Friday, December 21, 2012

"Mi Gomak, mie kuning kuah kacang khas Sumatera Utara"

Friday, December 21, 2012 3 Comments

Mie Gomak

Dari dulu hingga sekarang, aku suka sekali makan Mi Gomak, mie kuning gendut yang disiram kuah kacang dan ditaburin kerupuk, bawang goreng dan irisan kol. Mungkin ada beberapa makanan yang sejenis di daerah lain tapi namanya bukan Mi Gomak. Karena aku berasal dari Sumatera Utara, aku mengenal makanan ini dengan nama Mi Gomak. Harganya waktu SD dulu masih seribu / seceng satu bungkusnya. Sekarang sih sekitar 5000/6000 rupiah per porsinya.

Mi Gomak sendiri itu diambil dari nama apa sih?
Nama orang yang jual pertama kali? 
Nama jalan tempat pertama kali Mi Gomak dijual?
Nama kampung asal pembuatan Mi Gomak?

Heeee, salah semua. :p
Yang benar, makanan ini disebut Mi Gomak karena dimakan pakai tangan. Istilahnya di kampungku ya di"gomak". Ambil mienya setangkup tangan terus masukin semuanya ke mulut. Itulah asal mula nama makanan ini.

Cara makan yang baik benar, di"gomak" :p

Mie Gomak memang enak dimakan dengan cara di"gomak". Kuah kacang yang dituangkan diatas mie membuat mie nya seperti berkuah kental dan ketika setangkup mie dimasukkan ke dalam mulut, rasanya meleleh di mulut. Memang lebih enak dimakan sekaligus banyak pakai tangan dibandingkan pakai sendok garpu.

Terakhir makan Mie Gomak di Jembatan Kolang sewaktu mau perjalanan dari Sibolga ke Barus, Sumatera Utara. Bou (panggilan untuk tante di Batak) yang menjual Mi Gomaknya ramah sekali dan telaten melayani seluruh pembelinya. Rasa Mi Gomak yang beliau jual juga maknyos apalagi ditambah telur rebus dan minumnya teh manis hangat. Yum Yum Yum...

Bou penjual Mie Gomak. Mienya juga di"gomak" ke piring. (tenang, tangannya dicuci dulu kok)


Kedai Kecil Mie Gomak di Kolang

Kalau berkunjung ke Sumatera Utara, teman-teman wajib nyicipin Mie Gomak ini. Tapi, jangan lupa cuci tangan sebelum makan yaaa :)

Catet resepnya. Hehehe. Setiap travelling wajib bawa buku kecil untuk nyatet. :)



Thursday, December 6, 2012

Yuk berlayar ke Pulau Onrust dengan Candola!!!

Thursday, December 06, 2012 10 Comments

PULAU ONRUST


Berlayar.
Apa yang terbersit di pikiran teman-teman?
Pasti  teman-teman langsung kepikiran naik perahu kayu seperti yang dipakai nenek moyang kita dahulu kan?

Zaman udah berkembang sob. Sekarang kapal layar sudah lebih modern. Kami berlayar menggunakan kapal kecil yang terbuat dari fiber dan dinamakan Yacht. Kapal layar (ada mesin motornya juga kok) yang mampu menampung 8-10 penumpang (termasuk Nahkoda & ABK) ini dinamakan CANDOLA. Kata nahkodanya sih, Candola diartikan sebagai “Can Do Anything Laaa” , jadi semacam Singlish (Singapore English) gitu. Hehehe.




Peserta layar kali ini kebetulan senior-seniorku di MAPALA UI dan WANADRI. Ada Bang Syamsirwan Ichien, Bang Ucup, Bang Fahmi dan nahkodanya sendiri, Bang Sugi Berkah Jatmiko. Bersama dengan dua orang ABK, Bang Lutfi dan Bang Dion, kami berencana untuk berlayar menuju Pulau Onrust. Pulau Onrust sendiri adalah salah satu pulau yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Seribu.Letaknya tidak jauh dari Pulau Bidadari.


Salah satu senior (toku kesayangan) Bang Syamsirwan Ichien 

Cuaca Jakarta hari itu gerimis sendu. Rintik-rintik kecil dengan angin sedang tetapi cukup kencang untuk mendorong layar kapal. Namanya juga kapal layar, tenaga utamanya ya angin. Dengan lihai, Bang Sugi dan ABK santai mengarahkan kemudi kapal. Selama berlayar kita bercengkerama, ketawa-ketiwi sambil menikmati pemandangan kota Jakarta yang semakin mengecil. Waktu itu aku satu-satunya perempuan, tapi asik-asik aja karena abang-abang ini benar-benar menyenangkan dan ngemong aku. Hihihihi.




Berhenti sebentar di Pulau Bidadari, gak nyampe 10 menit kita udah beranjak lagi karena ternyata untuk sandar di dermaga Pulau Bidadari cukup mahal dan makanannya relatif mahal. Salahnya kita ya gak bawa makan siang sendiri jadi agak kewalahan mencari warung di pulau mana yang masih nyediain makanan.  Saat itu pengunjungnya sangat sedikit karena weekdays dan Pulau Onrust bukan termasuk pulau favorit di Kep.Seribu seperti P.Pramuka, P.Tidung, P. Untung Jawa dll. Oleh penjaga di Pulau Bidadari kita diberikan info ada warung makan kecil di Pulau Onrust. Menu nya ya menu warteg. Ah, peduli apa soal menu, yang penting bisa mengisi perut kan?


Makan siang di Warteg Pulau Onrust

Jam menunjukkan pukul 2 lewat. Kami merapatkan Candola di dermaga Pulau Onrust dan kelihatan beberapa bapak yang sedang memancing di dermaga.Tak perlu dikomando, dengan sigap semua langsng menuju warung makan satu-satunya di Pulau Onrust. Setelah makan dengan nasi dan lauk, perut kami kenyang, hati senang. Kami pun memulai eksplorasi Pulau Onrust.

Ki-Ka : Bang Ucup, Bang Sugi, Aku, Bang Fahmi, Bang Ichien



Pulau Onrust sendiri (dari Wikipedia) berasal dari bahasa Belanda yang berarti tidak pernah beristhirahat atau dalam bahasa inggris disebutnya “Unrest”. Kok gak pernah isthirahat? Nah, sejarahnya,Pulau Onrust adalah pulau persinggahan semua kapal-kapal asing sebelum sandar di Batavia (sekarang namanya Jakarta) dan dijuluki sebagai Pulau Kapal. Dermaga di pulau ini dibangun pada tahun 1615. Pulau ini selalu sibuk kedatangan banyak kapal-kapal besar dan tidak pernah beristhirahat.



Museum Onrust


Dulunya di pulau Onrust inilah para kompeni  melakukan aktivitas bongkar muat logistik perang. Onrust juga pernah dijadikan sebagai pelabuhan VOC sebelum dipindahkan ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Pantas banyak peninggalan  Belanda di pulau ini seperti rumah yang dijadikan Museum Onrust dan beberapa kuburan Belanda tua.







Info lain yang aku dapat adalah, sekitar tahun 1911, pulau ini dijadikan sebagai barak karantina haji yang akan berangkat dengan kapal ke Arab Saudi. Istilahnya sekarang itu Asrama Haji. Loh, kok karantinanya di Pulau? Alasan mereka dikarantina di pulau ternyata agar para calon haji ini terbiasa dengan udara laut. Bayangkan saja berapa lama perjalanan yang mereka tempuh ke Arab Saudi dengan kapal. Bisa berbulan-bulan loh. Sekarang mah sudah enak kalau mau naik haji bisa terbang pakai pesawat. Hebat sekali ya calon haji zaman dulu. Persiapan fisik, mental dan logistiknya pasti benar-benar matang.




Cuaca di Pulau Onrust sore itu sejuk sekali. Pepohonan besar yang hijau nan rindang membantu menangkal sinar matahari. Jalan setapak di Onrust ditumbuhi lumut, jadi kelihatannya seperti berjalan di rumput. Sambil foto-foto, kami mencermati tulisan-tulisan pada papan informasi objek yang ada di Pulau Onrust. Walaupun dulu ada banyak bangunan barak di Pulau Onrust, sekarang yang tersisa hanya reruntuhannya. Museum Onrust adalah salah satu bangunan yang masih utuh, tapi sayangnya hari itu tutup.




Puas mengelilingi Pulau Onrust, kami pun memutuskan untuk kembali ke dermaga Marina Batavia, tempat Candola diparkirkan. Untuk mempersingkat waktu, motor kapal pun dihidupkan. Ketika bayang-bayang bangunan tinggi menjulang di tepian Jakarta sudah mulai terlihat, mesinnya mati. ZONK!

Awalnya kita masih ketawa-ketiwi dan optimis bahwa itu bukanlah suatu kendala yang besar. Toh ada layar. Bang Sugi dan ABK pun melakukan pengecekan mesin dan ternyata mesinnya tidak bisa diperbaiki karena karet mesinnya putus. Semuanya serentak pucat pasi. Angin pun tiada  berhembus sehingga layar sama sekali tidak terkembang. Langit mulai gelap dan samar-samar kulihat semua abang-abang berpikir keras bagaimana caranya pulang ke darat.

Sang nahkoda, Bang Sugi tetap menenangkan kami dengan berkata pasti akan ada angin yang cukup kencang untuk menggerakkan layar Candola. Nyatanya hingga senja berganti menjadi semaraknya lampu ibukota, angin belum juga berhembus.

Tapi, bukan anak Mapala kalau masalah sekecil itu saja sudah membuat panik. Kami tetap membawa semuanya santai, menghilangkan pikiran-pikiran buruk dari kepala kami dan bergurau tiada habisnya. Saat lagi asyik-asyiknya bercengkarama, si angin mulai berhembus cukup kencang, layar terkembang dan akhirnya kami bisa pulang.Puji Tuhaan kami tiba di dermaga dengan sehat dan selamat.



Pengalaman berlayar nya tentu saja super menyenangkan dan bikin ketagihan. Terima kasih banyak untuk ajakan Bang Sugi berlayar ke Pulau Onrust. Belakangan ini aku mendengar kabar kalau si Nahkoda ciamik, Bang Sugi, mengadakan kegiatan yang dinamakan “Ayo Berlayar”. Teman-teman yang tertarik untuk layar ke Pulau Onrust bisa menghubungi lewat acc Twitter @AyoBerlayar. Disitu teman-teman bisa reservasi untuk ikut sail with no charge alias gratis tis tis. 

Syaratnya cuma satu, bawa makan siang sendiri-sendiri ya dan kalau bisa sih bawain buat nahkoda sama ABK nya. Hehehe. Anggap aja ucapan terima kasih ke mereka.
Aku pribadi senang banget dengan kegiatan Ayo Berlayar ini karena mau dengan sukarela memperkenalkan kegiatan berlayar secara gratis. Selain itu kegiatan ini juga menumbuhkan kecintaan dan kepedulian anak muda  terhadap potensi maritim Indonesia. 

Nah, setelah baca artikel ini teman-teman ada yang mau coba? Mention aja nahkodanya di Twitter. Hehe. Happy Sailing!!


Nahkodanya yang baju putih ya. Bang Sugi :)



Monday, December 3, 2012

Babi Goreng Sibolga

Monday, December 03, 2012 5 Comments



Salah satu makanan favoritku adalah Babi Goreng dan orang Batak termasuk salah satu suku yang pandai mengolah masakan Babi.

Di Sibolga ada Rumah Makan yang menyajikan Babi Goreng yang super enak. Harga per porsinya cuma sekitar Rp.17.000,-

Kulit luar dari Babi goreng ini renyah dan pas digigit rasanya lumer di dalam mulut. Dimakan sama nasi panas mengepul pasti yummy banget. Ditambah mereka menyajikan cabe rawit yang digiling bareng Andaliman. Pedesnya sampai bikin bibir dower. Yum Yum Yum :9

Alamatnya ada di Jalan Sibolga-Medan, Sibolga Julu. Agak sedikit lupa sih nama RM nya. *buka hp* *sms mama*. Yang jelas sih semua orang Sibolga kenal nya ini Babi Goreng Sibolga Julu. Hehehe. Kalau mau ke luar dari kota Sibolga, RM ini ada di sebelah kanan jalan.

Kalau pulang ke Sibolga aku pasti makan Babi ini. Wajib! Tapi saking enaknya sering kehabisan Babi Gorengnya. Hehehe.

Pokoknya yang mau wisata ke Sibolga jangan lupa nyicipin Babi Goreng ini ya :)

Wednesday, November 14, 2012

Gomo, Desa-desa paling menakutkan di Nias - 2

Wednesday, November 14, 2012 4 Comments

Kami melanjutkan perjalanan menuju desa Lahusa Tua dipandu oleh Ama Ota Turu.
Jalanannya masih sama, berbatu dan berlubang. Beberapa waktu kemudian, kami pun tiba di jalan kecil yang sedang diperbaiki. Ada beberapa pekerja yang sedang menabur batu, memanaskan aspal dan menyirami aspal. Jalan nya menanjak dan tentu saja dipenuhi batu kerikil. Melihat tanjakannya, aku memutuskan untuk turun dan membiarkan Juju mengendarai motor sendirian keatas.

Ama Ota Turu berhasil melewati jalan tersebut dengan mulus dan Juju dengan mantap ikut di belakangnya. Tiba-tiba motor Juju oleng tetapi tertahan oleh kakinya Ju. Juju turun dari motor dan menggas motornya, tetapi kerikil yang licin itu malah beterbangan kesana-kemari dan aku pun  menjauh. Akhirnya dengan bantuan beberapa pekerja jalan dan Ama Ota, motornya berhasil melewati tanjakan itu. Aku jadi was-was nanti pas pulangnya gimana ya?

Mukanya sampai pada berkerut semua. Tanjakannya ekstrim kan?

Kemudian, kami pun melewati jalanan kecil yang hanya bisa dilewati oleh satu motor. Desa Lahusa Tua ini terletak cukup tinggi dan dari atas kita bisa melihat pemandangan hijau membentang lengkap dengan sungai nya.



Tak lama kemudian, kami tiba di suatu gerbang. Ada satu kumpulan kecil rumah-rumah dari kayu dan ada Omo Sebua (Rumah Raja) nya. Yap, kita sudah sampai di situs megalith desa Lahusa Tua.
Aku takjub melihat batu-batu yang begitu besar ada di pekarangan rumah. Batu-batu ini besar, berwarna kehitaman dan berlumut.






Melihat ada sosok asing, seorang bapak pun menghampiri kami, namanya Ama Turu Nduru. Beliau adalah keturunan Raja Fardu Ana'a yang dulu berkuasa di Gomo. Kedua saudaranya yang lain, Ama Febri Nduru dan Ama Yuli Nduru pun tinggal bersama anak istrinya di kompleks ini. Singkat kata, di kompleks ini semuanya memiliki hubungan darah.

Kami disambut dengan sirih dan pinang yang cukup besar. Ohya, karena pinangnya besar, aku sempat sesak napas memakannya. Setelah minum banyak air putih baru deh sesaknya hilang.

Sirih Selamat Datang

Nyirih bareng :D

Geng Sirih :p

 Sambil nyirih, aku pun mengisi buku tamu dan ternyata sudah ada yang pernah mengunjungi situs ini juga, tetapi semuanya orang asing. Jadi kita wisatawan pertama dari Indonesia yang mengunjungi kampung ini. Wihiiiwww.

Persis seperti info yang kami dapat dari Mbah Google, batu-batu megalith ini tersebar di pekarangan rumah. Ada beberapa jenis batu yang bisa kita lihat. Ada batu yang berfungsi jadi alat musik, kursi, meja, tempat menari dan tandu. Hah? Tandu? Aku juga bingung, tandu dibuat dari batu? Yang ngangkat Hercules banget dong ya sanggup ngangkat orang yang duduk diatas tandu batu.

Tandu Batu untuk Putri-Putri/ Istri Raja saat Obasa/Owasa (Pesta adat)

Tandu Batu untuk Raja / Owasa Nene

 

Batu besar yang paling kanan adalah singgasana Raja/Ni Omanu-manu

Tiga Leher/ Osa-Osa

Tiga Leher adalah simbol yang khas dari Nias. Biasa disebut Osa-osa, aku sendiri tidak tahu ini sebenarnya perwujudan apa. Ada yang bilang perwujudan tiga harimau, tiga ular, tiga naga, tiga anjing. Tapi aku menganggapnya tiga naga. Hehehehe.

Batu-batu bulat lebar itu ada yang berfungsi sebagai alas menari para putri dan ratu untuk menghormati orang tua, mertua dan para pamannya. Orang Nias menyebutnya Ni Ogadi.

Batu yang berfungsi sebagai singgasana raja disebut Ni Omanu-manu. Batu itu akan dipanjat oleh sang Raja dan berbicara kepada rakyat yang berkumpul melingkar dibawahnya.

Batu bulat lebar yang paling besar berfungsi sebagai alat musik. Mereka menyebutnya Batu Gong. Awalnya aku gak percaya batu sebesar dan seberat itu bisa mengeluarkan suara. Setelah dicoba, bunyinya merdu sekali. Makin terkagum-kagum deh.

 Batu Gong yang bisa mengeluarkan bunyi merdu

Setelah mengobrol tentang batu-batu megalith tadi, aku menuju Omo Sebua yang ada di tengah. Aku menemukan Omo Sebua yang berbeda dari Bawomataluo dan Hilinawalo Fau. Omo Sebua yang biasanya dihiasi oleh ukiran-ukiran merah dan hitam, kali ini didominasi oleh pahatan kayu coklat muda.


Ukiran-ukiran di tiang Omo Sebua

Ama Turu pun bercerita bahwa semua batu besar di komplek itu memiliki 1 buah kepala sebagai tumbalnya. Tidak ada yang tahu batu ini berasal dari mana. Ama hanya berkata bahwa Raja Gomo mengumpulkan batu besar sebagai pertanda dia lebih unggul dibandingkan raja-raja yang lainnya. Beliau juga mengakui dulu Gomo memang terkenal kanibal untuk membuktikan kejantanan lelaki desa itu dan tentunya untuk dijadikan tumbal batu-batu koleksi Raja Gomo. Kepala-kepala tersebut juga ada yang disimpan di dalam kotak batu. Sayangnya, tengkorak-tengkorak nya sudah dicuri orang.

Batu untuk menyimpan tengkorak


Hari sudah sore, saatnya kami pulang. Terima kasih untuk Ama Ota Turu dan penduduk Gomo yang super ramah. Aku dan Juju sudah membuktikan bahwa kami sehat selamat dan tidak dimakan oleh orang Gomo. Hehehehe :) Jadi, julukan Gomo sebagai desa paling menakutkan di Nias hanyalah isu belaka. Silahkan mengunjungi Gomo, teman-teman.

Ki-Ka : Ama Ota Turu, saya, Ama Turu Nduru, Ama Febri Nduru


The Gomo Kids

Cheers! Juju & Me.


Gomo, Desa-desa yang paling menakutkan di Nias - 1

Wednesday, November 14, 2012 3 Comments




Gomo, nama yang cukup unik di telinga tapi bukan saudaranya Komo ya. Gomo adalah nama desa di Nias Selatan yang jadi tujuanku berikutnya setelah desa Hilinawalo Fau.

Banyak orang-orang yang memperingatkan aku dan Juju untuk tidak pergi ke desa ini. Diyakini oleh beberapa orang, penduduk Desa Gomo masih menganut budaya kanibalisme yang sebenarnya sudah dihapuskan dari lama. Jangankan wisatawan, penduduk Nias saja jarang sekali mengunjungi desa ini karena takut. Wah, aku dan Juju jadi semakin penasaran. Dari hasil surfing di internet, kami mendapatkan info bahwa di Gomo masih tersimpan beberapa batu megalith besar yang bertebaran di halaman rumah. Keren banget kan? Jadi, tanpa menghiraukan himbauan orang-orang tadi, kami pun berangkat ke Gomo.


Untuk mencapai desa ini, lagi-lagi kami hanya bermodalkan tanya-tanya sama penduduk sekitar. Dari peta yang aku dapat, desa ini terletak cukup jauh ke dalam. Perkiraan kami, untuk mencapai desa ini paling lama dibutuhkan 1-1,5 jam. Ternyata dua kali lipatnya, kami menempuh perjalanan 6 jam untuk pergi dan pulang dari Teluk Dalam-Gomo-Teluk Dalam. Dengan masih mengendarai sepeda motor sewaan, kami bertualang ke desa misterius ini.

Dari Teluk Dalam, kita mengambil arah ke utara sampai bertemu pasar pertigaan Lahusa yang biasa disebut Simpang Auge. Papan informasi penunjuk arah menunjukkan kecamatan Gomo. Dari orang sekitar, kami diberitahu untuk mencapai Gomo kurang lebih 9km. Ah, paling sebentar doang (gumam dalam hati), ternyata.......


Simpang Auge



Ternyata jalannya rusak parah :(
9 km pun kami tempuh dalam 1 jam. Lama banget. Lihat gambar dibawah. Yah kurang lebih kondisi jalannya seperti itu. Berbatu, berlubang dan licin. Tapi enggak semuanya, ada juga jalan berbatu yang cukup mulus :)


 Transportasi umum dari Simpang Auge ke Lahusa hanya ada satu jenis yaitu mobil pick up. Mobil ini lah yang mengangkut anak sekolah dan ibu-ibu yang ingin pergi ke pasar.




Walaupun jalannya rusak, kami masih sedikit terhibur dengan cantiknya pemandangan sepanjang perjalanan. Pantat yang udah pegal gak lagi jadi soal habisnya matanya puaaasss banget.



Cantik-cantik kan pemandangannya? :)
Jalannya menembus bukit-bukit, naik turun naik turun. Selama 6 jam perjalanan, aku tetap mengucapkan salam Ya'ahowu kepada penduduk yang berpapasan dengan kita. Mulutku sampai berbuih rasanya, tapi hatinya gembira. Langsung deh kepikiran dalam hati, masa sih penduduk yang ramah-ramah ini suka makan orang? Jangan-jangan kami disenyum-senyumin karena mereka pikir dapat santapan baru. Hahaha.

Mbah Google bilang di Gomo ada 3 situs Megalith yaitu Idanotai, Lahusa Satua dan TunduBaho. Setelah bertanya-tanya kepada penduduk sekitar, kami dianjurkan untuk ke Tundu Baho saja karena tempatnya lebih mudah dicapai dibandingkan dua situs lainnya.

Akhirnya kami pun tiba di salah satu tugu batu yang bertuliskan Kecamatan Gomo. Yeahhhh!!! Senang sekali bisa sampai di Gomo. Kita pun turun sebentar untuk menghilangkan pegal. Lumayan pegal juga ternyata melewati jalan-jalan tadi.



Setelah bertanya-tanya dengan penduduk sekitar arah mana yang akan membawa kami ke Tundu Baho, kami melanjutkan perjalanan mengikuti arahan Bapak tadi. Ternyata jalannya mengarah ke sungai. Aku dan Juju pun mengambil jalan yang lain dan ternyata membawa kami kembali ke tugu batu tadi lagi. Bapak yang tadi membantu pun heran kenapa kami begitu cepat kembali. Ternyata kami salah jalan dan si bapak pun menertawai kami sambil memberikan petunjuk arah yang benar.

Aku dan Juju tidak tahu bahwa untuk menuju desa Tundu Baho itu harus menyeberangi sungai. Kita pikir ada jembatan, ternyata tidak ada. Lah, terus kita bingung bagaimana melintasi sungainya. Gak mungkin motornya ditinggalkan soalnya nanti mau melanjutkan perjalanannya gimana? Pas kita lagi bingung, eh kita lihat ada sepeda motor dengan santainya membelah air sungai, menyeberang dari sisi satu ke sisi yang lainnya. Oooohh, ternyata kita bisa menyeberangi desa ini pakai motor. Sungainya cukup lebar tetapi ada bagian yang airnya dangkal dan bisa dilewati sepeda motor.


Pemandangan menarik lainnya adalah selang warna-warni yang melintang diatas kepala kami. Ternyata itu adalah sumber air bersih masyarakat sekitar. Airnya berasal dari mata air di gunung dan dialirkan ke rumah penduduk lewat selang-selang panjang. Beda banget dengan Jakarta yang berstatus ibukota, penduduk Gomo yang terpencil sangat peduli dengan kebersihan sungai. Mereka sama sekali tidak membuang sampah dan BAB di sungai. Keren  :)

Setelah menyeberang sungai, tantangan berikutnya kami harus melewati tanjakan yang cukup tinggi dan jauh. Karena motornya enggak kuat menanjak dengan dua penumpang, aku pun harus turun dan jalan kaki. Hiks. Nasib.

Sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh, si perut pun berdendang. Saatnya makan siang padahal jam menunjukkan pukul setengah tiga sore. Aku dan Juju mencari tempat dan menemukan pondok petani di tepi jalan. Untuk berjaga-jaga kami tidak menemukan warung makan, kami sudah menyiapkan bekal nasi dan babi kecap. Hehehe. Selamat makan.


Sewaktu makan siang di pondok kecil, ada seorang bapak yang sedang naik motor berhenti di depan kami dan menanyakan asal kami. Bapak itu tahu kami ini orang asing di desa itu. Setelah ngobrol basa-basi, kami baru tahu bahwa Bapak itu adalah kepala desa Lahusa Tua, namanya Ama Ota Turu. Ama Ota pun menanyakan maksud kedatangan kami dan ketika kami menyebutkan kami ingin ke desa Tundu Baho, beliau malah menyarankan untuk ke Lahusa Tua saja. Dari info Ama Ota, desa Tundu Baho sudah kehilangan banyak batu megalith nya dari beberapa tahun yang lalu karena dicuri dan dijual oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sedangkan di Lahusa tua, situsnya masih dijaga dengan baik karena terdapat di pekarangan rumah sang keluarga raja. Tanpa pikir panjang, aku dan Juju pun memutuskan untuk pergi ke Lahusa Tua saja, apalagi guide lokal nya sudah tersedia. :)

Si Ama Ota menanyakan apakah Juju mahir membawa kereta (sepeda motor) nya. Beliau menjelaskan jalanan yang akan kami tempuh sangat berat dan sedang ada perbaikan. Jalanannya akan lebih rusak dari yang kalian lewati kesini. Waduh, langsung ciut mental kita berdua. Tapi Ama Toro menyakinkan kami orang-orang desa pasti bisa membantu kami kalau nanti memang kami tidak bisa melewati medannya. Yuk ke Lahusa Tua. Tunggu cerita selanjutnya di postingan berikutnya ya ;)

Follow Us @satyawinnie