Wednesday, November 29, 2017

6 Hari Mendaki Gunung Kemiri, Taman Nasional Gunung Leuser Aceh (2)

Wednesday, November 29, 2017 9 Comments

3 hari mendaki gunung Kemiri, ritme langkah kaki sudah semakin enak dan terbiasa dengan tanjakan-tanjakan kepala ketemu lutut serta terowongan lumut. Setiap hari ada saja gelak tawa sepanjang jalur karena ikatan di antara tim kami semakin kuat. Malam hari jadi waktu favorit kami untuk berkumpul di sekitar api unggun, makan malam, minum kopi Gayo, bercerita tentang kehidupan. Menyenangkan bisa mendengarkan banyak cerita dari teman baru di perjalanan kan?

Oke, mari kita lanjutkan catatan perjalanan pendakian Gunung Kemiri.

 

Day 4 - 27 Agustus 2017 (3120 mdpl-3194 mdpl)


Pagi-pagi seperti biasa, saya pergi memenuhi “panggilan alam” dan bernafas lewat mulut karena tim kami hanya punya satu lubang pembuangan yang berupa bilik kecil yang ditutupi plastik hitam. Tujuannya supaya tidak ada yang kena “jackpot” sewaktu melangkah dan tak sengaja menginjaknya. Hahahahaha…

Setelah tenda dirubuhkan, kasur angin dikempeskan, perut diisi dengan pancake dan teh, kami siap mencangklongkan carrier di punggung dan kembali mendaki ke camp 4, camp terakhir sebelum melakukan summit attack keesokan paginya.

Perjalanan dari Camp 3 ke Camp 4 ini jadi rute favoritku saat mendaki Gunung Kemiri. Vegetasinya sudah tidak terlalu lebat karena ketinggiannya sudah hampir 3000 mdpl jadi hampir tidak tampak lagi pepohonan tinggi, hanya pohon-pohon kecil dan saat cuaca cerah, kita bisa melihat pegunungan yang membentang di kawasan Leuser Ekosistem. Jadi kami agak sedikit lambat karena sebentar-sebentar berhenti untuk ambil foto. Tentu kami tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.

Di perjalanan dari Camp 3 ke Camp 4...

Which direction girls? ;)


Kami tiba di Camp 4 tepat pada jam makan siang. Memang tidak terlalu jauh jaraknya dan perencanaan perjalanan seperti itu menurut saya bagus juga karena tim kami bisa beristhirahat lebih lama sebelum melakukan summit attack keesokan paginya. Untuk mengejar sunrise di puncak Gunung Kemiri, kami harus berangkat pukul setengah lima pagi karena kata Bang Zul, mountain guide kami, jarak tempuh dari camp 4 ke puncak hanya setengah jam saja. Hmmmmmm, setengah jam nya warga lokal atau setengah jam nya pendaki santai macam kami ini? Hmmmmm… Mari kita lihat….

Garry looks handsome with his new hair wig aight? xD

Photo by : Sean Kennedy

Sayang sekali ketika kami baru saja merebahkan diri setelah mendirikan tenda, hujan gerimis mulai turun padahal jam masih menunjukkan pukul dua siang. Ah, kurang asyik rasanya hujan turun sesiang itu dan kami harus berlindung masuk ke dalam tenda.

Hingga 3 jam kemudian, hujan malah tambah deras dan rembesan air hujan mulai membasahi tenda kami. Saya dan Angie, tent-mate saya di ekspedisi LPOEC, langsung mencoba mengeringkan langit-langit tenda yang sudah terlalu berat dan basah oleh air. Saat sudah kering, Angie kembali asyik mendengarkan podcast dari ponselnya dan saya membaca buku. Saya langsung merasa gelisah karena memikirkan porter-porter yang pasti kebasahan karena hujan deras dan satu-satunya tempat mereka berlindung adalah terpal plastik bening yang tidak tertutup rapat.

Benar saja. Malam itu, mereka tidak ada yang tertidur karena kedinginan dan kebasahan. Mereka berusaha untuk tetap berdekatan agar hangat dan membuat api unggun tepat di mulut tenda yang mereka jaga agar tidak membakar terpal plastik, tempat bernaung satu-satunya.



Dalam pelukan kabut yang dingin, kami mencoba untuk tidur nyaman malam itu. Saya sendiri membungkus diri dengan seluruh pakaian dan jaket yang saya punya, tak lupa kaos kaki tebal, kupluk dan buff rajut untuk menghangatkan leher dan telinga. Sambil mendengarkan music lewat headset, akhirnya saya bisa tertidur juga.

Day 5 - 28 Agustus 2017 (3194 mdpl - 3314 mdpl - 2188 mdpl)


Ini dia hari yang ditunggu-tunggu setelah 4 hari menyusuri punggungan dan lembahan Gunung Kemiri yang akhirnya mengantarkan kami ke kaki puncaknya. Summit Attack adalah ujian yang cukup sulit saat mendaki gunung karena kita harus bangun pagi-pagi sekali bahkan tengah malam (seperti saat mendaki Gunung Semeru) agar bisa tiba di puncak gunung sebelum matahari terbit.

Suhu udara pagi itu cukup mengagetkan saya karena tidak sedingin yang saya kira. Mungkin karena tidak ada angin yang berhembus jadi dinginnya tidak terlalu menusuk. Tetap saja dingin tapi berbeda dengan ekspektasi saya.

Satu yang kami syukuri adalah hujan sudah berhenti subuh itu. Tak terbayangkan jika harus mendaki ke puncak gunung saat cuaca hujan, matahari belum tampak dan pasti udaranya dingin menusuk. Pagi itu, semesta sangat baik membiarkan kami yang masih mengumpulkan nyawa saat tidur, untuk menapaki sedikit demi sedikit tanjakan menuju puncak.

Saat summit attack, saya selalu berusaha untuk berjalan dengan ritme saya, bernafas perlahan dan tidak terengah-engah meskipun oksigen semakin tipis di ketinggian lebih dari 3000 meter di atas permukaan laut. Berusaha terus untuk melangkah dan tidak terlalu banyak khawatir. Saya berusaha untuk memikirkan banyak hal yang menyenangkan mengiringi langkah kaki dalam gelap.

Setelah tiba di puncak, kami berpelukan satu sama lain, mengucapkan selamat kepada seluruh tim LPOEC dan bersiap menunggu matahari terbit. Saat itu kabut menyelimuti seluruh bentangan alam yang terlihat dari puncak Gunung Kemiri. Warnanya biru, bercampur abu kelabu. Mungkin sisa-sisa dari hujan deras yang mengguyur semalaman.

Kami harus cukup berpuas sampai di situ. Keberuntungan kami hanya segitu. Mentok.

Tak ada sinar matahari pagi hangat menyinari pipi yang dimpi-impikan...

Reach the summit finally...




Ada sedikit perasaan campur aduk di dada saya saat kami tiba di puncak. Ada perasaan puas dan bangga pada tim ini karena berhasil tiba dengan selamat dan tak kekurangan suatu apa pun. Tapi di satu sisi saya sedih karena tidak mendapatkan pemandangan matahari terbit di puncak. Tapi seharusnya saya tidak sedih dan harus senang bahwa hujan berhenti hingga kami bisa menuju dan berdiri di puncak bersama-sama tanpa harus kebasahan. Jadi intinya ya harus bersyukur.

Kami tidak bisa berlama-lama berada di puncak karena kabut tebal menyelimuti seluruh area puncak hingga untuk melihat wajah satu sama lain kami cukup kesusahan. Juga kami harus cepat berjalan turun karena target kami hari itu adalah camp 2 yang jaraknya jauh sekali. Target kami tiba di camp 2 sekitar pukul 4 / 5 sore, jadi kami harus berangkat jam 8 pagi dari camp 4 dengan kecepatan dan kemampuan maksimal. Jadi, tak ada banyak waktu untuk leyeh-leyeh setelah summit attack. Langsung bergegas packing tenda dan segala perlengkapan, makan pagi cepat-cepat, pemanasan dan lalu berjalan turun.

Puncak Gunung Kemiri berkabut sekali...


On our way back to Camp 4

Perjalanan turun dari puncak ke camp 4


Kami melewati lagi jalur yang kami lewati beberapa hari sebelumnya. Mencoba berjalan lebih cepat dari pada saat waktu mendaki.   Sempat terpeleset di atas jalur kerikil dan jalur dahan berlumut tapi syukurnya tangan kanan aman. Fyuh, deg-degan kalau sampai terpeleset dan tangan kanan bermasalah, rumah sakit jauhhhhhhh sekali. Jadi ya tetap harus sangat berhati-hati.

Perjalanan turun berselimut kabut...

Jalurnya licin jadi harus sangat berhati-hati...

Kembali melewati Jurassic Park Kemiri


Menyeberangi lembah-lembah dingin

Bang Zul, our mountain guide leader...

Setelah beristhirahat makan siang di pertengahan camp 3 dan camp 2, kami berjalan dan terus berjalan hingga tiba di camp 2 sekitar pukul 4 sore, sesuai dengan target kami hari itu. Begitu sampai,  kami langsung rebahan di tanah dan mengusap-usap lutut yang sedikit gemetar. Ya memang perjalanan turun itu kadang lebih menyiksa dibandingkan saat mendaki dan lutut kita pasti akan sangat terbebani saat berjalan turun.

Angie sampai harus pengaman lutut saat perjalanan turun...

Tim porter membongkar logistik yang mereka sempat timbun  di dalam tanah di hari kedua, dikubur di bawah pohon. Tentu alasannya agar beban yang dibawa ke puncak tidak terlalu berat. Jadi logistik untuk hari ke-lima dan ke-enam ditimbun di camp 2 untuk diambil saat perjalanan turun.

Saya rindu indomie yang dimasak dengan kayu bakar...

Hujan mengguyur malam itu saat kami sudah bergulung di dalam sleeping bag. Sudah tidak sedingin saat tidur di camp 3 dan camp 4 namun saya tetap kepikiran nasib porter yang tidur beratapkan terpal plastik. Semoga mereka baik-baik saja dan bisa tidur dengan nyaman bermodalkan sarung yang dikeringkan di atas api unggun karena malam sebelumnya basah total.

Mengeringkan sarung dulu sebelum tidur setelah hujan semalaman...

Kayaknya tidur di bawah terpal plastik ini enak juga tapi dinginnnnnn...



Day 6 - 29 Agustus 2017 (2188 mdpl - 696 mdpl)


Keesokannya saya bangun dengan badan segar namun dengan sedikit perasaan sedih karena hari itu adalah hari pendakian terakhir kami di Gunung Kemiri. Tentu senang karena semuanya bisa tiba di puncak bersama-sama dan sebentar lagi kami akan turun bersama-sama pula. Tapi kami tidak mau pandang enteng di hari terakhir. Semuanya tetap berjalan turun hati-hati agar tak ada yang cedera sampai kami tiba di kampung.

Last packing before heading back down...
Perjalanan turun di hari terakhir itu tak akan bisa saya lupakan karena Moge (porter kesayangan saya dan juga yang paling muda) bernyanyi dengan bahasa Gayo sepanjang jalur. Bahkan dia menciptakan lagu untuk saya. Manis sekali kan? Si anak Gayo tampan itu tak lagi melanjutkan pendidikan setamat dari SMA padahal dia Ketua Osis dahulunya. Anak yang berbakat dan punya talenta bernyanyi yang sangat luar biasa.

Moge, porter kesayanganku...
Moge dan Ibu tercinta yang kami jumpai di ladang pintu hutan Gunung Kemiri. Bu, parang nya Bu. Hahahahaha xD


“Kak Satya nanti Oktober atau November, albumku keluar. Kaka dengar ya nanti ya” ujarnya pada saya di jalur.

“Ah, jadi itu alasanmu nggak mau lanjut kuliah? Karena mau fokus di karir bernyanyi mu?” tanya saya.

“Iya Kak, kalau bisa cari uang langsung dan bantu orang tua. Saya lebih memilih itu ketimbang kuliah” jawabnya.

Ya, tak ada salahnya Moge berpikiran seperti itu namun tetap saja saya mengatakan kepadanya jika kelak dia sudah mengumpulkan banyak uang dari albumnya, tetaplah ingat untuk lanjut ke universitas.

Sambil mengangguk, Moge berjalan terus dan Moge kembali bernyanyi. 

Tibalah kami di camp 1 yang berarti hanya butuh 2 jam lagi ke entry / exit point, desa Gumpang. Meski lelah karena perjalanan turun, tim porter justru bersemangat bernyanyi dalam bahasa Gayo dan tentu saja menari Saman, tarian Aceh yang tersohor itu.

Tarian Saman asli oleh orang Gayo...

Dulu, tarian Saman itu memang hanya dibawakan oleh para lelaki. Coba deh baca sejarah tari Saman di blog teman kesayangan saya dari Aceh, Bang Yudi Randa di artikel ini.

HIngga pada akhirnya kami tiba di Desa Gumpang sekitar pukul 12 siang. Perut keroncongan sudah protes minta diisi. Awalnya kami berpikir hanya akan pergi ke warung kelontong dan makan mie instan. Namun ternyata kami mendapat kejutan di mana penduduk desa Gumpang sudah menyiapkan sajian lezat. Ada gulai ikan dan gulai ayam yang tentu kami santap dengan sangat lahap untuk makan siang. Duh, rasa nikmatnya nggak ketulungan dan tak terdeskripsikan.

My best tent-mate, my Jawa-Amerika girl, Angie <3

Setelah santap siang lezat, suasana haru pun terasa saat kami berpamitan dengan tim porter yang menemani kami selama 6 hari ke belakang dan juga penduduk Desa Gumpang. 

Terima kasih yang tak terhingga untuk semuanya…

Thank you all guide and porter, will miss you a lot... ( Photo : Sean Kennedy)


Bang Supri, my favorite guide on the expedition!


The complete Love Leuser Team! Photo by : Sean Kennedy

Ekspedisi bertajuk "Last Place On Earth Challenge" ini diselenggarakan oleh Orangutan Odysseys dan menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya. Berminat ikut? Bisa langsung kontak mereka ya!


Cheers,






Wednesday, November 22, 2017

6 Hari Mendaki Gunung Kemiri, Taman Nasional Gunung Leuser Aceh (1)

Wednesday, November 22, 2017 3 Comments


“Bisa Sat, kamu pasti bisa Sat” batin saya pada diri sendiri lalu beranjak keluar dari mobil elf yang membawa kami dari Ketambe ke Desa Gumpang di Gayo Lues. Dari Gumpang, kami akan mendaki Gunung Kemiri yang sekiranya memakan waktu 6 hari pendakian naik dan turun. Saya atur nafas, hirup, hembuskan, inhale, exhale....

Begitu keluar mobil elf, di kejauhan tampak pegunungan hijau menjulang tinggi dan panjang, diselimuti awan putih tipis-tipis. Langit biru tampak riang menyambut kedatangan kami. Ah, semesta tampaknya memberkati ekspedisi ini. Semoga begitu terus ya cuacanya hingga pendakian selesai.

Penduduk Desa Gumpang yang sangat senang melihat orang asing datang mampir ke desa mereka. 


“Puncaknya tidak kelihatan dari sini karena masih jauh sekali di sana” tiba-tiba Bang Zul menepuk pundak saya. Mungkin karena dia melihat saya menatap pegunungan itu untuk cukup lama dan membaca pikiran saya yang menerka-nerka yang manakah puncak Gunung Kemiri itu.

Saya tidak bisa menyembunyikan kegugupan dan mondar-mandir mengecek apakah carrier saya isinya sudah lengkap seperti dalam equipment list, apakah sepatu saya aman tidak ada yang jebol, apakah saya sudah siap mental untuk mendaki selama 6 hari.

Mungkin kalian akan mengerti mengapa saya merasa gugup. Pertengahan tahun 2016 silam saya mengalami kecelakaan yang cukup parah, lengan kanan saya patah dan harus dipasang pen platina dengan delapan baut. Dokter sudah menyarankan saya untuk mengurangi kegiatan outdoor sementara waktu sampai pen dilepas. Saya tidak boleh membebani tangan kanan saya dengan benda berat, tidak boleh terjatuh dengan tangan kanan menjadi tumpuan karena akan sangat berbahaya untuk luka saya.

“Kamu gila ya Sat?” adalah kalimat yang terlontar dari orang-orang terdekat saya. Saya tahu mereka khawatir jika terjadi sesuatu pada saya saat mendaki, tetapi ajakan mendaki Gunung Kemiri tidak bisa saya tolak. Saya merasa tertantang dan ingin melakukannya karena pendakian ini juga termasuk dalam misi konservasi untuk mengenalkan Leuser Ecosystem dan kekayaannya untuk teman-teman semua.

Saya memang sudah melakukan persiapan latihan fisik semampu saya. Dua bulan sebelum pendakian, saya mencoba untuk kembali rutin berlari. Ingatlah bahwa mendaki gunung bukan cuma perkara mencapai puncak, tetapi juga persiapan yang baik secara fisik dan mental. Meski sudah sering naik gunung, setiap akan mendaki gunung yang belum pernah saya daki, pasti ada rasa deg-degan. Alam tak bisa kita sepelekan, semua harus dipersiapkan matang, segala kemungkinan harus dikalkulasi, karena di apa pun bisa terjadi. Itulah mengapa team briefing sebelum pendakian sangat penting.

Malam sebelumnya, Bang Zul, mountain guide leader kami dari Ketambe dan Garry Sundin, ketua tim ekspedisi Last Place On Earth Challenge, sudah memberikan briefing tentang Gunung Kemiri. Gambaran jalurnya, rencana pendakian, persiapan logistik dan porter, serta aturan-aturan yang harus kami turuti selama mendaki Gunung Kemiri.

Jumlah grup kami ada 9 orang, Garry, Brendan, Adam, Sean, Mil, Sheriden, Angie, Irham dan saya. Selain itu ada 13 orang guide dan porter yang menemani kami sehingga total kelompok kami ada 22 orang sebenarnya. Namun Adam tidak bisa ikut naik ke Gunung Kemiri karena masalah di lututnya, jadilah tim yang mendaki Gunung Kemiri hanya 21 orang. Adam tetap tinggal di Ketambe untuk beristhirahat. Butuh banyak porter karena logistik pendakian 6 hari  yang dibawa sangatlah banyak. Tim Last Place On Earth Challenge (kami ber-9) hanya akan membawa carrier yang berisi perlengkapan pribadi kami ; baju pendakian, sandal, jaket, kamera, body care, headlamp dan snack pribadi. Di hari pertama beban carrier saya sekitar 15 kilogram karena saya juga membawa 4 botol air ukuran 1,5 liter di samping peralatan pribadi saya.

Tim Guide & Porter tersayang...


Day 1 – 24 Agustus 2017 (696 mdpl - 1212 mdpl)


Setelah semua porter sudah siap mengepak semua logistik dalam karung yang mereka ikat dan gendong pakai sarung (keren betul ya?), Bang Zul mengumpulkan kami untuk briefing terakhir sebelum pendakian dan tentu tidak lupa untuk berdoa.

Kami mulai berjalan pelan-pelan, tepat pukul 08.57 WIB. Menyusuri jalanan desa, jembatan kuning, melintasi kebun cokelat hingga tiba di pintu hutan. Kami menyapa beberapa penduduk kampung yang sedang bekerja di ladang mereka. Pukul 11.33 kami memutuskan untuk berhenti dan menyiapkan makan siang dan beristhirahat. Di hari pertama, badan kami masih dalam proses penyesuaian dengan beban bawaan. Saya mencoba mengatur nafas dan menghilangkan kegugupan saya. Ingat, kaki harus terus berjalan.


Puncak Gunung Kemiri-nya masih jauhhhhhhh di sana...

Selepas makan siang, kami hanya berjalan 1,5 jam dan tiba di camp 1 kami. Rasanya terlalu singkat tetapi kata Bang Zul ada baiknya kami mendapatkan banyak isthirahat di hari pertama agar esok lebih mantap untuk mendaki karena di hari kedua hingga camp terakhir, jalannya menanjak terus tanpa ampun, tanpa bonus.

Para porter langsung mendirikan lima tenda kuning dan terpal dengan plastik bening sebagai tempat beristhirahat mereka. Dari karung-karung yang mereka panggul, semua bahan makanan untuk makan malam dikeluarkan. Menu kami hari itu cukup mewah karena mereka baru menangkap bebek di Gumpang dan membuat sop bebek sebagai lauk makan malam. Tidak ada kompor gas hingga mereka mengumpulkan ranting-ranting kering untuk dijadikan api untuk memasak.




Sambil menyulut rokok, para porter memasak dan bersenda gurau dalam bahasa Gayo. Saya tidak mengerti bahasa Gayo yang mereka pakai jadi saya hanya menikmati raut-raut wajah mereka yang terkekeh satu sama lain.

Day 2 – 25 Agustus 2017 (1212 mdpl - 2188 mdpl)


Kami dibangunkan pukul 6 pagi, bersiap-siap untuk melakukan pendakian hari kedua dan beranjak dari camp 1 pukul 8 pagi tenggo. Di hari kedua ini yang paling berat menurut saya karena jalurnya memang menanjak terus. Saya mengobrol dengan Bang Burhan untuk mengalihkan pikiran dari rasa capek hingga tak terasa waktu sudah tengah hari dan kami siap-siap untuk makan siang. Tiba di camp 2 sekitar pukul 4 sore, semuanya langsung melakukan tugas masing-masing seperti hari pertama. Meski kami punya porter yang melayani kami, jika ada yang bisa kami bantu, kami tentu membantu, seperti mendirikan tenda, mengumpulkan ranting kering, memompa kasur angin dan mengupas bahan masakan. Apa saja yang penting bergerak agar badan tetap hangat dan tidak terserang hipotermia.


We are team! Saling bantu membantu dengan tim support kita karena porter bukan pembantu, mereka tim kita...


Harus diingat bahwa pada saat pertama tiba di camp, kita harus bergerak terus atau langsung mengganti baju jalan yang basah dengan baju kering baru membantu. Kenapa begitu? Agar tidak terkena hipotermia. Apa itu hipotermia? Bisa kamu baca di sini ya, lengkap dengan pencegahannya.

Angie and her always happy face!

Bang Sam yang dengan bangga berpose dengan banner Last Place On Earth Challenge

Day 3 – 26 Agustus 2017 (2188 mdpl - 3120 mdpl)


Di hari ketiga kami bergerak lagi dan terus menanjak. Namun di jalur hari ketiga ini, kami melintasi hutan lumut yang cantik sekali. Langsung tak tertahankan keinginan untuk ‘gegulingan’, ‘gegoleran’, di atas karpet lumut yang empuk. Rasanya? Enakkkkkkkkkk banget! Kebetulan pas dengan waktu kami harus beristhirahat untuk minum dan makan cemilan sejenak, jadi saya berpuas-puas foto di hutan lumut yang cantik itu.

Brendan in the middle of the most...

Photo by : Sean Kennedy

Kami terus berjalan hingga tiba di titik area makan siang. Langit cukup terik dan tidak ada pepohonan besar untuk berteduh. Kami akhirnya ‘nyumput’ di semak-semak kecil untuk berlindung dari panas dan minum air agar tak dehidrasi. Selesai santap makan siang, kami kembali berjalan, turun menyusuri lembah dan pindah punggungan. Lembahnya begitu lembab dan dialiri sungai kecil. Entah kenapa lembah itu mengingatkan saya pada Jurassic Park. Jadilah saya meneamai spot itu Jurrasic Park Kemiri. Di sini juga kami menemukan tanaman yang aneh yang mungkin kalian familiar dengan bentuknya.






Hmmmm, kira-kira mirip apa ya?

Kami tiba di camp 3 sudah menjelang pukul 5 sore. Udara dingin sudah cukup menusuk hingga saya memilih untuk berganti pakaian dulu sebelum membantu tim porter menyiapkan segala persiapan untuk isthirahat dan makan malam. Setelah berbalut 3 lapis pakaian dan windbreaker pink-biru serta sarung Bima warna merah kesayangan, kami membangun camp, dan membuat api unggun yang besar lalu berkumpul bersama sambil minum kopi dan menunggu makan malam dihidangkan. Tentu kopi Gayo menjadi teman yang sangat pas di kala udara dingin menusuk dan tak ada yang bisa dipeluk. Kami bersenda gurau sepuas-puasnya, makan malam dan belum juga pukul 8 malam semua sudah jatuh tertidur. Hari ke-3 ini memang sangat melelahkan menyusuri punggungan dan lembahan hingga tak ayal semuanya mengantuk begitu cepat.


Photo by : Sean Kennedy





Photo by : Sean Kennedy
When Brendan hijacked my camera xD


Untuk cerita pendakian hari ke 4 hingga ke 6, saya tulis di blogpost berikutnya ya

Ekspedisi bertajuk "Last Place On Earth Challenge" ini diselenggarakan oleh Orangutan Odysseys dan menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya. Berminat ikut? Bisa langsung kontak mereka ya!


Cheers,







Follow Us @satyawinnie