Tuesday, November 6, 2018

3 Hari Bergembira di Tanjung Bira

Tuesday, November 06, 2018 25 Comments


“Ada libur 3 hari nih sebelum event kerjaanku hari sabtu & minggu di Makassar. Bira dulu yuk?” ajak saya pada Yusni lewat whatsapp.

“Yoklah, butuh libur syuting dulu torang ini”, jawabnya langsung.

Hanya segampang itu memang mengajak anak yang satu itu untuk pergi eksplorasi ke mana saja. Tentu dengan catatan asal tidak ada jadwal kerjaan atau kerjaan bisa dipercayakan ke teman yang lain dulu ya. Hahaha.


Sudah lama memang kami berdua ingin mengunjungi Tanjung Bira namun belum kunjung terealisasi. Jadilah ketika waktu-nya pas, tanpa babibu, langsung meluncur ke Tanjung Bira dari Makassar.

Butuh waktu kurang lebih 5-6 jam berkendara dari kota Makassar untuk tiba di Tanjung Bira. Awalnya, kami berpikir menyewa mobil dari Makassar menjadi ide yang bagus karena kami bisa bergantian menyetir mobil. Keuntungan yang lain, kami bisa berhenti di mana saja, kapan saja sesuka hati kalau ada objek di pinggir jalan yang menarik perhatian.

Pada akhirnya niat itu diurungkan karena Yusni sedang malas menyetir mobil. Capek menyetir tiap hari, maunya disetirin saja. Saat itu saya juga sedang lelah kalau harus menyetir 12 jam pergi-pulang dan juga ada kerjaan setelahnya. Harus jaga kesehatan agar tidak terlalu lelah dan bisa bekerja maksimal di hari H.

Akhirnya win-win solution-nya adalah naik travel saja. Tentu lebih murah dari menyewa mobil dan kami tinggal duduk manis atau tidur sepanjang jalan lalu bergembira mengeksplorasi Tanjung Bira.

Dari Ceya, sahabat saya di Makassar, kami diberitahu untuk naik BMA Travel dari Makassar ke Bulukumba, ongkosnya Rp 110.000 saja per orang sudah termasuk satu botol kecil air mineral. Setiap hari BMA berangkat jam 7 dan 9 pagi. Kami memilih berangkat jam 9 dan tiba di Bulukumba sekitar pukul setengah tiga sore. Tak seperti biasanya saya tertidur mulai dari berangkat hingga tiba di Bulukumba padahal saya ingin menikmati panorama kiri dan kanan.

“Ngana tidur kayak orang mati. Dipegang-pegang juga nggak bangun. Syukur nggak jadi nyewa mobil kita, yang ada ngana nyetir sambil tidur”, kata Yusni yang ketika saya bangun melihat saya sambil tertawa-tawa. 

Iya juga ya, memang naik BMA Travel adalah pilihan yang baik. Meski jadinya tidak lihat apa-apa di jalan tak apa. Bisa balik kapan-kapan toh, road trip naik mobil atau motor yaw!

Oh iya, dari Bulukumba ke Tanjung Bira masih sekitar 45 menit perjalanan. Bisa naik angkutan kota atau “pete-pete” disebutnya, cukup dengan membayar Rp 25.000 per orang. Beruntungnya, kami dipertemukan dengan teman yang baik dari Bulukumba yang bersedia mengantar kami ke Bira, Ari namanya. Terima kasih Ceya yang sudah mengenalkan kami dengan Ari yaaa.

Ari, anak asli Bulukumba yang tampak malu-malu di awal kami bertemu, namun ternyata super seru. Sepanjang jalan Bulukumba – Bira kami berbincang banyak sekali dan tertawa-tawa. Sayang karena kesibukan pekerjaan, Ari tak bisa bergabung dengan kami untuk eksplor Bira. Padahal kalau bertiga seru juga. 

Sempat mampir di tepi jalan Tanah Beru untuk melihat kapal phinisi yang hampir jadi, tibalah kami di Tanjung Bira. Sudah hampir pukul setengah lima sore karena kami sempat berhenti untuk makan ayam goreng enak di Bulukumba.

Saya dan Yusni sudah memesan penginapan selama dua hari di “Woywoy Sunrise Bira”. Bentuk penginapannya lucu seperti Bathbox / Bathhouse yang ada di Brighton Beach, Melbourne, kecil dan berwarna-warni. Meski kecil, kamarnya bersih dan wangi, itu yang terpenting. Tak harus besar kamarnya karena cuma dipakai buat tidur. Seharian kita ada di luar eksplorasi. Yang penting bisa isthirahat, cukup.



Mengapa saya memilih untuk menginap di Woywoy Sunrise Bira? 

Alasannya adalah saya ingin ketika bangun pagi  saya tidak harus berkendara lagi untuk menikmati matahari terbit. Oleh karena itu saya memilih penginapan yang menghadap ke timur. 




Ini pemandangan sunrise dari depan kamar, Pagi-pagi pindah ke kasur balkon ini, tiduran sambil lihat matahari terbit.


Ada dua opsi untuk menginap di Tanjung Bira dan menikmati matahari pagi, yaitu Woywoy Sunrise Bira dan Woywoy Paradise. Karena saya menyukai bangunan yang lucu-lucu, saya memilih untuk tinggal di Woywoy Sunrise. Saya memesan penginapannya via traveloka, jadi untuk harganya, silakan cek sendiri ya. Hahaha. 

Bercanda! 

Untuk menginap di Woywoy Sunrise harganya Rp 300.000 per malam ya. Cuma ada lima kamar jadi dipastikan setiap weekend selalu penuh. Tips dari saya, datanglah di hari biasa.

Ini Woywoy Paradise yang tampilannya mirip Santorini mini katanya. Lucu ya...


Untuk berkeliling di Tanjung Bira, saya menyewa motor di Warung Bambu Tanjung Bira dengan harga Rp 80.000 per hari. Dengan catatan tanpa helm ya. Waktu saya tanya helm, katanya nggak ada. Jadi ya gimana dong. Ya terima saja begitu adanya. Kalau mau menyewa datang saja dan bilang kalau kalian berniat menyewa sepeda motor.

Jalan sendiri tanpa local guide memungkinkan kok di Tanjung Bira. Petunjuk ke objek-objek wisatanya jelas dan bisa juga bertanya dengan penduduk lokal yang dengan senang hati menunjukkan arah jalan. Bisa juga pakai google maps. 

Untuk masuk ke Tanjung Bira, setiap pengunjung dikenakan biaya masuk Rp 10.000 dan untuk sepeda motor bayar Rp 5.000. Kalau kalian menginap di Tanjung Bira, bayarnya hanya sekali saja dan beritahu petugas pintu masuk-nya kalian menginap di mana pasti dikasih lewat.

Cukup nggak ya 3 hari 2 malam berkeliling Tanjung Bira?


Jawabannya sih bisa cukup, bisa nggak hahaha. Tergantung masing-masing pribadi. Andai punya waktu lebih lama pasti saya memilih menetap lebih lama, minimal seminggu lah. Jadi satu hari cuma satu destinasi saja terus leyeh-leyeh sepanjang hari boleeeeehhhh. Lalu bisa lanjut ke Selayar dan Takabonerate. Sayangnya kemarin mepet waktunya. 

Jadi ke mana saja kami kemarin?

  • Pantai Tanjung Bira


Ya kalau ke Tanjung Bira pasti mampir ke pantainya ya. Pasirnya halusss sekali seperti bedak dan saya senang ketika menemukan papan bertuliskan “dilarang membawa pulang pasir”. Ya iyalah ya, kalau pasirnya secantik dan selembut itu pasti banyak yang mau bawa pulang. Meski sudah banyak warung-warung dan puluhan boat terparkir di pantai ini, tetap menyenangkan untuk duduk di tepi pantai menikmati senja. Semesta mendukung sekali waktu kami ada di sana. Senjanya selalu memukau dengan matahari bulat, bulat bola pingpong. 

Matahari senja dan air kelapa, tiada dua nikmatnya!




  • Tebing Apparalang 



Jika pergi ke Apparalang, pastikan kamu sedang tidak patah hati dan berniat untuk loncat dari tebing ya. Hahaha. Soalnya menggoda memang warna birunya untuk menceburkan diri dan memang sebenarnya bisa ‘cliff jumping’ tapi ada tempat khususnya dan harus ketika air sedang pasang. Jangan sembarangan asal loncat dari tebing ya.

Enaknya ke Apparalang di hari biasa adalah tidak banyak pengunjung. Saat kami tiba, hanya ada 3 anak gadis yang sedang asyik bersantai di hammock dan pergi tak berapa lama sejak kami tiba. Jadilah saya dan Yusni berdua-dua saja di Apparalang tanpa ada orang. Awalnya ingin cliff jump juga tetapi mengingat kondisi tangan saya yang baru saja dioperasi dua bulan lalu, niat itu saya urungkan. Nanti saja balik lagi dan loncat dari tebing ketika kondisi tangannya sudah lebih kuat ya Sat, ya.





  • Tanjung Bara




Ada Bira ada Bara, ada Bara ada Bira. Semacam nama kakak beradik ya meski sebenarnya itu adalah nama pantai yang bersebelahan dengan Tanjung Bira. Banyak wisatawan yang memilih menginap di Tanjung Bara karena lebih sepi dari warung-warung dan pantainya serasa milik pribadi katanya. Saya bersyukur karena kemarin tidak jadi menginap di Tanjung Bara karena posisi matahari sedang tidak menguntungkan, dalam artian posisinya sedang tidak pas untuk menikmati matahari terbit maupun matahari terbenam. Kalau di pertengahan tahun lebih enak katanya di Bara, bisa nikmatin sunrise dan sunset sekaligus di pantainya.

Kalau disuruh memilih Tanjung Bara atau Tanjung Bira, saya lebih suka Tanjung Bara karena lebih panjang dan luas pantainya, lebih sepi dan banyak pohon kelapanya (alasan apa itu pohon kelapa?).

Di sekitaran Tanjung Bara juga jadi spot snorkeling yang asyik. Tak terlalu jauh dari bibir pantai kok spotnya tapi naik kapal juga boleh. Sekalian ke spot-spot lainnya mungkin?

  • Pantai Kaluku


Pantai Kaluku ini juga salah satu favorit saya karena selain main di pantai, kita bisa lihat proses pembuatan kapal phinisi yang harganya bisa milyaran itu! Saya ingin sekali punya satu kapal phinisi suatu hari nanti (mari kita bekerja keras bagai kuda ya!). 


  • Pulau Liukang Loe


Selain bagian daratan Tanjung Bira, kita bisa eksplorasi dua pulau di seberangnya, Pulau Liukang Loe dan Pulau Kambing. Tentu kita harus menyewa kapal untuk menyambangi dua pulau itu. One Day Trip ke Liukang Loe & Pulau Kambing harganya Rp 650.000 – 800.000 dan bisa dibagi hingga delapan orang. Masalahnya saya dan Yusni hanya berdua saja dan tidak ada tamu lain yang kami bisa ajak share cost. Akhirnya kami memutuskan untuk main-main ke Pulau Liukang Loe saja dengan harga sewa kapal Rp 300.000 seharian. Bang Iskandar yang jadi boat driver kami super asyik sekali orangnya. Ini kontaknya kalau kalian butuh kapal ya 0856-5617-2855 ya…

Bang Iskandar, our fun boatman!


Tak mau menggerutu, namun saat kami di Liukang Loe, ombak sedang tidak bersahabat untuk snorkeling. Ombak dan arus membuat snorkeling jadi tidak terlalu nyaman. Tak berapa lama setelah nyebur, Yusni naik ke atas kapal lagi dan saya hanya snorkeling di sekitaran kapal, tak boleh jauh-jauh karena tak ada temannya. Hiks. 

Cuma ini foto underwaternya yang saya punya karena nggak ada lagi yang motoin. Yusni nya sudah naik ke kapal. Hahahaha...


Akhirnya kami lebih banyak menghabiskan waktu di darat, makan mie goreng dan berenang di tepi pantai. Asyik juga berjalan hingga ke ujung pulau Liukang Loe yang sepi dan didominasi batu karang yang besar-besar. Andai tak harus pulang ke Makassar hari itu, saya pasti mau bersantai di situ seharian.

Oh iya, jika ingin snorkeling dan tidak bawa alat sendiri, bisa menyewa di Tanjung Bira dengan harga Rp 25.000 per alat-nya. Jadi kalau menyewa google, snorkel + fin, harganya jadi Rp 75.000. Ya, not bad lah.


  • Tebing Marumasa



Berbeda dengan tebing Apparalang, tebing ini didominasi oleh spot-spot selfie kekinian yang tentunya buat saya…. ya sudahlah. Nggak bisa berkomentar apa-apa. Mungkin memang targetnya adalah wisatawan yang senang ber-selfie ria di tempat-tempat seperti itu. Lucu kok tempatnya. Saya tidak bilang itu tidak asyik atau alay, hanya saya tidak tertarik jika diajak berfoto di situ. Itu saja.



Rekomendasi tempat makan di Tanjung Bira dong!


Kemarin di Tanjung Bira cuma sempat mencoba dua rumah makan yaitu Warung Bamboo di dekat Pantai Bira dan Rumah Makan Yasmin yang ada di dekat pelabuhan. Dari dua tempat itu, favorit saya RM Yasmin karena menu Ikan Palumara-nya enak sekali. Mirip seperti ikan kuah kuning di Papua namun lebih pedas. Yummmm! Ya kalau ke daerah pantai tentu saja menu seafood nggak boleh dilewatkan.  Harga makanan di Tanjung Bira sekitar Rp 30.000-50.000 ya per porsinya. 



3 hari berlalu. Di hari kami pulang, senja sedang cantik-cantiknya, membuat saya meringis dalam hati, ingin tinggal lebih lama lagi.

Ah, tenang saja, Tanjung Bira takkan kemana mana. Kami akan kembali! Janji!

Terima kasih sudah membaca perjalanan kami berdua! Tertanda, Satya & Yusni!



Cheers,






Monday, September 10, 2018

Meriahnya Festival Pesona Lokal Solo di De Tjolomadoe

Monday, September 10, 2018 3 Comments


Sejak dulu, Jawa memang terkenal sebagai ‘performer’, apalagi kalau kita berbicara soal tarian. Ada banyak sekali jenis tarian yang tentunya tidak mudah dipelajari. Butuh disiplin dan konsistensi sampai bisa benar-benar menguasai satu tari tradisional Jawa.

Kalau saya sih kepingin juga, kepingin menonton semua tarian maksudnya. Hahaha. Rasa-rasanya tak cocok saya jadi penari lemah gemulai seperti perempuan Jawa. Cocoknya menari penuh semangat dan enerjik seperti tari tor-tor dari kampung halaman saya di Sumatera Utara.

Makanya pas hadir di acara Festival Pesona Solo Adira Finance di De Tjolomadoe (Colomadu) kemarin, saya rasa-rasanya tak ingin pulang. Pengennya memandangi dan menikmati semua tari-tarian yang ditampilkan oleh seluruh daerah di Jawa Tengah. De Tjolomadoe dipilih jadi lokasi festival karena dianggap sebagai salah satu ikon dari Jawa Tengah, sebagai pabrik gula tertua yang kini sudah dipugar menjadi museum yang apik (nanti ada cerita sendiri soal ini ya).






Sedari pagi, semua peserta karnival sudah bersiap di sekitaran Tjolomadoe. Ada yang asyik berias, ada yang berlatih musik, ada yang berdiskusi dan berlatih gerakan bersama teman-teman tim-nya. Mereka pasti ingin memberikan pertunjukan yang terbaik. Ya tentu ya apalagi ini perlombaan dengan hadiah belasan juta untuk performer terbaik.



Ada Tari Topeng Ireng di mana semua penarinya mengenakan pakaian yang dilengkapi dengan banyak lonceng dan giring-giring. Kostumnya lumayan berat berdasarkan penuturan dari salah satu penari. Nggak kebayang sih gerahnya kayak gimana menari dengan kostum seberat itu dengan matahari terik Solo yang wuaw lumayan bikin berkeringat sebesar bulir-bulir jagung. 




Tapi tarian itu saya akui sebagai tarian yang paling menarik perhatian saya karena jumlah penarinya ada lebih dari dua puluh orang, dengan kostum warna-warni yang super eyecatching dan tak perlu menari, dengan mereka berjalan saja sudah membuat bising karena banyaknya lonceng yang ditaruh di kaki. Asal tarian-nya dari Magelang dan biasanya dibawakan oleh campuran penari perempuan dan laki-laki. Dandanannya mirip-mirip seperti orang Apache Indian saat pertama kali saya melihat mereka, hiasan kepala besar penuh dengan bulu-bulu. 

Nah, selain tari topeng ireng, ada juga tari kretek dari Kudus, tari kebo-keboan, tari Hanoman, tari Barongan dari Semarang, tari kuda lumping dan masih banyak lagi. Di Festival Pesona Lokal Solo ini tak lupa juga berlenggak-lenggok peserta karnival dengan kostum berwarna-warni yang ukurannya “wuaw” besar sekali.







“Ini berat nggak bawa kostumnya?” tanya saya pada salah satu peserta. 

“Iya Mbak, apalagi kalau angina lagi kencang, harus ada yang megangin”, jawabnya.

Pantaslah saat mereka berjalan, pasti ada dua orang yang mendampingi di kanan dan kiri, berjaga-jaga jika yang berjalan sudah mulai oleng. 






Lebih dari 1.700 peserta yang memamerkan busana adat dan musik tradisional, serta seni pertunjukan khas budaya Jawa Tengah berkeliling di sekitar De Tjolomadoe. Masyarakat tumpah ruah hingga ke tepian jalan. Saya sedikit kesulitan untuk mengambil potret para peserta karnaval karena padatnya penonton yang mengerubungi para peserta karnaval. Meski hanya menggunakan ponsel, mereka bersemangat sekali mendokumentasikan festival pesona lokal. 


Acara Festival Pesona Lokal Solo dibuka dengan menyanyikan Indonesia Raya bersama jajaran BDO dan peserta festival. Head of Region SSD (Central Java Region) Adira Finance Irfan Budianto,  Deputy Director-Head Motorcyle Financing Adira Finance Andy Sutanto, Chef Executive Officer PT Dinamika Adira  Dinamika Julian Noor, Direktur SDM dan Marketing Adira Swandajani Gunadi, CFO iNews Rafael Utomo, Wakil Pemimpin Redaksi iNews Ariyo Ardi, hadir untuk melepas para peserta karnival di garis start. 

Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo juga hadir untuk memeriahkan Festival Pesona Lokal Solo. Masih dengan mengenakan pakaian bersepeda, beliau hadir bersama istri tercinta yang juga mengenakan pakaian yang sama. Ternyata sebelum hadir di FPL Solo, mereka menghadiri acara sepeda santai dulu. 


Bapak Gubernur yang terkenal humoris dan berjiwa muda ini bahkan membuat vlog di atas panggung yang diikuti dengan riuh tawa para penonton FPL. Senang betul saya ketika mendapat kesempatan untuk ‘selfie’ bersama dengan  Pak Ganjar, bareng dengan Hannief dan Halim juga setelah berdesak-desakan dan meringis karena kaki diinjak orang. Hahaha.

Selain menikmati keseruan karnival budaya, pengunjung yang datang ke Tjolomadoe juga berkeliling di booth UMKM, menikmati jajanan-jajanan unik dan berbelanja barang kerajinan. Oh iya, UMKM booth ini juga diperlombakan. Lumayan hadiahnya bisa dipakai untuk mengembangkan UMKM-nya.



Selagi panggung utama diisi hiburan oleh para penari dan MC, di Tjolomadoe, para peserta lomba kreasi masakan dan mural berkonsentrasi penuh untuk menyelesaikan karya mereka. Tentu tidak mudah, terutama bagi peserta lomba mural karena siang itu cuaca super terik dan mereka mengerjakan muralnya di ruang terbuka, di bawah matahari. Salut sekali melihat semangat mereka yang tak surut. Saking bagus-bagusnya semua mural yang ditampilkan, saya jamin jurinya pasti pusing untuk memilih pemenangnya.




Setelah seluruh pemenang diumumkan, panggung langsung dikerumuni penonton untuk berjoget dangdut bersama Zaskia Gotik dan Resa Lawangsewu. Sudah hampir pukul 3 sore jadi matahari tidak terlalu menyengat lagi di kulit dan para penonton dengan asyik berjoget dan satu-satunya komentar saya saat itu adalah Zaskia Gotik memang aslinya cantik ya dan senang bercanda dengan penontonnya. 

Yaaaa Bandung dan Solo sudah selesai, masih ada rangkaian Festival Pesona Lokal di Bali, Makassar, Malang, Pontianak, Medan, Palembang dan Jakarta. Datang yuk dan seru-seruan bareng.



Cheers,


Saturday, September 8, 2018

Sehari di Bandung, Menikmati Festival Pesona Lokal Bumi Pasundan

Saturday, September 08, 2018 4 Comments


Belum jam 6 pagi namun orang-orang sudah memadati area Gedung Sate Bandung. Berpakaian semarak lengkap dengan dandanan berwarna cerah memikat. Mulai dari anak TK yang masih terkantuk-kantuk memakai kostum sambil memegang tangan orang tuanya, hingga kakek-kakek veteran yang sedang bercanda dengan teman sejawatnya meski gigi tak lengkap lagi.



Saya edarkan pandangan ke sekitaran. Mojang-mojang (gadis) elok rupa sibuk memegang ponselnya dan tak henti-hentinya berswafoto ria, kadang sendiri, kadang dengan teman-temannya. Dandanan meriah mereka tentu patut dapat ribuan likes di social media. Meski sudah cantik tanpa dandan, mereka berdandan lebih cantik lagi untuk mewarnai pawai karnaval pagi itu.



Yap, mereka semua sedang bersiap-siap untuk  mengikuti karnaval pawai budaya Festival Pesona Lokal yang merupakan kerja sama Adira Finance dan Kementerian Pariwisata Indonesia. Areal Gedung Sate memang pilihan pas untuk dijadikan lokasi pawai karena biasanya setiap hari Minggu, urang Bandung berjalan kaki di lapangan Sabuga bersama keluarga. Nah, kalau olahraga di pagi hari sambil disuguhkan tontonan karnaval pawai cantik pasti lebih menarik kan?

Setidaknya ada 5000 orang yang hadir dari 27 kota / kabupaten di Jawa Barat hari Minggu itu untuk menikmati festival. Masing-masing mengenakan kostum yang menunjukkan ciri khas daerahnya, misalkan tim Garut yang membuat kostum bertemakan domba (ingat domba Garut yang tersohor itu kan?), tim Sumedang dengan kostum kuda ronggeng-nya (kuda yang bisa joget itu lho). Tak ketinggalan pula penampilan arak-arakan Sisingaan dan Reak Bangbarongan. 




Pernah nonton nggak semua pertunjukan kesenian yang saya sebutkan di atas? Kalau belum sayang sekali. Hahaha. Makanya saya senang betul kalau ada karnaval pawai budaya karena bisa lihat beragam kekayaan budaya daerah kita. Bisa terbengong-bengong kita dibuatnya dan tak berhenti berdecak kagum. 

Saya sendiri tak henti-hentinya menekan tombol shutter kamera, mengabadikan semua pemandangan di sekitar. Kapan lagi coba saya bisa memotret seluruh pesona budaya Jawa Barat dalam satu hari? Ya kemarin itulah. Makanya tak mau sedikit pun lengah, jepret sana jepret sini. Agak sedikit kewalahan saat pawai karnaval sudah berjalan karena harus sedikit berdesak-desakan. Memotret dengan lensa fix manual dengan objek yang bergerak pun tidaklah mudah tapi jadi tantangan menarik buat saya. Pas dapat potret yang tajam, senang kali! Wuwuwuwuwuwu~




Karnaval dimulai sekitar pukul setengah delapan. Total jarak rute pawainya hanya 2,8 kilometer saja saya ikut keliling satu putaran penuh. Hitung-hitung jalan sehat euy. Jalanan dipadati yang ikutan pawai-nya baik peserta ataupun penonton. Peserta pawai-nya semangat sekali joget 45, unjuk kehebatan daerahnya karena katanya yang performance-nya paling kece bakal dapat hadiah. Mantul! Mantap betul!




Semarak tabuhan gendang dan denting angklung sepanjang pawai pun membikin saya  memotret sambil ikut joget. Begitu pawai selesai kok saya rasanya sedih. Yaaah masih pengen joget soalnya. Hahaha. Andai saja jarak jalur pawainya lebih jauh. Eh tapi kasihan juga buat peserta yang pakai kostum berat-berat ya kalau jaraknya kejauhan. 



Begitu pawai selesai, saya langsung ngacir ke area pameran UMKM. Ada 16 booth UMKM yang juga saling unjuk kualitas produknya. Ada jaket, sepatu, kerajinan tas. Termasuk sepatu dari kulit ceker ayam. Wow! Pernah dengar ada sepatu dari kulit ceker ayam? Hahahaha. Saya juga baru pertama kali dengar dan terbengong-bengong saat lihat hasil sepatunya sebagus itu. Nanti ada cerita khusus soal proses pembuatan sepatu kulit ceker ayam deh ya. 


Saat lagi lihat-lihat hasil kerajinan, hidung saya membaui makanan lezat dengan bau beras kencur. Ternyata itu SEBLAK! Wowowowowowo. Di Festival Pesona Lokal ini juga ada lomba kreasi makanan tradisional dan seblak dipilih menjadi makanan yang harus dikreasikan.



Macam-macam kreasi seblak seperti seblak mozzarella, seblak asin manis pedas, seblak daging kepiting, seblak abcdefg banyak variasinya akan di. Pas diicip-icip kok enak semua. Itu yang jadi jurinya pasti pusing lidahnya ya. Selain rasa, dinilai juga penampilan dari hidangannya dan semua juga jago menghias kreasi seblaknya jadi seperti makanan kelas bintang lima. Makin-makinlah pusing jurinya.

Selain pawai karnaval, pameran UMKM, lomba kreasi masakan tradisional, ada pula lomba mural. Nah ini juga pasti yang susah penjuriannya. Habisnya kan orang Bandung memang terkenal ‘nyeni’ dan kreatif banget. Para peserta lomba mural berjejer di tepi jalan, tepat di depan gedung sate, bekerja dalam tim untuk membuat mural terbaik yang bisa merepresantasikan Bandung seutuhnya. Meski sempat diguyur hujan siangnya, mural-muralnya tetap aman karena diberikan pelindung. Hujan reda, pengerjaan muralnya dilanjutkan lagi.




Saya orang awam, jadi buat saya semua muralnya bagus, unik dan menarik. Setiap mural punya daya pikat masing-masing. Banyak yang menggambarkan Bandung dengan hal-hal ikonik seperti angklung, gedung sate, si cepot sampai Persib, semua yang dibanggakan Jawa Barat. Jawa Barat Kahiji!



Hingga menjelang sore, lokasi festival juga masih ramai karena ada penampilan Zaskia Gotik yang ditunggu-tunggu peserta yang hadir. Para peserta ikut berdendang dan bergoyang bersama Zaskia yang terlihat sumringah di atas panggung. 

Photo Source : iNews.id


Saya membayangkan pastinya akan seru kalau pesta rakyat macam ini bisa diadakan di lebih banyak kota di Indonesia. Sejauh ini sih Festival Pesona Lokal di tahun 2018 akan diadakan di Bandung, Solo, Malang, Bali, Makassar, Pontianak, Medan, Palembang, Jakarta. Bandung menjadi pembuka rangkaian festival panjang ini. 



Diharapkan dengan adanya Festival Pesona Lokal (FPL), kita makin mengenal ragam budaya daerah kita dan mempromosikan daerah kita sendiri. FPL ini sendiri adalah salah satu program Corporate Social Responsibilty atau CSR dari Adira Finance. Para BOC (Board Of Commisaries) Adira hadir meramaikan Festival Pesona Lokal Bandung. Mereka turut serta bergembira dalam festival pesona lokal yang pertama dan berharap 8 lokasi berikutnya tidak kalah serunya.

Oke, berikutnya kita ke mana? 

Festival Pesona Lokal di Solo tanggal 9 September besok. Datang yuk di De Tjolomadoe ya! Sampai jumpaaaa di sana...



Cheers,







Follow Us @satyawinnie