish (Singapore English) gitu. Hehehe.




Peserta layar kali ini kebetulan senior-seniorku di MAPALA UI dan WANADRI. Ada Bang Syamsirwan Ichien, Bang Ucup, Bang Fahmi dan nahkodanya sendiri, Bang Sugi Berkah Jatmiko. Bersama dengan dua orang ABK, Bang Lutfi dan Bang Dion, kami berencana untuk berlayar menuju Pulau Onrust. Pulau Onrust sendiri adalah salah satu pulau yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Seribu.Letaknya tidak jauh dari Pulau Bidadari.


Salah satu senior (toku kesayangan) Bang Syamsirwan Ichien 

Cuaca Jakarta hari itu gerimis sendu. Rintik-rintik kecil dengan angin sedang tetapi cukup kencang untuk mendorong layar kapal. Namanya juga kapal layar, tenaga utamanya ya angin. Dengan lihai, Bang Sugi dan ABK santai mengarahkan kemudi kapal. Selama berlayar kita bercengkerama, ketawa-ketiwi sambil menikmati pemandangan kota Jakarta yang semakin mengecil. Waktu itu aku satu-satunya perempuan, tapi asik-asik aja karena abang-abang ini benar-benar menyenangkan dan ngemong aku. Hihihihi.




Berhenti sebentar di Pulau Bidadari, gak nyampe 10 menit kita udah beranjak lagi karena ternyata untuk sandar di dermaga Pulau Bidadari cukup mahal dan makanannya relatif mahal. Salahnya kita ya gak bawa makan siang sendiri jadi agak kewalahan mencari warung di pulau mana yang masih nyediain makanan.  Saat itu pengunjungnya sangat sedikit karena weekdays dan Pulau Onrust bukan termasuk pulau favorit di Kep.Seribu seperti P.Pramuka, P.Tidung, P. Untung Jawa dll. Oleh penjaga di Pulau Bidadari kita diberikan info ada warung makan kecil di Pulau Onrust. Menu nya ya menu warteg. Ah, peduli apa soal menu, yang penting bisa mengisi perut kan?


Makan siang di Warteg Pulau Onrust

Jam menunjukkan pukul 2 lewat. Kami merapatkan Candola di dermaga Pulau Onrust dan kelihatan beberapa bapak yang sedang memancing di dermaga.Tak perlu dikomando, dengan sigap semua langsng menuju warung makan satu-satunya di Pulau Onrust. Setelah makan dengan nasi dan lauk, perut kami kenyang, hati senang. Kami pun memulai eksplorasi Pulau Onrust.

Ki-Ka : Bang Ucup, Bang Sugi, Aku, Bang Fahmi, Bang Ichien



Pulau Onrust sendiri (dari Wikipedia) berasal dari bahasa Belanda yang berarti tidak pernah beristhirahat atau dalam bahasa inggris disebutnya “Unrest”. Kok gak pernah isthirahat? Nah, sejarahnya,Pulau Onrust adalah pulau persinggahan semua kapal-kapal asing sebelum sandar di Batavia (sekarang namanya Jakarta) dan dijuluki sebagai Pulau Kapal. Dermaga di pulau ini dibangun pada tahun 1615. Pulau ini selalu sibuk kedatangan banyak kapal-kapal besar dan tidak pernah beristhirahat.



Museum Onrust


Dulunya di pulau Onrust inilah para kompeni  melakukan aktivitas bongkar muat logistik perang. Onrust juga pernah dijadikan sebagai pelabuhan VOC sebelum dipindahkan ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Pantas banyak peninggalan  Belanda di pulau ini seperti rumah yang dijadikan Museum Onrust dan beberapa kuburan Belanda tua.







Info lain yang aku dapat adalah, sekitar tahun 1911, pulau ini dijadikan sebagai barak karantina haji yang akan berangkat dengan kapal ke Arab Saudi. Istilahnya sekarang itu Asrama Haji. Loh, kok karantinanya di Pulau? Alasan mereka dikarantina di pulau ternyata agar para calon haji ini terbiasa dengan udara laut. Bayangkan saja berapa lama perjalanan yang mereka tempuh ke Arab Saudi dengan kapal. Bisa berbulan-bulan loh. Sekarang mah sudah enak kalau mau naik haji bisa terbang pakai pesawat. Hebat sekali ya calon haji zaman dulu. Persiapan fisik, mental dan logistiknya pasti benar-benar matang.




Cuaca di Pulau Onrust sore itu sejuk sekali. Pepohonan besar yang hijau nan rindang membantu menangkal sinar matahari. Jalan setapak di Onrust ditumbuhi lumut, jadi kelihatannya seperti berjalan di rumput. Sambil foto-foto, kami mencermati tulisan-tulisan pada papan informasi objek yang ada di Pulau Onrust. Walaupun dulu ada banyak bangunan barak di Pulau Onrust, sekarang yang tersisa hanya reruntuhannya. Museum Onrust adalah salah satu bangunan yang masih utuh, tapi sayangnya hari itu tutup.




Puas mengelilingi Pulau Onrust, kami pun memutuskan untuk kembali ke dermaga Marina Batavia, tempat Candola diparkirkan. Untuk mempersingkat waktu, motor kapal pun dihidupkan. Ketika bayang-bayang bangunan tinggi menjulang di tepian Jakarta sudah mulai terlihat, mesinnya mati. ZONK!

Awalnya kita masih ketawa-ketiwi dan optimis bahwa itu bukanlah suatu kendala yang besar. Toh ada layar. Bang Sugi dan ABK pun melakukan pengecekan mesin dan ternyata mesinnya tidak bisa diperbaiki karena karet mesinnya putus. Semuanya serentak pucat pasi. Angin pun tiada  berhembus sehingga layar sama sekali tidak terkembang. Langit mulai gelap dan samar-samar kulihat semua abang-abang berpikir keras bagaimana caranya pulang ke darat.

Sang nahkoda, Bang Sugi tetap menenangkan kami dengan berkata pasti akan ada angin yang cukup kencang untuk menggerakkan layar Candola. Nyatanya hingga senja berganti menjadi semaraknya lampu ibukota, angin belum juga berhembus.

Tapi, bukan anak Mapala kalau masalah sekecil itu saja sudah membuat panik. Kami tetap membawa semuanya santai, menghilangkan pikiran-pikiran buruk dari kepala kami dan bergurau tiada habisnya. Saat lagi asyik-asyiknya bercengkarama, si angin mulai berhembus cukup kencang, layar terkembang dan akhirnya kami bisa pulang.Puji Tuhaan kami tiba di dermaga dengan sehat dan selamat.



Pengalaman berlayar nya tentu saja super menyenangkan dan bikin ketagihan. Terima kasih banyak untuk ajakan Bang Sugi berlayar ke Pulau Onrust. Belakangan ini aku mendengar kabar kalau si Nahkoda ciamik, Bang Sugi, mengadakan kegiatan yang dinamakan “Ayo Berlayar”. Teman-teman yang tertarik untuk layar ke Pulau Onrust bisa menghubungi lewat acc Twitter @AyoBerlayar. Disitu teman-teman bisa reservasi untuk ikut sail with no charge alias gratis tis tis. 

Syaratnya cuma satu, bawa makan siang sendiri-sendiri ya dan kalau bisa sih bawain buat nahkoda sama ABK nya. Hehehe. Anggap aja ucapan terima kasih ke mereka.
Aku pribadi senang banget dengan kegiatan Ayo Berlayar ini karena mau dengan sukarela memperkenalkan kegiatan berlayar secara gratis. Selain itu kegiatan ini juga menumbuhkan kecintaan dan kepedulian anak muda  terhadap potensi maritim Indonesia. 

Nah, setelah baca artikel ini teman-teman ada yang mau coba? Mention aja nahkodanya di Twitter. Hehe. Happy Sailing!!


Nahkodanya yang baju putih ya. Bang Sugi :)






Salah satu makanan favoritku adalah Babi Goreng dan orang Batak termasuk salah satu suku yang pandai mengolah masakan Babi.

Di Sibolga ada Rumah Makan yang menyajikan Babi Goreng yang super enak. Harga per porsinya cuma sekitar Rp.17.000,-

Kulit luar dari Babi goreng ini renyah dan pas digigit rasanya lumer di dalam mulut. Dimakan sama nasi panas mengepul pasti yummy banget. Ditambah mereka menyajikan cabe rawit yang digiling bareng Andaliman. Pedesnya sampai bikin bibir dower. Yum Yum Yum :9

Alamatnya ada di Jalan Sibolga-Medan, Sibolga Julu. Agak sedikit lupa sih nama RM nya. *buka hp* *sms mama*. Yang jelas sih semua orang Sibolga kenal nya ini Babi Goreng Sibolga Julu. Hehehe. Kalau mau ke luar dari kota Sibolga, RM ini ada di sebelah kanan jalan.

Kalau pulang ke Sibolga aku pasti makan Babi ini. Wajib! Tapi saking enaknya sering kehabisan Babi Gorengnya. Hehehe.

Pokoknya yang mau wisata ke Sibolga jangan lupa nyicipin Babi Goreng ini ya :)