Thursday, June 21, 2018

Mendaki Merbabu via Suwanting, Jalur dan Pemandangannya Sinting

Thursday, June 21, 2018 14 Comments


“Kenapa milih jalur Suwanting, Sat?” tanya seorang teman yang saya beritahu ketika saya mau naik Gunung Merbabu.

"Hmmm karena menarik sepertinya jalur ini", jawab saya, meski dalam hati agak deg-degan karena jalur ini katanya sulit. 

Untuk mendaki gunung Merbabu sebenarnya ada beragam pilihan jalur ; Selo, Wekas, Gancik, Chuntel, Thekelan dan Suwanting.  Lalu kenapa memilih Suwanting?

Karena katanya meski pun sulit jalur ini menawarkan pemandangan yang we o we (WOW!). Ronny yang duluan melakukan riset lalu tertarik sama jalur ini dan akhirnya memutuskan kami akan mendaki via Suwanting. Saya mah ikut aja, easy anaknya.

Bagaimana cara ke Suwanting?


Saya menemukan kontak Mas Ambon, orang basecamp Suwanting, dari salah satu blog yang saya baca. Saya lupa alamat blog yang mana, tapi yang jelas terima kasih ya. 

Saya menyapa Mas Ambon via jejaring whatsapp dan Mas Ambon dengan baik menjabarkan jalur Suwanting itu seperti apa. Kalau dari peta yang ada, jalur ini konturnya tipis-tipis alias terjal. Bahkan saya sempat membaca satu artikel pendakian ke Gunung Merbabu via Suwanting yang bilang kalau jalur ini bisa bikin pengen gantung sepatu gunung atau cuti naik gunung. Hahahaha…

Kami berangkat dari Jakarta menuju Yogyakarta lalu Suwanting. Mas Ambon akan menjemput kami di Bandara, namun karena saya sudah tiba duluan di Jogja, Mas Ambon menjemput saya dulu di kota baru Ronny. Karena kami memilih mendaki di minggu terakhir bulan puasa, yang artinya arus mudik sudah dimulai, perjalanan kami dari Yogyakarta ke Suwanting terkena macet parah. Biasanya cuma dua setengah jam jadi hampir 5 jam (dua kali lipatnya). Kami tiba di basecamp Suwanting (rumah Mas Ambon) hampir pukul 12 malam. Untuk biaya transportasi PP dari Jogja kami membayar Rp 900.000,-. Sebenarnya bisa dibagi 8 orang tapi saat itu kami cuma berdua saja dan tak ada pendaki lain. Ya namanya juga resiko mendaki saat bulan puasa ya, nggak banyak teman untuk sharecost.

“Cuma segini saja Mbak Satya kamarnya, seadanya. Menjelang pagi biasanya dingin banget, kalau mau Mbak Satya sama Mas Ronny bisa tidur di tenda yang ditaruh di atas kasur biar hangat dan empuk”, ujar Mas Ambon.

Saya tertawa mendengarkan Mas Ambon dan mengucapkan banyak terima kasih sudah diberikan tumpangan satu malam sebelum kami mendaki keesokan harinya. Saya dan Ronny mengeluarkan sleeping bag masing-masing dan langsung tertidur pulas. Lumayan melelahkan juga perjalanan malam itu jadi mari isthirahat yang cukup.

Pagi harinya, meski masih puasa, istri Mas Ambon dengan baik hati menyiapkan Nasi Goreng dengan telor ceplok, kerupuk serta teh manis hangat untuk jadi santapan kami. Pukul setengah 9 kami registrasi dulu di pos. Saya membayar Rp 17.500 sebagai wisatawan domestik dan Rp 160.000 untuk Ronny sebagai wisatawan asing.

Sebelum berangkat, mari foto dulu di depan warung Mas Ambon...


Sebelum kami benar-benar memulai pendakian, Mas Ambon menjelaskan jalur pendakian Suwanting karena kami hanya akan mendaki berdua saja. Dia menjelaskan setiap kelokan tanjakan agar kami tidak tersesat, tiba di camp, puncak dan kembali ke rumah dengan selamat.

Kami memulai pendakian dari basecamp ke pintu hutan jam 9 pagi. Sebenarnya agak kesiangan dari jadwal yang kami rencanakan tapi yawis nggak apa-apa karena bisa dapat jadwal isthirahat yang cukup sebelum mendaki.

Dari basecamp ke pintu hutan memakan waktu kurang lebih 15 menit. Dari depan rumah Mas Ambon (basecamp) saja jalannya sudah mendaki terus. Ya anggap saja pemanasan ya (pemanasan yang sangat panas tentunya).

Dari pintu rimba tak terlalu jauh menuju Pos 1 (Lembah Lempong) sekitar 15 menit juga. Pemandangannya cantik, dikelilingi “Cemoro” atau pohon pinus. 

Pintu Rimba dilengkapi dengan papan informasi jalur. Biar ada bayangan pendakiannya seperti apa.


Pos 1 masih diominasi pohon pinus, ademmmm banget pas lewat jalur ini.


Dari pos 1 menuju pos 2, ada beberapa titik yang akan dilewati ; Lembah Gosong, Lembah Cemoro, Lembah Ngrijan dan Lembah Miloh. Di jalur Suwanting kita akan menemukan 3 pos air. Satu pos air yang ada di Lembah Cemoro. Bentuknya hanya gentong air yang dialiri pipa kecil. Kemudian di antara Pos 2 menuju pos 3 ada pos air namun saat kami di sana kemarin kosong. Yang terakhir ada di titik 15 menit sebelum mencapai pos 3. Saya dan Ronny masing-masing membawa satu botol air 1,5 L plus botol 1L saja karena bisa diisi ulang di jalur. Maka daripada itu, jalur Suwanting ini disukai karena ada air di sepanjang jalurnya. Ya, disukai yang senang tantangan tentunya karena mari kita membicarakan soal tanjakannya. 

Dari Pos 1 ke Pos 2, jalur tanjakannya memang sudah cukup terjal namun karena vegetasi masih lebat, semacam tidak terlalu terasa beratnya (padahal berat juga). Sepanjang mendaki dari Pos 1 ke Pos 2 itu kabut turun jadi terasa dingin jadi kami tak pernah berhenti lama. Hanya minum seteguk lalu berjalan lagi.

Kami tiba tepat pukul 12 siang di Pos 2 yang artinya makan waktu 1,5 jam dari Pos 1.Karena tepat jam makan siang, kami berhenti untuk makan dan yang terpenting, tidur. Hahaha. Kami berdua tipikal pendaki santai, jadi ya habis makan siang, tidur dulu sebentar dan tak terasa sudah 1,5 jam lebih kami beristhirahat di Pos 2. Kebablasan tidur.

Dari Pos 2 ke Pos 3 harus saya akui jadi salah satu jalur terberat yang saya pernah lewati selama karir (karir) mendaki gunung. Jalur ini benar-benar menguras mental siapa pun yang melewatinya. Saya sendiri harus berujar berkali-kali ke kaki saya sendiri “ayo berjalan, ayo jalan, hei kaki” saking beratnya jalur itu. Jalur di mana ketika kau bukan sekedar lagi mendaki tapi memanjat, di mana lutut ketemu jidat.

Jalur dari Pos 1 - Pos 2. Hampir sedikit lagi sampai Pos 2.

Maaf ya ini ngasal banget ambil fotonya udah capek haha. Di tempat Ronny duduk itu kita tidur siang pas berangkat dan pas perjalanan turun.


Tanjakan Pos 2 - Pos 3, begini saja terus nggak habis-habis. Hahaha..

Kebayang sih jalur ini pasti licin sekali sewaktu hujan. Syukurnya kami tidak diguyur hujan selama pendakian. Nah, itu kelihatan kan tali untuk membantu pendaki?



Di beberapa titik curam menuju Pos 3 ada jalur di sebelah kanan yang lebih empuk di kaki dibandingkan jalur tanah yang curam. Apalagi kemarin jalurnya sedang kering-keringnya, berdebu dan licin. Ada beberapa tali yang sudah disiapkan sebenarnya untuk membantu para pendaki. Nggak kebayang sih kalau mendaki via Suwanting saat hujan, pasti lebih licin lagi dan harus jauh lebih ekstra hati-hati mendakinya. 

15 menit sebelum mencapai Pos 3 ada Pos Air di sebelah kiri. Kami tiba sekitar jam 16.30 itu artinya butuh waktu 3 jam untuk sampai di Pos 3 dari Pos 2. Agak susah mencari lokasi camp karena angin bertiup kencang sekali dan camp 3 ini lokasinya terbuka. Tidak ada siapa-siapa ketika kami tiba di sana.  Akhirnya Ronny memutuskan untuk mendirikan tenda di titik di mana kami bisa melihat Gunung Merapi dengan jelas. And there it is…

Melihat Merapi menjulang gagah dari depan tenda itu bikin bahagia.

Dan semakin sore, langitnya berubah warna...

Makin cantik saat rona jingga, ungu dan merah muda mulai menghiasi atas langit dan Merapi.


Kebayang kan susahnya bangun tenda ketika angin bertiup sekencang-kencangnya. But hey it was fun. Seru juga! 

Bagian terbaik dari hari itu selain ngecamp tanpa ada orang lain di sekitaran adalah, kami mendapatkan senja terbaik di atas gunung yang pernah saya lihat. Mungkin melihat sunrise dari puncak gunung itu hal yang biasa. Tapi sunset? Itu adalah pemandangan yang belum tentu kita bisa nikmati setiap mendaki gunung kan. It was a very special moment especially when you can share it with your loved one. 

Sunset di atas awan.... Kalau lihat langsung pasti sampai tidak bisa berkata-kata...


Sehabis memasak dan menyantap makan malam, kami yang sudah sangat kelelahan langsung tertidur. Ronny sudah set-up tripodnya untuk memotret milky-way namun sayangnya malam itu langit berawan tebal jadi bintang-bintangnya tidak terlihat. Nggak apa-apa toh di luar anginnyaa dingin dan kencang sekali. Lebih enak bergelung di dalam sleeping bag kan.

Saya tertidur dari jam 6 sore hingga jam 6 pagi. Luar biasa “kebo”-nya. Sepanjang malam kami tidur dengan tenda ‘menampar’ muka kami. Benar-benar ditampar karena angin yang luar biasa kencangnya. Terbayang sih kalau tidak ada orang di dalam tenda sebagai pemberat pasti tenda kami sudah terbang. Saya juga heran kenapa saya bisa tidur pulas 12 jam dengan angin ribut besar di luar. Hahahaha...

Keesokan pagi sekitar jam 6, Ronny, si morning person itu tentu sudah bangun dan sambil ngulet-ngulet bertanya apakah kami mau melanjutkan ke puncak dengan angin masih bertiup gila. 

Ya iyalah. Sudah sampai di Camp 3 hanya butuh 2 jam lagi mendaki ke puncak. Apalagi cuaca cerah ya sebenarnya. Ya tentu harus  lanjut jalan meski anginnya kencang. Masih angin saja bukan hujan badai. Jadi kami putuskan untuk sarapan dan packing termasuk tenda agar tidak terbang dan hilang. 

Whuooooooo…. Ampun anginnya…

Bayangkan, badan sebesar saya bisa tergeser karena angin yang bertiup. Terbayang kan sekencang apa. Dan saat sudah berada di atas ketinggian 2600 mdpl, bernafas kan susah sekali ditambah angin kencang, makin-makin deh luar biasa perjalanan menuju ke puncaknya. 

Kami hanya membawa satu daypack kecil yang isinya air minum, beng-beng dan kamera. Nggak usah bawa carrier berat kecuali mau lintas jalur.

Pemandangan Sabana menuju puncak Merbabu.








Tapi ya pemandangannya Sabana 1, Sabana 2 dan Sabana 3 sebelum sampai di Puncak Suwanting memang amboi, aduhai cantiknya. Saya biarkan Ronny jalan duluan karena saya masih mau menikmati Sabana-nya, duduk berlama-lama. 



Dan akhirnya sampai ke puncak…


Total waktunya 1 jam 45 menit. Kalau tidak pakai duduk bengong mungkin akan lebih cepat ya. Tapi esensi naik gunung itu kan menikmati viewnya. Begitu di puncak ada dua titik, Puncak Triangulasi dan Puncak Kenteng Songo. Buat yang sudah pernah ke Merbabu, menurut kalian puncak mana yang lebih tinggi. Kalau saya sih Puncak Triangulasi ya, tapi banyak yang bilang yang tertinggi itu Kenteng Songo. Tapi tetap buat saya Triangulasi yang tertinggi.

Nggak ada siapa-siapa waktu kami tiba pertama kali, namun tak berapa lama banyak pendaki yang menyusul ke puncak.

Terima kasihhhhh Ronny sudah menemani naik Merbabu! Kamu batu!


Di puncak kami bertemu dengan beberapa pendaki yang mendaki via Selo dan Wekas. Senang juga akhirnya bertemu manusia lain di gunung hahahaha…

Kami berjalan turun dari puncak dan tiba jam 9.45 di camp 3, repacking dan jalan turun sekitar pukul 10.11. Perjalanan turun jauh lebih menantang dibandingkan saat naik. Ketika turun, kemungkinan tergelincir di jalur sangatlah besar jadi tiap langkah benar-benar harus mantap, tidak boleh ragu-ragu karena pasti jatuh. Peluh sebesar bulir jagung terus membasahi dahi saya karena capek dan juga gugup. Saya tidak pernah segugup itu saat turun gunung. Dan ketika sudah sampai di Pos 2 baru saya merasa lega karena jalur terberat sudah lewat. 





Kami kembali beristhirahat di Pos 2 dan tidur lagi. Hahahahaha… Memang enak ya tidur di jalur itu kadang-kadang. Asal ingat untuk pakai jaket agar suhu badan tidak drop.

Total waktu yang kami butuhkan untuk turun sekitar 4 jam, sebenarnya 3 jam kalau tidak termasuk tidur 1 jam di Pos 2. Mas Ambon kaget karena jam setengah 3 sore kami sudah tiba di basecamp. Ya karena kami harus mengejar penerbangan ke Jakarta jam 8 malam, kami harus berangkat dari basecamp Suwanting sebelum jam 5 sore agar tidak terlambat. 

Karena tiba lebih cepat dari yang kami perkirakan, kami masih punya waktu untuk mandi dan makan mie goreng pakai telor. Kalau bukan karena bakal terbang naik pesawat, saya pasti memilih nggak mandi. Airnya sedingin es di Desa Suwanting. Ampun dinginnya. Tapi dari pada orang mengernyit padamu sepanjang perjalanan, ya harus mandi kan ya. Tahan deh sakitnya itu air dingin. 

Ah, terima kasih banyak Merbabu untuk jalur pendakian dan juga view-mu yang sinting bagusnya. Saya pasti akan kembali lagi, tapi tidak dalam waktu dekat ya. *elus-elus dengkul*

Mas Ambon, istrinya yang baik hati dan anak lanangnya yang cakep!


Little Notes :


1.Untuk para pendaki weekend-ers dari Jakarta bisa lho terbang dari Jakarta ke Jogja jumat malam, lalu menginap di Basecamp Suwanting, mendaki Merbabu dan pulang terbang ke Jakarta hari Minggu malam.

2.Jalur Suwanting ini plusnya memang banyak air hampir di tiap pos. Tapi harus dipertimbangkan bahwa pendaki pemula untuk tidak memilih jalur ini. Bagus sih buat latihan mental tapi ya siap-siap saja ya.

3.Ini kontak Mas Ambon Suwanting jika kalian butuh ya. Baik banget Mas Ambon ini jadi kalau kalian ke tempatnya, sampaikan salam dariku ya. 0878-3430-6869 atau 0858-6543-5969

4. Untuk mendaki via Suwanting ini, usahakan bawa beban yang tidak terlalu berat ya. Bawa makanan yang praktis saja dan peralatan yang ringan. Cukup membantu biar tidak terlalu kelelahan di jalur. 

5. Pakai sepatu sangat dianjurkan untuk mendaki via Suwanting (sebenarnya di semua gunung juga disarankannya pakai sepatu ya) karena jalurnya menanjak dan cukup terjal. 

6. Kalau mau naik transportasi umum, saya dapat info dari blog Hilmi soal perjalanannya ke Merbabu via Suwanting juga. Dari Terminal Giwangan bisa naik bus kecil jurusan Magelang / Semarang dan turun di perempatan Blabak. Dari perempatan Blabak itu minta dijemput orang basecamp Suwanting. (Kurang lebih sama seperti saya tapi jadinya lebih murah ya ongkosnya).



Friday, June 8, 2018

Kedai Lur Yogyakarta, Ngopi dan Makan Enak di Kebun Tengah Kota

Friday, June 08, 2018 2 Comments


“Coba kopi di Kedai Lur yuk Mba Sat, enak kopinya”, ujar Rinda setelah kami makan malam bersama sedulur blogger di Jogja. 

“Ayok banget, aku selalu percaya pilihanmu pasti enak”, ujar saya sambil terkekeh.

Setiap menyambangi Yogyakarta, pasti sudah ada saja tempat-tempat baru yang bisa dikunjungi. Kota pelajar ini berkembang pesat sekali, super pesat. Di tiap-tiap sudut kota bermunculan warung-warung kopi sedap. Banyak yang bertahan, namun tak sedikit juga yang “ngos-ngosan” dan akhirnya tutup.

Kami mengendarai sepeda motor kami masing-masing menuju Kedai Lur. Tak jauh dari Stasiun Tugu dan Jalan Malioboro. Selesai memarkirkan motor, kami masuk ke dalam dan saya langsung suka dan jatuh cinta dengan suasananya yang sejuk. Kursi-kursinya bukanlah bean-bags warna warni yang kekinian, melainkan kursi dan meja kayu tua yang semakin menambah daya tarik kedai ini buat saya. Katanya Kedai ini dinamakan “Lur” mengambil singkatan kata Bahasa Jawa “Sedulur” yang artinya saudara. 

Sejuk kan tempatnya?


Kami duduk di satu meja kecil untuk dua orang. Memesan kopi hitam dan teh JJS, Jeruk Nipis, Jahe, Sereh (yang kemudian jadi teh jahe favorit saya). Dengan penerangan lampu yang temaram, Kedai Lur jadi tempat yang nyaman sekali untuk bertukar cerita. Saya dan Rinda mengobrol tak henti soal hidup kami sejak terakhir perjumpaan kami di perjalanan Saumlaki.

Teman ngopiku yang cantik, Rinda @rheevarinda <3


Karena perut kami sudah sama-sama kenyang, kami tak memesan makanan padahal Rinda merekomendasikan makanan di Kedai Lur ini yang sedap. Menu-menu makanannya memang sederhana seperti Bakmi Godhog Jawa, Tempe Mendoan, Ayam Goreng Kampung, Nasi Brongkos Koyor, Urap, Telo Goreng tapi rasanya top (katanya karena saya belum coba langsung).

Bakmi Godhog-nya cuma Rp 18.000 lho~


Duh semua menu di atas itu favorit saya tapi tentu nggak bisa makan semuanya dalam sekali kunjungan kan?

Akhirnya keesokannya saya datang lagi namun sendirian saja dan karena masih bulan puasa, hanya saya tamu yang datang untuk makan siang hari itu. Mbak-nya menyapa ramah dan mempersilahkan saya untuk duduk di meja yang saya mau.

“Di depan sini saja Mbak, semilir sejuk, enak” ujarnya sambil menunjuk meja kayu besar dekat pintu masuk. Kami sempat mengobrol sebentar namun sayang saya lupa menanyakan namanya. 

Semakin sore, suasana Kedai Lur makin enak, ditemani angin semilir dan bunyi “klintingan” kecil di pintu, saya menikmati “me time” saya. Saya melahap Bakmi Godhog yang saya pesan dengan dua porsi tempe mendoan yang dicocol sambal kecap. Lezat sekali!

Jangan sampai nggak cobain tempe mendoan nya kalau ke Kedai Lur ya...


Tak terasa saya duduk hampir 6 jam di Kedai Lur. Begitu jam berbuka puasa, semakin banyak orang yang datang ke Kedai Lur dan saya tak enak mengambil satu meja besar untuk saya sendiri sedangkan banyak orang lain yang mengantri giliran.

Kedai Lur Jogja ini buka dari jam 12 siang hingga jam 11 malam setiap hari kecuali hari Minggu. Hari Minggu tutup yaaaa gaes.

Selain makanan dan minuman enak, Kedai Lur ini juga menyediakan layanan wi-fi yang kencang. Tetapi saya sendiri lebih senang membaca buku sambil menikmati mendoan dan the jahe saya sih kalau ke Kedai Lur lagi. 

Jadi, kalau ke Jogja kalian mau mampir ke Kedai Lur nggak?

Ya mau dong! Iya kan?

Ini dia alamatnya ya :

 Jl. Gowongan Kidul No.29 A, Sosromenduran, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55233


Cheers,



Thursday, June 7, 2018

10 Tips Mendaki Gunung Saat Datang Bulan atau Menstruasi

Thursday, June 07, 2018 2 Comments




Banyak mitos-mitos yang beredar bahwa perempuan itu tidak diperbolehkan naik gunung karena dianggap “kotor”, “gampang ditempelin”, bisa kesurupan dan masih banyak mitos lainnya. Padahal sebenarnya naik gunung saat datang bulan itu bisa-bisa saja asal kita tahu triknya.

Namun, saya menulis ini berdasarkan pengalaman pribadi ya. Saya tahu bahwa setiap perempuan berbeda-beda dalam menghadapi si tamu bulanan. Ada yang sakitnya sedang-sedang saja, ada yang sakitnya sampai bikin nggak bisa bangun tidur, ada juga yang tidak merasakan sakit apa-apa (serius ada kok). 

Nah, karena banyaknya pertanyaan dari teman-teman perempuan bagaimana tips mendaki gunung saat datang bulan, ini dia tips dari saya :

1.     Kenali Tubuhmu Sendiri

Ya, ini yang pertama yang harus kamu lakukan. Kalau saat datang bulan biasanya rasa sakit kram-nya nggak karu-karuan dan bikin nggak bisa bangun dari tempat tidur, ya sebaiknya tidak mendaki gunung atau melakukan aktifitas berat. Isthirahat saja yang cukup dulu di rumah ya. Jangan memaksakan diri karena kamu yang tahu tubuhmu sendiri.



2.     Bawa Pembalut Kemana Saja

Karena siklus tamu bulanan saya kadang suka berantakan, sekarang kemana saja pasti selalu ada pouch di tas saya yang berisikan pembalut & pantyliner. Penting memang ada di tas karena ketika kita dadakan kedatangan tamu bulanan, kita nggak panik kalang kabut cari “sumpelan”. Nah kalau lagi mendaki gunung, susah kan cari sesuatu untuk menyumpal? Makanya minimal bawa 6 pembalut di carrier. Beratnya kayak bulu begitu ya nggak akan menambah beban siginifikan. Bawa saja kemana-mana. Oh iya pilihlah pembalut yang berukuran panjang dan tebal supaya bisa menyerap lebih banyak karena ketika kita beraktifitas mendaki gunung, biasanya lebih deras alirannya.

3.     Minum Air Putih yang Banyak

Nah, ini sebenarnya yang harus dilakukan setiap hari, tidak hanya saat datang bulan saja. Karena tubuh yang terhidrasi itu penting, setiap hari. Ketika sedang menstruasi saat mendaki gunung, minum banyak air putih akan membantu untuk meredakan rasa sakit (ini berdasarkan pengalaman saya lho ya) dan kalau bisa air putih saja terus-terusan. Hindari minuman dengan pewarna dan pemanis buatan serta soda.


 
4.     Jujur Kalau Sedang Datang Bulan kepada Teman Pendakian

Nah, kemarin waktu ke Sumbing, saya tiba-tiba kedatangan tamu bulanan yang tidak sesuai jadwalnya. Aman sih karena bawa pembalut di carrier, tetapi saya akui sakit kram nya bikin saya beberapa kali harus berhenti atau sedikit lambat karena bukan hanya karena capek, tapi kram perut-nya seperti sedang “ditonjok” banyak orang. Ya saya jujur dengan dua teman pendakian saya yang keduanya lelaki bahwa saya sedang menstruasi dan mendadak. Mereka baik dan pengertian sekali menunggui saya yang jadi lebih sering berhenti di jalur bahkan menawarkan untuk membawa turun carrier saya. Aduh mereka memang manis sekali tapi saya masih mampu kok untuk memanggul carrier saya sendiri.


5.     Bawa Suplemen Penambah Darah

Di kotak P3K saya, suplemen penambah darah ini selalu ada karena saat kita melakukan aktifitas berat dan melelahkan seperti naik gunung, kita butuh asupan zat besi. Nah karena ketika kita sedang kedatangan tamu bulanan akan kehilangan banyak darah, suplemen penambah darah ini bisa membantu agar kita tidak cepat lemas.

6.     Minum Pereda Nyeri Haid

Sebenarnya saya pribadi belum pernah minum obat pereda nyeri haid. Namun saya pernah mendaki bersama teman perempuan yang sedang datang bulan dan dia bilang dengan minum obat pereda nyeri, dia lebih merasa nyaman untuk terus berjalan karena rasa sakitnya jauh berkurang. Hmmmmm, kalau teman-teman perempuan yang lain bagaimana? Pernah minum pereda nyeri haid juga saat naik gunung?


7.     Ganti Pembalut Setiap 4 jam Sekali

Nah, kalau tips yang ini sepertinya sudah sering disiarkan dimana-mana. Karena pembalut itu menampung darah kotor tentu saja banyak bakteri yang tidak baik untuk daerah kewanitaan. Jadi diusahakan mengganti pembalut setiap 4 jam sekali agar selalu merasa “segar”.


 
8.     Buang & Simpan Pembalut Bekas dengan Benar

Nah, ini nih yang penting sekali kita ketahui. Agak dilematis juga untuk menuliskan ini karena untuk membuangnya butuh kantong plastik. Biasanya, langkah-langkah yang saya lakukan adalah membersihkan kewanitaan dengan tissue basah, lalu pembalut bekas-nya diganti dengan pembalut baru (tentu saja) dan yang bekasnya saya bungkus dengan plastik pembungkus bekas pembalut baru-nya (ngerti kan?) dan dimasukkan ke kantong plastik kecil. Nah kantong plastik kecil-nya saya masukkan lagi ke kantong plastik yang lebih besar dan biasanya saya simpan di kantong samping carrier. 

Kenapa harus berlapis-lapis plastiknya? Ya agar bau amis atau bau anyir-nya tidak tercium. Ada juga yang bilang bagus ditetesin sedikit minyak kayu putih agar baunya lebih tidak tercium lagi. Teman-teman punya solusi nggak ya buat kantong plastik untuk membuang pembalut bekas? Apakah dengan kantong kertas menurut kalian akan lebih efektif?

9.     Lakukan Gerakan-Gerakan ini saat Kram Perut Menyerang

Nah, ketika sedang mendaki gunung dan kram perut menyerang nggak karu-karuan, biasanya saya melakukan gerakan ini. Buat saya pribadi, gerakan ini sangat ampuh untuk mengurangi rasa nyeri.



10.  Nikmati Pendakianmu & Jangan Menggerutu di Jalur

Ingatlah bahwa pikiran itu yang paling penting. Kalau kamu tetap tenang, santai meski pun rasa sakit kram sedang menyerang, niscaya kamu akan tetap bisa melanjutkan pendakian. Harus positive thinking ya. Tapi pada akhirnya pun sama seperti poin 1 di atas, kamu yang paling mengerti badanmu. Jadi kalau memang dirasa tidak sanggup lagi, utarakan kepada teman pendakian jika kamu memilih untuk turun. Apa pun yang dipaksakan itu tidak baik kan? Dan juga tenang saja, gunung-nya nggak kemana-mana. Yang terpenting bukan sampai puncak gunung tetapi sampai di rumah dengan selamat. Betul?

Nah, itu 10 tips dari saya untuk teman-teman perempuan yang datang bulan saat melakukan pendakian. Jika ada yang mau menambahkan, monggo ya, dituliskan saja di kolom komentar di bawah.


Cheers,

 

Thursday, May 31, 2018

Mendaki Gunung Sumbing via Banaran 3 Hari 2 Malam (East Route Sumbing)

Thursday, May 31, 2018 8 Comments



“Terakhir-terakhir, Wonosobo, terminal, terminal” ujar seorang Bapak dengan suara agak keras agar penumpang terbangun dan bersiap karena akan segera tiba di tempat tujuan.

Saya lirik jam di tangan kiri, menunjukkan jam 4 pagi. Bus Sinar Jaya yang kami tumpangi dengan trayek Depok – Wonosobo ini hampir tiba di tujuan setelah menempuh perjalanan kurang lebih 12 jam. Tiket busnya Rp 90.000 saja. Ini cara termurah dan paling praktis jika ingin mendaki Gunung Sumbing. Opsi lain bisa naik kereta api, turun di Stasiun Purwokerto tetapi makan waktu yang cukup lama dan masih jauh ke titik pintu basecamp pendakian Banaran. 

Saya berangkat berdua dari Depok bersama Bang Herdi yang akrab dipanggil Bang “Kibo”. Tapi untuk pendakian ke Gunung Sumbing, kami tidak berdua saja. Ada Bang Aris, sahabat Bang Kibo yang akan turut serta namun berangkat  dari Cikarang. Terminal Wonosobo menjadi titik tengah pertemuan kami.

Pagi di Terminal Wonosobo tidak sedingin yang saya kira. Saya dan Bang Kibo menghampiri Bang Aris yang sudah duluan tiba dan duduk di pojokan terminal, menyesap kopi panas. Dari pertemuan pertama saja, impresi yang saya dapat adalah orangnya pasti lucu seneng ngguyu. Hati saya riang karena dengan ditemani Bang Kibo dan Bang Aris bikin pendakian ini pasti makin seru. 

Dari Terminal Wonosobo, kami ‘numpak’ bus kecil ke Temanggung. Jam 5 pagi langit masih gelap dan kami bertiga duduk di kursi belakang. Kami berhenti di Pasar Parakan dan berbelanja logistik segar macam sayuran, tahu, tempe, bumbu masak hingga kerupuk udang! (YES, kami bertiga memang penyuka kerupuk!). 

Ingatlah bahwa naik gunung itu harus mencakupi tiga hal ; makan enak, tidur enak, perjalanan enak supaya pendakian nyaman, aman dan selamat sampai pulang ke rumah. Makanya buat saya persiapan pendakian itu amatlah penting. Antisipasi segala hal yang terburuk dalam pendakian dengan persiapan yang matang ya.

Dari Pasar Parakan, kami naik mini bus lagi hingga perempatan lampu merah. Sudah ada tiga sepeda motor yang menunggu kami dan akan mengantarkan hingga ke basecamp Banaran. Yang membonceng saya namanya Mas Alfi yang menjadi teman mengobrol saya sepanjang jalan. Sekitar 30 menitan dengan jalan menanjak, sampai juga kami di basecamp Banaran. Saat kami tiba, ada beberapa pendaki yang sudah siap untuk mendaki dan kami hanya bertukar anggukan dan senyum saja.

Biaya naik ojek dari Temanggung - Basecamp Banaran : Rp 50.000 per orang.

Kami sepakat beristhirahat sekitar 1 jam-an sebelum memulai pendakian Gunung Sumbing. Teman-teman di Basecamp Banaran ramah-ramah sekali. Baru saja pantat dihempaskan ke lantai dan rebahan meluruskan punggung, sudah ada yang membawakan nampan berisi teh manis hangat. Baik betul sih.

Di Basecamp Banaran ini juga kita melakukan pendaftaran dan membayar Simaksi sebesar Rp 10.000 per pendaki (murah banget!). Saya sampai bertanya ulang apa benar hanya bayar sepuluh ribu saja dan diiyakan oleh teman di sana. Masih ada ya bayar segitu buat naik gunung? Hahaha.

Sebelum berangkat, mau ucapin terima kasih dulu buat teman-temabn di basecamp Banaran yang baik sekali menjamu kita...


Setelah memastikan tak ada lagi perlengkapan dan peralatan yang kurang untuk mendaki, kami naik ojek lagi menuju Pos 0 alias pintu masuk jalur Banaran. Carrier harus diletakkan di bagian depan motor agar tidak terjungkang (terbalik ke belakang) ketika dibonceng karena jalanannya menanjak pol! Kalau terlalu berat, kita yang dibonceng harus turun dan jalan menanjak sedikit ya. Jangan malas hahaha…

Sebelum berangkat, saya sebenarnya sudah diwanti-wanti oleh Bang Kibo dan Bang Aris tentang jalur pendakian Banaran yang hampir 100% menanjak dan minim “bonus”. Whatever it is, let’s do it!

 POS 0 – POS 1 


Dari Pos 0 menuju Pos 1, kita akan melewati ladang penduduk, bila berjumpa dengan bapak dan ibu yang sedang bekerja di ladang, sapalah mereka dengan hangat ya.  Selain itu kita akan menjumpai shelter besar seperti gazebo yang ada aliran airnya dengan nama yang aneh menurut saya "Dongbanger". Dong Dong Bang Bang!

Fotonya diambil ketika perjalanan turun sebenarnya dan Bang Kibo senang sekali minum air segar langsung hahaha...


Kami berjalan pelan, mengatur nafas dan begitu memasuki pintu hutan, saya melihat jalur tangga yang panjang, jauh sekali sampai tak terlihat ujungnya. 

“Ah, ini ya jalur escalator yang terkenal itu” celotehku pada Bang Kibo yang hanya dijawab singkat “yoi”.

Jalur Banaran Sumbing ini punya dua julukan, “Escalator Route” & “Shaolin Route”. Kedua nama itu tersemat karena memang jalur tangga kayu-nya yang panjang macam tak berujung itu mirip escalator dan yang melewati jalur itu pasti akan teringat film shaolin di mana murid-muridnya harus mengangkat beban dan mendaki jalur panjang yang semacam tak ada habisnya. Ya sudah, nikmati jalurnya saja ya. Bisa sambil berdendang (asal suaramu tak sumbang dan mengganggu hewan dan pendaki lain), sambil menghayal yang seru-seru (tapi jangan bengong nanti kesambet), ngobrol sama teman di jalur (asal jangan kelewatan berisik). Tapi biasanya sewaktu mendaki, semuanya pasti diam karena semuanya sibuk menyesuaikan ritme langkah dengan nafas. Apalagi hari pertama kan, beban di carrier sedang berat-beratnya.

Jalurnya tangga-tangga tak berujung. Siap-siap dengkul, apalagi pas turun...


Perkenalkan Bang Aris (kiri) dan Bang Kibo (kanan)


Sangat berbeda dengan cuaca saat kami berangkat mendaki, pukul 12, langit berubah menjadi kelabu dan kabut mulai turun. Firasat saya mulai tidak enak karena pasti akan turun hujan sebentar lagi. Kami tetap lanjut berjalan dan beruntung sekali ketika kami sudah hampir tiba di Pos 1, hujan deras mengguyur. Kami pontang-panting mengerahkan tenaga sedikit berlari masuk ke dalam Pos 1. Binggo! Tepat waktu!

Pos 1 setelah diguyur hujan. Syukurlah shelternya cukup hangat untuk berteduh dan tidur sejenak.


Dengan peluh membasahi tubuh, saya langsung mengenakan jaket windbreaker agar suhu tubuh saya tidak drop. Hujannya bukan gerimis main-main melainkan hujan deras beserta petir. Kami memutuskan untuk menunggu hujan reda agar bisa berjalan lagi dan kami bertiga akhirnya tertidur. 

Jam menunjukkan pukul 3 sore ketika saya terbangun dan melihat Bang Kibo dan Bang Aris sedang ngobrol dengan pendaki-pendaki lain. Hujan sudah mulai mereda dan tampaknya tak lam lagi sudah bisa melanjutkan pendakian. Hanya karena sudah tertidur beberapa waktu, rasanya badan sedikit lemas dan kami mulai berjalan lagi mengatur nafas dan langkah pelan-pelan. 

POS 1– POS 2 


Sekitar satu setengah jam berjalan dari Pos 1, kami tiba di Pos 2. Ada pohon besar yang menarik perhatian saya di dekat shelter. Pohon itu besar dan dipagari. Hmmm. Kenapa ya dipagari?

Kami hanya berhenti sebentar untuk isthirahat di Pos 2 karena ingin cepat-cepat tiba di tujuan. Target kami hari itu bermalam di Camp 4, sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak keesokan harinya. 

Katanya pohon besar yang dipagari itu keramat. Iya kah?

POS 2– POS 3 


Kami tiba di Pos 3 saat maghrib. Butuh sekitar 1,5 jam untuk sampai di pos itu. Ada beberapa teman pendaki dari Yogyakarta yang sedang  berteduh di shelter dan menawarkan untuk bergabung, ngobrol sambil menyeduh kopi. Hari sudah gelap namun semua memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan ke Pos 4 dan mendirikan camp di sana.



“Cuma 2 sampai 3 jam lagi kok”, ujar salah seorang dari  kami yang tidak saya kenali karena gelap. Setelah beberapa gelas kopi panas habis diteguk bersama-sama, kami melanjutkan perjalanan.

POS 3 – POS 4


Kami bersama-sama (sekitar 11 orang) berjalan menuju Pos 4 dengan bantuan penerangan headlamp. Jalurnya semakin licin karena habis diguyur hujan. Sempat berhenti beberapa kali untuk isthirahat di jalur sampai akhirnya kami bertemu tebing batu besar yang bernama “Watu Ondho”. Batu besar itu harus didaki jika ingin tiba di Camp 4. Sudah ada semacam rantai pengaman yang dibuatkan teman-teman @sumbingeastroute untuk membantu para pendaki memanjat batu. Semua saling bantu agar semua dapat sampai di atas batu dengan selamat.

Watu Ondho, batu besar yang harus dipanjat hati-hati apalagi saat musim hujan. Awas terpelincir ya...


Setelah 2,5 jam akhirnya kami semua tiba di Camp 4 dan segera memilih lokasi yang enak untuk mendirikan tenda. Tak banyak ba-bi-bu, semuanya berbagi tugas, bangun tenda, masak makan malam dan tidur. 

Di Pos 4 ini ada sumber mata air dan Bang Aris langsung berinisiatif untuk membawa jeregen besar ke mata air, malam hari. Luar biasa memang keberanian sang "Dewa Bumi" itu. Hahahaha. Saya dan Bang Kibo sampai was-was jika Bang Aris hilang karena cukup lama juga waktu yang dibutuhkannya untuk mengambil air. Syukurlah batang hidungnya tampak juga.

Senangnya punya tim mendaki yang jago masak. Masaknya bisa gantian haha...



POS 4 – PUNCAK RAJAWALI


Keesokan paginya, saya terbangun dengan alarm yang sudah saya set pukul setengah enam pagi. Bang Kibo dan Bang Aris masih tertidur pulas. Sudah banyak pendaki di luar yang grasak-grusuk. Sayang sekali matahari agak malu-malu pagi itu. Memang, lautan awan tampak membentang jelas serta Merapi Merbabu yang menjulang gagah. Tiada “Golden Sunrise” warna keemasan yang saya harapkan. Ah tak apa. Bisa menikmati bangun pagi di ketinggian lebih dari dua ribu meter saja sudah membuat saya senang. 

Pemandangan dari Pos 4 Sumbing. Bisa lihat Merapi dan Merbabu di kejauhan.


Bang Kibo dan Bang Aris bangun tak berapa lama kemudian dan langsung menyiapkan sarapan. Kami bertiga hobi masak di gunung dan menyenangkan sekali bisa masak bertiga sambil tertawa-tawa. Di Pos 4 ini kita juga bisa menjumpai bunga edelweiss nan cantik. 



Awalnya kami berencana untuk lintas jalur pendakian. Namun pada akhirnya kami memutuskan untuk tetap ngecamp di Pos 4 dan summit attack hanya membawa daypack. Katanya dari Pos 4 ke Puncak akan memakan waktu 2.5 – 3 jam. 

Pemandangan Camp 4 dari atas, saat perjalanan turun dari Puncak Rajawali kembali ke camp...


Kami berangkat menuju puncak sekitar jam 8 pagi. Langit biru cerah dan panas dan kami berharap di puncak Rajawali akan secerah itu. Jalur menuju puncak terus menanjak dan air dingin dicampur Nutri Sari Jeruk jadi penyelamat. 

Dua jam mendaki, tibalah kami di Segoro Banjaran yang konon katanya ada airnya makanya disebut ‘Segara’ atau mata air. Namun hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat airnya dan saya bukan salah satu orang tertentu itu. Kami isthirahat sejenak sambil menikmati cemilan yang kami bawa. Saya asyik membuat timelapse awan-awan yang mencumbu pucuk-pucuk bukit. 

Segara Banjaran yang tertutup kabut...



Dari Segoro Banjaran, masih butuh 1 jam perjalanan lagi untuk tiba di puncak Rajawali. Sebelum tiba di puncak, kita akan melintasi kawah yang mengeluarkan bau belerang yang cukup kencang. Tutuplah hidung dengan buff agar tidak pusing ya.

Boleh main ke kawahnya asal hati-hati ya...


PUNCAK!


Akhirnya! Tiba juga kami bertiga di puncak dengan sehat dan selamat. Tapi, semuanya putih! Hahahahaha…

Kami tiba sekitar pukul 11 dan puncak sedang berbalut kabut. Kami bertiga sepakat menunggu hingga jendela awan terbuka agar bisa melihat Gunung Sindoro dari puncak Gunung Sumbing. Kami menyeduh kopi, makan nasi bakar sampai ketiduran. Sudah 3 jam menunggu, tak juga ada tanda-tanda puncak akan cerah, bersih dari awan. 



Yeay! We made it!

Kami bertiga memutuskan untuk turun agar tidak kesorean tiba di camp. Sepanjang perjalanan turun, kabut tebal menyelubungi dan kami harus berjalan berdekatan agar tidak terpisah. Jalurnya terlihat jelas sih tapi lebih aman kalau jalan tidak berjauhan kan?

Bang Kibo terlalu senang ketemu batu yang dia yakini ada goa di dalamnya...


Begitu tiba di camp, rombongan teman-teman pendaki yang lain sudah turun semua kecuali teman-teman dari Yogyakarta. Tinggal tenda kuning kami saja yang masih tersisa. Kami memang sudah merencanakan untuk tinggal 1 malam lagi. 

Terima kasih teman-teman Jogjaaa!


Sayangnya, kami masih kurang beruntung. Berharapnya bisa lihat sunrise cantik keesokan paginya hanya untuk kami bertiga, tetapi pada akhirnya jadi angan-angan saja. Kalau di pagi sebelumnya minimal bsia lihat lautan awan dan Merbabu serta Merapi di kejauhan, pagi kedua kami tidak dapat apa-apa selain kabut tebal nan dingin.

Malam sebelumnya, memang hujan badai mengguyur namun kami sudah bergelung nyaman dalam sleeping bag hangat. Dikarenakan hujan semalaman mungkin ya jadi pagi-paginya dingin berkabut tak ada matahari.

Hingga pukul sepuluh pagi pun langit masih gelap dan kami sudah bersiap untuk turun. Yang paling tidak mengenakkan adalah hari itu tiba-tiba tamu bulanan datang. Dia datang terlalu cepat dari jadwal tetapi untungya saya memang selalu sedia “roti” dalam tas ke mana pun saya pergi. Tapi kram dan sakitnya itu lho. Perut dan pinggul saya sakit sekali hingga dalam perjalanan turun, saya minta beberapa kali berhenti agar bisa duduk atau telungkup sebentar. Syukurnya teman-teman saya pengertian sekali.

Hampir  3 jam waktu yang dibutuhkan untuk turun dari Pos 4 hingga Pos 0. Seharusnya bisa lebih cepat kalau saya tidak sering minta berhenti. Tapi syukurlah kami bertiga tiba lagi di bawah dengan aman, selamat tanpa kekurangan suatu apa pun. 

Puncak itu bukan tujuan utama. Tujuan utama kita ya pulang ke rumah dengan selamat!



“Jadi, kapok nggak lewat Banaran?” tanya Mas Alfi saat kami tiba di basecamp.

“Ah, nggak dong. Saya mau lagi naik ke atas asal dipastikan sepanjang jalur harus cerah ya Mas”, jawab saya sambil terkekeh.

Terima kasih Sumbing, saya pasti kembali lagi!


CATATAN KECIL :


  • Biaya Ojek dari Kota Temanggung - Basecamp Banaran : Rp 50.000 sekali jalan.
  • Entry Fee pendakian Gunung Sumbing : Rp 10.000 per orang.
  • Jika memungkinkan, mendakilah pagi-pagi agar bisa tiba di Pos 4 sebelum hari gelap. Watu Ondho cukup berat didaki ketika malam hari, harus lebih ekstra hati-hati dibandingkan saat siang hari.
  • Pastikan peralatan dan perlengkapan serta logistik mencukupi ya. Jadi kalau diterpa badai pun sudah siap dan tidak akan terserang hipotermia atau mountain sickness lainnya.
  • Bawalah air dua x 1,5 liter per orang. Sumbet mata air hanya ada di shelter "Dongbanger", Pos 4 dan jalur menuju puncak ada mata air kecil yang untuk menampungnya dibutuhkan kesabaran ekstra. 
  • Jangan tinggalkan sampahmu di gunung ya!
  • STOP vandalisme. Di jalur menuju puncak saya melihat banyak sekali coret-coretan di batu dan itu membuat saya sedih. Semoga yang baca postingan ini nggak ada yang begitu ya. 
  • Jangan sembrono dalam bertutur dan berlaku saat di gunung. Permisi permisi-lah setiap lewat jalur, buang air kecil dan buang air besar.




Cheers,




Follow Us @satyawinnie