Friday, March 2, 2018

[Review] The Quincy Hotel Singapore – 10 Alasan yang Bikin Nggak Mau Keluar Hotel 24 Jam

Friday, March 02, 2018 1 Comments


Segelas jus dingin mengalir di kerongkongan, memuaskan dahaga di siang yang panas. Kami baru saja tiba di lobby The Quincy Hotel setelah mendarat beberapa waktu sebelumnya di Bandara Changi. Tentu tak macet ya dari Changi ke pusat kota, jalanan lancar banget!

Saya dan tiga orang gadis kesayangan; Yuki, Mariza dan Samantha diajak jalan-jalan ke Singapore untuk weekend escape. But no fix itinerary, impulsif saja. Kebayang nggak? Hahaha...

Lobby The Quincy Hotel bersebelahan tepat dengan area restaurant dan bar. Tidak terlalu luas memang  namun tertata apik sekali. Sofa-sofa empuk warna-warni mewarnai lobby hingga terlihat cozy dan nyaman untuk tamu yang sedang menunggu giliran untuk check-in. Lokasinya yang strategis memang membuat hotel ini ramai sekali dikunjungi setiap hari.

Colourful The Quincy Hotel Lobby. I love it! ( Photo by : Samantha @alexandriamenthe )


The Quincy Hotel ini baru saja mendapatkan award sebagai “Top Hotel & Best Service” dari TripAdvisor Traveler’s Choice Award 2018.

“Pada laper nggak sih? Makan yuk! Ada Nasi Hainan yang enak di dekat sini”, ujar Ida, host kami yang super ramah di Singapore.

Wah, Nasi Hainan di Singapore memang terkenal kelezatannya. Banyak food stall atau restoran yang menjajakannya. Rasanya akan makan waktu yang lama kalau mencicipi semuanya. Ida sendiri punya tempat rekomendasi yang ternyata tak jauh lokasinya dari The Quincy Hotel.

Benar saja. Begitu kami tiba di sana, tempatnya sedang ramai pengunjung yang sedang menikmati makan siang. Kami masuk di daftar waiting list dan syukurlah tak lama kemudian kami dapat meja yang cukup untuk menampung kami berenam. Santap makan siang kami begitu lezat sampai kalau yang lagi diet pasti lupain dietnya. Hahahaha. Kan, diet selalu dimulai besok. Iya to?

Nanti cerita detil soal Nasi Hainan ini di blogpost berikutnya ya...

Tempting, isn't it? 


Usai santap siang kami berjalan kembali ke hotel yang jaraknya hanya selemparan batu. Bawaannya ngantuk banget karena habis makan enak, jalan kaki di jalan setapak berangin sejuk semilir. Kami akhirnya sepakat akan beristhirahat di kamar masing-masing dulu sebelum berkumpul lagi buat beraktivitas atau jalan-jalan sekitaran Singapore.

Kamar yang saya tempati luas dan saya senang sekali karena bantalnya banyak! Hahaha. Langsung saya colokkan ponsel dan memutar musik lewat music player yang ada di atas meja kamar. Sambil mendengarkan musik favorit, saya rebahan di kasur super empuk yang luas. Saya lirik ke jendela, ada sofa panjang yang pas untuk leyeh-leyeh baca  buku sambil menikmati pemandangan sejuk di sekitaran hotel.

Sebenarnya kami keluar hotel hanya untuk cari makan saja, nyicipin kuliner khas Singapore. Tapi sebenarnya kita pengennya di hotel saja karena betah banget asli. Bikin maunya ‘ngendon’ di hotel saja gitu.

Kenapa?

Ini nih alasannya :

1. Kamarnya luas banget, bikin betah seharian di kamar, kasur king-size nan empuk serta bantal-bantal yang bertebaran dan selimut lembut itu favorit banget. Saya yang tukang tidur ini pasti maunya bergelung di balik selimut nggak keluar seharian hahaha.


 
Saking asyik di kamar, bawaanya mager ke luar hotel. Hahaha... (Photo by : @iammariza )
  2. Kamar mandinya nggak kalah luas, kayaknya muat jadi kamar kos-kosan mahasiswa. Hahaha.  Dilengkapi dengan bathtub buat berendam seharian (kemarin dapat compliment bath-salt tapi sayang nggak terpakai karena nggak sempat berendam, hiks).



Yak, siapa yang senang berendam kalau di hotel? ( Photo by @yukiangia )
     3. Amenities-nya dari “Le Labo”, produk yang katanya sedang digandrungi anak muda di New York. Setelah saya coba sendiri, barulah saya tahu kenapa dia jadi favorit. Wanginya enak banget dan bikin kulit lembut. Hmmmmmm ena’....



    4. Free Flow ICE-CREAM!

Maybe you want to try our ice cream? Free flow from 12 pm to 6 pm every day” ujar salah satu staff The Quincy kami sedang duduk di restoran. Whoaaaa, free flow ice cream? Really?

Langsung saya ingin meluncur secepatnya menuju area bar dan menarik tuas mesin ice cream dan mengisi wadah cup saya dengan vanilla ice cream yang saya tuang sauce topping chocolate & strawberry di atasnya. Makan es krim enak sepuasnya? Uh, bahagia tak terperi.

Ice Cream Stall my love! ( Photo by @yukiangia )

5. Free Flow COFFEE!

Nah, kalau ini Yuki yang girangnya setengah mati. Saya juga girang banget karena suka kopi. Kopinya beneran enak kata Yuki (percayalah pada lidah Yuki tentang kopi) jadi kita refill cangkir berkali-kali selama menginap di The Quincy. Hahahaha…

Selain Coffee Machine yang ada di bar hotel, ada juga Nespresso Machine yang tersedia di masing-masing kamar jadi bisa seduh kopi kapan saja...




6. Handy Phone untuk Internet Gratis. 
Sore itu kami berencana untuk keliling sekitaran Orchard Road karena jaraknya dekat sekali dari The Quincy Hotel. Tapi kami lupa belum beli simcard. Sementara update-an pakai wifi hotel sampai mata saya tertumbuk pada sesuatu. Ada ponsel dengan layar cukup lebar terletak di atas meja. Ternyata itu adalah “Handy”, fasilitas ponsel dari hotel. Bisa dipakai untuk internetan. Duh asyik sekali nggak usah beli simcard lagi karena kami hanya stay 3 hari. Untuk beli simcard sendiri biasanya harganya SGD 15, unlimited untuk 5 hari. Kalau pakai handy lebih hemat kan? Nggak bayar lagi kan? Iya, iya, tenang saja, handy ini fasilitas gratis dari The Quincy Hotel untuk seluruh tamu yang menginap kok.

Super cool Handy, so useful so you don't have to buy Singapore Simcard, Hahaha... (Photo by @yukiangia )



     7.  24 Hours GYM & POOL!
      Seumur-umur aku menginap di hotel mana pun dalam dan luar negeri, belum pernah nih aku tahu ada hotel yang fasilitas Gym dan Kolam Renang-nya bisa dipakai 24 jam. Mau berenang subuh-subuh silakan nggak ada yang melarang, asal siap-siap masuk angin kalau berenang jam segitu ya. Hahaha. Gym-nya terletak tepat di sebelah pool, dilengkapi dengan alat fitness standar seperti treadmill dan beberapa alat latihan beban. Kalau gym sih kedemenannya Mariza yang paling aktif olahraganya setiap hari. Begitu lihat gym dan tahu itu buka 24 jam, matanya langsung berbinar-binar. Hahahaha… Oh iya, disediakan juga handuk bersih, isotonic drink dan cemilan yang bisa kita ambil sebanyak yang kita mau.


Nggak terlalu luas tapi gymnya bersih dan wangi! ( Photo by : @yukiangia )
     8. Makanan yang disajikan di The Quincy enak semua! Saking enaknya, saya lupa foto beberapa karena keasyikan menyantap makanan. Menunya bervariasi dan menarik sekali saat disajikan. Kami semua nggak berhenti ngunyah-ngunyah-ngunyah.



      9.  Rooftop Movie Night Every Weekend!
Kalau lagi liburan barang keluarga atau sahabat, asyik kan kalau menghabiskan malam minggu dengan nonton film seru? Apalagi kalau minuman ringan dan cemilannya juga sudah disediakan. Nah, itu yang kami lakukan sewaktu menginap di The Quincy. Setiap malam minggu, selalu ada movie night di rooftop hotel. Jadi sambil nonton film, kita bisa menikmati panorama gedung-gedung berlampu di Singapore saat malam.

Saturday Movie Night with the gengs. Coba tebak kami nonton film apa ya itu?

Cityscape view from The Quincy Hotel Rooftop! (Photo by @yukiangia)

10. Qool Weekend Project!
Ini juga yang jadi alasan kuat kenapa kita nggak harus keluar hotel untuk seru-seruan. The Quincy punya beberapa kegiatan seru yang bisa kita ikuti di akhir pekan dan salah satu contohnya adalah Cooking Class. Kami berempat bersama dengan 2 tamu lain diajakin untuk membuat cookies dan menghiasnya. Nggak disangka-sangka, Yuki dan saya keluar jadi pemenang kompetisi kecil itu. Hahaha. Aneh bin ajaib. Harusnya Samantha yang menang karena anaknya artistik banget!

Super fun Qookielicious! Kalian juga cobain kalau menginap di sini ya...


Beberapa nilai plus lain kalau menginap di The Quincy adalah mereka menyediakan layanan “Early Check In” dan “Late Check Out” (tapi based on room availability juga ya). Jadi kalau tiba terlalu pagi atau pesawatnya agak malam, bisa tanyakan ke resepsionis apakah bisa early check in / late check out.

Karena lokasinya strategis (dekat banget dari Orchard Road) dan dilengkapi fasilitas serta layanan yang mumpuni, wajarlah harganya memang tidak seperti hotel-hotel budget. Asyik lho kalau memang mengajak keluarga atau sahabat-sahabat untuk menginap bersama di sini. Kalau pesan lewat website Far East Hospitality bisa dapat diskon hingga 30% lho. Lumayan banget kan?

Selamat menikmati Singapore!

The Quincy Hotel

22 Mount Elizabeth Singapura 228517. 

Phone : (+65) 67385888

Email: info.tqh@fareast.com.sg

Website : www.stayfareast.com


Cheers,




Tuesday, February 27, 2018

Cerita Pemuda Sembalun, yang Bermimpi Lebih Tinggi dari Gunung Rinjani

Tuesday, February 27, 2018 8 Comments

Kopi hitam pekat masih mengepul panas dari gelas kaca tanpa gagang. Berbalut sarung Bima yang hangat, saya menyeruput kopi yang harus didiamkan beberapa saat setelah diaduk agar ampasnya luruh.

Di depan saya ada seorang Bapak merengkuh anak bayinya dekat ke dada agar tetap hangat. Tentu ia pun berbalut sarung seperti saya. Udara memang dingin tetapi sinar matahari pagi cukup cerah jadi artinya bagus untuk berjemur dan dapat vitamin D.



Pagi di pedesaan memang selalu menyenangkan. Saya menikmati sekali pagi di Sembalun, desa kecil di kaki Gunung Rinjani. Suasana pedesaan relatif sepi karena tak ada pengunjung atau pendaki. Rinjani sedang “beristhirahat” hingga bulan Maret nanti. Biasanya pendaki mulai ramai lagi di bulan April saat Taman Nasional Rinjani sudah dibuka. Ah, saya lupa bahwa bukan Taman Nasional lagi labelnya, tetapi Geopark. Namanya sekarang berganti menjadi Geopark Rinjani.



Saya sangat menyenangi suasana damai tanpa pendaki atau wisatawan di Sembalun. Memang katanya tak direkomendasikan untuk berkunjung ke Sembalun saat bulan November hingga Maret karena cuaca dipastikan tidak cerah, cenderung hujan dan berkabut setiap hari. Dan saya datang di bulan Februari. Hahahaha.

Namun pagi itu berbeda, Dewi Anjani (re : Gunung Rinjani) mood-nya sangat baik dan lagi bersolek cantik. Langit biru dengan gumpalan awan putih kecil menari-nari di atas kepalanya. Ia tampak memesona dari ujung kepala hingga kaki. Menggoda sekali.

Oh iya, tahukah kalian kenapa desa di kaki Rinjani itu dinamakan Sembalun?

Asalnya dari dua kata yakni ‘Sembah’ yang artinya taat / patuh ; dan ‘Ulun’ yang artinya di atas (bisa diartikan juga sebagai Yang di Atas, pemimpin, orang tua). Artinya, orang Sembahulun diwajibkan untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta dan pemelihara nan agung, menghormati orang tua dan pemimpin. Keharmonisan itu masih dijaga hingga saat ini.

Mayoritas penduduk di Sembalun bermata pencaharian sebagai petani atau peternak. Pasar hanya dibuka dua kali satu minggu, Pasar Kemis (Kamis) dan Pasar Minggu. Hanya dalam dua hari itu saja masyarakat Sembalun berkumpul, menggelar lapak, berjual beli kelontong, bumbu masakan, daging, pakaian, dan kebutuhan sehari-hari lainnya.



Kalian harus tahu bahwa saya adalah penyuka sarung dan sarung dari Nusa Tenggara Barat adalah sarung favorit saya dan kerap saya sebut sebagai sarung ajaib, menghangatkan saat hari sedang dingin dan bikin adem saat hari sedang panas terik. Jadi saya tak mau menyia-nyiakan kesempatan berbelanja sarung di pasar Sembalun. Hohohohoho…

Saat saya berbagi video belanja sarung di pasar di Instagram Story saya, langsung saja kotak pesan saya langsung dibanjiri permintaan “jastip” alias jasa titipan. Mereka ingin beli sarung seperti saya juga. Sayang saat mereka mengirim pesan itu, pasarnya sudah tutup karena pasarnya memang berlangsung beberapa jam saja di pagi hari. Duh maafkan ya teman-teman, nanti lain kali ya dibelikan sarungnya, atau beli langsung lah ke Sembalun. Asyik lho jalan-jalan ke sana. Mungkin sekalian mendaki Gunung Rinjani?

Saya juga mendapat banyak pesan menyenangkan dari teman-teman yang mengikuti dan menonton Instagram stories saya. Katanya mereka terhibur dengan pemandangan cantik Sembalun dan segala pesona orang-orangnya. Ya saya sih terus-terusan saja upload semua update perjalanan saya karena sinyal di Sembalun itu 4G lho! Serius!

Pakai provider apa Sat bisa dapat 4G di desa kecil terpencil begitu?

Pakai XL Axiata. Eheeehe… Dijamin sinyal selama di Sembalun 4G terus, ON terus. Saya sendiri juga terkesima sih karena biasanya kalau di desa-desa gitu kan sinyalnya paling ya 3G. Jadi pas di Sembalun dapat 4G signal, seneng banget lah upload  dan update terus-terusan. Video call sama orang rumah yang tersayang juga lancar karena sinyal 4G nya stabil banget. Bahkan Mama saya sampai berujar “Bah, di kampung-kampung pun kau tetap bisa lancar video call ya” dengan logat Bataknya yang kental. Hahahaha.

XL Axiata masuk ke Sembalun pertama kali tahun 2012. Sebelumya, tak ada sinyal sama sekali yang menjangkau desa ini. Memang XL Axiata sedang berekspansi besar-besaran ke pelosok negeri. Sekarang jaringan 4G LTE nya sudah menjangkau 360 kota / kabupaten di seluruh Indonesia. Bayangkan, total BTS nya saja sekarang ada 101.094 dan akan terus bertambah. Asyik banget kan ya kalau memang nantinya makin banyak desa-desa yang terbantu komunikasinya jadi lebih baik dengan sinyal XL.

Nah, ada satu cerita yang ingin saya bagikan ke kalian dari Sembalun kemarin.

Dalam perjalanan saya ke Desa Sembalun, saya bertemu dengan beberapa pemuda yaitu Anto, Ungga, Tiger, Abeng, Jo. Sehari-harinya mereka berkebun, berladang dan juga menjadi porter pendakian Gunung Rinjani. Mereka sedang libur karena kegiatan pendakian sedang sepi.



Hampir semua anak laki-laki di Sembalun, sudah terbiasa mendaki gunung, lewati lembah setiap harinya. Sudah terbiasa membantu orang tua sedari kecil, mengolah ladang mereka yang ada di balik bukit-bukit menjulang. Menjadi porter pun kadang mereka lakoni untuk membantu perekonomian keluarga. Naik gunung dengan bapaknya, bersama-sama menjadi porter. Jadilah seluruh pemuda yang tidak merantau ke luar dari Desa Sembalun, berprofesi seperti orang tuanya terdahulu, petani, peternak, porter. Sedangkan yang merantau ke luar desa dan mengenyam pendidikan di bangku universitas memiliki kesempatan lebih besar untuk memiliki profesi lain, entah itu guru, pengusaha atau profesi-profesi lainnya.

Kadang, saya merasa ada saja anak muda di desa yang tak pernah bermimpi. Mungkin karena sudah terbiasa dengan apa yang mereka punya, nyaman dengan tempat di mana mereka tinggal, merasa cukup untuk segala yang ada di sekitar mereka. Dan tentu saja itu tidak salah. Sama sekali tidak.

Tetapi ketika saya mendengar cerita teman-teman saya dari Sembalun, saya terkesima, saya kagum dengan semangat tinggi mereka, yang berani bermimpi. Bermimpi tinggi, lebih tinggi dari Gunung Rinjani. Salah satunya adalah Ungga, pemuda asli Sembalun yang berusia 20 tahun. Ini ceritanya.

Sejak mereka mengenal internet, mereka senang betul menggunakan social media. Lingkaran pertemanan mereka yang tadinya hanya teman-teman di desanya atau desa sebelah saja, semakin meluas dengan perkenalan via Facebook, Instagram, Twitter dan lain-lain. Tapi anak-anak muda ini lebih suka menonton Youtube. Mereka menonton banyak tayangan seru yang tidak disiarkan di televisi rumah.

“Paling suka dulu aku nonton video orang-orang bisa terbang tu Mba Satya” ujar Ungga dengan logat Bahasa Sasaknya yang kental.

“Dulu ada yang terbang pakai parasut dari puncak Bukit Pergasingan tu. Orang Australia. Mendarat dia di lapangan dekat masjid tu. Kami tanya-tanya lah orang itu dan katanya nama olahraganya paralayang. Wiiii langsung aku pengen kayak dia” lanjut Ungga lagi.



Ungga yang waktu itu masih di bangku SMA penasaran betul dengan paralayang ini sampai kerjaannya hanya menonton video-video terbang paralayang di Youtube. Karena sinyal 4G, ya hampir setiap saat Ungga mantengin layar ponselnya, bahkan saat sedang beristhirahat kerja di ladang.

Sampai akhirnya Ungga bertekad manta pia ingin jadi penerbang paralayang satu hari nanti. Ia ingin terbang solo dan berharap suatu waktu kelak ada orang yang akan mengajarinya terbang. Sekolah paralayang memang tidak murah jadi Ungga berharap ada keajaiban dari langit.

Keajaiban itu pun menghampirinya ketika ada seorang pilot paralayang dari luar Lombok yang menawarkan anak-anak muda Sembalun untuk belajar paralayang. Waaaah, pucuk di cinta, ulam pun tiba. Ternyata cantiknya Bukit Pergasingan di Sembalun sudah menyebar di social media dan banyak sekali pilot paralayang yang tertarik untuk terbang di sana karena view-nya memang spektakuler. Salah satunya adalah pilot yang akhirnya bertekad ingin mengenalkan dan melatih anak-anak asli Sembalun untuk terbang.

Anak-anak muda yang saya sebut di atas tadi, Ungga, Anto, Tiger, Jo, semuanya antusias sekali untuk berlatih. Keberuntungan lagi menyapa mereka ketika salah seorang pilot paralayang dari Taiwan melihat bakat dan kegigihan mereka, memberikan satu set parasut dan perlengkapan terbang untuk mereka gunakan. Satu set parasut dan perlengkapan itu harganya berkisar 30 juta – 70 juta rupiah. Mereka bagai kedapatan durian runtuh ya.



Semangat mereka semakin menggebu untuk berlatih terbang dan belajar banyak juga dari Youtube setiap harinya. Mereka belajar mengenali zona terbang, tipe angin dan manuver saat terbang dari video-video yang mereka tonton.

Dan kini mereka sudah menjadi penerbang paralayang berlisensi dan juga atlit paralayang provinsi Nusa Tenggara Barat. Harapan mereka ingin menjadi pilot tandem paralayang dan nantinya mengembangkan wisata dirgantara di Sembalun, kini tampaknya bukan khayalan belaka. Sebentar lagi, Sembalun pasti makin ramai dengan permintaan wisatawan yang ingin mencoba rasanya duduk terbang melayang-layang di udara.

Saya senang sekali mendengarkan cerita itu langsung dari mereka. Pun mereka bilang andai sampai saat ini belum ada sinyal internet yang menjangkau Desa Sembalun, mungkin mereka tidak akan pernah mengenal paralayang atau pilot di luar Lombok tahu tentang cantiknya Pergasingan dan potensinya untuk menjadi take off area paralayang.






Semua orang, kita, pasti ingin jadi lebih baik hari ke hari, sama seperti XL Axiata yang berkomitmen untuk dengan berusaha mengembangkan jaringan data berkualitas ke seluruh penjuru tanah air. XL Axiata ingin mendorong masyarakat Indonesia untuk menjadi lebih baik untuk dirinya sendiri dan keluarga, juga masyarakat dan komunitas sekitar dalam segala aspek kehidupan.

Kalau kamu? Apa definisi #JadiLebihBaik versimu sendiri?



Cheers,





Thursday, February 1, 2018

Pesawat Delay? Santai Dulu Saja di Bandara…

Thursday, February 01, 2018 17 Comments


NGGAK RELA NINGGALIN LOMBOK!

Beneran deh, ternyata libur pas akhir pekan yang hanya 3 hari 2 malam di Lombok nggak cukup, masih nggak rela ninggalin Lombok. Namun karena harus kembali ke realita, mencari sebongkah berlian di ibukota, mau tak mau, ya terbang pulang. 

Begitu sampai di check-in counter, kami dikabari pesawatnya mungkin sedikit terlambat meski tak sampai berjam-jam lamanya. Duh, saya dan Monica saja sudah tiba di bandara 1,5 jam sebelum jam keberangkatan seharusnya. Kalau pesawatnya delay, berarti bakal lebih lama dong nunggu di bandaranya. 




Tapi ya kalau masalah keterlambatan pesawat (delay), kita nggak bisa menggerutu karena pasti ada alasan yang jelas di baliknya. Entah itu karena masalah teknis mesin pesawat atau efek domino delayed hari itu atau juga cuaca. Memang awan gelap menggantung di langit saat saya melongok ke luar bandara. Jadi mending menunggu saja, bersabar sedikit agar semuanya aman dan selamat. Ya kan?

“Hmmm, ke mana dulu enaknya  sambil nunggu terbang Sat? Lumayan juga nih nunggunya. Mungkin sekitar 2 jam kali ya?” ujar Monica setelah kami menggendong ransel cabin kami dan naik escalator ke lantai 2. 

“Sebenarnya banyak pilihan sih Mon, kalau mau kita bisa keliling-keliling dulu nih cuci mata di toko-tokonya. Ngopi juga ayok, kalau kau lapar makan juga ayok. Kalau memang mau santai yang lebih sepi ya bisa ke Concordia Lounge yang ada di lantai 3 tuh”, kata saya.



“Aku juga kayaknya pengen beli buku di Periplus, lagi kehabisan bacaan nih buat di pesawat. Hidupku tak lengkap rasanya kalau nggak ada buku”, imbuh saya lagi.



Sebenarnya 2 jam itu nggak terlalu lama namun  bisa kita manfaatkan untuk santai-santai sejenak di Bandara. Khusus di Lombok International Airport, ada beberapa pilihan untuk membunuh waktu kosong jika memang jadwal penerbangannya mundur dari rencana. 

“Mon, aku ke toilet sebentar dulu ya sebelum kita ke ruang tunggu”, ujarku pada Monica.

Saya berjalan ke toilet dan  kaget saat masuk ke dalamnya, karena terakhir kali saya ke Lombok, toiletnya tidak semodern toilet yang saya masuki. Toiletnya luas, bersih, dengan dua jenis kloset duduk, untuk orang dewasa dan anak-anak. Tiap bilik toiletnya kering dan tersedia gulungan tissue. Wastafelnya pun bersih. Duh, saya sampai terperangah.







Tepat di sebelah toilet wanita, terdapat toilet khusus untuk teman-teman disabilitas yang dilengkapi dengan automatic-door. Di bagian dalamnya juga muat jika ingin dimasuki oleh penumpang disabilitas dengan kursi roda. Makin-makinlah saya terperangah. Senang banget nih kalau pelayanan bandara makin bagus dari hari ke hari.



Kalau ingin menunggu sambil cuci mata serta belanja oleh-oleh yang mungkin terlupa karena asyik jalan-jalan di Lombok, bisa dibeli di Bandara Lombok kok. Mulai dari cemilan-cemilan khas Lombok yang terbuat dari rumput laut, atau sambal dalam kemasan hingga kain tenun, juga dijajakan di sana. Di bagian lobby bandara ada Booth UKM di mana pihak Bandara Lombok menyediakan area untuk para penenun lokal bisa memamerkan dan menjajakan hasil karya tenun mereka dengan harga yang tidak terlalu mahal. Masih affordable lah. 




Saat Monica mencari kerupuk di souvenir shop, saya masuk ke Periplus, mencari buku yang ingin saya beli untuk menemani saya selama penerbangan. Koleksi bukunya lumayan lengkap dan update. 

Monica dan saya bertemu lagi setelah masing-masing selesai mendapatkan apa yang ingin dibeli. Monica dapat oleh-oleh untuk teman-teman kantornya, saya dapat buku yang saya cari. 

“Wah buku apa itu Sat? Mau dibawa pas terbang atau di sini? Eh, tadi gue sempat lihat kalau di airport ini ada Reading Corner-nya juga lho” cerocos Monica.

Eh serius?

Ada reading corner di Lombok International Airport? Jawabannya ada.  Reading Corner-nya sebenarnya terletak di pojokan ruang tunggu yang dipisahkan oleh pintu kaca. Ada beberapa buku di rak berwarna putih yang bisa kita baca asalkan jangan dibawa pulang ya. Baca bukunya bisa sambil santai di atas beanbags. Bisa juga sambil browsing internet karena memang di dalam area “Reading Corner” disediakan PC yang bisa digunakan pelancong dengan fasilitas free-access-internet. Sebenarnya lebih seru kalau misalnya banyak wisatawan bersantai di Reading Corner, bertukar cerita sambil menunggu pesawat berangkat. Terdengarnya asyik kan? Hitung-hitung menambah pertemanan.





“Duh, gue berasa pengen ngopi banget sekarang Sat” ujar Monica tiba-tiba saat kami masih di Reading Corner. 

“Oke, mau ngopi di mana Mon? Ada Excelso dan ada Coffee Bean toh, monggo dipilih mau kopi apa” ujar saya.

Monica pun membeli kopi yang lalu ia tenteng di tangan sambil menemani saya berjalan lagi, keliling bandara. Saya memperhatikan orang-orang yang sedang menunggu penerbangan mereka (ya saya juga sama lagi nunggu terbang) dan orang yang lalu lalang. Kadang saya merasa lucu saja melihat mimik calon penumpang itu satu-satu. Ada yang asyik baca buku, asyik mengetik di laptop dan internetan, asyik nonton TV, asyik bertelepon dengan kerabat, ada yang sedang menikmati snack-nya dan juga yang asyik selfie. Semuanya pasrah saja namun tetap menaruh harapan bahwa kami tidak akan terlambat terlalu lama dari jadwal. 



Beberapa orang lain saya lihat sedang menunggui ‘Charging Box’ yang bisa digunakan untuk mengisi daya gadget. Lalu ada juga Ibu yang sedang mengasuh anak balitanya di Kids Zone. Ah, bandara ini memang selalu sibuk ya. Semua orang lalu-lalang tanpa henti tapi selalu tertib dan aman. Ruang tunggu Bandara Lombok memang tak seberapa luas tetapi hampir semua penumpang terlihat nyaman menunggu giliran. 





Sebenarnya kalau kamu memang lapar saat menunggu pesawat berangkat, bisa isi perut dulu di restoran yang ada di lantai 1. Ada Solaria, Bakso Tembak dan beberapa kios makanan lainnya yang bisa jadi pilihan. 

“Kita masih mau keliling bandara atau mau nunggu di lounge yang ada di lantai 3 aja Mon?” tanya saya.

“Wah, ide bagus tuh Sat. Kayaknya lebih asyik di lounge ya. Gue butuh tempat yang agak sepi juga nih mau ngerjain kerjaan kantor” jawab Monica.

Jadilah kami menuju ke lantai 3 dengan escalator. Memang posisi Concordia Lounge nya ada di pojok tetapi begitu masuk ke dalam, loungenya luas banget! Rasa-rasanya bisa menampung sampai 100 orang!




Selain senang karena mendapat sambutan ramah dari resepsionis, saya senang karena memang lounge-nya luas dan juga ada beragam pilihan makanan ala buffet. Kan pasti bete ya kalau pesawat delay, jadi, makan makanan enak adalah salah satu cara untuk bikin mood happy balik lagi. Hehehehe…




“Sat, ada layanan refleksi juga lho di sini! Mau nggak?” seloroh Monica sambil membawa dan memberikan brosur Concordia Lounge pada saya.

Wah, enak juga ya kalau bisa pijat refleksi setelah jalan kaki dan hari liburan yang padat dan tentunya bikin pegal. Apalagi kalau yang liburan di Lombok hanya saat akhir pekan dan harus kembali bekerja di kantor hari Senin pasti butuh refleksi biar lebih rileks dan siap menghadapi realita lagi. 

Tapi saat kami ingin mencobanya, lagi ada tamu lain yang menggunakan jasa layanan refleksi itu sehingga kami harus menunggu dulu.

Monica pun dengan cekatan mengeluarkan laptop, menyeduh kopi, mengambil snack dan duduk manis di sofa lounge yang empuk kemudian tenggelam dalam pekerjaannya sembari menunggu giliran pijat refleksi. Sungguh dedikatif dan pekerja keras sekali gadis yang satu ini.

Enaknya menanti di lounge salah satunya adalah kita diingatkan dengan jadwal pesawat kita jadi nggak perlu khawatir ditinggal pesawat. Apalagi kalau jadwal penerbangannya belum pasti karena delay. Staff lounge dengan senang hati akan membantu mengecek jadwal penerbangan setiap penumpang yang ada di lounge.

Fasilitas lain di Lombok International Airport ini yang belum saya sebutkan mungkin ‘Nursery Room’ dan ‘Smoking Room’ yang letaknya di lantai 2. Dua fasilitas ini juga pastinya dibutuhkan buat Ibu yang membawa bayi atau balitanya. Para pria yang pengen sebat juga pasti akan mencari smoking area kan?.



Ternyata penerbangan saya hanya delayed 1 jam saja dan kami terbang ke Jakarta lalu tiba dengan selamat. What a super fun short weekend escape! Satu yang saya syukuri juga adalah Bandara Lombok sudah semakin oke jadi meski pesawat telat, banyak yang bisa dilakukan untuk membunuh waktu. Juga senang karena makin ke sini, makin banyak perkembangan sarana dan prasarana yang bikin pelancong macam kita-kita ini nyaman. 



Jadi, kapan kita jalan bareng ke Lombok? 


Chers,




Follow Us @satyawinnie