Thursday, October 19, 2017

Se’i Sapi Lamalera Bandung, Se’i Sapi Lezat Dijamin Halal

Thursday, October 19, 2017 0 Comments


“Serius ini halal Se’i nya Sat?” tanya seorang teman lewat komentar Instagram ketika saya memposting satu foto saat saya sedang menikmati makanan di Se’i Sapi Lamalera, Bandung.

Pertanyaan itu tentu wajar terlontar karena biasanya Se’i, makanan khas Kupang, Nusa Tenggara Timur ini, terbuat dari daging babi yang diasap. Karena se’i = babi, identik dengan makanan haram untuk teman-teman yang beragama muslim.

Nah, masa iya ada se’i yang halal?

Ya ada. Saya sudah coba dan lihat ke dapurnya, semuanya halal karena memang daging yang digunakan adalah 100% daging sapi dan daging ayam.

Nggot, biasa ia dipanggil, bercerita tentang kesukaannya membuat daging asap dan berkutat di dapur sejak ia masih kecil. Jadilah ia merealisasikan idenya untuk membuat se’i sapi halal di Bandung.

“Kok namanya Lamalera sih Nggot? Kan di Lamalera mereka makannya daging paus, bukan daging babi atau sapi” tanya saya.

“Hahahaha, iya, sebenarnya karena saya belum pernah ke Lamalera tapi suka dengan nama Lamalera, jadilah nama tempat makan ini” jawab Nggot sambil terkekeh.

Lokasi Se’i Sapi Lamalera ini ada di Jalan Bagus Rangin No 24A, dekat dengan Lapangan Gasibu, Unpad, Jalan Dago. Sudah ada di google maps jadi sangat mudah ditemukan. Jadi kalau mau naik gojek, grab atau uber, mudah sekali kok.



Kalau datang ke Se’i Sapi Lamalera, kamu bisa memilih untuk duduk di bagian luar atau bagian dalam restoran. Cukup luas jadi kalau mau makan sekeluarga sampai 20-30 orang juga muat kok. Asal reservasi saja dulu yak arena sekarang Se’i Sapi Lamalera ini rame banget terutama di jam makan siang dan makan malam. Dan juga sudah banyak sekali order yang datang dari layanan food-delivery seperti gojek.

Menu-menunya memang enak-enak banget jadi wajar saja kalau makin hari makin banyak orang berdatangan bahkan dari luar kota Bandung untuk mencicipi Se’i Sapi Lamalera.

Ada pilihan daging sapi, daging ayam dan lidah sapi. Yang membuat special adalah varian sambalnya. Ada sambal lu’at, sambal ijo, sambal rica-rica, sambal matah dan lada hitam. Favorit saya sih sampai sekarang ya sambal lu’at nya. Rasa asam pedas yang segar, dipadu dengan se’i sapi yang empuk benar-benar membuat saya melayang-layang saking enaknya. Selain daging Se’i sapi atau ayam tersaji juga sup serta sayur singkong dengan bunga papaya sebagai pelengkapnya. Jadi kalau kepedesan, bisa minum sup hangat untuk menetralisir rasa pedas yang diakibatkan oleh sambalnya.


Se'i Sapi Sambal Matah favorit saya!

Se'i Sapi Lada Hitam

Lidah Sapi Asap sambal Lu'at

Se'i Sapi Sambal Luat favorit saya!


Ada dua pilihan porsi yang bisa kamu coba yaitu porsi regular dan porsi jumbo. Kalau lagi lapar dan kangen banget sama Se’i Sapi Lamalera, saya pasti memesan yang jumbo. Bahkan kadang yang jumbo juga masih kurang. Maunya nambah lagi dan nambah lagi.

Untuk minuman, saya senang sekali dengan menu teh sereh dan teh pandan. Paduan yang pas sekali untuk menyantap se’i sapi atau ayam.

Untuk satu porsi regular dengan nasi, dibanderol dengan harga sekitar Rp 20.000 dan untuk porsi jumbo sekitar Rp 35.000. Minuman berkisar dari Rp 5.000 – 15.000. Bersahabat banget sama kantong kita kan? Makanya mampir-mampir lah ke Se’i Sapi Lamalera kalau ke Bandung ya.


Bisa lihat juga Instagramnya @seisapilamalera untuk tahu menu-menu terbaru dan juga diskon spesial. Untuk reservasi bisa line ke id : seisapilamalera atau text / call +62 822-1528-4910 juga ya.




Gimana, gimana? Jadi lapar kan habis lihat foto-foto Se'i Sapi Lamalera? Saya juga. Hahahaha. Yuk cobain ke Bandung yuk!


Cheers,


Saturday, October 14, 2017

Ode dari Ketambe, Menyambangi Orangutan di Leuser Ecosytem

Saturday, October 14, 2017 6 Comments

Sepiring pancake bertabur buah-buahan segar sudah mendarat dengan aman di dalam perut yang semalaman keroncongan. Carrier merah muda kesayangan sudah siap disandang masuk hutan. Cicit burung nan merdu jadi nyanyian pengawal hari yang cerah menyenangkan. Rasanya lebih dari sekedar menyenangkan karena saya dan delapan teman, tim #LastPlaceOnEarthChallenge akan masuk ke jantungnya Leuser Ecosystem Aceh untuk bertemu langsung dengan orangutan dan teman-temannya.

“Sebelum mulai trekking ke hutan, kita mau ke pos dulu ya, katanya ada beberapa orangutan di sana”, ujar Bang Zul, local guide kami di Ketambe.

Bang Zul, local guide kami di Ketambe...

Hati saya deg-degan serasa akan kencan pertama kali. Iya bisa dikatakan begitu karena saya akan bertemu, melihat, berkencan langsung dengan orangutan di rumahnya, hutan rimba.

Trekking ke Ketambe ini jadi pemanasan sebelum kami melakukan pendakian 6 hari ke Gunung Kemiri, yang juga masih dalam satu kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Tujuannya ingin melihat Orangutan, Macaca / monkey, gibbon, flora dan fauna yang ada di jantungnya Aceh. Tapi harus diingat, bahwa tidak ada yang bisa memastikan di mana dan jam berapa kita bisa melihat hewan-hewan itu karena mereka liar dan tidak menyukai kehadiran manusia. Begitu mendengar suara manusia sedikit saja mereka sudah langsung kabur.

Garry, ketua ekspedisi ini, sudah memberitahu kami di awal bahwa ketika melihat hewan-hewan liar, sebaiknya tidak mengeluarkan suara sedikit pun, seberapa pun girangnya kita. Bahkan jalan harus mengendap-ngendap agar suara langkah kaki kita tidak terdengar oleh mereka. Selayaknya memasuki rumah orang lain, kita harus sopan kan?

Garry Sundin, our trip leader from Orangutan Odysseys

Dengan langkah pelan kami menuju salah satu lokasi yang katanya sedang menjadi tempat favorit orangutan berkumpul belakangan. Ternyata pohon itu sedang berbuah hingga beberapa orangutan memutuskan untuk berdiam dan jadilah mereka bersarang di pohon besar itu sementara waktu. Ada sekitar 5 orangutan yang kami temui. Sebagian dari mereka sedang asyik berayun di antara ranting pohon dan mengunyah daun serta buah. Sebagian lagi masih asyik tidur di dalam sarangnya. Pohonnya besar sekali sehingga kami tidak bisa melihat dari dekat. Hanya Adam dan Sean yang membawa lensa kamera tele yang mengabadikan orangutan itu secara close-up.


Orangutan nya melihat kami yang menatap dia dengan gembira dan dibalas dengan tatapan seperti itu...



Ketika sudah dirasa cukup mengabadikan orangutan di lokasi pertama, Garry mengajak kami untuk bergerak masuk ke dalam hutan Ketambe. Pintu masuk ke hutannya ada di tepi jalan dan tidak ada plang apa pun yang menjadi penanda bahwa itu pintu. Selain Bang Zul, ada Bang Sam dan Bang Is yang mendampingi ekspedisi kami.

“Satya capek nggak? Mau dibawakan tasnya?” tanya Bang Zul setelah setengah jam pendakian dimulai. Jalurnya sangat menanjak sehingga saya basah bermandikan keringat karena membawa beban yang lumayan berat di punggung. Saking basahnya saya terlihat seperti habis mandi. Mungkin karena melihat itu Bang Zul merasa kasihan dan menawarkan bantuan.

“Nggak apa-apa Bang Zul. Sudah biasa berkeringat deras begini setiap naik gunung. Sekalian latihan bawa beban nih sebelum ke Gunung Kemiri” ujar saya sambil terkekeh. Tubuh kita memang butuh adaptasi dulu saat akan naik gunung. Bagian terberat saat naik gunung adalah 3 jam pertama, apalagi kalau sudah disuguhi tanjakan dari awal pintu masuk. Tubuh kita kan butuh beradaptasi dulu ya jadi ada baiknya berjalan dengan ritme pelan tapi pasti.

Setiap setengah jam / satu jam kami berhenti untuk beristhirahat sekitar 10 menit. Kami manfaatkan waktu isthirahat itu untuk minum dan menyantap makanan ringan yang kami bawa. Tentu tak lupa foto-foto dengan pohon dan lumut cantik dalam hutan. Saya sangat menikmati ekspresi teman-teman dari Australia ketika melihat sesuatu, entah itu pohon, daun, bunga, lumut yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Ayo, ada yang tahu ini hewan apa?

Di tengah perjalanan kami juga menjumpai akar-akar gantung yang panjang dan cukup kuat untuk kami jadikan ayunan. Tentu saja sangat menyenangkan bisa berayun-ayun ala Tarzan dengan akar-akar itu. Semuanya tertawa gembira dan sejenak lupa rasa pegal di kaki karena sudah berjalan untuk waktu yang cukup lama.


Local Tarzan, Bang Sam, happily swing among the trees....

Angie also looks so happy swinging around...

Setelah dirasa cukup bermain-main, kami meneruskan perjalanan dan tak berapa lama kami mendengar gemerisik dedaunan. Secara reflek kami melangkah berjinjit, sebisa mungkin tidak menimbulkan bunyi. Kami percaya itu adalah orangutan yang sedang bergelayut di pepohonan.

Ternyata benar.

Tak berapa lama, satu orangutan betina dan anak orangutan yang berusia sekitar 2 tahun bergelayutan di dahan-dahan pohon, tepat di atas kepala kami. Mama Orangutan sempat berhenti sejenak dan melihat kami, begitu dekat. Kami terdiam namun membidik lensa kepadanya. Saya terduduk di tanah dan air mata menetes di mata saya. Tentu itu adalah air mata bahagia. Dengan perasaan puas bahagia, kami melanjutkan perjalanan ke camp tempat kami akan isthirahat makan siang dan juga beristhirahat sebelum eksplorasi Ketambe lagi keesokan harinya.

Mama orangutan and the baby <3


Camp kami didirikan tepat di tepian sungai namun tetap aman meski air sungai bisa naik pasang. Tim guide dan porter selain Bang Zul, Bang Is dan Bang Sam sudah ada di sana sedang memasak dan menyiapkan tenda serta makan siang. Sambil menunggu, kami semua diperbolehkan menikmati free time yang tentunya kami pergunakan untuk mandi di sungai. Menyegarkan rasanya bisa berendam di air sungai yang dingin setelah hampir setengah hari berjalan kaki.


Across the river was fun!


Our river camp...

Lusi & Bang koki kita yang memasak makanan selama 2 minggu ekspedisi LPOEC


Sehabis berenang di sungai, terbitlah lapar sehingga kami menyantap makan siang kami dengan sangat lahap. Saya bahkan sampai menambah nasi hingga dua piring. Energi kembali terisi penuh dan kami siap berjalan lagi. Rencananya kami hanya akan berjalan selama dua jam, mengeksplorasi Ketambe dan berharap bisa bertemu orangutan lagi. Sayang kami tidak terlalu beruntung sore itu, namun tidak kecewa juga karena kami sudah menjumpai 7 orangutan.

Menjumpai 7 orangutan di habitatnya dalam satu hari tentu tidak bisa hanya dibilang beruntung. Sangatlah beruntung namanya. Ya kan?

Di hari kedua kami mengeksplorasi Ketambe, target kami adalah menjumpai Hornbill & Gibbon yang bisa dijumpai di pagi hari saat mereka berjemur di pucuk-pucuk pohon. Kami mulai berjalan jam 7 pagi dan mengikuti bunyi-bunyian Gibbon yang sangat khas. Pastinya ada banyak sekali Gibbon di Ketambe jika mendengar betapa gaduhnya suara mereka di pagi hari.

Namun sayangnya Gibbon menyukai pohon-pohon yang sangat tinggi sehingga sangat susah melihat mereka dari jarak dekat. Harus bawa binocular sendiri atau pakai lensa tele yang bisa menangkap gerakan mereka yang cepat. Saya tidak memiliki kedua-duanya, sehingga saya hanya mendongak, melihat titik-titik kecil berwarna abu-abu di puncak pohon. Namun saya sangat menikmati suara mereka yang begitu merdu di telinga. Bunyinya bersahut-sahutan seperti rumpi pagi yang seru. Saya mau ikutan tapi nggak mengeti bahasanya. Bagaimana dong? Hehehehe…

Dalam perjalanan ke Ketambe ini, kami juga dimanjakan dengan berendam di “kolam” air panas. Sebenarnya bukan kolam secara harafiah, melainkan sungai yang dialiri air panas dan air dingin yang menjadikan ada beberapa titik kolam yang bisa dijadikan tempat berendam. Meski hanya diberi waktu 30 menit untuk berendam karena harus kembali ke camp untuk makan siang. Tanpa babibu, saya buka baju dan langsung berendam.

Aih Mak enak betul!

Sumber air panas yang mengalir bersamaan dengan air dingin sungai sehingga menjadi air hangat...

Left - Right : Princess Sher, Mil, Angie, me, Brendan


Segala rasa pegal di paha, telapak kaki, pundak, punggung, hilang tak terasa lagi. 30 menit itu terasa sebentar sekali padahal saya masih ingin berendam. Tapi kalau berlama-lama nanti saya ditinggal sendirian di hutan. Bergegaslah kami berpakaian dan mengenakan sepatu, bersiap berjalan lagi.

Begitu tiba di camp, makan siang sedang disiapkan dan kami masih punya waktu untuk berenang sebentar di sungai sambil mengeringkan pakaian basah yang kami pakai berendam di air panas. Langit biru tak berawan, air sungai yang mengalir segar dan angin semilir nan sejuk membuat saya betul bersyukur, merasa terberkati untuk perjalanan di Ketambe yang sangat menyenangkan.

Saya buka mata lebar-lebar, saya tegakkan telinga, saya hirup udara dalam-dalam, berusaha untuk merekam sebaik-baiknya apa yang saya lihat, saya dengar dan saya hirup. Rekaman perasaan yang menyenangkan yang ingin saya putar berulang-ulang setiap kali saya merasa terlalu banyak beban pikiran. Nyanyian alam, ode, ode dari Ketambe...

Greetings from the Jungle Girls ; me, Angie, Princess Sher, Mil, Emma
Ekspedisi bertajuk "Last Place On Earth Challenge" ini diselenggarakan oleh Orangutan Odysseys dan menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya. Berminat ikut? Bisa langsung kontak mereka ya!


Cheers,










Saturday, October 7, 2017

Stingless Jellyfish di Togean, Kencan Tak Bersuara dengan Ubur-Ubur Peka

Saturday, October 07, 2017 6 Comments
 


“Di sisi sana sudah ada kapal yang berlabuh dan jembatannya sudah rubuh. Jadi kapal kita sandar di sini dan kita menyeberang bukit itu ya” ujar Ferry begitu kapal kayu kecil kami berlabuh di pantai kecil bernama Pantai Karina.

Memang biasanya ada dermaga khusus untuk menyambangi danau ubur-ubur tak menyengat (Stingless Jellyfish) atau dikenal juga dengan nama Danau Mariona. Namun dermaganya rusak sehingga kapal sulit berlabuh dan wisatawan harus berenang dulu ke pantai yang jaraknya lumayan.

Jadi, Ferry, local guide kami, memutuskan untuk berlabuh di pantai landai di seberang danau dan mengajak kami mendaki bukit kecil untuk menuju ke danau ubur-ubur. Tidak terlalu jauh kok, hanya sekitar 15 menit berjalan mendaki dan menuruni bukit. Disarankan untuk mengenakan alas kaki karena jalurnya dipenuhi batu tajam. Berjalanlah pelan dan hati-hati agar tidak terpeleset. 

Begitu tiba di atas danau, kami melihat tidak hanya dermaga yang rubuh, ternyata pondokan di danau Ubur-Ubur nya juga rubuh. Pondok beratap merah itu rata dengan permukaan jembatan. Menurut penuturan Ferry, penyebabnya adalah angin badai kencang yang melanda beberapa waktu silam. Ya, kalau di pulau kecil, kondisi alam memang tidak pernah terduga. Semoga dermaga dan pondok akan diperbaiki segera. Maaf ya foto pondok rubuhnya nggak ada, cuma sempat foto danau saja kemarin.



Danau kecil berwarna hijau itu bersebelahan tepat dengan laut sehingga airnya payau. Dari permukaan ubur-uburnya tidak kelihatan sehingga kita harus berenang di danau. Namun ada beberapa hal yang harus kita perhatikan saat akan berenang di danau ubur-ubur ini.

1.   Jangan mengenakan tabir surya / sunblock. Kenapa? Karena sunblock mengandung bahan kimia yang akan menjadi racun bagi ubur-ubur. Karena ubur-ubur tak menyengat ini sudah mengandung zat dalam tubuhnya yang membuat dia tidak menyengat. Nah, jika kita menggunakan sunblock, artinya kita menginjeksikan bahan kimia yang mungkin berdampak menjadi racun dan mengakibatkan kematian untuk ubur-ubur. Atau, karena zat kimia itu, ubur-ubur ini bisa mengeluarkan lagi sengatnya.

2.     Jangan menggunakan kaki katak saat berenang di danau. Kenapa? Karena kepakan yang kita buat saat menggunakan fin / kaki katak, bisa melukai ubur-ubur yang lunak itu. Bayangin kalau kamu lagi berenang senang dan tenang, tahu-tahu kamu ditampar dan ditonjok sama orang yang tak kamu kenal. Sakit kan? Kesel kan? Nah, begitulah yang dirasakan ubur-ubur juga.

3.    Berenanglah dengan tenang dan tidak meloncat ke danau pakai gaya salto atau gaya batu. Kenapa? Karena dentuman saat kamu jatuh ke air itu sangat besar dan bisa melukai ubur-ubur. Jadi turunlah ke air dengan pelan sehingga ubur-uburnya juga tidak “tertimpa” badan kita.

4. Jangan menyentuh,  meremas ubur-ubur, mengangkatnya keluar dari air dan melemparnya. Kenapa? Karena ubur-ubur itu juga makhluk hidup, bukan mainan squishy, meski sama-sama kenyal dan menggemaskan. Danau itu adalah rumah mereka dan kita adalah tamu pendatang. Bersikaplah sopan kepada sang empunya rumah ya. Kalau tak sengaja bersentuhan dengan ubur-uburnya ya tidak apa asal jangan menyakitinya ya.

Mungkin itu yang bisa saya sarankan dan semoga teman-teman yang nantinya mau berenang dengan ubur-ubur tak menyengat ini sudah mengerti betul. Semoga berguna ya informasinya.




Waktu saya tiba di danau ubur-ubur itu waktu sudah hampir tengah hari. Waktu terbaik sebenarnya saat pagi hari di mana banyak ubur-ubur akan berenang di sekitaran permukaan. Saya turun dari pinggir danau dan berenang ke bagian tengah. Visibility bagus karena matahari sedang bersinar cerah dan saya bisa melihat banyak ubur-ubur sedang berenang bebas. Ada yang berwarna kuning dengan tentakel besar, ada yang berwarna putih biru dan ada yang transparan. Semuanya tak menyengat. Posisi saya berenang agak sedikit jauh dari Ferry, Elen, Ika dana Mamat yang menjadi teman perjalanan saya. Mereka masih asyik di pinggiran danau sehingga saya sendirian saja di bagian tengah.



Rasanya menakjubkan bisa berenang dikelilingi oleh begitu banyak ubur-ubur. Kemarin itu kali pertama saya bertemu dengan ubur-ubur tak menyengat. Di Indonesia sendiri ada beberapa spot danau dengan stingless jellyfish. Sebut saja Danau Kakaban di Kalimantan Timur, Danau Lenmakana di Misool, Raja Ampat. Namun kemarin saya juga diberitahu bahwa di Muna, Sulawesi Tengah juga ada namun saya belum melihat fotonya.




Saya diam tak bergerak, mengapung, mengamati semua ubur-ubur yang berenang di sekitaran saya. Seseklai mereka berenang menyentuh kulit saya. Lembut sekali. Saya tak mau banyak bergerak karena takut melukai ubur-uburnya. Saya menikmati kencan tanpa bersuara dengan makhluk lembut yang super peka. Jika mereka bisa bicara, mereka ingin bilang apa ya?

Catatan Kecil :

1.     Untuk ke Togean, saya terbang dari Jakarta – Gorontalo dan memilih @wk_travelagency yang mengurusi perjalanan saya ke Togean. Psst, service mereka oke dan tidak mahal kok. Ini kontaknya ya : +62-813-4227-5551. You may contact them to arrange your trip to Togean.

2.     Dari Gorontalo, naik kapal 12 jam (jadwalnya hanya hari Selasa dan Jumat) ke Wakai dan dilanjutkan naik kapal kecil sekitar setengah jam ke Pulau Kadidiri, tepatnya di Kadidiri Paradise Resort.

3.   Tidak ada sinyal di Kadidiri jadi nikmatilah waktu liburan yang benar-benar liburan tanpa ada sinyal ya! Di Wakai ada sinyal namun hanya 2G dan hanya provider Telkomsel yang ada jaringannya di sana.

Cheers,





Follow Us @satyawinnie