Saturday, October 14, 2017

Ode dari Ketambe, Menyambangi Orangutan di Leuser Ecosytem

Saturday, October 14, 2017 0 Comments

Sepiring pancake bertabur buah-buahan segar sudah mendarat dengan aman di dalam perut yang semalaman keroncongan. Carrier merah muda kesayangan sudah siap disandang masuk hutan. Cicit burung nan merdu jadi nyanyian pengawal hari yang cerah menyenangkan. Rasanya lebih dari sekedar menyenangkan karena saya dan delapan teman, tim #LastPlaceOnEarthChallenge akan masuk ke jantungnya Leuser Ecosystem Aceh untuk bertemu langsung dengan orangutan dan teman-temannya.

“Sebelum mulai trekking ke hutan, kita mau ke pos dulu ya, katanya ada beberapa orangutan di sana”, ujar Bang Zul, local guide kami di Ketambe.

Bang Zul, local guide kami di Ketambe...

Hati saya deg-degan serasa akan kencan pertama kali. Iya bisa dikatakan begitu karena saya akan bertemu, melihat, berkencan langsung dengan orangutan di rumahnya, hutan rimba.

Trekking ke Ketambe ini jadi pemanasan sebelum kami melakukan pendakian 6 hari ke Gunung Kemiri, yang juga masih dalam satu kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Tujuannya ingin melihat Orangutan, Macaca / monkey, gibbon, flora dan fauna yang ada di jantungnya Aceh. Tapi harus diingat, bahwa tidak ada yang bisa memastikan di mana dan jam berapa kita bisa melihat hewan-hewan itu karena mereka liar dan tidak menyukai kehadiran manusia. Begitu mendengar suara manusia sedikit saja mereka sudah langsung kabur.

Garry, ketua ekspedisi ini, sudah memberitahu kami di awal bahwa ketika melihat hewan-hewan liar, sebaiknya tidak mengeluarkan suara sedikit pun, seberapa pun girangnya kita. Bahkan jalan harus mengendap-ngendap agar suara langkah kaki kita tidak terdengar oleh mereka. Selayaknya memasuki rumah orang lain, kita harus sopan kan?

Garry Sundin, our trip leader from Orangutan Odysseys

Dengan langkah pelan kami menuju salah satu lokasi yang katanya sedang menjadi tempat favorit orangutan berkumpul belakangan. Ternyata pohon itu sedang berbuah hingga beberapa orangutan memutuskan untuk berdiam dan jadilah mereka bersarang di pohon besar itu sementara waktu. Ada sekitar 5 orangutan yang kami temui. Sebagian dari mereka sedang asyik berayun di antara ranting pohon dan mengunyah daun serta buah. Sebagian lagi masih asyik tidur di dalam sarangnya. Pohonnya besar sekali sehingga kami tidak bisa melihat dari dekat. Hanya Adam dan Sean yang membawa lensa kamera tele yang mengabadikan orangutan itu secara close-up.


Orangutan nya melihat kami yang menatap dia dengan gembira dan dibalas dengan tatapan seperti itu...



Ketika sudah dirasa cukup mengabadikan orangutan di lokasi pertama, Garry mengajak kami untuk bergerak masuk ke dalam hutan Ketambe. Pintu masuk ke hutannya ada di tepi jalan dan tidak ada plang apa pun yang menjadi penanda bahwa itu pintu. Selain Bang Zul, ada Bang Sam dan Bang Is yang mendampingi ekspedisi kami.

“Satya capek nggak? Mau dibawakan tasnya?” tanya Bang Zul setelah setengah jam pendakian dimulai. Jalurnya sangat menanjak sehingga saya basah bermandikan keringat karena membawa beban yang lumayan berat di punggung. Saking basahnya saya terlihat seperti habis mandi. Mungkin karena melihat itu Bang Zul merasa kasihan dan menawarkan bantuan.

“Nggak apa-apa Bang Zul. Sudah biasa berkeringat deras begini setiap naik gunung. Sekalian latihan bawa beban nih sebelum ke Gunung Kemiri” ujar saya sambil terkekeh. Tubuh kita memang butuh adaptasi dulu saat akan naik gunung. Bagian terberat saat naik gunung adalah 3 jam pertama, apalagi kalau sudah disuguhi tanjakan dari awal pintu masuk. Tubuh kita kan butuh beradaptasi dulu ya jadi ada baiknya berjalan dengan ritme pelan tapi pasti.

Setiap setengah jam / satu jam kami berhenti untuk beristhirahat sekitar 10 menit. Kami manfaatkan waktu isthirahat itu untuk minum dan menyantap makanan ringan yang kami bawa. Tentu tak lupa foto-foto dengan pohon dan lumut cantik dalam hutan. Saya sangat menikmati ekspresi teman-teman dari Australia ketika melihat sesuatu, entah itu pohon, daun, bunga, lumut yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Ayo, ada yang tahu ini hewan apa?

Di tengah perjalanan kami juga menjumpai akar-akar gantung yang panjang dan cukup kuat untuk kami jadikan ayunan. Tentu saja sangat menyenangkan bisa berayun-ayun ala Tarzan dengan akar-akar itu. Semuanya tertawa gembira dan sejenak lupa rasa pegal di kaki karena sudah berjalan untuk waktu yang cukup lama.


Local Tarzan, Bang Sam, happily swing among the trees....

Angie also looks so happy swinging around...

Setelah dirasa cukup bermain-main, kami meneruskan perjalanan dan tak berapa lama kami mendengar gemerisik dedaunan. Secara reflek kami melangkah berjinjit, sebisa mungkin tidak menimbulkan bunyi. Kami percaya itu adalah orangutan yang sedang bergelayut di pepohonan.

Ternyata benar.

Tak berapa lama, satu orangutan betina dan anak orangutan yang berusia sekitar 2 tahun bergelayutan di dahan-dahan pohon, tepat di atas kepala kami. Mama Orangutan sempat berhenti sejenak dan melihat kami, begitu dekat. Kami terdiam namun membidik lensa kepadanya. Saya terduduk di tanah dan air mata menetes di mata saya. Tentu itu adalah air mata bahagia. Dengan perasaan puas bahagia, kami melanjutkan perjalanan ke camp tempat kami akan isthirahat makan siang dan juga beristhirahat sebelum eksplorasi Ketambe lagi keesokan harinya.

Mama orangutan and the baby <3


Camp kami didirikan tepat di tepian sungai namun tetap aman meski air sungai bisa naik pasang. Tim guide dan porter selain Bang Zul, Bang Is dan Bang Sam sudah ada di sana sedang memasak dan menyiapkan tenda serta makan siang. Sambil menunggu, kami semua diperbolehkan menikmati free time yang tentunya kami pergunakan untuk mandi di sungai. Menyegarkan rasanya bisa berendam di air sungai yang dingin setelah hampir setengah hari berjalan kaki.


Across the river was fun!


Our river camp...

Lusi & Bang koki kita yang memasak makanan selama 2 minggu ekspedisi LPOEC


Sehabis berenang di sungai, terbitlah lapar sehingga kami menyantap makan siang kami dengan sangat lahap. Saya bahkan sampai menambah nasi hingga dua piring. Energi kembali terisi penuh dan kami siap berjalan lagi. Rencananya kami hanya akan berjalan selama dua jam, mengeksplorasi Ketambe dan berharap bisa bertemu orangutan lagi. Sayang kami tidak terlalu beruntung sore itu, namun tidak kecewa juga karena kami sudah menjumpai 7 orangutan.

Menjumpai 7 orangutan di habitatnya dalam satu hari tentu tidak bisa hanya dibilang beruntung. Sangatlah beruntung namanya. Ya kan?

Di hari kedua kami mengeksplorasi Ketambe, target kami adalah menjumpai Hornbill & Gibbon yang bisa dijumpai di pagi hari saat mereka berjemur di pucuk-pucuk pohon. Kami mulai berjalan jam 7 pagi dan mengikuti bunyi-bunyian Gibbon yang sangat khas. Pastinya ada banyak sekali Gibbon di Ketambe jika mendengar betapa gaduhnya suara mereka di pagi hari.

Namun sayangnya Gibbon menyukai pohon-pohon yang sangat tinggi sehingga sangat susah melihat mereka dari jarak dekat. Harus bawa binocular sendiri atau pakai lensa tele yang bisa menangkap gerakan mereka yang cepat. Saya tidak memiliki kedua-duanya, sehingga saya hanya mendongak, melihat titik-titik kecil berwarna abu-abu di puncak pohon. Namun saya sangat menikmati suara mereka yang begitu merdu di telinga. Bunyinya bersahut-sahutan seperti rumpi pagi yang seru. Saya mau ikutan tapi nggak mengeti bahasanya. Bagaimana dong? Hehehehe…

Dalam perjalanan ke Ketambe ini, kami juga dimanjakan dengan berendam di “kolam” air panas. Sebenarnya bukan kolam secara harafiah, melainkan sungai yang dialiri air panas dan air dingin yang menjadikan ada beberapa titik kolam yang bisa dijadikan tempat berendam. Meski hanya diberi waktu 30 menit untuk berendam karena harus kembali ke camp untuk makan siang. Tanpa babibu, saya buka baju dan langsung berendam.

Aih Mak enak betul!

Sumber air panas yang mengalir bersamaan dengan air dingin sungai sehingga menjadi air hangat...

Left - Right : Princess Sher, Mil, Angie, me, Brendan


Segala rasa pegal di paha, telapak kaki, pundak, punggung, hilang tak terasa lagi. 30 menit itu terasa sebentar sekali padahal saya masih ingin berendam. Tapi kalau berlama-lama nanti saya ditinggal sendirian di hutan. Bergegaslah kami berpakaian dan mengenakan sepatu, bersiap berjalan lagi.

Begitu tiba di camp, makan siang sedang disiapkan dan kami masih punya waktu untuk berenang sebentar di sungai sambil mengeringkan pakaian basah yang kami pakai berendam di air panas. Langit biru tak berawan, air sungai yang mengalir segar dan angin semilir nan sejuk membuat saya betul bersyukur, merasa terberkati untuk perjalanan di Ketambe yang sangat menyenangkan.

Saya buka mata lebar-lebar, saya tegakkan telinga, saya hirup udara dalam-dalam, berusaha untuk merekam sebaik-baiknya apa yang saya lihat, saya dengar dan saya hirup. Rekaman perasaan yang menyenangkan yang ingin saya putar berulang-ulang setiap kali saya merasa terlalu banyak beban pikiran. Nyanyian alam, ode, ode dari Ketambe...

Greetings from the Jungle Girls ; me, Angie, Princess Sher, Mil, Emma
Ekspedisi bertajuk "Last Place On Earth Challenge" ini diselenggarakan oleh Orangutan Odysseys dan menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya. Berminat ikut? Bisa langsung kontak mereka ya!


Cheers,










Saturday, October 7, 2017

Stingless Jellyfish di Togean, Kencan Tak Bersuara dengan Ubur-Ubur Peka

Saturday, October 07, 2017 0 Comments
 


“Di sisi sana sudah ada kapal yang berlabuh dan jembatannya sudah rubuh. Jadi kapal kita sandar di sini dan kita menyeberang bukit itu ya” ujar Ferry begitu kapal kayu kecil kami berlabuh di pantai kecil bernama Pantai Karina.

Memang biasanya ada dermaga khusus untuk menyambangi danau ubur-ubur tak menyengat (Stingless Jellyfish) atau dikenal juga dengan nama Danau Mariona. Namun dermaganya rusak sehingga kapal sulit berlabuh dan wisatawan harus berenang dulu ke pantai yang jaraknya lumayan.

Jadi, Ferry, local guide kami, memutuskan untuk berlabuh di pantai landai di seberang danau dan mengajak kami mendaki bukit kecil untuk menuju ke danau ubur-ubur. Tidak terlalu jauh kok, hanya sekitar 15 menit berjalan mendaki dan menuruni bukit. Disarankan untuk mengenakan alas kaki karena jalurnya dipenuhi batu tajam. Berjalanlah pelan dan hati-hati agar tidak terpeleset. 

Begitu tiba di atas danau, kami melihat tidak hanya dermaga yang rubuh, ternyata pondokan di danau Ubur-Ubur nya juga rubuh. Pondok beratap merah itu rata dengan permukaan jembatan. Menurut penuturan Ferry, penyebabnya adalah angin badai kencang yang melanda beberapa waktu silam. Ya, kalau di pulau kecil, kondisi alam memang tidak pernah terduga. Semoga dermaga dan pondok akan diperbaiki segera. Maaf ya foto pondok rubuhnya nggak ada, cuma sempat foto danau saja kemarin.



Danau kecil berwarna hijau itu bersebelahan tepat dengan laut sehingga airnya payau. Dari permukaan ubur-uburnya tidak kelihatan sehingga kita harus berenang di danau. Namun ada beberapa hal yang harus kita perhatikan saat akan berenang di danau ubur-ubur ini.

1.   Jangan mengenakan tabir surya / sunblock. Kenapa? Karena sunblock mengandung bahan kimia yang akan menjadi racun bagi ubur-ubur. Karena ubur-ubur tak menyengat ini sudah mengandung zat dalam tubuhnya yang membuat dia tidak menyengat. Nah, jika kita menggunakan sunblock, artinya kita menginjeksikan bahan kimia yang mungkin berdampak menjadi racun dan mengakibatkan kematian untuk ubur-ubur. Atau, karena zat kimia itu, ubur-ubur ini bisa mengeluarkan lagi sengatnya.

2.     Jangan menggunakan kaki katak saat berenang di danau. Kenapa? Karena kepakan yang kita buat saat menggunakan fin / kaki katak, bisa melukai ubur-ubur yang lunak itu. Bayangin kalau kamu lagi berenang senang dan tenang, tahu-tahu kamu ditampar dan ditonjok sama orang yang tak kamu kenal. Sakit kan? Kesel kan? Nah, begitulah yang dirasakan ubur-ubur juga.

3.    Berenanglah dengan tenang dan tidak meloncat ke danau pakai gaya salto atau gaya batu. Kenapa? Karena dentuman saat kamu jatuh ke air itu sangat besar dan bisa melukai ubur-ubur. Jadi turunlah ke air dengan pelan sehingga ubur-uburnya juga tidak “tertimpa” badan kita.

4. Jangan menyentuh,  meremas ubur-ubur, mengangkatnya keluar dari air dan melemparnya. Kenapa? Karena ubur-ubur itu juga makhluk hidup, bukan mainan squishy, meski sama-sama kenyal dan menggemaskan. Danau itu adalah rumah mereka dan kita adalah tamu pendatang. Bersikaplah sopan kepada sang empunya rumah ya. Kalau tak sengaja bersentuhan dengan ubur-uburnya ya tidak apa asal jangan menyakitinya ya.

Mungkin itu yang bisa saya sarankan dan semoga teman-teman yang nantinya mau berenang dengan ubur-ubur tak menyengat ini sudah mengerti betul. Semoga berguna ya informasinya.




Waktu saya tiba di danau ubur-ubur itu waktu sudah hampir tengah hari. Waktu terbaik sebenarnya saat pagi hari di mana banyak ubur-ubur akan berenang di sekitaran permukaan. Saya turun dari pinggir danau dan berenang ke bagian tengah. Visibility bagus karena matahari sedang bersinar cerah dan saya bisa melihat banyak ubur-ubur sedang berenang bebas. Ada yang berwarna kuning dengan tentakel besar, ada yang berwarna putih biru dan ada yang transparan. Semuanya tak menyengat. Posisi saya berenang agak sedikit jauh dari Ferry, Elen, Ika dana Mamat yang menjadi teman perjalanan saya. Mereka masih asyik di pinggiran danau sehingga saya sendirian saja di bagian tengah.



Rasanya menakjubkan bisa berenang dikelilingi oleh begitu banyak ubur-ubur. Kemarin itu kali pertama saya bertemu dengan ubur-ubur tak menyengat. Di Indonesia sendiri ada beberapa spot danau dengan stingless jellyfish. Sebut saja Danau Kakaban di Kalimantan Timur, Danau Lenmakana di Misool, Raja Ampat. Namun kemarin saya juga diberitahu bahwa di Muna, Sulawesi Tengah juga ada namun saya belum melihat fotonya.




Saya diam tak bergerak, mengapung, mengamati semua ubur-ubur yang berenang di sekitaran saya. Seseklai mereka berenang menyentuh kulit saya. Lembut sekali. Saya tak mau banyak bergerak karena takut melukai ubur-uburnya. Saya menikmati kencan tanpa bersuara dengan makhluk lembut yang super peka. Jika mereka bisa bicara, mereka ingin bilang apa ya?

Catatan Kecil :

1.     Untuk ke Togean, saya terbang dari Jakarta – Gorontalo dan memilih @wk_travelagency yang mengurusi perjalanan saya ke Togean. Psst, service mereka oke dan tidak mahal kok. Ini kontaknya ya : +62-813-4227-5551. You may contact them to arrange your trip to Togean.

2.     Dari Gorontalo, naik kapal 12 jam (jadwalnya hanya hari Selasa dan Jumat) ke Wakai dan dilanjutkan naik kapal kecil sekitar setengah jam ke Pulau Kadidiri, tepatnya di Kadidiri Paradise Resort.

3.   Tidak ada sinyal di Kadidiri jadi nikmatilah waktu liburan yang benar-benar liburan tanpa ada sinyal ya! Di Wakai ada sinyal namun hanya 2G dan hanya provider Telkomsel yang ada jaringannya di sana.

Cheers,





Friday, September 29, 2017

Pulau Diyonumo, Pulau Cantik Berpenghuni Kucing di Gorontalo

Friday, September 29, 2017 12 Comments

Eh? Masa iya ada pulau kosong yang dihuni kucing?

Ada. Serius ada. Itu mengapa saya ingin berbagi cerita dengan kalian tentang pulau unik yang baru saya sambangi beberapa waktu lalu. Berawal dari ajakan sahabat saya, Yusni, yang memberi racun foto-foto bagus yang ia ambil di pulau itu, saya pun tertarik untuk menyambangi Pulau Diyonumo.

Butuh sekitar 2 jam perjalanan darat dari pusat kota Gorontalo ke Gorontalo Utara tepatnya di Desa Deme. Cuaca mendung di pagi hari sempat membuat kami sedikit kecewa karena tentunya kami ingin membuat dokumentasi dengan langit biru cerah sebagai latar belakangnya. Eh, semakin siang dan dekat dengan tujuan, semesta memberkati kami dan langit kelabu hilang berganti biru seketika. Yeaaaayyy!

Bersama dengan Ari dan Yusni, kami bertiga berencana menghabiskan waktu seharian di Pulau Diyonumo. Kami sudah membawa pakaian renang, alat snorkeling, air bed dan hammock untuk bekal kami bersantai di pantai. Kami bawalah alat-alat itu semua naik ke atas kapal kecil yang akan mengantarkan kami ke pulau.

“Kalau 3 orang kasih 20 ribu saja masing-masing buat pulang pergi”, kata bapak empunya perahu. Ya karena kami datang di hari biasa, jadi kami tidak menjumpai orang lain yang bisa diajak share cost. Ya tapi dua puluh ribu tidaklah mahal dan kami sangat senang karena hari itu Pulau Diyonumo seolah-olah menjadi pulau private untuk kami bertiga saja.

“Nanti di pulau ada warung nggak Pak?” tanya Ari pada bapak perahu.

“Iya ada, jual mie, jual kelapa, jual air ada” jawab si Bapak.

Wah amanlah kalau begitu, pikir kami. Karena berangkat terburu-buru dari Gorontalo karena takut kesiangan, kami tidak membawa banyak cemilan. Kami hanya membawa bekal 1 botol air mineral 1,5 Liter dan 2 bungkus biskuit. Kalau tidak cukup kan bisa beli makan di warung di pantai. Begitu rencananya.

Eh ternyata saat kami tiba, pulaunya kosong dan semua warung tutup. Hahahahaha. Pupuslah sudah angan-angan minum air kelapa di tepi pantai karena tidak ada yang bisa memanjat pohon kelapanya. Itu juga berarti kami harus menghemat perbekalan. Harus hemat minum air, hemat makanan sampai nanti kembali pulang.

Ya sudah. Kami sudah kepalang ada di pulau dan Yusni mengajak kami segera naik ke bukit karena cuaca tidak terlalu panas dan pas untuk menanjak ke atas.

Saat itulah saya mendengar suara anak kucing mengeong-ngeong. Kucing kecil berbulu abu-abu mendatangi saya dan membiarkan saya mengelus-ngelus lehernya. Duh gemasnyaaaaa….

Kucing kecil itu mengikuti saya berjalan menuju ke bukit. Lalu muncul lagi satu kucing hitam dan kucing lucu dengan bulu belang tiga. Wah, ternyata ada banyak kucing di pulau ini. Padahal tak ada sama sekali orang yang menghuni Pulau Diyonumo. Lantas, kucing-kucing ini makan apa atau diberi makan oleh siapa coba?




Hmmmm. Mungkin mereka mendapat makanan dari wisatawan yang datang ke pulau ini saat akhir pekan. Lalu apakah mereka puasa saat hari-hari biasa? Entahlah.

Kucing-kucing di sana terlihat sehat dan sangat gembira bertemu manusia. Saat kami berjalan menanjaki bukit, kucing-kucing ini ikut sambil meloncat-loncat. Di pertengahan jalan, kucing yang paling kecil mulai terlihat kepayahan naik ke gundukan tanah yang cukup tinggi itu. Akhirnya saya taruh di pundak dan dia dengan anteng mencari posisi enak tanpa meronta. Ya enak lah mendaki kalau digendong ya. Saya juga mau. Hahaahha…

Begitu tiba di puncak bukit, matahari bersinar dengan penuh semangat alias panas luar biasa. Tak ada pohon besar untuk bernaung sehingga kami mencari tempat berlindung di bawah bayangan semak-semak yang cukup tinggi. Kucing-kucing juga merasa sangat kepanasan mencari spot adem untuk berlindung. Di manakah spot adem mereka?

Di selangkangan kaki kami. Hahahaha…

Meski kepanasan, kami tak mau menyia-nyiakan langit cerah dan segera membidik pemandangan cantik yang kami lihat dari puncak bukit. Meski peluh terus mengalir di balik pakaian kami, kami lebih terfokus untuk membuat dokumentasi bagus dan minum air sedikit-sedikit agar tak cepat habis. Kami hanya berharap kami bertiga tidak dehidrasi dan tidak terbakar kulitnya (makanya pakai sunblock ya!).

Yusni mengeluarkan drone dan bersiap untuk menerbangkannya. Wah, dengan bukit hijau dan pantai biru serta pohon kelapa di sekitarnya, pemandangan dari atas pasti sangat cantik.



Saat baling-baling drone nya berputar kencang dan bersiap terbang, saya yang sedang asyik mengelus kucing-kucing itu terkejut karena si kucing kecil tiba-tiba mencakar tangan saya. Mungkin dia terkaget dengan bunyi drone dan kibasan angin baling-balingnya dan tangan saya yang jadi korban kekagetannya.

Saya kaget karena cakaran yang dibuat oleh anak kucing itu membuat luka yang cukup dalam di jari saya dan seketika tangan saya berlumuran darah segar yang mengalir cukup deras. Yusni dan Ari panik melihat tangan saya dan bingung harus berbuat apa.

Namun  terluka berdarah sudah menjadi makanan sehari-hari saya yang senang main ke gunung dan laut ini. Saya membasuh luka saya dengan air (dengan meminta ijin dulu pada Yusni dan Ari karena itu artinya jatah air kami berkurang sedikit) lalu meminta tolong Yusni untuk mengambilkan kotak P3K di dalam tas saya. Yusni menyodorkan botol kuning yang saya minta, Betadine Dry Powder Spray.

Saya kocok dulu botolnya lalu menyemprotkan Betadine Dry Powder Spray dari jarak 15 cm. Nyessss… lapisan tipis berwarna oranye langsung menutup luka saya dan rasanya dingin. Jari saya berhenti mengeluarkan darah dan tiada lagi rasa sakit yang terasa. Saya menatap kucing kecil itu yang ketakutan dan bersembunyi di kaki saya.  Ah, mana bisa saya marah pada makhluk kecil itu meski sudah mencakar saya hingga berdarah. Ya namanya juga anak-anak.

Yusni dan Ari sempat heran dan bertanya kenapa saya selalu membawa kotak P3K kemana-mana. Ya, karena kita harus ingat bahwa kecelakaan kecil bisa terjadi di mana saja dan kapan saja kan? Jadi ada baiknya kita berjaga-jaga dengan membawa kotak P3K.

Minimal saat kita terluka, untuk mencegah infeksi, hal pertama yang harus kita lakukan adalah membersihkan luka dengan cairan antiseptik. Saya biasanya membawa Betadine cair versi botol kecil yang warnanya kuning karena simple untuk dibawa traveling. Tapi sekarang saya lebih suka membawa Betadine Dry Powder Spray.




Betadine Dry Powder Spray adalah obat antiseptik praktis yang mengandung Providone-Iodine 2,5% yang bisa membunuh kuman penyebab infeksi tanpa harus menyentuh luka. Pemakaiannya memang praktis karena tinggal disemprot saja. Enaknya lagi, Betadine Dry Powder Spray ini punya cooling effect jadi nggak terasa perih sama sekali ketika disemprotkan ke luka.



Syukurlah ada Betadine yaa jadi insiden cakar kucing itu bisa teratasi dengan baik. Tentu cerita dicakar kucing di Pulau Diyonumo ini akan selalu saya kenang. Pastinya saya juga merindukan kucing-kucing lucu yang jadi penghuni pulau itu. 

Anyway, Betadine mau mengajak kamu jalan-jalan ke Manchester gratis lho! Caranya?

Ikut games “Be Prepared and Play” di microsite ini, lalu mainkan games dengan memilih barang yang benar sesuai dengan tempat tujuan di tiap levelnya. Kumpulkan poin sebanyak-banyaknya dan dua orang dengan poin terbanyak akan memenangkan hadiah utama jalan-jalan ke Manchester, UK! Asyiknya lagi, setiap pemenang bisa mengajak satu orang teman untuk diajak jalan-jalan ke sana. Ya ampun seru banget kan?



Kompetisi ini berlangsung hingga 22 Oktober 2017. Jadi jangan sampai ketinggalan ya! Good luck!

Cheers,






Follow Us @satyawinnie