Saturday, September 8, 2018

Sehari di Bandung, Menikmati Festival Pesona Lokal Bumi Pasundan

Saturday, September 08, 2018 3 Comments


Belum jam 6 pagi namun orang-orang sudah memadati area Gedung Sate Bandung. Berpakaian semarak lengkap dengan dandanan berwarna cerah memikat. Mulai dari anak TK yang masih terkantuk-kantuk memakai kostum sambil memegang tangan orang tuanya, hingga kakek-kakek veteran yang sedang bercanda dengan teman sejawatnya meski gigi tak lengkap lagi.



Saya edarkan pandangan ke sekitaran. Mojang-mojang (gadis) elok rupa sibuk memegang ponselnya dan tak henti-hentinya berswafoto ria, kadang sendiri, kadang dengan teman-temannya. Dandanan meriah mereka tentu patut dapat ribuan likes di social media. Meski sudah cantik tanpa dandan, mereka berdandan lebih cantik lagi untuk mewarnai pawai karnaval pagi itu.



Yap, mereka semua sedang bersiap-siap untuk  mengikuti karnaval pawai budaya Festival Pesona Lokal yang merupakan kerja sama Adira Finance dan Kementerian Pariwisata Indonesia. Areal Gedung Sate memang pilihan pas untuk dijadikan lokasi pawai karena biasanya setiap hari Minggu, urang Bandung berjalan kaki di lapangan Sabuga bersama keluarga. Nah, kalau olahraga di pagi hari sambil disuguhkan tontonan karnaval pawai cantik pasti lebih menarik kan?

Setidaknya ada 5000 orang yang hadir dari 27 kota / kabupaten di Jawa Barat hari Minggu itu untuk menikmati festival. Masing-masing mengenakan kostum yang menunjukkan ciri khas daerahnya, misalkan tim Garut yang membuat kostum bertemakan domba (ingat domba Garut yang tersohor itu kan?), tim Sumedang dengan kostum kuda ronggeng-nya (kuda yang bisa joget itu lho). Tak ketinggalan pula penampilan arak-arakan Sisingaan dan Reak Bangbarongan. 




Pernah nonton nggak semua pertunjukan kesenian yang saya sebutkan di atas? Kalau belum sayang sekali. Hahaha. Makanya saya senang betul kalau ada karnaval pawai budaya karena bisa lihat beragam kekayaan budaya daerah kita. Bisa terbengong-bengong kita dibuatnya dan tak berhenti berdecak kagum. 

Saya sendiri tak henti-hentinya menekan tombol shutter kamera, mengabadikan semua pemandangan di sekitar. Kapan lagi coba saya bisa memotret seluruh pesona budaya Jawa Barat dalam satu hari? Ya kemarin itulah. Makanya tak mau sedikit pun lengah, jepret sana jepret sini. Agak sedikit kewalahan saat pawai karnaval sudah berjalan karena harus sedikit berdesak-desakan. Memotret dengan lensa fix manual dengan objek yang bergerak pun tidaklah mudah tapi jadi tantangan menarik buat saya. Pas dapat potret yang tajam, senang kali! Wuwuwuwuwuwu~




Karnaval dimulai sekitar pukul setengah delapan. Total jarak rute pawainya hanya 2,8 kilometer saja saya ikut keliling satu putaran penuh. Hitung-hitung jalan sehat euy. Jalanan dipadati yang ikutan pawai-nya baik peserta ataupun penonton. Peserta pawai-nya semangat sekali joget 45, unjuk kehebatan daerahnya karena katanya yang performance-nya paling kece bakal dapat hadiah. Mantul! Mantap betul!




Semarak tabuhan gendang dan denting angklung sepanjang pawai pun membikin saya  memotret sambil ikut joget. Begitu pawai selesai kok saya rasanya sedih. Yaaah masih pengen joget soalnya. Hahaha. Andai saja jarak jalur pawainya lebih jauh. Eh tapi kasihan juga buat peserta yang pakai kostum berat-berat ya kalau jaraknya kejauhan. 



Begitu pawai selesai, saya langsung ngacir ke area pameran UMKM. Ada 16 booth UMKM yang juga saling unjuk kualitas produknya. Ada jaket, sepatu, kerajinan tas. Termasuk sepatu dari kulit ceker ayam. Wow! Pernah dengar ada sepatu dari kulit ceker ayam? Hahahaha. Saya juga baru pertama kali dengar dan terbengong-bengong saat lihat hasil sepatunya sebagus itu. Nanti ada cerita khusus soal proses pembuatan sepatu kulit ceker ayam deh ya. 


Saat lagi lihat-lihat hasil kerajinan, hidung saya membaui makanan lezat dengan bau beras kencur. Ternyata itu SEBLAK! Wowowowowowo. Di Festival Pesona Lokal ini juga ada lomba kreasi makanan tradisional dan seblak dipilih menjadi makanan yang harus dikreasikan.



Macam-macam kreasi seblak seperti seblak mozzarella, seblak asin manis pedas, seblak daging kepiting, seblak abcdefg banyak variasinya akan di. Pas diicip-icip kok enak semua. Itu yang jadi jurinya pasti pusing lidahnya ya. Selain rasa, dinilai juga penampilan dari hidangannya dan semua juga jago menghias kreasi seblaknya jadi seperti makanan kelas bintang lima. Makin-makinlah pusing jurinya.

Selain pawai karnaval, pameran UMKM, lomba kreasi masakan tradisional, ada pula lomba mural. Nah ini juga pasti yang susah penjuriannya. Habisnya kan orang Bandung memang terkenal ‘nyeni’ dan kreatif banget. Para peserta lomba mural berjejer di tepi jalan, tepat di depan gedung sate, bekerja dalam tim untuk membuat mural terbaik yang bisa merepresantasikan Bandung seutuhnya. Meski sempat diguyur hujan siangnya, mural-muralnya tetap aman karena diberikan pelindung. Hujan reda, pengerjaan muralnya dilanjutkan lagi.




Saya orang awam, jadi buat saya semua muralnya bagus, unik dan menarik. Setiap mural punya daya pikat masing-masing. Banyak yang menggambarkan Bandung dengan hal-hal ikonik seperti angklung, gedung sate, si cepot sampai Persib, semua yang dibanggakan Jawa Barat. Jawa Barat Kahiji!



Hingga menjelang sore, lokasi festival juga masih ramai karena ada penampilan Zaskia Gotik yang ditunggu-tunggu peserta yang hadir. Para peserta ikut berdendang dan bergoyang bersama Zaskia yang terlihat sumringah di atas panggung. 

Photo Source : iNews.id


Saya membayangkan pastinya akan seru kalau pesta rakyat macam ini bisa diadakan di lebih banyak kota di Indonesia. Sejauh ini sih Festival Pesona Lokal di tahun 2018 akan diadakan di Bandung, Solo, Malang, Bali, Makassar, Pontianak, Medan, Palembang, Jakarta. Bandung menjadi pembuka rangkaian festival panjang ini. 



Diharapkan dengan adanya Festival Pesona Lokal (FPL), kita makin mengenal ragam budaya daerah kita dan mempromosikan daerah kita sendiri. FPL ini sendiri adalah salah satu program Corporate Social Responsibilty atau CSR dari Adira Finance. Para BOC (Board Of Commisaries) Adira hadir meramaikan Festival Pesona Lokal Bandung. Mereka turut serta bergembira dalam festival pesona lokal yang pertama dan berharap 8 lokasi berikutnya tidak kalah serunya.

Oke, berikutnya kita ke mana? 

Festival Pesona Lokal di Solo tanggal 9 September besok. Datang yuk di De Tjolomadoe ya! Sampai jumpaaaa di sana...



Cheers,







Thursday, June 21, 2018

Mendaki Merbabu via Suwanting, Jalur dan Pemandangannya Sinting

Thursday, June 21, 2018 38 Comments


“Kenapa milih jalur Suwanting, Sat?” tanya seorang teman yang saya beritahu ketika saya mau naik Gunung Merbabu.

"Hmmm karena menarik sepertinya jalur ini", jawab saya, meski dalam hati agak deg-degan karena jalur ini katanya sulit. 

Untuk mendaki gunung Merbabu sebenarnya ada beragam pilihan jalur ; Selo, Wekas, Gancik, Chuntel, Thekelan dan Suwanting.  Lalu kenapa memilih Suwanting?

Karena katanya meski pun sulit jalur ini menawarkan pemandangan yang we o we (WOW!). Ronny yang duluan melakukan riset lalu tertarik sama jalur ini dan akhirnya memutuskan kami akan mendaki via Suwanting. Saya mah ikut aja, easy anaknya.

Bagaimana cara ke Suwanting?


Saya menemukan kontak Mas Ambon, orang basecamp Suwanting, dari salah satu blog yang saya baca. Saya lupa alamat blog yang mana, tapi yang jelas terima kasih ya. 

Saya menyapa Mas Ambon via jejaring whatsapp dan Mas Ambon dengan baik menjabarkan jalur Suwanting itu seperti apa. Kalau dari peta yang ada, jalur ini konturnya tipis-tipis alias terjal. Bahkan saya sempat membaca satu artikel pendakian ke Gunung Merbabu via Suwanting yang bilang kalau jalur ini bisa bikin pengen gantung sepatu gunung atau cuti naik gunung. Hahahaha…

Kami berangkat dari Jakarta menuju Yogyakarta lalu Suwanting. Mas Ambon akan menjemput kami di Bandara, namun karena saya sudah tiba duluan di Jogja, Mas Ambon menjemput saya dulu di kota baru Ronny. Karena kami memilih mendaki di minggu terakhir bulan puasa, yang artinya arus mudik sudah dimulai, perjalanan kami dari Yogyakarta ke Suwanting terkena macet parah. Biasanya cuma dua setengah jam jadi hampir 5 jam (dua kali lipatnya). Kami tiba di basecamp Suwanting (rumah Mas Ambon) hampir pukul 12 malam. Untuk biaya transportasi PP dari Jogja kami membayar Rp 900.000,-. Sebenarnya bisa dibagi 8 orang tapi saat itu kami cuma berdua saja dan tak ada pendaki lain. Ya namanya juga resiko mendaki saat bulan puasa ya, nggak banyak teman untuk sharecost.

“Cuma segini saja Mbak Satya kamarnya, seadanya. Menjelang pagi biasanya dingin banget, kalau mau Mbak Satya sama Mas Ronny bisa tidur di tenda yang ditaruh di atas kasur biar hangat dan empuk”, ujar Mas Ambon.

Saya tertawa mendengarkan Mas Ambon dan mengucapkan banyak terima kasih sudah diberikan tumpangan satu malam sebelum kami mendaki keesokan harinya. Saya dan Ronny mengeluarkan sleeping bag masing-masing dan langsung tertidur pulas. Lumayan melelahkan juga perjalanan malam itu jadi mari isthirahat yang cukup.

Pagi harinya, meski masih puasa, istri Mas Ambon dengan baik hati menyiapkan Nasi Goreng dengan telor ceplok, kerupuk serta teh manis hangat untuk jadi santapan kami. Pukul setengah 9 kami registrasi dulu di pos. Saya membayar Rp 17.500 sebagai wisatawan domestik dan Rp 160.000 untuk Ronny sebagai wisatawan asing.

Sebelum berangkat, mari foto dulu di depan warung Mas Ambon...


Sebelum kami benar-benar memulai pendakian, Mas Ambon menjelaskan jalur pendakian Suwanting karena kami hanya akan mendaki berdua saja. Dia menjelaskan setiap kelokan tanjakan agar kami tidak tersesat, tiba di camp, puncak dan kembali ke rumah dengan selamat.

Kami memulai pendakian dari basecamp ke pintu hutan jam 9 pagi. Sebenarnya agak kesiangan dari jadwal yang kami rencanakan tapi yawis nggak apa-apa karena bisa dapat jadwal isthirahat yang cukup sebelum mendaki.

Dari basecamp ke pintu hutan memakan waktu kurang lebih 15 menit. Dari depan rumah Mas Ambon (basecamp) saja jalannya sudah mendaki terus. Ya anggap saja pemanasan ya (pemanasan yang sangat panas tentunya).

Dari pintu rimba tak terlalu jauh menuju Pos 1 (Lembah Lempong) sekitar 15 menit juga. Pemandangannya cantik, dikelilingi “Cemoro” atau pohon pinus. 

Pintu Rimba dilengkapi dengan papan informasi jalur. Biar ada bayangan pendakiannya seperti apa.


Pos 1 masih diominasi pohon pinus, ademmmm banget pas lewat jalur ini.


Dari pos 1 menuju pos 2, ada beberapa titik yang akan dilewati ; Lembah Gosong, Lembah Cemoro, Lembah Ngrijan dan Lembah Miloh. Di jalur Suwanting kita akan menemukan 3 pos air. Satu pos air yang ada di Lembah Cemoro. Bentuknya hanya gentong air yang dialiri pipa kecil. Kemudian di antara Pos 2 menuju pos 3 ada pos air namun saat kami di sana kemarin kosong. Yang terakhir ada di titik 15 menit sebelum mencapai pos 3. Saya dan Ronny masing-masing membawa satu botol air 1,5 L plus botol 1L saja karena bisa diisi ulang di jalur. Maka daripada itu, jalur Suwanting ini disukai karena ada air di sepanjang jalurnya. Ya, disukai yang senang tantangan tentunya karena mari kita membicarakan soal tanjakannya. 

Dari Pos 1 ke Pos 2, jalur tanjakannya memang sudah cukup terjal namun karena vegetasi masih lebat, semacam tidak terlalu terasa beratnya (padahal berat juga). Sepanjang mendaki dari Pos 1 ke Pos 2 itu kabut turun jadi terasa dingin jadi kami tak pernah berhenti lama. Hanya minum seteguk lalu berjalan lagi.

Kami tiba tepat pukul 12 siang di Pos 2 yang artinya makan waktu 1,5 jam dari Pos 1.Karena tepat jam makan siang, kami berhenti untuk makan dan yang terpenting, tidur. Hahaha. Kami berdua tipikal pendaki santai, jadi ya habis makan siang, tidur dulu sebentar dan tak terasa sudah 1,5 jam lebih kami beristhirahat di Pos 2. Kebablasan tidur.

Dari Pos 2 ke Pos 3 harus saya akui jadi salah satu jalur terberat yang saya pernah lewati selama karir (karir) mendaki gunung. Jalur ini benar-benar menguras mental siapa pun yang melewatinya. Saya sendiri harus berujar berkali-kali ke kaki saya sendiri “ayo berjalan, ayo jalan, hei kaki” saking beratnya jalur itu. Jalur di mana ketika kau bukan sekedar lagi mendaki tapi memanjat, di mana lutut ketemu jidat.

Jalur dari Pos 1 - Pos 2. Hampir sedikit lagi sampai Pos 2.

Maaf ya ini ngasal banget ambil fotonya udah capek haha. Di tempat Ronny duduk itu kita tidur siang pas berangkat dan pas perjalanan turun.


Tanjakan Pos 2 - Pos 3, begini saja terus nggak habis-habis. Hahaha..

Kebayang sih jalur ini pasti licin sekali sewaktu hujan. Syukurnya kami tidak diguyur hujan selama pendakian. Nah, itu kelihatan kan tali untuk membantu pendaki?



Di beberapa titik curam menuju Pos 3 ada jalur di sebelah kanan yang lebih empuk di kaki dibandingkan jalur tanah yang curam. Apalagi kemarin jalurnya sedang kering-keringnya, berdebu dan licin. Ada beberapa tali yang sudah disiapkan sebenarnya untuk membantu para pendaki. Nggak kebayang sih kalau mendaki via Suwanting saat hujan, pasti lebih licin lagi dan harus jauh lebih ekstra hati-hati mendakinya. 

15 menit sebelum mencapai Pos 3 ada Pos Air di sebelah kiri. Kami tiba sekitar jam 16.30 itu artinya butuh waktu 3 jam untuk sampai di Pos 3 dari Pos 2. Agak susah mencari lokasi camp karena angin bertiup kencang sekali dan camp 3 ini lokasinya terbuka. Tidak ada siapa-siapa ketika kami tiba di sana.  Akhirnya Ronny memutuskan untuk mendirikan tenda di titik di mana kami bisa melihat Gunung Merapi dengan jelas. And there it is…

Melihat Merapi menjulang gagah dari depan tenda itu bikin bahagia.

Dan semakin sore, langitnya berubah warna...

Makin cantik saat rona jingga, ungu dan merah muda mulai menghiasi atas langit dan Merapi.


Kebayang kan susahnya bangun tenda ketika angin bertiup sekencang-kencangnya. But hey it was fun. Seru juga! 

Bagian terbaik dari hari itu selain ngecamp tanpa ada orang lain di sekitaran adalah, kami mendapatkan senja terbaik di atas gunung yang pernah saya lihat. Mungkin melihat sunrise dari puncak gunung itu hal yang biasa. Tapi sunset? Itu adalah pemandangan yang belum tentu kita bisa nikmati setiap mendaki gunung kan. It was a very special moment especially when you can share it with your loved one. 

Sunset di atas awan.... Kalau lihat langsung pasti sampai tidak bisa berkata-kata...


Sehabis memasak dan menyantap makan malam, kami yang sudah sangat kelelahan langsung tertidur. Ronny sudah set-up tripodnya untuk memotret milky-way namun sayangnya malam itu langit berawan tebal jadi bintang-bintangnya tidak terlihat. Nggak apa-apa toh di luar anginnyaa dingin dan kencang sekali. Lebih enak bergelung di dalam sleeping bag kan.

Saya tertidur dari jam 6 sore hingga jam 6 pagi. Luar biasa “kebo”-nya. Sepanjang malam kami tidur dengan tenda ‘menampar’ muka kami. Benar-benar ditampar karena angin yang luar biasa kencangnya. Terbayang sih kalau tidak ada orang di dalam tenda sebagai pemberat pasti tenda kami sudah terbang. Saya juga heran kenapa saya bisa tidur pulas 12 jam dengan angin ribut besar di luar. Hahahaha...

Keesokan pagi sekitar jam 6, Ronny, si morning person itu tentu sudah bangun dan sambil ngulet-ngulet bertanya apakah kami mau melanjutkan ke puncak dengan angin masih bertiup gila. 

Ya iyalah. Sudah sampai di Camp 3 hanya butuh 2 jam lagi mendaki ke puncak. Apalagi cuaca cerah ya sebenarnya. Ya tentu harus  lanjut jalan meski anginnya kencang. Masih angin saja bukan hujan badai. Jadi kami putuskan untuk sarapan dan packing termasuk tenda agar tidak terbang dan hilang. 

Whuooooooo…. Ampun anginnya…

Bayangkan, badan sebesar saya bisa tergeser karena angin yang bertiup. Terbayang kan sekencang apa. Dan saat sudah berada di atas ketinggian 2600 mdpl, bernafas kan susah sekali ditambah angin kencang, makin-makin deh luar biasa perjalanan menuju ke puncaknya. 

Kami hanya membawa satu daypack kecil yang isinya air minum, beng-beng dan kamera. Nggak usah bawa carrier berat kecuali mau lintas jalur.

Pemandangan Sabana menuju puncak Merbabu.








Tapi ya pemandangannya Sabana 1, Sabana 2 dan Sabana 3 sebelum sampai di Puncak Suwanting memang amboi, aduhai cantiknya. Saya biarkan Ronny jalan duluan karena saya masih mau menikmati Sabana-nya, duduk berlama-lama. 



Dan akhirnya sampai ke puncak…


Total waktunya 1 jam 45 menit. Kalau tidak pakai duduk bengong mungkin akan lebih cepat ya. Tapi esensi naik gunung itu kan menikmati viewnya. Begitu di puncak ada dua titik, Puncak Triangulasi dan Puncak Kenteng Songo. Buat yang sudah pernah ke Merbabu, menurut kalian puncak mana yang lebih tinggi. Kalau saya sih Puncak Triangulasi ya, tapi banyak yang bilang yang tertinggi itu Kenteng Songo. Tapi tetap buat saya Triangulasi yang tertinggi.

Nggak ada siapa-siapa waktu kami tiba pertama kali, namun tak berapa lama banyak pendaki yang menyusul ke puncak.

Terima kasihhhhh Ronny sudah menemani naik Merbabu! Kamu batu!


Di puncak kami bertemu dengan beberapa pendaki yang mendaki via Selo dan Wekas. Senang juga akhirnya bertemu manusia lain di gunung hahahaha…

Kami berjalan turun dari puncak dan tiba jam 9.45 di camp 3, repacking dan jalan turun sekitar pukul 10.11. Perjalanan turun jauh lebih menantang dibandingkan saat naik. Ketika turun, kemungkinan tergelincir di jalur sangatlah besar jadi tiap langkah benar-benar harus mantap, tidak boleh ragu-ragu karena pasti jatuh. Peluh sebesar bulir jagung terus membasahi dahi saya karena capek dan juga gugup. Saya tidak pernah segugup itu saat turun gunung. Dan ketika sudah sampai di Pos 2 baru saya merasa lega karena jalur terberat sudah lewat. 





Kami kembali beristhirahat di Pos 2 dan tidur lagi. Hahahahaha… Memang enak ya tidur di jalur itu kadang-kadang. Asal ingat untuk pakai jaket agar suhu badan tidak drop.

Total waktu yang kami butuhkan untuk turun sekitar 4 jam, sebenarnya 3 jam kalau tidak termasuk tidur 1 jam di Pos 2. Mas Ambon kaget karena jam setengah 3 sore kami sudah tiba di basecamp. Ya karena kami harus mengejar penerbangan ke Jakarta jam 8 malam, kami harus berangkat dari basecamp Suwanting sebelum jam 5 sore agar tidak terlambat. 

Karena tiba lebih cepat dari yang kami perkirakan, kami masih punya waktu untuk mandi dan makan mie goreng pakai telor. Kalau bukan karena bakal terbang naik pesawat, saya pasti memilih nggak mandi. Airnya sedingin es di Desa Suwanting. Ampun dinginnya. Tapi dari pada orang mengernyit padamu sepanjang perjalanan, ya harus mandi kan ya. Tahan deh sakitnya itu air dingin. 

Ah, terima kasih banyak Merbabu untuk jalur pendakian dan juga view-mu yang sinting bagusnya. Saya pasti akan kembali lagi, tapi tidak dalam waktu dekat ya. *elus-elus dengkul*

Mas Ambon, istrinya yang baik hati dan anak lanangnya yang cakep!


Little Notes :


1.Untuk para pendaki weekend-ers dari Jakarta bisa lho terbang dari Jakarta ke Jogja jumat malam, lalu menginap di Basecamp Suwanting, mendaki Merbabu dan pulang terbang ke Jakarta hari Minggu malam.

2.Jalur Suwanting ini plusnya memang banyak air hampir di tiap pos. Tapi harus dipertimbangkan bahwa pendaki pemula untuk tidak memilih jalur ini. Bagus sih buat latihan mental tapi ya siap-siap saja ya.

3.Ini kontak Mas Ambon Suwanting jika kalian butuh ya. Baik banget Mas Ambon ini jadi kalau kalian ke tempatnya, sampaikan salam dariku ya. 0878-3430-6869 atau 0858-6543-5969

4. Untuk mendaki via Suwanting ini, usahakan bawa beban yang tidak terlalu berat ya. Bawa makanan yang praktis saja dan peralatan yang ringan. Cukup membantu biar tidak terlalu kelelahan di jalur. 

5. Pakai sepatu sangat dianjurkan untuk mendaki via Suwanting (sebenarnya di semua gunung juga disarankannya pakai sepatu ya) karena jalurnya menanjak dan cukup terjal. 

6. Kalau mau naik transportasi umum, saya dapat info dari blog Hilmi soal perjalanannya ke Merbabu via Suwanting juga. Dari Terminal Giwangan bisa naik bus kecil jurusan Magelang / Semarang dan turun di perempatan Blabak. Dari perempatan Blabak itu minta dijemput orang basecamp Suwanting. (Kurang lebih sama seperti saya tapi jadinya lebih murah ya ongkosnya).



Friday, June 8, 2018

Kedai Lur Yogyakarta, Ngopi dan Makan Enak di Kebun Tengah Kota

Friday, June 08, 2018 2 Comments


“Coba kopi di Kedai Lur yuk Mba Sat, enak kopinya”, ujar Rinda setelah kami makan malam bersama sedulur blogger di Jogja. 

“Ayok banget, aku selalu percaya pilihanmu pasti enak”, ujar saya sambil terkekeh.

Setiap menyambangi Yogyakarta, pasti sudah ada saja tempat-tempat baru yang bisa dikunjungi. Kota pelajar ini berkembang pesat sekali, super pesat. Di tiap-tiap sudut kota bermunculan warung-warung kopi sedap. Banyak yang bertahan, namun tak sedikit juga yang “ngos-ngosan” dan akhirnya tutup.

Kami mengendarai sepeda motor kami masing-masing menuju Kedai Lur. Tak jauh dari Stasiun Tugu dan Jalan Malioboro. Selesai memarkirkan motor, kami masuk ke dalam dan saya langsung suka dan jatuh cinta dengan suasananya yang sejuk. Kursi-kursinya bukanlah bean-bags warna warni yang kekinian, melainkan kursi dan meja kayu tua yang semakin menambah daya tarik kedai ini buat saya. Katanya Kedai ini dinamakan “Lur” mengambil singkatan kata Bahasa Jawa “Sedulur” yang artinya saudara. 

Sejuk kan tempatnya?


Kami duduk di satu meja kecil untuk dua orang. Memesan kopi hitam dan teh JJS, Jeruk Nipis, Jahe, Sereh (yang kemudian jadi teh jahe favorit saya). Dengan penerangan lampu yang temaram, Kedai Lur jadi tempat yang nyaman sekali untuk bertukar cerita. Saya dan Rinda mengobrol tak henti soal hidup kami sejak terakhir perjumpaan kami di perjalanan Saumlaki.

Teman ngopiku yang cantik, Rinda @rheevarinda <3


Karena perut kami sudah sama-sama kenyang, kami tak memesan makanan padahal Rinda merekomendasikan makanan di Kedai Lur ini yang sedap. Menu-menu makanannya memang sederhana seperti Bakmi Godhog Jawa, Tempe Mendoan, Ayam Goreng Kampung, Nasi Brongkos Koyor, Urap, Telo Goreng tapi rasanya top (katanya karena saya belum coba langsung).

Bakmi Godhog-nya cuma Rp 18.000 lho~


Duh semua menu di atas itu favorit saya tapi tentu nggak bisa makan semuanya dalam sekali kunjungan kan?

Akhirnya keesokannya saya datang lagi namun sendirian saja dan karena masih bulan puasa, hanya saya tamu yang datang untuk makan siang hari itu. Mbak-nya menyapa ramah dan mempersilahkan saya untuk duduk di meja yang saya mau.

“Di depan sini saja Mbak, semilir sejuk, enak” ujarnya sambil menunjuk meja kayu besar dekat pintu masuk. Kami sempat mengobrol sebentar namun sayang saya lupa menanyakan namanya. 

Semakin sore, suasana Kedai Lur makin enak, ditemani angin semilir dan bunyi “klintingan” kecil di pintu, saya menikmati “me time” saya. Saya melahap Bakmi Godhog yang saya pesan dengan dua porsi tempe mendoan yang dicocol sambal kecap. Lezat sekali!

Jangan sampai nggak cobain tempe mendoan nya kalau ke Kedai Lur ya...


Tak terasa saya duduk hampir 6 jam di Kedai Lur. Begitu jam berbuka puasa, semakin banyak orang yang datang ke Kedai Lur dan saya tak enak mengambil satu meja besar untuk saya sendiri sedangkan banyak orang lain yang mengantri giliran.

Kedai Lur Jogja ini buka dari jam 12 siang hingga jam 11 malam setiap hari kecuali hari Minggu. Hari Minggu tutup yaaaa gaes.

Selain makanan dan minuman enak, Kedai Lur ini juga menyediakan layanan wi-fi yang kencang. Tetapi saya sendiri lebih senang membaca buku sambil menikmati mendoan dan the jahe saya sih kalau ke Kedai Lur lagi. 

Jadi, kalau ke Jogja kalian mau mampir ke Kedai Lur nggak?

Ya mau dong! Iya kan?

Ini dia alamatnya ya :

 Jl. Gowongan Kidul No.29 A, Sosromenduran, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55233


Cheers,



Follow Us @satyawinnie