Thursday, February 1, 2018

Pesawat Delay? Santai Dulu Saja di Bandara…

Thursday, February 01, 2018 12 Comments


NGGAK RELA NINGGALIN LOMBOK!

Beneran deh, ternyata libur pas akhir pekan yang hanya 3 hari 2 malam di Lombok nggak cukup, masih nggak rela ninggalin Lombok. Namun karena harus kembali ke realita, mencari sebongkah berlian di ibukota, mau tak mau, ya terbang pulang. 

Begitu sampai di check-in counter, kami dikabari pesawatnya mungkin sedikit terlambat meski tak sampai berjam-jam lamanya. Duh, saya dan Monica saja sudah tiba di bandara 1,5 jam sebelum jam keberangkatan seharusnya. Kalau pesawatnya delay, berarti bakal lebih lama dong nunggu di bandaranya. 




Tapi ya kalau masalah keterlambatan pesawat (delay), kita nggak bisa menggerutu karena pasti ada alasan yang jelas di baliknya. Entah itu karena masalah teknis mesin pesawat atau efek domino delayed hari itu atau juga cuaca. Memang awan gelap menggantung di langit saat saya melongok ke luar bandara. Jadi mending menunggu saja, bersabar sedikit agar semuanya aman dan selamat. Ya kan?

“Hmmm, ke mana dulu enaknya  sambil nunggu terbang Sat? Lumayan juga nih nunggunya. Mungkin sekitar 2 jam kali ya?” ujar Monica setelah kami menggendong ransel cabin kami dan naik escalator ke lantai 2. 

“Sebenarnya banyak pilihan sih Mon, kalau mau kita bisa keliling-keliling dulu nih cuci mata di toko-tokonya. Ngopi juga ayok, kalau kau lapar makan juga ayok. Kalau memang mau santai yang lebih sepi ya bisa ke Concordia Lounge yang ada di lantai 3 tuh”, kata saya.



“Aku juga kayaknya pengen beli buku di Periplus, lagi kehabisan bacaan nih buat di pesawat. Hidupku tak lengkap rasanya kalau nggak ada buku”, imbuh saya lagi.



Sebenarnya 2 jam itu nggak terlalu lama namun  bisa kita manfaatkan untuk santai-santai sejenak di Bandara. Khusus di Lombok International Airport, ada beberapa pilihan untuk membunuh waktu kosong jika memang jadwal penerbangannya mundur dari rencana. 

“Mon, aku ke toilet sebentar dulu ya sebelum kita ke ruang tunggu”, ujarku pada Monica.

Saya berjalan ke toilet dan  kaget saat masuk ke dalamnya, karena terakhir kali saya ke Lombok, toiletnya tidak semodern toilet yang saya masuki. Toiletnya luas, bersih, dengan dua jenis kloset duduk, untuk orang dewasa dan anak-anak. Tiap bilik toiletnya kering dan tersedia gulungan tissue. Wastafelnya pun bersih. Duh, saya sampai terperangah.







Tepat di sebelah toilet wanita, terdapat toilet khusus untuk teman-teman disabilitas yang dilengkapi dengan automatic-door. Di bagian dalamnya juga muat jika ingin dimasuki oleh penumpang disabilitas dengan kursi roda. Makin-makinlah saya terperangah. Senang banget nih kalau pelayanan bandara makin bagus dari hari ke hari.



Kalau ingin menunggu sambil cuci mata serta belanja oleh-oleh yang mungkin terlupa karena asyik jalan-jalan di Lombok, bisa dibeli di Bandara Lombok kok. Mulai dari cemilan-cemilan khas Lombok yang terbuat dari rumput laut, atau sambal dalam kemasan hingga kain tenun, juga dijajakan di sana. Di bagian lobby bandara ada Booth UKM di mana pihak Bandara Lombok menyediakan area untuk para penenun lokal bisa memamerkan dan menjajakan hasil karya tenun mereka dengan harga yang tidak terlalu mahal. Masih affordable lah. 




Saat Monica mencari kerupuk di souvenir shop, saya masuk ke Periplus, mencari buku yang ingin saya beli untuk menemani saya selama penerbangan. Koleksi bukunya lumayan lengkap dan update. 

Monica dan saya bertemu lagi setelah masing-masing selesai mendapatkan apa yang ingin dibeli. Monica dapat oleh-oleh untuk teman-teman kantornya, saya dapat buku yang saya cari. 

“Wah buku apa itu Sat? Mau dibawa pas terbang atau di sini? Eh, tadi gue sempat lihat kalau di airport ini ada Reading Corner-nya juga lho” cerocos Monica.

Eh serius?

Ada reading corner di Lombok International Airport? Jawabannya ada.  Reading Corner-nya sebenarnya terletak di pojokan ruang tunggu yang dipisahkan oleh pintu kaca. Ada beberapa buku di rak berwarna putih yang bisa kita baca asalkan jangan dibawa pulang ya. Baca bukunya bisa sambil santai di atas beanbags. Bisa juga sambil browsing internet karena memang di dalam area “Reading Corner” disediakan PC yang bisa digunakan pelancong dengan fasilitas free-access-internet. Sebenarnya lebih seru kalau misalnya banyak wisatawan bersantai di Reading Corner, bertukar cerita sambil menunggu pesawat berangkat. Terdengarnya asyik kan? Hitung-hitung menambah pertemanan.





“Duh, gue berasa pengen ngopi banget sekarang Sat” ujar Monica tiba-tiba saat kami masih di Reading Corner. 

“Oke, mau ngopi di mana Mon? Ada Excelso dan ada Coffee Bean toh, monggo dipilih mau kopi apa” ujar saya.

Monica pun membeli kopi yang lalu ia tenteng di tangan sambil menemani saya berjalan lagi, keliling bandara. Saya memperhatikan orang-orang yang sedang menunggu penerbangan mereka (ya saya juga sama lagi nunggu terbang) dan orang yang lalu lalang. Kadang saya merasa lucu saja melihat mimik calon penumpang itu satu-satu. Ada yang asyik baca buku, asyik mengetik di laptop dan internetan, asyik nonton TV, asyik bertelepon dengan kerabat, ada yang sedang menikmati snack-nya dan juga yang asyik selfie. Semuanya pasrah saja namun tetap menaruh harapan bahwa kami tidak akan terlambat terlalu lama dari jadwal. 



Beberapa orang lain saya lihat sedang menunggui ‘Charging Box’ yang bisa digunakan untuk mengisi daya gadget. Lalu ada juga Ibu yang sedang mengasuh anak balitanya di Kids Zone. Ah, bandara ini memang selalu sibuk ya. Semua orang lalu-lalang tanpa henti tapi selalu tertib dan aman. Ruang tunggu Bandara Lombok memang tak seberapa luas tetapi hampir semua penumpang terlihat nyaman menunggu giliran. 





Sebenarnya kalau kamu memang lapar saat menunggu pesawat berangkat, bisa isi perut dulu di restoran yang ada di lantai 1. Ada Solaria, Bakso Tembak dan beberapa kios makanan lainnya yang bisa jadi pilihan. 

“Kita masih mau keliling bandara atau mau nunggu di lounge yang ada di lantai 3 aja Mon?” tanya saya.

“Wah, ide bagus tuh Sat. Kayaknya lebih asyik di lounge ya. Gue butuh tempat yang agak sepi juga nih mau ngerjain kerjaan kantor” jawab Monica.

Jadilah kami menuju ke lantai 3 dengan escalator. Memang posisi Concordia Lounge nya ada di pojok tetapi begitu masuk ke dalam, loungenya luas banget! Rasa-rasanya bisa menampung sampai 100 orang!




Selain senang karena mendapat sambutan ramah dari resepsionis, saya senang karena memang lounge-nya luas dan juga ada beragam pilihan makanan ala buffet. Kan pasti bete ya kalau pesawat delay, jadi, makan makanan enak adalah salah satu cara untuk bikin mood happy balik lagi. Hehehehe…




“Sat, ada layanan refleksi juga lho di sini! Mau nggak?” seloroh Monica sambil membawa dan memberikan brosur Concordia Lounge pada saya.

Wah, enak juga ya kalau bisa pijat refleksi setelah jalan kaki dan hari liburan yang padat dan tentunya bikin pegal. Apalagi kalau yang liburan di Lombok hanya saat akhir pekan dan harus kembali bekerja di kantor hari Senin pasti butuh refleksi biar lebih rileks dan siap menghadapi realita lagi. 

Tapi saat kami ingin mencobanya, lagi ada tamu lain yang menggunakan jasa layanan refleksi itu sehingga kami harus menunggu dulu.

Monica pun dengan cekatan mengeluarkan laptop, menyeduh kopi, mengambil snack dan duduk manis di sofa lounge yang empuk kemudian tenggelam dalam pekerjaannya sembari menunggu giliran pijat refleksi. Sungguh dedikatif dan pekerja keras sekali gadis yang satu ini.

Enaknya menanti di lounge salah satunya adalah kita diingatkan dengan jadwal pesawat kita jadi nggak perlu khawatir ditinggal pesawat. Apalagi kalau jadwal penerbangannya belum pasti karena delay. Staff lounge dengan senang hati akan membantu mengecek jadwal penerbangan setiap penumpang yang ada di lounge.

Fasilitas lain di Lombok International Airport ini yang belum saya sebutkan mungkin ‘Nursery Room’ dan ‘Smoking Room’ yang letaknya di lantai 2. Dua fasilitas ini juga pastinya dibutuhkan buat Ibu yang membawa bayi atau balitanya. Para pria yang pengen sebat juga pasti akan mencari smoking area kan?.



Ternyata penerbangan saya hanya delayed 1 jam saja dan kami terbang ke Jakarta lalu tiba dengan selamat. What a super fun short weekend escape! Satu yang saya syukuri juga adalah Bandara Lombok sudah semakin oke jadi meski pesawat telat, banyak yang bisa dilakukan untuk membunuh waktu. Juga senang karena makin ke sini, makin banyak perkembangan sarana dan prasarana yang bikin pelancong macam kita-kita ini nyaman. 



Jadi, kapan kita jalan bareng ke Lombok? 


Chers,




Wednesday, January 31, 2018

Meski Musim Hujan, Destinasi Wisata di Lombok ini Tetap Asyik Untuk Didatangi

Wednesday, January 31, 2018 15 Comments

Hujan sudah mulai mereda ketika kami beranjak dari Lombok International Airport. Mas Teguh, guide kami dan Pak Ketut, driver kami, menyambut ramah dan hanya dalam waktu sebentar saja, kami sudah asyik bercengkerama.

Entah sudah keberapa kalinya saya menyambangi Lombok dan tetap terpesona dengan segal pesona yang ditawarkannya, mulai dari keindahan alamnya, kekayaan budayanya, keramahtamahan orangnya dan tentu tak lupa kelezatan kulinernya. Membayangkan semua kuliner khas Lombok saja sudah membuat air liur saya menetes.

Monica sendiri baru pertama kali ke Lombok, jadi menyenangkan melihat dia begitu antusias sejak tiba di Lombok. Saya pun ingin mengenalkan banyak tempat-tempat yang cantik yang bisa dikunjungi di Lombok.

Namun datang di awal tahun ke Lombok sepertinya bukan ide yang terlalu bagus karena memang bulan Januari adalah musim penghujan. But hey, siapa yang bisa prediksi cuaca saat ini? Iya kan? Kadang kita prediksi nya cerah eh hujan. Prediksinya hujan, eh cerah. Ya jadi berpasrah lah sudah.

Tapiiiiiiiii, Lombok masih tetap bisa dinikmati meski di musim penghujan. Ini beberapa destinasi yang bisa saya sarankan untuk teman-teman.

1.     Desa Adat Sukarara

Sebagai pecinta kain tenun, berkunjung ke Desa Adat sangatlah menyenangkan buat saya. Di samping saya bisa melihat ragam kain tenun cantik yang dijajakan, saya juga bisa ikut belajar cara menenun meski hanya dalam waktu singkat saja. Sebenarnya jika ingin belajar menenun secara serius boleh lho asal bersedia berkomitmen minimal satu bulan tinggal di desa dan serius belajar menenun, pasti bisa, pasti jadi. Maukah kamu?




Selain itu naluri belanja kain tenun pasti tak tertahankan kalau sudah berkunjung ke Desa Sukarara. Habisnya kain tenunnya cantik-cantik sekali, pengen dibawa pulang semuanya. Harga kain tenunnya berkisar dari Rp 100.000,- hingga jutaan per lembar kainnya. Kalau di sentra tenun nya kadang harga tenunnya sudah fix dan tidak bisa ditawar. Tapi kalau beli langsung di pengrajinnya kadang masih bisa ditawar jadi pintar-pintarlah ya…






2.     Desa Adat Sade

Ini adalah Desa Adat favoritku sejak kunjungan pertamaku ke Lombok beberapa tahun silam. Meski katanya sekarang Desa Sade ini dipenuhi banyak sekali wisatawan lokal dan mancanegara, desa ini masih tetap apik dan sambutan masyarakatnya masih tetap hangat.



Bajang (sebutan untuk pria muda dalam bahasa Sasak) Semeru (namanya memang terinspirasi dari gunung tertinggi di tanah Jawa), menyambut saya dan Monica dan mengajak kami berkeliling. Saya senang sekali melihat masyarakat lokalnya mengembangkan desa mereka sendiri, menyambut dan menjelaskan desa mereka dengan cara yang menarik.




Di Desa Sade ini saya bertemu dengan Wani, gadis seusia saya. Saya mampir ke kiosnya dan membeli gelang-gelang cantik yang dianyam sendiri oleh gadis-gadis di Desa Sade (ini hal favorit yang senang saya lakukan saat berkunjung ke Desa Sade).



Setelah bertukar sapa, seorang teman Wani tiba-tiba menghampiri, menggoda Wani, dan mengatakan kepada saya kalau Wani itu perawan tua, karena belum ada lelaki yang “melaik” dia. “Melaik” adalah istilah proses penculikan perempuan Sasak untuk dinikahi. Penculikannya dalam arti baik yak arena si perempuan memang harus setuju untuk “diculik”. Setelahnya barulah prosesi adat perkawinan berlangsung dan salah satunya adalah “Nyongkolan”. Saya sudah pernah menuliskannya dan kamu bisa baca di sini.
Entahlah apa yang dirasakan Wani saat temannya berkata seperti itu tetapi Wani tetap sumringah dan tertawa-tawa. Ah, semoga kamu segera bertemu dengan jodohmu, yang terbaik, ya Wani. Pernikahan memang bukan kompetisi, namun pasti akan sedikit berat buat perempuan yang lahir dan dibesarkan di desa kecil.



Kami tak berlama-lama di Desa Sade. Adzan maghrib berkumandang, menjadi pertanda kami harus segera keluar dari sana karena selepas maghrib tidak ada pengunjung yang masih berkeliaran di sekitar desa karena seluruh warga akan beribadah dan beristhirahat.




Tak lupa sebelum meninggalkan Desa Sade, saya membeli satu kain tenun dengan warna peach. Ya, kalau memang ada rejeki lebih, bantulah perekonomian masyarakat dengan membeli hasil kerajinan tangan mereka ya. Jika membel langsung di desa pengrajinnya, harganya tidak semahal di toko atau di pameran kerajinan kok.

3.     Mencicipi Kuliner Lokal

Nah! Ini nih favorit saya kalau lagi berkunjung ke satu tempat dan cuaca sedang mendung tak mendukung, opsi yang paling bener ya wisata kuliner hahaha. Makan, makan, makan, makan, makan!



Ada banyak pilihan kuliner Lombok yang bisa kamu cobain. Buat kamu penyuka pedas seperti saya, tentu jangan lewatkan untuk menyantap Ayam Taliwang yang tersohor dan Plecing Kangkung nya yang nggak kalah “nendang” pedasnya! Salah satu rekomendasi tempat untuk makan Ayam Taliwang di Lombok ya RM Taliwang Irama. Ada beberapa cabang di Mataram dan semuanya enak kok! Cobain juga Sop Bebalung nya yang disajikan hangat dan cocok menjadi teman di kala musim hujan. Eh, ada lagi tahu gorengnya yang lembut dan wajib dicoba. Entah kenapa tahunya berbeda dengan tahu-tahu goreng di daerah lain. Agak sedikit susah menjelaskannya jadi dicobain sendiri ya.




Namun dari semua kuliner Lombok, favorit saya tetap Sate Sapi Rembiga Bu Ririn yang lokasinya di Rembiga. Ah ya mungkin belum banyak dari kalian yang tahu bahwa nama-nama kuliner khas di Lombok memang berasal dari nama daerah tempat masakan itu pertama kali dikenal. Ayam Taliwang ya dari Desa Taliwang, Sate Rembiga ya dari Rembiga, Nasi Balap Puyung ya dari Desa Puyung. Hahahaha… Mudah banget diingat kan?



Untuk Nasi Balap Puyung ini, karena lokasinya di dekat bandara, paling enak memang menyantapnya sebelum terbang pulang ke rumah. Sebenarnya bisa juga jadi penganan pertama yang disantap saat baru tiba di Lombok kalau memang sangat lapar. Tempat yang saya rekomendasikan adalah RM Cahaya yang lokasinya hanya 5 menit dari Lombok International Airport.

Nasi Balap Puyung ini juga sering saya beli beberapa bungkus untuk dibawa pulang ke Jakarta. Sambalnya yang pedas nendang itu juga bisa dibungkus untuk dibawa pulang lho!

4.     Taman Narmada

Tidak jauh dari pusat kota Mataram, ada satu tempat bernama Taman Narmada. Dibangun oleh Raja Mataram pada 1727, Anak Agung Ngurah Karang Asem, taman ini difungsikan sebagai lokasi upacara “Pakelem” dan juga sebagai tempat peristhirahatan keluarga Raja.



Di bagian dalam taman ada Pura tempat beribadah dan juga kolam pemandian. Ada juga Balai Petirtaan yang di dalamnya ada satu mata air yang konon katanya, jika kita konsumsi akan membuat kita selalu awet muda karena bersumber langsung dari Rinjani. Banyak orang yang datang ke sana dan membawa jerigen kecil untuk menampung air itu. Hmm, balik ke masing-masing orang sih ya, percaya atau tidak percaya.



Saya juga baru tahu bahwa nama Narmada diambil dari Narmadanadi, nama anak sungai Gangga di India. Pura Kelasa / Pura Narmada yang ada di bagian dalam taman adalah satu diantara 8 pura tua di Lombok dan masih digunakan sebagai tempat beribadah bagi umat Hindu hingga sekarang.

 5.     Islamic Centre Mataram

Mungkin teman-teman sudah tahu bahwa beberapa waktu silam, Nusa Tenggara Barat terutama Lombok mendapat penghargaan sebagai Destinasi Halal Terbaik di Indonesia.

Dan sejak 2013 lalu, Lombok memiliki icon baru yakni Islamic Centre Mataram yang dibangun dengan arsitektur khas lumbung Suku Sasak, dengan ukiran Samawa dan Mbojo yang dikenal dengan ‘Sasambo’.

Saya terkagum-kagum saat memasuki Islamic Centre ini karena memang megah dan bagus sekali. Di dindingnya terpahat 99 Asma’ul Husna (nama-nama Allah) dan ada menara 99 meter dimana kita bisa melihat panorama Kota Mataram 360 derajat. Tenang saja, ada lift nya kok, jadi tidak harus naik tangga untuk sampai ke lantai 13.



Sayang saat berkunjung ke sana, sedang ada grup besar yang berkunjung dan mereka sudah melakukan reservasi sebelumnya dan saya harus menunggu sekitar 1,5 jam. Karena keterbatasan waktu, saya tidak jadi naik ke atas dan mungkin akan berkunjung lagi. Saya tetap masih penasaran ingin melihat panorama Kota Mataram secara langsung dengan mata kepala saya.

Oh iya jika ingin berkunjung ke Islamic Center ini, diwajibkan untuk mengenakan pakaian sopan, terutama untuk perempuan, harus tertutup dari atas hingga bawah. Waktu ke sana, saya tidak mengenakan hijab, hanya membalut kepala saya dengan selendang, namun tetap memakai baju lengan panjang dan celana panjang yang tidak ketat.

Nah, itu dia rekomendasi destinasi yang asyik dikunjungi saat cuaca hujan di Lombok. Tetap mengasyikkan bukan? Jadi jangan bersedih kalau cuaca sedang tidak mendukung. Meski mendung, jangan biarkan sedih merundung *rhyming.

Kalau kamu? Punya rekomendasi destinasi yang asyik dikunjungi saat musim hujan di Lombok? Share di comment box ya ;)







Wednesday, January 24, 2018

Weekend Seru di Lombok – Semua Bermula di Bandara LIA

Wednesday, January 24, 2018 13 Comments

Langit Lombok sedikit gelap mendung setelah hujan mengguyur cukup deras pagi itu ketika kami baru mendarat. Syukurlah sang pilot tetap bisa mendaratkan pesawatnya dengan smooth-landing. Sempat was-was cemas juga karena berpikir nggak bakal asyik kalau kalau selama kami berlibur di Lombok diguyur hujan terus. Ah, tapi kita harus selalu positive-thinking! Biar hujan, pasti banyak hal seru yang bisa kita lakuin di Lombok. Iya kan? Namanya juga cuaca di awal tahun, pasti basah, jadi ya kita nikmati saja.

Sapaan selamat pagi dari petugas Ground Crew Bandara membuat pagi saya terasa menyenangkan meski langit Lombok kelabu. Keluar dari garbarata, saya dan Monica menyusuri gedung arrival bersama dengan penumpang lain yang juga baru tiba. Bangunan bandaranya apik dan bersih. Mungkin karena Bandara Internasional Lombok yang berlokasi di Praya ini baru beroperasi 1 Oktober 2011 silam jadi bangunannya terbilang modern dan saya kagum masih terawat dengan baik.

Yang pernah ke Lombok sebelum tahun 2011 pasti tahu kalau sebelumnya Bandar Udara Lombok adalah Bandara Selaparang yang lokasinya di Kota Mataram. Pemindahan bandara Lombok memang sudah dicanangkan cukup lama. Tahun 1995, proses pembebasan lahan seluas 538,5 ha untuk lokasi bandara baru di Praya sudah dimulai dan baru selesai dibangun tahun 2011. Cukup lama juga ya ternyata proses membangun satu bandara itu.

Masuk ke gedung Arrival, Monica dan saya turun lewat escalator dan  berjalan ke conveyor belt, menanti bagasi kami keluar. Saat menunggu sambil melihat ponsel, tiba-tiba saya melihat ada photo booth lengkap dengan papan selancar di sudut ruangan. Seketika terbersit ide buat foto-foto seru di situ. Daripada bengong nungguin bagasi iya kan?

“Mon foto ala-ala di situ yuk. Seru tuh bisa bergaya ala surfer. Belajar foto di situ dulu baru nanti kita belajar surfing yang sebenarnya. Hahaha” ujar saya pada Monica.

Ternyata nggak cuma kami berdua saja. Beberapa wisatawan yang lain juga ingin berfoto di sana. Syukurlah ada 2 photo booth jadi tidak harus mengantri lama untuk foto-foto seru di situ. Saya juga jadi ikut senyum-senyum sendiri melihat ekspresi wisatawan yang tampaknya baru mengunjungi Lombok untuk pertama kalinya. Lucu banget hahahaha…




“Ah itu tas-tas kita” ujar Monica yang lalu mengambilnya dan menaruhnya di atas trolley lalu kami berdua berjalan menuju pintu keluar.

Namun di sisi kiri pandangan kami tertaut pada satu perempuan cantik yang berdiri dan tersenyum manis dengan selempang “Duta Bandara”. Wah, Duta Bandara ini apa ya?

“Eh eh bentar Mon, mampir ke booth itu sebentar yuk” ujar saya pada Monica.

Ternyata Duta Bandara yang cantik itu bernama Mega. Dengan senyum ramah dan tawa yang renyah, Mbak Mega menjelaskan kepada Monica dan saya lokasi-lokasi wisata yang seru buat dikunjungi di Lombok, Sumbawa dan Bima. Namun karena kami hanya akan menghabiskan akhir pekan di Lombok, Mbak Mega dengan lihai membuka peta dan menunjuk spot-spot favorit yang bisa dikunjungi dalam waktu singkat. Oh ternyata itu tugas Duta Bandara ya.



“Kayaknya lagi musim hujan nih di Lombok Mbak Mega. Jadi asyiknya ke mana ya?” tanya saya.

“Kalau memang cuaca tidak mendukung untuk pergi ke pantai atau ke gunung, Mbak Satya bisa jalan-jalan keliling kota Mataram, mencicipi kuliner khas Lombok ; Ayam Taliwang, Plecing Kangkung, Bebalung, Sate Rembiga dll” ujar Mbak Mega.

“Oh iya, Islamic Centre dan Taman Narmada di Mataram juga seru buat dieksplor loh Mba Satya. Bisa juga lihat proses tenun di Kampung Adat Sade atau Sukarara” lanjut Mba Mega lagi.

Iya juga ya. Kalau memang tidak memungkinkan main ke alam, keliling Mataram dan beberapa kampung adat bisa jadi pilihan untuk berakhir pekan ke Lombok. Lombok memang jadi destinasi yang komplit sih. Mau nature, heritage, culture, culinary, semuanya ada. Tinggal pilih saja sesuai selera maunya berkunjung ke mana, disesuaikan dengan cuaca juga. Hahahaha…

Setelah mengucapkan banyak terima kasih kepada Mba Mega, Duta Bandara Lombok International Airport yang cantik, kami berjalan ke luar bandara dan mata kami sempat terpaut sebentar pada papan besar yang terpampang di sebelah kanan pintu keluar, yang berisikan Calendar of Event 2018 di Nusa Tenggara Barat. Ternyata banyak sekali festival di NTB semacam “Festival Bau Nyale”, “Festival Tambora” dan beragam event lainnya.



Di sisi kiri pintu keluar ada booth yang menawarkan akomodasi di Lombok. Jadi kalau belum tahu mau tinggal di mana selama berlibur di Lombok bisa tanya-tanya sama petugas di booth itu. Dan begitu keluar dari pintu, berjejer booth taksi yang menyodorkan layanan transportasi. Karena lokasi Lombok International Airport ini jaraknya sekitar 30 menit dari Kota Mataram, kita pastinya butuh taksi. Pun kalau berencana untuk surfing di bagian Lombok Tengah atau Selatan, pasti tetap butuh taksi. Tersedia juga layanan Bus Damri jika ingin ke pusat Kota Mataram dan harganya jauh lebih murah dari taksi sih.



“Kita mau naik taksi atau nanti kita dijemput Mon?” tanya saya pada Monica.

“Nanti kita dijemput, katanya sebentar lagi sampai. Mungkin kita bisa ngopi dulu kali ya. Ngantuk banget  nih” ujarnya.




Berjalanlah kami ke Maxx Coffee yang ada di Arrival Area. Sambil menunggu kopi kami selesai dibuat, saya mengedarkan pandangan ke sekitar area kedatangan dan mata saya tertuju pada booth berwarna orange bertuliskan “Tourist Information Centre”.


“Wah Mon, kita harus ke TIC (Tourist Information Centre) itu tuh nanti ya. Aku penasaran ada apa di dalamnya. Pengen lihat-lihat”, ujar saya.

Jadilah selesai meneguk kopi pagi biar melek, kami mampir ke TIC dan disambut ramah oleh Mbak petugasnya. Di dalam ruangannya ada desk dan sofa serta rak yang berisikan brosur-brosur objek wisata di Nusa Tenggara Barat. Booth TIC ini memang disiapkan oleh Dinas Pariwisata Provinsi NTB untuk membantu para wisatawan mengenal semua objek wisata menarik di sana.

Cara memaparkannya pun sangat interaktif. Ibu petugasnya mengajak saya untuk menonton video-video travel yang ciamik di Lombok. Duh dijamin ngiler pengen ngunjungin semua tempat-tempat itu. Sayang karena cuma punya waktu 3 hari 2 malam, tidak semuanya bisa dijelajahi tapi ditaruh di dalam bucketlist untuk kunjungan ke Lombok berikutnya. Setelah mendapatkan penjelasan yang menarik dan mendapat peta serta brosur, kami mengucapkan terima kasih dan berjalan menuju ke luar bandara.




Tampak beberapa wisatawan mancanegara sedang membeli sim-card dari operator merah dan operator biru di pojok bandara. Di sebelahnya terdapat “Free Internet Access Booth” yang biasanya digunakan oleh wisatawan mancanegara yang butuh informasi via internet sebelum mereka mengaktifkan ponsel mereka dengan nomor lokal. Membantu banget sih itu pastinya ya buat wisatawan asing. Apalagi buat wisatawan mancanegara yang direct flight dari Singapore atau Kuala Lumpur.




Selain itu, untuk wisatawan mancanegara juga tersedia Money Changer Booth di sebelah kiri area kedatangan. Ada dua booth di sana jika ingin menukarkan rupiah. Saya sendiri juga tak lupa pergi ke ATM Center untuk mengambil uang tunai karena tidak semua tempat di Lombok menerima pembayaran via kartu debit atau kartu kredit. Jadi pastikan bawa uang tunai yang cukup ya.



Nah, pas saya baru selesai mengambil uang di ATM, tepat di sebelahnya ada gerai Angkasa Pura Logistik “Luggage Service” alias penitipan bagasi.  Saya baru tahu kalau di Lombok International Airport melayani penitipan barang. Satu barang (entah tas, koper, kardus, papan surfing) dihargai Rp 50.000,- per hari jika ingin dititipkan. Wah, layanan ini berguna sekali jika kita hanya punya waktu sebentar untuk keliling Lombok dan nggak mau bawa tas-tas berat yang kita tidak butuhkan.



Mau tahu tampilan layanan Luggage Service di Lombok International Airport? Coba nonton dulu video berdurasi satu setengah menit ini. Petugasnya super ramah dan ini pelayanan yang sangat menarik dan berguna banget menurut saya.



“Sat, yuk, itu drivernya sudah tiba, sudah nunggu di depan katanya” ujar Monica.

Ah oke… Akan ke mana ya kita selama 3 hari 2 malam di Lombok? Tunggu di postingan berikutnya ya!








Cheers,



Follow Us @satyawinnie