Wednesday, November 22, 2017

6 Hari Mendaki Gunung Kemiri, Taman Nasional Gunung Leuser Aceh (1)

Wednesday, November 22, 2017 0 Comments


“Bisa Sat, kamu pasti bisa Sat” batin saya pada diri sendiri lalu beranjak keluar dari mobil elf yang membawa kami dari Ketambe ke Desa Gumpang di Gayo Lues. Dari Gumpang, kami akan mendaki Gunung Kemiri yang sekiranya memakan waktu 6 hari pendakian naik dan turun.

Begitu keluar mobil, di kejauhan tampak pegunungan hijau menjulang tinggi dan panjang, diselimuti awan putih tipis-tipis. Langit biru tampak riang menyambut kedatangan kami.



“Puncaknya tidak kelihatan dari sini karena masih jauh sekali di sana” tiba-tiba Bang Zul menepuk pundak saya. Mungkin karena dia melihat saya menatap pegunungan itu untuk cukup lama dan membaca pikiran saya yang menerka-nerka yang manakah puncak Gunung Kemiri itu.

Saya tidak bisa menyembunyikan kegugupan dan mondar-mandir mengecek apakah carrier saya isinya sudah lengkap seperti dalam list, apakah sepatu saya aman tidak ada yang jebol, apakah saya sudah siap mental untuk mendaki selama 6 hari.

Mungkin kalian akan mengerti mengapa saya merasa gugup. Pertengahan tahun 2016 silam saya mengalami kecelakaan yang cukup parah, lengan kanan saya patah dan harus dipasang pen platina dengan delapan baut. Dokter sudah menyarankan saya untuk mengurangi kegiatan outdoor sementara waktu sampai pen dilepas. Saya tidak boleh membebani tangan kanan saya dengan benda berat, tidak boleh terjatuh dengan tangan kanan menjadi tumpuan karena akan sangat berbahaya.

“Kamu gila ya Sat?” terlontar dari orang-orang terdekat saya. Saya tahu mereka khawatir jika terjadi sesuatu pada saya saat mendaki, tetapi ajakan mendaki Gunung Kemiri tidak bisa saya tolak. Saya merasa tertantang dan ingin melakukannya karena pendakian ini juga termasuk dalam misi konservasi.

Saya memang sudah latihan fisik semampu saya, dua bulan sebelum pendakian, saya mencoba untuk kembali rutin berlari. Mendaki gunung bukan cuma perkara mencapai puncak, tetapi juga persiapan yang baik secara fisik dan mental. Meski sudah sering naik gunung, setiap akan mendaki gunung yang belum pernah saya daki, pasti deg-degan. Alam tak bisa kita sepelekan, semua harus dipersiapkan matang, segala kemungkinan harus dikalkulasi, karena di apa pun bisa terjadi. Itulah mengapa brief sebelum pendakian sangat penting.

Malam sebelumnya, Bang Zul, mountain guide leader dari Ketambe dan Garry Sundin, ketua tim ekspedisi Last Place On Earth Challenge, sudah memberikan briefing tentang Gunung Kemiri. Gambaran jalurnya, rencana pendakian, persiapan logistik dan porter, serta aturan-aturan yang harus kami turuti selama mendaki Gunung Kemiri.

Jumlah grup kami ada 9 orang, Garry, Brendan, Adam, Sean, Mil, Sheriden, Angie, Irham dan saya. Selain itu ada 13 orang guide dan porter yang menemani kami sehingga total kelompok kami ada 22 orang sebenarnya. Namun Adam tidak bisa ikut naik ke Gunung Kemiri karena masalah di lututnya, jadilah kami hanya 21 orang. Adam tetap tinggal di Ketambe untuk beristhirahat. Butuh banyak porter karena logistik yang dibawa sangatlah banyak. Tim Last Place On Earth Challenge (kami ber-9) hanya akan membawa carrier yang berisi perlengkapan pribadi kami ; baju pendakian, sandal, jaket, kamera, body care, headlamp dan snack pribadi. Di hari pertama beban carrier saya sekitar 15 kilogram karena saya juga membawa 4 botol air ukuran 1,5 liter di samping peralatan pribadi saya.



Day 1 – 24 Agustus 2017


Setelah semua porter sudah siap mengepak semua logistik dalam karung yang mereka ikat dan gendong pakai sarung (keren betul ya?), Bang Zul mengumpulkan kami untuk briefing terakhir sebelum pendakian dan tentu tidak lupa berdoa.

Kami mulai berjalan pelan-pelan, tepat pukul 08.57 WIB. Menyusuri jalanan desa, jembatan kuning, melintasi kebun cokelat hingga tiba di pintu hutan. Kami menyapa beberapa penduduk kampung yang sedang bekerja di ladang mereka. Pukul 11.33 kami memutuskan untuk berhenti dan menyiapkan makan siang dan beristhirahat. Di hari pertama, badan kami masih dalam proses penyesuaian dengan beban bawaan. Saya mencoba mengatur nafas dan menghilangkan kegugupan saya. Ingat, kaki harus terus berjalan.



Selepas makan siang, kami hanya berjalan 1,5 jam dan tiba di camp 1 kami. Rasanya terlalu singkat tetapi kata Bang Zul ada baiknya kami mendapatkan banyak isthirahat di hari pertama agar esok lebih mantap untuk mendaki karena di hari kedua hingga camp terakhir, jalannya menanjak terus tanpa ampun, tanpa bonus.

Para porter langsung mendirikan lima tenda kuning dan terpal dengan plastik bening sebagai tempat beristhirahat mereka. Dari karung-karung yang mereka panggul, semua bahan makanan untuk makan malam dikeluarkan. Menu kami hari itu cukup mewah karena mereka baru menangkap bebek di Gumpang dan membuat sop bebek sebagai lauk makan malam. Tidak ada kompor gas hingga mereka mengumpulkan ranting-ranting kering untuk dijadikan api untuk memasak.




Sambil menyulut rokok, para porter memasak dan bersenda gurau dalam bahasa Gayo. Saya tidak mengerti bahasa Gayo yang mereka pakai jadi saya hanya menikmati raut-raut wajah mereka yang terkekeh satu sama lain.

Day 2 – 25 Agustus 2017


Kami dibangunkan pukul 6 pagi, bersiap-siap untuk melakukan pendakian hari kedua dan beranjak dari camp 1 pukul 8. Di hari kedua ini yang paling berat menurut saya karena jalurnya memang menanjak terus. Saya mengobrol dengan Bang Burhan untuk mengalihkan pikiran dari rasa capek hingga tak terasa waktu sudah tengah hari dan kami siap-siap untuk makan siang. Tiba di camp 2 sekitar pukul 4 sore, semuanya langsung melakukan tugas masing-masing seperti hari pertama. Meski kami punya porter yang melayani kami, jika ada yang bisa kami bantu, kami tentu membantu, seperti mendirikan tenda, mengumpulkan ranting kering, memompa kasur angin dan mengupas bahan masakan. Apa saja yang penting bergerak agar badan tetap hangat dan tidak terserang hipotermia.



Harus diingat bahwa pada saat pertama tiba di camp, kita harus bergerak terus atau langsung mengganti baju jalan yang basah dengan baju kering baru membantu. Kenapa begitu? Agar tidak terkena hipotermia. Apa itu hipotermia? Bisa kamu baca di sini ya, lengkap dengan pencegahannya.



Day 3 – 26 Agustus 2017


Di hari ketiga kami bergerak lagi dan terus menanjak. Namun di jalur hari ketiga ini, kami melintasi hutan lumut yang cantik sekali. Langsung tak tertahankan keinginan untuk ‘gegulingan’, ‘gegoleran’, di atas karpet lumut yang empuk. Rasanya? Enakkkkkkkkkk banget! Kebetulan pas dengan waktu kami harus beristhirahat untuk minum dan makan cemilan sejenak, jadi saya berpuas-puas foto di hutan lumut yang cantik itu.



Kami terus berjalan hingga tiba di titik area makan siang. Langit cukup terik dan tidak ada pepohonan besar untuk berteduh. Kami akhirnya ‘nyumput’ di semak-semak kecil untuk berlindung dari panas dan minum air agar tak dehidrasi. Selesai santap makan siang, kami kembali berjalan, turun menyusuri lembah dan pindah punggungan. Lembahnya begitu lembab dan dialiri sungai kecil. Entah kenapa lembah itu mengingatkan saya pada Jurassic Park. Jadilah saya meneamai spot itu Jurrasic Park. Di sini juga kami menemukan tanaman yang aneh yang mungkin kalian familiar dengan bentuknya.







Kami tiba di camp 3 sudah menjelang pukul 5 sore. Udara dingin sudah cukup menusuk hingga saya memilih untuk berganti pakaian dulu sebelum membantu tim porter menyiapkan segala persiapan untuk isthirahat dan makan malam. Setelah berbalut 3 lapis pakaian dan windbreaker pink serta sarung Bima warna merah kesayangan, kami membangun camp, dan membuat api unggun yang besar lalu berkumpul bersama sambil minum kopi dan menunggu makan malam dihidangkan. Tentu kopi Gayo menjadi teman yang sangat pas di kala udara dingin menusuk dan taka da yang bisa dipeluk. Kami bersenda gurau sepuas-puasnya, makan malam dan belum juga pukul 8 malam semua sudah jatuh tertidur. Hari ke-3 ini memang sangat melelahkan menyusuri punggungan dan lembahan hingga tak ayal semuanya mengantuk begitu cepat.





Untuk cerita pendakian hari ke 4 hingga ke 6, saya tulis di blogpost berikutnya ya…

Cheers,







Tuesday, November 21, 2017

Terbang Murah ke Australia Pakai Scoot Airline Boeing 787-9 Dreamliner - FlyScoot

Tuesday, November 21, 2017 2 Comments


Mungkin belum banyak yang tahu atau pernah mendengar nama Scoot Airline yang terhitung tanggal 25 Juli 2017 kemarin merger dengan Tiger Air, melayani penerbangan ke 59 destinasi di Asia-Australia dan baru-baru ini membuka rute ke Yunani. Kali ini saya mau berbagi pengalaman tentang terbang bersama maskapai ini dari Singapore ke Sydney, Australia.

Saya terbang naik Tiger Air dari Jakarta, transit sekitar 8 jam di Changi Airport lalu meanjutkan penerbangan ke Sydney. Beruntungnya saya waktu itu dapat pesawat teranyar Boeing 787-9 Dreamliner untuk penerbangan saya ke Sydney. Pesawatnya besar sekali dan terbagi dua kelas, kelas bisnis dan kelas ekonomi dan terdiri dari 3 baris kursi. Kursi berwarna ungu untuk kelas ekonomi dan hitam untuk kelas bisnis.




Dibandingkan pesawat Boeing lainnya, Boeing 787-9 Dreamliner ini memang didesain untuk membuat penerbangan jauh terasa lebih nyaman. Pesawat ini dirancang memakai mesin Rolls-Royce Trent 1000 dengan suara mesin pesawat yang halus, tidak bising sama sekali. Kursinya ergonomis dan ruang kakinya cukup lapang, kelembapan dalam cabin diatur sedemikian rupa agar lebih lembab dan temperaturnya dingin tanpa bikin kulit kita jadi kering.



Satu yang bikin saya sedikit terperangah adalah tombol di bawah jendela, yang berfungsi untuk meredupkan cahaya jika cahaya matahari terlalu silau. Jadi jangan bingung ketika naik Scoot Airline kok jendelanya tidak ada penutupnya. Saya sempat norak memencet tombolnya berkali-kali dan jendelanya terang-redup-terang-redup-terang-redup. Yang pasti saya senang karena masih bisa melihat awan-awan cantik di langit tanpa harus menyipitkan mata karena silau. Lampu kabinnya pun menyesuaikan dengan waktu terbang pagi, siang, sore dan malam. Juga saat pesawat parkir untuk menurunkan dan menaikkan penumpang, lampu kabinnya menyala berwarna-warni cantik sekali.



Colourful cabin of Scoot in the night. ( Image Source )

 
Scoot Airline ini adalah low-cost carrier sehingga harga tiketnya memang sangat ekonomis, hemat. Namun ada empat pilihan yang bisa kita pilih yakni “Fly”, terbang tanpa bagasi dan hanya diperbolehkan membawa tas ukuran sedang dengan berat maksimal 7 kilogram. Lalu ada “FlyBag”, terbang dengan bagasi maksimal 20 kg dan cabin 7 kg. Untuk perjalanan jauh bisa pilih “FlyBagEat”, terbang dengan bagasi 20kg, cabin 7 kg dan dapat makanan. Yang terakhir ada “ScootBiz”, di mana kita bisa terbang dengan bagasi 30kg, cabin 15 kg, dapat makanan dan juga menikmati layanan inflight entertainment.

Untuk kelas ekonomi, jika ingin menggunakan layanan inflight entertainment seperti ScooTV dan wifi ada biaya tambahannya. Untuk wifi, kita bisa membelinya dengan harga Rp 70.000 untuk 20MB, Rp 140.000 untuk 50MB, Rp 220.000 untuk 100MB, Rp 410.000 untuk 200MB dan Rp 820.000 untuk 500MB. Hmmm, harga tiket pesawatnya murah sih tapi layanan wi-fi nya mahal sekali ya. Kayaknya baru nonton beberapa Instagram stories langsung habis deh itu 500MB, melayang deh Rp 820.000,-. Hahahaha…

Penerbangan dari Singapore ke Sydney memakan waktu 7 jam 40 menit. Dikarenakan saya berangkat tengah malam dari Singapore, jadi saya merasa tidak perlu keluarkan uang tambahan untuk beli layanan ScooTV atau wifi karena tentu saya memilih untuk….tidur. Saya hanya terbangun ketika pramugari mengantarkan makanan ke meja saya.

Karena penerbangan malam dan cukup lama waktu tempuhnya, saya sudah menyiapkan pillow-neck, kaos kaki tebal, sweater, kupluk dan buff untuk menjaga badan nyaman dan hangat karena tidak ada bantal dan selimut yang disediakan. Penumpang juga bisa membeli “Snooze Kit” dari Scoot dengan harga Rp 180.000,- sudah termasuk selimut hangat, pillow-neck dan eye mask, jika dibutuhkan.



Kita boleh memesan posisi seat kita sendiri dengan biaya tambahan yang besar biayanya tergantung destinasinya. Seat nya terbagi 3 bagian yakni, standard seats, super seats, stretch seats tdengan leg-room yang lebih luas. Masing-masing pilihan memiliki biaya tambahannya sendiri-sendiri dan bisa dilihat langsung saat proses booking ticket. Tentu saya selalu memilih untuk duduk di window-seat. Kalau kamu lebih senang duduk di tepi jendela atau di aisle?



Untuk inflight meals, saya kasih jempol karena rasanya enak. Saya pesan Nasi Lemak Honey Chix dengan Jasmine Tea, dikasih bonus chocolate bar Cadburry. Nasi Lemak nya benar-benar lamak (enak!) dan disajikan panas. Harga makanannya jika dipesan saat booking harganya Rp 170.000,- dan kalau tidak salah pesan on board di Scoot Café itu sekitar $21. Jadi lebih hemat jika memesan sebelum terbang.



Ada lagi yang menarik dari system booking Scoot Airline yakni Flight Flexibility di mana kita bisa mengubah tanggal keberangkatan dan juga mengubah nama, maksimal 4 jam sebelum keberangkatan. Tentu saja ada biaya tambahannya sebesar Rp 550.000,- per penumpang. Namun kalau tanggal keberangkatanmu sudah fix dan penulisan nama tidak salah, tidak perlu membeli fitur layanan ini.

Jam 11.10 waktu Sydney, saya mendarat dengan selamat dan sudah tidak sabar untuk mengeksplor Australia, yippie!



So, want to escape from the ordinary? Fly Scoot! Terbang dari Jakarta - Sydney kisaran harganya mulai dari 1,9 juta sampai 3 juta-an. Lumayan hemat kan? Booking langsung saja di www.flyscoot.com ya ;)



Cheers,




Sunday, October 22, 2017

Staycation Kejutan Untuk Mama di Grand Mercure Maha Cipta Medan Angkasa Medan

Sunday, October 22, 2017 4 Comments


Saya menunggu di lobby Hotel Grand Mercure Maha Cipta Medan Angkasa dengan hati deg-degan. Apakah rencana saya untuk memberikan kejutan untuk Mama (Momong) berhasil atau tidak.

Awalnya saya bilang ke Mama kalau saya berhalangan untuk hadir di wisuda adik perempuan saya karena saya masih di Gorontalo saat itu. Namun saat last minute, saya berubah pikiran dan terbang ke Medan. Terbang subuh dari Gorontalo dan tiba hampir maghrib di Medan karena penerbangannya transit dulu di Jakarta. Saya tiba H-1 acara wisuda adik ketiga saya, Nonong.

Saya menyusun rencana dengan adik kedua, Cocong untuk memberikan kejutan untuk Momong. Saya memintanya untuk mengajak Momong ke hotel begitu tiba dari Sibolga. Saya agak was-was karena perjalanan darat yang cukup jauh (10-12 jam) dari Sibolga ke Medan akan membuat Momong ‘merepet’ harus pergi ke hotel tempat saya menunggu.

Syukurlah kejutan saya berhasil. Momong terkejut melihat saya ada di lobby hotel Grand Mercure Medan. Tentu saja Momong langsung saya peluk peluk dan menghujaninya dengan ciuman. Rindu, serindu-rindunya…

Saya ajak sekeluarga untuk menginap di Grand Mercure Angkasa Medan karena saya lihat beberapa review bahwa kamar di hotel ini besar-besar. Ya, hotel yang terdiri dari 266 kamar ini memang pas buat mengajak sekeluarga berlibur karena kamarnya luas dan dilengkapi dengan kamar mandi cukup luas juga.





Selian itu saya sangat senang dengan ambience hotel ini mulai dari lobby, kamar dan fasilitas lain. Lobby nya luas dengan langit-langit tinggi menambah kesan elegan hotel ini. Front Office Officer nya juga sangat ramah dan helpful. Mereka melayani setiap tamu dengan lihai dan cepat, sambil tamu meneguk welcome drink yang juga menjadi minuman favorit saya, jus markisa. Duhhhhhhhh enak kali!





Sajian Lezat Kuliner Lokal


Saya menginap 4 hari 3 malam di Grand Mercure Angkasa Medan dan waktu favorit saya adalah saat makan pagi. Saya senang bangun lebih pagi hanya untuk menyantap semua sajian makanan yang tersedia di buffet restaurant hotel. Yang bikin saya jatuh cinta adalah sajian lezat kuliner khas Medan seperti lontong sayur Medan, soto, teri sambal, gulai, martabak telor, roti jala, hingga kue-kue tradisional seperti kue lapis dan kue lupis pakai gula merah. Ada nasi goreng, mie goreng dan sajian khas Indonesia lainnya.






Tapi tak hanya sajian lokal saja kok, sajian khas western food juga tersedia di sini. Ada salad bar, sushi, fruit bar, cereal bar, bread and jams, fish porridge, chicken porridge dan masih banyak lagi. Bisa order omelette dan sunny side up juga di open kitchen. Dengan penuh senyum, chef-chef di open kitchen melayani setiap order dari tamu.







Makin lengkap lagi dengan adanya jus buah segar, susu, dan jamu! Aduh saya sampai bolak-balik minum jamu saking enaknya. Selama 3 hari saya tidak bosan berlama-lama di restaurant karena menu yang disajikan berbeda setiap harinya dan selalu bertemankan jamu yang enak!

Tak hanya saya, Momong dan Bapak juga ketagihan makanan yang disajikan di Grand Mercure Angkasa Medan. Semuanya dicobain, disantap tanpa ragu. Bapak yang jarang sekali mencicipi western food sempat terkaget dengan banyaknya makanan khas barat dan saya tergeli-geli sendiri melihat ekspresi Bapak saat menyantap makanan yang ada di piringnya.

Suasana restaurant-nya juga bikin betah karena dilengkapi dengan sofa empuk warna-warni dan juga lighting lamp yang menambah kesan hangat sekaligus mewah di dalam restaurantnya. Saya juga baru tahu bahwa untuk beberapa dessert seperti cakes dan fresh fruits, harus berada di bawah lampu yang temaram, tidak boleh terlalu terang agar kualitasnya tetap terjaga dan tidak kering karena panas yang diakibatkan paparan lampu.



Selain kamar yang luas dan sajian makanan yang enak, Grand Mercure Angkasa Medan ini juga asyik menjadi pilihan keluarga karena ada kolam renang yang pas untuk seru-seruan bersama keluarga. Ada kids pool nya juga jadi buat yang membawa anak bayi atau balita tetap bisa mengajak mereka bermain air. 

Fasilitas lain seperti gym, 7 ruang meeting dan ballroom dengan kapasitas sekitar 1200 orang, Crystal Jade Restaurant, Coffee & Drink Bar juga tersedia di sini. Area gym nya dan kolam renangnya memang agak sedikit old-fashioned karena hotel ini memang hotel lama yang baru saja berpindah management dan kini berada dalam asuhan AccorHotels, worldwide chain hotels. Jadi ada banyak ruangan dan sarana yang sudah selesai direnovasi dan sebagian lagi masih dalam proses.







Lokasinya yang strategis di pusat kota Medan membuat Grand Mercure Medan ini menjadi pilihan yang pas jika ingin mengadakan pertemuan atau sebagai tempat resepsi pernikahan. Marcomm (Marketing Communication) dan Banquet staff Grand Mercure dengan sangat senang hati membantu siapa pun yang sedang merencanakan pernikahan. Mau gaya tradisional, lokal maupun internasional, semuanya bisa diwujudkan. Tak hanya pernikahan sih, untuk acara keluarga atau kantor juga bisa diadakan di sini. Asyik kan?





Bisa lihat lebih lanjut info promo dan event menarik di Instagram Grand Mercure Medan Angkasa ya ( @grandmercuremedan )

 Grand Mercure Maha Cipta Medan Angkasa
Jl Sutomo No 1 Medan, Sumatera Utara 20235
Phone : +62 61 - 4555888




Follow Us @satyawinnie