Friday, June 8, 2018

Kedai Lur Yogyakarta, Ngopi dan Makan Enak di Kebun Tengah Kota

Friday, June 08, 2018 2 Comments


“Coba kopi di Kedai Lur yuk Mba Sat, enak kopinya”, ujar Rinda setelah kami makan malam bersama sedulur blogger di Jogja. 

“Ayok banget, aku selalu percaya pilihanmu pasti enak”, ujar saya sambil terkekeh.

Setiap menyambangi Yogyakarta, pasti sudah ada saja tempat-tempat baru yang bisa dikunjungi. Kota pelajar ini berkembang pesat sekali, super pesat. Di tiap-tiap sudut kota bermunculan warung-warung kopi sedap. Banyak yang bertahan, namun tak sedikit juga yang “ngos-ngosan” dan akhirnya tutup.

Kami mengendarai sepeda motor kami masing-masing menuju Kedai Lur. Tak jauh dari Stasiun Tugu dan Jalan Malioboro. Selesai memarkirkan motor, kami masuk ke dalam dan saya langsung suka dan jatuh cinta dengan suasananya yang sejuk. Kursi-kursinya bukanlah bean-bags warna warni yang kekinian, melainkan kursi dan meja kayu tua yang semakin menambah daya tarik kedai ini buat saya. Katanya Kedai ini dinamakan “Lur” mengambil singkatan kata Bahasa Jawa “Sedulur” yang artinya saudara. 

Sejuk kan tempatnya?


Kami duduk di satu meja kecil untuk dua orang. Memesan kopi hitam dan teh JJS, Jeruk Nipis, Jahe, Sereh (yang kemudian jadi teh jahe favorit saya). Dengan penerangan lampu yang temaram, Kedai Lur jadi tempat yang nyaman sekali untuk bertukar cerita. Saya dan Rinda mengobrol tak henti soal hidup kami sejak terakhir perjumpaan kami di perjalanan Saumlaki.

Teman ngopiku yang cantik, Rinda @rheevarinda <3


Karena perut kami sudah sama-sama kenyang, kami tak memesan makanan padahal Rinda merekomendasikan makanan di Kedai Lur ini yang sedap. Menu-menu makanannya memang sederhana seperti Bakmi Godhog Jawa, Tempe Mendoan, Ayam Goreng Kampung, Nasi Brongkos Koyor, Urap, Telo Goreng tapi rasanya top (katanya karena saya belum coba langsung).

Bakmi Godhog-nya cuma Rp 18.000 lho~


Duh semua menu di atas itu favorit saya tapi tentu nggak bisa makan semuanya dalam sekali kunjungan kan?

Akhirnya keesokannya saya datang lagi namun sendirian saja dan karena masih bulan puasa, hanya saya tamu yang datang untuk makan siang hari itu. Mbak-nya menyapa ramah dan mempersilahkan saya untuk duduk di meja yang saya mau.

“Di depan sini saja Mbak, semilir sejuk, enak” ujarnya sambil menunjuk meja kayu besar dekat pintu masuk. Kami sempat mengobrol sebentar namun sayang saya lupa menanyakan namanya. 

Semakin sore, suasana Kedai Lur makin enak, ditemani angin semilir dan bunyi “klintingan” kecil di pintu, saya menikmati “me time” saya. Saya melahap Bakmi Godhog yang saya pesan dengan dua porsi tempe mendoan yang dicocol sambal kecap. Lezat sekali!

Jangan sampai nggak cobain tempe mendoan nya kalau ke Kedai Lur ya...


Tak terasa saya duduk hampir 6 jam di Kedai Lur. Begitu jam berbuka puasa, semakin banyak orang yang datang ke Kedai Lur dan saya tak enak mengambil satu meja besar untuk saya sendiri sedangkan banyak orang lain yang mengantri giliran.

Kedai Lur Jogja ini buka dari jam 12 siang hingga jam 11 malam setiap hari kecuali hari Minggu. Hari Minggu tutup yaaaa gaes.

Selain makanan dan minuman enak, Kedai Lur ini juga menyediakan layanan wi-fi yang kencang. Tetapi saya sendiri lebih senang membaca buku sambil menikmati mendoan dan the jahe saya sih kalau ke Kedai Lur lagi. 

Jadi, kalau ke Jogja kalian mau mampir ke Kedai Lur nggak?

Ya mau dong! Iya kan?

Ini dia alamatnya ya :

 Jl. Gowongan Kidul No.29 A, Sosromenduran, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55233


Cheers,



Thursday, June 7, 2018

10 Tips Mendaki Gunung Saat Datang Bulan atau Menstruasi

Thursday, June 07, 2018 2 Comments




Banyak mitos-mitos yang beredar bahwa perempuan itu tidak diperbolehkan naik gunung karena dianggap “kotor”, “gampang ditempelin”, bisa kesurupan dan masih banyak mitos lainnya. Padahal sebenarnya naik gunung saat datang bulan itu bisa-bisa saja asal kita tahu triknya.

Namun, saya menulis ini berdasarkan pengalaman pribadi ya. Saya tahu bahwa setiap perempuan berbeda-beda dalam menghadapi si tamu bulanan. Ada yang sakitnya sedang-sedang saja, ada yang sakitnya sampai bikin nggak bisa bangun tidur, ada juga yang tidak merasakan sakit apa-apa (serius ada kok). 

Nah, karena banyaknya pertanyaan dari teman-teman perempuan bagaimana tips mendaki gunung saat datang bulan, ini dia tips dari saya :

1.     Kenali Tubuhmu Sendiri

Ya, ini yang pertama yang harus kamu lakukan. Kalau saat datang bulan biasanya rasa sakit kram-nya nggak karu-karuan dan bikin nggak bisa bangun dari tempat tidur, ya sebaiknya tidak mendaki gunung atau melakukan aktifitas berat. Isthirahat saja yang cukup dulu di rumah ya. Jangan memaksakan diri karena kamu yang tahu tubuhmu sendiri.



2.     Bawa Pembalut Kemana Saja

Karena siklus tamu bulanan saya kadang suka berantakan, sekarang kemana saja pasti selalu ada pouch di tas saya yang berisikan pembalut & pantyliner. Penting memang ada di tas karena ketika kita dadakan kedatangan tamu bulanan, kita nggak panik kalang kabut cari “sumpelan”. Nah kalau lagi mendaki gunung, susah kan cari sesuatu untuk menyumpal? Makanya minimal bawa 6 pembalut di carrier. Beratnya kayak bulu begitu ya nggak akan menambah beban siginifikan. Bawa saja kemana-mana. Oh iya pilihlah pembalut yang berukuran panjang dan tebal supaya bisa menyerap lebih banyak karena ketika kita beraktifitas mendaki gunung, biasanya lebih deras alirannya.

3.     Minum Air Putih yang Banyak

Nah, ini sebenarnya yang harus dilakukan setiap hari, tidak hanya saat datang bulan saja. Karena tubuh yang terhidrasi itu penting, setiap hari. Ketika sedang menstruasi saat mendaki gunung, minum banyak air putih akan membantu untuk meredakan rasa sakit (ini berdasarkan pengalaman saya lho ya) dan kalau bisa air putih saja terus-terusan. Hindari minuman dengan pewarna dan pemanis buatan serta soda.


 
4.     Jujur Kalau Sedang Datang Bulan kepada Teman Pendakian

Nah, kemarin waktu ke Sumbing, saya tiba-tiba kedatangan tamu bulanan yang tidak sesuai jadwalnya. Aman sih karena bawa pembalut di carrier, tetapi saya akui sakit kram nya bikin saya beberapa kali harus berhenti atau sedikit lambat karena bukan hanya karena capek, tapi kram perut-nya seperti sedang “ditonjok” banyak orang. Ya saya jujur dengan dua teman pendakian saya yang keduanya lelaki bahwa saya sedang menstruasi dan mendadak. Mereka baik dan pengertian sekali menunggui saya yang jadi lebih sering berhenti di jalur bahkan menawarkan untuk membawa turun carrier saya. Aduh mereka memang manis sekali tapi saya masih mampu kok untuk memanggul carrier saya sendiri.


5.     Bawa Suplemen Penambah Darah

Di kotak P3K saya, suplemen penambah darah ini selalu ada karena saat kita melakukan aktifitas berat dan melelahkan seperti naik gunung, kita butuh asupan zat besi. Nah karena ketika kita sedang kedatangan tamu bulanan akan kehilangan banyak darah, suplemen penambah darah ini bisa membantu agar kita tidak cepat lemas.

6.     Minum Pereda Nyeri Haid

Sebenarnya saya pribadi belum pernah minum obat pereda nyeri haid. Namun saya pernah mendaki bersama teman perempuan yang sedang datang bulan dan dia bilang dengan minum obat pereda nyeri, dia lebih merasa nyaman untuk terus berjalan karena rasa sakitnya jauh berkurang. Hmmmmm, kalau teman-teman perempuan yang lain bagaimana? Pernah minum pereda nyeri haid juga saat naik gunung?


7.     Ganti Pembalut Setiap 4 jam Sekali

Nah, kalau tips yang ini sepertinya sudah sering disiarkan dimana-mana. Karena pembalut itu menampung darah kotor tentu saja banyak bakteri yang tidak baik untuk daerah kewanitaan. Jadi diusahakan mengganti pembalut setiap 4 jam sekali agar selalu merasa “segar”.


 
8.     Buang & Simpan Pembalut Bekas dengan Benar

Nah, ini nih yang penting sekali kita ketahui. Agak dilematis juga untuk menuliskan ini karena untuk membuangnya butuh kantong plastik. Biasanya, langkah-langkah yang saya lakukan adalah membersihkan kewanitaan dengan tissue basah, lalu pembalut bekas-nya diganti dengan pembalut baru (tentu saja) dan yang bekasnya saya bungkus dengan plastik pembungkus bekas pembalut baru-nya (ngerti kan?) dan dimasukkan ke kantong plastik kecil. Nah kantong plastik kecil-nya saya masukkan lagi ke kantong plastik yang lebih besar dan biasanya saya simpan di kantong samping carrier. 

Kenapa harus berlapis-lapis plastiknya? Ya agar bau amis atau bau anyir-nya tidak tercium. Ada juga yang bilang bagus ditetesin sedikit minyak kayu putih agar baunya lebih tidak tercium lagi. Teman-teman punya solusi nggak ya buat kantong plastik untuk membuang pembalut bekas? Apakah dengan kantong kertas menurut kalian akan lebih efektif?

9.     Lakukan Gerakan-Gerakan ini saat Kram Perut Menyerang

Nah, ketika sedang mendaki gunung dan kram perut menyerang nggak karu-karuan, biasanya saya melakukan gerakan ini. Buat saya pribadi, gerakan ini sangat ampuh untuk mengurangi rasa nyeri.



10.  Nikmati Pendakianmu & Jangan Menggerutu di Jalur

Ingatlah bahwa pikiran itu yang paling penting. Kalau kamu tetap tenang, santai meski pun rasa sakit kram sedang menyerang, niscaya kamu akan tetap bisa melanjutkan pendakian. Harus positive thinking ya. Tapi pada akhirnya pun sama seperti poin 1 di atas, kamu yang paling mengerti badanmu. Jadi kalau memang dirasa tidak sanggup lagi, utarakan kepada teman pendakian jika kamu memilih untuk turun. Apa pun yang dipaksakan itu tidak baik kan? Dan juga tenang saja, gunung-nya nggak kemana-mana. Yang terpenting bukan sampai puncak gunung tetapi sampai di rumah dengan selamat. Betul?

Nah, itu 10 tips dari saya untuk teman-teman perempuan yang datang bulan saat melakukan pendakian. Jika ada yang mau menambahkan, monggo ya, dituliskan saja di kolom komentar di bawah.


Cheers,

 

Thursday, May 31, 2018

Mendaki Gunung Sumbing via Banaran 3 Hari 2 Malam (East Route Sumbing)

Thursday, May 31, 2018 8 Comments



“Terakhir-terakhir, Wonosobo, terminal, terminal” ujar seorang Bapak dengan suara agak keras agar penumpang terbangun dan bersiap karena akan segera tiba di tempat tujuan.

Saya lirik jam di tangan kiri, menunjukkan jam 4 pagi. Bus Sinar Jaya yang kami tumpangi dengan trayek Depok – Wonosobo ini hampir tiba di tujuan setelah menempuh perjalanan kurang lebih 12 jam. Tiket busnya Rp 90.000 saja. Ini cara termurah dan paling praktis jika ingin mendaki Gunung Sumbing. Opsi lain bisa naik kereta api, turun di Stasiun Purwokerto tetapi makan waktu yang cukup lama dan masih jauh ke titik pintu basecamp pendakian Banaran. 

Saya berangkat berdua dari Depok bersama Bang Herdi yang akrab dipanggil Bang “Kibo”. Tapi untuk pendakian ke Gunung Sumbing, kami tidak berdua saja. Ada Bang Aris, sahabat Bang Kibo yang akan turut serta namun berangkat  dari Cikarang. Terminal Wonosobo menjadi titik tengah pertemuan kami.

Pagi di Terminal Wonosobo tidak sedingin yang saya kira. Saya dan Bang Kibo menghampiri Bang Aris yang sudah duluan tiba dan duduk di pojokan terminal, menyesap kopi panas. Dari pertemuan pertama saja, impresi yang saya dapat adalah orangnya pasti lucu seneng ngguyu. Hati saya riang karena dengan ditemani Bang Kibo dan Bang Aris bikin pendakian ini pasti makin seru. 

Dari Terminal Wonosobo, kami ‘numpak’ bus kecil ke Temanggung. Jam 5 pagi langit masih gelap dan kami bertiga duduk di kursi belakang. Kami berhenti di Pasar Parakan dan berbelanja logistik segar macam sayuran, tahu, tempe, bumbu masak hingga kerupuk udang! (YES, kami bertiga memang penyuka kerupuk!). 

Ingatlah bahwa naik gunung itu harus mencakupi tiga hal ; makan enak, tidur enak, perjalanan enak supaya pendakian nyaman, aman dan selamat sampai pulang ke rumah. Makanya buat saya persiapan pendakian itu amatlah penting. Antisipasi segala hal yang terburuk dalam pendakian dengan persiapan yang matang ya.

Dari Pasar Parakan, kami naik mini bus lagi hingga perempatan lampu merah. Sudah ada tiga sepeda motor yang menunggu kami dan akan mengantarkan hingga ke basecamp Banaran. Yang membonceng saya namanya Mas Alfi yang menjadi teman mengobrol saya sepanjang jalan. Sekitar 30 menitan dengan jalan menanjak, sampai juga kami di basecamp Banaran. Saat kami tiba, ada beberapa pendaki yang sudah siap untuk mendaki dan kami hanya bertukar anggukan dan senyum saja.

Biaya naik ojek dari Temanggung - Basecamp Banaran : Rp 50.000 per orang.

Kami sepakat beristhirahat sekitar 1 jam-an sebelum memulai pendakian Gunung Sumbing. Teman-teman di Basecamp Banaran ramah-ramah sekali. Baru saja pantat dihempaskan ke lantai dan rebahan meluruskan punggung, sudah ada yang membawakan nampan berisi teh manis hangat. Baik betul sih.

Di Basecamp Banaran ini juga kita melakukan pendaftaran dan membayar Simaksi sebesar Rp 10.000 per pendaki (murah banget!). Saya sampai bertanya ulang apa benar hanya bayar sepuluh ribu saja dan diiyakan oleh teman di sana. Masih ada ya bayar segitu buat naik gunung? Hahaha.

Sebelum berangkat, mau ucapin terima kasih dulu buat teman-temabn di basecamp Banaran yang baik sekali menjamu kita...


Setelah memastikan tak ada lagi perlengkapan dan peralatan yang kurang untuk mendaki, kami naik ojek lagi menuju Pos 0 alias pintu masuk jalur Banaran. Carrier harus diletakkan di bagian depan motor agar tidak terjungkang (terbalik ke belakang) ketika dibonceng karena jalanannya menanjak pol! Kalau terlalu berat, kita yang dibonceng harus turun dan jalan menanjak sedikit ya. Jangan malas hahaha…

Sebelum berangkat, saya sebenarnya sudah diwanti-wanti oleh Bang Kibo dan Bang Aris tentang jalur pendakian Banaran yang hampir 100% menanjak dan minim “bonus”. Whatever it is, let’s do it!

 POS 0 – POS 1 


Dari Pos 0 menuju Pos 1, kita akan melewati ladang penduduk, bila berjumpa dengan bapak dan ibu yang sedang bekerja di ladang, sapalah mereka dengan hangat ya.  Selain itu kita akan menjumpai shelter besar seperti gazebo yang ada aliran airnya dengan nama yang aneh menurut saya "Dongbanger". Dong Dong Bang Bang!

Fotonya diambil ketika perjalanan turun sebenarnya dan Bang Kibo senang sekali minum air segar langsung hahaha...


Kami berjalan pelan, mengatur nafas dan begitu memasuki pintu hutan, saya melihat jalur tangga yang panjang, jauh sekali sampai tak terlihat ujungnya. 

“Ah, ini ya jalur escalator yang terkenal itu” celotehku pada Bang Kibo yang hanya dijawab singkat “yoi”.

Jalur Banaran Sumbing ini punya dua julukan, “Escalator Route” & “Shaolin Route”. Kedua nama itu tersemat karena memang jalur tangga kayu-nya yang panjang macam tak berujung itu mirip escalator dan yang melewati jalur itu pasti akan teringat film shaolin di mana murid-muridnya harus mengangkat beban dan mendaki jalur panjang yang semacam tak ada habisnya. Ya sudah, nikmati jalurnya saja ya. Bisa sambil berdendang (asal suaramu tak sumbang dan mengganggu hewan dan pendaki lain), sambil menghayal yang seru-seru (tapi jangan bengong nanti kesambet), ngobrol sama teman di jalur (asal jangan kelewatan berisik). Tapi biasanya sewaktu mendaki, semuanya pasti diam karena semuanya sibuk menyesuaikan ritme langkah dengan nafas. Apalagi hari pertama kan, beban di carrier sedang berat-beratnya.

Jalurnya tangga-tangga tak berujung. Siap-siap dengkul, apalagi pas turun...


Perkenalkan Bang Aris (kiri) dan Bang Kibo (kanan)


Sangat berbeda dengan cuaca saat kami berangkat mendaki, pukul 12, langit berubah menjadi kelabu dan kabut mulai turun. Firasat saya mulai tidak enak karena pasti akan turun hujan sebentar lagi. Kami tetap lanjut berjalan dan beruntung sekali ketika kami sudah hampir tiba di Pos 1, hujan deras mengguyur. Kami pontang-panting mengerahkan tenaga sedikit berlari masuk ke dalam Pos 1. Binggo! Tepat waktu!

Pos 1 setelah diguyur hujan. Syukurlah shelternya cukup hangat untuk berteduh dan tidur sejenak.


Dengan peluh membasahi tubuh, saya langsung mengenakan jaket windbreaker agar suhu tubuh saya tidak drop. Hujannya bukan gerimis main-main melainkan hujan deras beserta petir. Kami memutuskan untuk menunggu hujan reda agar bisa berjalan lagi dan kami bertiga akhirnya tertidur. 

Jam menunjukkan pukul 3 sore ketika saya terbangun dan melihat Bang Kibo dan Bang Aris sedang ngobrol dengan pendaki-pendaki lain. Hujan sudah mulai mereda dan tampaknya tak lam lagi sudah bisa melanjutkan pendakian. Hanya karena sudah tertidur beberapa waktu, rasanya badan sedikit lemas dan kami mulai berjalan lagi mengatur nafas dan langkah pelan-pelan. 

POS 1– POS 2 


Sekitar satu setengah jam berjalan dari Pos 1, kami tiba di Pos 2. Ada pohon besar yang menarik perhatian saya di dekat shelter. Pohon itu besar dan dipagari. Hmmm. Kenapa ya dipagari?

Kami hanya berhenti sebentar untuk isthirahat di Pos 2 karena ingin cepat-cepat tiba di tujuan. Target kami hari itu bermalam di Camp 4, sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak keesokan harinya. 

Katanya pohon besar yang dipagari itu keramat. Iya kah?

POS 2– POS 3 


Kami tiba di Pos 3 saat maghrib. Butuh sekitar 1,5 jam untuk sampai di pos itu. Ada beberapa teman pendaki dari Yogyakarta yang sedang  berteduh di shelter dan menawarkan untuk bergabung, ngobrol sambil menyeduh kopi. Hari sudah gelap namun semua memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan ke Pos 4 dan mendirikan camp di sana.



“Cuma 2 sampai 3 jam lagi kok”, ujar salah seorang dari  kami yang tidak saya kenali karena gelap. Setelah beberapa gelas kopi panas habis diteguk bersama-sama, kami melanjutkan perjalanan.

POS 3 – POS 4


Kami bersama-sama (sekitar 11 orang) berjalan menuju Pos 4 dengan bantuan penerangan headlamp. Jalurnya semakin licin karena habis diguyur hujan. Sempat berhenti beberapa kali untuk isthirahat di jalur sampai akhirnya kami bertemu tebing batu besar yang bernama “Watu Ondho”. Batu besar itu harus didaki jika ingin tiba di Camp 4. Sudah ada semacam rantai pengaman yang dibuatkan teman-teman @sumbingeastroute untuk membantu para pendaki memanjat batu. Semua saling bantu agar semua dapat sampai di atas batu dengan selamat.

Watu Ondho, batu besar yang harus dipanjat hati-hati apalagi saat musim hujan. Awas terpelincir ya...


Setelah 2,5 jam akhirnya kami semua tiba di Camp 4 dan segera memilih lokasi yang enak untuk mendirikan tenda. Tak banyak ba-bi-bu, semuanya berbagi tugas, bangun tenda, masak makan malam dan tidur. 

Di Pos 4 ini ada sumber mata air dan Bang Aris langsung berinisiatif untuk membawa jeregen besar ke mata air, malam hari. Luar biasa memang keberanian sang "Dewa Bumi" itu. Hahahaha. Saya dan Bang Kibo sampai was-was jika Bang Aris hilang karena cukup lama juga waktu yang dibutuhkannya untuk mengambil air. Syukurlah batang hidungnya tampak juga.

Senangnya punya tim mendaki yang jago masak. Masaknya bisa gantian haha...



POS 4 – PUNCAK RAJAWALI


Keesokan paginya, saya terbangun dengan alarm yang sudah saya set pukul setengah enam pagi. Bang Kibo dan Bang Aris masih tertidur pulas. Sudah banyak pendaki di luar yang grasak-grusuk. Sayang sekali matahari agak malu-malu pagi itu. Memang, lautan awan tampak membentang jelas serta Merapi Merbabu yang menjulang gagah. Tiada “Golden Sunrise” warna keemasan yang saya harapkan. Ah tak apa. Bisa menikmati bangun pagi di ketinggian lebih dari dua ribu meter saja sudah membuat saya senang. 

Pemandangan dari Pos 4 Sumbing. Bisa lihat Merapi dan Merbabu di kejauhan.


Bang Kibo dan Bang Aris bangun tak berapa lama kemudian dan langsung menyiapkan sarapan. Kami bertiga hobi masak di gunung dan menyenangkan sekali bisa masak bertiga sambil tertawa-tawa. Di Pos 4 ini kita juga bisa menjumpai bunga edelweiss nan cantik. 



Awalnya kami berencana untuk lintas jalur pendakian. Namun pada akhirnya kami memutuskan untuk tetap ngecamp di Pos 4 dan summit attack hanya membawa daypack. Katanya dari Pos 4 ke Puncak akan memakan waktu 2.5 – 3 jam. 

Pemandangan Camp 4 dari atas, saat perjalanan turun dari Puncak Rajawali kembali ke camp...


Kami berangkat menuju puncak sekitar jam 8 pagi. Langit biru cerah dan panas dan kami berharap di puncak Rajawali akan secerah itu. Jalur menuju puncak terus menanjak dan air dingin dicampur Nutri Sari Jeruk jadi penyelamat. 

Dua jam mendaki, tibalah kami di Segoro Banjaran yang konon katanya ada airnya makanya disebut ‘Segara’ atau mata air. Namun hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat airnya dan saya bukan salah satu orang tertentu itu. Kami isthirahat sejenak sambil menikmati cemilan yang kami bawa. Saya asyik membuat timelapse awan-awan yang mencumbu pucuk-pucuk bukit. 

Segara Banjaran yang tertutup kabut...



Dari Segoro Banjaran, masih butuh 1 jam perjalanan lagi untuk tiba di puncak Rajawali. Sebelum tiba di puncak, kita akan melintasi kawah yang mengeluarkan bau belerang yang cukup kencang. Tutuplah hidung dengan buff agar tidak pusing ya.

Boleh main ke kawahnya asal hati-hati ya...


PUNCAK!


Akhirnya! Tiba juga kami bertiga di puncak dengan sehat dan selamat. Tapi, semuanya putih! Hahahahaha…

Kami tiba sekitar pukul 11 dan puncak sedang berbalut kabut. Kami bertiga sepakat menunggu hingga jendela awan terbuka agar bisa melihat Gunung Sindoro dari puncak Gunung Sumbing. Kami menyeduh kopi, makan nasi bakar sampai ketiduran. Sudah 3 jam menunggu, tak juga ada tanda-tanda puncak akan cerah, bersih dari awan. 



Yeay! We made it!

Kami bertiga memutuskan untuk turun agar tidak kesorean tiba di camp. Sepanjang perjalanan turun, kabut tebal menyelubungi dan kami harus berjalan berdekatan agar tidak terpisah. Jalurnya terlihat jelas sih tapi lebih aman kalau jalan tidak berjauhan kan?

Bang Kibo terlalu senang ketemu batu yang dia yakini ada goa di dalamnya...


Begitu tiba di camp, rombongan teman-teman pendaki yang lain sudah turun semua kecuali teman-teman dari Yogyakarta. Tinggal tenda kuning kami saja yang masih tersisa. Kami memang sudah merencanakan untuk tinggal 1 malam lagi. 

Terima kasih teman-teman Jogjaaa!


Sayangnya, kami masih kurang beruntung. Berharapnya bisa lihat sunrise cantik keesokan paginya hanya untuk kami bertiga, tetapi pada akhirnya jadi angan-angan saja. Kalau di pagi sebelumnya minimal bsia lihat lautan awan dan Merbabu serta Merapi di kejauhan, pagi kedua kami tidak dapat apa-apa selain kabut tebal nan dingin.

Malam sebelumnya, memang hujan badai mengguyur namun kami sudah bergelung nyaman dalam sleeping bag hangat. Dikarenakan hujan semalaman mungkin ya jadi pagi-paginya dingin berkabut tak ada matahari.

Hingga pukul sepuluh pagi pun langit masih gelap dan kami sudah bersiap untuk turun. Yang paling tidak mengenakkan adalah hari itu tiba-tiba tamu bulanan datang. Dia datang terlalu cepat dari jadwal tetapi untungya saya memang selalu sedia “roti” dalam tas ke mana pun saya pergi. Tapi kram dan sakitnya itu lho. Perut dan pinggul saya sakit sekali hingga dalam perjalanan turun, saya minta beberapa kali berhenti agar bisa duduk atau telungkup sebentar. Syukurnya teman-teman saya pengertian sekali.

Hampir  3 jam waktu yang dibutuhkan untuk turun dari Pos 4 hingga Pos 0. Seharusnya bisa lebih cepat kalau saya tidak sering minta berhenti. Tapi syukurlah kami bertiga tiba lagi di bawah dengan aman, selamat tanpa kekurangan suatu apa pun. 

Puncak itu bukan tujuan utama. Tujuan utama kita ya pulang ke rumah dengan selamat!



“Jadi, kapok nggak lewat Banaran?” tanya Mas Alfi saat kami tiba di basecamp.

“Ah, nggak dong. Saya mau lagi naik ke atas asal dipastikan sepanjang jalur harus cerah ya Mas”, jawab saya sambil terkekeh.

Terima kasih Sumbing, saya pasti kembali lagi!


CATATAN KECIL :


  • Biaya Ojek dari Kota Temanggung - Basecamp Banaran : Rp 50.000 sekali jalan.
  • Entry Fee pendakian Gunung Sumbing : Rp 10.000 per orang.
  • Jika memungkinkan, mendakilah pagi-pagi agar bisa tiba di Pos 4 sebelum hari gelap. Watu Ondho cukup berat didaki ketika malam hari, harus lebih ekstra hati-hati dibandingkan saat siang hari.
  • Pastikan peralatan dan perlengkapan serta logistik mencukupi ya. Jadi kalau diterpa badai pun sudah siap dan tidak akan terserang hipotermia atau mountain sickness lainnya.
  • Bawalah air dua x 1,5 liter per orang. Sumbet mata air hanya ada di shelter "Dongbanger", Pos 4 dan jalur menuju puncak ada mata air kecil yang untuk menampungnya dibutuhkan kesabaran ekstra. 
  • Jangan tinggalkan sampahmu di gunung ya!
  • STOP vandalisme. Di jalur menuju puncak saya melihat banyak sekali coret-coretan di batu dan itu membuat saya sedih. Semoga yang baca postingan ini nggak ada yang begitu ya. 
  • Jangan sembrono dalam bertutur dan berlaku saat di gunung. Permisi permisi-lah setiap lewat jalur, buang air kecil dan buang air besar.




Cheers,




Saturday, April 28, 2018

KBA Rawajati, Oase di Tengah Kota Jakarta

Saturday, April 28, 2018 2 Comments

"Bagaimana tadi perasaannya pas masuk ke Rawajati tadi? Sejuk nggak? Mungkin tidak terlalu terasa ya karena sehabis hujan", ujar Ibu Ninik yang menyambut kedatangan saya dan teman-teman yang berkunjung ke Kampung Rawajati di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.

Kampung Rawajati ini konon katanya adalah oase di tengah kota, kampung terhijau di DKI Jakarta. Benar saja ketika saya datang ke sana, saya sedikit tidak percaya bahwa tempat seperti ini benar-benar ada di Jakarta. Saya sedikit malu juga karena belum pernah sama sekali mendengar nama kampung ini sebelumnya padahal nyatanya Kampung Rawajati ini sudah diberitakan di 33 Negara oleh BBC karena prestasi penghijauan kota yang mereka lakukan sejak 17 tahun silam.

Kampung Rawajati yang bersih, tidak ada satu pun sampah di jalan atau pun selokan. 

Ibu Ninik Nuryanto yang akrab dipanggil Ibu Ninik adalah salah satu inisiator untuk penghijauan Kampung Rawajati. Di usianya yang sudah lebih dari setengah abad, Ibu Ninik tetap terlihat segar dan enerjik. Dengan wajah sumringah, beliau bersemangat menjelaskan awal mula perjuangan mereka untuk menghijaukan Rawajati.

“Dulu, tahun 2001 itu saya baru menjabat sebagai Ketua PKK, lalu kebetulan Ketua RW nya juga baru terpilih. Jadi kita berinisiatif untuk membuat suatu gerakan agar lingkungan tempat kami tinggal lebih asri, hijau dan lebih nyaman untuk dihuni. Bersama-sama kami mencari tahu apa yang bisa kami lakukan dari rumah sendiri” ujar Ibu Ninik.

Ibu Ninik membagikan cara untuk membuat kompos dengan bahan tong biru, sterofoam dan karpet.


Gerakan paling kecil yang bisa dilakukan adalah memilah sampah organik dan anorganik di tiap-tiap rumah. Kemudian sampah organik yang berasal dari limbah rumah tangga, diolah lagi menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik dipilah dan dimanfaatkan lagi, didaur ulang. Tidak mudah tentunya untuk mengajak seluruh warga untuk menjalankan ide yang diusung Ibu Ninik dan teman-temannya.

Setiap sudut kampung ada tempat sampah yang sudah dibagi menjadi sampah basah, sampah kering dan sampah beracun.

Di tiap rumah, ada kantong sampah untuk memudahkan warga untuk mengantarkan sampah plastik ke Bank Sampah Rawajati.

Kompos yang dibuat dipakai untuk menyuburkan tanaman pohon di sekitar halaman rumah. Meski tiap-tiap rumah tidak punya halaman yang luas sekali, diusahakan setiap rumah punya tanaman hijau dan juga tanaman obat yang bisa dikonsumsi sehari-hari. Tak ayal setelah 17 tahun, kawasan Rawajati ini sudah dipenuhi pohon-pohon rindang yang bikin udara jadi sejuk dan segar. Katanya, sekarang kadar udara di Rawajati ini paling bersih begitu pula dengan kadar air yang dikonsumsi tiap rumah tangga di sana. Sampai dilakukan penelitiannya lho.

Program penghijauan ini tidak hanya dilakukan oleh para Ibu PKK saja melainkan para Bapak juga. Oleh karena itu mereka menyebutkan di Rawajati adanya PKK Plus. Semua orang (Bapak dan Ibu) punya tanggung jawab masing-masing. Ada yang mengelola aktivitas bank sampah, pengolahan kompos, tanaman hidroponik dan membuat lubang resapan biopori.

Sampah plastik dipilah, disiangi dulu sebelum dicacah di mesin pencacah plastik.

Kebun Hidroponik di Rawajati.

Bu Ninik  berbaik hati mengajarkan kami bagaimana cara membuat kompos dari sampah organik. Dengan modal tong plastik, sterofoam, karpet yang jadi pelapis di bagian bawah dan atas, kita juga bisa membuat sendiri di rumah. Limbah rumah tangga seperti sayur dan buah dicacah dan dimasukkan ke dalam tong lalu dicampur dengan kompos yang kasar. Didiamkan saja satu bulan sambil diaduk beberapa hari sekali, jadilah kompos cair rasa buah. Hahaha.


Limbah rumah tangga yang akan diolah menjadi kompos organik.


Nah, untuk sampah anorganik, Bu Silvi berbaik hati menunjukkan Bank Sampah Rawajati kepada kami. Ada banyak kotak-kotak berisi barang bekas yang masih bisa didaur ulang, timbangan dan juga mesin pencacah sampah plastik.

Ibu Silvi sedang menjelaskan proses Bank Sampah Rawajati.


“Kita senang sekali ketika mendapat bantuan mesin pencacah sampah plastik dari ASTRA. Satu bulan kita bisa mengolah sampah plastik hingga dua ton setiap bulannya” ujar Ibu Silvi.

“Tiap warga bisa membawa sampah plastik yang sudah dipilah ke sini, pakai kantong sampah yang sudah dibagikan. Nanti sampahnya ditimbang, dikemas rapi lalu dijual lagi ke Bank Sampah Kota Jakarta yang ada di Matraman” lanjut Ibu Silvi lagi.



Barang-barang plastik yang bisa dijual ke Bank Sampah.

Mesin pencacah plastik, bantuan dari ASTRA.


Namun tak semua sampah plastik dijual ke Bank Sampah Kota. Beberapa sampah yang sekiranya bisa dijadikan kerajinan, biasanya dipisahkan misalnya kertas koran, bungkus kopi sachet, bagian tutup minuman ringan, beberapa botol plastik yang masih dalam kondisi bagus dan lainnya.

Dari sampah di atas, Ibu-Ibu di Rawajati menyulapnya menjadi vas bunga, keranjang belanja, wadah buah, hiasan bunga plastik, tissue box bahkan tikar. Keren banget kan? Kerajinan-kerajinan ini kerap ditampilkan di berbagai pameran dan mengundang decak kagum banyak orang. Ada satu ruang khusus juga di Rawajati yang diperuntukkan menjadi etalase produk kerajinan daur ulang itu. Tak sedikit tamu yang datang berkunjung ke Rawajati memborong hasil kerajinan dari sampah itu, soalnya menarik dan unik sekali.

Diajari membuat kerajinan dari sampah kertas dan koran. Bisa disulap menjadi barang-barang ini lho!

Kerajinan ini bisa dibeli dengan harga Rp 50.000,- hingga Rp 200.000,- 


Dari penjualan sampah ke Bank Kota mau pun dari hasil kerajinan dari sampah, warga Rawajati mendapat penghasilan tambahan dan membuat warga sadar bahwa kita masih tetap bisa mendapatkan keuntungan dari sampah. Memang sih itu hanya bonus ya, keuntungan terbesar yang didapat tentu saja lingkungan kita jadi lebih hijau dan warganya sehat karena tinggal di daerah yang udara dan airnya bersih.

Karena melihat program penghijauan lingkungan yang dilakukan seluruh warga, sejak 2015 silam lalu, Kampung Rawajati diresmikan menjadi Kampung Berseri ASTRA (seringnya disingkat KBA). Kampung Berseri ASTRA ini biasanya mencakup empat pilar pengembangan yakni pendidikan, kewirausahaan, lingkungan dan kesehatan.

Dalam binaan ASTRA, Kampung Rajawati terus berkembang dan kini dinobatkan sebagai Kampung Proklim oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Penghargaan ini diberikan kepada kampung yang memenuhi syarat penghijauan lingkungan seperti kadar udara, upaya pengendalian kekeringan, banjir dan longsor. Upaya pengendalian penyakit, upaya pengelolaan dan pemanfaatan limbah, peningkaatan tutupan vegetasi, pencegahan kebakaran lahan dan hutan serta upaya peningkatan ketahanan pangan.

“Kita berterima kasih sama ASTRA karena sudah dibimbing dan akhirnya kita bisa memenuhi semua persyaratan untuk dinobatkan sebagai Kampung Proklim”, ujar Ibu Ninik.

Selain binaan soal lingkungan, Ibu-Ibu di Rawajati juga dibina di bidang kewirausahaan. Tidak hanya kerajinan dari sampah, kini Rawajati punya produk panganan makanan ringan dan minuman yang bisa jadi buah tangan ketika berkunjung ke sana.

Ibu Mimi dengan wajah sumringah menjelaskan semua produk yang dihasilkan oleh Ibu-Ibu di Rawajati. Ada peyek, jamu-jamuan seperti jahe merah, temulawak bahkan bir pletok dibuat dalam kemasan yang sangat menarik dan enak. Tentu saja saya bisa bilang enak karena saya sudah mencicipinya sendiri bahkan membawa pulang beberapa. Hahahaha…


Produk-produk penganan makanan dan minuman yang dibuat oleh Ibu-Ibu Rawajati.


Sebagai penutup kunjungan ke “Oase Jakarta”, kami bersama-sama menanam bibit pohon kelor untuk ditanam di halaman rumah Ibu Mimi.

“Ini pohon Kelor lagi popular di kalangan Ibu-Ibu karena ternyata banyak manfaatnya. Daunnya kalau dikonsumsi bagus untuk membantu menurunkan kolesterol, bikin jadi lebih sehat. Jadi sekarang lagi senang menanam ini” ujar Ibu Mimi sambil menyerahkan satu bibit pohon daun kelor yang masih dibungkus polybag untuk saya tanam.

Menanam Pohon Kelor di halaman rumah.


Berkunjung ke KBA Rawajati buat saya sangat menyenangkan karena bisa dapat banyak ilmu baru yang bisa saya sebarkan dan saya implementasikan di rumah sendiri. Semoga teman-teman yang membaca juga bisa dapat ilmunya ya.

Coba bayangkan jika semua rumah di Indonesia melakukan hal seperti yang dilakukan warga Rawajati pasti Indonesia asri sekali. Enak kan?


Hijau dan segar banget kan Rawajati ini? Demeeennn betah lama-lama di sini.


Kalian juga boleh lho mampir ke KBA Rawajati untuk melihat dan belajar bagaimana mereka melakukan “waste management”-nya langsung. Dengan senang hati, seluruh warga Rawajati akan membantu kamu.

Yuk sama-sama kita wujudkan Indonesia Zero Waste 2020! (pesan dari Bapak Presiden!)

Untuk cerita-cerita inspiratif dari Kampung Berseri ASTRA lainnya, kamu bisa baca di SATU INDONESIA yaa....

Cheers,





Follow Us @satyawinnie