Saturday, April 28, 2018

KBA Rawajati, Oase di Tengah Kota Jakarta

Saturday, April 28, 2018 1 Comments

"Bagaimana tadi perasaannya pas masuk ke Rawajati tadi? Sejuk nggak? Mungkin tidak terlalu terasa ya karena sehabis hujan", ujar Ibu Ninik yang menyambut kedatangan saya dan teman-teman yang berkunjung ke Kampung Rawajati di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.

Kampung Rawajati ini konon katanya adalah oase di tengah kota, kampung terhijau di DKI Jakarta. Benar saja ketika saya datang ke sana, saya sedikit tidak percaya bahwa tempat seperti ini benar-benar ada di Jakarta. Saya sedikit malu juga karena belum pernah sama sekali mendengar nama kampung ini sebelumnya padahal nyatanya Kampung Rawajati ini sudah diberitakan di 33 Negara oleh BBC karena prestasi penghijauan kota yang mereka lakukan sejak 17 tahun silam.

Kampung Rawajati yang bersih, tidak ada satu pun sampah di jalan atau pun selokan. 

Ibu Ninik Nuryanto yang akrab dipanggil Ibu Ninik adalah salah satu inisiator untuk penghijauan Kampung Rawajati. Di usianya yang sudah lebih dari setengah abad, Ibu Ninik tetap terlihat segar dan enerjik. Dengan wajah sumringah, beliau bersemangat menjelaskan awal mula perjuangan mereka untuk menghijaukan Rawajati.

“Dulu, tahun 2001 itu saya baru menjabat sebagai Ketua PKK, lalu kebetulan Ketua RW nya juga baru terpilih. Jadi kita berinisiatif untuk membuat suatu gerakan agar lingkungan tempat kami tinggal lebih asri, hijau dan lebih nyaman untuk dihuni. Bersama-sama kami mencari tahu apa yang bisa kami lakukan dari rumah sendiri” ujar Ibu Ninik.

Ibu Ninik membagikan cara untuk membuat kompos dengan bahan tong biru, sterofoam dan karpet.


Gerakan paling kecil yang bisa dilakukan adalah memilah sampah organik dan anorganik di tiap-tiap rumah. Kemudian sampah organik yang berasal dari limbah rumah tangga, diolah lagi menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik dipilah dan dimanfaatkan lagi, didaur ulang. Tidak mudah tentunya untuk mengajak seluruh warga untuk menjalankan ide yang diusung Ibu Ninik dan teman-temannya.

Setiap sudut kampung ada tempat sampah yang sudah dibagi menjadi sampah basah, sampah kering dan sampah beracun.

Di tiap rumah, ada kantong sampah untuk memudahkan warga untuk mengantarkan sampah plastik ke Bank Sampah Rawajati.

Kompos yang dibuat dipakai untuk menyuburkan tanaman pohon di sekitar halaman rumah. Meski tiap-tiap rumah tidak punya halaman yang luas sekali, diusahakan setiap rumah punya tanaman hijau dan juga tanaman obat yang bisa dikonsumsi sehari-hari. Tak ayal setelah 17 tahun, kawasan Rawajati ini sudah dipenuhi pohon-pohon rindang yang bikin udara jadi sejuk dan segar. Katanya, sekarang kadar udara di Rawajati ini paling bersih begitu pula dengan kadar air yang dikonsumsi tiap rumah tangga di sana. Sampai dilakukan penelitiannya lho.

Program penghijauan ini tidak hanya dilakukan oleh para Ibu PKK saja melainkan para Bapak juga. Oleh karena itu mereka menyebutkan di Rawajati adanya PKK Plus. Semua orang (Bapak dan Ibu) punya tanggung jawab masing-masing. Ada yang mengelola aktivitas bank sampah, pengolahan kompos, tanaman hidroponik dan membuat lubang resapan biopori.

Sampah plastik dipilah, disiangi dulu sebelum dicacah di mesin pencacah plastik.

Kebun Hidroponik di Rawajati.

Bu Ninik  berbaik hati mengajarkan kami bagaimana cara membuat kompos dari sampah organik. Dengan modal tong plastik, sterofoam, karpet yang jadi pelapis di bagian bawah dan atas, kita juga bisa membuat sendiri di rumah. Limbah rumah tangga seperti sayur dan buah dicacah dan dimasukkan ke dalam tong lalu dicampur dengan kompos yang kasar. Didiamkan saja satu bulan sambil diaduk beberapa hari sekali, jadilah kompos cair rasa buah. Hahaha.


Limbah rumah tangga yang akan diolah menjadi kompos organik.


Nah, untuk sampah anorganik, Bu Silvi berbaik hati menunjukkan Bank Sampah Rawajati kepada kami. Ada banyak kotak-kotak berisi barang bekas yang masih bisa didaur ulang, timbangan dan juga mesin pencacah sampah plastik.

Ibu Silvi sedang menjelaskan proses Bank Sampah Rawajati.


“Kita senang sekali ketika mendapat bantuan mesin pencacah sampah plastik dari ASTRA. Satu bulan kita bisa mengolah sampah plastik hingga dua ton setiap bulannya” ujar Ibu Silvi.

“Tiap warga bisa membawa sampah plastik yang sudah dipilah ke sini, pakai kantong sampah yang sudah dibagikan. Nanti sampahnya ditimbang, dikemas rapi lalu dijual lagi ke Bank Sampah Kota Jakarta yang ada di Matraman” lanjut Ibu Silvi lagi.



Barang-barang plastik yang bisa dijual ke Bank Sampah.

Mesin pencacah plastik, bantuan dari ASTRA.


Namun tak semua sampah plastik dijual ke Bank Sampah Kota. Beberapa sampah yang sekiranya bisa dijadikan kerajinan, biasanya dipisahkan misalnya kertas koran, bungkus kopi sachet, bagian tutup minuman ringan, beberapa botol plastik yang masih dalam kondisi bagus dan lainnya.

Dari sampah di atas, Ibu-Ibu di Rawajati menyulapnya menjadi vas bunga, keranjang belanja, wadah buah, hiasan bunga plastik, tissue box bahkan tikar. Keren banget kan? Kerajinan-kerajinan ini kerap ditampilkan di berbagai pameran dan mengundang decak kagum banyak orang. Ada satu ruang khusus juga di Rawajati yang diperuntukkan menjadi etalase produk kerajinan daur ulang itu. Tak sedikit tamu yang datang berkunjung ke Rawajati memborong hasil kerajinan dari sampah itu, soalnya menarik dan unik sekali.

Diajari membuat kerajinan dari sampah kertas dan koran. Bisa disulap menjadi barang-barang ini lho!

Kerajinan ini bisa dibeli dengan harga Rp 50.000,- hingga Rp 200.000,- 


Dari penjualan sampah ke Bank Kota mau pun dari hasil kerajinan dari sampah, warga Rawajati mendapat penghasilan tambahan dan membuat warga sadar bahwa kita masih tetap bisa mendapatkan keuntungan dari sampah. Memang sih itu hanya bonus ya, keuntungan terbesar yang didapat tentu saja lingkungan kita jadi lebih hijau dan warganya sehat karena tinggal di daerah yang udara dan airnya bersih.

Karena melihat program penghijauan lingkungan yang dilakukan seluruh warga, sejak 2015 silam lalu, Kampung Rawajati diresmikan menjadi Kampung Berseri ASTRA (seringnya disingkat KBA). Kampung Berseri ASTRA ini biasanya mencakup empat pilar pengembangan yakni pendidikan, kewirausahaan, lingkungan dan kesehatan.

Dalam binaan ASTRA, Kampung Rajawati terus berkembang dan kini dinobatkan sebagai Kampung Proklim oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Penghargaan ini diberikan kepada kampung yang memenuhi syarat penghijauan lingkungan seperti kadar udara, upaya pengendalian kekeringan, banjir dan longsor. Upaya pengendalian penyakit, upaya pengelolaan dan pemanfaatan limbah, peningkaatan tutupan vegetasi, pencegahan kebakaran lahan dan hutan serta upaya peningkatan ketahanan pangan.

“Kita berterima kasih sama ASTRA karena sudah dibimbing dan akhirnya kita bisa memenuhi semua persyaratan untuk dinobatkan sebagai Kampung Proklim”, ujar Ibu Ninik.

Selain binaan soal lingkungan, Ibu-Ibu di Rawajati juga dibina di bidang kewirausahaan. Tidak hanya kerajinan dari sampah, kini Rawajati punya produk panganan makanan ringan dan minuman yang bisa jadi buah tangan ketika berkunjung ke sana.

Ibu Mimi dengan wajah sumringah menjelaskan semua produk yang dihasilkan oleh Ibu-Ibu di Rawajati. Ada peyek, jamu-jamuan seperti jahe merah, temulawak bahkan bir pletok dibuat dalam kemasan yang sangat menarik dan enak. Tentu saja saya bisa bilang enak karena saya sudah mencicipinya sendiri bahkan membawa pulang beberapa. Hahahaha…


Produk-produk penganan makanan dan minuman yang dibuat oleh Ibu-Ibu Rawajati.


Sebagai penutup kunjungan ke “Oase Jakarta”, kami bersama-sama menanam bibit pohon kelor untuk ditanam di halaman rumah Ibu Mimi.

“Ini pohon Kelor lagi popular di kalangan Ibu-Ibu karena ternyata banyak manfaatnya. Daunnya kalau dikonsumsi bagus untuk membantu menurunkan kolesterol, bikin jadi lebih sehat. Jadi sekarang lagi senang menanam ini” ujar Ibu Mimi sambil menyerahkan satu bibit pohon daun kelor yang masih dibungkus polybag untuk saya tanam.

Menanam Pohon Kelor di halaman rumah.


Berkunjung ke KBA Rawajati buat saya sangat menyenangkan karena bisa dapat banyak ilmu baru yang bisa saya sebarkan dan saya implementasikan di rumah sendiri. Semoga teman-teman yang membaca juga bisa dapat ilmunya ya.

Coba bayangkan jika semua rumah di Indonesia melakukan hal seperti yang dilakukan warga Rawajati pasti Indonesia asri sekali. Enak kan?


Hijau dan segar banget kan Rawajati ini? Demeeennn betah lama-lama di sini.


Kalian juga boleh lho mampir ke KBA Rawajati untuk melihat dan belajar bagaimana mereka melakukan “waste management”-nya langsung. Dengan senang hati, seluruh warga Rawajati akan membantu kamu.

Yuk sama-sama kita wujudkan Indonesia Zero Waste 2020! (pesan dari Bapak Presiden!)

Untuk cerita-cerita inspiratif dari Kampung Berseri ASTRA lainnya, kamu bisa baca di SATU INDONESIA yaa....

Cheers,





Friday, March 2, 2018

[Review] The Quincy Hotel Singapore – 10 Alasan yang Bikin Nggak Mau Keluar Hotel 24 Jam

Friday, March 02, 2018 1 Comments


Segelas jus dingin mengalir di kerongkongan, memuaskan dahaga di siang yang panas. Kami baru saja tiba di lobby The Quincy Hotel setelah mendarat beberapa waktu sebelumnya di Bandara Changi. Tentu tak macet ya dari Changi ke pusat kota, jalanan lancar banget!

Saya dan tiga orang gadis kesayangan; Yuki, Mariza dan Samantha diajak jalan-jalan ke Singapore untuk weekend escape. But no fix itinerary, impulsif saja. Kebayang nggak? Hahaha...

Lobby The Quincy Hotel bersebelahan tepat dengan area restaurant dan bar. Tidak terlalu luas memang  namun tertata apik sekali. Sofa-sofa empuk warna-warni mewarnai lobby hingga terlihat cozy dan nyaman untuk tamu yang sedang menunggu giliran untuk check-in. Lokasinya yang strategis memang membuat hotel ini ramai sekali dikunjungi setiap hari.

Colourful The Quincy Hotel Lobby. I love it! ( Photo by : Samantha @alexandriamenthe )


The Quincy Hotel ini baru saja mendapatkan award sebagai “Top Hotel & Best Service” dari TripAdvisor Traveler’s Choice Award 2018.

“Pada laper nggak sih? Makan yuk! Ada Nasi Hainan yang enak di dekat sini”, ujar Ida, host kami yang super ramah di Singapore.

Wah, Nasi Hainan di Singapore memang terkenal kelezatannya. Banyak food stall atau restoran yang menjajakannya. Rasanya akan makan waktu yang lama kalau mencicipi semuanya. Ida sendiri punya tempat rekomendasi yang ternyata tak jauh lokasinya dari The Quincy Hotel.

Benar saja. Begitu kami tiba di sana, tempatnya sedang ramai pengunjung yang sedang menikmati makan siang. Kami masuk di daftar waiting list dan syukurlah tak lama kemudian kami dapat meja yang cukup untuk menampung kami berenam. Santap makan siang kami begitu lezat sampai kalau yang lagi diet pasti lupain dietnya. Hahahaha. Kan, diet selalu dimulai besok. Iya to?

Nanti cerita detil soal Nasi Hainan ini di blogpost berikutnya ya...

Tempting, isn't it? 


Usai santap siang kami berjalan kembali ke hotel yang jaraknya hanya selemparan batu. Bawaannya ngantuk banget karena habis makan enak, jalan kaki di jalan setapak berangin sejuk semilir. Kami akhirnya sepakat akan beristhirahat di kamar masing-masing dulu sebelum berkumpul lagi buat beraktivitas atau jalan-jalan sekitaran Singapore.

Kamar yang saya tempati luas dan saya senang sekali karena bantalnya banyak! Hahaha. Langsung saya colokkan ponsel dan memutar musik lewat music player yang ada di atas meja kamar. Sambil mendengarkan musik favorit, saya rebahan di kasur super empuk yang luas. Saya lirik ke jendela, ada sofa panjang yang pas untuk leyeh-leyeh baca  buku sambil menikmati pemandangan sejuk di sekitaran hotel.

Sebenarnya kami keluar hotel hanya untuk cari makan saja, nyicipin kuliner khas Singapore. Tapi sebenarnya kita pengennya di hotel saja karena betah banget asli. Bikin maunya ‘ngendon’ di hotel saja gitu.

Kenapa?

Ini nih alasannya :

1. Kamarnya luas banget, bikin betah seharian di kamar, kasur king-size nan empuk serta bantal-bantal yang bertebaran dan selimut lembut itu favorit banget. Saya yang tukang tidur ini pasti maunya bergelung di balik selimut nggak keluar seharian hahaha.


 
Saking asyik di kamar, bawaanya mager ke luar hotel. Hahaha... (Photo by : @iammariza )
  2. Kamar mandinya nggak kalah luas, kayaknya muat jadi kamar kos-kosan mahasiswa. Hahaha.  Dilengkapi dengan bathtub buat berendam seharian (kemarin dapat compliment bath-salt tapi sayang nggak terpakai karena nggak sempat berendam, hiks).



Yak, siapa yang senang berendam kalau di hotel? ( Photo by @yukiangia )
     3. Amenities-nya dari “Le Labo”, produk yang katanya sedang digandrungi anak muda di New York. Setelah saya coba sendiri, barulah saya tahu kenapa dia jadi favorit. Wanginya enak banget dan bikin kulit lembut. Hmmmmmm ena’....



    4. Free Flow ICE-CREAM!

Maybe you want to try our ice cream? Free flow from 12 pm to 6 pm every day” ujar salah satu staff The Quincy kami sedang duduk di restoran. Whoaaaa, free flow ice cream? Really?

Langsung saya ingin meluncur secepatnya menuju area bar dan menarik tuas mesin ice cream dan mengisi wadah cup saya dengan vanilla ice cream yang saya tuang sauce topping chocolate & strawberry di atasnya. Makan es krim enak sepuasnya? Uh, bahagia tak terperi.

Ice Cream Stall my love! ( Photo by @yukiangia )

5. Free Flow COFFEE!

Nah, kalau ini Yuki yang girangnya setengah mati. Saya juga girang banget karena suka kopi. Kopinya beneran enak kata Yuki (percayalah pada lidah Yuki tentang kopi) jadi kita refill cangkir berkali-kali selama menginap di The Quincy. Hahahaha…

Selain Coffee Machine yang ada di bar hotel, ada juga Nespresso Machine yang tersedia di masing-masing kamar jadi bisa seduh kopi kapan saja...




6. Handy Phone untuk Internet Gratis. 
Sore itu kami berencana untuk keliling sekitaran Orchard Road karena jaraknya dekat sekali dari The Quincy Hotel. Tapi kami lupa belum beli simcard. Sementara update-an pakai wifi hotel sampai mata saya tertumbuk pada sesuatu. Ada ponsel dengan layar cukup lebar terletak di atas meja. Ternyata itu adalah “Handy”, fasilitas ponsel dari hotel. Bisa dipakai untuk internetan. Duh asyik sekali nggak usah beli simcard lagi karena kami hanya stay 3 hari. Untuk beli simcard sendiri biasanya harganya SGD 15, unlimited untuk 5 hari. Kalau pakai handy lebih hemat kan? Nggak bayar lagi kan? Iya, iya, tenang saja, handy ini fasilitas gratis dari The Quincy Hotel untuk seluruh tamu yang menginap kok.

Super cool Handy, so useful so you don't have to buy Singapore Simcard, Hahaha... (Photo by @yukiangia )



     7.  24 Hours GYM & POOL!
      Seumur-umur aku menginap di hotel mana pun dalam dan luar negeri, belum pernah nih aku tahu ada hotel yang fasilitas Gym dan Kolam Renang-nya bisa dipakai 24 jam. Mau berenang subuh-subuh silakan nggak ada yang melarang, asal siap-siap masuk angin kalau berenang jam segitu ya. Hahaha. Gym-nya terletak tepat di sebelah pool, dilengkapi dengan alat fitness standar seperti treadmill dan beberapa alat latihan beban. Kalau gym sih kedemenannya Mariza yang paling aktif olahraganya setiap hari. Begitu lihat gym dan tahu itu buka 24 jam, matanya langsung berbinar-binar. Hahahaha… Oh iya, disediakan juga handuk bersih, isotonic drink dan cemilan yang bisa kita ambil sebanyak yang kita mau.


Nggak terlalu luas tapi gymnya bersih dan wangi! ( Photo by : @yukiangia )
     8. Makanan yang disajikan di The Quincy enak semua! Saking enaknya, saya lupa foto beberapa karena keasyikan menyantap makanan. Menunya bervariasi dan menarik sekali saat disajikan. Kami semua nggak berhenti ngunyah-ngunyah-ngunyah.



      9.  Rooftop Movie Night Every Weekend!
Kalau lagi liburan barang keluarga atau sahabat, asyik kan kalau menghabiskan malam minggu dengan nonton film seru? Apalagi kalau minuman ringan dan cemilannya juga sudah disediakan. Nah, itu yang kami lakukan sewaktu menginap di The Quincy. Setiap malam minggu, selalu ada movie night di rooftop hotel. Jadi sambil nonton film, kita bisa menikmati panorama gedung-gedung berlampu di Singapore saat malam.

Saturday Movie Night with the gengs. Coba tebak kami nonton film apa ya itu?

Cityscape view from The Quincy Hotel Rooftop! (Photo by @yukiangia)

10. Qool Weekend Project!
Ini juga yang jadi alasan kuat kenapa kita nggak harus keluar hotel untuk seru-seruan. The Quincy punya beberapa kegiatan seru yang bisa kita ikuti di akhir pekan dan salah satu contohnya adalah Cooking Class. Kami berempat bersama dengan 2 tamu lain diajakin untuk membuat cookies dan menghiasnya. Nggak disangka-sangka, Yuki dan saya keluar jadi pemenang kompetisi kecil itu. Hahaha. Aneh bin ajaib. Harusnya Samantha yang menang karena anaknya artistik banget!

Super fun Qookielicious! Kalian juga cobain kalau menginap di sini ya...


Beberapa nilai plus lain kalau menginap di The Quincy adalah mereka menyediakan layanan “Early Check In” dan “Late Check Out” (tapi based on room availability juga ya). Jadi kalau tiba terlalu pagi atau pesawatnya agak malam, bisa tanyakan ke resepsionis apakah bisa early check in / late check out.

Karena lokasinya strategis (dekat banget dari Orchard Road) dan dilengkapi fasilitas serta layanan yang mumpuni, wajarlah harganya memang tidak seperti hotel-hotel budget. Asyik lho kalau memang mengajak keluarga atau sahabat-sahabat untuk menginap bersama di sini. Kalau pesan lewat website Far East Hospitality bisa dapat diskon hingga 30% lho. Lumayan banget kan?

Selamat menikmati Singapore!

The Quincy Hotel

22 Mount Elizabeth Singapura 228517. 

Phone : (+65) 67385888

Email: info.tqh@fareast.com.sg

Website : www.stayfareast.com


Cheers,




Tuesday, February 27, 2018

Cerita Pemuda Sembalun, yang Bermimpi Lebih Tinggi dari Gunung Rinjani

Tuesday, February 27, 2018 8 Comments

Kopi hitam pekat masih mengepul panas dari gelas kaca tanpa gagang. Berbalut sarung Bima yang hangat, saya menyeruput kopi yang harus didiamkan beberapa saat setelah diaduk agar ampasnya luruh.

Di depan saya ada seorang Bapak merengkuh anak bayinya dekat ke dada agar tetap hangat. Tentu ia pun berbalut sarung seperti saya. Udara memang dingin tetapi sinar matahari pagi cukup cerah jadi artinya bagus untuk berjemur dan dapat vitamin D.



Pagi di pedesaan memang selalu menyenangkan. Saya menikmati sekali pagi di Sembalun, desa kecil di kaki Gunung Rinjani. Suasana pedesaan relatif sepi karena tak ada pengunjung atau pendaki. Rinjani sedang “beristhirahat” hingga bulan Maret nanti. Biasanya pendaki mulai ramai lagi di bulan April saat Taman Nasional Rinjani sudah dibuka. Ah, saya lupa bahwa bukan Taman Nasional lagi labelnya, tetapi Geopark. Namanya sekarang berganti menjadi Geopark Rinjani.



Saya sangat menyenangi suasana damai tanpa pendaki atau wisatawan di Sembalun. Memang katanya tak direkomendasikan untuk berkunjung ke Sembalun saat bulan November hingga Maret karena cuaca dipastikan tidak cerah, cenderung hujan dan berkabut setiap hari. Dan saya datang di bulan Februari. Hahahaha.

Namun pagi itu berbeda, Dewi Anjani (re : Gunung Rinjani) mood-nya sangat baik dan lagi bersolek cantik. Langit biru dengan gumpalan awan putih kecil menari-nari di atas kepalanya. Ia tampak memesona dari ujung kepala hingga kaki. Menggoda sekali.

Oh iya, tahukah kalian kenapa desa di kaki Rinjani itu dinamakan Sembalun?

Asalnya dari dua kata yakni ‘Sembah’ yang artinya taat / patuh ; dan ‘Ulun’ yang artinya di atas (bisa diartikan juga sebagai Yang di Atas, pemimpin, orang tua). Artinya, orang Sembahulun diwajibkan untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta dan pemelihara nan agung, menghormati orang tua dan pemimpin. Keharmonisan itu masih dijaga hingga saat ini.

Mayoritas penduduk di Sembalun bermata pencaharian sebagai petani atau peternak. Pasar hanya dibuka dua kali satu minggu, Pasar Kemis (Kamis) dan Pasar Minggu. Hanya dalam dua hari itu saja masyarakat Sembalun berkumpul, menggelar lapak, berjual beli kelontong, bumbu masakan, daging, pakaian, dan kebutuhan sehari-hari lainnya.



Kalian harus tahu bahwa saya adalah penyuka sarung dan sarung dari Nusa Tenggara Barat adalah sarung favorit saya dan kerap saya sebut sebagai sarung ajaib, menghangatkan saat hari sedang dingin dan bikin adem saat hari sedang panas terik. Jadi saya tak mau menyia-nyiakan kesempatan berbelanja sarung di pasar Sembalun. Hohohohoho…

Saat saya berbagi video belanja sarung di pasar di Instagram Story saya, langsung saja kotak pesan saya langsung dibanjiri permintaan “jastip” alias jasa titipan. Mereka ingin beli sarung seperti saya juga. Sayang saat mereka mengirim pesan itu, pasarnya sudah tutup karena pasarnya memang berlangsung beberapa jam saja di pagi hari. Duh maafkan ya teman-teman, nanti lain kali ya dibelikan sarungnya, atau beli langsung lah ke Sembalun. Asyik lho jalan-jalan ke sana. Mungkin sekalian mendaki Gunung Rinjani?

Saya juga mendapat banyak pesan menyenangkan dari teman-teman yang mengikuti dan menonton Instagram stories saya. Katanya mereka terhibur dengan pemandangan cantik Sembalun dan segala pesona orang-orangnya. Ya saya sih terus-terusan saja upload semua update perjalanan saya karena sinyal di Sembalun itu 4G lho! Serius!

Pakai provider apa Sat bisa dapat 4G di desa kecil terpencil begitu?

Pakai XL Axiata. Eheeehe… Dijamin sinyal selama di Sembalun 4G terus, ON terus. Saya sendiri juga terkesima sih karena biasanya kalau di desa-desa gitu kan sinyalnya paling ya 3G. Jadi pas di Sembalun dapat 4G signal, seneng banget lah upload  dan update terus-terusan. Video call sama orang rumah yang tersayang juga lancar karena sinyal 4G nya stabil banget. Bahkan Mama saya sampai berujar “Bah, di kampung-kampung pun kau tetap bisa lancar video call ya” dengan logat Bataknya yang kental. Hahahaha.

XL Axiata masuk ke Sembalun pertama kali tahun 2012. Sebelumya, tak ada sinyal sama sekali yang menjangkau desa ini. Memang XL Axiata sedang berekspansi besar-besaran ke pelosok negeri. Sekarang jaringan 4G LTE nya sudah menjangkau 360 kota / kabupaten di seluruh Indonesia. Bayangkan, total BTS nya saja sekarang ada 101.094 dan akan terus bertambah. Asyik banget kan ya kalau memang nantinya makin banyak desa-desa yang terbantu komunikasinya jadi lebih baik dengan sinyal XL.

Nah, ada satu cerita yang ingin saya bagikan ke kalian dari Sembalun kemarin.

Dalam perjalanan saya ke Desa Sembalun, saya bertemu dengan beberapa pemuda yaitu Anto, Ungga, Tiger, Abeng, Jo. Sehari-harinya mereka berkebun, berladang dan juga menjadi porter pendakian Gunung Rinjani. Mereka sedang libur karena kegiatan pendakian sedang sepi.



Hampir semua anak laki-laki di Sembalun, sudah terbiasa mendaki gunung, lewati lembah setiap harinya. Sudah terbiasa membantu orang tua sedari kecil, mengolah ladang mereka yang ada di balik bukit-bukit menjulang. Menjadi porter pun kadang mereka lakoni untuk membantu perekonomian keluarga. Naik gunung dengan bapaknya, bersama-sama menjadi porter. Jadilah seluruh pemuda yang tidak merantau ke luar dari Desa Sembalun, berprofesi seperti orang tuanya terdahulu, petani, peternak, porter. Sedangkan yang merantau ke luar desa dan mengenyam pendidikan di bangku universitas memiliki kesempatan lebih besar untuk memiliki profesi lain, entah itu guru, pengusaha atau profesi-profesi lainnya.

Kadang, saya merasa ada saja anak muda di desa yang tak pernah bermimpi. Mungkin karena sudah terbiasa dengan apa yang mereka punya, nyaman dengan tempat di mana mereka tinggal, merasa cukup untuk segala yang ada di sekitar mereka. Dan tentu saja itu tidak salah. Sama sekali tidak.

Tetapi ketika saya mendengar cerita teman-teman saya dari Sembalun, saya terkesima, saya kagum dengan semangat tinggi mereka, yang berani bermimpi. Bermimpi tinggi, lebih tinggi dari Gunung Rinjani. Salah satunya adalah Ungga, pemuda asli Sembalun yang berusia 20 tahun. Ini ceritanya.

Sejak mereka mengenal internet, mereka senang betul menggunakan social media. Lingkaran pertemanan mereka yang tadinya hanya teman-teman di desanya atau desa sebelah saja, semakin meluas dengan perkenalan via Facebook, Instagram, Twitter dan lain-lain. Tapi anak-anak muda ini lebih suka menonton Youtube. Mereka menonton banyak tayangan seru yang tidak disiarkan di televisi rumah.

“Paling suka dulu aku nonton video orang-orang bisa terbang tu Mba Satya” ujar Ungga dengan logat Bahasa Sasaknya yang kental.

“Dulu ada yang terbang pakai parasut dari puncak Bukit Pergasingan tu. Orang Australia. Mendarat dia di lapangan dekat masjid tu. Kami tanya-tanya lah orang itu dan katanya nama olahraganya paralayang. Wiiii langsung aku pengen kayak dia” lanjut Ungga lagi.



Ungga yang waktu itu masih di bangku SMA penasaran betul dengan paralayang ini sampai kerjaannya hanya menonton video-video terbang paralayang di Youtube. Karena sinyal 4G, ya hampir setiap saat Ungga mantengin layar ponselnya, bahkan saat sedang beristhirahat kerja di ladang.

Sampai akhirnya Ungga bertekad manta pia ingin jadi penerbang paralayang satu hari nanti. Ia ingin terbang solo dan berharap suatu waktu kelak ada orang yang akan mengajarinya terbang. Sekolah paralayang memang tidak murah jadi Ungga berharap ada keajaiban dari langit.

Keajaiban itu pun menghampirinya ketika ada seorang pilot paralayang dari luar Lombok yang menawarkan anak-anak muda Sembalun untuk belajar paralayang. Waaaah, pucuk di cinta, ulam pun tiba. Ternyata cantiknya Bukit Pergasingan di Sembalun sudah menyebar di social media dan banyak sekali pilot paralayang yang tertarik untuk terbang di sana karena view-nya memang spektakuler. Salah satunya adalah pilot yang akhirnya bertekad ingin mengenalkan dan melatih anak-anak asli Sembalun untuk terbang.

Anak-anak muda yang saya sebut di atas tadi, Ungga, Anto, Tiger, Jo, semuanya antusias sekali untuk berlatih. Keberuntungan lagi menyapa mereka ketika salah seorang pilot paralayang dari Taiwan melihat bakat dan kegigihan mereka, memberikan satu set parasut dan perlengkapan terbang untuk mereka gunakan. Satu set parasut dan perlengkapan itu harganya berkisar 30 juta – 70 juta rupiah. Mereka bagai kedapatan durian runtuh ya.



Semangat mereka semakin menggebu untuk berlatih terbang dan belajar banyak juga dari Youtube setiap harinya. Mereka belajar mengenali zona terbang, tipe angin dan manuver saat terbang dari video-video yang mereka tonton.

Dan kini mereka sudah menjadi penerbang paralayang berlisensi dan juga atlit paralayang provinsi Nusa Tenggara Barat. Harapan mereka ingin menjadi pilot tandem paralayang dan nantinya mengembangkan wisata dirgantara di Sembalun, kini tampaknya bukan khayalan belaka. Sebentar lagi, Sembalun pasti makin ramai dengan permintaan wisatawan yang ingin mencoba rasanya duduk terbang melayang-layang di udara.

Saya senang sekali mendengarkan cerita itu langsung dari mereka. Pun mereka bilang andai sampai saat ini belum ada sinyal internet yang menjangkau Desa Sembalun, mungkin mereka tidak akan pernah mengenal paralayang atau pilot di luar Lombok tahu tentang cantiknya Pergasingan dan potensinya untuk menjadi take off area paralayang.






Semua orang, kita, pasti ingin jadi lebih baik hari ke hari, sama seperti XL Axiata yang berkomitmen untuk dengan berusaha mengembangkan jaringan data berkualitas ke seluruh penjuru tanah air. XL Axiata ingin mendorong masyarakat Indonesia untuk menjadi lebih baik untuk dirinya sendiri dan keluarga, juga masyarakat dan komunitas sekitar dalam segala aspek kehidupan.

Kalau kamu? Apa definisi #JadiLebihBaik versimu sendiri?



Cheers,





Follow Us @satyawinnie