Setelah kurang lebih 3 hari berlayar dengan KRI MKS590, tibalah kami di kota Makassar. Disana, kami disambut baik oleh pemerintah setempat. Setelah apel pagi (apel pagi selalu jam 7 pagi, disiplin sekali)  kami berbaris di depan kapal untuk selanjutnya masuk dengan teratur ke dalam bus untuk pergi ke situs sejarah dan kantor Gubernur Sulawesi Selatan. Walaupun hujan rintik-rintik, niat dan semangat kami tidaklah surut.

First Shots waktu baru turun di Pelabuhan Peti Kemas di Makassar
Untuk mahasiswa masih menggunakan almamater mereka masing-masing :)
Kami semakin bersemangat untuk menjelajahi kota Makassar ini yang dulunya bernama Ujung Pandang. Tempat yang pertama kali kami kunjungi adalah Fort Rotterdam. Ketika kami tiba disana, banyak bagian benteng yang sedang direnovasi, tetapi kami tetap senang menjelajahi keseluruhan bagian benteng. Ada La Galigo yaitu museum di dalam Fort Rotterdam itu sendiri. Didalamnya kita bisa melihat banyak miniatur perahu, rumah adat, senjata adat, bahkan pameran pakaian-pakaian adat. Sewaktu di Fort Rotterdam kami dijelaskan secara detail seluruh isi Museum La Galigo oleh guide setempat yang sangat ramah :). Selain La Galigo ada ruangan lain yang cukup menarik yaitu ruangan bekas pengasingan Pangeran Diponegoro, di dalam ruangan sempit dan gelap itu kita bisa melihat tempat tidur, kursi dan meja kecil yang dahulunya dipakai oleh Pangran Diponegoro, dan ada beberapa lukisan tentang beliau yang dipajang di ruangan tersebut.. 
WELCOME TO FORT ROTTERDAM :)
Museum La Galigo, banyak sekali barang-barang antik di dalamnya
Ruang Tahanan Pangeran Diponegoro
Berpose sedikit di Fort Rotterdam :p

Halooo, kami kontingen KEMENBUDPAR,
(Ki-Ka) Andy Faizal, Wisnu Yudananto, Satya Winnie, Endah Ruswanti

Setelah puas melihat-lihat keindahan Fort Rotterdam, perjalanan dilanjutkan menuju Gowa, rumah yang dulunya kepunyaan Sultan Hasanuddin. Tetapi sebelum kami beranjak menuju Gowa, saya mendapatkan pemandangan menarik tentang transportasi di Makassar. Walaupun sudah hampir menyerupai Jakarta, Makassar masih memiliki transportasi tradisional yaitu becak. Becak disana cukup tangguh karena mampu membawa beban banyak tanpa menyadari bahwa itu berbahaya. Tapi tukang becaknya santa-santai aja tuh. :p Ada lagi angkot (angkutan kota) yang di Makassar disebutnya "Pete-pete". Unik juga tranpsortasi berwarna biru ini. Hahaha. :D
Abang-abang becaknya 'anteng' aja bawa becak OVERLOADED. :p
Barulah kami beranjak menuju daerah Gowa, cukup jauh dari pusat kota karena memakan waktu kurang lebih 1 jam untuk mencapainya. Sesampai disana kami cukup kecewa karena rumahnya masih dalam proses renovasi.
Sultan Hasanuddin's House. Still on renovation. (2010)
Little Snapshots at Rumah Gowa :) Hello Friends, long time no see. :)

Kami tidak berlama-lama di rumah Gowa, karena selain rumahnya masih dalam proses renovasi dan tidak ada apa-apa di dalamnya, kami semua harus mengunjungi kantor Gubernur Sulawesi Selatan untuk bertemu dengan beliau. Sayangnya, setiba kami disana, beliau berhalangan hadir karena ada keperluan lain. Akhirnya bapak Gubernur diwakilkan oleh Sekda atau Sekretaris Daerah.  Sambil menikmati hidangan yang disiapkan, kami menyimak sambutan dan arahan dari pemerintah Makassar, mendengar kelebihan dan kemajuan yang terjadi di Makassar.Mengagumkan bahwa sekarang Pemda Makassar benar-benar mengembangkan Makassar agar menjadi salah satu pusat destinasi pariwisata Indonesia bagian Timur. :) Semoga berhasil ya Makassar ;)
            Tiba saatnya makan siang, kami semua kembali ke kapal, mengisthirahatkan diri dan makan siang pakai treng (nanti ada cerita khususnya tentang makan pakai treng ini, just wait ;) ). Setelahnya kami diberikan Free Time  untuk wisata kuliner atau berbelanja. Kami semua pun menuju ke Pasar Baru Ujung Pandang. Saya dan beberapa teman LNRPB pergi mencari restoran coto Makassar yang terkenal itu. Setelah bertanya-tanya tentang tempat coto Makassar yang top akhirnya kami memutuskan untuk mencoba Coto Makassar SBY Jalan Ranggong (orang Makassar suka mengucapkan -ng untuk kata berakhiran -n, jadi Jalan biasa mereka sebut Jalang, ups ;p ). Tempat ini sangat popular dikarenakan Presiden kita pernah menyambangi tempat ini dan mencicipi hidangan Coto yang memang sangat lezat. Harganya juga pas di kantong, sekitar 15 ribuan untuk 1 porsi. JEMPOL BANGET!!! :)

Ini dia yang ditunggu-tunggu, COTO MAKASSAR yum yum yummy :9
Ini dia Restoran Coto Makassar yang lezat, Rumah Makan Ranggong :)
Worth to try
Sesudah kenyang kami pergi menyusuri Jalan Baru untuk mencari oleh-oleh khas Makassar. Tidak terlalu banyak benda yang saya beli, oleh-oleh standar untuk keluarga dan sahabat, ada kaos Makassar, gelang Makassar dan beberapa gantungan kunci khas Makassar. Setelahnya, kami pergi ke Pantai Losari dengan menaiki becak. Sayang sekali waktu itu kota Makassar sedang diguyur hujan deras, sehingga pemandangan yang kami dapatkan tidak seperti yang kami harapkan, tetapi masih banyak anak LNRPB yang menyempatkan diri untuk mengambil gambar di tulisan LOSARI nya. Pantainya tidak besar (bahkan tidak ada pantai) dan cuma berbentuk sepetak lapang untuk tempat nongkrong anak muda Makassar. Tiba waktunya maghrib, kami kebingungan bagaimana cara kembali menuju ke kapal, karena tidak ada transportasi yang  bisa mengantarkan kami tepat di depan kapal, apalagi saat itu hujan deras. Beruntungnya kami karena ternyata salah seorang kerabat teman kami bersedia mengantarkan kami ke kapal. Kami sangat beruntung, karena kami juga diajak menikmati Bakso Kotak yang sangat enak di pinggiran Pantai Losari. Saya juga mencoba es Palu Butung yang khas dari Makassar. Hidangan yang sangat segar di sore hari sambil memandang jauh Pantai Losari. Setelah menikmati keseluruhan hidangan lezat dari Makassar, kami pun menuju ke kapal di tengah hujan deras. Akhirnya, kami tiba di kapal tepat waktu dan bisa memasuki kapal dengan lancar. Tetapi ada teman yang waktu itu sampai jam 8 malam belum tiba di Makassar, alesannya tersesat. hahahahha :D

Sayang sekali kami hanya diberikan waktu 1 hari untuk menikmati Makassar, padahal kami belum puas. masih ingin menjelajah kesana-kemari, masih mau cicip ini-itu. Tapi apa daya, program nya sudah ditentukan seperti itu. :'( Oke, next trip BANDANAIRA, Makuku Tenggara :) Wait for us yaaaa, Banda.

Some snapshots. :D
Teman-teman DIKTI okee banget, apalagi mas Irul yg pakai sunglasses ;p

Ini siapa ya?? Masih pada inget?

Big Man dari Sekolah Tinggi Perikanan. :D

Teman-teman dari Sekolah Pelayaran :)

Pembimbing kami tercinta, Tante Aprilina, kakaknya dan siapa ya satu lagi?? Lupa. ;p

Sebenarnya sudah setahun yang lalu tepatnya bulan Juli-Agustus 2010 Sail Banda diselenggarakan. Tetapi banyak catatan perjalanan yang belum di post ke blog. Mungkin nanti teman-teman Sail Banda bisa nostalgia dengan membaca tulisan ini. :)

Logo Sail Banda 2010 "Small Islands for our future"
Sail Banda 2010, adalah pengalaman saya untuk pertama kalinya berlayar dengan Kapal perang Republik Indonesia yang biasa disebut KRI  menuju daerah-daerah di Indonesia bagian timur. Kapal yang kami tumpangi bernama KRI MAKASSAR dengan nomor lambung 590, jadi sering disingkat menjadi KRI-MKS590 :). Saya sudah memimpikan hal ini sejak lama, dan akhirnya terwujud. Sebelumnya saya sudah pernah mendengar tentang Bandanaira dari salah seorang dosen saya. Hal itulah yang membuat saya sangat ingin pergi kesana dan menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri seluruh keindahan yang ditawarkan Bandanaira. Sebelum mencapai Bandanaira dan sesudahnya kami mengunjungi berbagai tempat juga yang akan saya ikut sertakan dalam jurnal saya ini. Kalau begitu, saya akan menceritakan tentang pengalaman saya berangkat dari Jakarta-Makassar-Bandanaira-Ambon-Wakatobi-Jakarta :)

 Hari pertama, Kamis 22 Juli 2010,
Kami semua berkumpul di Kolilanmil untuk registrasi, dilanjutkan dengan memindahkan barang-barang ke dalam kamar yang sudah dibagi-bagi oleh Palaksa KRI Makassar 590, yaitu Mayor Iwan Sutrisno. Memasuki kapal tersebut layaknya memasuki hotel kelas 3. Ruangan yang sejuk ber-AC, bersih dan wangi, fasilitas lengkap. Saya sangat terkesan dan berpikir bahwa beginilah sesungguhnya tampilan kapal perang Indonesia, tidak kalah dengan kapal-kapal asing. Kami pun menuju deck G dan beristhirahat di kamar masing-masing sambil berkenalan dengan sesama teman-teman satu kamar. Waktu itu saya masuk di kamar G-13.
            Keesokan harinya, tibalah hari keberangkatan. Kami semua mengenakan kaus Sail Banda 2010 yang diberikan oleh panitia pada pagi harinya, selain kaus, kami juga mendapatkan topi biru bertuliskan Banda Sail. Sebelum kami berangkat, ada upacara pelepasan oleh Menpora yaitu Bapak Andi Mallaranggeng yang ditandai dengan pelepasan balon-balon gas. Kami semua (peserta) berdiri di deck Heli dan Anjungan untuk parade keberangkatan. Sambil melambaikan topi, kami pun berangkat.

Haloo!!! Berpose dengan Kaos dan topi Sail Banda 2010
Disamping ini adalah foto saya yang memakai kaos dan topi Sail Banda 2010. Kangen sekali memakainya >.<
Mayor Iwan Sutrisno, our lovely Palaksa KRI MKS 590
Dibawah ini ada Mayor Iwan Sutrisno yang merupakan Palaksa KRI MKS-590 :) Beliau baik sekali kepada kami. Selain baik, beliau juga humoris. Anak-anak Sail Banda sayang sekali sama TNI yang ini. Biarpun badannya gede tapi hatinya juga gede :) Palaksa itu adalah Ibu Rumah Tangga di KRI, kalau komandan itu Bapak Rumah Tangganya :)

Beliau menyambut kami dengan sangat ramah, jauh dari kesan tentara yang bengis dan kejam. Dengan sabar mereka mengarahkan 400 peserta ke kamar masing-masing dan tidak lupa memberitahukan peraturan apa saja yang tidak boleh dilanggar selama pelayaran, khususnya yang berkaitan dengan kebersihan kapal. :)

Ya, 23 Juli kami siap berangkat ke destinasi pertama yaitu Makassar. Sayonara Jakarta :)
Tunggu cerita berikutnya, Makassar :)

Ini rombongan dari UI dan Kemenbudpar. Icca, Grazia, Nungky, Mbak Endah
Mas Wisnu, Mbak Ike :)